GIANT BABY
Views: 0
Bacaan: 1 Korintus 15:33-34 – TB2
“Janganlah sesat! “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kami punya seekor anjing pitbull yang masih tergolong anak-anak alias masih puppy. Namanya tyson. Usianya baru sekitar 8 bulan, namun beratnya sudah lebih dari 26 kg. Tyson tampak seperti seekor anjing dewasa, namun perilakunya masih sangat puppy. Karena itu, kami menyebut tyson sebagai giant baby, alias bayi raksasa. Nah, tyson ini punya kebiasaan tidur di depan pintu rumah kontrakan kami. Padahal pintu itu dibuka ke arah luar. Jadi, jika tyson tidur di depan pintu, maka kami akan kesusahan membuka pintu karena ada penghalang seberat lebih dari 26 kg.
Sebetulnya, depan pintu itu merupakan tempat tidur favorit bagi coffee, guzie dan chalie. Ketiga anjing tadi sudah tergolong dewasa, namun tubuh mereka kecil dan tidak terlalu berat. Kebiasaan tyson tidur di depan pintu itu, diawali ketika tyson kami bawa di usia sekitar 3 bulan. Ia suka tidur ngeringkel bersama dengan coffee dan guzie. Lama-kelamaan, tyson terbiasa tidur di depan pintu. Kesimpulan kami, kebiasaan tyson untuk tidur di depan pintu karena meniru coffe, guzie dan chalie. Padahal, kebiasaannya itu menghalangi kami bila akan membuka pintu. Memang pergaulan dapat mempengaruhi perilaku, bukan?
Berbicara tentang pergaulan yang mempengaruhi perilaku ini, mengingatkan kita akan nasihat rasul Paulus kepada jemaat Korintus, demikian: “Janganlah kamu sesat! “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu”. Nasihat ini terkait dengan perilaku sebagian anggota jemaat Korintus yang tidak percaya terhadap kebangkitan orang mati. Bagi Paulus, pandangan ini tentu sangat berbahaya. Sebab pandangan ini akan membuat orang untuk berpikir bahwa Tuhan Yesus juga tidak bangkit dari kematian. Oleh karena itu, dalam Surat 1 Korintus 15, Paulus secara khusus membahas tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan doktrin kebangkitan orang mati.
Mengapa ada anggota jemaat yang tidak percaya terhadap kebangkitan orang mati? Karena mereka memiliki pergaulan yang keliru. Jadi, mereka ini bergaul dengan komunitas orang-orang kaya di Korintus yang memiliki pola hidup hedonisme. Bagi kaum hedonis, hidup itu hanya satu kali, setelah itu selesai saat kematian. Jadi tidak perlu berpikir tentang kebangkitan orang mati. Kita ingat bahwa percakapan tentang kebangkitan orang mati pernah juga dilakukan antara Tuhan Yesus dengan orang Saduki, seperti disaksikan dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Mengingat bahwa kesalahan anggota jemaat Korintus ini dimulai dari pemikiran yang menyimpang, maka Paulus menasihati mereka untuk ‘sadarlah kembali sebaik-baiknya’. Dari nasihat Paulus ini, kita dapat melihat bahwa keberdosaan sebagian anggota jemaat Korintus dipicu oleh kekeliruan pandangan mereka sebagai akibat dari pergaulan yang keliru. Penolakan terhadap kebangkitan orang mati telah mempengaruhi gaya hidup mereka ke arah yang lebih buruk. Karena itu, sangat wajar apabila Paulus berusaha mengubah perilaku mereka mulai dari pemikiran terlebih dahulu.
Memang betul, pergaulan yang salah dapat mengakibatkan banyak hal yang salah juga. Oleh karena itu jangan mau disesatkan oleh pergaulan yang salah. Tapi….. ya, si giant baby tidur di depan pintu lagi. Salah gaul dia…. Eh, maaf, maaf. Mari kita ingat bahwa “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kamki rindu untuk tetap berada di dalam naungan kasih-Mu. Oleh karena itu kami terus belajar untuk dapat menjaga kehidupan kami dari kemungkinan pergaluan yang dapat menyesatkan kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakash Tuhan Yesus, Amin.
