firman
TUHAN LEBIH HEBAT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 93: 1-5
Salam sejahtera, semoga kita makin lega dan berserah pada Tuhan karena memahami bahwa Tuhan lebih hebat dari kekuatan alam, kekuatan dunia, seperti diungkapkan dalam Mazmur 93:4 Dari pada suara air yang besar, dari pada pecahan ombak laut yang hebat, lebih hebat TUHAN di tempat tinggi.
Melalui Mazmur 93 ini, kita diajak untuk mengimani bahwa Tuhan adalah Raja yang kekal, tahtaNya sangat kokoh, peraturanNya teguh. Warga Kerajaan Allah akan memuliakan Tuhan sepanjang masa. Tuhan adalah raja bagi semua orang di muka bumi. Kekuatan gaib, kekuatan alam, kekuatan tokoh terkenal, kekuatan diri sendiri, kekuatan teman, tidak bisa menjadi raja atas kehidupan kita, hanya. Tuhan yang menjadi raja dan berkuasa. Kita sebagai warga Kerajaan Allah, akan mengikuti peraturan Tuhan yang teguh. Tuhan akan menghakimi seluruh bumi dengan peraturanNya yang teguh itu.
Tuhan Raja, berpakaian kemegahan, simbol kekuatan, keperkasaan, siap untuk bekerja atau bertempur untuk melawan musuh yang merusak, mengganggu warga Kerajaan Allah. Kekuasaan Tuhan di dunia ini sudah tegak sebelum dunia diciptakan, dan saat dunia diciptakan, sampai sekarang, sampai selama-lamanya. Kekuasaan, kekuatan Tuhan, tidak goyah, tidak ada yang mampu mengalahkan. Kuasa Tuhan sangat megah, sudah dibuktikan saat membelah laut Teberau dan melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, pengejaran Firaun dan perbudakan Babilonia. Tuhan sanggup berbuat apa saja, dan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kekuatan Tuhan dijadikan ikat pinggang-Nya. Kekuatan Tuhan ini tidak diambil dari siapa pun. Tuhan tidak bergantung pada siapapun dalam menggunakan kekuatanNya. Tuhan memilikinya sendiri, dan dengan kekuatanNya, Ia berbuat apa saja sesuai kehendakNya. Janganlah kita takut pada kekuatan manusia, yang hanya dipinjam dan terbatas, tetapi takutlah pada Tuhan Raja yang mempunyai kuasa untuk membunuh dan mencampakan musuh-musuh ke dalam neraka. Neraka adalah tempat ketika Tuhan mengusir orang dari Kerajaan Allah, seperti Adam dan Hawa diusir dari Taman Firdaus. Neraka adalah tempat raja kegelapan, warga kerajaan kegelapan yang taat setia pada iblis, yang hatinya dikuasai nafsu cabul, kejahatan keburukan, tidak mau mengasihi Tuhan dan tidak mengasihi sesama, tidak mau melayani Tuhan, hanya melayani nafsu kedagingan diri sendiri.
Keperkasaan Tuhan menjamin bahwa pemerintahan-Nya tetap dan tidak goyah. Badai yang mengamuk dan gelombang yang memukul-mukul, tidak dapat menggoncangkan takhta-Nya yang kekal. Tuhan lebih hebat dari ciptaan, Tuhan pasti menang atas kekuatan-kekuatan jahat, kegelapan, kuasa iblis.
Peraturan Tuhan itu sangat teguh, tidak bisa ditawar, tidak bisa diubah manusia, dari sejak dulu sampai selama-lamanya. Inti dari peraturan Tuhan adalah mengasihi Tuhan, melayani Tuhan dan mengasihi sesama serta melayani sesama. Kalau dilanggar peraturan Tuhan tersebut pasti kena hukuman Tuhan. Hukuman Tuhan dilakukan dengan adil, benar, dan kasih. Kasih dalam arti kalau orang menyesali dosa akan diampuni, ditebus dosanya diperbaharui melalui darah Yesus. Orang yang tidak mau menyesali dosa, tidak mau ditebus Yesus, akan dihukum dengan mencoret namanya dari buku catatan Kerajaan Allah.
Tuhan Raja mempunyai peraturan, ketetapan, kehendak. Peraturan, ketetapan, kehendak Tuhan lebih hebat dari peraturan raja dunia, peraturan ahli Taurat dan Farisi. Percaya kepada Tuhan Raja, membawa ketenangan, kepastian hidup, kepastian iman. Hidup sebagai warga Kerajaan Allah, diatur, dipimpin Tuhan, maka sebagai warga Kerajaan Allah kita, tidak perlu kuatir, dan kita menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Tidak semua orang percaya pada Tuhan sebagai Raja, pencipta, pemelihara. Beberapa tokoh ilmuwan, pemimpin dunia senang menyingkirkan kuasa dan kemegahan Tuhan sebagai Raja, agar orang tidak memuliakan Tuhan, tapi memuliakan ilmu pengetahuan dan kekuatan manusia. Karena pengaruh tokoh ini, orang akhirnya tidak percaya Tuhan, hanya percaya pada diri sendiri dan tokoh tertentu.
Iblis, kuasa jahat, kuasa kegelapan adalah musuh yang mau menghancurkan warga Kerajaan Allah di dunia ini. Tapi Tuhan Raja yang perkasa akan melindungi wargaNya. Tuhan mampu menaklukan musuh, memelihara agar wargaNya, taat, setia dengan peraturan Kerajaan Allah. Tuhan sungguh-sungguh mengarahkan dan mengatur semua makhluk dan segala perbuatan warga Kerajaan Allah, agar sesuai dengan keputusan, kehendak-Nya sendiri. Musuh-musuh Kerajaan Allah besar dan mengerikan, namun kita tidak takut pada mereka, karena kemegahan Allah akan mengalahkan mereka.
Tuhan lebih hebat dari kuasa raja dunia, lebih hebat kuasa iblis, lebih hebat dari uang, materi. Oleh sebab kita akan mencari lebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka Tuhan akan menambahkan semua kebutuhan umatNya (Matius. 6:33). Mencari Kerajaan Allah dan kebenaranNya berarti kita terus-menerus, mencari dengan sungguh-sungguh dan tekun seperti pedagang mencari mutiara indah (Matius 13:45). Mencari Kebenaran-Nya berarti melalui Roh Kudus, kita harus berusaha untuk menaati perintah Kristus, memiliki kebenaran Kristus, dan menunjukkan kasih Kristus terhadap semua orang. Warga Kerajaan Allah tidak mengutamakan aturan dunia yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan, tidak mengutamakan harta benda, atau uang. Cara hidup dalam Kerajaan Allah tidak munafik seperti orang-orang Farisi. Mencari dahulu Kerajaan Allah artinya warga kerajaan Allah sudah bersumpah setia kepada Tuhan Raja, memusatkan perhatian pada nilai-nilai kebenaran Tuhan dan bersandar penuh kepada Allah; dan Allah yang mengetahui berbagai kebutuhan warga Kerajan Allah.
Ketika kita mengimani bahwa Tuhan lebih hebat, maka kita lebih ingin memuji Tuhan, menyenangkan hati Tuhan dengan mengerjakan perintah dan ketetapan Tuhan Raja. Kita tidak perlu cemas atas keinginan menyenangkan diri kita sendiri. Kita mencari lebih dahulu Kerajaan Allah, dengan memikirkan dan mengutamakan perintah, ketetapan Tuhan. Kita mencari tujuan hidup kudus. Kita mencari penghiburan yang berasal dari Tuhan sebagai satu-satunya yang membawa kebahagiaan. Kita mencari kemuliaan, kehormatan, dan kekekalan dari Tuhan. Marilah kita memuji Tuhan yang lebih hebat, bersama-sama. Kita memuji Tuhan yang perkasa, kebesaran Tuhan yang sungguh hebat seperti ungkapan PKJ 33 Pujilah Allah mengingat keperkasaanNya; Pujilah Dia, kebesaranNya sungguh hebat. Reff: Haleluya, Haleluya. Segala makhluk puji Tuhan! Haleluya, Haleluya. Bersama-sama puji Tuhan! amin
Berdoa: Ya Tuhan kami percaya bahwa Tuhan lebih hebat dari semua kekuatan di dunia ini, Tuhan lebih hebat dari pengetahuan dunia, peraturan Tuhan lebih hebat dari semua peraturan di dunia ini. Kami berserah pada kuasa dan keperkasaan Tuhan. Kami yakin Tuhan akan memimpin hidup kami kepada kebaikan, kebenaran, kemuliaan, kebahagian damai dan adil. Mempercayai Tuhan lebih hebat membuat kami tidak kuatir akan hidup kami, dan membuat kami selalu memuji kekuatan, keperkasaan, kehebatan Tuhan, dalam Yesus kami berdoa amin.
HATI SEBAGAI HAMBA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bapak Ibu dan Saudara sekalian yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem.
Masih dalam Bulan Pengajaran GKI Kwitang, hari ini kita merenungkan tema “Hati Sebagai Hamba”. Firman Tuhan yang mendasari renungan kita terambil dari surat 1Korintus 4:1-2 “ Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan- pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai ”
Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang yang mendengar Firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Kalau saya bertanya kepada Anda, Anda mau pilih mana: menjadi tuan atau menjadi hamba? Saya yakin banyak di antara Saudara akan menjawab: pilih menjadi tuan! Sebab kalau menjadi tuan itu akan terhormat, berkuasa, dapat berbuat apa saja dengan kekayaan yang dimiliki, dsb. Sedangkan kalau menjadi hamba, biasanya akan diremehkan orang, tidak punya hak atau kedudukan serta jabatan yang tinggi, dsb.
Rasul Paulus dalam ayat ini justru mengatakan: “Demikianlah hendaknya orang memandang kami sebagai hamba-hamba Kristus”.
Rupanya Paulus merasa bangga ketika orang memandang dirinya dan teman-teman sebagai hamba-hamba Kristus. Paulus meyakini bahwa kepada setiap hamba milik Kristus, kepadanya telah dipercayakan rahasia Allah, yaitu misteri anugerah keselamatan di dalam Kristus. O, luar biasa!
Saudara-saudara, tahukah Anda bahwa sebenarnya kita adalah hamba-hamba Kristus, karena kita sudah ditebus menjadi milik Kristus. Dan kepada kita dipercayakan hal-hal yang berharga, maka haruslah kita dapat membuktikan bahwa kita adalah pelayan-pelayan Kristus yang dapat dipercayai.
Bagaimana membuktikan bahwa kita adalah hamba-hamba yang dapat dipercayai? Kita dapat dipercayai jika kita mempunyai hati seperti Kristus dalam pelayanan dan dalam kehidupan sehari-hari: Pertama, Kristus yang memiliki kerendahan hati, Ia rela mengambil rupa sebagai Hamba. Kedua, Kristus yang taat dan setia kepada Bapa dalam menjalankan tugas misi menyelamatkan dunia. Ketiga, Kristus yang menyatakan kasih yang luar biasa dengan pengorbanan-Nya untuk kita. Keempat, Kristus yang mengajar kita sebagai murid-murid-Nya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayan (doulos) mu”.
Tuhan menginginkan kita memiliki hati sebagai hamba yaitu memiliki keempat hal di atas. Jika demikian, kita adalah hamba yang dapat dipercayai. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dipersembahkan oleh pasangan suami-isteri anggota jemaat GKI Kwitang sebuah lagu yang berjudul: “Hati sebagai Hamba”. Sebuah lagu rohani kontemporer yang menceritakan hati seorang hamba, yaitu hati yang mau taat dan setia kepada Bapa. Seorang hamba di mana saja berada membawa hati yang menyembah kepada Bapa dalam Roh dan Kebenaran sampai selamanya.
Hati seorang hamba menyadari bahwa kita datang ke dalam dunia tidak membawa apa-apa. “Kutinggalkan semua pada akhirnya, saat ku kembali ke surga.”
Sebab segala yang ada pada kita, bukanlah milik kita, tetapi milik Tuhan. Maka kita berani bersaksi: “Inilah yang kupunya, hati sebagai hamba”.
Saudara-saudara, bersediakah Anda mewujudkan “hati sebagai hamba” itu dalam perilaku kehidupan sehari-hari? Mulailah dari tengah-tengah keluarga atau rumah tangga masing-masing, kemudian di tempat kita bekerja atau bermasyarakat, terlebih dalam pelayanan dan persekutuan di tengah-tengah jemaat Tuhan. Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Mu ya Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami. Karuniakanlah kepada kami hati seorang hamba, sehingga kami dapat menjadi hamba-hamba-Mu yang taat dan setia sampai selamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM 18112021)
WASPADALAH JIKA DOSA SUDAH MENGINTIP
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 2
Bacaan: Kejadian 4: 3-16
Dalam kehidupan, kita sering berhadapan dengan tantangan. Tantangan memang ada, jika kita ingin semakin maju dan ‘naik level’. Bagi kita yang menyadari hal ini, maka kita akan melihat tantangan itu sebagai suatu yang menggairahkan, karena keyakinan kita sedang diberi kesempatan untuk ‘naik level’. Namun bagi orang-orang tertentu, entah bagaimana, tantangan menjadi beban yang tak menyenangkan.
Ingatlah,bahwa dalam menghadapi tantangan hidup, itu tak ada jumlah waktunya. Batas jumlah waktu, kitalah yang memberikannya, dan seringkali malah membuat kita semakin tertekan, lalu melakukan kesalahan yang malah membuat kita semakin terpuruk ke depannya. Lalu kemungkinan besar, jika kepribadian kita masih dikuasai oleh mental yang sama, maka kejadian yang sifatnya sama dalam bentuk yang berbeda, akan terulang kembali.
Orang Kristen mesti belajar dari kesalahan Kain. Kain, pada satu ketika memiliki masalah yakni persembahannya tak diterima. Kelihatannya ia menjadi marah karena hal itu. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan dapat saja dialami oleh setiap orang yang gagal. Namun pertanyaannya: apakah kita mau menyerahkan diri kita uy dikuasai oleh kemarahan, kesedihan dan kekecewaan itu? Tuhan bukan tidak datang padaNya. Tuhan datang padanya dan menanyakan: mengapa hatimu panas dan mukamu mu muram? Tuhan yang maha tahu itu memahami bahwa penyebab dari panasnya hati dan muka yang muram keluar dari hati yang buruk. Nah bagian ini dapat pelajari. Kita dapat memahami bahwa sumber dari segala panasnya hati kita karena kita dikuasai oleh hati yang buruk. Menurut saudara, hati buruk bagaimanakan yang dimiliki oleh Kain saat itu? Menurut saya kain egois, maunya merasa paling hebat sendiri, dan tak bisa menerima kekurangan pada dirinya. Alih-alih menerima kekurangan diri lalu belajar untuk terus memperbaiki dan bersyukur selalu atas berkat Tuhan (begitulah hidup kan? Menerima dan belajar, dan terus bersyukur) malah Kain membiarkan kemarahannya berubah menjadi tindakan praktis yang kejam. Mengapa sih kain bisa berlanjut dengan tindakan kejam itu? Karena ia membiarkan dosa yang telah mengintip itu untuk masuk dalam hidupnya dan kemudian berkuasa.
Dengan kisah Alkitab ini kita diingatkan agar kita tak membiarkan masuk dosa yang telah mengintip dalam kehidupan kita ketika amarah dan kesedihan datang, jangan buka pintu hati dan pikiran kita untuk membiarkan segala bentuk duka di atas mengambil alih diri kita. Kuta terpanggil untuk melihat Tuhan yang telah siap menjadi tempat kita untuk mengadu segala duka yang kita alami itu. Saat itu Tuhan juga datang dan membuka HatiNya untuk menjadi sahabat kita yang mau mendengarkan bahkan Ia juga mau menguat kan kita. Ia juga bertanya kepada kita: Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?. Yakinlah Tuhan tak pernah melupakan dan meninggalkanmu, walau kita buruk dan lemah sekalipun.
Kita sangat membutuhkan Tuhan di jalan hidup kita, tanpaNya kita akan mudah tersesat dan tenggelam. Kita membutuhkan Tuhan untuk membuka mata san pikiran kita pada pelajaran hidup ini. Kita membutuhkan Tuhan untuk menemukan siapa dan bagaimana sesungguhnya diri kita ini. Kita membutuhkan Tuhan untuk menyingkapkan bahwa sesungguhnya ada iblis yang sedang mengintip di jendela rumah hidup kita. Kita membutuhkan Tuhan untuk menemukan bahwa kita kita adalah orang yang baik, yang sanggup melakukan perbuatan yang baik juga, tanpa harus menyakiti, menghancurkan sesama bahkan diri sendiri. Bersama Tuhan, kita akan mendapatkan pikiran dan hati yang jernih untuk menemukan langkah yang baik dan lebih bijaksana dalam menghadapi kegagalan.
Dan Tuhan ada di sini, sekarang ini, di sisimu. Persilahkanlah Tuhan menguasai hidupmu. Menjadi tenang dan kuatlah, dan engkau dan saya akan tetap dapat melihat yang baik dan indah yang dari Tuhan. Engkau dan saya akan menyebarkan kebaikan dan keindahan .Immanuel: Tuhan bersamamu. (LiN16-11-2021)
DAMAI MELAMPAUI AKAL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 2
Bacaan: Filipi 4: 1-8
Salam sejahtera, semoga dalam melakukan tugas, usaha bisnis dan pelayanan kita mengalami damai sejahtera yang melampaui segala akal, seperti diungkapkan dalam Filipi 4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Menurut Filipi 4, damai tidak berasal dari uang, materi, rumah bagus, mobil bagus, pemandangan indah, rekreasi, makanan, harta. Damai bukan dari diri kita sendiri, tapi dari Tuhan. Bapak A hidup sendirian di dalam gua bertahun-tahun, dia merasakan damai karena tidak ada yang menganggu, tidak ada masalah. Damai yang dimaksud Filipi 4 bukan seperti yang dialami bapak A, tapi ketika orang berjuang memberitakan Injil di tengah masyarakat, bersama-sama dengan kawan-kawan sekerja. Walau dalam penjara, Paulus tetap mengalami damai dari Tuhan yang melampaui akal manusia. Damai itu dirasakan Paulus karena hidup bersama, dan ada rasa kasih, rindu, sukacita dan bangga dengan jemaat Filipi. Mendengar keadaan jemaat Filipi, Paulus sudah bersukacita, rindu, bangga. Orang yang merasakan damai dari Tuhan bukan karena hidup sendirian, egois, individualis, hanya berkegiatan di kamar, tidak mau berbicara dengan orang lain, tidak mau melayani di rumah, di gereja atau di masyarakat.
Damai dari Tuhan ketika orang tersebut berjuang untuk pertumbuhan iman, berjumpa dengan anggota keluarga dan orang lain, melayani di rumah di gereja atau ditengah masyarakat. Damai dari Tuhan ketika kita bergumul dalam perjuangan iman, dalam melayani Tuhan dan sesama. Tapi tidak semua orang melayani di keluarga, gereja, masyarakat merasakan damai dari Tuhan. Ibu B rajin melayani di gereja dan di masyarakat, tapi hidupnya stres dalam pelayanan. Ibu B stres, bisa jadi karena dalam melayani ada orang yang tidak dikasihinya, yang dibenci, yang tidak dirindukan, yang tidak membuat dia sukacita dan bangga, malah ingin menghina orang tersebut. Memang ada orang tertentu yang membenci, menganiaya, bahkan memenjarakan Paulus, tetapi Paulus fokus pada kebersamaan dengan kawan-kawan yang berjuang bersama memberitakan Injil, bukan fokus pada kebencian, sakit hati dan dendam. Dalam keluarga, tempat kerja, gereja kalau tidak ada rasa kasih, tidak ada rasa rindu, tidak ada sukacita dan bangga, maka tidak mendapat damai dari Tuhan, yang ada konflik, merasa kering dan sepi. Tuhan memberikan damai, ketika bersama-sama melayani Tuhan dan sesama, dengan rasa kasih, rindu, sukacita dan bangga.
Damai dari Tuhan diberikan ketika orang teguh dalam mengikuti kehendak Tuhan, bukan mengikuti kehendak sendiri. Dalam persekutuan bersama, kalau tidak teguh dalam Tuhan, maka hati dan pikiran orang bisa menyimpang dari kehendak Tuhan. Pikirannya negatif, dendam, benci. Orang yang berdiri teguh dalam Tuhan berarti menerima kuasa dari Tuhan untuk melawan dosa, yang membuat kita menyimpang dari kehendak Tuhan. Orang yang teguh digambarkan seperti prajurit sejati, yang berperang terus melawan musuh, sampai di mati atau menang. Orang yang teguh dalam Tuhan, dia melawan terus segala bentuk kekalahan, kegagalan, kesalahan. Kalau orang punya kesalahan, kegagalan, kekalahan dia tidak langsung putus asa, mundur, tapi dia melawan, berjuang menghadapi kesalahan, kegagalan, kekalahan, dan memperbaiki diri agar tidak terjadi kesalahan, kekalahan dan kegagalan. Orang yang teguh, dalam kuasa Tuhan, ia bangkit untuk menang. Keteguhan itu karena kekuatan dari Tuhan. Dalam keadaan sakit, tidak berpikiran negatif terhadap Tuhan tapi teguh mengimani bahwa Tuhan baik, sangat mengasihi, sangat peduli. Kalau tidak teguh, akan menyimpang dan berpikiran negatif tentang Tuhan, menyalahkan Tuhan akibatnya makin stres, tidak ada damai. Berdiri teguh berarti apapun yang terjadi dalam hidup, kita tetap bergantung pada Tuhan.
Damai itu diberikan Tuhan kepada orang yang sehati sepikiran. Sehati itu adalah satu hati. Hati adalah pusat kemauan kita. Dua atau lebih orang yang sehati, berarti mereka bersama-sama menghayati, mendalami dan sepakat tentang kehendak Tuhan yang akan mereka lakukan bersama. Bukan mengikuti kehendak masing-masing. Suami istri yang sehati, sepikiran berarti kehendak Tuhan yang akan disampaikan kepada anak-anak harus disepakati bersama dulu. Suami istri, persekutuan, yang tidak sehati sepikiran dalam hal berdoa, beribadah, dan memikirkan apa yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang bajik dan yang patut dipuji, maka tidak ada damai, seperti yang dialami Euodia dan Sintikhe. Perbedaan pendapat bisa terjadi, tapi tetap dicari kesepakatan untuk melakukan kehendak Tuhan dalam melayani Tuhan dan sesama. Di rumah, ketika anggota keluarga sehati sepikiran untuk pergi ke gereja agar tidak terlambat, maka mereka sehati sepikiran mempersiapkan diri agar tidak terlambat. Orang yang keras kepala, tinggi hati, sulit sehati sepikiran, karena merasa paling benar, tidak mau sepakat dalam mengikut kehendak Tuhan. Orang yang rendah hati, mudah untuk sehati sepikiran dalam melakukan kehendak Tuhan. Kalau belum ada kerendahan hati, maka kita terus berdoa agar dijauhkan dari kesombongan dan keras kepala, agar kita bisa diberikan kerendahan hati.
Orang yang teguh berdiri dalam Tuhan, yang sehati sepikiran, maka orang tersebut akan bersukacita dalam melayani Tuhan dan sesama, di rumah di gereja, tempat kerja dan masyarakat, tidak mengerutu, tidak terpaksa, dan tidak tertekan. Yusuf walau hidup sebagai budak Potifar dan dipenjara, dia tetap bersukacita bekerja, melayani sehingga dia diberi tanggung jawab yang besar oleh Potifar dan kepala penjara bahkan oleh Firaun. Bersukacita ketika melayani Tuhan dan sesama bukan melayani diri sendiri dan bukan minta dilayani. Tuhan memberikan damai pada orang yang bersukacita dalam melayani suami, melayani istri, melayani orangtua, melayani anak, melayani saudara, melayani di gereja dan di masyarakat. Bersukacita bukan karena makan dan minum enak, tapi karena melayani Tuhan, melakukan kebaikan, menolong melayani sesama.
Orang yang mendapat damai dari Tuhan, ketika orang tersebut membuang kekuatiran dalam hati dan pikirannya. Orang yang kuatir, tidak percaya pada kuasa Tuhan tentang masa depan, ia menanggung sendiri kekuatiran hidup. Orang yang menyerahkan kekuatiran pada Tuhan, maka kekuatiran itu tidak menguasai hati dan pikirannya, dan damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran dalam Kristus Yesus. Melampaui akal berarti damai yang tidak dimengerti manusia akan menjaga hati dan pikiran yang sudah bersatu dengan kehendak Yesus. Damai Tuhan akan menjadikan hati dan pikiran tenang dan tentram, karena orang tersebut mempercayakan hidupnya pada Yesus. Damai sejahtera dari Allah begitu ajaib, sehingga kita tidak dapat mengerti, tapi kita alami. Mari kita menghayati PKJ 186 Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan berilah hati yang mengasihi, merindukan, bersukacita, bangga dengan sesama kami. Kuatkan kami agar teguh dalam melakukan kehendak Tuhan. Berilah kemampuan untuk sehati sepikiran dalam keluarga, dalam persekutuan, dalam masyarakat. Mampukan makin bersukacita dalam melayani Tuhan dan sesama. Mampukan kami membuang kekuatiran dalam hidup kami, serta berserah pada Tuhan. Berilah damai sejahtera dari Tuhan yang melampaui segala akal manusia. Dalam Yesus kami berdoa. amin
CARI KAWAN, BUKAN LAWAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Markus 9:38-40,
Kata Yohanes kepada Yesus: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita,” Tetapi kata Yesus: “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.
Satu sifat manusia, disebut sebagai makhluk sosial, bukan sosial saja, tetapi lebih spesifik lagi ialah berkelompok. Kalau berkelompok berarti sudah memiliki ciri khas, seperti satu suku, agama, dan kadang karena keadaan, sehingga ada kelompok sepenanggungan atau barisan sakit hati, kelompok ini berarti keadaan yang membuat mereka berkelompok. Teringat dulu kami termasuk komunitas pasien cuci darah. Ada komunitas yang bercirikan setia pada pemimpin tanpa syarat, sehingga tak peduli apakah benar atau salah yang diajarkan pemimpin maka anggota tetap mengatakan kelompok merekalah yang paling baik, walaupun jelas terlihat merugikan orang lain, mereka katakan tujuannya baik. Berarti yang lain, yang bukan kelompoknya adalah keliru dan harus ditolak, bahkan dana sumbangan pun ditolak karena bukan dari kelompoknya. Orang berbuat yang baik dilarang karena bukan dari golongannya. Untuk menolak kebaikan orang lain, maka dibuatlah issu yang macam-macam, yang demikian berarti dia CARI LAWAN BUKAN CARI TEMAN.
Seorang pemimpin gereja berkata: saya percaya kepada Allah, tetapi saya tidak percaya kepada Allah “gereja yang satu itu.” Adakah Allah yang khusus bagi satu gereja dan bukan Allah gereja yang lain? Pikiran seperti ini, DIA BUKAN CARI TEMAN, TETAPI CARI LAWAN. Karena Allah adalah Bapa untuk semua orang. Maksud pemimpin gereja itu, hendaklah kita yakini bahwa Allah tidak terbatas pada kelompok tertentu, Allah tidak terkotak-kotak atau terbagi-bagi sehingga ada Allah gereja ini, ada Allah gereja itu. Allah menciptakan dan mencintai semua ciptaannya, bahkan orang yang menentang Diapun dicintai-Nya. Tidak ada orang yang mampu memonopoli perbuatan baik. Semua orang dipanggil-Nya untuk melakukan kebaikan, sehingga patut pula kita hargai kebaikan orang (kelompok) lain yang patut kita apresiasi.
Firman Tuhan bahan renungan ini, Yohanes murid Yesus, melaporkan bahwa dia telah mencegah orang lain yang atas nama Yesus telah mengusir setan, Yohanes katanya: “Kami cegah orang itu, karena dia bukan dari kelompok kita. Tetapi Yesus menjawab: “Jangan cegah dia,” karena dia berbuat baik menurut kehendak Allah, “mengapa dicegah walaupun bukan dari kelompok kita,” sedangkan yang dilakukannya seturut dengan pekerjaan Allah. Berarti Roh Allah telah bekerja memapukan setiap orang melakukan pekerjaan Allah. Demikian Yesus menyadarkan Yohanes bahwa dia tidak lebih baik dari orang yang mengusir setan itu, dia mampu mengusir setan karena Roh Allah bekerja dalam dia. Tegoran Yesus menyadarkan kita juga supaya kita tidak merasa lebih saleh, lebih suci dan lebih pantas dibandingkan dengan kelompok lain. Mental merasa lebih suci, itu adalah mentalitas kaum Farisi, ahli Taurat, tua-tua Yahudi yang merasa lebih unggul daripada yang lain, merasa lebih berhak untuk menentukan kebaikan daripada siapa pun, seolah-olah telah memiliki autoritas tunggal untuk kebaikan ada pada kelompoknya saja. Mental seperti ini ada saatnya dia menghalangi orang berbuat baik, sedangkan dia sendiri tidak berbuat baik. Tuhan Yesus membuka wawasan murid-murid bahwa berbuat baik seturut kehendak Allah terjadi kalau Roh Allah menggerakkannya. Roh Allah bebas memakai setiap orang. Penjelasan Yesus makin tegas, Dia berkata: mana mungkin ada orang memuji Allah, lantas dia mengutuk Allah? Nasihat Yesus ini, seperti tema kita berbunyi: KITA CARI TEMAN BUKAN CARI LAWAN.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Apakah kita perlu membentuk kelompok/komunitas (gereja, jemaat) kita, dan utuk apa kita berkelompok?
- Bagaimana sikap Anda terhadap kelompok yang merasa dia yang paling baik dan benar?
- Agar kita tidak menjadi mangsa serigala berbulu domba (berpura-pura baik), apa yang harus kita lakukan?
Mari berdoa:
Bapa Tuhan Yesus Kristus, ajar kami agar mampu menerima dan menghargai kebaikan kelompok yang berbeda dengan kelompok kami, seperti agama yang berbeda dengn agama kami, gereja yang berbeda dengan gereja kami. Karuniakan kesempatan agar kami berbuat baik untuk kesejahteraan bersama dengan kolompok lain, agama lain, gereja lain. Walaupun kami berbeda agama, berilah hikmat agar kami bekerja sama membangun masyarakat dan bangsa kami, karena masyarakat dan bangsa ini milik kami bersama. Inilah doa kami dalam Kristus Yesus, Amin. [AS15122021]
CERITA DI BALIK LEMPER
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
CERITA DI BALIK LEMPER
Bacaan: Roma 14:10
“Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Lemper menjadi salah satu jenis jajanan pasar yang ada di dalam snack box yang saya terima saat acara reuni alumni SMP Kristen beberapa waktu yang lalu. Janjanan berbahan dasar beras ketan dengan isian daging cincang atau abon atau serundeng, serta dibungkus dengan daun pisang ini menjadi salah satu jenis jajanan tradisional yang cukup merakyat. Dan jika saya tidak salah, sepertinya lemper memang menjadi jajanan yang kerap disajikan saat acara kumpul-kumpul banyak orang, seperti: arisan, rapat, reuni dan lain sebagainya.
Dari berbagai sumber, saya mencoba menggali makna dan cerita di balik lemper ini. Ada beberapa pelajaran indah yang dapat diperoleh di balik jajanan lemper ini. Pertama, lemper dibungkus daun pisang. Di luar memang tampak sederhana bahkan mungkin buruk, namun di dalamnya terkandung rasa enak dan kenikmatan. Don’t judge the book by it’s cover, demikian kira-kira maksud dari pembungkus lemper itu. Untuk dapat menyantap lemper dan menikmati rasanya, maka pembungkusnya harus dibuka terlebih dahulu. Daun pisang pembungkus lemper ini bisa juga dimaknai sebagai kesediaan untuk terlebih dahalu mengupas atau membuang keburukan demi menemukan dan merasakan kebaikan atau kenikmatan. Apa yang akan kita rasakan bila kita memakan lemper tanpa membuang bungkusnya, tentu tidak enak, bukan?
Kedua, bahan dasar lemper, yaitu: beras ketan. Bahan dasar lemper sengaja dipilih dari beras ketan karena memiliki tekstur yang lengket. Kata ‘ketan’ di dalam bahasa Jawa merupakan kérata basa atau akronim dari ‘ngraketaken paseduluran’ atau merekatkan persaudaraan. Oleh sebab itulah maka jajanan lemper ini kerap disajikan dalam acara-acara yang melibatkan banyak orang, dengan harapan agar tali persaudaraaan tetap terpelihara.
Ketiga, makna nama lemper. Kata lemper juga merupakan kérata basa atau akronim dari ‘yen dialem atimu ojo mémper”, yang artinya: apabila dirimu dipuji atau disanjung oleh orang lain, janganlah sombong atau besar kepala. Sebagai mahluk sosial, maka perjumpaan dan interaksi antar manusia tentu tidak dapat dihindari. Dalam suasana silaturahmi di mana masing-masing pribadi yang lama tidak bertemu, saling memuji dan menyanjung di antara saudara atau teman merupakan hal yang mungkin terjadi. Oleh karna itu, jajanan lemper ini hendak mengingatkan tentang kerendahan hati.
Saudaraku, perjumpaan antar manusia bisa terjadi di manapun dan kapanpun. Namun demikian, kita mesti tetap memelihara relasi dan persaudaraan itu tanpa kesombongan atau memandang rendah orang lain. Ketika menjumpai sikap sebagian anggota jemaat di Roma yang mengganggap rendah saudara seiman karena mempunyai sikap tertentu terhadap makanan, maka Rasul Paulus memberikan nasihat, “Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah”. Menjadi pengikut Kristus memang membuhkan sikap iman yang dewasaa tanpa merendahkan yang lain, sebab setiap orang memiliki tingkat pertumbuhan iman yang berbeda-beda. Bila persaudaraan dan kerendahan hati tetap dipelihara dan dipraktikkan dengan baik, maka niscaya Nama Tuhan akan dimuliakan dan Gereja Tuhan juga akan bertumbuh.
Kembali pada jajajan lemper tadi. Ternyata lemper bukan hanya sekedar makanan yang memanjakan lidah; melainkan juga kaya akan makna, terutama tentang persaudaraan, kerendahan hati dan tidak saling menghakimi. Kiranya ceria di balik lemper ini selalu mengingatkan kita akan nasihat rasul Paulus tadi. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Terimakasih, ya Tuhan, Engkau telah mengingatkan kami kembali tentang kerendahan hati dan persaudaraan. Tolonglah kami agar dapat mewujudkannya di dalam kehidupan kami. Terpujilah Nama-Mu, ya Tuhan Yesus. Amin.
