KANAL BANJIR TIMUR
Views: 0
Bacaan: Lukas 5:4-5 (TB 2)
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, sepanjang malam kami telah bekerja keras, tetapi tidak menangkap apa-apa. Namun karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Sepertinya kita sudah sangat terbiasa mendengar istilah “banjir kanal timur”. Istilah ini mulai dipakai seiring dengan pencanangan rencana pembangunan kanal tersebut di tahun 2010. Jika ditinjau melalui hukum Diterangkan Menerangkan (D-M) dalam Bahasa Indonesia – di mana kata yang diterangkan diletakkan terlebih dahulu sebelum kata yang menerangkan, maka istilah ‘banjir kanal timur’ ini jelas salah. Penyebutan yang benar adalah ‘kanal banjir timur’ bukan ‘banjir kanal timur’.
Kekeliruan ini rasanya terjadi karena awak media – baik tulis maupun elektronik – sering menggunakan istilah tersebut. Nah, karena hampir semua awak media menyebutkan istilah ini, maka masyarakat akhirnya turut memakai istilah itu dan menganggap bahwa itu sebagai istilah yang benar. Apa yang terjadi ini membuktikan bahwa kesalahan jika dilakukan terus-menerus secara bersama, maka akan dianggap sebagai kebenaran. Bukankan yang seharusnya terjadi adalah ‘membiasakan yang benar’ bukan ‘membenarkan yang biasa’?
Suatu kali, Tuhan Yesus mengajar banyak orang di tepi Danau Galilea. Karena ada banyak orang yang mengerumini-Nya, maka Tuhan Yesus memilih untuk mengajar dari atas perahu. Perahu itu adalah perahu Simon. Setelah selesai mengajar, Tuhan Yesus berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Rupanya Simon sudah berlayar semalaman dan tidak memperoleh ikan. Selain itu, apa yang diminta oleh Tuhan Yesus adalah sesuatu yang tidak biasa. Sebab, untuk mencari ikan ditempat yang dalam para nelayan tidak akan menggunakan jala. Jala memang efektif digunakan ketika malam hari di saat ikan berenang dipermukaan air. Ketika Tuhan Yesus meminta untuk pergi ke tempat yang dalam, hari sudah sangat terang. Oleh sebab itu, simon menjawab, “Guru, sepanjang malam kami telah bekerja keras, tetapi tidak menangkap apa-apa. Namun karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala”. Jawaban Simon ini sesungguhnya menggambarkan keengganannya karena alasan-alasan tadi. Namun, akhirnya Simon bersedia karena yang meminta adalah Tuhan Yesus. Dan apa yang terjadi berikutnya adalah bahwa Simon dapat menjala banyak ikan di saat hari sudah terang dan di perairan yang dalam. Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa jala mereka hampir robek karena banyaknya ikan yang diperoleh.
Dalam kehidupan kita, seringkali kita berjumpa dengan sikap membenarkan hal yang biasa. Bahkan ketika kita akan mengoreksi hal yang keliru itu, dengan enteng orang mengatakan “ah, biasanya begitu”. Kisah Simon menegaskan bahwa Tuhan Yesus menginginkan kita bukan membenarkan yang biasa, melainkan melakukan yang benar sesuai dengan kehendak-Nya. Penggunaan istilah ‘bajir kanal’ adalah salah satu contoh tindakan membenarkan yang biasa. Kita mesti berani untuk ‘pergi ke tempat yang dalam dan menebarkan jala’ dengan berjuang untuk membiasakan yang benar di mana dan kapan saja. Bila kita sudah tahu bahwa istilah ‘banjir kanal timur’ itu keliru, maka jangan gunakan lagi. Gantilah dengan ‘kanal banjir timur’. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan Keluarga
Doa
Ya Tuhan, seringkali kami membenarkan apa yang sudah menjadi kebiasan. Oleh karena itu kami rindu untuk berjuang membiasakan yang benar di dalam kehidupan kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Amin.
