admin
Posts by :
GEMPA BUMI MENGGULINGKAN BATU PENUTUP
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Matius 27: 62- 28: 2
Salam sejahtera! Kiranya kita semakin diteguhkan dalam iman bahwa Yesus benar-benar bangkit, meskipun di tengah zaman ini ada begitu banyak upaya untuk menutupi kebenaran itu.
Gempa bumi menandai kuasa ilahi sedang bekerja. Dalam Alkitab, gempa bumi seringkali menyertai kehadiran Tuhan atau suatu peristiwa besar (Matius 27:51). Ini menandakan bahwa kebangkitan Yesus adalah peristiwa yang mengguncang alam semesta secara rohani dan simbolis.
“Seorang malaikat Tuhan turun dari langit” . Malaikat bukan hanya pembawa berita, tetapi juga agen tindakan Allah. Ia menggulingkan batu, bukan untuk membiarkan Yesus keluar (Yesus sudah bangkit), tapi untuk menunjukkan bahwa kubur itu kosong. Sebab Yesus yang bangkit, bisa menembus ruang tertutup. Malaikat duduk di atas batu menunjukkan kemenangan dan otoritas. Apa yang manusia jadikan penghalang (batu kubur besar)—Allah gunakan sebagai panggung kemenangan.
Makna teologis dan reflektif bagi kita. Kebangkitan adalah karya Allah, bukan manusia. Bukan para murid yang menggulingkan batu, tetapi kuasa Tuhan melalui malaikat. Ini menekankan bahwa keselamatan dan kehidupan baru adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia.
Kematian tidak dapat menahan Yesus. Batu besar, segel Roma, penjaga, semua tidak berdaya menghadang kebangkitan. Yesus menang atas maut — ini menjadi pusat pengharapan iman Kristen.
Tuhan memakai mereka yang dianggap kecil untuk perkara besar. Murid perempuan adalah orang biasa, bukan pemimpin, bukan murid utama, tapi dipilih menjadi saksi pertama kebangkitan. Ini menunjukkan bahwa setia lebih penting daripada status. Jangan meremehkan peran kita dalam rencana Tuhan, sekecil apa pun kelihatannya.
Dalam hidup yang “gelap” dan seolah penuh batu besar yang menutup jalan, Tuhan sanggup membuka jalan dengan kuasa-Nya. Kebangkitan Kristus adalah fajar baru, harapan baru bagi semua orang percaya. Hidup tidak berakhir di kubur; kita punya harapan kekal.
Namun bagi mereka yang tidak percaya kepada Yesus, kebangkitan-Nya justru menjadi berita yang ingin mereka tutupi. Sebab mereka tidak menaruh harapan pada kebangkitan itu. Hingga masa kini, tidak sedikit orang yang secara sengaja menyebarkan ajaran palsu dan berita bohong. Mereka menyatakan bahwa Yesus tidak bangkit, bahwa Ia hanyalah manusia biasa, bahkan meragukan Alkitab sebagai firman Tuhan dan menganggapnya sekadar karya buatan manusia. Penolakan semacam ini sebenarnya bukan hal yang baru—sejak zaman Yesus, penyangkalan terhadap kebangkitan-Nya sudah terjadi.
Batu besar yang menutup kubur Yesus bukan sekadar penghalang fisik, melainkan simbol dari usaha manusia untuk membungkam kebenaran. Dalam Matius 27:62–66, para imam kepala dan orang-orang Farisi meminta agar kubur Yesus dijaga ketat , ditutup rapat dengan batu besar, karena mereka takut murid-murid-Nya akan mengambil jenazah dan mengklaim bahwa Ia telah bangkit.
Namun dalam hikmat Allah, justru upaya manusia yang dimaksudkan untuk menghalangi kebenaran itu menjadi alat untuk memperkuat kesaksian kebangkitan. Karena kubur dijaga oleh tentara Romawi yang terkenal disiplin dan tegas, maka tidak ada alasan logis yang dapat menjelaskan mengapa kubur itu kemudian ditemukan kosong—selain karena Yesus benar-benar bangkit.
Peristiwa ini menggemakan kebenaran firman Tuhan dalam Kejadian 50:20(TB2) “Memang kamu telah merencakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan ….” Demikian pula, usaha manusia untuk menutupi kebangkitan Yesus justru menjadi bagian dari kesaksian yang memperkuat iman kita hari ini.
Para pemimpin Yahudi menyebut Yesus sebagai “penyesat” (Matius 27:63). Kata ini menunjukkan sikap permusuhan, seolah Yesus adalah penggoda dan pembohong. Tetapi perspektif Allah sangat berbeda. Dalam Yohanes 14:6, Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Dan dalam peristiwa baptisan-Nya, Allah berseru, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17)
Dunia melihat Yesus sebagai ancaman terhadap sistem yang mapan dan penuh kepentingan. Tapi Allah melihat-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan, Anak-Nya yang kudus.
Mengapa Dunia Menyerang Kebangkitan dan Alkitab? Karena kebangkitan Yesus adalah inti kekristenan. Seperti kata Paulus: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga iman kamu.” (1 Korintus 15:14)
Kebangkitan adalah bukti bahwa Yesus adalah Tuhan. Dunia yang ingin hidup bebas dari otoritas Allah akan menolak kebenaran itu, dan karena itu mereka menyebarkan narasi tandingan.
Seperti para pemimpin agama di zaman Yesus takut murid-murid menyebarkan berita kebangkitan, demikian juga dunia hari ini takut bahwa kebenaran itu akan membuka mata banyak orang.
Kita harus menghadapi Ajaran Palsu dan Berita Bohong di Media Sosial. Karena kita harus mengenali Kebenaran dengan Akar yang Kuat. “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:32). Kita mempelajari Alkitab dengan mendalam—bukan hanya tahu bahwa Yesus bangkit, tetapi juga mengerti bukti historis, teologis, dan spiritualnya: Kubur kosong (tidak ditemukan jasad Yesus), Kesaksian saksi mata (lebih dari 500 orang, 1 Korintus 15:6) Transformasi para murid (dari takut menjadi martir).
Dalam hidup ini, ada begitu banyak “batu besar” yang menghalangi pandangan kita terhadap pengharapan dalam Yesus yang bangkit. Ada batu besar yang datang dari luar—seperti orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus dan menyebarkan ajaran serta berita palsu yang meragukan kebangkitan-Nya. Tapi ada juga batu besar dalam kehidupan sehari-hari: kedukaan yang mendalam, kesulitan ekonomi, sakit yang tak kunjung sembuh, ketidakadilan, penghinaan, pemutusan hubungan kerja, kesulitan mendapatkan pekerjaan, tantangan dalam studi, dan masih banyak lagi.
Namun, kita percaya bahwa Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk menggulingkan batu-batu besar itu. Ia sanggup membuka jalan, agar kita dapat melihat terang pengharapan dalam Yesus yang bangkit dan hidup. Kebangkitan Kristus mengajak kita untuk tidak lagi hidup dengan “ragi lama”, tetapi dengan “ragi kebangkitan”—ragi yang menumbuhkan pengharapan, semangat baru, dan daya juang yang segar.
Melalui kuasa kebangkitan-Nya, Tuhan memampukan kita untuk tetap melayani, bersaksi, bersekutu, bekerja, dan berusaha dengan iman yang teguh dan harapan yang menyala.
Batu yang tebal terguling, Yesus bangkit menundukan maut, naik ke surga, sebagai Tuhan yang kekal dan yang hidup untuk mengasihi, untuk menghapus dosa, dan menjadi dasar iman kita seperti lirik NKB 70 ayat 4. Kubur tak mampu menahan Tuhanku, maka tergulinglah batu tebal. Yesus t’lah bangkit menundukkan maut naik ke sorga, Tuhanku kekal! Reff Maha pengasih hidup dan mati untuk menghapus dosaku bersih; kebangkitanNya dasar imanku, kedatanganNya berkat abadi. amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami semakin diteguhkan dalam iman bahwa Yesus benar-benar bangkit, meskipun di tengah zaman ini ada begitu banyak upaya untuk menutupi kebenaran itu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
KEGENAPAN HARAPAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Yeremia 29:5-6,
Dirikanlah rumah dan tempatilah; buatlah kebun dan nikmatilah hasilnya. Ambillah isteri dan perolehlah anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah istri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan; supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan; bertambah banyaklah di sana dan jangan berkurang!
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kami mengucapkan dalam doa dan pengharapan SELAMAT PASKAH 2025. Yesus yang telah menderita, babak-belur digiring ke bukit Golgota, berakhir dengan kematian-Nya yang tragis. Sesungguhnya Yesus dalam kehidupan-Nya, pengajaran dan mujizat-mujizat-Nya, membuka mata, bahwa Dia sungguh Anak Allah yang patut diterima. Tetapi tidak demikian bagi para imam-imam, ahli Taurat dan kaum Farisi, mereka sebagai pemegang kekuasaan untuk bangsa Yahudi dalam hal agama dan kemasyarakatan. Mereka mendapat dukungan dari pemerintah Romawi baik dalam kekuasaan dan juga dari fasilitas hidup. Sedangkan Yesus tidak bisa tunduk di bawah kehendak mereka, sehingga dengan gampang imam-imam, ahli Taurat dan orang Farisi memprovokasi masyarakat untuk menolak Yesus dan dituntut hukuman mati.
Pupuslah semua harapan masyarakat dan mubajir kekaguman dan pengharapan atas berdirinya suatu Kerajaan yang dikumandangkan oleh Yesus. Ternyata Yesus “tak berkutik” atas tuduhan-tuduhan dan fitnah yang dilontarkan oleh imam-imam dan pemimpin masyarakat Yahudi, demikian juga Pontius Pilatus dengan seenaknya secara hukum menyerahkan Yesus untuk disalibkan sesuai dengan tuduhan dan tuntutan pemimpin masyarakat Yahudi.
Kita menyimak pesan nabi Yeremia kepada bangsa Israel yang sudah ditawan dan dibuang ke negeri Babel. Maka pupuslah harapan mereka menjadi suatu bangsa kebanggaan Allah, mereka putus asa, hilang harapan masa depan sebagai satu bangsa. Janji Allah yang mengatakan mereka menjadi umat-Nya, ternyata tidak mampu menahan serangan bangsa Babel. Raja mereka, imam-imam, nabi-nabi turut digiring sebagai tawanan tak berdaya di bawah tangan panglima bangsa Babel. Dalam suasana putus asa, hilang harapan, nabi Yeremia menyampaikan rencana Tuhan atas mereka. Karena sudah lama bangsa itu meninggalkan Tuhan, menyembah berhala, bangsa itu tidak bermoral dari aturan firman Tuhan, raja-raja bahkan nabi-nabi palsu membawa rakyat menyangkal Tuhan. Maka oleh Allah, umat itu “direkonstruksi” dengan tindakan mengijinkan bangsa Babel menghancurkan Israel agar rencana Tuhan bisa berjalan kembali, yaitu suatu umat yang baru mempersiapkan kedatangan Mesias. Nas renungan kita adalah pesan firman Tuhan menyampaikan harapan masa depan yang baik oleh Tuhan Allah. Yeremia membangun pikiran positif atas suasana derita dan putus asa itu. Perayaan Paskah adalah KEGENAPAN HARAPAN oleh kebangkitan Yesus membangun pikiran positif dari kehidupan yang fana dan singkat ini.
Aplikasi:
- Bagaimana Paskah mendapat tempat dalam kehidupan Anda?
- Adakah pengalaman “berpikir positif” dalam derita yang menimpa Anda?
- Hikmah apa yang Anda peroleh dari penyakit yang pernah Anda derita?
Mari berdoa:
Bapa dalam Tuhan Yesus Kristus, kematian Yesus untuk mengangkat kami dari kematian. Kebangkitan Yesus menyiapkan tempat bagi kami di rumah Bapa, menjadi kegenapan harapan kami dalam Kristus, Amin.
[AS210425]
Kebaktian Minggu Paskah 20 April 2025
Views: 0
Kebaktian Minggu Paskah - 20 April 2025
TEMA: “MENGHIDUPI PASKAH DI TENGAH KEPUNGAN HOAKS”
BACAAN PERTAMA: Yesaya 65 : 17-25 (TB 2)
ANTAR BACAAN: Mazmur 114 (TB 2)
BACAAN KEDUA: 1 Korintus 5 : 6b-8 (TB 2)
BACAAN INJIL: Lukas 24 : 1-49 (TB 2)
”TAHU SUTRA”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 5
Bacaan: Filipi 2:5-8 (TB 2)
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, tahu sutra merupakan salah satu jenis tahu. Tahu sutra memiliki tekstur yang sangat lembut, selembut sutra dan mudah hancur. Bahan dasar pembuatan tahu sutra adalah kedelai. Kedelai disaring dengan menggunakan kain sutra dengan tenunan yang rapat agar memperoleh tekstur yang lembut. Dalam pembuatannya, air kedelai tidak perlu ditekan (dipres), jadi setiap tahu sutra bisa mempertahankan kelembapannya saat didinginkan. Proses yang seperti itu menghasilkan warna tahu sutra lebih pucat dibandingkan jenis tahu lainnya dan rasanya tawar. Meski demikian, di dalam tahu sutra terdapat kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa jenis tahu segar lainnya. Tingkat kandungan protein di dalam tahu sutra sebesar 7,8%. Namun, kandungan protein tahu sutra lebih rendah dibandingkan dengan tahu keras. Tahu sutra juga mengandung lesitin yang nilainya lebih dari 5,5%. Oh ya, lesitin adalah zat yang dibutuhkan agar tetap awet muda, meningkatkan memori dan mempertinggi daya tahan tubuh. Tahu sutra juga memiliki kadar air sebesar 86% – tertinggi dibandingkan dengan jenis tahu lainnya. Mengonsumsi tahu sutra dapat mencegah penyakit akibat mensturasi pada wanita. Tahu sutra dapat diolah menjadi: wedang tahu, sapo tahu, sop tahu miso, puding, dll. Dari proses pembuatannya, maka tahu sutra memberikan pelajaran tentang kepercayaan dan praktik tanpa kekerasan.
Saudaraku, tahu sutra memberikan pelajaran penting bagi kita – anak-anak Tuhan. Setidaknya, memberikan gambaran tentang apa yang sudah dikaryakan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Pelayanan yang dikerjakan-Nya hingga paripurna menunjukkan ketaatan dan kesetiaan kepada Bapa. Bahkan pelayanan yang dilakukan-Nya itu tidak membuat orang lain menjadi korban, melainkan Dia mengurbankan diri-Nya sendiri. Kelembutan hati-Nya membuat Dia mudah untuk berbelarasa dengan mereka yang membutuhkan pertolongan dan kelepasan. Seperti halnya tahu sutra yang memiliki paradoks, di mana ia harus mempertahankan bentuknya agar tidak hancur. Dan ketika harus diolah, ia mesti rela untuk dihancurkan. Karya Tuhan Yesus pun sarat dengan paradoks. Untuk menanggung dosa manusia, Tuhan Yesus harus melakukan apa yang disenangi-Nya, yaitu menaati Bapa. Namun pada sisi lain, untuk melakukan apa yang disenangi-Nya itu, Dia harus melakukan apa yang Dia sangat gentar dan benci, yaitu terpisah dari Bapa. Tuhan Yesus telah melakukan itu semua demi kasih-Nya kepada kita. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita diminta untuk meneladani apa yang telah dikaryakan ini. Paulus mengingatkan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Ketaatan dan kesetiaan untuk mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan adalah panggilan sekaligus tugas bagi setiap kita. Meneladani tindakakan Kristus yang tanpa kekerasan dan melakukan kehendak-Nya dengan keyakinan penuh.
Saudaraku, saat ini kita berada di hari terakhir triduum yang sekaligus menandai akhir dari masa prapaskah. Kita diajak kembali untuk merenungkan, menghayati dan menghidupi keselamatan yang telah berikan Tuhan Yesus melalui pengurbanan-Nya. Kiranya sajian tahu sutra hari ini mengingatkan kembali tentang penggilan kita untuk tetap beriman dan rela berkurban dalam tindakan tanpa kekerasan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami bersyukur untuk anugerah keselamatan yang telah Engkau beri. Mampukan kami untuk senantiasa menghidupi karya-Mu melalui pikiran, tutur kata dan perilaku hidup kami. Kami rindu untuk tetap beriman teguh dan bertindak tanpa kekerasan demi kemuliaan-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
KEBAKTIAN JUMAT AGUNG – 18 April 2025
Views: 6
KEBAKTIAN JUMAT AGUNG - 18 April 2025
TEMA: “MERAIH MENANG MELALUI PALANG”
BACAAN PERTAMA: Yesaya 52:13 – 53:12 (TB 2)
ANTAR BACAAN: Mazmur 22 – TB 2
BACAAN KEDUA: Ibrani 10:16-25 – TB 2
BACAAN INJIL: Yohanes 18:1-19:42 (TB 2)
KASIH YANG MENYELESAIKAN SEGALANYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Yohanes 19:30 (TB2)
”Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia:” Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Hari ini kita ada dalam keheningan yang dalam. Suasana Jumat Agung memang selalu membawa kita kepada rasa sunyi yang berbeda dari hari-hari lainnya. Hari ini kita berhenti sejenak, menunduk, dan menatap salib.
Salib bukanlah lambang kemuliaan menurut dunia. Ia adalah alat penyiksaan, tempat paling hina bagi para penjahat. Tapi di sana, di tempat itu, Tuhan kita tergantung. Bukan karena Ia bersalah. Tapi karena kasih-Nya begitu besar.
Yesus tidak mati karena kalah. Ia mati karena memilih untuk mengasihi. Ia tidak ditarik ke salib dengan paksa, tapi Ia berjalan sendiri, memikul salib itu dengan luka-luka di tubuh-Nya. Ia tidak mengutuk para algojo, tidak membalas hujatan dengan amarah. Ia diam, tapi diam yang penuh kuasa. Diam yang penuh kasih.
Ketika Ia berkata, “Sudah selesai,” bukan berarti segalanya berakhir. Sebaliknya, justru dimulailah sebuah pengharapan baru. “Sudah selesai” bukan seruan keputusasaan, tapi pernyataan kemenangan. Segala hutang dosa kita telah dilunasi. Jalan menuju Allah terbuka. Dinding pemisah antara manusia dan Tuhan dihancurkan. Keselamatan yang selama ini tampak jauh, kini diberikan secara cuma-cuma.
Jumat Agung mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak selalu hadir dengan pelukan hangat atau kata-kata manis. Kadang kasih datang dengan air mata, dengan darah, dengan penderitaan. Kristus tidak memberikan kita janji hidup yang bebas dari luka, tapi Ia memberikan diri-Nya sendiri agar dalam setiap luka, kita tahu: kita tidak sendiri. Dia sudah lebih dulu menanggungnya.
Dan sekarang, apa balasan kita? Salib bukan hanya kisah masa lalu. Salib adalah cara hidup. Cara Yesus. Jalan salib adalah jalan setiap orang yang mau mengikut Dia dengan sungguh. Mari kita tatap salib itu hari ini, bukan dengan mata kasihan, tapi dengan hati yang bersyukur. Bukan dengan duka yang membeku, tapi dengan iman yang tumbuh. Karena di salib itu, kasih dinyatakan.
Selamat menghayati Jumat Agung, Tuhan menolong kita.
“MELAYANI, MENGASIHI, DAN MENGAMPUNI”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Umat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Melayani, Mengasihi, dan Mengampuni” berdasar dari Injil Yohanes 13:13-15 Tuhan Yesus bersabda: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamupun wajib saling membasuh kakimu. Sebab, Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Aku perbuat kepadamu.” Demikianlah firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pada malam menjelang Yesus ditangkap dan menghadapi penderitaan Salib, Yesus duduk bersama murid-murid-Nya, bukan dalam suasana kemenangan, tapi dalam suasana kasih yang mendalam, dan pengorbanan yang akan segera Dia jalani. Di malam itu, Ia tidak hanya memberikan roti dan anggur sebagai lambang tubuh dan darah-Nya, tetapi Ia memberikan teladan hidup bagi setiap orang yang menjadi murid-Nya.
Pertama, Melayani. Tuhan Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan: Ia bangkit dari tempat makan, mengambil air dan handuk, lalu membasuh kaki murid-murid-Nya. Pembasuhan kaki bukanlah hal biasa bagi seorang guru. Itu tugas hamba. Tapi Yesus justru menunjukkan bahwa kerendahan hati adalah kekuatan cinta. “ Apa yang telah Kuperbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian” (Yoh 13:15). Ketika kita merasa terlalu sibuk, terlalu tinggi, atau terlalu lelah untuk melayani, mari kita ingat bahwa Tuhan kita justru memilih melayani, bukan dilayani.
Kedua, Mengasihi. Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya tidak sempurna.
Petrus akan menyangkal-Nya. Yudas akan mengkhianati-Nya. Murid-murid lain akan lari. Tapi apa yang Yesus lakukan? Ia tetap mengasihi mereka. Bahkan sampai akhir.
Kasih Yesus tidak tergantung pada siapa kita, tapi berakar pada siapa Dia. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi…” (Yoh 13:34) Kasih bukan hanya kata-kata indah di mulut, tapi tindakan nyata di kehidupan sehari-hari. Mengasihi orang yang kita sukai itu mudah. Tapi mengasihi mereka yang menyakiti kita? Di situlah kasih Kristus hidup.
Ketiga, Mengampuni. Salah satu pesan tersembunyi di Kamis Putih adalah soal pengampunan. Yesus tidak membenci Yudas. Ia tidak membalas Petrus. Dia justru mengampuni mereka, dan bahkan mendoakan para penyalib-Nya. Mengampuni bukan berarti kita membenarkan kesalahan, tapi kita memilih untuk tidak terikat pada luka itu lagi. Pengampunan itu membebaskan, bukan hanya orang lain, tapi diri kita sendiri. Apakah saat ini ada nama yang muncul dalam hati kita yang perlu kita ampuni?
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Komuke, sebuah pujian yang berjudul: “Melayani Lebih Sungguh” Sebuah pujian yang sering kita nyanyikan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Kesaksian pujian ini menyatakan: “Melayani, melayani lebih sungguh” Mengapa kita harus melayani lebih sungguh? Karena Kristus sudah lebih dulu melayani kita. Mengasihi, mengasihi lebih sungguh. Mengapa kita mau mengasihi lebih sungguh? Karena Kristus sudah lebih dulu mengasihi kita. Mengampuni, mengampuni lebih sungguh. Mengapa kita harus mengampuni lebih sungguh? Karena Kristus sudah lebih dulu mengampuni kita!
Saudaraku, Yesus adalah Guru dan Tuhan kita, Ia sudah memberikan teladan. Bukan hanya melalui khotbah, tapi melalui tindakan kasih: Ia melayani dengan rendah hati, mengasihi tanpa syarat, dan mengampuni dengan tulus. Melayani, mengasihi, dan mengampuni bukan hanya tindakan sekali-sekali, tapi gaya hidup murid Kristus. Tuhan Yesus mengatakan: “ Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh. 13:17). Bersediakah Saudara melakukannya? Bersediakah Saudara memperbaharui komitmen Saudara untuk setia melayani Tuhan, mengasihi dan mengampuni? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa kami yang di surga, yang kami kenal dalam Tuhan Yesus Kristus. Terima kasih karena Engkau telah memberikan teladan untuk melayani, mengasihi dan mengampuni. Mampukanlah kami melakukan firman Tuhan Bu ini dalam kehidupan kami sehari-hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga.
Kebaktian Kamis Putih 17 April 2025
Views: 0
Kebaktian Kamis Putih - 17 April 2025
Malam penuh makna, perjamuan terakhir, dan teladan kerendahan hati.
TEMA: “PEMIMPIN YANG MELAYANI”
BACAAN PERTAMA: Keluaran 12:1-14 (TB 2)
BACAAN INJIL: Yohanes 13:1-17,31-35 (TB 2)
