admin
Posts by :
AMPUNI KESALAHAN KAMI SEPERTI KAMI JUGA MENGAMPUNI KESALAHAN ORANG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Matius 6:12-15
Salam Sejahtera, semoga kita makin bertobat, karena kita sudah diampuni kesalahan kita oleh Tuhan Yesus, dan kita juga mengampuni kesalahan orang yang bersalah pada kita (Matius 6:12, 14).
Dalam Minggu Pra Paskah III, kita diajak untuk makin serius dalam pertobatan. Ini bukan hanya tentang menyesali dosa, tetapi juga berusaha hidup lebih dekat dengan Tuhan melalui doa, puasa, dan perbuatan kasih. Kita diajak untuk menyadari betapa besar kasih Allah yang telah mengutus Yesus Kristus ke dunia. Kasih ini mengajarkan bahwa keselamatan bukan karena usaha manusia, tetapi karena anugerah-Nya. Masa Pra Paskah III ini, mengingatkan kita bahwa Tuhan siap mengampuni dan memulihkan siapa saja yang bertobat. Allah membuka tangan-Nya bagi setiap orang yang kembali kepada-Nya. Minggu Pra-Paskah III membantu kita memahami bahwa sebelum kebangkitan, ada penderitaan dan salib yang harus ditanggung Yesus. Ini mengajarkan kita tentang arti pengorbanan dan kesabaran dalam iman. Kita makin mencari Tuhan berseru pada-Nya, kita meninggalkan jalan dan rancangan yang jahat. Tuhan mengasihi kita dan memberi pengampunan dengan limpah (Yesaya 55:6-7).
Dalam Matius 6:12, kita juga diajarkan Yesus agar meminta pengampunan dari Allah Bapa dan kita juga mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Dalam ayat ini, Yesus mengajarkan bahwa pengampunan dari Allah dan pengampunan terhadap sesama memiliki hubungan erat. Ayat ini mengajak kita sadar akan dosa dan membutuhkan pengampunan dari Allah. Dosa memisahkan manusia dari Allah, tetapi kasih-Nya memungkinkan kita untuk menerima pengampunan melalui pertobatan dan iman kepada Kristus.
Yesus menghubungkan pengampunan dari Allah dengan pengampunan yang diberikan kepada sesama: “seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Ini bukan berarti pengampunan Allah tergantung pada usaha manusia, tapi menunjukkan bahwa orang yang benar-benar menerima pengampunan Allah juga harus hidup dalam sikap mengampuni orang lain. Matius 6:14-15 menegaskan prinsip ini: jika kita tidak mengampuni orang lain, Bapa di surga juga tidak akan mengampuni kita. Dalam doa Bapa Kami, kita meminta Kerajaan Allah datang, dan kehendak Tuhan dilaksanakan dalam Kerajaan Allah dan di dunia. Kehendak Allah dalam Matius 6:14-15 adalah mengampuni kesalahan orang. Tuhan juga sudah memberi perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni (Matius 18:21-35). Perumpamaan itu menjelaskan bagaimana seseorang yang telah diampuni oleh Tuhan harus belajar mengampuni sesamanya. Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita yang besar, sehingga kita juga harus bersedia mengampuni kesalahan orang lain.
Mengampuni bukan sekadar emosi, tetapi pilihan. Mengampuni bukan berarti melupakan atau membiarkan kesalahan, tetapi suatu keputusan untuk tidak menyimpan dendam dan melepaskan hak untuk membalas. Dalam Lukas 17:3-4, Yesus mengajarkan bahwa mengampuni harus dilakukan terus-menerus, bahkan jika seseorang berbuat salah berkali-kali.
Namun, kita tidak bisa mengabaikan bahwa mengampuni adalah hal yang sangat berat, terutama ketika kita harus mengampuni seseorang yang telah melakukan kesalahan besar terhadap kita. Bagaimana mungkin seorang yang kehilangan anggota keluarganya karena pembunuhan, bisa mengampuni pelaku? Ini bukan perkara mudah. Namun, Yesus mengajarkan bahwa pengampunan adalah perintah, bukan pilihan.
Ada banyak kasus di mana seseorang harus menghadapi realitas mengampuni kesalahan yang luar biasa besar. Misalnya, seorang keluarga yang kehilangan orang yang dikasihi akibat pembunuhan. Apakah mungkin bagi mereka untuk mengampuni pelakunya?
Mengampuni tidak berarti membenarkan kejahatan. Tuhan adalah Tuhan yang adil, dan kejahatan tetap memiliki konsekuensinya. Mengampuni bukan berarti membiarkan kejahatan berlalu begitu saja, tetapi menyerahkan pembalasan kepada Tuhan (Roma 12:19).
Pengampunan tidak selalu berarti rekonsiliasi. Dalam kasus kejahatan berat, keluarga korban mungkin bisa mengampuni secara rohani, tetapi tidak berarti mereka harus menjalin hubungan dekat dengan pelaku.
Pengampunan membawa kebebasan bagi korban. Jika seseorang terus memendam kebencian, hatinya akan terikat oleh kepahitan. Pengampunan bukan hanya untuk pelaku, tetapi juga untuk membebaskan korban dari beban batin.
Kita melihat kisah nyata tentang pengampunan. Corrie ten Boom, seorang Wanita Kristen yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah menghadapi mantan penjaga yang telah menyiksa dirinya dan keluarganya. Ia mengalami pergumulan batin yang luar biasa, tetapi akhirnya memilih mengampuni karena ia sadar bahwa Tuhan telah lebih dahulu mengampuni dirinya.
Kasus orang yang tidak mau mengampuni. Misalnya, Ibu A yang sangat membenci suaminya karena perselingkuhan dan ketidakpeduliannya saat ia sakit. Bahkan sebelum meninggal, ia berpesan agar tidak dikuburkan berdekatan dengan suaminya sebagai bentuk kebencian. Ini menunjukkan bahwa Ibu A masih menyimpan dendam hingga akhir hidupnya. Bagaimana ini dikaitkan dengan Matius 6:14-15? Ayat ini menegaskan bahwa jika kita tidak mengampuni orang lain, maka Tuhan pun tidak akan mengampuni kita. Dendam yang disimpan Ibu A mungkin terasa wajar dari sudut pandang manusia, tetapi dari sudut pandang Yesus, hal itu justru menghalangi hubungan dengan Allah. Pengampunan bukan hanya tentang memberi kebebasan kepada orang lain, tetapi juga membebaskan diri kita sendiri dari beban kepahitan. Bapak B divonis oleh dokter bahwa akan berakhir hidupnya sekitar 3 bulan lagi. Bapak B mengatakan pada keluarga, dia mengampuni kesalahan orang lain yang pernah berbuat salah pada dirinya. Bapak ini mau melakukan kehendak Tuhan seperti dinyatakan dalam Matius 6:14-15 menjelang akhir hidupnya.
Bagaimana kita menerapkan Firman Tuhan ini? Kita selalu sadar akan kebutuhan akan pengampunan Tuhan. Kita harus datang kepada Tuhan dengan hati yang rendah dan bertobat. Menerapkan sikap pengampunan kepada sesama: sebagaimana kita telah diampuni, kita juga harus mengampuni orang lain. Membuka jalan bagi pemulihan hubungan: Pengampunan adalah kunci perdamaian dalam hubungan dengan Tuhan kemudian dengan sesama.
Matius 6:12 mengajarkan bahwa pengampunan adalah bagian penting dalam kehidupan orang percaya. Kita memohon pengampunan dari Tuhan, tetapi kita juga dipanggil untuk mengampuni sesama. Ini bukan hanya perintah moral, tetapi bukti dari kasih karunia yang telah kita terima dari Tuhan sendiri.
Ketika kita sungguh-sungguh bertobat, kita menerima pengampunan yang sejati dari Yesus. Pengampunan itu harus kita teruskan dengan mengampuni sesama. Jika kita menolak mengampuni, kita menutup pintu bagi pengampunan Tuhan dalam hidup kita. Mari kita hidup dalam kasih dan pengampunan, seperti Kristus telah mengampuni kita.
Kita memohon diampuni Tuhan dan hati kita berdamai dengan Tuhan dan sesama seperti ungkapan NKB 45 ayat 2 Ampuni dosa-dosaku yang ‘ku perbuat padaMu, agar berdamai hatiku denganMu dan sesamaku. amin
Berdoa:
Ya Tuhan ampuni kesalahan kami dan mampukan kami untuk mengampuni kesalahan orang yang bersalah pada kami. Dalam Nama Yesus kami berdoa.amin
PANGGILAN PRAPASKAH: “BERTOBAT”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Yoel 2:12-13,
“Tetapi sekarang juga,” demikianlah firman Tuhan, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis, dan meratap.” Koyakakanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, Ia menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kita sudah memasuki Minggu Prapaskah ke-3, apakah cukup menjadi perhatian bagi kita, dan bentuk apa perhatian kita menjalani Prapaskah ini. Ada yang menjalani puasa dan berpantang, dengan itu dia menyisihkan sejumlah dana untuk disumbangkan kepada orang yang dipandang layak menerimanya. Firman Tuhan kali ini mendukung panggilan “bertobat,” dan kita dengarkan dari nas renungan kita.
Untuk bertobat, kita terlebih dulu membuka hati di hadapan Allah dengan mengakui dosa-dosa kita. Pengakuan ini adalah urusan pribadi, walau oleh Yakobus dinasihatkan agar kita saling mengaku dosa dan saling mendoakan (Yak 5:16). Dengan pengakuan dosa, berarti kita kembali kepada Allah, itulah yang disebut dalam nas kita, “Koyakkanlah hatimu”. Kembali kepada Allah dengan segenap hati, itulah yang memberi isi sesungguhnya dalam doa, pujian, ibadah kita, bukan hanya di mulut, atau untuk memenuhi ritual, seremoni saja. Panggilan bertobat, ialah kembali kepada Allah, itulah yang disebut dengan kata “metanoia,” kembali menyerahkan hati kepada Allah bukan lagi mengikuti nafsu kedagingan. Kembali kepada Allah dengan membawa semua karya dan karier kita, jabatan, kekayaan, kesuksesan. Kita akui bahwa semua itu terjadi karena kemurahan dan seijin Tuhan. Kalau di dalamnya ada kecurangan, kejahatan kita mohon agar Tuhan meluruskannya dengan tekad pertobatan kita. Demikian sebaliknya, derita, kerugian, kita mohon perbaikan, dan jalan keluar sesuai dengan firman Tuhan.
Satu sifat Allah yang menjadi jalan pertobatan kita ialah: Allah pengasih, penyayang, panjang sabar, berlimpah kasih setia. Sifat Allah yang sedemikian bukan kesempatan untuk kita bermain-main dengan dosa, kita tidak membuang waktu, tenaga, dan harta, dan kalau di situ ada kecurangan, kejahatan, ayo, bertobat kembali kepada Allah. Harapan kita hanyalah belas kasih Allah, yang mau menerima kita kembali yang mau bertobat. Jalan penerimaan manusia yang bertobat itu sudah disebutkan oleh Yesus: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Jalan itu dibangun oleh Yesus Kristus dengan sengsara dan kematian di kayu salib. Kita hayati jalan sengsara dan kematian Kristus dalam Minggu Prapaskah ini.
Aplikasi:
- Apakah Anda telah mengaku dosa dan bertekad bertobat?
- Adakah harta, kedudukan, jabatan yang diperoleh dengan kejahatan, seperti sogok, bagaimana sekarang sikap Anda?
- Pernahkah Anda mengaku dosa disaksikan di hadapan pendeta Anda?
Mari berdoa:
Bapa surgawi, Bapa pengasih, panjang sabar, kami datang dalam pengakuan dosa melalui jalan yaitu Yesus Kristus. Kristus telah menanggung sengsara dan dosa kami di dalam kematian-Nya di kayu salib. Bapa, terimalah kami, dalam Kristus Tuhan, Amin. [AS240325]
”TEMPE GEMBUS”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Efesus 2:10 (TB 2)
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, salah satu jenis tempe yang dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah tempe gembus. Tempe ini terbuat dari ampas tahu. Di Solo Jawa Tengah, tempe gembus ini merupakan bahan utama untuk membuat sate kere. Proses pembuatan tempe gembus secara tradisional melibatkan beberapa tahapan penting. Pertama, ampas tahu yang menjadi bahan utama harus ditiriskan untuk menghilangkan kadar airnya. Setelah proses penirisan selesai, ampas tahu dikukus hingga matang. Setelah didinginkan, ampas tahu ini dicampur dengan ragi tempe. Campuran ini kemudian dibungkus dengan daun pisang atau diletakkan di atas tampah dan ditutup dengan daun pisang. Bahan tersebut disimpan di tempat yang agak gelap selama sekitar dua hari hingga proses fermentasi selesai. Salah satu hasil penting dari fermentasi tempe adalah produksi vitamin B12 dan ragi yang turut memperkaya nilai gizi tempe. Tempe gembus dapat diolah menjadi berbagai hidangan. Tempe gembus mengandung sekitar 4 % protein dan 30,4 % serat kasar. Dengan demikian, tempe gembus menjadi sumber serat yang baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan pencernaan. Tempe gembus menunjukkan kepada kita semua bahwa meski telah menjadi ampas, namun tetap berguna dan bergizi.
Saudaraku, tempe gembus mengingatkan kita tentang panggilan untuk tetap bermanfaat dan menjadi berkat. Besarnya berkat dan maanfaat tersebut bergantung dari identitas dan perilaku kita. Sedangkan identitas dan perilaku itu sangat ditentukan oleh siapa yang memiliki kita. Paulus mengingatkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”. Frasa ‘karena kita ini buatan Allah’ mesti dipahami sebagai ‘karena kita ini adalah hasil karya tangan dan milik Allah yang istimewa’. Paulus hendak mengingatkan bahwa kita ini sudah menjadi milik Allah sekarang, dan status ini akan lebih terlihat sempurna pada saat Kristus datang kembali. Status ini seharusnya mempengaruhi cara kita menghargai diri sendiri dan membentuk perilaku kita. Frasa ‘diciptakan dalam Kristus Yesus’ ini menjelaskan tentang bagaimana cara atau sarana Allah membuat kita menjadi karya dan milik Allah yang istimewa tersebut, yaitu: di dalam Kristus Yesus. Keberadaan kita yang istimewa ini hanya bisa terjadi melalui dan dalam persekutuan kita di dalam Yesus Kristus. Dengan kata lain, dalam persekutuan kita dengan DIA-lah, kita menjadi ciptaan yang baru. Frasa ‘untuk melakukan pekerjaan baik’ mengingatkan bahwa perbuatan baik kita itu mengikuti keselamatan di dalam Kristus. Hal itu jelas menunjukkan bahwa perbuatan baik bukan mendahului keselamatan. Dengan kata lain, kita berbuat baik karena sudah diselamatkan, bukan supaya diselamatkan. Dalam perspektif Paulus, perbuatan baik adalah hal yang mustahil dilakukan sebelum keselamatan di dalam Kristus. Frasa ‘yang dipersiapkan Allah sebelumnya’ hendak menyatakan bahwa perbuatan baik kita itu memang mengikuti keselamatan, namun ternyata Allah sudah memikirkan dan menyiapkan hal itu jauh sebelumnya. Nasihat Paulus ini kembali menegaskan bahwa jika konsep dan motivasi perbuatan baik kita lebih benar, maka hal itu seyogyanya berimbas pada perilaku kita sehari-hari.
Saudaraku, kita dihadirkan ke dalam dunia dengan maksud dan tujuan untuk menjadi mitra Allah dengan melakukan “pekerjaan-pekerjaan baik” yang sudah persiapkan oleh Allah sebelumnya. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita mensyukuri keselamatan di dalam Kristus Yesus dan menggenapi rencana kekal Allah sebagai pemilik dari kehidupan kita. Tetap bermanfaat dan menjadi berkat seperti tempe gembus yang tetap bernilai gizi dan menjadi sumber serat kasar yang baik bagi tubuh. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, jadikanlah diri kami ini sebagai alat-Mu untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti yang telah Engkau persiapkan sebelumnya. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
Kebaktian Minggu 23 Maret 2025
Views: 0
Kebaktian Minggu Prapaskah 3 - 23 Maret 2025
TEMA: “PERTOBATAN SEJATI”
BACAAN PERTAMA: Yesaya 55: 1-9 (TB 2)
ANTAR BACAAN: Mazmur 63: 2-9 (TB 2)
BACAAN KEDUA: 1 Korintus 10:1-13 (TB 2)
BACAAN INJIL: Lukas 13:1-19 (TB 2)
TAK GENDONG KEMANA-MANA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Hakim-hakim 5:2b (TB2)
”Karena bangsa menawarkan dirinya dengan sukarela, pujilah TUHAN!”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Sebuah lagu karya Alm. Mbah Surip yang pernah viral pada masanya ini meskipun liriknya sederhana tetapi menunjukkan sebuah kesetiaan dan pengorbanan seseorang yang ingin selalu menemani kekasihnya kemana-mana dengan cara digendong. Kalau bukan karena cinta mati, tidak mungkin ia mau menggendong kekasihnya kemana-mana. Ia rela melakukan hal tersebut supaya sang kekasih tidak tersesat.
Demikian halnya dengan Tuhan Allah yang memilih bangsa Israel sebagai umat-Nya yang begitu Ia cintai. Allah sangat setia kepada bangsa Israel. Kesetiaan itu selalu terbukti, salah satunya dengan kemenangan Israel di bawah kepemimpinan Debora dalam peperangannya melawan Sisera (Raja Kanaan), musuh yang menindas mereka. Debora dan Barak menaikkan nyanyian pujian kepada Allah atas kesetiaan-Nya yang nyata baginya dan Israel. Di bawah kepemimpinan siapapun, baik Raja, Nabi maupun Hakim, Allah selalu ‘menggendong’ umat-Nya Israel kemana pun mereka pergi. Karena Allah se-sayang dan se-cinta itu dengan mereka. Allah tidak ingin bangsa Israel tersesat. Melalui Debora, Allah berupaya menjamin keamanan dan kenyamanan umat-Nya itu. Ketika bangsa Israel secara sukarela dan berani memberi dirinya untuk maju berperang, Allah merespons kerelaan dan keberanian itu dengan ‘menggendong’ Debora dan merangkul bangsa Israel meraih kemenangan.
Kita semua adalah umat pilihan yang dikasihi dan dicintai oleh Allah secara mati-matian. Allah ingin selalu menggendong kita kemana-mana melewati berbagai macam peperangan dalam hidup kita pribadi lepas pribadi.
Mari selalu siap dan berani berperang melewati berbagai macam tantangan. Allah dapat memakai siapa saja, termasuk diri kita sendiri untuk merangkul sesama dan merawat kehidupan. Mari kita hadapi masalah atau pergumulan kita bersama Allah, karena hanya kesetiaan Allah saja yang memampukan kita untuk memenangkan segala bentuk persoalan. Selamat menghayati minggu-minggu pra paskah.Tuhan memberkati kita.
“KASIH TUHAN TETAP ABADI!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 2
Umat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Kasih Tuhan tetap Abadi” dengan dasar dari Injil Matius 10:29-31 Tuhan Yesus bersabda: “Bukankah dua ekor burung pipit dijual seharga satu keping uang terkecil? Namun, seekorpun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semua. Karena itu, janganlah takut! Kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara tahukah Saudara, ayat ini mengingatkan kita untuk tetap hidup dalam iman, percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan peduli terhadap setiap aspek kehidupan kita. Kita tidak perlu takut, karena kita lebih berharga daripada banyak burung pipit, dan Tuhan selalu menjaga kita dengan penuh kasih sayang.
Tuhan yang begitu besar dan mulia, Dia tidak hanya peduli pada burung pipit yang kecil, tetapi juga memperhatikan kita, manusia yang lebih berharga di mata-Nya. Kasih-Nya meliputi setiap aspek kehidupan kita, bahkan yang terkecil sekalipun, seperti rambutpun terhitung semua oleh Tuhan. Tuhan menjaga kita dengan begitu sempurna dan penuh perhatian.
Di tengah segala tantangan hidup yang kita hadapi: masalah pendidikan, ekonomi keluarga, masalah menderita sakit, dukacita karena kepergian orang yang dicintai, dampak musibah banjir, dan sebagainya, kita diingatkan supaya tetap percaya dan mengandalkan Tuhan. Mengapa Saudara? Karena Tuhan tetap mengasihi kita dengan kasih yang tak terhingga. Dia selalu siap melindungi kita dan menolong kita, dan menjaga kita dengan penuh kasih. Bahkan dalam setiap detik kehidupan kita, kasih-Nya tetap hadir, memberikan kedamaian, penghiburan, dan pemeliharaan yang ajaib.
Tuhan pernah menyatakan kepada umat-Nya: “ Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal , sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3). Kini, kasih Tuhan yang tidak terbatas waktu, diwujud-nyatakan oleh Tuhan Yesus kepada Saudara dan saya. Ya, Kasih Tuhan tetap abadi!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Tim Ukulele dari Bakal Jemaat Cililitan yang bernama: Bacile, sebuah pujian yang berjudul “Kasih Tuhan Tetap Abadi” Lirik Lagu ini sungguh menguatkan dan menginspirasi kita semua: “Musim selalu berganti. Kasih Tuhan tetap abadi. Tak akan berubah, sampai selamanya.” Kasih Tuhan adalah kasih yang tidak mengenal perubahan. Apapun yang kita hadapi, kasih-Nya tidak akan pernah berkurang atau hilang. Kasih-Nya adalah kasih yang kekal, yang tetap setia menyertai kita sepanjang hidup. Maka: “Ku yakin Tuhan memberkati. Ku yakin Tuhan melindungi burung di udara, Tuhan pelihara karena kasih-Nya.”
Saudara-saudara, yakinlah bahwa: Tuhan selalu menolong Saudara, selalu menjaga Saudara, bahkan sehelai rambut Saudara tak akan terjatuh tanpa seizin Tuhan. Saudara pun dapat bersaksi: “Dia mengenyangkanku dan peliharaku, seumur hidupku.” Kasih Tuhan tidak hanya menjaga kita, tetapi juga memberikan pemeliharaan dan kepuasan dalam hidup kita. Dia memenuhi kebutuhan kita, baik jasmani maupun rohani, sepanjang hidup kita.
Saudaraku, Tuhan mengasihi Saudara dengan kasih yang abadi! Marilah kita hidup dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu ada untuk kita, memberikan perlindungan dan berkat-Nya, dan tidak ada hal yang terjadi dalam hidup kita tanpa seizin-Nya. Mengapa Saudara? Karena kasih Tuhan tetap abadi!
Bersediakah Saudara memperbarui komitmen Saudara untuk tetap berjalan dengan penuh pengharapan dan kepercayaan, karena Tuhan selalu menyertai kita, sekarang dan selamanya? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, puji syukur dan terima kasih, firman-Mu sungguh menguatkan kami bahwa Tuhan memelihara kami dengan kasih yang abadi. Kami lebih berharga dari banyak burung pipit. Di tengah segala pergumulan hidup kami, masalah pendidikan, ekonomi keluarga, masalah penderitaan sakit penyakit, ada yang berdukacita, ada yang terdampak musibah banjir, dan sebagainya, mampukanlah kami untuk selalu percaya dan mengandalkan Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
YERUSALEM, YERUSALEM!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 13: 34-35
Salam sejahtera. Semoga kita tidak meniru sikap orang-orang di Yerusalem yang keras hati, tidak mau menerima orang yang memberitakan kehendak Allah, bahkan membunuh nabi-nabi dan melempari orang yang diutus Tuhan (Lukas 13:35).
Mengapa orang Yerusalem menolak Nabi-Nabi dan Utusan Tuhan? Penolakan ini karena mereka menolak firman Tuhan. Nabi-nabi diutus untuk menyampaikan pesan pertobatan, keadilan, dan kasih setia, tetapi bangsa Israel sering menolaknya karena merasa nyaman dengan kebiasaan dan tradisi mereka yang sering bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Yerusalem sering kali disebut sebagai kota yang dikasihi Tuhan, tetapi juga dikritik keras karena kejahatannya. Yesus sendiri meratapi kejahatan Yerusalem dan penolakan mereka. Mereka lebih suka mendengar nubuat palsu yang memberi kenyamanan daripada kebenaran yang menegur dosa mereka. Mereka menyembah berhala dan hidup dalam sinkretisme, walau telah berjanji setia kepada Tuhan. Mereka melakukan ketidakadilan sosial dan penindasan terhadap orang lemah. Para hakim dan imam korup dan menerima suap. Mereka lebih mengutamakan kepentingan politik dan kekuasaan daripada menjalankan kehendak Allah. Para pemimpin agama dan bangsawan Yerusalem merasa terancam oleh nabi-nabi yang menegur dosa mereka. Misalnya, nabi Yeremia pernah dipenjara dan diancam hukuman mati karena menyampaikan nubuat kehancuran Yerusalem (Yeremia 26:8-9). Janda, anak yatim, dan orang asing yang harusnya dilindungi malah ditindas. Mereka tetap melakukan ritual keagamaan, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Para imam dan pemimpin agama menyalahgunakan Bait Suci untuk kepentingan pribadi, seperti memperdagangkan hewan kurban di halaman Bait Allah. Mereka menolak Yesus dan memilih menyalibkan-Nya. Namun, Tuhan tidak meninggalkan Yerusalem selamanya. Dia berjanji akan memulihkan Yerusalem dan menjadikannya Yerusalem baru, pusat kerajaan-Nya di masa depan (Wahyu 21:2).
Pelajaran bagi kita adalah Jangan sampai kita mengeraskan hati terhadap firman Tuhan. Jangan hidup dalam kemunafikan agama, ibadah seremonial saja tetapi kita hidup dalam iman anugerah Tuhan. Hal ini menjadi peringatan bagi kita agar kita membuka hati terhadap Firman Tuhan, meskipun itu menegur kesalahan kita. Kita tidak mengeraskan hati terhadap kebenaran, melainkan bertobat dan kembali kepada Tuhan. Kita tidak menolak anugerah Kristus, tetapi menerima keselamatan yang diberikan-Nya.
Kata-kata Yesus dalam Lukas 13:34-35 adalah ratapan penuh kasih atas Yerusalem yang keras hati. Yesus, Sang Mesias, mengungkapkan kerinduan-Nya untuk menyelamatkan kota itu, tetapi penduduknya terus-menerus menolak Allah. Mereka membunuh nabi-nabi dan menolak Yesus sebagai Juruselamat. Akibatnya, Yerusalem akan mengalami kehancuran. Namun, Yesus juga berjanji akan datang kembali di masa depan, saat Yerusalem akhirnya mengakui-Nya sebagai Mesias.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada seseorang yang menyampaikan kasihnya, lalu kasih itu ditolak. Ini adalah tragedi yang sangat pahit. Itulah yang terjadi dengan Yesus di Yerusalem. Yesus tetap datang kepada manusia, tetapi manusia menolak Dia. Menolak kasih Allah akan membangkitkan murka Allah.
Yesus menyatakan bahwa rumah Yerusalem akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dalam konteks ini, “rumah” bisa merujuk pada Bait Suci, pusat ibadah orang Yahudi. Penolakan mereka terhadap Yesus membawa konsekuensi: Allah tidak lagi berdiam di tengah-tengah mereka.
Bait Allah, yang seharusnya menjadi tempat perjumpaan manusia dengan Allah, akhirnya kehilangan kemuliaan-Nya. Ini menjadi kenyataan ketika Bait Suci dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Penghancuran ini merupakan penggenapan dari apa yang Yesus katakan: Allah menyerahkan Yerusalem kepada musuhnya karena mereka menolak anugerah keselamatan.
Yerusalem adalah kota yang seharusnya menerima Mesias dengan sukacita, tetapi justru menolaknya. Yesus mengungkapkan bahwa berkali-kali Ia rindu mengumpulkan mereka, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Ini adalah gambaran kasih yang sangat dalam. Sayangnya, mereka menutup hati mereka.
Karena penolakan ini, Yerusalem harus menanggung akibatnya. Sejarah mencatat bahwa kota ini mengalami berbagai penderitaan. Selain kehancuran Bait Allah, kota ini juga mengalami peperangan, pengusiran, dan penderitaan yang berkepanjangan. Ini adalah akibat dari menolak Tuhan yang telah berusaha menyelamatkan mereka.
Minggu Pra-Paskah Kedua mengajak kita untuk semakin dalam merefleksikan hidup, khususnya dalam hal pertobatan, pengampunan, dan pemulihan hubungan dengan Tuhan serta sesama. Kita diajak untuk merenungkan bagaimana mengikut Yesus bukan sekadar percaya tetapi juga taat dan setia, bahkan dalam penderitaan. Memahami makna salib sebagai pengorbanan yang membawa keselamatan.
Dalam Lukas 13: 35, Yesus tidak hanya berbicara tentang penghukuman. Ia juga menyampaikan sebuah janji: “Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Ini bisa memiliki dua makna: Beberapa hari setelah perkataan ini, Yesus memasuki Yerusalem dalam peristiwa Minggu Palma. Orang-orang menyambut-Nya dengan sorak-sorai, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Matius 21:9). Namun, sambutan itu hanya bersifat sementara. Yesus akan datang Kembali, hal ini menjelaskan bahwa saat Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan, semua orang akan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari kita membuka hati kita bagi-Nya, menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan hidup dalam kehendak-Nya. Kiranya kita semua berkata dengan segenap hati: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”.
Makna lirik KJ 155 ayat 3 sangat erat dengan ratapan Yesus atas Yerusalem. Yerusalem sebagai “ibu,” melambangkan kota yang seharusnya menjadi pusat iman dan kasih Allah bagi umat-Nya. Namun, kota ini justru menjadi tempat yang menolak utusan Tuhan. “Nabi-nabi kaubunuh, dan yang diutus padamu engkau lempari batu” ini menjelaskan tentang penolakan Israel terhadap para nabi yang diutus Tuhan. “Merindu Yesus, Putra Daud, mengumpulkan anakmu” Yesus, keturunan Daud, memiliki kerinduan untuk menyelamatkan umat-Nya. Dia ingin mengumpulkan mereka seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya, tetapi mereka menolak.”Engkau ternyata tidak mau, sebab terlalu angkuh”, Yerusalem menolak Yesus karena kesombongan spiritual mereka. Pemimpin agama lebih mementingkan hukum Taurat secara legalistik daripada menerima kasih dan anugerah Tuhan yang dibawa oleh Yesus. Lagu ini mengingatkan kita agar tidak mengeraskan hati seperti orang-orang Yerusalem. Kita diajak untuk menerima kasih dan keselamatan Kristus dengan rendah hati, bukan menolak Dia karena kebanggaan atau kenyamanan pribadi. Mari kita menyanyikan KJ. 155 ayat 3. Yerusalem, o bundaku, nabi-nabi kaubunuh, dan yang diutus padamu engkau lempari batu. Merindu Yesus, Putra Daud, mengumpulkan anakmu; Engkau ternyata tidak mau, sebab terlalu angkuh. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan, jauhkan sikap keras hati, tidak mau menerima firman yang menegor dosa kami, beri kerendahan hati menerima firman Tuhan, dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
AKU, DARI DEBU TANAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 2:7,
Kemudian TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah, dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, tahun liturgi gerejawi sudah menjalani Prapaskah ke-2. Prapaskah yang diawali dengan perayaan hari Rabu Abu. Semoga tidak membosankan kalau renungan hari ini mengingatkan kita firman Tuhan untuk menambah wawasan kita tentang Rabu Abu dari renungan ini. Nas kita berkata, manusia itu dari debu tanah, memberi pengertian bahwa kita semua berasal dari sumber yang sama, karena itu semua manusia memiliki struktur tubuh dan kehidupan yang sama, walau pun berbeda postur tubuh, warna kulit, mata, rambut, tetapi putih tulang dan merah darah sama. Butuh udara, air, panas dan makanan. Manusia berbeda dengan makhluk hewan atau binatang, karena karena manusia hidup dari hembusan napas kehidupan dari Allah Sang Pencipta. Sedangkan hewan, binatang yang lain tidak menerima napas yang dari Allah itu, kita diciptakan menurut gambar (citra) Allah. Dengan napas kehidupan ini, menunjukkan bahwa ada hubungan dan keterikatan kita dengan Sang Pencipta, napas itu akan kembali kepada Allah, itulah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Perjalanan hidup kita sebagai manusia bergantung pada Allah, yang tidak mungkin kita ingkari, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau.
Ternyata ada maksud dan tujuan menciptakan manusia, yang secara lengkap dan luas, agar manusia hidup sesuai dengan rencana (kehendak) Allah, yaitu memuliakan Allah dalam segala hal. Panggilan kepada manusia untuk memuliakan Allah tertanam dalam gambar (citra) Allah dalam kehidupan manusia. Tetapi panggilan memuliakan Allah telah tercela, tercidrai, dengan membelakangi Allah dalam firman-Nya dan memberi hati kepada Iblis dalam goda dan bujukannya. Namun kita tidak dibiarkan dalam kejatuhan itu, Yesus Kristus diutus untuk mencari dan mengangkat kita kembali, meraih dan mendapatkan gambar (citra) Allah melalui penebusan, pembenaran dan penyucian oleh darah Yesus Kristus.
Setiap kelahiran manusia dari debu tanah, akan berproses, dari bayi, kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, tua, lanjut usia yang akhirnya mati, yang berasal dari tanah kembali ke tanah, tetapi kehidupan oleh napas yang diberikan Allah akan kembali kepada Allah Sang Pencipta. Kehidupan selanjutnya diberikan tubuh yang bukan dari tanah, tetapi oleh kuasa Allah, kehidupan selanjutnya ini mendapat tempat, bagi yang telah menerima penebusan, pembenaran dan penyucian akan bersama dengan Yesus Kristus Juruselamat, tetapi bagi yang tidak menerima penebusan, pembenaran dan penyucian akan tetap terikat dengan kecemaran dosa. Hanya ada dua tempat, bersama Yesus Kristus dalam kerajaan Allah, atau di luar Yesus Kristus, bersama Iblis yang menderita karena dosa.
Aplikasi:
- Bagaimana Anda menyatakan hidup Anda bergantung sepenuhnya kepada Allah?
- Bagaimana Anda menghargai kehidupan dengan sesama yang diberikan Allah?
- Bagaimana Anda mengembangkan hubungan dengan Allah sumber kehidupan?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi sumber kehidupan kami, Kami diciptakan dari debu tanah, oleh dosa, kami menjadi fana, kembali kepada tanah, tetapi oleh kasih Kristus roh kehidupan kami akan kembali kepada Allah dalam keabadian oleh Yesus Kristus. Amin. [AS170325]
