admin
Posts by :
SEPERTI KASIH SEORANG IBU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yesaya 49:15 (TB2)
”Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya dan tidak menyayangi anak dari kandungannya? Kalaupun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Saat terkadang kita dihadapkan dalam sebuah pencobaan, penderitaan yang tiada ujung, kita beranggapan bahwa Tuhan tidak lagi peduli dengan kita dan bahkan melupakan kita. Ditambah dengan doa-doa yang sekian waktu lamanya juga rasanya belum juga terjawab, sehingga makin mempertegas anggapan tersebut.
Bila kita berpikir demikian, maka sebenarnya kita belum benar-benar mengenal Tuhan. Kita hanya melihat dan menilai segala sesuatu dari sudut pandang kita sendiri. Hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah mengoreksi diri.
Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; Akan tetapi, kejahatanmulah yang memisahkan kamu dari Allahmu, dan dosamulah yang membuat wajah-Nya tersembunyi dari kamu, sehingga Ia tidak mendengar.” (Yesaya 59:1-2).
Seperti ibu yang sedang menyusui, mereka memiliki sensitivitas tinggi terhadap bayinya. Sekalipun sang bayi berada di ruangan yang berbeda, sesibuk apapun, ibu akan sangat peka terhadap anaknya ketika menangis dan membutuhkan. Bila ibu di dunia ini bertindak sedemikian rupa, bukankah Tuhan juga demikian?
Tuhan lebih peka terhadap kebutuhan-kebutuhan anak-Nya dan tahu yang terbaik bagi kita. Bukankah ini menjadi suatu jaminan bagi kehidupan orang yang percaya?
Dalam minggu adven terakhir ditahun ini, mari berhenti untuk mengeluh dan bersungut ketika sedang menghadapi pergumulan, sebab tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk memeluk setiap kita dan seperti seorang ibu yang tak pernah melepaskan anaknya. Ia selalu menyayangi kita, dan tidak akan melupakan kita. Selamat menghayati minggu adven keempat dan selamat hari ibu bagi seluruh ibu di dunia. Tuhan memberkati kita.
TUNJUKKANLAH KEPADAKU JALANMU, YA TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Tunjukkanlah kepadaku jalanMu, ya TUHAN” dengan dasar dari Mazmur 86:11 “ Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama- Mu.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Dalam Mazmur ini raja Daud memohon dengan sangat agar TUHAN menunjukkan jalan yang harus ditempuhnya. Daud meyakini jika TUHAN menunjukkan jalan kepadanya, maka dia akan bisa hidup menurut kebenaran TUHAN dan mampu membulatkan hatinya untuk takut akan nama TUHAN.
Meskipun ia pernah jatuh dalam dosa, namun ia bangkit kembali dan tetap membulatkan hatinya untuk takut akan Tuhan.
Saudara-saudara, jika kita mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan, maka kita tidak akan tersesat di dunia yang penuh tipu daya ini. Kita butuh petunjuk arah agar kita tidak tersesat. Dan Firman Tuhan adalah seperti “GPS” yang terbaik yang kita miliki. Firman Tuhan dapat menghindarkan kita dari “jalan-jalan macet”, mengingatkan jika “kecepatan” kita melampaui batas, dan mampu membantu kita menemukan jalan tercepat dan teraman bagi jiwa kita. Karena itu, kita sangat membutuhkan tuntunan agar kita mengetahui dan mengenal kebenaran-Nya.
Dalam suasana perayaan Natal, kita menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Datang bukan hanya menunjukkan jalan kepada kita, tetapi Dia sendiri menyatakan bahwa diriNya adalah Jalan: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Bagi setiap orang percaya, Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Puji Tuhan!
Seperti pujian yang dinyanyikan oleh Joyful Choir dan Suara Owo Nias dalam Ibadah Minggu di GKI Kwitang nuansa Kaum Muda, sebuah lagu yang berjudul: Show Me Thy Way. Tunjukkan jalanMu, ya Tuhan. Lagu ini merupakan lagu permohonan yang dinyanyikan dengan sukacita: “Tunjukkan jalanMu, kepadaku Tuhan untuk masuk KerajaanMu.
Jika Engkau melihatku tersesat, bimbinglah aku dengan tanganMu. Aku lemah, namun Engkau kuat. Dan Engkau dapat membimbingku.
Ketika aku berlutut untuk berdoa, ajarkan aku kata-kata untuk diucapkan. Ketika teman-temanku menjadi tidak benar dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, kuatkan Tuhan imanku kepadaMu, tunjukkan jalanMu kepadaku.”
Bagaimana dengan Saudara? Bersediakah Saudara dan keluarga memohon tuntunan Tuhan untuk memasuki Kerajaan Allah? Bersediakah Saudara dan keluarga menyambut Tuhan Yesus yang datang sebagai Tuhan dan Juruselamat Saudara?
Lakukanlah saja. Itu sudah cukup.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus Kristus. Tunjukkanlah jalanMu ya Tuhan, untuk masuk KerajaanMu. Tuntunlah kami dengan sukacita menyambut Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Selamat Natal. Tuhan Yesus Kristus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM21122023)
HIDUP BUKAN HITAM PUTIH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan:
Markus 9:12-13
Jawab Yesus: “Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia.”
Tinggal beberapa Minggu lagi kita akan merayakan Natal. Merayakan Natal berarti kita sedang berbahagia karena Kasih Allah telah hadir dalam kehidupan kita.dan Ia yang telah datang itu, akan datang kembali menyongsong kita untuk hidup bersama Dia. Keyakinan iman inilah yang membuat kita menjadi tabah kuat dan setia sampai kedatanganNya kembali.
Kita menyadari bahwa di hidup kita yang sedang menantikan kedatanganNya kembali, ternyata tak selalu indah, berhasil dan sukses. Ada kala kita mengalami padang surut kehidupan. Semua itu bisa disebabkan oleh karena kejahatan orang lain, atau karena kelemahan dan ketidak sempurnaan diri ataupun karena Ada kehendak Allah, yang kita memang harus pikul. Namun sebagai orang beriman kita tetap percaya dan yakin bahwa kita tak pernah sendirian dalam segala kemalangan kita. Kita tak akan berubah menjadi buruk dan kejam karena itu semua. Mengapa? Karena kita tetap merasakan sukacita dipimpin oleh Tuhan. Kita melihat “dalam kelemahan, kuasa Tuhan nampak” (bdk 2 Kor 12:9)
Namun kita sering menjadi seperti mereka yang tak mengenal Tuhan. Memisahkan secara kaku yang baik dan buruk, yang benar dan salah ataupun yang putih dan hitam. Seolah hidup hanya terpisah oleh garis kaku; jika kamu tidak ini, maka kamu itu. Itulah yang membuat mereka/para murid dalam bacaan kita di atas, disingkapkan makna dari “anak manusia yang akan dihinakan”. Ini semua disebabkan, pada umumnya orang Yahudi/para murid itu hanya dapat memandang jika Elia sdh hadir maka Pemerintahan Mesias di bumi sdh dekat. Dan itu berarti sukacita yang tak terhingga sudah dekat. Namun Tuhan Yesus lalu mengingatkan bahwa untuk itu Ia haris mati dahulu dan dibangkitkan. Ini berhubungan erat dengan bahwa para Murid meski menerima segala proses menuju sukacita sempurna yakni bahwa: bahkan Sang Mesias itu akan menderita terlebih dahulu. Jadi penderitaan adalah jalan menuju pembebasan keselamatan bagi manusia, yang dijalani oleh Sang Mesias itu.
Dari bacaan ini, sesungguhnya Tuhan Yesus juga menghendaki agar manusia yang percaya kepada jalan keselamatan yang diberikan oleh Sang Mesias itu, bukanlah jalan yang sekedar hitam putih; Jalan buruk akibatnya mati dan jalan benar akubatnya kehidupan/keselamatan: Ada realita ditengahnya yang dapat terjadi dalam kehidupan ini, untuk mencapai kemuliaanNya yakni penderitaan. Oleh karena itulah umat diajak terbuka untuk menerima dan tetap tabah dan kuat atas segala realita lain dalam hidup ini. Karena dapat saja terjadi ada warna lain yang kita terima dalam hidup ini selain hitam dan putih; ada kenyataan lain yang akan membuat kita tabah dan berpegang terus pada Tuhan; hidup tak hanya benar dan salah: dibutuhkan keterbukaan untuk kita memahami semua yang terjadi; hidup tak hanya soal yang buruk itu salah dan yang indah itu benar, karena dapat terjadi di dalam keburukan, ada keindahan Illahi yang mau disalurkan (ingat kesengsaraan Tuhan Yesus) dan di dalam kebenaran dapat terjadi hal yang buruk (ingat para farisi yang menjadi jahat dan menyalibkan Tuhan dengan dalil menolak Kristus adalah Tuhan).
Nah umat, di minggu penantian akan Tuhan yang akan datang.kembali, marilah kita mengembangkan diri menjadi orang-orang yang terbuka, berwawasan luas, dan mengembangkan diri/belajar untuk memperoleh pemahaman atas berbagai realita yg terjadi di kehidupan kita. Menjauhkan penilaian hanya hitam dan putih, sehingga dapat menyakiti yang lain. Apakah kita akan menyalibkan Tuhan Yesus yang ke 2 kali? Segala kelemahan.
Kesengsaraan dan ketidak sempurnaan yang seringkali kita pandang harus dijauhi, kini pandanglah dengan kacamata Kristus. Ia yang sungguh sempurna saja mengalami kehidupan yang kita pandang tak sempurna, bahkan buruk. Maka kitapun akan menjadi pengikut Kristus yang menerima segala ketidak sempurnaan hidup “penderitaan” kita dan sesama kita dengan melihat dari sisi kebaikan dan kebesaran Tuhan yang mau diberikan bagi kita. Demikianlah kita menantikan kedatangan Tuhan kembali. Maranatha-Sampai Tuhan datang kembali (LiN-RH,20-12-23)
TEGUHKANLAH HATIMU DAN TINGGALLAH TENANG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yesaya 7 :1- 16
Salam sejahtera semoga kita makin teguh hati kita dan tetap tenang, tidak takut, tidak kecut ketika menghadapi tantangan yang berat dalam hidup kita seperti ungkapan dalam Yesaya 7:4 dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya.
Ketika ada dua kerajaan mau menyerang kerajaan Yehuda yang dipimpin raja Ahas, maka Tuhan berfirman kepada Yesaya untuk mengatakan kepada Ahas agar tidak takut, tidak kecut hatinya, tapi teguh hati dan tetap tenang. Bagi Allah, kemarahan kedua kerajaan yang mau menyerang Yehuda digambarkan seperti puntung kayu bakar, artinya mereka ini rapuh, mereka bisa jatuh dan hilang. Tapi Allah dan kerajaan milik Allah, tidak rapuh, sentosa, teguh, damai tetap berdiri selama-lamanya. Yesaya menerima panggilan Tuhan untuk memberitahukan kepada Ahas bahwa sisa Israel akan selamat dan akan dimuliakan bukan demi diri sendiri melainkan demi Allah. Sangat berbeda dengan kerajaan dunia yang rapuh karena ambisi mereka bertentangan dengan kehendak dan rencana Allah. Kerajaan Allah tetap kokoh sentosa, karena dipimpin Raja Yang Mulia.
Raja Ahas adalah seorang Yehuda yang telah durhaka kepada Tuhan, karena ia menyembah Baal, mengorbankan anak lelakinya untuk penyembahan, ia memasukan agama kafir dan menajiskan bait Allah. Raja Ahas ketika diserang bangsa lain, ia lebih bersandar pada sumber kekuatan dan perhitungan diri sendiri, ia telah kehilangan iman kepada Tuhan.
Ahas mengalami kepanikan, ketika menghadapi ancaman dari bangsa lain, karena itu Tuhan bersabda kepada Ahas melalui Yesaya agar ia tetap tenang dan bersandar pada Tuhan saja, karena dengan sikap demikian terletak kekuatan dan keselamatan. Ahas tidak perlu gelisah karena Allah Perjanjian menguasai bangsa-bangsa. Rencana buruk bangsa-bangsa akan digagalkan Allah. Walaupun kekuatan bangsa Yehuda tidak sanggup mengalahkan bangsa lain yang akan menyerang, tapi kekuatan Yehuda bukan dari diri sendiri tapi dari Tuhan. Bangsa Yehuda tidak akan dikalahka,n sebab Allah meneguhkan tahta Daud, dengan hadirnya Raja Damai, Raja Mulia, Immanuel. Kita mengiman firman dalam Yesaya 7:4, agar kita teguh, tetap tenang, tidak takut, tidak kecut hati menghadapi tantangan hidup kita, karena Allah menyertai kita, Raja Damai menyertai kita, berjalan bersama dengan kita dalam menghadapi tantangan, pergumulan hidup.
Keselamatan Yehuda hanya bisa dicapai dengan iman yang teguh dan sungguh-sungguh setia kepada Allah Perjanjian. Namun ketika Ahas ragu-ragu dengan perintah, kehendak Tuhan maka ia lebih percaya pada pikiran sendiri, rencana dan kebijakan sendiri. Tuhan terus meyakinkan Ahas, dengan memberi tanda Immanuel. Tapi Ahas secara munafik menolak tanda-tanda dengan alasan tidak mau mencobai Tuhan, padahal yang sebenarnya ia meragukan, menolak kehendak Tuhan. Ahas mengeraskan hati, tidak mau mendengar dan melihat firman Tuhan. Yesaya sangat kesal dengan sikap Ahas. Ketika kedukaan, kegagalan, kesulitan menimpa kita, bisa jadi kita seperti Ahas, ragu-ragu pada kehendak Tuhan dan lebih percaya pada pikiran sendiri.
Tuhan berkomunikasi dengan Ahas, melalui nabi Yesaya. Dalam komunikasi, kita menemukan bahwa terdapat dua bentuk umum tindakan yang terjadi, pertama penciptaan pesan atau lebih tepatnya penciptaan pertunjukan, kedua penafsiran pesan atau penafsiran pertunjukan (R. Wayne Pace, Don F. Faules, Komunikasi Organisasi, Remaja Kosdakara, 2002). Menafsirkan berarti menguraikan, memahami sesuatu dengan suatu cara tertentu. Dalam berkomunikasi melibatkan proses mental memahami objek, orang, dan peristiwa, yang kita sebut dalam pertunjukan pesan. Satu-satunya pesan yang penting dalam berkomunikasi adalah pesan yang berasal dari proses penafsiran. Ahas menafsirkan pertunjukan pesan dari Tuhan, namun makna yang ditafsirkan tidak sesuai kehendak Tuhan. Ahas dipengaruhi oleh kepercayaan pada diri sendiri dan kepercayaan pada berhala, sehingga tidak menerima makna dari pesan Tuhan kepadanya. Tidak mudah memindahkan makna dari pesan Tuhan kepada orang lain. Tuhan sudah berusaha memberi tanda, agar makna pesan dari Tuhan bisa dipahami, tapi Ahas menolak tanda tersebut.
Tanda dari Tuhan, Immanuel terus dikomunikasikan kepada kita pada masa sekarang, apakah kita memahami makna dari pesan Tuhan tersebut. Apakah kita menolak tanda dari Tuhan tentang Immanuel, Allah beserta kita? Apakah kita mengeraskan hati, tidak menerima makna dari pesan Tuhan ini? Apakah kita ragu-ragu terhadap makna dari pesan Tuhan ? Apakah kita lebih percaya pada pikiran rencana kebijakan sendiri ?
Makna dari Immanuel, Allah beserta kita adalah agar kita percaya Allah itu setia mengasihi kita, setia menyelamatkan kita, dan sabar menantikan kita bertobat agar diselamatkan. Allah beserta kita berarti Allah melepaskan dan menyelamatkan umat yang setia dan menghukum orang yang tidak setia dan menolak Allah, seperti Ahas yang menolak Tuhan mendapat hukuman Allah.
Tanda Immanuel, berarti Allah membuka jalan baru bagi umat Tuhan, yang mampu menolak yang jahat dan memilih hal yang baik. Tuhan beserta kita berarti Tuhan memelihara umatNya dengan cara yang ajaib. Tanda Immanuel untuk meneguhkan dan menggenapi janji-janji peringatan Tuhan, untuk menghakimi, tanda memberi kehidupan baru dan penghiburan. Tuhan merencanakan suatu bangsa yang baru berdasarkan iman dan ketaatan, kesetian pada Tuhan. Tuhan beserta kita di tengah ancaman, kekacauan, seperti ancaman yang dihadapi Ahas. Tuhan beserta kita agar kita tetap teguh hati kita pada Tuhan, tetap tenang, tidak takut dan tidak kecut hati kita, karena musuh, ancaman di sekitar, mudah dikalahkan Tuhan. Musuh atau ancaman itu seperti puntung kayu api yang berasap, mudah dipadamkan Tuhan. Tanda Immanuel memberi pengharapan baru, yang membuat kita lebih mantap dari pada ikut pertimbangan sendiri, seperti yang dilakukan Ahas.
Sangat indah mengikuti jalan Tuhan, dan bersandar padaNya sehingga langkah kita teguh, tidak takut, tidak cemas, hati tenang seperti ungkapan dalam NKB. 129 ayat 2 dan 3 . O indah benar, ikut jalanNya, bersandarkan Lengan yang Kekal. Langkahku teguh, jalanku cerah, bersandarkan Lengan yang Kekal. Reff Aman, aman dari bencana dan sesal, aman, aman, bersandarkan Lengan yang Kekal. 3. Tiada ‘ku cemas, takut pun enyah, bersandarkan Lengan yang Kekal. Hatiku tenang, ‘ku dihantarNya, bersandarkan Lengan yang Kekal.Reff. Amin
Berdoa :
Ya Tuhan kiranya kami makin teguh hati kami dan tetap tenang, tidak takut, tidak kecut ketika menghadapi tantangan yang berat dalam hidup kami, dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. amin.
SIKAP MENYAMBUT NATAL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Mazmur 57:7-9,
Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa;
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, tidak terasa, Minggu depan kita merayakan Natal bersama seluruh bangsa. Di negeri kita hari Natal itu menjadi hari libur nasional, dengan demikian secara langsung masyarakat negeri ini turut terdampak natal. Tidak semua negara meliburkan pada hari natal, pasti di Afganistan tidak menjadikan hari natal sebagai hari libur, tetapi menurut cerita seorang teman di kota Abu Dhabi (negara Islam), hari natal menjadi hari libur, bahkan di hotel, di bandara, dipasang dekorasi khas natal. Bagaimana dengan orang Kristen, Natal sangat berarti, suatu perayaan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Kelahiran awal dari kehadiran, hidup dan karya Yesus Kristus Juruselamat dunia, Allah yang lahir sebagai manusia agar Dia menjangkau seluruh kehidupan manusia untuk diselamatkan oleh-Nya.
Ayat renungan kita menyatakan kegairahan dan kesiapan hatinya untuk menyanyi dan bermazmur di antara bangsa-bangsa. Hatinya mendesak, seolah-olah tak terbendung lagi, meledak dengan nyanyian dan mazmur untuk bersyukur, sehingga dia katakan: “bangunlah” hai gambus dan kecapi, aku mau “membangunkan fajar.” Biasanya fajar yang membangunkan kita, dan kadang kita bangun kesiangan, tetapi dalam bahan renungan kita, justru dia mau membangunkan fajar, untuk bersyukur, menyanyi dan bermazmur kepada Allah. Mari apa yang kita lakukan di jemaat gereja kita, dengan menyambut Natal. Panitia Natal sudah dibentuk dan bekerja pada bulan Oktober, kelompok Paduan Suara telah berlatih lagu yang akan dinyanyikan untuk Natal, anak-anak Sekolah Minggu diberi latihan tari-tarian yang akan ditampilkan pada perayaan Natal, tak kalah usaha penggalangan dana mulai bekerja dan renana mereka agar nanti merayakan Natal dengan sukacita, gembira, meriah dan akan diberi konsumsi yang cukup. Secara tidak sadar dengan persiapan seperti ini kita hendak menyatakan: “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!” Fajar Natal, pasti datang, apakah hati kita sungguh siap bersyukur, bernyanyi dan bermazmur?
Dengan menyatakan: “Hatiku siap, aku mau membangunkan fajar Natal,” kita menyiapkan bukan saja untuk tanggal 25 Desember, tetapi di balik Natal itu kita juga menantikan kedatangan Kristus kembali. Sejauh mana kesiapan kita untuk menyambut kedatagan-Nya kembali. Tanggal 25 Desember akan berlalu, tetapi persiapan kita menyambut kedatangan Kristus kembali tidak akan berakhir, kita harus mampu mengatakan: “Hatiku siap ya Allah.” Bukan saja menyambut Bayi Yesus, tetapi kita siap menyambut Yesus Kristus Hakim terakhir dan Pembela agar kita kedapatan kudus dan suci, layak masuk Kerajaan Surga. Untuk yang satu ini siapkah hati Anda?
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bagaimana jemaat Anda mempersiapkan merayakan Natal secara umum?
- Apa yang menjadi titik pusat perayaan Natal bagi Anda?
- Di masyarakat kita Natal dirayakan oleh berbagai komunitas, oleh kantor pemerintah atau swasta, marga atau family, komunitas sekampung, dll. Menurut Anda apakah perlu perayaan Natal seperti itu?
Mari berdoa:
Bapa Tuhan Yesus Kristus, Mesias telah diutus bagi dunia, bermula di Betlehem. Dunia tidak siap menyambut Dia, hanya kandang domba, kaum gembala dan orang majus bersukacita atas kelahiran-Nya. Mesias akan datang kembali, untuk itu kami menantikan dengan persiapan hati untuk bersyukur, bernyanyi dan bermazmur, seperti kami merayakan Natal yang sudah kami siapkan di hati. Datanglah ke dalam hati kami, ya Kristus, Amin. [AS181223]
NO HOAX
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yohanes 1:23 – TB2
“Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata “hoax”_. Kata ini senantiasa dikaitkan dengan informasi atau berita, yaitu informasi atau berita _hoax. Kata hoax itu sendiri berarti palsu. Informasi hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya atau bisa juga diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta dengan menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Dengan kata lain, “hoax” merupakan tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi pesan yang benar.
Berbicara tentang hoax versus kejujuran ini mengingatkan kita tentang Yohanes Pembaptis. Sesungguhnya dengan segala keterbatasan data dan informasi saat itu, sangat mudah bagi Yohanes untuk membuat informasi hoax tentang dirinya. Banyaknya orang yang mengikuti dan mendengarkan pengajarannya dengan antusias, sebenarnya menjadi sarana yang sangat mudah untuk membuat berita hoax tentang dirinya. Bahkan ketika banyak orang meminta konfirmasi tentang siapa dirinya, sebetulnya dengan mudah dia dapat mengaku saja sebagai Elia, salah seorang nabi bahkan mesias sekalipun. Bukankah ia dapat mengeruk keuntungan dari hoax-nya itu?
Akan tetapi, Yohanes tidak tergoda untuk membuat informasi hoax tentang dirinya. Dengan jujur ia mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias, Elia atau juga salah seorang dari nabi yang akan datang. Dengan jujur, tegas dan tanpa malu Yohanes mengatakan, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya”. Bagi Yohanes Mesias yang akan datang setelah dirinya itu jauh lebih penting dan lebih agung dibandingkan dengan dirinya. Dengan sadar Yohanes menempatkan dirinya sebagai ‘fore rider’ – pembuka jalan – bagi Sang Mesias yang sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Yohanes sangat menghayati spiritualitas hamba yang dihidupinya. Bahkan dengan kerendahan hati, Yohanes merasa tidak layak untuk membuka tali kasut Tuhan Yesus. Yohanes tidak mencari keuntungan sedikitpun dari pelayanannya. Sikap ini jelas menunjukkan dipeliharanya integritas hamba Tuhan, yaitu jujur tentang dirinya sendiri. Kejujuran yang dipelihara dan dipraktikkannya itulah yang membuat Yohanes mampu melayani dengan sukacita. Dalam kejujuran terhadap diri dan sikapnya ini, Yohanes tidak mengimitasi siapapun atau berupaya menjadi orang lain. Yohanes telah menjadi dirinya sendiri dengan segala kesederhanaannya.
Di tengah-tengah gempuran informasi hoax yang datang bertubi-tubi, mari kita meneladani Yohanes yang berani untuk berperilaku jujur sebagai wujud nyata dari spiritualitas dan integritas hamba Tuhan. Turn back hoax – mari lawan hoax – dengan berani menjadi diri sendiri, bersikap jujur dan menularkan kejujuran di mana dan kapan saja. Apalagi waktu ini adalah saat penantian Sang Deus Adventus. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kadangkala ketidakberanian untuk menjadi diri sendiri, telah membuat kami ingin menjadi orang lain atau menyebarkan berita palsu demi keuntungan diri sendiri, ya Tuhan. Oleh karena itu, kami rindu untuk menghidupi sikap jujur di dalam diri kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih, Tuhan Yesus. Amin.
JANGAN HANYA MAAF DAN JANJI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 80:19 (TB2)
”maka kami tidak akan menyimpang dari-Mu. Beri kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik.. Saat ini banyak sekali anak-anak yang gemar memainkan gawai untuk mabar (main bareng) bersama teman-temannya. Tak jarang ketika mabar, terucap kata-kata cacian, hinaan, atau apapun itu yang dapat menjadi pemicu pertengkaran. Hal ini kemudian menjadikan orang tua yang mendengar memberikan ultimatum kepada anak-anak mereka. Bisa berupa hukuman, skors, dan sebagainya. Dalam situasi seperti ini, anak-anak merasa sedih dan menyesal, akhirnya dengan merengek, menyatakan kepada orang tuanya, “Iya saya salah. Saya minta maaf dan saya berjanji tidak mengulangi lagi.”
Gambaran tersebut sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel menurut kesaksian Asaf dalam Mazmur 80. Saat itu situasi Pemazmur dan bangsa Israel sedang terpuruk akibat perbuatan-perbuatan mereka yang menyimpang dari jalan Tuhan. Apabila kita perhatikan dengan jeli, seruan permohonan bangsa Israel agar Allah berkenan memulihkan mereka dinyatakan hingga tiga kali, pada ayat 4, 8, dan 20. Mereka menaruh pengharapan kepada Allah bahwa Allah akan memulihkan keberadaan mereka. Betapa ini menunjukkan kesungguhan bangsa Israel yang benar-benar merasa jera. Yang terpenting, mereka menyatakan komitmen untuk tidak menyimpang dari jalan Tuhan dan menyembah Allah dalam hidup mereka kembali. (Ay. 19).
Melalui perenungan Mazmur 80 ini, kita sadar bahwa sejatinya setiap kita yang telah melakukan kesalahan dan terpuruk karena perbuatan kita, pengakuan dosa saja tidaklah cukup. Kita tahu Allah Maha Kasih dan Maha Pengampun, tetapi kita harus melanjutkan dengan kesediaan memperbarui diri, bertobat secara sungguh-sungguh, dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali. Barulah kita bisa berharap pengampunan dan pemulihan dari Tuhan. Pengharapan dan komitmen menjadi makna yang kental di tengah penghayatan masa Adven saat ini. Mari kita melihat ke dalam diri kita yang rapuh. Kita menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Mari kita berpengharapan kepada Allah. Kita meyakini bahwa Allah akan menuntun dan menguatkan kita dalam menghadapi dan melewati keterpurukan dan krisis kehidupan. Mari kita nyatakan komitmen bahwa keterpurukan tidak akan mengubah kesetiaan kita kepada Allah, tetapi menjadikan kita semakin bersedia melakukan kehendak-Nya. Selamat berefleksi untuk kita semua.
MARANATA, DATANGLAH TUHAN YESUS!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Maranata, Datanglah Tuhan Yesus!” dengan dasar dari surat 1 Korintus 16:22-24 “ Siapa yang tidak mengasihi Tuhan , terkutuklah ia. Maranata ! Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu. Kasihku menyertai kamu sekalian dalam Kristus Yesus.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Kata “Maranata” dalam Alkitab hanya 1 kali saja, yang dicatat di dalam ayat ini. Di awal suratnya rasul Paulus mengungkap banyak masalah dalam perilaku orang-orang percaya di Korintus. Ia membahas banyak masalah doktrinal yang menghambat perkembangan rohani mereka dan memberikan beberapa peringatan keras kepada orang-orang Kristen yang berpikiran kedagingan.
Rasul Paulus menghimbau jemaat untuk waspada, berjaga-jaga, berdiri teguh dalam iman, bertindak sebagai orang beriman dengan kasih dan semakin menjadi kuat.
Rasul Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Korintus dalam pasal 16 ini dengan memberikan nasihat yang sangat serius kepada mereka yaitu untuk mempraktikkan perilaku Kristen yang pantas, menjadi dewasa dalam iman dan mengembangkan kasih seperti Kristus.
Dalam penutup surat ini, Paulus menyampaikan kata-kata yang sungguh menguatkan, tetapi juga perlu memberi kata-kata yang keras sebagai peringatan kepada jemaat: “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” Kata “terkutuk” dari kata Yunani: anathema, yang berarti: dikucilkan atau terpisah. Ketika orang tidak mengasihi Tuhan, sesungguhnya ia membiarkan dirinya terkutuk oleh karena perbuatannya sendiri dan akan mengalami hukuman pada waktu kedatangan Kristus (bdk. 2 Tes 2:12).
Tuhan Yesus telah mati di kayu salib dan menjadi kutuk agar kutuk dosa ditanggung oleh-Nya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ” Terkutuklah orang yang digantung pada tiang kayu salib !”( Gal. 3:13). Maka, siapa yang tidak mengasihi Tuhan, membiarkan diri berada di dalam kutukan!.
Kemudian Paulus mengakhiri suratnya dengan menyampaikan berkat “Anugerah Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.” Dan permohonan yang luar biasa: “Maranata – Datanglah Tuhan Yesus!”
Seperti pujian yang dinyanyikan jemaat GKI Kwitang pada Minggu-minggu Adven: Maranata, Amin. Pujian Maranata yang dinyanyikan dalam minggu-minggu Adven menggantikan pujian “Haleluya” dalam minggu-minggu biasa, mempunyai arti penting.
Bagi setiap orang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam kutuk, tetapi hidup dalam kasih karunia. Setiap orang yang hidup dalam kasih karunia pasti mengasihi Tuhan dan mengikuti perintah-perintah-Nya ( Yoh. 14:15, 21, 23, 15:14).
Setiap orang yang mengasihi Tuhan pasti mengharapkan kedatangan-Nya kembali dengan sukacita, sehingga ia dapat berkata: “Maranata, Tuhan Yesus datanglah segera.” Bagaimana dengan Saudara? Bersediakah Saudara dan keluarga menyambut kedatangan Kristus dengan sukacita?
Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Maranata!
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus Kristus. Ditengah segala pergumulan hidup kami pada zaman ini, berilah kami kekuatan untuk tetap setia mengasihi Tuhan dan sesama sampai kedatanganMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Anugerah Tuhan Yesus Kristus menyertai Saudara dan keluarga!
(AM14122023)
