admin
Posts by :
YERUSALEM, YERUSALEM!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 13: 34-35
Salam sejahtera. Semoga kita tidak meniru sikap orang-orang di Yerusalem yang keras hati, tidak mau menerima orang yang memberitakan kehendak Allah, bahkan membunuh nabi-nabi dan melempari orang yang diutus Tuhan (Lukas 13:35).
Mengapa orang Yerusalem menolak Nabi-Nabi dan Utusan Tuhan? Penolakan ini karena mereka menolak firman Tuhan. Nabi-nabi diutus untuk menyampaikan pesan pertobatan, keadilan, dan kasih setia, tetapi bangsa Israel sering menolaknya karena merasa nyaman dengan kebiasaan dan tradisi mereka yang sering bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Yerusalem sering kali disebut sebagai kota yang dikasihi Tuhan, tetapi juga dikritik keras karena kejahatannya. Yesus sendiri meratapi kejahatan Yerusalem dan penolakan mereka. Mereka lebih suka mendengar nubuat palsu yang memberi kenyamanan daripada kebenaran yang menegur dosa mereka. Mereka menyembah berhala dan hidup dalam sinkretisme, walau telah berjanji setia kepada Tuhan. Mereka melakukan ketidakadilan sosial dan penindasan terhadap orang lemah. Para hakim dan imam korup dan menerima suap. Mereka lebih mengutamakan kepentingan politik dan kekuasaan daripada menjalankan kehendak Allah. Para pemimpin agama dan bangsawan Yerusalem merasa terancam oleh nabi-nabi yang menegur dosa mereka. Misalnya, nabi Yeremia pernah dipenjara dan diancam hukuman mati karena menyampaikan nubuat kehancuran Yerusalem (Yeremia 26:8-9). Janda, anak yatim, dan orang asing yang harusnya dilindungi malah ditindas. Mereka tetap melakukan ritual keagamaan, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan. Para imam dan pemimpin agama menyalahgunakan Bait Suci untuk kepentingan pribadi, seperti memperdagangkan hewan kurban di halaman Bait Allah. Mereka menolak Yesus dan memilih menyalibkan-Nya. Namun, Tuhan tidak meninggalkan Yerusalem selamanya. Dia berjanji akan memulihkan Yerusalem dan menjadikannya Yerusalem baru, pusat kerajaan-Nya di masa depan (Wahyu 21:2).
Pelajaran bagi kita adalah Jangan sampai kita mengeraskan hati terhadap firman Tuhan. Jangan hidup dalam kemunafikan agama, ibadah seremonial saja tetapi kita hidup dalam iman anugerah Tuhan. Hal ini menjadi peringatan bagi kita agar kita membuka hati terhadap Firman Tuhan, meskipun itu menegur kesalahan kita. Kita tidak mengeraskan hati terhadap kebenaran, melainkan bertobat dan kembali kepada Tuhan. Kita tidak menolak anugerah Kristus, tetapi menerima keselamatan yang diberikan-Nya.
Kata-kata Yesus dalam Lukas 13:34-35 adalah ratapan penuh kasih atas Yerusalem yang keras hati. Yesus, Sang Mesias, mengungkapkan kerinduan-Nya untuk menyelamatkan kota itu, tetapi penduduknya terus-menerus menolak Allah. Mereka membunuh nabi-nabi dan menolak Yesus sebagai Juruselamat. Akibatnya, Yerusalem akan mengalami kehancuran. Namun, Yesus juga berjanji akan datang kembali di masa depan, saat Yerusalem akhirnya mengakui-Nya sebagai Mesias.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada seseorang yang menyampaikan kasihnya, lalu kasih itu ditolak. Ini adalah tragedi yang sangat pahit. Itulah yang terjadi dengan Yesus di Yerusalem. Yesus tetap datang kepada manusia, tetapi manusia menolak Dia. Menolak kasih Allah akan membangkitkan murka Allah.
Yesus menyatakan bahwa rumah Yerusalem akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Dalam konteks ini, “rumah” bisa merujuk pada Bait Suci, pusat ibadah orang Yahudi. Penolakan mereka terhadap Yesus membawa konsekuensi: Allah tidak lagi berdiam di tengah-tengah mereka.
Bait Allah, yang seharusnya menjadi tempat perjumpaan manusia dengan Allah, akhirnya kehilangan kemuliaan-Nya. Ini menjadi kenyataan ketika Bait Suci dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Penghancuran ini merupakan penggenapan dari apa yang Yesus katakan: Allah menyerahkan Yerusalem kepada musuhnya karena mereka menolak anugerah keselamatan.
Yerusalem adalah kota yang seharusnya menerima Mesias dengan sukacita, tetapi justru menolaknya. Yesus mengungkapkan bahwa berkali-kali Ia rindu mengumpulkan mereka, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Ini adalah gambaran kasih yang sangat dalam. Sayangnya, mereka menutup hati mereka.
Karena penolakan ini, Yerusalem harus menanggung akibatnya. Sejarah mencatat bahwa kota ini mengalami berbagai penderitaan. Selain kehancuran Bait Allah, kota ini juga mengalami peperangan, pengusiran, dan penderitaan yang berkepanjangan. Ini adalah akibat dari menolak Tuhan yang telah berusaha menyelamatkan mereka.
Minggu Pra-Paskah Kedua mengajak kita untuk semakin dalam merefleksikan hidup, khususnya dalam hal pertobatan, pengampunan, dan pemulihan hubungan dengan Tuhan serta sesama. Kita diajak untuk merenungkan bagaimana mengikut Yesus bukan sekadar percaya tetapi juga taat dan setia, bahkan dalam penderitaan. Memahami makna salib sebagai pengorbanan yang membawa keselamatan.
Dalam Lukas 13: 35, Yesus tidak hanya berbicara tentang penghukuman. Ia juga menyampaikan sebuah janji: “Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” Ini bisa memiliki dua makna: Beberapa hari setelah perkataan ini, Yesus memasuki Yerusalem dalam peristiwa Minggu Palma. Orang-orang menyambut-Nya dengan sorak-sorai, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!” (Matius 21:9). Namun, sambutan itu hanya bersifat sementara. Yesus akan datang Kembali, hal ini menjelaskan bahwa saat Yesus akan datang kembali dalam kemuliaan, semua orang akan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Mari kita membuka hati kita bagi-Nya, menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan hidup dalam kehendak-Nya. Kiranya kita semua berkata dengan segenap hati: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!”.
Makna lirik KJ 155 ayat 3 sangat erat dengan ratapan Yesus atas Yerusalem. Yerusalem sebagai “ibu,” melambangkan kota yang seharusnya menjadi pusat iman dan kasih Allah bagi umat-Nya. Namun, kota ini justru menjadi tempat yang menolak utusan Tuhan. “Nabi-nabi kaubunuh, dan yang diutus padamu engkau lempari batu” ini menjelaskan tentang penolakan Israel terhadap para nabi yang diutus Tuhan. “Merindu Yesus, Putra Daud, mengumpulkan anakmu” Yesus, keturunan Daud, memiliki kerinduan untuk menyelamatkan umat-Nya. Dia ingin mengumpulkan mereka seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya, tetapi mereka menolak.”Engkau ternyata tidak mau, sebab terlalu angkuh”, Yerusalem menolak Yesus karena kesombongan spiritual mereka. Pemimpin agama lebih mementingkan hukum Taurat secara legalistik daripada menerima kasih dan anugerah Tuhan yang dibawa oleh Yesus. Lagu ini mengingatkan kita agar tidak mengeraskan hati seperti orang-orang Yerusalem. Kita diajak untuk menerima kasih dan keselamatan Kristus dengan rendah hati, bukan menolak Dia karena kebanggaan atau kenyamanan pribadi. Mari kita menyanyikan KJ. 155 ayat 3. Yerusalem, o bundaku, nabi-nabi kaubunuh, dan yang diutus padamu engkau lempari batu. Merindu Yesus, Putra Daud, mengumpulkan anakmu; Engkau ternyata tidak mau, sebab terlalu angkuh. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan, jauhkan sikap keras hati, tidak mau menerima firman yang menegor dosa kami, beri kerendahan hati menerima firman Tuhan, dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
AKU, DARI DEBU TANAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 2:7,
Kemudian TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah, dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, tahun liturgi gerejawi sudah menjalani Prapaskah ke-2. Prapaskah yang diawali dengan perayaan hari Rabu Abu. Semoga tidak membosankan kalau renungan hari ini mengingatkan kita firman Tuhan untuk menambah wawasan kita tentang Rabu Abu dari renungan ini. Nas kita berkata, manusia itu dari debu tanah, memberi pengertian bahwa kita semua berasal dari sumber yang sama, karena itu semua manusia memiliki struktur tubuh dan kehidupan yang sama, walau pun berbeda postur tubuh, warna kulit, mata, rambut, tetapi putih tulang dan merah darah sama. Butuh udara, air, panas dan makanan. Manusia berbeda dengan makhluk hewan atau binatang, karena karena manusia hidup dari hembusan napas kehidupan dari Allah Sang Pencipta. Sedangkan hewan, binatang yang lain tidak menerima napas yang dari Allah itu, kita diciptakan menurut gambar (citra) Allah. Dengan napas kehidupan ini, menunjukkan bahwa ada hubungan dan keterikatan kita dengan Sang Pencipta, napas itu akan kembali kepada Allah, itulah hubungan kita dengan Sang Pencipta. Perjalanan hidup kita sebagai manusia bergantung pada Allah, yang tidak mungkin kita ingkari, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau.
Ternyata ada maksud dan tujuan menciptakan manusia, yang secara lengkap dan luas, agar manusia hidup sesuai dengan rencana (kehendak) Allah, yaitu memuliakan Allah dalam segala hal. Panggilan kepada manusia untuk memuliakan Allah tertanam dalam gambar (citra) Allah dalam kehidupan manusia. Tetapi panggilan memuliakan Allah telah tercela, tercidrai, dengan membelakangi Allah dalam firman-Nya dan memberi hati kepada Iblis dalam goda dan bujukannya. Namun kita tidak dibiarkan dalam kejatuhan itu, Yesus Kristus diutus untuk mencari dan mengangkat kita kembali, meraih dan mendapatkan gambar (citra) Allah melalui penebusan, pembenaran dan penyucian oleh darah Yesus Kristus.
Setiap kelahiran manusia dari debu tanah, akan berproses, dari bayi, kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, tua, lanjut usia yang akhirnya mati, yang berasal dari tanah kembali ke tanah, tetapi kehidupan oleh napas yang diberikan Allah akan kembali kepada Allah Sang Pencipta. Kehidupan selanjutnya diberikan tubuh yang bukan dari tanah, tetapi oleh kuasa Allah, kehidupan selanjutnya ini mendapat tempat, bagi yang telah menerima penebusan, pembenaran dan penyucian akan bersama dengan Yesus Kristus Juruselamat, tetapi bagi yang tidak menerima penebusan, pembenaran dan penyucian akan tetap terikat dengan kecemaran dosa. Hanya ada dua tempat, bersama Yesus Kristus dalam kerajaan Allah, atau di luar Yesus Kristus, bersama Iblis yang menderita karena dosa.
Aplikasi:
- Bagaimana Anda menyatakan hidup Anda bergantung sepenuhnya kepada Allah?
- Bagaimana Anda menghargai kehidupan dengan sesama yang diberikan Allah?
- Bagaimana Anda mengembangkan hubungan dengan Allah sumber kehidupan?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi sumber kehidupan kami, Kami diciptakan dari debu tanah, oleh dosa, kami menjadi fana, kembali kepada tanah, tetapi oleh kasih Kristus roh kehidupan kami akan kembali kepada Allah dalam keabadian oleh Yesus Kristus. Amin. [AS170325]
Kebaktian Minggu 16 Maret 2025
Views: 0
Kebaktian Minggu Prapaskah 2 - 16 Maret 2025
TEMA: “BUKAN MENGHINDARI, MELAINKAN MENGHADAPI”
BACAAN PERTAMA: Kejadian 15:1-12, 17-18 (TB 2)
ANTAR BACAAN: Mazmur 27 (TB 2)
BACAAN KEDUA: Filipi 3:17 – 4:1 (TB 2)
BACAAN INJIL: Lukas 13:31-35 (TB 2)
CIMPLUNG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 2
Bacaan: Yehezkiel 36:26-27 (TB 2)
“Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan roh yang baru dalam batinmu. Aku akan menyingkirkan dari tubuhmu hati yang membatu dan memberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kutaruh dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku serta melakukannya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, pernahkah Anda mendengar ada jenis penganan yang bernama cimplung? Ya, cimplung adalah makanan khas Banyumas, Jawa Tengah yang pada umumnya berbahan dasar umbi-umbian dan kemudian diolah dengan cara direbus dalam air nira (lêgén) yang mendidih. Jenis umbi-umbian yang digunakan biasanya adalah singkong, ubi jalar / munthul, talas dan jenis umbi-umbian lain. Selain singkong, bahan dasar cimplung juga bisa menggunakan pisang atau kelapa muda. Karena direbus dengan air nira yang berwarna cokelat keemasan, tekstur dan rasa pada cimplung ini seperti gula karamel dan tentunya memiliki rasa yang manis. Makanan khas Banyumas ini memang belum terlalu tereksplorasi karena pada dasarnya cimplung hanyalah makanan pelengkap saja sembari menunggu olahan air nira kelapa menjadi gula merah, sehingga biasanya cimplung ini hanya dijumpai di tempat-tempat pengolahan gula merah. Meski demikian, cimplung ini tetap memiliki cita rasa yang tinggi dan sangat cocok untuk dijadikan sarapan di pagi hari atau sebagai teman minum kopi. Sementara itu dilansir dari berbagai sumber, olahan singkong ini sangat cocok disantap saat udara dingin, seperti saat hujan turun. Nama cimplung sendiri berasal dari Bahasa Jawa, yaitu ‘cemplung’ yang artinya masuk ke dalam air. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pengolahan makanan ini adalah dengan dimasukan (cemplung) ke dalam air nira yang memiliki aroma dan rasa manis alami dari gula jawa. Air nira yang mendidih itu telah mengubah tekstur singkong atau ubi-ubian yang lain dari tekstur yang keras dan rasa yang hambar menjadi bertekstur lembut dan memiliki rasa nikmat serta aroma yang gurih wangi.
Saudaraku, kisah tentang cimplung ini mengingatkan kita tentang bagaimana Tuhan memproses dan membentuk kita sebagai anak-anak-Nya. Dalam berbagai persoalan kehidupan, seringkali kita lebih sering bersungut-sungut dari pada mengucap syukur kepada Tuhan. Padahal, berbagai persoalan itu seringkali terjadi sebagai dampak dari kesalahan yang kita buat sendiri. Sikap kita itu mirip dengan sikap umat Yehuda yang telah berlaku tidak patuh dan tidak setia kepada Allah. Meskipun sudah berkali-kali diingatkan, tetapi mereka lebih mendengar perkataan dari nabi-nabi palsu. Akibatnya, mereka kalah perang dan dibuang ke Babel. Namun, Tuhan tidak tinggal diam. Ia menjanjikan adanya pemulihan bagi umat-Nya. Melalui Yehezkiel, Tuhan bersabda: “Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan roh yang baru dalam batinmu. Aku akan menyingkirkan dari tubuhmu hati yang membatu dan memberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kutaruh dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku serta melakukannya”. Pertama-tama, Tuhan hendak memulihkan hati. Hati yang membatu itu akan diubah menjadi hati yang taat. Dengan memiliki hati yang taat, maka akan mendorong manusia untuk melakukan perintah Allah. Setelah itu barulah Allah akan memulihkan ekonomi, social, politik, dan budaya dan segala aspek kehidupan jasmani umat-Nya. Yehezkiel secara khusus menunjukkan kepada kita bahwa kehancuran umat Allah disebabkan oleh hati yang membatu, karena mereka meninggalkan Allah. Dan pembuangan menjadi sarana untuk membentuk Yehuda sebagai umat yang baru.
Saudaraku, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak mengeraskan hati sebab hati yang keras membawa kehancuran hidup. Seperti halnya singkong telah menjadi cimplung yang lembut dan nikmat setelah diproses dalam air nira yang mendidih. Demikian hendaknya kita juga belajar untuk membuka hati terhadap kehendak Allah melalui setiap hal di dalam kehidupan kita. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, lembutkanlah hati kami yang seringkali masih berkeras dalam mengikuti-Mu. Bentuklah kami seturut kehendak-Mu, sebab kami ini adalah tanah liat dan Engkau adalah penjunan kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
JANGAN MENJADI KACANG YANG LUPA KULIT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 9
Bacaan: Keluaran 32: 9 (TB2)
”Lalu TUHAN berfirman kepadaku Musa, “Aku telah melihat bangsa ini. Sungguh, mereka bangsa yang tegar tengkuk”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Kita pasti pernah mendengar peribahasa “kacang lupa kulitnya”, peribahasa ini berarti seseorang yang lupa akan asal-usulnya. Peribahasa ini biasa disematkan kepada seseorang yang dahulunya kekurangan, kemudian menjadi seorang yang kaya, menjadi seorang yang sombong dan tamak. Atau bisa juga disematkan kepada orang yang lupa berterima kasih, jika pada posisinya saat ini, ia pernah mendapatkan bantuan dari orang lain. Dalam kehidupan kita sehari-hari apakah pernah berjumpa dengan orang-orang seperti ini ? Atau mungkin kita sendiri yang mengalami, menjadi seperti kacang yang lupa kulitnya.
Bacaan kita saat ini menggambarkan situasi yang sama, saat itu bangsa Israel telah dibebaskan oleh Allah keluar dari perbudakan Mesir, namun mereka melupakan Allah. Kondisi ini terjadi ketika Musa sedang berada di atas gunung untuk menerima perintah dari Allah. Saat Musa berada di atas gunung itu, Allah berfirman kepada Musa bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk (Ay. 13). Bangsa Israel sudah diingatkan untuk tidak menyembah ilah lain, tetapi mereka membuat patung anak lembu emas. Melihat situasi ini, Allah ingin memusnahkan mereka dari muka bumi. Mereka lupa bahwa tanah perjanjian yang akan diberikan kepada mereka adalah anugerah Allah bukan karena kebaikan mereka (Ay. 6).
Melalui kisah bangsa Israel selama perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir, kita bisa melihat bahwa Allah tidak senang kepada bangsa yang tegar tengkuk, yang tidak mau berubah. Jika bangsa Israel bisa menikmati tanah perjanjian Kanaan, itu merupakan kasih Allah kepada mereka. Tetapi mereka justru membalas dengan melupakan Allah yang telah menyertai dan memberkati mereka. Hal ini menyebabkan Tuhan Allah murka kepada mereka (Ay. 14).
Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa kita bisa saja seperti “kacang yang lupa kulitnya”, ketika kita melupakan Allah yang telah memberkati kita setiap saat. Oleh karena itu, janganlah kita menjadi pribadi yang tegar tengkuk. Mari kita menjadi pribadi yang mau berubah, pribadi yang senantiasa mengarahkan diri kita kepada kehendak Allah. Kita berubah karena Allah telah mengasihi kita, bukan karena kita benar, tetapi semua karena kasih-Nya semata. Selamat menghayati minggu-minggu pra paskah. Tuhan memberkati.
IBLIS MUSUH KITA, YESUS JURUSELAMAT KITA!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 10
Bapak ibu, Saudara saudari, para Pemuda dan remaja serta anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Iblis musuh kita, Yesus Juruselamat kita” dengan dasar dari 1 Petrus 5:8 dan Yohanes 10:10 “Waspadalah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan ia mencari orang yang dapat ditelannya .” dan Tuhan Yesus bersabda “Pencuri datang hanya untuk mencuri , membunuh, dan membinasakan. Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Tahukah Saudara, ayat-ayat ini menyatakan tentang dua hal yang penting dalam hidup kita sebagai orang percaya? Pertama, Iblis adalah musuh kita yang harus kita lawan, dan kedua, Yesus adalah Juruselamat kita yang harus kita ikuti. Kita harus sadar bahwa kita memiliki musuh yang tidak tampak, yaitu Iblis. Iblis itu sangat licik dan dia selalu berusaha mencari cara untuk menggoda kita agar kita berbuat dosa dan menjauh dari Tuhan. Iblis datang untuk merusak hidup kita, membuat kita merasa jauh dari Tuhan, dan menipu kita dengan hal-hal yang tidak benar. Iblis itu seperti pencuri, Tuhan Yesus berkata: “Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan.”
Namun Saudara-saudara, kita tidak perlu takut! Karena Tuhan Yesus berkata, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah.” Artinya, Tuhan Yesus datang untuk memberikan hidup yang baik, penuh kebahagiaan, damai, dan berkat. Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita dari cengkeraman kuasa Iblis. Tuhan Yesus lebih berkuasa dari Iblis, dan Dia sudah mengalahkan Iblis di atas kayu salib. Yesus adalah Juruselamat kita! Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh anak-anak aktivis jemaat GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Iblis musuh kita, Yesus Juruselamat kita.” Sebuah pujian di kalangan anak Sekolah Minggu yang mempunyai makna yang besar. Pujian ini menyatakan: “Iblis itu musuh kita, dia lari seperti singa, dia kata itu ini, dia lari sana sini. Iblis itu musuh kita.” Di bait ke dua dinyatakan “Yesus Juru selamat kita Dia mati di Golgota, dengan darah-Nya yang mulia Dia tebus dosa kita. Yesus Juru selamat kita!” Yesus datang untuk mengalahkan semua tipu daya Iblis. Dia sudah mengalahkan Iblis, dan kita bisa mengandalkan Yesus untuk mendapatkan kemenangan dalam hidup kita.
Saudara-saudara, sekarang kita tahu bahwa Iblis adalah musuh kita, dan Yesus adalah Juruselamat kita. Lalu, bagaimana caranya kita bisa mengalahkan Iblis dalam hidup kita? 1 Petrus 5 : 9 berkata, “Lawanlah dia dengan iman yang teguh.” Kita harus melawan Iblis, dan selalu percaya dan mengandalkan Tuhan Yesus. Ketika kita merasa tergoda atau terjatuh dalam dosa, kita harus berdoa kepada Tuhan dan minta kekuatan dari-Nya. “Tunduklah kepada Allah, lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu” (Yak. 4:7). Dengan tunduk kepada Tuhan, mengandalkan kekuatan-Nya, kita bisa mengalahkan Iblis dan hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.
Saudara-saudara, ingatlah bahwa Iblis memang musuh kita, tetapi kita memiliki Yesus sebagai Juruselamat kita yang sudah mengalahkan Iblis. Kita tidak perlu takut, karena bersama Yesus kita beroleh hidup yang damai. Jangan biarkan Iblis menipu kita dengan godaan-godaannya. Bersediakah Saudara hidup dalam kemenangan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, dan selalu mengandalkan Dia dalam setiap langkah hidup kita? Bersediakah? Bersediakah Saudara memperbarui komitmen Saudara untuk selalu tunduk kepada Allah dan melawan Iblis? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa yang di surga, puji syukur dan terima kasih, firmanMu hari ini mengingatkan kami untuk selalu waspada terhadap Iblis dengan tipu daya dan godaannya. Mampukanlah kami selalu taat dan mengandalkan Tuhan Yesus Sang Juruselamat. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
KASIHILAH TUHAN DENGAN SEGENAP HATI, JIWA, KEKUATAN DAN AKAL BUDI (II)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 2
Bacaan: Lukas 10: 25-28
Salam sejahtera, semoga kita makin mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi dan mengasihi sesama manusia (Lukas 10:27).
Minggu, 9 Maret 2025 kita telah memasuki minggu Prapaskah I, yang merupakan awal masa persiapan menuju Paskah. Pada Minggu ini kita diajak untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan melalui pertobatan, doa, dan puasa. Kita juga mendalami kisah pencobaan Yesus di padang gurun (Lukas 4:1-13), di mana Yesus menunjukkan keteguhan iman dalam menghadapi godaan dan kesetiaan-Nya kepada kehendak Allah.
Dalam Minggu Prapaskah I, kita diingatkan untuk meneladani Yesus dengan mengasihi Allah secara total, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk memperkuat iman, menjauhi godaan duniawi, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui disiplin rohani.
Kita mengasihi Tuhan karena kita telah dikasihi Tuhan, dan diselamatkan dari dosa, melalui penderitaan Yesus , agar hati kita tidak dikuasai dosa. Jika Kita segenap hati mengasihi Tuhan, mendengarkan Tuhan, setia melakukan perintah Tuhan, maka nama kita terdaftar dalam Kerajaan Sorga, kita mendapat hidup kekal, seperti pertanyaan ahli Taurat, bagaimana mendapat hidup kekal ? Kalau belum menyesali dosa, membuang dosa, dendam sakit hati, pikiran dan niat jahat seperti ahli Taurat maka kita tidak bisa mengasihi Allah dengan segenap hati, tidak bisa mendengarkan Allah segenap hati, karena kita terus mengutamakan untuk mendengar pendapat sendiri, memberhalakan pikiran sendiri, selubung pikiran belum dibukakan Tuhan.
Mengasihi Allah dengan memuji Allah, bergaul dengan Allah, berdoa, meminta pertolongan dari Allah, mendengar perintah aturan dari Allah, dan melakukannya Hukum Tuhan yang paling utama. Mengasihi Allah dengan segenap hati, memandang Allah sebagai yang terbaik dari antara semua yang ada di dunia, semua orang yang baik di dunia. Kita mengasihi dengan bersyukur pada Tuhan dan menjunjung tinggi Tuhan , serta mengabdikan diri sepenuhnya kepada Dia. Kasih kita kepada-Nya harus melebihi kasih atas apa pun juga. Kita mengasihi Allah lebih dari mengasihi suami, istri, anak, orang tertentu materi uang. Seorang pemuda bunuh dari karena mengagumi seorang artis dunia. Artis dunia bunuh diri dia juga ikut bunuh diri. Sikap pemuda ini lebih mengasihi artis dari pada Tuhan. Seorang ibu ingin segera dipanggil Tuhan karena ia sangat mengasihi suami, yang baru saja dipanggil Tuhan. Ibu ini lebih mengasihi suami dari mengasihi Tuhan yang hidup.
Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, bukan setengah hati. Hati itu pusat kemauan, pusat perintah. Bertobat dimulai dari hati yang menerima firman Tuhan, meninggalkan kehendak sendiri. Mengasihi Tuhan segenap hati, segenap perubahan hati, menyesali dosa dalam hati, agar hati yang keras seperti batu diubah menjadi hati yang subur sehingga benih firman Tuhan bertumbuh. Segenap hati artinya hati yang remuk, menyesali dosa, mengosongkan hati dari keinginan dosa. Hati yang keras, tidak tunduk, tidak mengasihi Tuhan, tidak menanggapi kehendak Tuhan.
Tuhan tahu hati manusia, Tuhan tidak bisa ditipu dari gaya penampilan ibadah. Mengasihi Tuhan segenap hati, terlihat dari doa yang tulus hati, mau mendengar kehendak Tuhan dengan sungguh sungguh. Kalau belum segenap hati, maka minta Tuhan bersihkan kotoran dihati kita. Mengasihi Tuhan segenap hati maka firman Tuhan akan ditulis dalam hati, bukan dibibir. Mengasihi Tuhan segenap hati maka keinginan melakukan kehendak perintah Tuhan terus dipelihara agar kita mencapai tujuan hidup kekal, tujuan kita bukan kematian pada akhir hidup dan bukan kematian kekal.
Mengasihi Tuhan dengan kasih agape, bukan hanya dengan kasih filia (sahabat) atau eros (lawan jenis). Mengasihi sesama dengan kasih eros, filia dan agape. Mengasihi Tuhan segenap hati, artinya hatinya benar, tidak curiga, tidak kesal pada Tuhan, hati yang benar memuliakan Tuhan, merendahkan diri.
Mengasihi Tuhan dengan segenap Jiwa arti Roh manusia, nyawa, atau bagian dari manusia yang menyebabkan manusia hidup. Seluruh kehidupan batin manusia, seperti perasaan, pikiran, dan angan-angan. Kesadaran dan kepribadian seseorang, bukan jasmani dalam diri seseorang. Pribadi seutuhnya yang memiliki kesadaran, keinginan, dan emosi. Dalam Alkitab, jiwa adalah pribadi seutuhnya yang memiliki kesadaran, keinginan, dan emosi. Orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa artinya ia menjalankan hidup agar tidak mati, tidak diam, tidak berbuat apa-apa. Orang bunuh diri putus asa, karena jiwa rusak, jiwa lemah dan mati. Jiwa manusia terlihat dari tingkah laku manusia sehari-hari. Fungsi dan kekuatan jiwa dari tanggapan, pengamatan ingatan fantasi, pikiran perasaan, nafsu dorong kehendak. Jiwa anak anak beda jiwa orang dewasa. Mengasihi Tuhan segenap jiwa berarti sesuai perkembangan jiwa dari anak remaja pemuda dewasa lansia. Perkembang jiwa membuat sikap hidup , menumbuhkan kebiasaan kebiasaan hidup kita. Jiwa yang mengasihi Tuhan akan membentuk perilaku dalam keluarga, bermasyarakat. Mengasih Tuhan dengan segenap jiwa akan memampukan jiwa kita dalam menghadapi badai topan, perkara yang mengecewakan, ketika jiwa diserang oleh pertikaian, godaan ancaman. Menghadapi kekuatiran ketakutan, dengan mengasihi Tuhan segenap jiwa, maka membuat jiwa kita hidup, tidak mati seperti orang yang putus asa, mabok, bunuh diri, melarikan dari masalah hidup. Jiwa yang hidup, tidak takut menghadapi badai hidup, karena sudah mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa. Pergumulan jiwa waktu menghadapi musuh konflik di lingkungan, pertikaian dengan teman, kita tetap hadapi dengan mengasih Tuhan segenap jiwa membuat kita makin sehat jiwa kita. Dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Masing masing kita mempunyai karakter jiwa, kita mengasihi Tuhan dan sesama sesuai dengan karakter jiwa kita. Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa akan menyembuhkan jiwa yang sakit. Tuhan Yesus mampu menyembuh jiwa yang sakit seperti mengusir roh jahat. Yesus yang kita kasihi akan merawat jiwa kita menjadi hidup sehat.
Kita mengasihi Tuhan dengan mempersembahkan hidup kita pada Tuhan karena jiwa dan raga kita berasal dari Tuhan. Kita mengasihi Tuhan dengan memberi hati yang telah dipulihkan kepada Tuhan seperti ungkapan dalam KJ 367 ayat 1. PadaMu, Tuhan dan Allahku, kupersembahkan hidupku: dariMu jiwa dan ragaku, hanya dalamMu ‘ku teduh. Hatiku yang Engkau pulihkan padaMu juga kuberikan. amin
Berdoa: Ya Tuhan mampukan kami mengasihi Tuhan dalam masa prapaskah ini, dengan merenungkan hubungan kami dengan Tuhan melalui penyesalan dosa, melalui doa dan puasa, agar kami makin teguh menghadapi godaan dan makin setia kepada kehendak Allah. Dalam nama Yesus kami berdoa amin.
DIBUANG TAPI TIDAK DITINGGALKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Yeremia 52:12-15, (15),
Sebagian dari rakyat yang paling melarat dan sisa-sisa rakyat yang masih tinggal di kota itu, serta para pembelot yang menyeberang ke pihak raja Babel dan para tukang yang tersisa dibawa ke pembuangan oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal itu.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, nas renungan kita kali ini menambah wawasan kita tentang sejarah Israel yang paling kelam. Mengapa umat yang banyak disebut sebagai kesayangan Tuhan, sempat dihancurkan oleh bangsa lain, yaitu oleh bangsa yang memang kuat secara militer pada zaman itu?
Tidak putus-putusnya Tuhan menyatakan, bahwa kerajaan Daud tidak akan terputus selama-lamanya, yang pada zaman pemerintahan Daud sangat berkenan kepada Tuhan, seperti yang disampaikan Tuhan kepada Daud: “Dinastimu dan kerajaanmu akan teguh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya,” (2 Sam 7:16). Seperti janji Tuhan kepada Daud, untuk mengokohkan kerajaan Daud, maka Salomo menggantikan dia, tetapi dengan syarat, “hidup lurus, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, serta jika engkau memelihara segala ketetapan dan peraturan-Ku, Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel…, (1 Raj 9:4-5).
Kehancuran Kerjaan Israel sebagai kosekwensi Dosa raja dan bangsa itu. Ketidaktaatan raja Yehuda dan rakyat, maka Tuhan mendatangkan kehancuran Yehuda dan Yerusalem. Sebelumnya para nabi telah memberi pengajaran dan peringatan agar Israel, membuang dewa-dewa kejijikan Tuhan, para nabi menuntun agar Israel dari ketulusan hati memperhatikan sesama, seperti anak Yatim, kaum janda miskin dan rakyat jelata agar dipelihara dengan kasih. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, raja mengangkat nabi palsu yang membenarkan setiap kecurangan raja, ibadah mereka hanya formalitas, bukan dari ketulusan hati. Penindasan oleh pejabat kerajaan kepada orang miskin, yang nabi Amos katakan: “Supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut” (Am 8:6). Sejak Kerajaan Israel di tinggal oleh raja Daud, malah raja-raja yang mengajak rakyat meninggalkan Tuhan dan sebagai gantinya mereka menyembah kepada dewa-dewa lain yang bukan Allah. Salomo menyembah Asytoret, dewi orang Sidon, menyembah dewa Milkom dewa orang Amon, dewa Kamos dari orang Moab. Demikian sedikit gambaran pupusnya ketaatan Israel kepada Tuhan yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan mengambil jalan menyingkirkan orang-orang yang tidak taat itu dengan menghancurkan kerajaan itu, dan rakyat dibuang ke negeri asing di Babel. Pembuangan dalam waktu 70 tahun, menghabiskan satu generasi, dan akan kembali ke negeri Israel dengan generasi yang baru. Dengan generasi yang baru ini Tuhan kembali melanjutkan janji-Nya, sampai digenapinya pengutusan Mesias untuk seluruh bangsa. Israel dibuang tetapi tidak ditinggalkan demi janji Tuhan.
Aplikasi:
- Satu genarasi Israel di pembuangan, apakah Anda punya kesan masa yang ditinggal Tuhan?
- Adakah pengalaman Anda dihajar Tuhan karena berbuat dosa?
- Sejauh mana keyakinan Anda yang tidak akan ditinggal Tuhan?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi, kami sungguh bergantung pada Tuhan. Namun ada saatnya kami meninggalkan Tuhan terbawa dosa, dan kami mengalami penderitaan, tetapi kami yakin Tuhan dalam kuasa Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kami. Teguhkan keyakinan iman kami ini dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS100325]
