SEGO MEGONO
Views: 0
Bacaan: Matius 25: 40
”Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Bila kita bepergian ke Pekalongan, rasanya kurang lengkap bila tidak menyantap satu jenis kuliner khas daerah itu, yaitu: sego megono (Nasi Megono). Sego megono merupakan hidangan yang terbuat dari potongan nangka muda dengan perpaduan kelapa parut yang dibumbui sehingga menciptakan rasa gurih.
Sego Megono tercipta sebagai wujud kepedulian masyarakat Pekalongan pada waktu itu untuk mendukung perjuangan para prajurit Kerajaan Mataram yang sedang melakukan perjalanan untuk berperang melawan VOC di Batavia tahun 1628. Suatu ketika, rombongan pasukan Mataram memasuki wilayah Pekalongan untuk beristirahat di sebuah perkampungan penduduk dalam kondisi lapar dan kelelahan. Penduduk setempat bersimpati dan tak tinggal diam melihat kondisi pasukan Mataram tersebut. Mereka saling bahu membahu dan membantu mengumpulkan makanan dari rumah setiap penduduk untuk diberikan secara sukarela. Namun karena dampak dari penjajahan yang telah membuat masyarakat juga mengalami kesulitan ekonomi, maka hanya terkumpul beras dan kerak nasi tanpa ada lauk ataupun sayuran. Di dorong oleh keinginan untuk membantu dan mendukung perjuangan para pasukan Mataram ini, maka masyarakat berinisiatif untuk memanfaatkan nangka muda yang banyak terdapat di sana untuk diolah menjadi sayur. Nangka muda di cacah kecil-kecil dan dicampur dengan parutan kelapa dan dihidangakan dengan nasi yang hangat.
Kata ‘megono’ sendiri merupakan akronim dari kata ‘mergo’ dan ‘ono’, yang artinya ‘karena ada’. Ya betul! Karena ada kepedulian dan kasih maka masyarakat dapat memberikan makanan itu dengan sukacita dan rela demi mendukung perjuangan pasukan Mataram tersebut. Saat ini, sego megono hadir dengan berbagai variasi perkembangannya. Di Wonosobo, sego megono hadir dengan campuran daun kubis hijau dan ebi. Sego megono akan lebih nikmat bila dipadukan dengan cumi masak hitam, daging ayam atau ikan.
Di dalam sego megono terkandung pelajaran indah tentang spiritualitas kasih yang melahirkan kepedulian, tindakan saling dukung dan saling membantu. Tuhan Yesus di dalam salah satu khotbahnya mengajarkan tentang kepedulian, tindakan saling dukung dan saling membantu dengan apa yang ada serta didasarkan atas kasih. Tuhan Yesus menyebutkan, ”Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”. Latarbelakang yang menjadi dasar khotbah Tuhan Yesus ini adalah ajaran tentang akhir zaman. Kedatangan kembali Tuhan Yesus digambarkan sebagai Raja yang sedang memilah manusia bagai seorang gembala yang memisahkan domba dengan kambing. Para domba adalah mereka yang akan ditempatkan di sebelah kanan Tuhan dan diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan yang sudah disediakan sejak dunia dijadikan. Sementara para kambing adalah mereka yang mendapatkan tempat sebaliknya. Kasih yang menyalalah yang memungkinkan seseorang untuk peduli sehingga mampu bertindak mendukung dan membantu mereka yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.
Seporsi sogo megono hari ini mengingatkan kita untuk selalu menyalakan spiritualitas kasih yang mendorong kita untuk peduli dan membantu orang-orang lain yang membutuhkan bantuan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kami rindu untuk senantiasa menyalakan api kasih seperti yang telah Engkau nyatakan kepada kami, ya Tuhan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Di dalam Tuhan Yesus kami sudah berdoa. Amin.
