“PUJILAH TUHAN, KUDUSKANLAH NAMANYA!”
Views: 1
Umat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita bersama merenungkan firman Tuhan yang sangat penting dalam kehidupan iman kita berjudul: “Pujilah Tuhan, Kuduskanlah Nama-Nya!” dengan dasar dari Mazmur 103:1-2 dan Matius 6:9 “ Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya!” “Bapa kami yang di surga , dikuduskanlah nama-Mu…” Demikianlah firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara sekalian, mazmur ini ditulis oleh Daud sebagai seruan dari dalam jiwanya sendiri untuk terus memuji Nama Tuhan yang kudus dan mengingat segala kebaikan Tuhan. Pertama-tama Daud tidak menyuruh orang lain untuk memuji Tuhan, tetapi dia berbicara kepada jiwanya sendiri. Mengapa? Karena jiwa kita mudah lupa. “Jangan lupakan segala kebaikan-Nya” Apa kebaikan Tuhan yang paling dihayati pemazmur? Kebaikan Tuhan di sini bukan soal pemberian materi, atau harta benda duniawi, atau kedudukan dan jabatan. Pemazmur menyatakan dalam ayat 3: “Dia telah mengampuni segala kesalahanmu dan menyembuhkan segala penyakitmu.” Bagi Daud, anugerah pengampunan Tuhan, itulah yang terindah, karena Tuhan telah menyelamatkan nyawanya dari kebinasaan. Dan kini ia boleh hidup dalam kasih setia dan rahmat TUHAN.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita berdoa: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu” Agar kita berdoa kepada Bapa di surga dengan pengakuan akan kekudusan Nama TUHAN. Dalam budaya Ibrani, “nama” mencerminkan pribadi. Menguduskan nama-Nya berarti mengakui siapa Tuhan itu: Dia Kudus, Adil, berlimpah Kasih setia-Nya. Selalu ada beribu alasan untuk memuji Dia.! Menguduskan nama Tuhan juga berarti: Menjunjung tinggi karakter-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Menguduskan nama Tuhan bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan seluruh keberadaan hidup kita. Maka memuji dan menguduskan nama Tuhan itu harus berjalan bersama. Pujian tanpa kekudusan adalah kosong. Pengudusan tanpa pujian adalah kering. Kita dipanggil untuk memuliakan Tuhan dengan mulut dan hidup kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Jemaat dalam ibadah Bulan Budaya GKI Kwitang sebuah pujian yang berjudul: “Hai Pujilah Tuhan!” Sebuah pujian yang disukai banyak orang, pujian yang menginspirasi untuk memuji Tuhan dan menguduskan nama-Nya. Pujian ini menyatakan: “Hai pujilah Tuhan, jiwaku, kuduskanlah nama-Nya! Dengan rindu penuh, jiwaku puji Engkau, Tuhan.” Kapan jiwa kita memuji Tuhan? Lagu ini menyatakan setiap hari! “Terbit surya datang hari baru, saatnya ‘ku memuji-Mu. Apapun juga yang telah dan akan terjadi, ‘ku mau bernyanyi sepanjang hari” Bahkan dalam bait ke tiga, dinyatakan: “Ketika tubuh semakin lemah dan ajal hampir tiba, jiwaku tetap tak berhenti memuliakan-Mu, ribuan tahun sampai selamanya.”
Saudara-saudara, lagu ini sungguh menyentuh hati banyak orang, karena menggambarkan sebuah realitas rohani: setiap hari kita punya begitu banyak alasan untuk memuji Tuhan. Pujian kepada Tuhan bukan sekadar ritual, tetapi lahir dari hati yang mengenal siapa Tuhan dan menghormati nama-Nya yang kudus.
Jangan lupa, ada beribu alasan untuk memuji Tuhan, maka Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk memuji Tuhan dari pagi hingga malam, dalam suka maupun duka, tidak pernah berhenti bahkan sampai selama-lamanya.
Untuk itu, bersediakah Saudara merespons firman Tuhan hari ini dengan berkomitmen untuk tetap setia memuji Tuhan dan menguduskan nama-Nya dengan seluruh kehidupan kita sehari-hari? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Kami bersyukur untuk kasih dan anugerah-Mu. Ajarlah kami untuk senantiasa memuji-Mu, dan menguduskan nama-Mu. Mampukanlah kami memuji tidak hanya keluar dari mulut kami, Bu tetapi juga dari hidup kami sehari-hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga.
