”REMPÉYÉK”
Views: 1
Bacaan: Ulangan 6:4-5 (TB 2)
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHANlah Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Tidak lengkap rasanya, Saudaraku, jika menyantap nasi pecel, gado-gado atau urap tanpa ditemani rempéyék atau péyék. Jenis makanan dari kelompok gorengan ini juga bisa disajikan dan dinikmati langsung sebagai camilan, teman makan nasi atau sebagai pelengkap makanan lainnya. Teksturnya renyah dan kering, didominasi rasa asin yang gurih. Rempéyék merupakan makanan tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Kini masyarakat mengenal ada banyak jenis rempéyék, seperti: rempéyék kacang, rempéyék kedelai, rempéyék teri, rempéyék jingking, rempéyék udang, rempéyék laron, rempéyék bayam, dll.
Selain rasanya yang enak, rempéyék sering dianggap sebagai simbol keberlanjutan. Proses penggorengan dan pembumbuan rempéyék juga dianggap sebagai simbol transformasi dan perbaikan, karena makanan ini mengambil bahan-bahan sederhana dan mengubahnya menjadi camilan yang lezat dan memuaskan. Selain itu, rempéyék juga dianggap sebagai simbol persatuan dan komunitas, karena makanan ini sering disajikan dalam acara-acara sosial dan keagamaan.
Saudaraku, rempéyék sebagai simbol keberlanjutan, transformasi dan persekutuan ini mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya iman kepada Tuhan itu diajarkan di dalam keluarga. Keluarga adalah basis kegiatan pewarisan iman Kristen. Tetapi kenyataannya, pada masa sekarang banyak orang yang menganggapnya kurang penting. Kita semua tahu bahwa kemajuan zaman memang memberi dampak positif bagi kehidupan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada pula dampak negatif bahkan membahayakan, seperti: pergaulan anak yang sukar dikendalikan, berkurangnya relasi personal antar anggota keluarga, dll. Oleh karena itu, keluarga-keluarga Kristen mesti secara sengaja mengupayakan pewarisan iman bagi anak-anaknya sebagai bagian dari keberlanjutkan pengajaran iman, transformasi pribadi dan tentunya kedekatan di antara anggota keluarga. Dalam sejarah umat Israel dahulu, Musa pun sudah melihat pentingnya pendidikan iman sejak dini kepada anak-anak untuk mengasihi Tuhan. Kepada umat Israel Musa menyampaikan: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHANlah Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu”. Musa memulainya dengan prinsip utama: TUHAN, Allah bangsa Israel adalah TUHAN yang esa. Hanya Dia Tuhan yang berkuasa dalam kehidupan bangsa Israel, satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan dikasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatannya. Bukankah Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa mengasihi Allah adalah hukum yang paling terutama (lih. Mat. 22:37). Agar proses keberlanjutan, transformasi dan persekutuan ini dapat berjalan dengan baik, maka setiap anggota kelauarga mesti: pertama, bersedia untuk mendengar perintah Allah dan mengerti perintah itu dengan sungguh-sungguh sehingga “tertanam dalam hati” dan menjadi bagian dari diri. Kedua, mematuhi ketetapan dan perintah Allah itu. Bila tidak ada keteladanan untuk mematuhi, dari mana anak-anak akan belajar tentang iman dan ketaatan? Ketiga: mengajarkan tentang iman kepada Tuhan ini secara berulang-ulang kapan dan di manapun, kepada anak-anak dan mereka yang usianya lebih muda.
Saudaraku, kiranya sajian rempéyék hari ini mengingatkan kita semua akan tugas dan tanggungjawab kita sebagai bagian dari keluarga di dalam memelihari dan mengajarkan perihal iman kepada anak-anak, sehingga keberlanjutan, transformasi dan persekutuan keluarga dapat tetap terjaga. Dengan demikian, Nama Tuhan sajalah yang akan dimuliakan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar kehidupan kami dapat senantiasa menjadi teladan bagi semua orang tentang iman kepada-MU. Mampukanlah kami agar tetap rendah hati di manapun dan kapanpun. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
