KASIH YANG TAK TERNILAI
Views: 0
Jemaat Tuhan yang terkasih. Berjumpa kembali bersama saya dalam Renungan harian hari ini. Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Kasih yang Tak Ternilai” dengan dasar dari 1 Yohanes 3:1 (TB2), “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang memeliharanya dengan setia.
Tahukah Saudara bahwa salah satu pernyataan terbesar dalam Perjanjian Baru adalah kasih yang tak ternilai ditujukan kepada Saudara? Kasih apakah itu? Ya, Kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada Saudara dan saya yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus! Karena di dalam Kristus, kita disebut anak-anak Allah. Mengapa? Karena Kristus telah menebus kita dan kita menjadi milikNya! Sehingga Yohanes menegaskan: “Dan memang kita adalah anak-anak Allah.”
Menjadi anak-anak Allah adalah anugerah yang istimewa atau terbesar dari keselamatan kita (Yoh 1:12 ). Kita dapat menjadi anak-anak Allah sesungguhnya karena keinginan hati Allah, melalui Roh Kudus, yaitu “Roh yang menjadikan kamu anak Allah” (Roma 8:16-17).
Maka, lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita orang berdosa dan hanya debu tanah ini, yang tidak layak disebut anak-anak Allah! Namun Allah telah mengampuni dosa kita, Ia memberikan kita hati dan roh yang baru dan Roh Kudus berkenan tinggal tetap di dalam hidup kita!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Eliatha GKI Kwitang sebuah pujian yang berjudul: “Persembahan Hati.” Lirik lagu ini mengatakan: “Allah Bapa, sungguh besar kasihMu, Engkau selalu hadir dalam setiap langkahku. Sungguh indah ku menjadi anakMu, hidup dalam kasihMu yang tak ternilai.”
Ketika kita merenungkan lirik lagu ini, kita disadarkan akan kasih Allah yang tak ternilai itu telah memilih dan memanggil kita menjadi anak-anakNya, dan ini adalah anugerah yang luar biasa.
Melalui lirik lagu ini kita ingin hidup sebagai anak-anak Allah yang berdampak, yang hidup dalam kesadaran akan kasihNya yang tak terbatas itu. Hal ini mengajarkan kita untuk menjadikan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.
Sesungguhnya kita tidak sanggup membalas kasih Allah yang tak ternilai itu. Kita hanya bisa memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Dan biarlah kita dengan segala kerendahan hati dapat mengatakan: “Hanya ini Bapa yang kubisa, terimalah persembahan hatiku: nyanyian pujian kepadaMu. Jadikan aku alatMu…. Terimalah Bapa…”
Tahukah Saudara, sebagai anak-anak Allah kita juga sebagai anak-anak bangsa Indonesia memiliki panggilan yang mulia untuk menjalani hidup yang mencerminkan kasihNya? Di tengah-tengah hiruk pikuknya Pemilu saat ini, marilah kita tetap ingat bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh kebijakan politik atau pandangan dunia, tetapi oleh kasih Allah yang tidak terbatas.
Kita dipanggil untuk hidup sebagai terang dan garam, menunjukkan kasih Kristus kepada semua orang tanpa terkecuali. Oleh sebab itu, marilah kita hadapi pemilu dengan doa dan hikmat, mengutamakan kebenaran dan keadilan, serta menghormati perbedaan pendapat. Sebagai anak-anak Allah marilah kita menjadi contoh membawa damai, kasih dan kerendahan hati. Ingatlah bahwa di dalam Kristus kita memiliki panggilan yang lebih tinggi untuk membangun KerajaanNya di bumi ini. Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Tuhan memberkati.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang di surga, FirmanMu hari ini menuntun kami untuk hidup sebagai anak-anakMu di tengah situasi politik bangsa Indonesia melaksanakan Pemilu. Kiranya Tuhan memberkati penyelenggaraan pemilu sebagai pemilu damai. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM08022024)
