LHA, PENDETANYA MANA??
Views: 0
Bacaan: Yohanes 1: 9-10
”Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Suatu kali, saya mendapatkan undangan untuk menyampaikan pemberitaan firman Tuhan dalam sebuah acara perayaan Natal Kristiani di sebuah instansi. Di hari H, saya berangkat dengan mengajak bunda. Saya mengenakan baju hitam lengan panjang dengan clergycal collar (dasi putih) yang belum terpasang. Sesampai di lokasi, kami segera mengarahkan kendaraan ke tempat parkir yang sudah disediakan. Rupanya tempat parkir itu merupakan restricted area di mana tidak semua orang bisa parkir di situ. Sebelum membuka road barrier yang menghalangi jalan masuk, security menanyakan siapa dan apa maksud kedatangan kami sesuai dengan SOP di instansi tersebut. Saya – yang memegang kemudi – menjelasan bahwa kami datang untuk acara Natal. Lebih lanjut security itu bertanya, “apakah ini rombongan pendeta?” Kami menjawab, “betul, pak.” Kemudian security itu nampak melihat ke arah bagian tengah mobil yang kosong (karena di mobil itu hanya ada saya dan bunda). Ia pun bertanya lagi dengan nada suara sangat tegas dan berat, “lha pendetanya mana?” Sesaat saya dan bunda terdiam dan saling pandang. Kemudian, sambil menunjuk ke arah saya, bunda mengatakan “lha ini pendetanya.” Hampir bersamaan dengan bunda, saya juga mengatakan sambil menunjuk pada diri saya, “saya pendetanya, pak.”
Setelah mendengar jawaban kami, wajah security yang sebelumnya penuh selidik dan cenderung tegang langsung mengendur. Sambil tertawa beliau berkata, “Oooo masih muda, tho. …. Mohon maaf, pak pendeta!” Kemudian beliau membuka road barrier dan mempersilahkan kami memasuki area parkir. Setelah keluar dari mobil, pak security yang masih berada di sebelah mobil sekali lagi meminta maaf kepada kami dan mempersilahkan kami menuju ke gedung. Dalam perjalanan menuju ke tempat acara, kami berdua berkesimpulan bahwa security tadi ini telah memiliki gambaran tersendiri tentang pendeta. Mungkin bagi beliau pendeta itu harus tua atau setidaknya berpenampilan tua….
Sebagai orang-orang percaya, sikap dan pandangan kita tentang Tuhan, seringkali menunjukkan sikap seperti bapak security tadi. Kita memiliki pemahaman dan gambaran tersendiri tentang Tuhan. Betul bahwa kita memang memiliki “image of God” atau gambaran tentang Tuhan sesuai dengan pribadi masing-masing. Akan tetapi bisa saja kita keliru dan menganggap bahwa Tuhan itu berkarya hanya sebatas “image of God” yang kita miliki itu. Kadangkala kita telah mendikte Tuhan untuk berkarya persis seperti apa yang kita kehendaki. Jika memaksakan karya Tuhan hanya sebatas “image of God” yang kita miliki itu, maka kita akan gagal melihat betapa luas, tinggi dan dalamnya karya Tuhan itu. Kita tidak boleh memaksakan karya Tuhan itu hanya sebatas “image of God” yang kita miliki, sebab Tuhan berkarya secara bebas sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya.
Pada masa lalu, orang-orang Yahudi telah memiliki gambaran tersendiri tentang mesias. Bagi mereka Tuhan Yesus tidak masuk dalam kriteria mesias seperti gambaran yang dimiliki sehingga mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Benar kata Yohanes, ”Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.” Dari kesaksian Injil, kita dapat memahami bahwa dalam berkarya Tuhan Yesus melakukannya secara bebas, variatif, kreatif dan kontekstual. Dengan cara demikian, maka orang percaya akan merasakan bahwa Tuhan Yesus adalah Terang yang menuntun manusia ke dalam keselamatan. Karya Tuhan Yesus tidak bisa dikungkung hanya sebatas “image of God” ¬yang kita miliki.
Oleh karena itu, mari persilahkan Tuhan masuk dan mengisi kehidupan kita sehingga kita dapat melihat serta merasakan betapa luas, bervariasi, kreatif dan kontekstualnya karya Tuhan di dalam kehidupan kita ini. Selamat mengenal Tuhan dan karyaNYA, selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, ajarlah kami mengenal-Mu dengan baik, sehingga kami terhindar dari sikap memaksakan kehendak diri kami kepada-Mu. Terpujilah Nama-Mu, ya Tuhan Yesus. Amin.
