BAGAIKAN KUDA LEPAS KANDANG
Views: 0
Bacaan: Hagai 1:2-3,
“Beginilah firmanTuhan semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” Maka datanglah firman Tuhan dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? …”
Bagi sebagian kita, ayat-ayat di P.L tidak banyak sebagai ayat emas kita, selain dari beberapa ayat di mazmur. Kita perhatikan, belum tentu dalam setahun sekali kita mendengar atau membahas firman Tuhan dari Kitab nabi Hagai. Dari bahan renungan hari ini kita diperkaya pengenalan akan Perjanjian Lama yang tidak mungkin diabaikan. Nabi Hagai membawa salah satu rombongan pembebasan Israel dari pembuangan. Tujuh puluh tahun umat itu menanggung sengsara sebagai budak, memang di situ ada Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Ester, mereka ini beruntung mendapat kesempatan hidup baik di negeri asing itu. Tujuh puluh tahun berarti satu generasi telah berlalu, generasi penerus hanya menanggung derita dan hukuman yang berat sebagai budak atas “kesalahan” generasi pendahulunya.
Tujuh puluh tahun telah tiba, sesuai dengan janji Tuhan, oleh Tuhan sendiri dibawa pulang kembali ke negeri mereka, negeri Kanaan, tanah Israel, Galiea, Samaria, Yehuda dan Yerusalem, itulah negeri tercinta mereka. Mereka telah tiba di sana, dengan bebas mereka menggarap ladang, memilih rumah untuk mereka tinggali. Dari bahan renungan kita bagaimana mereka dengan bebas, bahkan bagaikan KUDA LEPAS KANDANG, hilang kontrol dalam mereka membangun rumah, dan sama sekali mereka lupa akan Tuhan, lupa bersyukur. Mereka sudah bebas, merdeka, kembali ke negeri asal, membangun dengan seenaknya rumah untuk didiami. Mereka lupa sumber kebebasan itu, mereka bagaikan kuda lepas kandang. Untuk itu nabi Hagai mengingatkan mereka, walau pun mereka telah sampai ke negeri yang dicinta, namun keberuntungan akan menjauh, panen yang bernas akan tertahan menjadi panen yang gagal, ternak yang tambun menjadi ternak yang kurus, pundi-pundi dan lumbung mereka tetap kosong (1:6). Nabi Hagai mengingatkan mereka agar terlebih dulu membangun hubungan dengan Tuhan.
Hubungan yang timpang itu diperlihatkan oleh nabi Hagai, “mereka tidak peduli dengan Bait Allah yang tetap onggokan puing reruntuhan.” Bait Allah yang terlupakan. Nabi Hagai, pada intinya mengajak masyarakat membangun hubungan mendasar, menempatkan Tuhan sebagai yang utama dan sumber kehidupan. Sebagai wujudnya nabi Hagai mengajak masyarakat agar terlebih dulu memperhatikan dan membangun Bait Allah sebagai rumah doa, rumah ibadah, memuji, bersyukur dan memohon segala kebutuhan mereka. Nasihat ini seperti firman yang disampaikan Tuhan Yesus: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu.” Nasihat ini sangat relevan bagi kita, walau pun kita keberatan disebut sebagai Kuda Lepas Kandang. Dalam banyak keberhasilan yang kita alami, dalam pekerjaan, kesembuhan, kelulusan sekolah,
perjalanan yang baik; dalam suasana itu, apakah Tuhan mendapat tempat yang utama; wujud apakah yang kita lakukan sebagai ucapan syukur kita? Dalam keadaan untung atau rugi, sejauh mana perhatian kita untuk sarana gedung ibadah kita, kelengkapan ibadah kita. Tidak terpungkiri, bahwa ibadah Minggu juga membutuhkan dana yang menjadi tanggung jawab setiap umat, baik materi maupun non-materi, seberapa besar perhatian kita untuk itu.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Kalau keluarga Anda Kristen, apakah ada tanda khas Kristen di rumah Anda?
- Apakah ada persembahan Anda yang rutin untuk gereja?
- Menurut pengamatan Anda, adakah sesuatu di gedung Gereja Anda yang perlu diperbaiki, atau dilengkapi?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, kami butuh sarana beribadah yang baik, namun kami tidak sempat memperhatiannya, karena merasa keadaan kami sendiri sangat kekurangan. Ya Tuhan, mampukan kami untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dulu, sebelum kami mencari sesuatu untuk kebanggaan kami, untuk itu Roh Kudus menolong kami. Demikianlah harapan dan doa kami dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS240723]
