Renungan Harian
PULIHKAN KEADAAN KAMI, YA TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 126
Salam sejahtera semoga kita makin dipulihkan keadaan kita menjadi pemulihan yang makin lengkap melalui perbuatan Tuhan yang besar (Mazmur 126:3-4)
Dalam NKB 170 ayat 1 dijelaskan bahwa jalan hidup tidak selalu tanpa kabut yang pekat, namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Ketika ekonomi sulit, keluarga sedang berduka, tubuh menderita sakit, atau kita bergumul dengan berbagai persoalan hidup, rasanya seperti berjalan dalam awan yang tebal dan gelap. Awan itu membuat kita kehilangan arah, masa depan terasa tak pasti, dan setiap langkah menjadi berat.
Namun, apakah kita percaya bahwa di balik awan yang gelap ada pelangi kasih Tuhan yang kekal? Bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berubah? Apakah kita yakin bahwa sehabis hujan akan tampak pelangi, sebagai tanda janji Tuhan yang teguh? Di balik kedukaan, kesulitan ekonomi, dan berbagai pergumulan hidup, kita tetap menanti dan berharap akan pelangi kasih Tuhan. Apakah ketakutan hidup kita akan sirna jika kita mengingat janji kasih-Nya yang setia?
Bangsa Israel yang hidup dalam pembuangan juga pasti mengalami masa-masa kelam. Namun justru di tengah penderitaan itulah mereka mulai menyadari bahwa mereka sangat membutuhkan pemulihan dan pertolongan dari Tuhan. Ketika akhirnya mereka kembali dari pembuangan, Mazmur ini, salah satu dari Nyanyian Ziarah, menjadi pujian syukur kepada Tuhan karena ratapan telah berubah menjadi sukacita dan harapan.
Nyanyian Ziarah. Mazmur 126 merupakan salah satu dari 15 “Nyanyian Ziarah” (Mazmur 120–134). Lagu-lagu ini diyakini digunakan oleh umat Israel saat mereka melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem, khususnya pada tiga hari raya besar Yahudi: Paskah, Pentakosta, dan Hari Raya Pondok Daun. Yerusalem secara geografis terletak di tempat yang tinggi, sehingga ziarah disebut juga “pendakian”.
Namun pendakian ini tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga spiritual—sebuah simbol mendekatkan diri kepada Tuhan, meninggalkan kehidupan lama, dan memasuki persekutuan yang lebih dalam dengan-Nya.
Pemulihan yang Membuat Seperti Bermimpi. Mazmur 126:1 berbicara tentang pemulihan yang Tuhan lakukan atas Sion. Umat Tuhan merasa seperti orang yang bermimpi, karena besarnya sukacita dan keheranan mereka. Pemulihan itu bisa merujuk pada kembalinya mereka dari pembuangan di Babel atau tindakan penyelamatan besar lainnya oleh Tuhan.
Demikian juga kita. Ketika Tuhan memulihkan hidup kita, dari penderitaan, dari dosa, dari masa kelam, rasanya seperti mimpi. Pengalaman kasih karunia-Nya begitu besar dan ajaib. Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mengingat karya pemulihan Tuhan di masa lalu agar kita tetap memiliki pengharapan di masa kini dan masa depan.
Sukacita yang Menjadi Kesaksian. Mazmur 126:2 menggambarkan tawa dan sorak-sorai umat Tuhan karena pemulihan yang mereka alami. Bahkan bangsa-bangsa lain mengakui bahwa Tuhan telah melakukan hal besar bagi mereka. Ketika Tuhan memulihkan dan memberkati hidup kita, sukacita itu seharusnya menjadi kesaksian yang hidup bagi orang lain. Sukacita kita bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk dibagikan. Dalam hidup yang penuh damai dan syukur, dunia dapat melihat Kristus melalui kita.
Mazmur 126:3 berkata, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” Ini adalah pengakuan iman dan rasa syukur yang lahir dari hati yang mengenal karya Tuhan. Sukacita ini bukan emosi sesaat, melainkan respons dari hati yang menyadari bahwa semuanya adalah karena Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan kembali karya Tuhan dalam hidup kita, dan tetap bersyukur meskipun situasi belum berubah total.
Kita Masih Membutuhkan Pemulihan. Mengapa setelah mengalami pemulihan umat Israel masih memohon pemulihan lagi? Karena hidup ini tidak pernah sepenuhnya sempurna. Selalu ada bagian-bagian dari diri, keluarga, masyarakat, dan dunia yang masih perlu dipulihkan oleh Tuhan. Kita butuh pemulihan setiap hari, sampai kita sepenuhnya masuk dalam Kerajaan Allah.
Pemulihan dari Tuhan digambarkan seperti sungai di tanah yang kering tiba-tiba dialiri air deras. Kita sudah pernah ditolong Tuhan, tetapi ada bagian hidup kita yang masih “kering” dan belum selesai. Maka kita berdoa: “Tuhan, Engkau sudah menolong kami dahulu, pulihkanlah kami lagi… lebih dalam, lebih luas, lebih lengkap.”
Menabur dalam Air Mata, Menuai dalam Sorak Sorai. Mazmur 126:5 berkata, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak-sorai.” Ayat ini menjadi janji dan penghiburan bagi mereka yang tetap setia dalam masa sulit, masa berduka. Menabur dengan air mata berarti tetap berusaha, bekerja, dan beriman walau dalam kesedihan atau penderitaan.
Menabur adalah tindakan iman. Dan menuai adalah hasil dari kesetiaan itu. Bersorak-sorai adalah sukacita yang datang sebagai buah dari kerja keras dan iman yang tidak sia-sia. Tuhan menghargai setiap air mata yang dicurahkan dalam kesetiaan.
Tetap Berjalan, Tetap Menabur. Mazmur 126:6 menggambarkan seseorang yang tetap melangkah maju walaupun menangis. Ia tidak menyerah dalam kesedihan, tetapi terus menabur benih. Dan Tuhan berjanji: orang seperti itu akan pulang dengan sorak-sorai sambil membawa hasil panennya.
Air mata dalam Tuhan tidak sia-sia. Penderitaan, kesetiaan dalam pelayanan, pengorbanan dalam keluarga, pendidikan iman yang melelahkan—semuanya akan berbuah sukacita jika dilakukan dengan iman.
Bagi orang tua yang membesarkan anak dalam iman, walaupun lelah dan belum melihat hasilnya, Tuhan menjanjikan panen rohani di kemudian hari.
Bagi para pelayan Tuhan, dan semua yang menabur Firman di tengah tantangan, Tuhan akan mengubah tangis menjadi sukacita. Kuncinya: tetap berjalan, tetap menabur, tetap percaya.
Tuhan menolong kita, membangunkan iman memulihkan kasih yang remuk. Tuhan mengubah hati kita dan Tuhan membentuk kita, seperti lirik PKJ 282 ayat 1 Tuhan, tolonglah, bangunkan iman; pulihkanlah kasih yang remuk.(2x) Ubahlah hatiku, jamahlah diriku biar di tanganMu berbentuk. Tuhan, tolonglah bangunkan iman; pulihkanlah kasih yang remuk. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan pulihkan keadaan kami menjadi pemulihan yang makin lengkap melalui perbuatan Tuhan yang besar, dalam nama Yesus kami berdoa amin.
PENGAMPUNAN DAN PEMBERSIHAN DOSA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Mazmur 51:3-4,
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan dari dosaku tahirkanlah aku!
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kita sudah memasuki Minggu Prapaskah V, menapak tilas jalan sengsara Kristus. Semua itu untuk menuntaskan tanggungan Mesias, tugas penyelamatan manusia yang selesai dikerjakan-Nya. Tetapi bagi kita apa yang harus kita lakukan agar keselamatan yang sempurna itu kita terima, menjadi milik kita? Apa bagian kita agar keselamatan itu menjadi milik kita, apa yang harus kita lakukan?
Nas renungan ini, suatu pengalaman raja Daud yang jatuh ke dalam dosa, awalnya dia merasa aman karena tidak ada yang tahu. Tetapi Tuhan tahu dan melihat dengan jelas, nabi Natan diutus Tuhan menyampaikan tegoran dengan keras menyadarkan Daud yang telah melanggar firman Tuhan. Tegoran nabi Natan itu disampaikannya dalam bentuk cerita/perumpamaan kejahatan seorang kaya yang mengambil domba seorang miskin, hanya untuk menjamu tamunya yang datang berkunjung. Daud sendiri sudah mengatakan “orang kaya” itu harus dihukum mati. Nabi Natan membukakan, Daudlah “orang kaya” itu karena pelanggaran firman Tuhan yang dia lakukan, berselingkuh dengan Batsyeba, dan atas perintahnya Panglima Uria, suami Batsyeba tewas dalam pertempuran. Atas tegoran itu, langkah awal, dengan penuh penyesalan, Daud mengaku dosa di hadapan Tuhan, sadar akan kesalahannya, dosa yang tersembunyi bagi orang lain, tetapi terang di hadapan Allah. Pengakuan dosa itu sebagai tanda hidup ini tergantung pada Allah. Dosa yang kita lakukan harus ada tindak lanjut, tidak akan selesai dengan mendiamkannya saja, kita bisa lupa karena waktu, tetapi bagi Tuhan tetap tercatat untuk diselesaikan. Pengakuan berlanjut memohon belas kasih untuk membersihkan catatan dosa itu. Tidak ada jalan untuk menghindar atau menyembunyikan dosa dari catatan hidup kita, itulah kesadaran Daud. Besar kebaikannya, banyak jasanya di hadapan Tuhan, semua itu tidak mampu melindungi Daud dari upah dosa yaitu “kebinasaan.” Berat dosa yang upahnya maut tidak bisa diimbangi oleh berat amal dan ibadah kita.
Kita beruntung darah Yesus, Anak Allah membersihkan kita dari segala dosa dan kesalahan kita. Dalam Minggu Prapaskah V ini, menyadarkan kita bahwa di dalam Kristus kita telah diselamatkan, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, tetapi oleh iman, akan karya kasih Yesus, iman itu menghubungkan kita dengan Kristus. Dalam iman kita menghayati derita yang dialami Yesus, dalam iman juga kita menerima kasih Bapa yang begitu besar, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk disucikan oleh darah Kristus.
Aplikasi:
- Bagaimana Anda mengaku dosa di hadapan Tuhan?
- Adakah dosa Anda yang Anda lupakan, dengan tidak mengakuinya di hadapan Allah?
- Bagaimana Anda memastikan dosa Anda telah diampuni Tuhan?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, di hadapan Bapa saya mengaku telah berdosa, saya sungguh berdosa, ampuni dosa saya dengan pertobatan saya meninggalkan dosa dengan hidup dalam firman Tuhan. Dalam Yesus Kristus kami berdoa, Amin. [AS070425]
”AIR MATA KUCING”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Kolose 3: 17 (TB 2)
“Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah Bapa”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, ‘air mata kucing’ merupakan nama satu jenis minuman khas dari Malaysia. Di Malaysia atau Singapura, jenis minuman ini banyak dijajakan di kaki lima. Meski namanya adalah ‘air mata kucing’, namun minuman ini tidak ada kaitannya dengan binatang kucing. Air Mata Kucing bercita rasa manis, asam dan segar. Bagi yang belum bisa membayangkan rasanya, maka air mata kucing ini seperti cincau hitam dalam bentuk cair. Namanya yang unik sejatinya diambil dari salah satu bahan pembuatnya, yakni buah kelengkeng. Di Malaysia, buah kelengkeng yang berdaging putih dan memiliki biji berwarna hitam ini kerap disebut sebagai mata kucing. Nah, ketika sudah menjadi minuman, maka olahan ini disebut sebagai air mata kucing. Air Mata Kucing sendiri merupakan air dari rebusan buah lo han kuo (yakni buah dari tanaman merambat yang berasal dari daratan Cina), buah kelengkeng, buah kundur (mirip seperti timun suri, di Jawa tengah disebut bligo), dan gula. Setelah matang, air rebusan tersebut disaring dan didinginkan. Untuk penyajiannya, air rebusan ini ditambah dengan jeruk nipis dan buah kelengkeng tanpa biji. Air mata kucing ini memiliki khasiat bagi kesehatan, yaitu: dapat mengobati panas dalam, dapat meredakan batuk, mengeluarkan dahak, dan meningkatkan vitalitas tubuh.
Saudaraku, air mata kucing mengingatkan tentang kesederhanaan namun menjadi berkat besar. Betapa tidak? Cara membuatnya tidak membutuhkan keahlian khusus, saat penyajian pun tidak perlu penampilan khusus, dan ketika dipasarkan pun tidak membutuhkan lapak yang khusus. Pendek kata: sangat sederhana! Akan tetapi, dibalik kesederhanaannya itu, terkandung berkat yang besar, yaitu: khasiat yang sangat baik bagi kesehatan tubuh. Dengan kata lain, khasiat air mata kucing itu tidak bergantung pada kemasan atau tempat penjualannya, melainkan karena memang pada dirinya sudah terkandung khasiat itu. Nah, hal ini mengingatkan tentang cara hidup anak-anak Tuhan, yaitu: dipanggil untuk menjadi berkat melalui perkataan dan perbuatan di mana dan kapan saja. Rasul Paulus mengingatkan Jemaat Kolose, demikian: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah Bapa”. Nasihat ini sangat terkait dengan tantangan iman yang dihadapai oleh Jemaat Kolose. Salah satu tantangan itu adalah paham gnostik. Paham ini mengajarkan bahwa dunia materi ini jahat dan kotor. Karena dunia materi ini jahat, maka tubuh manusia juga kotor dan jahat. Tubuh yang kotor dan jahat ini harus dikekang supaya tidak liar, dengan cara melakukan beragam ritual yang ‘menyakiti’ tubuh. Contoh: agar tidak rakus makan, maka seseorang harus “menyakiti tubuh” dengan melakukan puasa ekstrim, dll. Bagi rasul Paulus, tubuh manusia tidak dengan sendirinya jahat. Bukankah Allah hadir ke dunia dalam wujud manusia Yesus, untuk mewujudkan karya penebusan-Nya? (Lih. Kolose 1: 19,22). Oleh karena itu, Rasul Paulus mengajak Jemaat Kolose untuk membuat agar perkataan dan pebuatan itu sebagai ungkapan syukur karena telah dikasihi, dikuduskan dan dipilih menjadi anak-anak Allah melalui Kristus; bukan karena mendasarkan pada pemahaman bahwa ‘tubuh ini jahat’! Dengan kata lain, kualitas diri kita sebagai Anak-anak Tuhan teruji melalui perkataan dan perbuatan; bukan karena lahir dari garis keturunan siapa, lahir di mana, dan dari strata sosial atau pendidikan seperti apa.
Saudaraku, satu hal saya sangat meyakini bahwa perkataan dan perbuatan yang sederhana namun jika disertai dengan cinta yang besar, maka akan menjadi berkat. Oleh karena itu, mari kita tunjukkan kualitas iman melalui perkataan dan perbuatan sebagai ungkapan syukur. Seperti khasiat air mata kucing itu muncul karena memang pada dirinya terkandung khasiat itu. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk menjadi berkat melalui perkataan dan pernbuatan kami. Kiranya kami dapat mempersembahkan kehidupan kami dengan cinta yang besar kepada-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
KASIH YANG MEMULIHKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 15: 20 (TB2)
”Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada ayahnya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari menemui dia lalu merangkul dan mencium dia.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Jemaat yan terkasih, Seorang ayah yang baik selalu siap menyambut anaknya dengan tangan terbuka, tak peduli seberapa jauh anak itu tersesat. Suatu ketika, seorang pria yang sudah lama terpisah dari ayahnya memutuskan untuk kembali. Dalam perjalanan, dia diliputi rasa takut dan malu, membayangkan bagaimana ayahnya akan merespons. Namun, ketika ia tiba di rumah, sang ayah berlari menyambutnya dengan penuh kasih. Pria itu tersentuh dan sadar bahwa kasih ayahnya jauh lebih besar dari semua kesalahannya. Kisah ini mengingatkan kita pada kasih Allah yang tidak pernah berhenti menunggu kita kembali kepada-Nya.
Bacaan dari Lukas 15 hari ini menceritakan perumpamaan tentang anak yang hilang. Dalam kisah ini, seorang anak bungsu meminta bagian warisannya dan meninggalkan rumahnya untuk menjalani hidup yang liar. Ketika semua hartanya habis dan ia jatuh miskin, ia menyadari kesalahannya dan memutuskan untuk kembali kepada ayahnya. Ayahnya yang penuh kasih, tidak marah atau menolaknya, justru sang ayah berlari menyambutnya, memeluknya, dan merayakan kepulangannya dengan pesta besar. Sementara itu, kakaknya merasa iri dan kesal karena ayahnya seolah-olah lebih mengasihi si bungsu yang telah berbuat salah. Namun, sang ayah menegaskan bahwa sukacita besar terjadi karena “anak ini telah mati, kini hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk. 15:32).
Masa Pra Paskah adalah waktu yang tepat bagi kita untuk merenungkan kembali perjalanan hidup kita dan memeriksa apakah kita sudah menjauh dari kasih Allah? Seperti anak bungsu dalam perumpamaan, kita sering kali memilih jalan kita sendiri, melupakan kasih Bapa yang setia. Namun, Allah selalu menunggu kita kembali. Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk berani mengakui kesalahan, bertobat, dan kembali kepada-Nya. Bukan hanya itu, kita juga diajak untuk meneladani sikap sang ayah yang penuh kasih, dengan bersedia memaafkan dan menerima kembali mereka yang tersesat. Selamat menghayati minggu-minggu Pra Paskah, Tuhan memampukan kita.
“KAULAH HARAPANKU!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Kaulah Harapanku” dengan dasar dari Surat Roma 5:5-6 (TB 2), demikian “Pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus, yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, tahukah Saudara bahwa melalui ayat ini Tuhan mengajar kita bahwa harapan yang kita miliki dalam Kristus tidak akan pernah mengecewakan kita. Mengapa Saudara? Karena harapan kita bukan berasal dari kekuatan atau kemampuan manusia, tetapi dari kasih Allah yang dicurahkan kepada kita melalui Roh Kudus, yang membawa kita pada pengharapan yang pasti.
Apa yang dimaksud dengan “harapan yang tidak mengecewakan”? Dan bagaimana harapan itu menjadi sumber kekuatan dalam hidup kita?
Pertama, harapan dalam Kristus adalah harapan yang pasti dan aman. Ketika kita berharap pada dunia atau pada diri kita sendiri, kita mungkin akan kecewa. Tetapi ketika kita berharap kepada Tuhan, kita dapat yakin bahwa harapan kita tidak akan pernah sia-sia. Kasih Allah yang tidak pernah berubah dan Roh Kudus yang diberikan kepada kita adalah jaminan bahwa harapan kita akan terwujud, bukan hanya dalam kehidupan sekarang, tetapi juga dalam kehidupan yang kekal bersama-Nya.
Kedua, harapan tidak mengecewakan karena kasih Allah yang dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus adalah penolong yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memampukan kita hidup dalam pengharapan. Ketika kita merasa lemah atau kecewa, Roh Kudus hadir di dalam kita untuk mengingatkan kita akan kasih Allah yang tak terbatas. Kasih ini adalah dasar dari semua harapan kita.
Ketiga, harapan tidak mengecewakan karena ketika kita mreasa paling lemah, paling tidak berdaya, saat itulah kasih Allah datang melalui pengorbanan Kristus.
Keempat, harapan tidak mengecewakan karena harapan dalam Kristus memberi kita kekuatan untuk hidup, memberi kemampuan kepada kita untuk terus berjalan, meskipun dalam kesulitan. Harapan ini menguatkan kita untuk tetap bertekun dan tetap setia, karena kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Komuke sebuah pujian yang berjudul: “Kaulah harapan dalam hidupku” Sebuah pujian yang menjadi berkat bagi banyak orang. Pujian ini menyatakan: “Bukan dengan kekuatanku.’Ku dapat jalani hidupku. Tanpa Tuhan yang di sampingku. ‘Ku tak mampu sendiri. Engkaulah kuatku, Yang menopangku. Kupandang wajah-Mu dan berseru: Pertolonganku datang dari-Mu, Peganglah tanganku jangan lepaskan, Kaulah harapan dalam hidupku”
Mari kita terus berharap dalam Tuhan, karena Dia ada sumber kekuatan dan pertolongan kita yang tidak akan pernah mengecewakan. Tidak peduli bagaimana keadaan kita, kasih-Nya tetap ada dan memberi kita harapan yang hidup. Kita dapat bersaksi: “Tuhanlah harapanku, karena di dalam Tuhan kami menemukan pengharapan yang sejati dan kekuatan untuk terus maju.”
Saudara-saudari yang terkasih, kita hidup dalam dunia yang sering kali penuh dengan kegelisahan, kekhawatiran, dan ketidakpastian. Namun, firman Tuhan hari ini memberi kita pengharapan yang teguh, yang tidak akan pernah mengecewakan. Harapan kita berakar pada kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus dan pengorbanan Kristus yang datang untuk kita ketika kita masih lemah.
Oleh sebab itu dalam kelemahan, kita dapat berkata: “Kaulah, harapan dalam hidupku”. Bersediakah Saudara terus berharap kepada Tuhan? Diberkatilah orang yang menaruh harapannya pada Tuhan! Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa kami yang di surga, Engkaulah pengharapan kami, sebab Engkaulah sumber kekuatan dan pertolongan kami, Engkaulah sumber keselamatan kami. Ketika kami lemah, mampukanlah kami menghadapi berbagai tantangan hidup kami. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.
TUHAN TAHU KEBUTUHANMU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 9:10-17
Ketika kita sedang mengikuti jalan Tuhan, kita kadang mungkin bertanya-tanya: “Tuhan apakah engkau sungguh mengenal dan mengetahui segala kebutuhanku? Jika kita ragu, ini dapat menghambat kaki kita untuk melangkah dan mengikuti jalan Tuhan. Tentu bukan ini yang kita harapkan. Kita mau mengikuti jalan Tuhan selalu, karena Dialah Sang Juruselamat kita.
Apa yang membuat kita seringjali “merana” dalam hidup? Adalah ketika kita merasa sebagai orang yang paling “tidak memiliki”. Jika seorang merasa demikian, apakah ia akan sanggup dan tahan mengikuti jalan Tuhan? Seringkali yang terjadi adalah lalu ia menoleh ke sana-kemari, mencari penenuhannya atas keinginannya untuk “memiliki”. Pertanyaannya adalah seberapa besar dan seberapa banyakkah keinginan “memiliki” itu dapat terpenuhi? Apakah keinginan itu dapat dipuaskan? Apakah kita akan berhenti dan merasa cukup?
Dalam kisah “Yesus memberi makan orang banyak” ini, umat yang datang waktu tidak tampak “menuntut” untuk diberi makan. Malah sebaliknya, terdapat kesan bahwa mereka begitu antusias mengikuti Tuhan, berjalan dan mendengarkan Sabda yang keluar dari mulut Tuhan. Bisa saja ada di antara mereka yang kakinya terantuk batu, lalu berdarah, tapi itu menjadi bukan masalah. Dapat Berjalan bersama Tuhan dan mendengarkan suaraNya terus, adalah sukacita yang melampaui rasa sakit yang ada di tubuh. Menahan diri dari berbagai keinginan “nafsu”, seperti makan dll, selama berjalan dan mendengarkan suaraNya, bukan masalah besar yang dapat memberi masalah bagi dirinya, karena sekali lagi: Dapat Berjalan bersama Tuhan dan mendengarkan suaraNya terus, adalah sukacita yang melampaui “nafsu” yang ada di tubuh. Dalam peritiwa mujizat Tuhan yang memberi makan orang banyak ini, kita melihat bahwa Allah sangat mengenal dan mengetahui siapa dan bagaimana kita dengan segala keadaannya. Allah sanggup memberi kepada kita apa yang kita butuhkan, selama tujuan hidup kita adalah ada terus di jalan Tuhan. Bagi kita umat yang dikasihi Tuhan, Mengikuti kehendak Allah adalah panggilan hidup. Dalam berjalan, bekerja, dan ada dalam kebersamaan dengan keluarga dan umat Tuhan yang lain, selama semua itu masih ada dalam jalan Tuhan, maka Tuhan Allah mengerti setiap keadaan umatNya dan sanggup memberi kecukupan dan kebutuhan kepada kita.
Kita yang mengikuti jalan Tuhan akan hidup dengan kemampuan untuk melihat segala yang ada pada diri sebagai kebaikan dan kelebihan dari Tuhan sebagai dasar untuk dapat memberi kepada Tuhan. Lihatlah dalam kisah ini, Alih-alih meninggalkan jalan Tuhan atau lalu merampas hak sesamanya dan lalu malah memberi kesedihan dan sakit pada sesamanya, bisa dengan alasan: demi meredakan “sakit” dan “nafsu” diri, berlawanan dg itu lalu sikap umat malah mau berbagi dan memberi persembahan kepada Tuhan dengan apa yang ada pada dirinya (bayangkanlah: 5 roti dan 2 ikan saja untuk demikian banyaknya orang (yang dalam bacaan lain ini adalah pemberian seorang anak; gambaran mereka yang hatinya tulus dan rendah hati dan dipenuhi sukacita, gambaran hati yang bersih dalam mengikut Tuhan, sehingga mampu memberi), ini adalah pemberian yang berharga karena, dari apa yang ada padanya, bahkan mungkin seluruh apa yang ada, pemeberian seperti inilah yang DIBERKATI oleh Tuhan. Karena pemberian dari hati yang tulus, hati yang rendah dan sukacita, di tangan Tuhan dapat menjadi keajaiban yang mengubahkan secara luar biasa. Kita umat Tuhan, juga terpanggil sedemikian, agar dalam segala keadaan, kita umatNya mengikut Tuhan bahkan terus memberi diri bagiNya. Dengan tulus dan sukacita. Kita
Malah dapat menjadi alat di tangan Tuhan, sehingga dapat “memberi” diri dari apa yang ada pada kita, kita percaya bahwa Tuhan sanggup mengubahkan pemberian kita ini, di tanganNya dapat menjadi mujizat kekuatan,!pemulihan dan kelegaan dari berbagai bentuk “kelaparan” yang ada. Kita dapat menjadi tangan Allah, yang membawa “berkat” bagi mereka yang membutuhkannya. Bagj kita mungkin hal yang terlalu kecil, namun bagi mereka, itu tak mustahil adalah sebuah anugerah dan berkat/mujizat Allah yang sedang diberikan karena Allah mengetahui segala kebutuhannya. Kita dapat menjadi alat di tangan Tuhan untuk memberi mujizat mepada mereka yang sedang “kelaparan”.
Itulah sebabnya, umat yang sedang menguti jalan Tuhan, mereka akan dipenuhi oleh sukacita, karena di satu sisi percaya bahwa Tuhan Allah akan memberikan segala yang dibutuhkan dan beriman bahwa Allah sangat memahami kita, dan bahwa kita akan menjadi alatNya untuk memberi dari yang ada pada kita; yakni berbagai jenis “makanan” yang kita milki: materi, kepandaian, waktu yang kita persembahkan kepada Tuhan, agar di tanganNya, itu semua diubahkan menjadi mujizat bagi mereka yang dikasihiNya.
Doa kita adalah:
- Agar setiap orang yang “lapar” dikenyangkan oleh Tuhan Allah saja lewat berbagai berkat yang datang.
- Agar kita diberi “kekayaan” sehingga dapat memberi mereka “makan”. Demikianlah kita melihat Mujizat Allah terjadi.
- Agar kita diberi kesanggupan bersukacita dan rendah hati karena “melihat” bagaimana “kekayaan “ dari Tuhan telah hadir dan diberi kemauan dan kemampuan untuk melegakan mereka yang “lapar”.
Kita percaya Tuhan memahami dan memberi kebutuhan kita dan kita akan terus memberi bagi Tuhan. Kiranya kuasa Tuhan Allah yang menyempurnakan dan mengubahkan membuat kita dapat melihat, dengan sukacita, segala pemberian dan mujizat Tuhan dalam hidup kita. Amin (LiN-RH, Rabu 02-April-2025)
BAHAGIA KARENA DIAMPUNI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 32: 1-11
Salam sejahtera! Semoga kita semakin merasakan kebahagiaan karena mengalami pengampunan dari Tuhan atas kesalahan dan dosa kita, seperti pengalaman pemazmur dalam Mazmur 32:1-2. Dahulu ia memiliki hati yang menipu, tetapi setelah diampuni oleh Tuhan, ia berubah dan tidak lagi berjiwa penipu.
Minggu Prapaskah IV sering disebut sebagai Minggu Laetare atau Minggu “Bersukacitalah.” Minggu ini menandai titik pertengahan masa Prapaskah dan menjadi momen penghiburan serta pengharapan di tengah pertobatan dan refleksi yang dijalani. Salah satu contoh belas kasihan dan pengampunan Allah dapat kita lihat dalam kisah anak yang hilang (Lukas 15:11-32), di mana sang anak bungsu mengalami kebahagiaan karena diampuni dan diterima kembali oleh Bapa, sementara anak sulung justru tidak merasakan sukacita karena hatinya penuh dengan kepahitan.
Minggu Prapaskah IV membawa harapan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya. Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan memberikan hidup yang baru, yang mengarah pada sukacita kebangkitan yang akan dirayakan pada Paskah. Masa ini mengingatkan kita untuk memperbarui iman, semakin mendekat kepada Tuhan, dan mengalami sukacita sejati dalam kasih-Nya. Di tengah perjalanan pertobatan, Allah tetap menyertai kita dengan kasih dan penghiburan-Nya.
Mazmur 32: menjelasakan tentang pengampunan yang membawa Kebahagiaan. Mazmur 32 mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaan karena pengampunan dari Tuhan. Pemazmur menceritakan penderitaannya saat berusaha menyembunyikan dosa, hingga akhirnya ia mengakuinya dengan jujur di hadapan Tuhan dan menerima pengampunan-Nya.
Pengakuan dosa merupakan bentuk kerendahan hati dan kejujuran terhadap diri sendiri. Ketika pemazmur tidak jujur dan menyembunyikan dosanya, ia mengalami penderitaan yang begitu dalam hingga berdampak pada kondisi fisiknya. “Tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari” (Mazmur 32:3). Hal ini menunjukkan bahwa beban dosa dapat menguras kekuatan fisik dan mental seseorang. Pengakuan dosa dihadapan Allah merupakan sesuatu yang penting dan menjadi jaminan perlindungan serta bimbingan-Nya bagi mereka yang hidup dalam pertobatan. Pengakuan dosa membawa pemulihan, bukan penghukuman, dan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang-orang yang bertobat.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada jemaat yang mengalami kesulitan ekonomi, sakit penyakit, kedukaan, masalah keluarga, dan pergumulan pendidikan anak. Tidak jarang, beban hidup yang berat membuat kita merasa tertekan dan kehilangan harapan. Namun, Mazmur 32 mengingatkan bahwa penderitaan bukan hanya datang karena kesulitan hidup, tetapi juga bisa muncul akibat dosa yang belum diakui. Tuhan menghendaki agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang hancur dan jujur, sehingga kita dapat mengalami pemulihan sejati. Beban hidup jangan ditambah dengan hati yang tertekan seperti pemazmur. Kita harus mengakui dosa, pelanggaran, agar di tengah beban hidup kita tetap kuat, tegar, karena Tuhan memulihkan hati, memberi damai, sehingga kita kuat menghadapi pergumulan hidup kita.
Ketika kita sakit, berduka, ekonomi sulit jangan kita berpikir hanya kita saja yang berdosa, orang lain tidak berdosa. Kita berpikir sesuai dengan firman Tuhan bahwa semua orang berdosa (Roma 3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa….), hanya Yesus yang tidak berdosa (2 Korintus 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa…). Kita tidak boleh menghakimi bahwa penyakit, kedukaan, kesulitan ekonomi, bencana, kecelakaan yang dialami orang lain itu karena ada dosa yang disembunyikan. Kita sama-sama orang berdosa jangan menghakimi satu dengan lainnya. Semua orang yang sakit, dan tidak sakit, yang berduka dan tidak berduka, yang kesulitan ekonomi dan yang tidak, yang kecelakaan dan tidak kecelakaan semuanya diminta Tuhan jujur mengakui dosanya, tidak disembunyikan agar mendapat kebahagian, kekuatan dalam menghadapi pergumulan hidup, dan tidak makin tertekan hatinya.
Dalam Perjanjian Lama, terdapat pemahaman bahwa dosa dan penyakit sering kali berkaitan, seperti dalam Bilangan 12:10 ketika Miryam terkena kusta akibat dosanya. Namun, dalam Perjanjian Baru, Yesus mengajarkan bahwa tidak semua penderitaan terjadi karena dosa pribadi (Yohanes 9:1-3). Penderitaan bisa menjadi kesempatan bagi Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, setiap kesulitan yang kita alami, baik karena dosa maupun pergumulan hidup lainnya, hendaknya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan.
Allah mengampuni dan memberi Hidup yang Baru. Karena tidak lagi mampu menahan penderitaannya, pemazmur akhirnya mengakui dosanya kepada Tuhan. Ia menyadari bahwa kejujuran di hadapan Tuhan adalah satu- satunya jalan menuju kebahagiaan sejati. Tuhan menjawab pengakuannya dengan kasih-Nya, mengampuni segala kesalahannya.
Tuhan senantiasa memperhatikan manusia dan berusaha menyelamatkannya. Namun, jika manusia menolak kasih-Nya, mereka akan mengalami penderitaan seperti orang fasik. Sebaliknya, orang yang percaya kepada kasih setia Tuhan akan dikelilingi oleh kebaikan-Nya. Oleh karena itu, kita diajak untuk hidup dalam kejujuran, menjauh dari dosa, dan mengalami sukacita sejati di dalam Tuhan.
Sukacita pengampunan tidak dapat dirayakan sendirian. Pemazmur mengajak semua orang benar dan jujur untuk bersorak-sorai memuji Tuhan. Kebahagiaan terbesar adalah ketika seseorang merasa diterima dan dikasihi kembali oleh Allah. Inilah kebenaran iman yang ditegaskan juga oleh Rasul Paulus dalam Roma 4:7-8, bahwa manusia dibenarkan oleh Tuhan bukan karena perbuatan hukum Taurat, tetapi karena iman. Pemazmur diampuni dosanya bukan karena ritual keagamaan, tetapi karena ia percaya pada kasih setia Tuhan dan dengan jujur mengakui dosanya.
Pengampunan dari Allah begitu kuat sehingga orang yang menerimanya dapat memulai hidup yang baru. Namun, pertobatan tidaklah mudah karena menuntut kerendahan hati dan keberanian untuk meninggalkan dosa. Oleh karena itu, kita harus terus berjuang untuk hidup dalam kebenaran dan selalu datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur.
Yesus mencari dan menyelamatkan orang berdosa. Tuhan selalu mencari orang yang berdosa. Ketika kita datang kepada-Nya dengan hati yang rendah, Ia akan menyambut dan mengampuni kita. Seperti ungkapan lirik lagu KJ 383 ayat 2: Ia cari yang berdosa, cari dikau pun. Datanglah, rendahkan hati, s’rahkan dirimu! Dulukala Ia sambut orang bercela; kini dikau pun disambut, diampuniNya. Reff: Baik kemarin, hari ini, s’lama-lamanya Yesus Kristus tak berubah, puji namaNya! Puji namaNya, puji namaNya! Yesus Kristus tak berubah, puji namaNya! amin
Berdoa:
Ya Tuhan, kiranya kami semakin merasakan kebahagiaan karena mengalami pengampunan dari Tuhan atas kesalahan dan dosa kami. Kiranya kami diubahkan untuk tidak lagi berjiwa penipu, tetapi hidup dalam kejujuran dan kasih-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
KEMATIAN MANUSIA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 3:19,
Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu, engkau akan kembali menjadi debu.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kita sudah memasuki Prapaskah ke-4. Renungan hari ini mengingatkan kita tentang KEMATIAN MANUSIA, bahkan kematian bagi semua makhluk. Sebelumnya kita mendengar bagaimana Allah menciptakan “kehidupan” bagi semua makhluk, bahkan bagi tumbuh-tumbuhan, bagaimana Tuhan meletakkan hukum alam yang seolah-olah hidup beredar, dalam pergantian musim, yang menjadi bagian alam raya ini.
Oleh nas renungan ini kita dikejutkan, akibat dosa yang dilakukan manusia adalah kematian, seperti yang sudah diperingatkan sebelumnya. Karena dosa maka semua ciptaan Tuhan itu menunjuk pada kematian bagi semua makhluk, seperti usia tua, tanda ketuaan, penyakit dalam segala jenisnya, permusuhan, baik pada sesama manusia, juga antara binatang saling memangsa. Sebelum manusia berdosa, semua makhluk hidup damai berdampingan. Pelanggaran firman Tuhan menjadi dosa, menyatakan kebergantungan manusia kepada Sang Pencipta, karena itu dia akan kembali menjadi tanah, karena dari situlah dia diciptakan. Percaya atau tidak (ateis atau beragama), kita bergantung pada Sang Pencipta, dosa yang dilakukan manusia membawa dia kembali menjadi tanah. Kematian membuat manusia yang awalnya sebagai kebanggaan Allah, mulia dan berkuasa atas seluruh ciptaan, oleh dosa merosot, terhina menjadi fana di hadapan Allah. Salah satu dari kemerosotan ini yaitu, perjuangan yang keras mencari makan, perjuangan yang telah ditunggangi oleh dosa, sehingga menjadi perjuangan yang jahat, seperti mencuri, merampok, korupsi, manipulasi, cemburu, iri hati, dst.
Masa Prapaskah, menjadi masa yang baik untuk menyadari keadaan kita sebagai orang berdosa, namun tidak menangisi keadaan itu, tetapi bangkit, bertobat, meninggalkan dosa, dan mencari kebenaran hidup. Karena kemerosotan itu, menjadi seruan untuk bertobat, untuk pertobatan itu kita tidak sendiri, telah diberikan Juruselamat Penebus dosa, telah ditunjukan jalan pertobatan, untuk kembali kepada Allah. Perjalanan hidup di jalan yang ditunjukkan firman Tuhan, membuat hidup kita menjadi berarti bagi Allah, karena hidup sesuai dengan kehendak-Nya, dan berguna bagi sesama. Sungguh, akhirnya kematian membawa kembali kepada debu, namun oleh Juruselamat merobah debu yang fana menjadi kehidupan bersama dengan Dia. Tubuh yang fana ini akan mengenakan tubuh yang abadi dalam kemuliaan Allah, dengan demikian kita patut menghargai kehidupan ini.
Aplikasi:
- Betulkah Anda bergantung kepada Allah saat usaha yang gigih Anda berhasil?
- Bagaimana Anda menghargai anugerah Allah, saat kerja keras memberi hasil?
- Dosa apa yang membuat Anda harus kembali kepada Allah.
Mari berdoa:
Bapa, Sang Pencipta, kami ciptaan-Mu yang sudah menjalani hidup kami. Banyak hal yang kami alami, suka-duka, untung rugi, akhirnya kami harus memasuki kematian. Kami bersyukur bila kematian menjemput kami, karena kami kembali ke hadirat Sang Pencipta bersama Yesus Kristus. Amin. [AS310325]
”BIR PLETOK”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 1 Samuel 16:7 (TB 2)
“Tetapi, TUHAN berfirman kepada Samuel, “Jangan pandang rupanya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan seperti yang dilihat manusia, sebab manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, pernah suatu kali saya menawarkan ‘bir pletok’ kepada salah seorang anggota jemaat yang berkunjung ke Pastori Duren Sawit. Kebetulan, saya baru saja membeli beberapa botol bir peltok produksi SLB Surya Wiyata. Namun, ternyata anggota jemaat ini berkata, “masa Pak Pendeta menawarkan bir kepada kami. Enggak, pak. Kan kita tidak boleh minum bir”. Banyak orang salah sangka terhadap bir pletok. Meski bernama ‘bir’, namun sejatinya minuman ini tidak mengandung alkohol sama sekali. Bir pletok adalah sejenis minuman penghangat khas masyarakat Betawi. Bahan baku utama minuman ini adalah jahe dan secang, serta berbagai macam rempah-rempah lainnya. Jahe sebagai komponen dengan porsi paling besar menyumbang rasa pedas dan hangat yang dominan. Sementara, secang digunakan sebagai pewarna merah cokelat alami. Pada umumnya, jahe yang digunakan mencakup jahe emprit, jahe gajah, jahe merah, atau kombinasi dari ketiganya. Ada juga yang menambahkan kencur, temulawak, dan temu kunci untuk menambah rasa. Dalam mengolah bir pletok, digunakan juga rempah kering dan rempah segar. Rempah kering yang digunakan adalah: adas, bunga lawang, cabai jawa, cengkeh, jintan hitam, kapulaga, kayu angin, kayu manis, kayu mesoyi, dan pala. Sedangkan rempah segarnya adalah: daun pandan wangi, daun jeruk purut, dan serai. Sebagai minuman berbahan rempah, bir pletok kaya akan kandungan senyawa antioksidan fenol yang mampu menangkal radikal bebas. Oh ya, pada tahun 2014, minuman ini sudah diakui sebagai warisan budaya takbenda di tingkat nasional. Dan melalui Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2015 serta Peraturan Gubernur Nomor 11 tahun 2017, pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan bir pletok sebagai salah satu dari delapan ikon kebudayaan Betawi yang wajib didukung pelestariannya.
Saudaraku, seringkali kita bersikap ‘judge the book by it’s cover’. Maksudnya menilai seseorang atau sesuatu hanya dari penampilannya saja tanpa melihat kualitas yang sesungguhnya. Dalam proses suksesi kepemimpinan umat, Tuhan mengutus Samuel untuk pergi ke rumah Isai dari suku Yehuda yang tinggal di Betlehem. Tuhan menunjukkan bahwa salah seorang anak Isai akan diurapi menjadi raja Israel menggantikan Saul. Saat melihat Eliab yang berperawakan tinggi besar, samuel berpikir bahwa dialah yang akan diurapi. Bagaimana respon Tuhan? Alkitab memberikan kesaksiakan sebagai berikut: “Tetapi, TUHAN berfirman kepada Samuel, “Jangan pandang rupanya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan seperti yang dilihat manusia, sebab manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati”. Respon terhadap apa yang dipikirkan oleh Samuel ini menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan dapat membaca hati, sikap, dan motif seseorang. Tuhan tidak terpengaruh oleh penampilan luar, perbuatan baik, atau kata-kata yang manis dari bibir seseorang, karena semua itu bisa menutupi hatinya yang penuh dengan tipu daya. Penampilan memang bisa menipu. Di akhir kisah diceritakan bahwa Samuel mengurapi Daud yang saat itu baru dijemput dari padang penggembalaan. Pipi Daud kemerah-merahan, matanya indah dan wajahnya tampan. Sejarah membuktikan bahwa pilihan Allah tidaklah salah. Meski bukan manusia sempurna, namun Daud dapat menunjukkan kualitas hidup yang baik. Dalam hidupnya, Daud sungguh mempercayai dan mengandalkan Tuhan (1 Sam. 17:45), bukan pendendam (1 Sam. 24:11), mau mendengarkan kritik dari orang lain (2 Sam. 12:13) dan mau bertobat dari kesalahannya dengan sungguh-sungguh (2 Sam. 12:16).
Saudaraku, “dont’t judge the book by it’s cover”! Samuel sebagai hamba Tuhan bisa saja keliru ketika hanya melihat penampilan seseorang, bukan? Meski namanya ‘bir pletok’, namun ternyata ia adalah minuman tanpa alkohol dan mengandung anti oksidan yang baik. Nah, yang penting bagi kita adalah jangan berusaha untuk menyenangkan hati manusia, tetapi marilah kita berjuang untuk menyenangkan hati Tuhan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, mampukanlah diri kami untuk memiliki hati yang bersih sehingga tidak mudah untuk menilai orang lain dari penampilannya saja. Tolonglah kami juga, bila dengan ketulusan kami rindu untuk berupaya menyenangkan hati Tuhan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
