KACANG LUPA KULITNYA
Views: 0
Bacaan: Hosea 8:14 – TB2
“Israel melupakan Penciptanya dan telah mendirikan istana-istana; Yehuda telah memperbanyak kota-kota berkubu; tetapi Aku akan melepas api ke dalam kota-kota mereka, lalu puri-puri mereka akan dilahapnya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kalimat ‘kacang lupa kulitnya’ mungkin sudah sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Kalimat ini merupakan salah satu bentuk peribahasa Indonesia yang cukup dikenal. Kalimat ‘kacang lupa kulitnya’ artinya orang sombong yang lupa asal usulnya atau orang kaya yang lupa akan kemiskinannya. Intinya, kacang lupa kulit merujuk pada orang yang tidak tahu diri. Contoh kacang lupa kulit, misalnya: orang miskin dari desa yang pergi ke kota dan menjadi kaya, terkenal, atau memiliki jabatan tinggi. Namun ia menjadi sombong hingga lupa daratan. Jika dalam konteks pertemanan, maka contohnya seperti seseorang yang meninggalkan teman lamanya yang telah menolongnya usai menemukan teman baru. Pendek kata, peribahasa ‘kacang lupa kulitnya’ ini hendak mengingatkan tentang ‘siapakah saya dahulu?’.
Di dalam Alkitab, sikap ‘kacang lupa kulitnya’ ini dapat kita jumpai dalam diri orang-orang Israel dan Yehuda. Mereka melupakan bahwa sesunggunya mereka berasal dari budak di Mesir yang kemudian dibebaskan dan diangkat derajatnya oleh Tuhan menjadi bangsa yang merdeka, bangsa pilihan. Bukan hanya itu, mereka diberi anugerah sebuah tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu. Akan tetapi mereka justru melupakan Tuhan dengan melakukan tindakan yang mendukakan Tuhan. Mereka tidak bersyukur kepada Tuhan, melainkan melanggar perjanjian dan menyimpang dari perintah Tuhan dengan melakukan penyembahan berhala.
Israel telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan Tuhan. Mereka juga mengangkat pemuka, tetapi tanpa sepengetahuan Tuhan. Dengan emas dan perak yang dimiliki, mereka membuat berhala-berhala untuk disembah. Tanpa sadar, Israel telah menabur angin, oleh sebab itu mereka akan menabur badai. Tuhan bersabda, “Israel melupakan Penciptanya dan telah mendirikan istana-istana; Yehuda telah memperbanyak kota-kota berkubu; tetapi Aku akan melepas api ke dalam kota-kota mereka, lalu puri-puri mereka akan dilahapnya”. Melalui Hosea, Tuhan mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan-Nya kepada Isarel dan menyampaikan nubut tentang keruntuhan dan kehancuran Israel.
Mencapai keberhasilan merupakan kerinduan setiap pribadi, akan tetapi jangan melupakan Tuhan dan asal-usul kita. Seharusnya yang dilakukan adalah ‘semakin berisi, maka semakin rendah hati’. Menurut orang-orang bijak, kerendahan hati adalah tanda pengetahuan yang sejati. Jangan pernah lupa diri, karena sesungguhnya kita bukanlah siapa-siapa. Tanpa Tuhan dan juga sesama di sekitar kita, tentu kita tidak akan menggapai keberhasilan seperti apa yang dirindukan.
Kejumawaan dan kesombongan adalah awal dari kehancuran, ingat siapa menabur angin akan menuai badai. Kesadaan akan keberadaan diri kita yang tidak dapat dilepaskan dari kasih karunia Tuhan, akan semakin menuntun kita menjadi orang-orang yang sadar diri dan bersyukur. Sebab jikalau bukan Tuhan yang menuntun, maka sia-sialah pencapaian yang telah kita gapai. Jangan menjadi seperti ‘kacang lupa kulitnya’, melainkan terus belajar mengucap syukur karena segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan. Jangan lelah untuk rendah hati karena disanalah tergambar ungkapan syukur yang sejati. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Seringkali kami merasa jumawa karena keberhasilan yang telah kami peroleh, ya Tuhan. Saat ini, kami rindu untuk senantiasa menempatkan Engkau di depan kami, dan kami belajar untuk berjalan di belakang-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk tetapa rendah hati. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
