PECEL LELE
Views: 0
Bacaan: Matius 10:16-17 (TB 2)
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, tentunya sajian makanan “pecel lele” sudah tidak asing lagi bagi kita. Namun, tahukah Anda bahwa sebelum bernama “pecel lele”, di daerah asalnya – yaitu: Lamongan – jenis makanan ini disebut dengan “pecek lele”. Disebut “pecek lele” karena penyajiannya dengan cara dipecek / dipenyet dan diberi sambel. Ketika sampai ke Jakarta, banyak orang sering keliru dengan jenis makanan betawi yang namanya “pecak ikan”, yaitu ikan goreng atau bakar yang disiram dengan kuah santan dengan bumbu campuran cabai dan kemiri. Nah, agar tidak keliru lagi, maka para penjual “pecek lele” ini mengganti namanya menjadi “pecel lele”. Sejak itulah, “pecek lele” berubah nama menjadi “pecel lele” dan dikenal dihampir semua tempat.
Sekarang pertanyaannya, mengapa harus ‘ikan lele’? Ikan lele dipilih karena jenis ikan ini menupakan jenis ikan yang mampu bertahan di tengah kondisi minim air. Ikan lele memiliki adaptasi fisik dan fisiologis yang unik. Ia memiliki insang yang berkembang dengan baik yang memungkinkannya untuk bernapas dalam lingkungan air yang rendah oksigen atau bahkan tidak ada air sama sekali. Insangnya dilengkapi dengan kapiler yang kecil, yang memungkinkannya untuk menyerap oksigen langsung dari udara. Oleh karena itu penjual “pecek lele” memilih ikan ini karena dapat disajikan dalam kondisi yang selalu segar karena ikan lelenya masih hidup sebelum diolah.
Saudaraku, “pecel lele” mengingatkan kita tentang sikap hidup orang percaya yang mesti mampu untuk bertahan dalam perjuangan iman. Seperti ikan lele yang mampu hidup dalam kondisi yang sangay minim oksigen, demikianlah iman kita mesti tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Karena memang sejak awal Tuhan Yesus menganalogikan pengutusan kita ke tengah dunia ini seperti mengutus domba ke tengah-tengah serigala. Tuhan Yesus bersabda, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya”. Dengan ungkapan “mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” mengisyaratkan bahwa Tuhan Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa dengan mengikuti Dia, orang-orang percaya akan mengalami banyak cobaan dan tantangan. Akan tetapi agar mampu berahan dalam kondisi itu, Tuhan Yesus menegaskan dua hal, yaitu: pertama, Tuhan Yesus meminta kita untuk “cerdik seperti ular”. Melalui ungkapan ini, Ia mengajak kita agar memiliki kreatifitas sehingga memungkinkan keberhasilan proses kesaksian iman di tengah dunia modern. Untuk mengimbangi perkembangan dunia yang sangat cepat, maka diperlukan ide-ide, gebrakan, dan cara-cara baru agar pesan Injil dapat dikomunikasikan secara efektif dan efisien. Kedua, Tuhan Yesus meminta kita untuk “tulus seperti merpati”. Orang-orang percaya mesti mengomunikasikan pesan injil itu dengan semangat kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Kedua hal tadi itu hanya akan dapat dilakukan apabila setiap orang percaya yakin bahwa Tuhan Yesus akan memampukan dan melengkapi, sehingga kekuatiran dan ketakutan tidak menguasai hati orang-orang percaya saat mengomunikasikan Injil tersebut.
Saudaraku, kiranya sajian _“pecel lele”_hari ini mengingatkan kita tentang sikap iman yang bertahan ketika menghadapi tantangan, sehingga pesan injil tetap dapat diberitakan secara kreatif, efektif dan efisien. Seperti lele yang mampu bertahan, demikian juga setiap orang percaya dituntut untuk tetap berjuang dan bertahan di dalam iman. Selamat mengomunikasikan pesan Injil, Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami sadar bahwa kami hanyalah domba di tengah kawanan serigala, oleh karena itu mampukan kami agar mampu berserah pada pertolongan kasih-Mu. Kiranya melalui hidup ini, kami dapat mengomunikasikan pesan Injil dengan sebaik-baiknya. Kami percaya bahwa Roh Kudus akan menolong kami agar dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
