”JARI DAN JEMPOL…”
Views: 0
Bacaan: Lukas 11:28 (TB 2)
”Ia pun berkata: “Yang lebih berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Sewaktu anak-anak kami – Bara dan Syalom – masih batita, eyang – eyang putri mereka (yang kebetulan adalah guru) sering ‘ngudang’ mereka. ‘Ngudang’ dalam bahasa Jawa, kurang lebih bermakna tingkah polah kita saat berkomunikasi dengan balita. ’Ngudang’ merupakan salah satu bentuk hiburan dan / atau puji-pujian orang tua kepada anaknya yang masih balita. Salah satu lagu yang digunakan untuk ngudang pada waktu itu adalah lagu “jari dan jempol”. Syairnya berbunyi: “Jari dan jempol badan digoyang, jari dan jempol badan digoyang, jari dan jempol badan digoyang, kita selalu riang”. Nah, saat merasakan ‘kudangan’ eyangnya itu, Bara atau Syalom pun tertawa gembira. Tidak terasa, kami yang ada di satu ruangan juga ikut tertawa senang.
Ketika mengingat momen itu, saya berpikir bahwa ternyata bahagia itu sederhana. Betul! Melihat atau menyaksikan anak yang sedang senang hati ternyata dapat membuat diri kita juga turut bahagia. Berbicara tentang kebahagiaan, ternyata ada banyak orang yang masih berusaha keras untuk memperolehnya. Dari beberapa sumber, dapatlah disimpulkan bahwa alasan yang menyebabkan seseorang tidak bahagia adalah karena pikirannya alias egonya sendiri, seperti misal: terus membandingkan, senang menyalahkan dan menolak penerimaan. Sepertinya, selama pikiran dan egonya tentang bahagia itu belum berubah, maka kebahagiaan juga akan susah untuk diperoleh.
Suatu kali ketika Tuhan Yesus sedang memberikan pengajaran, seorang perempuan berseru, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau!” Untuk merespon seruan itu, Tuhan Yesus berkata, “Yang lebih berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Dari potongan kisah itu, kita dapat melihat adanya perbedaan padangan tentang kebahagiaan. Bagi si Perempuan, kebahagiaan itu berdasarakan pikirannya sendiri. Perempuan itu pasti membayangkan bahwa apabila ia memiliki anak secerdas dan sehebat Tuhan Yesus, pastilah ia akan sangat berbahagian. Akan tetapi, bagi Tuhan Yesus kebahagiaan seperti konsep perempuan itu tidaklah cukup. Ada kebahagiaan yang lebih, yaitu “mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”_. Pada saat penyampaikan pengajaran, Tuhan Yesus sering mengemas dalam bentuk _story telling. Cara itu tentu mudah untuk dimengerti dan menyenangkan. Namun, kebahagiaan sejati tidak diperoleh ketika mendengar firman Tuhan saja, melainkan saat seseorang melakukan Sabda. Dengan kata lain, kebahagiaan itu akan diperoleh ketika kita aktif, bukan pasif, yaitu pada saat melakukan firman Tuhan. Oh ya, jangan lupa bahwa agar dapat melakukan firman Tuhan, maka seseornag harus terlebih dahulu mendengarkan dan memahami firman Tuhan itu.
Sudahkan Anda berbahagia? Ingat bahagia itu sederhana. Mari kita melakukan “jari dan jempol badan digoyang….” Eh, bukan itu. Mari kita selalu mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya di dalam kehidupan sehari-hari. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk selalu menjadi orang yang berbahagia. Oleh karena itu, mampukan kami supaya dapat mendengar, memahami dan melakukan sabda-MU dengan sebagik-baiknya. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
