admin
Posts by :
MELAKUKAN SETIAP PEKERJAAN YANG BAIK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Titus 3: 1–7
Salam Sejahtera, Kiranya kita semakin menjadi umat yang dihidupkan oleh Roh Kudus.
Hari Pentakosta bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan pengingat akan identitas sejati gereja—yaitu umat yang dilahirkan dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Sebagai umat Allah, kita dipanggil untuk: Hidup dipenuhi oleh Roh, Menjadi saksi Kristus di tengah dunia, Membangun kesatuan dalam keberagaman.
Kita hidup oleh kuasa Roh Kudus. Hidup dalam Roh Kudus berarti kita tidak hanya hidup menurut hukum atau moralitas, tetapi mengikuti pimpinan Roh yang mengubah hati dan menghasilkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Gal. 5:22–23).
Gereja tidak boleh pasif. Seperti para murid pada Hari Pentakosta, kita juga diurapi dan diutus untuk keluar dan memberitakan Injil, menyatakan perbuatan-perbuatan besar Allah kepada dunia yang belum mengenal-Nya.
Roh Kudus: Membangun Kesatuan dalam Perbedaan. Roh Kudus yang dicurahkan pada Hari Pentakosta bukan hanya tanda kuasa Allah, tetapi juga dasar kesatuan yang sejati. Perbedaan suku, bahasa, dan budaya tidak memecah gereja, melainkan memperkaya dan menyatukan umat Allah dalam satu Roh.
Roh Kudus memanggil setiap orang percaya—baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda—untuk menjadi alat-Nya, menyampaikan kasih dan kebenaran Allah (Kis. 1:8), serta membangun kesatuan di tengah keberagaman.
Roh Kudus adalah Kuasa yang Memperbaharui dan Melahirkan Kembali. Roh Kudus bekerja mengubah hati, memperbaharui manusia, dan melahirkan kembali. Keselamatan bukan hasil usaha manusia, melainkan kasih karunia Allah.
Perubahan hidup sejati berasal dari inisiatif Allah melalui karya Roh Kudus—bukan karena jasa manusia. Lahir baru berarti mengalami penciptaan ulang rohani, seperti bayi yang baru lahir (Yoh. 3:3). Ini bukan sekadar reformasi moral, melainkan transformasi yang mendalam dan radikal.
Roh Kudus melakukan pembaruan yang terus-menerus. Kelahiran kembali adalah pekerjaan Roh Kudus—sebuah proses pembaruan terus-menerus, bukan satu kali jadi. Roh Kudus membentuk orang percaya untuk: Tunduk kepada pemerintah dan penguasa, Taat dan siap melakukan setiap pekerjaan baik (Titus 3:1), Tidak memfitnah, melainkan mencintai damai, Bersikap ramah dan lemah lembut kepada semua orang. Ia memurnikan: Pikiran yang keliru, Kehendak yang egois, Tindakan yang tidak selaras dengan kasih Allah.
Bagaimana Perubahan Hati dan Hidup Baru? Perubahan sejati berarti berpindah dari hidup dalam dosa menuju hidup yang baru. Roh Kudus mengubah arah hati dari: Kebodohan menuju hikmat, Pemberontakan menuju ketaatan, Keegoisan menuju kasih yang ilahi. Paulus menggambarkan hidup bodoh sebagai: Tidak taat, sesat, Diperbudak oleh nafsu, Penuh iri, kebencian, kejahatan, dan mementingkan diri. Sebaliknya, hidup baru, hidup berhikmat adalah: Hidup yang takut akan Tuhan, Menghormati Allah dan mengasihi sesama, Berjalan dalam kebenaran dan kasih.
Tanda-Tanda Orang yang Diperbarui oleh Roh Kudus adalah Orang yang memiliki kerinduan untuk menyenangkan Allah, Menjauhi dosa karena kasih, bukan sekadar karena takut, Menghasilkan buah Roh dalam kehidupan nyata.
Siap Melakukan Pekerjaan yang Baik berarti Hidup yang diperbarui oleh Roh Kudus dan hidup yang aktif, Taat kepada pemerintah, Siap melayani dengan tulus dalam segala aspek kehidupan. Paulus mengingatkan agar umat tidak hanya percaya dan berdoa, tetapi juga bekerja dan bersaksi, terutama dalam masyarakat yang belum mengenal Allah.
Gereja selalu hadir di tengah dunia. Gereja adalah umat pilihan Allah, bukan hanya institusi rohani. Identitas surgawi ini bukan alasan untuk menarik diri, melainkan panggilan untuk hadir sebagai terang dan garam.
Alkitab memerintahkan kita untuk: Membangun relasi yang sehat, Melakukan kebaikan secara aktif, Menjadi saksi Injil dalam segala keadaan.
Kita siap melakukan pekerjaan baik artinya kita waspada dan rela, aktif mencari kesempatan untuk berbuat baik dan menyatakan kasih Tuhan. Pekerjaan baik tidak selalu besar dan mencolok. Hal-hal sederhana juga berarti: Jujur dalam bekerja, Sabar dalam tekanan, Ramah terhadap tetangga, Adil dalam keputusan sehari-hari.
Ketundukan kita dinyatakan sebagai Kesaksian. Tunduk kepada pemerintah bukan kompromi iman, tapi wujud ketaatan kepada Allah selama tidak melanggar Firman-Nya. Jika terjadi ketidakadilan, orang percaya tetap dipanggil untuk: Lebih taat kepada Allah daripada manusia (Kis. 5:29), Memberi kesaksian dalam kasih, kebenaran, dan hikmat. Memberi kritik berdasarkan fakta, data dan firman Tuhan bukan berita palsu.
Kita menyatakan kesaksian dalam Hidup Sehari-Hari. Kekuatan Injil tidak hanya melalui kotbah, tetapi terlihat dalam kehidupan umat Allah. Dunia menilai gereja bukan dari liturginya, melainkan dari: Etika kerja, Gaya hidup sosial, Sikap di rumah tangga, Jejak digital di media sosial. Karena itu, kita dipanggil menjadi: Ramah, bukan pemarah, Jujur, bukan licik, Peduli, bukan egois, Rendah hati, bukan merasa paling benar.
Kita Menjadi Saksi Kristus. Hidup Kristen sejati adalah hidup yang hadir di tengah dunia dengan identitas surgawi dan tanggung jawab sosial. Mari kita hidup sebagai umat yang: Taat pada otoritas dengan hikmat, siap untuk setiap pekerjaan baik, menjadi saksi Kristus melalui tindakan nyata.
Melakukan pekerjaan baik berarti setiap langkah dan pekerjaan yang biasa dan kecil adalah untuk memuji nama Tuhan seperti lirik lagu KJ. 466 – 3 3. Kiranya tiap langkahku dan pekerjaanku pun yang biasa dan kecil memuji namaMu.
Berdoa:
Ya Tuhan, ajarlah kami untuk tidak hanya percaya kepada-Mu, tetapi juga siap melakukan setiap pekerjaan baik di mana pun Engkau menempatkan kami. Tuntun kami dengan Roh-Mu agar hidup kami menjadi kesaksian yang nyata tentang kasih dan kebenaran-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
BUTUH KEBERANIAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas. Kisah P R 4:29,
Sekarang, ya Tuhan, lihatlah ancaman-ancaman mereka dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, keberanian yang dipacu dengan aliran hormon adrenalin membuat kita siap menghadapi tantangan. Tetapi aliran adrenalin dalam tubuh akan reda, bila dibuka oleh pengeritan akan tantangan yang dihadapi. Dari nas renungan ini, bagaimana Petrus dan Yohanes berani, walau mendapat tantangan dan hambatan untuk membeitakan Injil, bukan sekedar bersaksi yang temporer saja, tetapi bersaksi memberitakan Injil dengan pemahaman dan recana yang baik. Dibutuhkan aliran hormon adrenalin, yang membentuk kejiwaan yang baru (iman), dan kesiapan fisik, karena mereka ditangkap oleh penguasa Yahudi diperhadapkan ke pengadilan agama Yahudi. Sidang itu dipimpin oleh Kayafas, yang dulu mempimpin pengadilan Yesus, Di sini BUTUH KEBERANIAN, baik keberanian oleh adrenalin maupun oleh pengeritan atau iman, yang telah menjadi tekad (komitmen) menjadi saksi Kristus.
Faktor-faktor pertimbangan keputusan pengadilan itu antara lain, pertama, melihat mujizat kesembuhan seorang lumpuh yang sembuh dalam kuasa nama Yesus Orang Nazaret, dan itu terjadi di tengah kehidupan orang banyak di serambi Bait Suci. Faktor kedua, ialah KEBERANIAN Petrus dan Yohanes menyatakan kesembuhan itu atas nama Yesus yang telah mereka salibkan. Faktor ketiga, melihat Petrus dan Yohanes hanya orang bisa (awam) dalam hal agama Yahudi dan hanya rakyat biasa (bukan pejabat). Akhirnya persidangan yang dipimpin Imam Besar Bait Suci mengambil keputusan, melihat: pertama, orang lumpuh itu yang telah sembuh itu ada di samping rasul itu, disaksikan oleh masyarakat, kedua, melihat KEBERANIAN rasul yang orang “kecil” di masyarakat, maka persidangan memutuskan: membebaskan kedua rasul itu dari tahanan/penjara, dengan nasihat dan melarangan, agar mereka jangan lagi mengulangi memberitakan nama Yesus. Keputusan itu diterima oleh Petrus dan Yohanes dengan reaksi: kami harus lebih taat kepada Allah dari pada taat kepada kamu (kepada persidangan). Walau pun persidangan telah membebaskan rasul itu dan mendengar sikap mereka yang bukan semakin koperatif tetapi sikap menantang, maka Imam Besar dan pemimpin Yahudi mengambil sikap makin keras kepada setiap pengikut jalan Tuhan. Sikap rasul-rasul ini mendatangkan gerakan hambatan yang direstui oleh pemerintah Romawi, maka terjadilah gerakan menghambat jalan Tuhan, diikuti dengan siksaan bagi orang Kristen. Dengan kesukaran seperti ini rasul-rasul, orang-orang Kristen membutuhkan lebih lagi KEBERANIAN yang dipicu oleh adrenalin, pengertian, komitmen dan iman untuk tetap memberitakan Injil. Untung Roh Kudus memenuhi keberanian rasul-rasul.
Aplikasi:
- Adakah gunanya rasul Kristus BERANI bersaksi tetapi membawa kematian?
- Adakah kesaksian jaman sekarang yang membawa penderitaan bagi dirinya?
- Sejauh mana KEBERANIAN Anda bersaksi dalam hidup ini?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi, kami telah menerima roh keberanian, kekuatan, kasih dan ketertiban, agar kami mampu menyaksikan keselamatan dalam Yesus Kristus. Roh Kudus menyertai dan menolong kami menjadi saksi Kristus. Amin.
[AS090625]
Kebaktian Minggu 08 Juni 2025
Views: 0
Kebaktian Pentakosta - 08 Juni 2025
TEMA: “ROH KUDUS YANG MEMBARUI JEMAATI”
BACAAN PERTAMA: Kejadian 11:1-9 (TB 2)
ANTAR BACAAN: Mazmur 104:24-34, 35b (TB 2)
BACAAN KEDUA: Kisah Para Rasul 2:1-21 (TB 2)
BACAAN INJIL: Yohanes 14:8-17, 25-27 (TB 2)
“MARI SEBARKAN INJIL KESELAMATAN!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Pada hari kenaikan Tuhan Yesus ke surga, Ia memberi tugas murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil. Apa respon murid-murid-Nya? Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Mari sebarkan Injil ke seluruh dunia!” berdasar dari Injil Markus 16:19-20 “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Merekapun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekeja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Demikianlah firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, Markus 16:19-20 memberikan makna yang sangat dalam dan relevan bagi jemaat saat ini khususnya dalam konteks misi, pelayanan, dan pengharapan iman kita. Tuhan Yesus sendiri memerintahkan murid-murid-Nya: “Pergilah ke seluruh dunia…” Ini bukan saran, tetapi ini adalah mandat! Bukan hanya untuk para rasul dua ribu tahun yang lalu, tetapi juga untuk kita hari ini. Mengapa Saudara? Karena hanya Injil yang sanggup menyelamatkan.
Banyak orang mencari keselamatan dalam kekayaan, pendidikan, atau kekuasaan, tetapi hanya Injil yang membawa manusia kepada hidup yang kekal. Hari ini kita diingatkan kembali tentang panggilan terbesar kita sebagai orang percaya, yaitu menyebarkan kabar baik, Injil keselamatan. Injil bukan hanya untuk disimpan, tetapi untuk dibagikan. Kasih Allah begitu besar, bukan hanya untuk saudara dan saya, tetapi untuk semua makhluk di dunia ini.
Dikatakan dalam ay. 20a: “Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru…” Apa artinya Saudara? Artinya, umat percaya merespon perintah itu, sepanjang zaman umat melaksanakan tanggung jawab untuk memberitakan Injil sampai hari ini.
Kitapun dipanggil untuk aktif, bukan pasif. Gereja bukan hanya tempat untuk menerima berkat, tetapi juga tempat untuk diperlengkapi dan diutus. Dan ingatlah, Tuhan menyertai dan meneguhkan pelayanan kita (ay. 20b) “Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”
Saudara, memberitakan Injil bukanlah pekerjaan manusia semata. Sebenarnya Tuhan sendiri yang bekerja melalui dan bersama gereja-Nya. Kuasa dan penyertaan Tuhan nyata. Tugas kita adalah taat, dan Tuhan yang akan meneguhkan pelayanan kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Jemaat GKI Kwitang dalam ibadah, sebuah pujian yang berjudul: “Mari Sebarkan Injil”. Pujian ini sungguh menjadi berkat bagi banyak orang. Kesaksian pujian ini menyatakan: “Mari sebarkan Injil ke seluruh dunia, mari kabarkan nama Yesus Mahamulia. Besar kasihNya bagiku dan bagi kita semua, Dia mati untuk umat manusia.” Bait kedua menyatakan undangan bagi semua orang: “Bukalah hatimu, mari terima Dia. Buanglah congkakmu dan tetaplah percaya. Dekaplah Yesus Tuhanmu agar hidupmu berseri. Segala puji bagi Tuhan diberi” Lagu ini mendorong kita untuk tidak tinggal diam. Jika kita benar-benar memahami betapa dalam dan luasnya kasih Allah kepada kita, kita tidak akan bisa tinggal diam. Kita akan terdorong untuk membagikannya kepada orang lain. Seperti dinyatakan dalam refren: “Mari sebarkan, mari wartakan; keselamatan oleh Tuhan tiada terperi, dan teruskan beritakan rahmat ilahi dalam Yesus diberi.”
Bersediakah Saudara merespons firman Tuhan hari ini dengan semangat dan ketaatan menyebarkan Injil keselamatan? Melalui profesi Saudara masing-masing, di manapun Saudara berada, jangan tunda-tunda waktu! Dunia ini sedang menantikan kabar baik yang Saudara bawa. Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa kami yang di surga, kami percaya Tuhan Yesus yang telah naik ke surga adalah Tuhan yang mengutus kami untuk memberitakan Injil keselamatan bagi dunia. Berkatilah jemaat-Mu GKI Kwitang dalam melakukan panggilan untuk menyebarkan Injil damai sejahtera melalui lembaga-lembaga pelayanan maupun yang dilakukan secara personal. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga.
MENGASIHI TUHAN, MEMBENCI KEJAHATAN, MEMBELA KEADILAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 97
Salam sejahtera untuk kita semua. Kiranya hari ini kita makin mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan membenci kejahatan (Mazmur 97:2).
Mazmur 97 adalah mazmur pujian yang meninggikan keagungan dan kekuasaan Allah. Pemazmur menggambarkan Tuhan sebagai Raja atas seluruh bumi, hadir dengan kuasa dahsyat: awan, kilat, api, dan badai. Namun, di tengah semua gambaran megah itu, terselip satu panggilan sederhana namun mendalam bagi umat-Nya: Jika kamu mengasihi Tuhan, bencilah kejahatan. Mengapa? Karena Tuhan sendiri membenci kejahatan. Di sepanjang Alkitab, Allah digambarkan sebagai kudus, benar, dan adil. Dalam Mazmur 97:2 tertulis: “Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.”Karena Allah kudus, segala sesuatu yang melawan kebenaran, yang merusak, menyakiti, atau menindas, bertentangan langsung dengan sifat-Nya.
Mengasihi Tuhan berarti juga mengasihi sifat-sifat-Nya. Kita tidak bisa mencintai Tuhan sambil tetap berkompromi dengan hal-hal yang jelas ditolak-Nya. Kasih sejati kepada Tuhan bukan hanya soal perasaan atau ucapan bibir; itu soal kesetiaan hati.
Dalam Alkitab, penyembahan berhala sering disebut sebagai “perzinahan rohani” karena itu adalah bentuk ketidaksetiaan kepada Allah. Hukum Taurat sudah jelas: hanya Tuhan yang disembah, tidak ada ilah-ilah lain. Menyembah ilah lain sama dengan memelihara kejahatan dunia, yang bertentangan dengan kekudusan dan keadilan Allah.
Kalau kita membenci kejahatan, itu berarti kita tidak tunduk kepada ilah-ilah dunia. Kejahatan memisahkan kita dari Allah. Membenci kejahatan sama dengan membenci dosa. Orang yang mengaku mencintai Tuhan tetapi tetap memelihara dosa, itu seperti mencintai pasangan sambil tetap menjalin hubungan gelap — tidak mungkin!
Kita mengasihi Tuhan, berarti mengasihi Ciptaan-Nya. Kejahatan menghancurkan ciptaan Allah yang dikasihi-Nya, yang diciptakan-Nya dengan amat baik. Merusak ciptaan berarti merusak diri sendiri, merusak sesama, merusak alam sekitar. Kalau kita sungguh mengasihi Allah, kita juga mengasihi karya-Nya: manusia lain, alam semesta, dan tatanan kehidupan yang baik. Itu berarti kita tidak bisa diam melihat ketidakadilan, penindasan, atau kehancuran. Mengasihi Tuhan berarti terpanggil untuk membela kebaikan , keadilan di dunia ini.
Kasih Sejati akan mengubah hati dan tindakan. Kasih kepada Tuhan bukan hanya sesuatu yang ada di hati, tetapi harus memancar keluar. Itu akan tampak dalam cara kita hidup, pilihan-pilihan kita, dan keberanian kita menolak dosa, bahkan ketika itu sulit atau tidak populer.
Orang yang mengasihi Tuhan harus membenci kejahatan karena: Tuhan itu kudus dan membenci kejahatan, Kesetiaan kepada Tuhan berarti menolak segala yang memisahkan dari-Nya, Kejahatan merusak ciptaan yang dikasihi Allah, Kasih sejati mengubah hati dan tindakan kita.
Orang yang mengasihi Allah tidak boleh diam — mereka harus membela keadilan, memberitakan keadilan, seperti langit memberitakan keadilan (Mazmur 97:6). Langit tidak diam; langit “bersuara” — memberitakan siapa Allah, memberitakan keadilan-Nya. Kalau langit, ciptaan yang tidak berakal, bisa menjadi saksi kemuliaan Tuhan, apalagi kita, manusia yang mengenal Dia, dipanggil untuk menjadi saksi aktif!
Mengasihi Tuhan berarti tidak hanya menjauhi dosa, tetapi juga menjadi pemberita kebenaran dan keadilan-Nya di dunia ini. Mengapa harus memberitakan Keadilan? Karena Allah Adil, Umat-Nya Harus Membawa Keadilan. Allah bukan Allah yang pasif. Ia membela yang lemah, menghancurkan berhala, menegakkan kebenaran. Kita yang mengasihi-Nya dipanggil menjadi perpanjangan tangan-Nya di dunia, berdiri melawan ketidakadilan sosial, politik, ekonomi, dan rohani.
Dunia ini perlu mendengar Keadilan Allah. Dunia ini penuh suara salah: suara ego, kekuasaan, keserakahan, kebohongan. Kalau orang-orang yang mengasihi Tuhan diam, siapa yang akan menjadi saksi bahwa ada Allah yang adil, yang mengasihi semua ciptaan-Nya?
Hidup kita harus memberitakan Tuhan yang adil. Bagaimana Kita Memberitakan Keadilan? Melalui hidup yang bersih — jujur, adil, mengasihi yang lemah, menolak pola korupsi dan dosa. Berani bicara melawan ketidakadilan, meski itu berarti tidak populer. Menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara: orang miskin, korban penindasan, korban kekerasan. Mendoakan agar keadilan Tuhan turun di bumi, dan memberitakan kabar baik bahwa di dalam Yesus Kristus ada pengharapan, pembebasan, dan hidup baru.
Refleksi bagi kita: Apakah selama ini kita hanya fokus menghindari dosa, tetapi lupa menjadi saksi kebenaran? Di mana kita bisa mulai berdiri untuk keadilan minggu ini? Siapa yang bisa kita bela atau tolong? Bagaimana kita bisa memakai kata-kata, tindakan, bahkan media sosial untuk memberitakan keadilan Allah?
Kita belajar dari teladan Paulus (Kisah Para Rasul 16:16–24). Paulus dan Silas bertemu seorang perempuan yang dirasuki roh tenung, yang dijadikan alat mencari untung oleh para tuannya. Setelah roh itu diusir, para tuannya marah karena kehilangan sumber uang. Mereka menyeret Paulus dan Silas ke pengadilan, memfitnah mereka, memanipulasi pembesar kota, dan tanpa proses adil mencambuk serta memenjarakan mereka seperti penjahat berat.
Di sini ada ketidakadilan ekonomi (memperbudak demi uang), ketidakadilan hukum (fitnah tanpa bukti), dan ketidakadilan politik (penguasa ikut tekanan massa).
Paulus mengasihi Tuhan dan membenci kejahatan: Ia berani membebaskan perempuan itu, meskipun tahu risikonya. Ia tidak takut mengusung nama Yesus di tempat umum. Di penjara, ia dan Silas tetap menyanyi memuji Tuhan. Paulus tidak hanya berdoa diam-diam, tetapi bertindak melawan dosa, meskipun diserang, difitnah, didera fisik, dipenjara secara tidak adil. Ia adalah contoh nyata orang yang mengasihi Tuhan dengan seluruh hidupnya, dan karena itu tidak bisa tinggal diam melihat kejahatan di sekitarnya.
Aplikasi untuk Kita: Mengasihi Tuhan dan membenci kejahatan berarti: Berani berdiri melawan eksploitasi, ketidakadilan, penindasan. Tidak pasrah ketika diserang karena kebenaran, tetap memuji Tuhan. Tidak membalas jahat dengan jahat, tetapi tetap memperjuangkan kebenaran.
Mari kita meninggalkan yang jahat, dosa kita cegah, tindakan kita tulus, tidak bercela. Kita menjunjung kebenaran , hidup dalam terang berharap pada Yesus maka kita akan menang. Kita minta kekuatan dan pertolongan pada Tuhan agar kita pasti menang seperti diungkapkan dalam KJ. 436 ayat 2. Tinggalkan yang jahat, dosa dicegah; tindakanmu tulus tiada bercela: junjung kebenaran, hidup dalam t’rang, harap akan Yesus: pasti kau menang. Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan; Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin mengasihi Tuhan dan membenci kejahatan serta membela keadilan. Hanya dalam Yesus kami berharap dan akan menang. Dalam nama Yesus kami berdoa amin
DITARIK KE ATAS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 37:24 & 28,
Mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong tidak berair. (28), Ketika saudagar-saudagar Midian itu lewat, Yusuf ditarik ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu mereka membawa Yusuf ke Mesir.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, tema kita berbunyi, DITARIK KE ATAS, sering kita saksikan bahkan kita alami. Orang yang terjerumus ke lobang, tidak mampu keluar, sehingga harus di tarik ke atas, ada kendaraan yang terprosok ke jurang, tidak mampu keluar, sehingga harus di tarik ke atas. Yusuf sengaja dilemparkan oleh saudara-saudaranya ke sumur yang kering, dia tidak mampu keluar dari sumur itu untuk membebaskan dirinya. Kemudian dia ditarik kembali oleh saudara-saudaranya itu, bukan untuk dibebaskan, tetapi untuk dijual sebagai budak kepada pedagang orang Ismael.
Kita tidak memperpanjang kisah Yusuf, tetapi berkenaan dengan tema kita yang berbunyi: DITARIK KE ATAS, menjadi pokok renungan ini. Manusia yang telah terjerumus ke lobang dosa, akibatnya kehilangan kemuliaan yang Allah karuniakan diganti dengan kemuliaan diri sendiri, kemuliaan duniawi. Tujuan hidupnya dikuasai oleh Iblis yaitu maut, derita dan kesia-siaan menjadi kebanggaan dunia ini. Egoisme, iri hati, kebencian memicu perselisihan satu dengan yang lain, demikian kita saksikan dalam hidup di masyarakat kita dan masyarakat dunia. Demikian sekilas keadaan manusia yang sudah terperosok masuk lobang dan jurang dosa
Yusuf yang masih muda itu dilemparkan ke dalam sumur kering dan tidak mampu keluar dari sumur itu, kemudian ditarik ke atas. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dilemparkan ke dalam lubang dapur api yang menyala-nyala, mereka tidak dapat keluar sendiri, kemudian ditarik naik, selamat dari api itu. Daniel dilemparkan ke lubang singa, beberapa singa ada di lubang itu, tetapi singa itu mengatupkan mulutnya. Daniel tidak dapat keluar sendiri, akhirnya ditarik ke atas dalam keadaan selamat. Demikian hidup manusia ini yang telah terjerumus masuk ke lubang dosa, manusia tidak mampu keluar dari lobang dosa itu. Ada yang berusaha keluar dari lobang dosa ini dengan kemampuannya dalam amal baik dan ibadah, semua usaha manusia tidak mampu keluar dari lobang dosa itu. Tetapi ada tangan yang menarik kita ke atas untuk diselamatkan, Yoh 6:44, menegaskan: “Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku…” Tarikan ini harus kita sambut dengan iman dan percaya, sehingga keselamatan orang berdosa terjadi bagi kita.
Aplikasi:
- Bagaimana Anda menyadari telah terperosok ke jurang dosa?
- Kalau sudah ditarik dari lubang dosa yang “kotor,” bagaimana Anda bersihkan diri?
- Ke mana perjalanan Anda yang sudah ditarik dari lobang dosa?
Mari berdoa:
Bapa sorgawi, Yesus Kristus dengan matian-Nya mengangkat dan menarik kami dari kematian dan menerima kemenangan atas maut agar kami sampai di hadirat Bapa. Kami bersyukur atas tindakan Yesus Kristus yang rela berkorban untuk menyelamatkan kami orang berdosa. Amin. [AS020625]
Kebaktian Minggu 01 Juni 2025
Views: 0
Kebaktian Minggu VII Paskah - 01 Juni 2025
TEMA: “BUKAN MELARIKAN DIRI MELAINKAN PENGUTUSAN DIRI”
BACAAN PERTAMA: Kisah Para Rasul 16:16-34 (TB 2)
ANTAR BACAAN: Mazmur 97 (TB 2)
BACAAN KEDUA: Wahyu 22:12-21 (TB 2)
BACAAN INJIL: Yohanes 17:20-26 (TB 2)
MENANG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Wahyu 15: 4 (TB2)
”Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan tidak memuliakan nama-Mu? Sebab, Engkau saja yang kudus. Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Siapa di antara kita yang tidak ingin menang ketika kita sedang mengikuti sebuah perlombaan? Tentu kita akan merasa senang jika dapat memenangkan perlombaan tersebut. Akan tetapi hal ini berbeda dengan Alex, seorang atlet lari marathon. Untuk memenangkan perlombaan lari marathon, ia melakukan cara yang curang, yaitu dia menggunakan cara dopping. Pada akhirnya ia ketahuan menggunakan dopping dan didiskualifikasi karena kecurangannya. Ia tidak dapat melanjutkan lagi lomba lari marathon tersebut dan gagal menjadi seorang juara meskipun ia sudah berlatih berhari-hari. Perbuatan Alex menghalalkan segala cara agar meraih kemenangan ini adalah sebuah sikap yang tidak benar, yang pada akhirnya menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri.
Bagian bacaan firman Tuhan hari ini menceriterakan Rasul Yohanes yang mendapatkan penglihatan tujuh malaikat dengan tujuh malapetaka (Ay. 1) Hal ini menunjukkan bagaimana murka Allah dan berakhirnya murka Allah. Tidak hanya melihat hal yang sangat mengerikan, Yohanes juga mendapatkan penglihatan orang-orang yang telah menang melawan binatang dan mereka mengungkapkan syukur dengan puji-pujian kepada Allah (Ay. 3-4). Dalam pujian itu mereka memuliakan kebesaran Tuhan Allah dan memuji segala karya Allah yang Maha Kuasa. Karena itu hanya Allah saja yang patut disembah dan dimuliakan.
Setiap kita tentu tidak menginginkan malapetaka hadir dalam hidup kita. Pertandingan hidup dalam dunia ini semakin hari semakin berat, karena itu kita harus berserah diri kepada Tuhan. Apapun yang terjadi dalam kehidupan, hendaknya kita tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Kita mengucap syukur dalam segala keadaan. Pertandingan hidup dalam dunia ini tidak akan selesai, selama kita masih ada di dunia.
Saat ini kita dipanggil untuk memperjuangkan kehidupan, untuk menang bersama Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan adalah kasih, Ia juga Allah yang adil pada umat-Nya. Barangsiapa yang setia mengikut-Nya maka ia akan mendapatkan kemenangan, hidup kekal bersama Kristus. Sebaliknya mereka yang masih hidup dalam dosa akan mendapatkan hukuman Allah, sebab upah dosa ialah maut. Mari terus hidup di dalam Tuhan Yesus sebab Dialah pokok keselamatan dan kemenangan kita. Selamat berefleksi, Tuhan memampukan kita.
