”CÊNIL”
Views: 1
Bacaan: Ibrani 13:5 (TB 2)
“Janganlah menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, cênil atau juga sering disebut sebagai cêthil adalah nama satu jenis jajanan pasar yang tekstunya kenyal dan lengket, tampilannya berwarna warni, serta rasanya manis-manis gurih. Bahan dasar cênil adalah adonan tepung kanji yang dibentuk bulatan-bulatan kecil atau lonjong. Karena itu setelah matang akan menghasilkan tekstur yang lengket dan kenyal. Tampilan warna-warninya diperoleh dari pewarna makanan yang ditambahkan ketika proses pengolahan jajanan ini. Sedangkan cita rasa yang manis dan gurih ini dihasilkan dari parutan kelapa dan gula pasir yang ditaburkan / atau saus gula aren yang disiramkan di atas cênil. Jajanan ini cukup dikenal oleh masyarakat perdesaan Yogyakarta dan beberapa tempat di Pulau Jawa. Pada awalnya, cênil dibuat oleh masyarkat Jawa sebagai pengganti beras karena pada saat itu Indonesia dilanda paceklik yang membuat masyarakat kesulitan mendapatkan beras. Untuk penyajiannya, cênil yang sudah dipotong-potong itu diletakkan ke dalam wadah yang terbuat dari daun pisang yang dibentuk seperti kerucut terbalik dan disebut dengan pincuk.
Selain sebagai jajanan pasar, masyarakat Jawa juga memahami bahwa cênil mengandung filosofi yang mendalam, yaitu: tekstur yang kenyal dan lengket mengajarkan tentang kemampuan untuk terus tabah dan mampu bertahan meski menghadapi berbagai tantangan dan persoalan hidup karena adanya persaudaraan untuk saling menolong. Sedangkan pincuk mengajarkan tentang rasa syukur dan rasa cukup. Pincuk merupakan kérata basa atau akronim dari “pintên-pintên cukup”, yang artinya “berapa pun cukup”.
Filosofi cênil ini mengingatkan kita tentang salah satu nasihat yang diberikan oleh Penulis Sarat Ibrani di bagian akhir suratnya. Penulis Surat Ibrani menyebutkan, “Janganlah menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”. Pada waktu itu, para penerima surat Ibrani sedang menghadapi tekanan dan penganiayaan. Tidak sedikit dari mereka yang tertindas dan dipenjara (Ibr. 10:32-34). Para penerima surat ini diperintahkan untuk dapat memberikan pertolongan bagi yang membutuhkan (Ibr. 13:16). Agar mampu menolong dan berbagi, maka penulis Surat Ibrani menasihatkan, pertama: menjaga hati dari godaan kemewahan (Ibr. 13:5b). Frasa “Janganlah menjadi hamba uang” secara harafiah bermakna “bebas dari cinta terhadap uang”. Bila seseorang lebih mencintai Kristus dari pada uang, tentu dia pasti siap dan rela memberikan pertolongan dan bantuan. Kedua, mencukupkan diri dengan apa yang ada (Ibr. 13:5b). Nasihat ini menunjukkan bahwa ‘mencukupkan diri’ tidak terjadi secara alami, melainkan sebuah proses belajar. Oleh karena itu, mencukupkan diri tidak ditentukan oleh situasi. Hal ini tentang kemauan, bukan tentang berapa jumlah materi. Apa yang dimiliki masing-masing orang bisa berbeda, tetapi mereka bisa sama-sama mencukupkan diri dengan apa yang ada. Ketiga, mempercayai janji Tuhan (Ibr. 13:5c). Memang tidak mudah untuk mencukupkan diri dalam segala keadaan apalagi di tengah situasi yang dibayangi oleh penganiayaan. Namun, mereka perlu selalu mengingat janji penyertaan Tuhan. Sebab situasi dan kondisi kita tidak akan menghalangi Allah untuk tetap bekerja. Bahkan, seringkali karya Allah justru lebih dari apa yang kita harapkan.
Saudaraku, mungkin berbagai persoalan dan tantangan masih membayangi kita. Kiranya filosofi cênil hari ini, mengingatkan kita untuk tetap belajar untuk bersikap “pintên-pintên cukup”, sebab Tuhan tetap setia untuk memelihara dan menyertai kita melalui kehadiran banyak orang yang mengulurkan tangan bagi kita. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami sadar bahwa ketamakan kami telah membawa kami pada sikap ‘tidak dapat merasa cukup’. Oleh karena itu kami terus belajar untuk dapat merasa cukup karena percaya bahwa Engkau tetap memelihara dan menyertai kami. Dengan demikian, kami juga dapat mengucap syukur dalam berbagai keadaan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih, ya Tuhan Yesus. Amin.
