admin
Posts by :
PIKIRAN DAN PERASAAN YESUS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Filipi 2: 5-11
Salam sejahtera semoga kita makin dimampukan untuk menaruh pikiran dan perasaan Kristus Yesus dalam hidup pribadi, hidup persekutuan dan hidup masyarakat kita seperti ungkapan dalam Filipi 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.
Persoalan-persoalan besar dan mendesak, perlu kita hadapi dan selesaikan bersama-sama dan kita gumuli dalam hidup masing-masing. Namun semua orang mencari penyelesaian yang lebih manusiawi, bukan asal beres saja. Sebagai orang beriman, kita mempunyai dasar hidup dalam menyelesaikan persoalan, yaitu dengan mengarahkan harapan kita kepada Allah. Dasar hidup ini memantapkan usaha kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita berdasarkan iman Kristen. Iman sebagai dasar hidup orang Kristen diwujudkan dalam moral orang Kristen. Moral iman ini membuat orang makin tekun mencari jawaban-jawaban yang lebih mendalam, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.
Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum, mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Moral merupakan standar perilaku yang memungkinkan setiap orang untuk dapat hidup bekerjasama dalam hidup bersama. Moral dapat mengacu pada sanksi-sanksi masyarakat terkait perilaku yang benar dan dapat diterima. Orang yang bermoral adalah orang yang mempunyai pertimbangan baik buruk. Seorang penjahat, koruptor, pelaku kecurangan, tidak akan menggunakan pertimbangan baik buruk, sesuai dengan moral yang diakui dalam masyarakat. Mereka pakai cara sendiri, menyimpang dari moral masyarakat.
Melalui Filipi 2:5 dijelaskan bahwa Firman Tuhan menghendaki kita dalam hidup bersama menggunakan pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus. Tata hidup yang harus ditaati dan dituruti anggota jemaat adalah sesuai pikiran dan perasaan Kristus, dan hal ini menjadi norma hidup bersama baik secara pribadi, maupun dalam persekutuan di dalam jemaat, bahkan juga di dalam masyarakat. Pikiran dan perasaan Yesus masuk di dalam hati, dan selalu diingat oleh masing-masing anggota jemaat.
Yesus merendahkan diriNya, mengosongkan diriNya, padahal Yesus setara dengan Allah. Yesus merendahkan diri dengan taat kepada Allah, sampai akhir hidupNya, di kayu salib. Allah meninggikan Yesus yang telah merendahkan diri dengan taat sampai mati. Allah mengaruniakan kepada Yesus, nama di atas segala nama, dan membuat semua orang mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa. Filipi 2:6-11 ini, menjadi dasar bagi nasihat moral. Titik pangkal bagi nasihat moral adalah keyakinan manusia merendahkan diri akan ditinggikan oleh Allah. Kristus yang merendahkan diri dan yang ditinggikan Allah adalah dasar bagi pengarahan moral (Bernhard Kieser SJ. Moral Dasar, Kaitan Iman dan Perbuatan, Kanisius, 1990).
Kristus bukan seperti Adam yang ingin menjadi seperti Allah. Adam telah meninggikan dirinya, maka Allah merendahkan Adam, dengan mengusirnya dari Taman Eden. Yesus merendahkan diri, mengosongkan diri dari hidup sebagai Allah menjadi hidup dengan mengambil bentuk manusia. Yesus menjadi sama dengan manusia dan solider dengan manusia. Yesus menerima kemanusiaan dalam diriNya, dan benar-benar manusia, yang bisa lapar dan haus. Yesus yang adalah Allah, menjadi senasib dengan manusia, yang menderita, susah dalam kehidupan. Yesus hidup sebagai hamba yang taat pada Allah untuk melaksanakan tugas menyelamatkan semua manusia dari dosa.
Yesus merendahkan diri dalam arti membiarkan dirinya dibatasi dengan hidup manusia yang nyata, mengalami jerih payah dalam hidup sehari-hari. Mengalami penderitaan yang nyata, hidup yang terancam, sampai kematian di kayu salib, dengan cara yang paling hina, paling rendah. Namun Yesus tetap taat menjalankan kehendak Allah di tengah penderitaan, kesusahan hidup. Berbeda dengan Adam, karena ingin sama dengan Allah, malah menjadi taat pada bisikan iblis, tidak taat pada kehendak Allah.
Pikiran dan perasaan Yesus yang menjadi pengarahan moral bagi kita adalah merendahkan diri, tidak mempertahankan diri, mengosongkan diri, mengambil wujud hamba, solider pada manusia, ketaatan dengan menerima hidup manusia yang lemah sampai mati, kemudian ditinggikan Allah. Merendah diri dan mengosongkan diri dalam kehidupan sehari-hari berarti meninggalkan keinginan menjadi paling utama, mencari harga diri. Merendahkan diri berarti mau melayani Tuhan dan sesama tanpa pementingan diri sendiri. Mengosongkan diri dari kedudukan yang tinggi menjadi sama dengan orang lain. Mengosongkan dari kemuliaan dan hidup sebagai manusia yang bersedia menderita dihina karena melakukan kehendak Tuhan. Mengosongkan diri dari mengikuti kehendak sendiri tapi mengikuti kehendak Allah.
Kristus ditinggikan adalah jawaban atas ketaatanNya. Allah meninggikan Kristus, Anak Allah, karena Kristus merendahkan diriNya dan taat. Ketaatan Kristus adalah penyerahan diri dan hidup semata-mata kepada Allah Bapa. Karena itu Allah Bapa memberi karunia kepada Anak, nama di atas segala nama. Karunia adalah pemberian Allah bukan balas jasa, bukan karena menghitung pahala, menghitung usaha manusia untuk berbuat baik. Karunia semata-mata karena ketaatan dalam menyerahkan diri kepada Allah dan merendahkan diri. Kristus adalah teladan dalam ketaatan, merendahkan diri, karena itu Allah meninggikan.
Allah meninggikan Kristus bukan untuk diri sendiri, tapi untuk semua orang dan seluruh alam semesta. Yesus diberi nama di atas segala nama, artinya Yesus diberi kuasa di atas segala kuasa. Semua kuasa baik di langit dan di bumi, ditaklukan di bawah kaki Kristus. Takluk berarti mereka mengakui tidak ada kuasa pada diri mereka dan bergantung pada kuasa Kristus. Ketika Kristus kita akui sebagai Tuhan yang berkuasa, maka hanya Tuhan Yesus yang berkuasa memberi arah hidup, makna hidup bagi diri kita, bagi persekutuan kita dan masyarakat kita. Kita mempercayakan diri pada Yesus, kita menerima kemanusiaan dengan keterbatasan hidup kita, kita menerima keselamatan bukan karena usaha manusia tapi karena kemurahan Allah.
Marilah kita mengosongkan pikiran kita dari barang dunia. Kita diam dan sujud sembah karena Allah sungguh hadir dan patut dipermuliakan seperti ungkapan NKB. 6 ayat 1. Patut segenap yang ada diam dan sujud sembah, mengosongkan pikirannya dari barang dunia, kar’na Tuhan sungguh hadir, patut dipermulia. Amin
Doa:
Ya Tuhan kiranya kami makin dimampukan untuk menaruh pikiran dan perasaan Kristus Yesus dalam hidup pribadi, hidup persekutuan dan hidup masyarakat kami, dalam Yesus kami telah berdoa. Amin.
BAGAI KUDA LEPAS KANDANG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Hagai 1:2-11,
“Beginilah firman Tuhan semesta alam: Bangsa ini berkata:“Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan!”
(4), Apakah sudah tiba waktunya bagimu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
(10) Itulah sebabnya langit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya, …
Saya yang mengalami masa remaja di desa, sempat menyaksikan KUDA LEPAS KANDANG. Kuda dari kecil yang dipelihara di kandang tiba saatnya belajar lari, dan saatnya nanti dijadikan kuda tunggangan atau menarik delman. Anak kuda yang sudah lepas dari induknya di asuh di kandang, bertumbuh dengan baik, sudah tiba saatnya dia dikeluarkan dari kandang. Begitu keluar dari kandang dia berlari-larian, melompat, dan tidak mau kembali masuk kandang, seolah-olah bebas berbuat kehendaknya. Diumpamakan juga kelakuan Kuda Lepas Kandang ini dengan OKB, orang kaya baru, terlihat canggung sikapnya. Tetapi kita bisa tanggapi dengan hati yang positif.
Nabi Hagai patut dikagumi, usahanya untuk menjadi pelopor memandu bangsa Israel kembali ke tanah air mereka, tanah Kanaan. Tuhan sendiri yang mengatur, memberi hati yang lembut kepada raja Darius. Bangsa Israel sudah 70 tahun dalam pembuangan, berarti sudah muncul generasi baru, generasi lama sebagian besar sudah meninggal. Nabi Hagai dipakai oleh Tuhan memandu sebagai pelopor membawa bangsa Israel ke tanah Kanaan. Perjalanan yang panjang, tetapi dengan penuh harapan baik di negeri Israel. Tiga hamba Tuhan menjadi pelopor orang Israel kembali dari pembuangan a.l, Ezra, Nehemia dan Hagai, begitulah Tuhan memenuhi janji-Nya “setelah 70 tahun” Israel dalam pembuangan, maka Tuhan sendiri yang menghimpunkan mereka kembali di tanah air mereka, tanah Kanaan.
Hagai membawa umat yang tertawan itu, dan dia juga sudah mendapati orang-orang yang pulang sebelumnya. Satu sisi, yaitu kebanggaan, mereka telah bebas merdeka, walau masih dalam kendali raja Persia dan Media. Selama mereka di perjalanan mereka membawa tenda untuk istirahat, dan tenda itu menjadi tempat pondokan sementara setelah tiba di Kanaan tenda itu ditinggalkan. Bermacam-macam usaha mereka untuk menemukan hidup yang bahagia dalam suasana merdeka. Dalam suasana ini nabi Hagai melihat usaha mereka mandeg terhambat terutama saat mereka menggarap ladang untuk gandum, anggur, zaitun dll. Rasaya mereka tidak mendapat seperti yang mereka harapkan. Di situlah nabi Hagai menunjukkan kunci permasalahannya, umat itu sama sekali tidak peduli dengan hubungannya dengan Tuhan. Dikatakan nabi Hagai, kamu membangun rumahmu dengan bagus, tetapi tidak ada yang peduli dengan rumah Tuhan yang tetap dalam puing-puing berantakan. Di sinilah terlihat sikap Kuda Lepas Kandang, yaitu dengan semangat mereka mendapatkan tanah menjadi miliknya dan membangun rumah tinggal mereka. Nabi Hagai mengajak, ayo kita bangun dulu Baik Allah, terutama bukan arti fisik, tetapi mencari Allah, mencari Kerajaan Allah, baru setelah itu kita lanjut dengan usaha membangn diri. Terbayang masa kejayaan dulu, maka mereka menangis melihat puing reruntuhan Bait Allah. Ajakan Hagai ini diterima baik masyarakat, maka diadakan peletakan batu landasan Bait Allah di Yerusalem, di tempat semula.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Pernahkah Anda merasa dalam suasana Kuda Lepas Kandang atau OKB?
- Apa yang menjadi kendali kalau kita serasa menjadi OKB?
- Bagaimana hidup Anda mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya?
Mari berdoa:
Bapa dalam sorga, suka duka kami alami dalam hidup ini. Roh Kudus membimbing agar kami tidak lepas kendali menghadapi suka duka itu. Kami awali hidup kami setiap hari dengan mohon tuntunan tangan Gembala yang baik dan kami akhiri dengan doa syukur sebelum kami membaringkan diri istirahat tidur malam. Inilah doa kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS040324]
MERUNTUHKAN DAN MEMBANGUN BAIT ALLAH DALAM TIGA HARI
Views: 2
Ibadah Minggu Prapaskah 3 - GKI Kwitang, 3 Maret 2024
TEMA: “MERUNTUHKAN DAN MEMBANGUN BAIT ALLAH DALAM TIGA HARI”
Bacaan Pertama : Keluaran 20:1-17 (TB 2)
Antar Bacaan : Mazmur 19 (TB 2)
Bacaan Kedua : I Korintus 1:18-25 (TB 2)
Bacaan Injil : Yohanes 2:13-22 (TB 2)
AKHIR SI TIKUS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Ibrani 4:13 – TB2
“Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Baru-baru ini, ada seekor tikus yang masuk dan berkeliaran di daerah dapur dan kamar belakang rumah kontrakan kami. Sepertinya tikus ini adalah tikus yang pintar karena ia berhasil menghindari perangkap maupun jebakan dan lolos dari lem tikus dengan membawa lari umpan yang kami pasang. Kami juga tidak tahu di mana ia bersembunyi.
Suatu malam, saya melihat tikus ini masuk ke kamar mandi. Segera saya menutup pintu kamar mandi agar tikus tidak bisa keluar. Kemudian, kakak memanggil chalie – anjing husky kami – yang memang pintar menangkap tikus. Chalie pun kami masukkan ke kamar mandi. Dan betul, dalam waktu kurang dari 30 detik, chalie minta keluar dari kamar mandi dan meninggalkan si tikus yang sudah mati. Sepintar-pintarnya tikus itu bersembunyi dan menghindari perangkap, akhirnya tertangkap juga oleh chalie. Kami jadi teringat pada sebuah peribahasa yang berbunyi “sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga”. Memang tidak sama persis, tetapi bagi kami, ‘kenakalan’ si tikus akhirnya berakhir juga. Meskipun dia bisa bersembunyi, tetapi ia tidak dapat menghindari ketajaman penciuman si chalie. Meskipun dia lincah, namun tidak dapat menandingi kecepatan si chalie.
Betul juga, bahwa selama hidup ini kita mesti bersikap waspada dan berjaga-jaga, agar terhindar dari berbuat yang tidak baik atau jahat. Karena sepintar-pintarnya seseorang menyembunyikan kejahatan, akhirnya akan tersingkap juga. Karena tidak ada kejahatan yang dapat tersembunyi dari Tuhan. Penulis surat Ibrani mengingatkan, “Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban”.
Kepada para anggota jemaat, Penulis Ibrani menasihati agar mereka semakin teguh di dalam iman kepada Kristus. Penulis Ibrani menjelaskan dengan teliti tentang keunggulan dan ketegasan penyataan Allah serta penebusan di dalam Yesus Kristus. Ia menunjukkan bahwa penyediaan penebusan yang sudah lama dinubuatkan telah digenapi di dalam Yesus Kristus. Kristus telah menetapkan suatu perjanjian baru melalui kematian-Nya yang mendatangkan pendamaian. Penulis Ibrani tampaknya tahu bahwa, beberapa anggota jemaat mulai menunjukkan tanda-tanda akan meninggalkan iman kepada Yesus dan kembali kepada kepercayaan Yahudi seperti sebelumnya, karena telah mengalami aniaya dan putus asa.
Penulis Ibrani, mengingatkan bahwa karena Kristus telah menyediakan tempat peristirahatan bagi kita, maka kita mesti mempertahankan iman dan tetap hidup di jalan yang benar hingga akhir. Tidak bisa kita menyembunyikan kejahatan, karena tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan.
Si tikus saja akhirnya tertangkap oleh chalie, apalagi kejahatan manusia pasti akan disingkapkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, mari kita berusaha melakukan yang baik bukan yang jahat. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk dapat menjaga perilaku hidup kami agar dapat berkenan di hadapan-Mu. Kami juga belajar untuk tetap besikap berjaga dan waspada. Kiranya roh Kudus menolong kami untuk mewujdukannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
SETIA DALAM MENANTI JANJINYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kejadian 21:1-2 (TB2)
”TUHAN memperhatikan Sara seperti yang difirmankan-Nya, dan TUHAN melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikan-Nya. Sara pun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham di masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan sesuai dengan firman Allah kepadanya”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Kita semua tentu memiliki pergumulan dan berharap sesuatu yang baik segera datang. Akan tetapi dalam masa-masa penantian itu seringkali kita tidak sabar. Kita berdoa kepada Tuhan tetapi kita merasa doa-doa kita tidak kunjung terjawab. Kita mengucap bahwa akan menyerahkan masalah ini kepada Tuhan, tapi nyatanya juga masih meragukan kuasa-Nya.
Perasaan itu seringkali membuat kita semakin jauh dari Tuhan, lantas kita mengucapkan “Dimana Tuhan? Adakah Tuhan yang besar itu mendengarkan ku? Mana kuasa-Nya atas ku?” karena merasa doa dan harapan kita tidak kunjung direspons oleh Tuhan. Kita kadang menjadi putus asa dan bahkan meragukan kuasa Tuhan. Apalagi di zaman sekarang ini, zaman yang serba instan dan praktis, kita inginnya serba cepat dan tidak sabaran. Mie instan yang konon “instan” saja masih harus direbus, tidak bisa langsung dinikmati. Semua butuh proses.
Tetapi bagaimana dengan Sara? Sara dalam pergumulannya selalu sabar menanti pertolongan dan jawaban Tuhan. Sara tidak berhenti berharap pada Tuhan, bahkan ia semakin setia dan dekat kepada Tuhan berharap dalam pergumulannya. Melihat kesetiaan Sara, Allah memberikan kejutan kepada Abraham dan Sara. Saat Abraham berusia seratus tahun, Sara isterinya mengandung. Kita bisa membayangkan betapa bahagianya Abraham dan Sara mendapatkan kejutan dari Allah. Pengharapan yang sangat panjang dan tidak pernah putus, membuat mereka berdua mengimani bahwa Allah setia terhadap janji-janjiNya.
Kita sebagai manusia yang hidup di zaman yang serba instan dan praktis ini bisa membayangkan jika berada di posisi Abraham dan Sara, mungkin kita sudah mulai mengeluh, putus asa, dan berhenti berharap karena tidak sabar menanti janji Tuhan. Tetapi pada saat yang sama ketika kita hampir mengeluh karena merasa apa yang kita harapkan itu belum terwujud, pergumulan masih terus melingkupi, di sinilah waktu yang tepat bagi kita untuk mengambil sebuah refleksi yang dalam tentang kesetiaan.
Sudahkah kita sungguh-sungguh setia pada Allah? Setia itu tidak hanya berbicara tentang menjalankan perintah dan hukum Allah. Setia juga berbicara tentang kesabaran dan konsistensi pengharapan. Berhenti berharapkah kita jika berminggu-minggu , berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun pengharapan itu belum terwujud?
Pada masa Pra Paskah ini kita diajak untuk kembali melihat bahwa janji Allah itu kekal selamanya bagi setiap umat yang berharap kepada-Nya. Kita hanya perlu meresponsnya dengan kesetiaan dan ketaatan dalam menanti janjinya. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita.
APAKAH AKU BERJALAN BERSAMA TUHAN YESUS ?
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Jemaat Tuhan yang terkasih. Berjumpa kembali bersama saya dalam Renungan harian hari ini. Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Apakah aku berjalan bersama Tuhan Yesus?” dengan dasar dari Yohanes 14:6 (TB2), Tuhan Yesus mengatakan: “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku ! Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya dengan setia.
Saudara-saudara, mengapa berjalan bersama Tuhan Yesus itu sangat penting? Sebab Tuhan Yesus adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup ( Yoh. 14:6). Jikalau kita berjalan bersama Tuhan Yesus pasti tidak akan tersesat atau salah jalan! Karena Dialah satu-satunya jalan bagi kita yang menuntun sampai kepada Bapa. Jikalau kita berjalan bersama Tuhan Yesus pasti kita dituntun dalam kebenaranNya. Karena Dialah satu-satunya Juru selamat yang membenarkan kita manusia berdosa yang percaya kepadaNya, supaya kita dibenarkan di hadapan Allah. Jikalau kita berjalan bersama Tuhan Yesus pasti kita beroleh hidup yang sejati, yaitu hidup yang kekal. Karena melalui pengorbananNya di kayu salib, sampai mati dan dibangkitkan, kita beroleh hidup karena kasih dan pengampunanNya.
Setelah kebangkitanNya, Tuhan Yesus menyatakan janji penyertaanNya kepada setiap orang percaya: “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman (Mat. 28:20). Penyertaan Tuhan Yesus merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang percaya sebab memberikan keteguhan dan kekuatan hati untuk berjalan menempuh perjalanan hidup dan pelayanan.
Bila kita berjalan sendiri maka kita tidak akan kuat, tetapi jika kita berjalan bersama Tuhan Yesus akan ada kekuatan yang baru dan tak pernah habis untuk melangkah menjalani hari ini dan esok.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Grup Kolintang Fidelia dan Angklung PA Dorkas di dalam ibadah GKI Kwitang sebuah pujian yang berjudul: “Ku mau berjalan dengan Juruselamatku.” Lagu ini merupakan suatu kesaksian anak-anak Tuhan yang mau berjalan dan mengikut Tuhan Yesus dengan setia dalam segala keadaan. Baik ketika mengalami kehidupan yang menyenangkan bagai berjalan di lembah berbunga dan berair sejuk, maupun berjalan di lembah gelap dan badai yang menderu. Anak-anak Tuhan dapat bersaksi: “Aku tidak takut dan kuatir menghadapi bahaya apapun, bila dibimbing tangan Tuhanku. “
Lagu ini mengajak kita semua untuk senantiasa mengikut Tuhan Yesus, karena bersama Sang Juruselamat hati kita teguh dan Tuhan membimbing kita sampai akhirnya tiba di rumah Bapa yang baka.
Tuhan Allah memanggil kita semua untuk menjadi anak-anakNya. Tuhan mau berjalan bersama kita. Ia mau menuntun kita.
Pertanyaan untuk kita jawab dengan jujur: Apakah aku mau berjalan bersama Tuhan Yesus?
Inilah tandanya jika kita berjalan bersama Tuhan Yesus: Kita mau tetap mendengar FirmanNya dan selalu bersemangat mengikut Dia ke manapun Ia kehendaki. Sampai kapan? Sampai kita tiba di rumah Bapa! Bersediakah Saudara melakukan FirmanNya? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Tuhan memberkati. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang di surga, FirmanMu hari ini mengajarkan kepada kami untuk kami selalu berjalan bersama Tuhan Yesus. Kami mau ikut Tuhan Yesus dengan setia. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM29022024)
BERTOBAT DARI SEGALA DOSA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Yehezkiel 18: 21-24
Salam sejahtera semoga kita makin mampu bertobat, dan makin berpegang pada ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran, agar kita hidup, seperti ungkapan dalam Yehezkiel 18:21 Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Dalam minggu prapaskah, kita makin dimampukan untuk menyesali dosa, dan bertobat karena Yesus telah menderita, berkorban untuk menebus dosa manusia. Tuhan tidak senang orang jahat mati, tapi Tuhan senang mereka meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup. Orang jahat yang bertobat, maka dosa dan pelanggaran masa lalunya, tidak diingat Tuhan. Kebenaran yang dilakukannya akan membuat orang tersebut hidup.
Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya, dan melakukan kecurangan, kekejian yang menjijikan seperti yang dilakukan orang fasik, maka segala kebenaran yang pernah dilakukannya tidak akan diingat Tuhan. Orang tersebut akan mati, karena ia berlaku tidak setia dan karena dosa yang dilakukannya. Sering kali orang benar, jatuh dalam dosa keegoisan. Motivasi tindakannya sering bercampur dengan keegoisan, mementingkan diri sendiri, tidak mampu menyangkal diri. Padahal mengikut Yesus harus mampu menyangkal diri dan memikul salib (Markus 8: 34).
Seorang pemimpin negara A, pada awal memerintah, ia melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, melakukan kebenaran dan keadilan bagi seluruh masyarakat, membawa kemajuan sehingga banyak orang mengaguminya. Tapi beberapa tahun setelah memerintah, sikap pemimpin ini berubah, menjadi haus kekuasaan, muncul keegoisan, lebih mementingkan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, melakukan kecurangan, ketidakadilan, dan tidak dapat dipercaya. Pemimpin seperti ini adalah orang benar yang berbalik dari kebenarannya, kemudian melakukan kecurangan, kekejian, kedurhakaan, kejahatan. Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat Tuhan lagi. Ia harus mati karena ia berubah setia dan karena dosa yang dilakukannya (Yehezkiel 18:24). Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, tersesat karena pilihan terakhir yang dibuatnya dalam hidup. Ia jatuh dalam dosa keegoisan, demi mendapatkan uang, ia berkhianat pada Yesus. Yudas kerasukan iblis, padahal ia masih bersama-sama Yesus. Iblis telah membisikkan rencana dalam hatinya untuk mengkhianati Yesus demi uang. Ada pemimpin negara, pemimpin daerah, pejabat tinggi, pegawai swasta, pada awalnya baik, benar, tapi lama kelamaan, berubah jatuh dalam dosa demi kepentingan pribadi, keluarga, kelompok. Mereka mendengar bisikkan iblis, untuk berkhianat terhadap masyarakat, berlaku curang demi uang, kekuasaan bagi dirinya.
Orang yang tadinya baik berubah menjadi dikuasai dosa, maka ia akan mati dalam dosanya. Ada orang berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Mengapa orang harus dihukum padahal ia telah berbuat banyak kebaikan, pahala di masa lalu ? Manusia berpikir. sebaiknya Tuhan menimbang pahala yang sudah dilakukan dan dosa yang dilakukan, mana yang lebih besar? Bisa jadi pahalanya lebih besar dari dosanya. Dalam iman Kristen, kita tidak mengikuti pikiran manusia, kita diajarkan Tuhan bahwa Tuhan tidak akan menimbang pahala dan dosa orang. Tuhan melihat keadaan kita yang sekarang. Yang penting adalah hubungan kita dengan Tuhan sekarang ini. Masa lalu, baik atau buruk, dilupakan Tuhan. Seorang penjahat yang digantung di kayu salib bersama Yesus, bertobat dan Yesus mengatakan bahwa hari ini ia akan bersama-sama denganNya di Firdaus (Lukas 23:42-43). Apakah Yesus tidak adil terhadap penjahat yang bertobat ini ? Itulah anugerah Tuhan bagi orang yang bertobat.
Kita tidak perlu kuatir dengan masa lalu kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita berhubungan, bersekutu dengan Tuhan hari ini, dan hari-hari berikutnya. Kita membuat pilihan, hidup bersama Tuhan, atau menjauh dari Tuhan. Baik secara langsung atau melalui cara kita berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Jika hari ini kita memilih bersama Tuhan, maka tidak ada yang perlu kita takuti, apa pun kesalahan kita di masa lalu. Bukan Tuhan yang menghukum kita. Kitalah yang membuat pilihan untuk bersama Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Tuhan mengakui pilihan kita.
Kita mendapat penghiburan bahwa, apa pun yang kita lakukan di masa lalu, hal itu tidak akan berpengaruh pada hubungan kita dengan Tuhan asalkan kita dekat dan bersekutu dengan Tuhan, mengasihi Tuhan saat ini juga. Kebaikan kita di masa lalu dapat hilang sepenuhnya jika kita menolak Tuhan dan kehendakNya.
Bertobat adalah panggilan Tuhan agar kita berbalik dari jalan yang salah, menuju jalan Tuhan. Kita berbalik dari kejahatan-kejahatan, pelanggaran-pelanggaran, keburukan-keburukan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik, dari kemerosotan moral, etika dan agama, dari mengagungkan materi, kemegahan duniawi. Bertobat adalah berpaling kepada Tuhan, Allah yang hidup dan yang telah menyatakan diriNya kepada manusia (J. Verkuyl, Etika Kristen, Bagian Umum, BPK Gunung Mulia, 1986). Kita tidak bertobat hanya dari jahat menjadi baik, tapi berpaling kepada Tuhan dan kehendak Tuhan. Ada orang merasa bertobat dengan usaha sendiri berubah dari jahat menjadi baik, dari malas menjadi rajin, tapi ia tidak bergaul tidak bersekutu, tidak percaya Tuhan dan kehendakNya. Bukan pertobatan seperti ini yang diharapkan Tuhan. Bertobat adalah kembali setia kepada Tuhan, kembali mengasihi Tuhan dan sesama. Seorang suami yang bertobat terhadap istri, bukan berubah dari tidak pernah membawa hadiah menjadi membawa hadiah. Bertobat adalah kembali setia terhadap janji pernikahan, mengasihi dan dekat dengan istri. Demikian juga istri bertobat kepada suaminya. Bertobat dimulai dari hati, kemudian sampai ke seluruh kehidupan.
Hanya anugerah Tuhan yang mengerjakan pertobatan, kasih Tuhan, kesetiaan Tuhan, belas kasih Tuhan yang menggerakan kita untuk bertobat.
Kita menginsafi kesalahan kita, di muka Tuhan Yesus, dan saat ini kita bertobat dengan hati kita di muka Tuhan Yesus seperti ungkapan dalam KJ 29 ayat 3 Di muka Tuhan Yesus ‘ku insaf akan salahku; bertobat kini hatiku di muka Tuhan Yesus. amin
Berdoa:
Ya Tuhan, kiranya anugerah Tuhan yang mengerjakan pertobatan kami. Kasih Tuhan, kesetiaan dan belas kasih Tuhan yang menggerakan kami untuk bertobat dan kami makin berpegang pada ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran, agar kami hidup. dalam nama Yesus kami berdoa, amin
ALLAH PEDULI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: 2 Raja-raja 4:14-16,
Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” Jawab Gehazi: “Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.” Lalu berkatalah Elisa: “Panggilah dia!” Dan sesudah dipanggilanya, berdirilah perempuan itu di pintu. Berkatalah Elisa: “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.” …”
Tema kita ini menjadi bagian suatu syair lagu “Allah peduli,” yang mungkin lagu yang enak dihayati. Sebetulnya Allah pastilah peduli bagi semua manusia. Kasih setia-Nya kita terima setiap hari yang baru, pemeliharaan-Nya di sepanjang hidup kita, hanya saja justru kitalah yang kurang menyadari semua kepedulian Allah dalam hidup kita, khususnya kasih-Nya dalam Kristus yang menyelamatkan.
Seorang nabi, Elisa bersama pembantunya Gehazi sering dalam perjalanan mereka melewati desa Sunem, di situ mereka dijamu oleh satu keluarga dengan makan, minum dan disediakan oleh keluarga itu juga kamar untuk nabi ini beristirahat dalam perjalanan itu. Kita ingatjuga nasihat Tuhan Yesus: “Barang siapa menyambut seorang nabi, ia akan menerima upah nabi, …” (Mat 10:41.) Kemudian nabi Elisa memanggil Ibu di keluarga itu, dan menjanjikan akan seorang anak laki-laki bagi keluarga itu. Janji itu secara alami tidak mungkin lagi, sudah lama mereka menikah, suaminya sudah tua, tetapi itulah kepedulian Allah melalui nabi Elisa kepada mereka yang dengan setia, tanpa pamrih telah menerima dan melayani nabi Elisa, semua itu tidak berlalu dengan kosong. Kelahiran anak laki-laki ini kita dapat katakan sebagai “kepedulian,” walau pun tidak diminta, hanya karena nabi itu sering singgah di rumah keluarga itu dan diperlakukan seperti nabi (abdi) Allah, pelayanan yang mereka berikan bukan karena pamrih. Berbeda dengan anak yang dijanjikan Allah kepada Abram atau kepada Ishak, Abraham dan Ishak dipanggil, dipersiapkan dan dijanjikan untuk menerima anak sebagai suatu rencana yang panjang bagi keselamatan dunia. Masa depan anak yang dikaruniakan ini tidak diketahui bagaimana masa depan atau masa tuanya, berbeda dengan anak perjanjian itu yang terikat teguh dengan janji Tuhan.
Bercermin dari pengalaman keluarga yang melayani nabi Elisa ini, demikian juga dalam kehidupan persekutuan, dan kehidupan di masyarakat, banyak pemberian dan kepedulian kita kepada sesama secara nyata, seperti pemberian materi. Merujuk kepada Mat 10:41 tadi, kepedulian (pemberian) kita kepada sesama, tidak akan sia-sia, namun sebaliknya setiap pemberian yang kita terima, adalah merupakan suatu beban dan tanggung jawab untuk melihat apa yang dapat kita berikan kepada mereka yang memberi itu. Artinya “jangan enak saja menerima,” tetapi tidak mau memberi, walaupun pemberian kita kemungkinan bukan materi, tetapi im-materi, rasa syukur, terima kasih, dan yang paling penting ialah berdoa agar Tuhan membalas pemberian itu berlipat ganda sesuai kebutuhannya. Pemikiran seperti ini maka “banyak memberi, akan banyak menerima.” Di hadapan Tuhan lebih tegas lagi seperti yang dikatakan oleh raja Daud, dia sudah berkuasa dan kaya raya, tetapi dia katakan kepada Allah: “Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu …” menyadarkan kita setiap pemberian kita adalah yang berikan Tuhan.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Dalam kesempatan apa saja kita memberi tanpa pamrih?
- Adakah ajakan menyumbang tapi dengan pamrih?
- Apakah Anda turut melayani abdi (hamba) Tuhan dalam bentuk apa saja?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, Bapa telah mengasihi, memelihara, melayani kami, kami mohon Roh Kudus menolong dan memampukan kami untuk saling mengasihi dan melayani, terutama dalam bentuk nyata, secara material. Apa yang ada pada kami dalam kebenaran dan anugerah Tuhan, untuk kami bersyukur dan saling berbagi, maka jauhkan kami dari rasa egois. Demikianlah doa kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS260224]
