firman
DIDIKLAH ANAK-ANAK DI DALAM TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 6: 4
Salam sejahtera semoga orangtua makin mampu mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan, seperti ungkapan dalam Efesus 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Orangtua dipanggil Tuhan dan diberi tugas untuk mengurus kebutuhan sehari-hari anak-anak dan mendidik anak-anak. Tugas ini dilakukan dalam rangka mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, yaitu anak. Pemeliharaan ayah dan ibu mencerminkan pemeliharaan Allah Bapa dan kemurahanNya dalam hidup keluarga. Dalam Efesus 6 sangat ditekankan peran ayah sebagai pemimpin keluarga, untuk merencanakan waktu mendidik anak-anak dalam Tuhan bersama ibu. Setelah merencanakan dan melakukan kemudian mengevaluasi pendidikan anak-anak yang sudah dilakukan dan diperbaiki jika masih ada yang perlu ditambahkan.
Anak-anak berkembang dalam keluarga yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, tidak berkembang dalam suasana kesepian, sendirian dan kekerasan verbal atau fisik (membangkitkan amarah anak). Anak-anak membutuhkan suasana kasih dan aman, agar tidak menumbuhkan anak-anak yang liar. Orangtua dimampukan Tuhan untuk mengasihi, memberi rasa aman, karena orangtua dan anak-anak percaya bahwa Tuhan adalah perlindungan dalam keluarga. Orangtua mendidik anak-anak agar anak-anak bergantung dan mengasihi Allah yang melindungi anak-anak. Anak-anak dididik untuk meniru sifat-sifat Allah yang ditunjukkan melalui perilaku orangtua. Anak-anak dididik bukan mengejar tujuan orangtua tapi tujuan Tuhan.
Orangtua mendidik anak-anak karena sangat mengasihi Tuhan dan dibuktikan dengan mengasihi anak-anak. Kasih kepada Tuhan lebih besar dari kasih kepada anak-anak. Abraham adalah contoh sikap kasih yang lebih besar kepada Allah dari mengasihi anak. Ia rela mengorbankan anaknya Ishak, karena kasih Abraham lebih besar kepada Allah sehingga ia taat pada perintah Allah untuk mengorbankan anaknya. Demi mengasihi Allah maka orangtua taat untuk melakukan perintah Tuhan yaitu mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Itu berarti Tuhan mendidik anak-anak melalui perantara orangtua.
Allah Bapa adalah pendidik, menjaga disiplin, karakter umat Tuhan, bangsa-bangsa dan keluarga Tuhan. Tuhan mendidik dan mengasuh, mengajar melalui nabi-nabi yang diutus Tuhan. Tuhan mendidik dan mengasuh dengan Injil dan Taurat Tuhan. Orangtua juga diutus Tuhan untuk mendidik, mengasuh anak-anak sesuai Injil Tuhan. Orangtua membutuhkan kasih anugerah Tuhan, hikmat Tuhan dan azas tujuan Tuhan dalam mendidik dan mengasuh anak-anak.
Tujuan pendidikan dalam keluarga adalah Kerajaan Allah. Orangtua mendidik anak-anak agar mereka memenuhi tugas sebagai warga Kerajaan Allah, dan layak masuk dalam Kerajaan Allah. Anak-anak dididik menjadi hamba Allah, menjadi anak-anak Kerajaan Allah.
Dalam dunia masa kini yang makin banyak jenis kejahatan, penipuan, aniaya, penyesatan, oleh sebab itu anak-anak dididik agar berpegang teguh pada kebenaran Tuhan. Sejak kecil anak-anak sudah dididik untuk mengenal isi dan makna Alkitab, yang dapat memberi hikmat dan menuntun pada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus. Orangtua menggunakan Alkitab untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, atau kesesatan dan memperbaiki kelakuan, mendidik orang muda dalam kebenaran. Anak-anak mengimani bahwa dirinya adalah kepunyaan Allah yang diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:13-17). Anak-anak juga dididik menjadi murid Tuhan Yesus bukan menjadi murid orangtua.
Tugas mendidik hanya bisa dijalankan dengan pertolongan Roh Kudus. Tugas Roh Kudus adalah menciptakan kembali, melahirkan kembali agar orang meninggalkan dosa, membenci dosa dan bertobat, hidup baru, hidup mendengarkan Tuhan. Mendidik berarti mengajarkan anak-anak menangisi dosa-dosa mereka, belajar hidup dalam kasih karunia Tuhan, agar mereka rela hati mengikuti jalan Tuhan.
Kewajiban besar para orangtua adalah berhati-hati dalam mendidik anak-anak mereka. “Bukan hanya membesarkan mereka, seperti yang dilakukan orang-orang yang tidak berakal budi, dengan memenuhi kebutuhan mereka, melainkan membesarkan mereka dalam ajaran dan nasihat, dengan cara yang sesuai untuk mereka yang berakal budi. Bukan hanya membesarkan mereka sebagai manusia, dalam ajaran dan nasihat, melainkan juga sebagai orang-orang Kristen, dalam nasihat Tuhan.
Mengapa ada keluarga yang kacau? Karena orangtua tidak menjalankan tugas mendidik anak-anak mereka. Mereka lebih mencintai pekerjaan dan urusan pribadi masing-masing dari pada mencintai Tuhan dan mencintai anak-anak. Orangtua merasa sudah mengasihi anak-anak dengan memberikan uang, pakaian, makanan, minuman dan kebutuhan fisik lainnya. Orangtua hanya menyerahkan pendidikan anak kepada guru sekolah dan guru sekolah minggu, bahkan ada yang menyerahkan kepada asisten rumah tangga dan teman-teman satu kelompok anak-anak. Pendidikan yang diterima anak-anak tanpa tujuan dan arah serta rencana pendidikan yang baik, yang sesuai kehendak Tuhan. Anak-anak tidak diajarkan mengambil keputusan yang bertanggungjawab dihadapan Tuhan, yang berdasarkan nilai-nilai iman yang ada dalam Alkitab.
Orangtua yang mengasihi Tuhan akan menyediakan dan merencanakan waktu untuk mendidik anak-anak dalam rangka mengasihi Tuhan. Orangtua yang lebih mengasihi diri sendiri, dari pada mengasihi Tuhan maka akan sibuk dengan mengejar kesenangan sendiri, tidak ada waktu dan rencana mendidik anak-anak agar bisa mengsihi Tuhan lebih besar dari mengasihi diri sendiri dan mengasihi orangtua. Anak-anak yang diajarkan mengasihi Tuhan lebih besar dari pada mengasihi diri sendiri dan orangtua akan membenci sikap mengabaikan Tuhan.
Mengasihi Tuhan lebih dari segala-galanya adalah sikap yang takut akan Tuhan, mencari hikmat dari Tuhan, melalui orangtua yang diutus untuk mendidik anak-anak. Anak-anak yang sangat mengasihi Tuhan akan mendengarkan didikan orangtua dan memperhatikannya, agar memperoleh pengertian seperti ungkapan dalam PKJ 280 ayat 2 Wahai anak-anak, dengarkanlah didikan seorang ayah, dan perhatikanlah, supaya engkau beroleh pengertian, kar’na kuberikan petunjuk serta ilmu yang baik padamu: janganlah engkau meninggalkan petunjuk itu. amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan orangtua untuk memberi waktu dan merencanakan waktu untuk mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan, agar anak-anak beroleh hikmat, pengertian dan petunjuk yang baik untuk hidup, dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
KEMAH SUCI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Keluaran 25:8-9,
Mereka harus membuat Kemah Kudus bagi-Ku, supaya Aku bersemayam di antara mereka. Menurut segala yang Kutunjukkan kepadamu sebagai pola Kemah Suci dan segala perlengkapannya, demikianlah kamu membuatnya.
Syaloom, saudara-saudari yang dikasihi Kristus, “melawan lupa,” kita segarkan ingatan kita dengan percakapan renungan ini tentang KEMAH SUCI. Alkitab sangat terbiasa dengan “kemah,” para nomaden tinggal di kemah. Setiap tempat menjadi tempat persinggahan mereka dengan membawa semua harta, yang terdiri dari hamba/budak, hewan: kedai, onta, dan kambing-domba. Abram menjadi salah satu nomaden yang awalnya membawa Lot sekeluarga,datang dari Paran. Mereka memasang kemahnya di tempat yang mereka lihat bisa diandalkan sebagai lahan penggembalaan dan di situ mereka menggali sumur.
Di Mesir anak cucu Yakub, cicit Abraham, mereka menetap di Mesir di daerah Gosyen, mereka nampaknya sudah mendirikan rumah, sehingga sewaktu tulah terakhir menimpa orang Mesir, rumah orang Israel di tiang pintunya ada tanda darah anak domba. Namun setelah mereka keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan, orang Israel tinggal di kemah, rasanya setiap keluarga mendirikan kemah sebagai tempat tinggal, walau pun dalam waktu yang singkat, dan nanti dibongkar untuk pindah ke tempat yang baru. Mereka cukup lama tinggal di kaki gunung sinai.
Setelah Musa dipanggil Tuhan naik ke gunung sinai, dia menerima Sepuluh Hukum dan menerima hukum dan peraturan yang harus di sampaikan kepada umat Israel. Salah satu yang diperintahkan Tuhan, agar Musa memerintahkan umat itu membuat Tempat Kudus bagi Tuhan, agar Tuhan bersemayan di antara mereka. Kehadiran Kemah Suci ini dapat dilihat di tengah perkemahan mengingatkan demikian Tuhan hadir di tengah mereka. Kemah Suci ini sesuai dengan perintah Tuhan, yang terdiri dari sepuluh tenda yang dibagi dua, lima tenda yang digabung dan lima tenda di sebelahnya. Ukuran panjang tiap-tiap tenda 30 hasta dan lebarnya 4 hasta (Kel 26). Masing-masing dikaitkan menjadi satu dan ditutup sebagai atapnya. Bentuk dan ukuran, dijelaskan secara rinci, demikian juga bahan-bahan dari benang dipintal yaitu kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi, kaitan-kaintan untuk sambungan dibuat dari emas, dan ada papan dari kayu akasia, patok dan peralatan tali. Demikan keagungan kemah itu melambangkan kemuliaan Allah yang menyertai umat itu.
Di dalam Kemah Suci tersedia semua peralatan untuk ibadah korban yang mereka laksanakan. Isinya antara lain: Mezbah korban bakaran, bejana pembasuhan, meja roti persembahan, kandil emas, ukupan, Tabut Perjanjian dengan Tutup pendamaian. Setelah selesai Kemah Suci itu yang sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan kepada Musa, maka difungsikanlah untuk ibadah yaitu membakar korban bakaran. Harun sebagai imam telah mengenakan pakaian imamnya, maka terjadilah awan menutupi Kemah Pertemuan itu, dan kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci itu. Sebagai tanda umat itu berangkat ke tempat berikutnya maka awan naik ke atas Kemah Suci, kalau awan itu tidak naik mereka tidak berangkat.
Aplikasi:
- Kemah Suci sebagai tanda Allah menyertai umat Israel, bagi Anda apa tanda penyertaan Allah.
- Kemah Suci dibangun menjadi tempat ibadah umat Tuhan, apa yang kita bangun sebagai tempat ibadah kita?
- Kemah Suci telah tiada, apakah Allah hadir di tengah umat-Nya saat ini?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, tubuh kami adalah tempat tinggal Roh Kudus. Kami bersyukur kehadiran Roh Kudus, menjadi penolong, penasihat bagi hidup kami, dalam nama Yesus Kristus kami bersyukur, Amin. [AS281024]
”CLOROT”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Filipi 4:13 (TB 2)
“Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, apakah Anda tahu tentang Clorot? Ya, clorot adalah makanan khas Purworejo dan sebagian wilayah Jawa Barat. Kudapan ini berbahan dasar tepung beras, gula jawa, gula merah, tepung tapioka, vanili, dan kapur sirih; kemudian dibungkus dengan janur atau daun kelapa muda berbentuk kerucut seperti ice cream. Meskpun tanpa bahan pengawet, makanan ini dapat tahan hingga dua hari. Bagaimana dengan rasanya? Wow, rasanya manis legit dengan tekstur yang kenyal. Terkait dengan sejarah kemunculan makanan ini, tidak ada data yang mencatatanya. Namun, keberadaan jajanan ini sudah ditulis dalam serat Centini, sebuah karya sastra dari Keraton Solo abad 19. Hal yang unik dari clorot ini adalah cara menyantapnya, yaitu: dengan cara menekan dan mendorong ujung kerucut di bagian bawah sehingga clorot ini keluar, lalu dimakan.
Dibalik rasa dan keunikan bentuk clorot ini, terkandung filosofi yang dalam. Pertama, Janur yang dipakai sebagai pembungkus clorot memiliki makna ‘nur’ atau cahaya yang mengingatkan manusia pada Sang Maha Kuasa. Manusia tidak dapat hidup tanpa campurtangan Sang Maha Kuasa, oleh karena itu manusia mesti berupaya agar dapat memanfaatkan pemberian-Nya dengan sebaik-baiknya. Kedua, menyantap clorot dengan cara mendorong ujung kerucut – menggunakan ibu jari atau jari telunjuk – bermakna agar setiap persoalan yang dihadapi haruslah dihadapi dan diatasi. Cara mengatasinya dengan mendorong dan berserah kepada Sang Maha Kuasa.
Saudaraku, filosofi clorot ini mengingatkan kita tentang sikap iman kita saat menghadapi persoalan. Kita tahu bahwa tidak ada seorangpun yang bebas dari persoalan. Hanya saja, bagaimana sikap kita terhadap persoalan tersebut? Ada sebagian orang yang memilih untuk ‘lari dan menghindar’ dari persoalan, namun kenyataannya persoalan bukannya selesai, melainkan justru akan semakin bertambah berat. Sebagai murid-murid Tuhan, kita mesti belajar dari Rasul Paulus. Ketika berbagai persoalan menghimpitnya, Paulus mengatakan, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Ketika menuliskan nasihat ini, Paulus sedang berada di dalam penjara. Paulus hendak menegaskan bahwa meskipun dirinya berada di dalam kondisi yang sulit, ia sungguh yakin akan mampu menghadapai dan menanggung berbagai persoalan ini dengan kekuatan yang berasal dari Tuhan Yesus. Apa yang ditulis oleh Paulus ini memberikan harapan bahwa kita tidak sendirian dalam perjuangan tersebut. Kekuatan kita mungkin terbatas, tetapi kekuatan Kristus yang tak terbataslah yang akan memampukan kita untuk melewati setiap situasi. Nasihat Paulus ini mengajarkan kepada kita untuk tetap tekun dan tenang ketika berada di tengah berbagai persoalan kehidupan. Kita mesti yakin bahwa kita tidak pernah sendirian dalam situasi apapun termasuk ketika berada dalam pergumulan kehidupan. Dalam setiap keadaan, Tuhan selalu hadir bersama kita. Dia akan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan agar dapat menanggung segala keadaan itu.
Saudaraku, kiranya sajian clorot hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan senantiasa berkenan hadir di kehidupan kita, apapun dan bagaimanapun keadaan kita. Yang dibutuhkan adalah keyakinan penuh bahwa Tuhan hadir di dalam kehidupan dan siap memberikan pertolongan tepat pada waktunya. Oleh karena itu, mari kita tetap berpegang teguh pada keyakinan iman kita kepada Tuhan Yesus. Jangan pernah meninggalkan DIA. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kami sadar bahwa ada banyak pergumulan yang harus kami hadapi dan atasi di dalam kehidupan ini, ya Tuhan. Kami ingin selalu bersandar pada kekuatan-Mu, sehingga mampu untuk keluar dari berbagai persoalan kehidupan itu. Kami yakin bahwa Engkau akan membawa kami ke air yang tenang dan rumput yang hijau. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
MOVE ON
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Matius 5:44 (TB 2)
”Namun, Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Mengampuni adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan, terutama ketika rasa sakit masih begitu nyata dan menyengat. Dalam perjalanan hidup, kita semua pasti pernah dikecewakan, disakiti, bahkan dikhianati oleh orang-orang yang kita percayai atau kasihi. Luka yang ditinggalkan tidak selalu tampak secara fisik, tetapi membekas dalam hati dan pikiran. Saat kita berbicara tentang “move on,” kita tidak hanya membahas melepaskan peristiwa itu dari ingatan kita, tetapi juga tentang melepaskan hak kita untuk terus menyimpan kemarahan, kebencian, atau dendam.
Tuhan Yesus, dalam khotbah di atas bukit, memberikan perintah yang mengejutkan: untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Matius 5:44). Ini adalah ajaran yang sangat berbeda dengan ajaran dunia, karena secara alami kita cenderung membalas orang yang menyakiti kita, atau setidaknya menjaga jarak dari mereka. Namun, Tuhan Yesus tidak meminta kita melakukan sesuatu yang Dia sendiri tidak lakukan. Di kayu salib, ketika Dia disalibkan oleh orang-orang yang menghina dan mencemooh-Nya, Dia berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34). Pengampunan dari Yesus bukanlah sekadar tindakan mulia, tetapi merupakan esensi dari kasih yang Dia nyatakan kepada dunia.
Mengapa Mengampuni Itu Penting? Ketika kita menolak untuk mengampuni, kita sebenarnya sedang memenjarakan diri kita dalam rasa sakit dan kepahitan. Perasaan marah, kecewa, dan benci itu tidak hanya mengikat orang lain, tetapi juga mengikat diri kita sendiri. Mengampuni adalah kunci untuk membebaskan diri dari penjara batin tersebut. Ibrani 12:15 memperingatkan kita agar jangan sampai ada “akar kepahitan” yang tumbuh, karena kepahitan bisa mencemari seluruh hidup kita. Dengan melepaskan pengampunan, kita sedang membebaskan diri kita sendiri dari jeratan kebencian yang dapat merusak jiwa dan kesehatan kita.
Mengampuni Adalah Proses, mengampuni bukanlah sesuatu yang bisa terjadi sekejap. Ada luka-luka yang begitu dalam sehingga butuh waktu lama untuk sembuh. Proses ini melibatkan penerimaan rasa sakit, menghadapinya, dan secara perlahan belajar untuk melepaskannya. Pengampunan tidak berarti kita melupakan kesalahan atau mengatakan bahwa apa yang dilakukan terhadap kita itu benar. Pengampunan berarti kita memilih untuk tidak membiarkan rasa sakit itu terus menguasai hidup kita.
Kita dipanggil untuk mengampuni karena kita sendiri telah diampuni oleh Allah. Efesus 4:32 mengatakan, “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Ketika kita mengingat betapa besar pengampunan Allah kepada kita yang sering kali jatuh dalam dosa, kita diajak untuk meniru kemurahan hati-Nya dengan mengampuni sesama kita. Meskipun proses ini sulit, pengampunan adalah bentuk kasih karunia yang paling nyata yang bisa kita berikan kepada orang lain.
Terkadang, bagian tersulit dari pengampunan adalah melepaskan keinginan untuk “membalas” atau melihat orang yang menyakiti kita mendapatkan konsekuensinya.
Namun, Roma 12:19 mengingatkan kita bahwa Tuhan berkata, “Pembalasan itu adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Keadilan Tuhan adalah sempurna, dan Dia akan menghakimi dengan adil. Tugas kita adalah mempercayakan semuanya kepada Tuhan dan melepaskan diri dari beban tersebut. Mari move on, dan rasakan tuntunan Tuhan dalam setiap prosesnya. Tuhan memampukan kita.
KUCINTA KELUARGA TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara Saudari dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Dengan penuh sukacita hari ini saya mengajak Saudara semua untuk merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Kucinta Keluarga Tuhan” dengan dasar dari Mazmur 133:1. ” Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Demikianlah firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Tahukah Saudara-saudara, Mazmur 133:1 ini menyatakan bahwa hidup bersama dalam kerukunan adalah hal yang sangat indah dan baik. Kesatuan di antara saudara-saudara adalah bentuk dari kehidupan keluarga yang diberkati Tuhan. Keluarga Tuhan adalah gambaran dari umat yang dipanggil bersama dalam kasih Bapa. Tuhan Yesus pernah bersabda: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21).
Tuhan Yesus menghendaki agar semua murid-murid-Nya menjadi satu, seperti halnya kesatuan antara Bapa dan Anak. Ini menunjukkan betapa pentingnya hidup dalam persatuan bagi keluarga orang percaya. Ketika keluarga Tuhan hidup dalam kesatuan, kita menunjukkan kepada dunia bahwa kasih Tuhan nyata dan bekerja di tengah-tengah kita.
Ada sebuah kesaksian yang menarik: Di sebuah jemaat, ada dua keluarga yang bertahun-tahun tidak berbicara satu sama lain karena perselisihan sebenarnya hanya karena masalah kecil. Namun, suatu hari, melalui pengajaran tentang pentingnya kerukunan, mereka tersentuh untuk saling memaafkan dan mulai membangun hubungan baru. Saat mereka kembali rukun, kasih mereka lebih hangat, gereja menjadi lebih kuat, dan kesaksian mereka menjadi inspirasi bagi jemaat lain untuk juga hidup dalam perdamaian.
Saudara-saudara, dalam kehidupan keluarga maupun gereja, perpecahan bisa muncul karena kesalahpahaman atau perbedaan pendapat. Namun, sebagai bagian dari keluarga Tuhan, kita dipanggil untuk mencari perdamaian, pengampunan, dan keharmonisan. Apapun situasi yang kita hadapi, mari kita selalu berusaha menjaga kesatuan di dalam Kristus, karena di situlah berkat Tuhan mengalir.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Komunitas Ukulele (Komuke) sebuah pujian medley tentang Keluarga hidup indah bila Tuhan di dalamnya, Kucinta keluarga Tuhan, dan Dalam Yesus kita bersaudara. Lagu ini mengingatkan kita bahwa keluarga kita dapat menjadi keluarga yang hidup indah bila Tuhan didalamnya. Dengan kasih yang sempurna Tuhan memimpin langkah hidup keluarga kita. Kita dapat menyatakan cinta Tuhan di dalam keluarga kita, sehingga terjalin mesra sekali, ya karena semua saling mengasihi. Kita dapat memuji Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan membimbing kita selamanya.
Tuhan juga memanggil kita menjalankan tugas mulia yaitu bersaksi tentang kasih Tuhan kepada Saudara-saudara kita, supaya merekapun dapat mengalami kasih Tuhan yang luar biasa dalam hidup mereka. Oleh karena anugerah-Nya, kita dapat bersaksi: “Dalam Yesus kita bersaudara sekarang dan selamanya!”
Keluarga Tuhan adalah gambaran dari umat yang dipanggil bersama dalam kasih Kristus. Lagu “Kucinta Keluarga Tuhan” menggambarkan perasaan sukacita dan kasih yang kita rasakan ketika kita berad dalam komunitas yang dipersatukan oleh kasih Tuhan. Dalam kebersamaan ini, kita diajak untuk saling mengasihi, mendukung, menjaga kerukunan dan kesatuan.
Ketika kita hidup dalam kesatuan dan menjaga kerukunan dalam keluarga, Tuhan menyatakan berkat bagi kehidupan keluarga kita. Berkat ini mungkin datang dalam bentuk kesatuan yang lebih kuat, pertumbuhan rohani, atau bahkan bantuan praktis dari saudara-saudara di saat kita membutuhkannya.
Oleh karena itu, bersediakah Saudara terus menjaga kesatuan di dalam keluarga, dalam gereja, untuk saling mengasihi, mendukung, dan bersaksi tentang kasih Kristus kepada dunia? Bersediakah Saudara mewujudkan komitmen: Kucinta Keluarga Tuhan? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Bapa kami yang di surga. Kami bersyukur karena Engkau telah menjadikan kami bagian dari keluarga Tuhan. Mampukanlah kami untuk hidup bersama dalam kasih dan kerukunan, menjaga kesatuan dalam keluarga, gereja, dan dan menjadi saksi-Mu di tengah-tengah di dunia ini. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan Keluarga!
(AM24102024)
MENDENGARKAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yohanes 18: 33-37
Salam sejahtera semoga anggota keluarga mampu mendengarkan Tuhan karena anggota keluarga berasal dari kebenaran seperti ungkapan dalam Yohanes 18:37 Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Jadi Engkau adalah raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran. Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”
Yesus datang ke dunia untuk menyaksikan kebenaran tentang Allah, kebenaran mengenai manusia, kebenaran mengenai hidup. Kebenaran tentang Kerajaan Allah yang tidak berasal dari dunia. Kebenaran tentang Yesus adalah raja, Ia datang ke dunia untuk menjadi raja, tetapi bukan raja untuk berperang melawan pemerintahan dunia. Yesus menjadi raja dengan menguasai hati manusia dengan kasih, berkorban, menderita dan disalib untuk menebus dosa manusia, agar manusia hidup dalam kebenaran Tuhan. Orang yang sudah diampuni dosanya, maka akan hidup dalam Roh Kudus dan kebenaran, serta akan hidup mendengarkan Tuhan.
Orangtua diutus Tuhan dalam keluarga untuk menyaksikan atau mengajarkan kebenaran Tuhan dari Alkitab kepada anak-anak. Tuhan meminta supaya anak-anak mendengar ajaran nasehat kesaksian orangtua tentang Allah, tentang Yesus sebagai raja, dan tentang Kerajaan Allah serta kebenaran lainnya dari Alkitab. Dalam Amsal 1:8-9 dituliskan : Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu. Anak-anak belajar mendengarkan dengan baik kebenaran Tuhan yang disampaikan orangtua. Anak-anak yang sudah dibaptis, berarti anak-anak yang diajarkan kebenaran Tuhan, agar anak-anak makin diampuni dosanya oleh Tuhan Yesus, makin diperbaharui, makin hidup dalam kebenaran dan makin mendengarkan kebenaran Tuhan.
Anak-anak yang tidak diampuni dosanya oleh Tuhan Yesus maka hidupnya akan menyia-nyiakan ajaran kebenaran yang diajarkan orangtua. Mereka akan mengabaikan ajaran kebenaran yang diajarkan orangtua. Anak-anak akan hidup mengikuti kehendak sendiri, kebenaran sendiri, rencana sendiri. Anak-anak tidak mengalami hidup yang berakar, bertumbuh dan berbuah dalam iman.
Orangtua yang tidak membangun persekutuan suami istri, tidak mau mendalami bersama kebenaran Tuhan dari Alkitab, maka mereka tidak menyaksikan atau mengajarkan tentang kebenaran Tuhan kepada anak-anak. Orangtua yang belum diampuni dosanya, akan mengajarkan kebenaran sendiri, kehendak dan rencana sendiri, memberi nasihat yang tidak bijaksana, tidak memberi waktu bersekutu mendalami kebenaran Tuhan dengan anak-anak. Keluarga ini tidak membangun kesatuan, kesehatian dalam memahami kebenaran Tuhan.
Orangtua yang belum diampuni dosanya, belum diperbaharui, maka mereka tidak mau mendengarkan Tuhan, mereka hanya mengikuti kemauan daging anak-anak mereka dan kemauan daging orangtua. Orangtua yang tidak bijaksana, berpikir bahwa dengan mengikuti kemauan daging anak-anak maka mereka sudah mengasihi anak-anaknya. Akibatnya bukan orangtua yang memimpin, malah anak-anak yang mengatur orangtua agar mengikuti kehendak anak-anak. Ketika anak anak yang mengatur orangtua sesuai keinginan daging anak-anak maka keluarga ini tidak mendengarkan Tuhan, tidak hidup dalam kebenaran Tuhan. Anak-anak tidak dibangun sifat-sifat Allah, tidak mengalami kebahagiaan yang diberikan Tuhan.
Anak-anak tidak hanya dipanggil supaya mendengar ajaran orangtua tentang kebenaran dari Tuhan, tapi mendengar dengan mencerna, menghayati dan melakukan dengan taat ajaran orangtua tentang kebenaran Tuhan. Anak-anak mengasihi Tuhan dengan cara mengasihi orangtua. Mengasihi Tuhan dengan cara mendengar kebenaran Tuhan yang diajarkan, yang diberikan dalam nasehat, oleh orangtua.
Apabila ajaran dan nasehat orangtua bertentangan dengan kebenaran Tuhan maka anak-anak juga diminta untuk bersabar terhadap kelemahan atau kekurangan orangtua. Kekurangan, kesalahan orangtua yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan tidak bisa ditaati. Anak-anak harus bersabar terhadap orangtua, demikian juga orangtua juga bersabar terhadap anak-anak apabila belum bisa menaati ajaran tentang kebenaran Tuhan.
Anak-anak terus berdoa meminta pertolongan pada Tuhan agar orangtua diberikan lidah seorang murid, sehingga dengan pengajaran atau perkataan tentang kebenaran Tuhan memberi semangat baru bagi anak-anak yang letih lesu. Dan anak-anak berdoa agar diberikan pendengaran untuk mendengar seperti seorang murid (Yesaya 50:4). Tuhan membukakan telinga anak-anak untuk mendengar ajaran tentang kebenaran Tuhan, tidak memberontak atau melawan kehendak Tuhan dengan cara mengikuti kehendak dan kebenaran sendiri.
Orangtua sebelum mengajarkan kebenaran Tuhan kepada anak-anak, dengan tulus hati, rela hati mendengarkan Tuhan. Orangtua yang tidak tulus hati, tidak rela hati digambarkan dalam sikap Pilatus yang tidak tulus hati, tidak rela hati mendengarkan penjelasan Tuhan Yesus. Ia bersifat sinis, melawan, penjelasan Yesus. Pilatus terlalu terfokus pada masalah raja dunia, dan tidak teliti mendengarkan penjelasan Tuhan Yesus bahwa diriNya menjadi raja yang tidak mengancam kedudukan Kaisar, tidak ada pasukan Yesus yang melawan Kaisar. Yesus adalah raja dalam hati manusia denga cara menghancurkan kuasa iblis dan dosa. Inilah kebenaran yang dijelaskan Yesus. Pilatus juga menggambarkan orangtua yang mengikuti kebenaran sesuai nafsu kedagingan anak-anak. Pilatus sebagai pemimpin tidak menegakkan kebenaran tapi mengikuti kemauan orang banyak yang menyatakan Yesus bersalah dan harus disalib. Orang banyak tidak mendengar penjelasan Yesus bahwa diriNya bukan raja seperti raja dunia, Yesus adalah raja dalam Kerajaan Allah, yang menguasai hati semua manusia, agar menjadi kudus dihadapan Allah, tidak bercacat cela, dan bisa masuk dalam Kerajaan Allah.
Marilah kita mendengar kebenaran Tuhan dan berpegang padaNya, agar hidup kita senang dalam terang dan beserta Tuhan seperti ungkapan dalam NKB. 116 ayat 5 O betapa senang hidup dalam terang beserta Tuhan di jalanNya, jika mau mendengar serta patuh benar dan tetap berpegang padaNya.
Reff Percayalah dan pegang sabdaNya: hidupmu dalam Yesus sungguh bahagia! Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya anggota keluarga kami mampu mendengarkan Tuhan karena kami semua berasal dari kebenaran. Dan kami berpegang pada Tuhan agar hidup kami bahagia. Dalam nama Yesus kami berdoa amin
TABUT PERJANJIAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Keluaran 25:10-25, (10),
Mereka harus membuat tabut dari kayu akasia, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. (22) Di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau; dari atas tutup pendamaian itu dari antara kedua kerub di atas Tabut Hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.
Syalom saudara-saudarai yang dikasihi Kristus, pokok renungan kita “melawan lupa” kita segarkan ingatan kita tentang Tabut Perjanjian, disebut juga tabut Tuhan, Tabut Hukum, Tabut Allah. Perintah Tuhan kepada Musa agar umat itu membuat sebuah Peti, atau Tabut yang bentuk dan ukurannya ditetapkan oleh Tuhan, ukurannya dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya, Peti itu dilapisi dengan emas murni, bagian luar dan dalam, demikian juga peti itu mempunyai tutup. Tutup tabut itu, tutup pendamaian juga dilapisi dengan emas di bagian luar dan dalamnya, pada bagian tepi yang memanjang dari emas tutup itu ditempa dua kerub (malaikat) saling berhadapan yang mengembangkan sayapnya melindungi tabut itu sedang muka kerub itu menghadap ke peti itu. Tabut itu dibuat ketika umat Israel masih berkemah di kaki gunung Sinai, tukangnya bernama Bezaleel. Tabut itu berisi dua loh batu Sepuluh Hukum Tuhan, satu mangkok roti manna, dan tongkat Harun yang bertunas, berbunga dan berbuah buah badam, sebagai tanda pemimpin yang ditetapkan Tuhan, maka tongkatnya bertunas, itulah tongkat Harun dan tongkat itu disimpan di dalam Tabut itu.
Beberapa peristiwa penting tentang Tabut itu, ketika umat menyeberang sungai Yordan, ketika para pengangkut tabut itu menginjakkan kakinya ke air sungai Yordan, maka sungai itu sebak ke hulu, sehingga mereka bisa menyeberang. Pada jaman Hakim-Hakim, sewaktu Eli sebagai imam melayani umat Israel, orang Filistin menyerang Israel dan Tabut Perjanjian dirampas orang Filistin, tetapi orang Filistin tulahi karena Tabut itu dan dikembalikan kepada orang Israel. Raja Daud hendak memindahkan Tabut itu dari rumah seorang warga namanya Abinadap ke Kota Daud, Tabut itu diangkut dengan kreta lembu, pada saat lembu itu tergelincir, maka seorang anak Abinadab bernama Uza memegang Tabut itu, tetapi Tuhan marah menyambar Uza dan tewas seketika. Melihat itu Daud marah kepada Tuhan, sehingga tabut itu tidak sampai ke Kota Daud, tetapi disimpan dirumah seorang warga yaitu Obed-Edom. Tidak lama Tabut itu di rumah Obed-Edom, kemudian Daud memindahkannya ke Kota Daud, di tempatkan di kemah. Raja Salomo membangun Bait Allah, maka Tabut itu disimpan di Bait Allah di Yerusalem.
Bangsa Babel saat menyerang Yerusalem, meruntuhkan Bait Allah, menjarah isi dan peralatan mezbah terbuat dari emas, perak diangkut ke Babel. Setelah Babel dikalahkan oleh bangsa Persia, orang Israel diperkenankan kembali ke negeri Israel, bersamaan dengan itu semua perlengkapan rumah Tuhan yang dijarah raja Babel di kembalikan dan dihitung dengan cermat, tetapi Tabut Perjanjian tidak ada di daftar itu, dan setelah itu keberadaanTabut Perjanjian tidak muncul lagi.
Aplikasi,
- Apa pendapat Anda mengapa Tabut Tuhan itu hilang tidak tahu ke mana?
- Kalau sekiranya Tabut Perjanjian itu masih utuh di Yerusalem, apa yang mendorong Anda untuk melihatnya?
- Saat ini adakah pengganti Tabut Perjanjian bagi Anda?
Mari berdoa:
Allah Bapa yang di surga, Tabut Perjanjian menjadi harta iman bagi umat Israel, mengingatkan kesediaan Allah menyertai mereka. Saat ini Tabut Perjanjian itu telah digenapi sempurna oleh Yesus Kristus, Dia menyertai kami sampai akhir jaman. Kristus harta rohani yang harus kami jaga dan pelihara, Amin. [211024]
”REMPÉYÉK”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Ulangan 6:4-5 (TB 2)
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHANlah Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Tidak lengkap rasanya, Saudaraku, jika menyantap nasi pecel, gado-gado atau urap tanpa ditemani rempéyék atau péyék. Jenis makanan dari kelompok gorengan ini juga bisa disajikan dan dinikmati langsung sebagai camilan, teman makan nasi atau sebagai pelengkap makanan lainnya. Teksturnya renyah dan kering, didominasi rasa asin yang gurih. Rempéyék merupakan makanan tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Kini masyarakat mengenal ada banyak jenis rempéyék, seperti: rempéyék kacang, rempéyék kedelai, rempéyék teri, rempéyék jingking, rempéyék udang, rempéyék laron, rempéyék bayam, dll.
Selain rasanya yang enak, rempéyék sering dianggap sebagai simbol keberlanjutan. Proses penggorengan dan pembumbuan rempéyék juga dianggap sebagai simbol transformasi dan perbaikan, karena makanan ini mengambil bahan-bahan sederhana dan mengubahnya menjadi camilan yang lezat dan memuaskan. Selain itu, rempéyék juga dianggap sebagai simbol persatuan dan komunitas, karena makanan ini sering disajikan dalam acara-acara sosial dan keagamaan.
Saudaraku, rempéyék sebagai simbol keberlanjutan, transformasi dan persekutuan ini mengingatkan kita tentang bagaimana seharusnya iman kepada Tuhan itu diajarkan di dalam keluarga. Keluarga adalah basis kegiatan pewarisan iman Kristen. Tetapi kenyataannya, pada masa sekarang banyak orang yang menganggapnya kurang penting. Kita semua tahu bahwa kemajuan zaman memang memberi dampak positif bagi kehidupan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada pula dampak negatif bahkan membahayakan, seperti: pergaulan anak yang sukar dikendalikan, berkurangnya relasi personal antar anggota keluarga, dll. Oleh karena itu, keluarga-keluarga Kristen mesti secara sengaja mengupayakan pewarisan iman bagi anak-anaknya sebagai bagian dari keberlanjutkan pengajaran iman, transformasi pribadi dan tentunya kedekatan di antara anggota keluarga. Dalam sejarah umat Israel dahulu, Musa pun sudah melihat pentingnya pendidikan iman sejak dini kepada anak-anak untuk mengasihi Tuhan. Kepada umat Israel Musa menyampaikan: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHANlah Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu , dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan segenap kekuatanmu”. Musa memulainya dengan prinsip utama: TUHAN, Allah bangsa Israel adalah TUHAN yang esa. Hanya Dia Tuhan yang berkuasa dalam kehidupan bangsa Israel, satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan dikasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatannya. Bukankah Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa mengasihi Allah adalah hukum yang paling terutama (lih. Mat. 22:37). Agar proses keberlanjutan, transformasi dan persekutuan ini dapat berjalan dengan baik, maka setiap anggota kelauarga mesti: pertama, bersedia untuk mendengar perintah Allah dan mengerti perintah itu dengan sungguh-sungguh sehingga “tertanam dalam hati” dan menjadi bagian dari diri. Kedua, mematuhi ketetapan dan perintah Allah itu. Bila tidak ada keteladanan untuk mematuhi, dari mana anak-anak akan belajar tentang iman dan ketaatan? Ketiga: mengajarkan tentang iman kepada Tuhan ini secara berulang-ulang kapan dan di manapun, kepada anak-anak dan mereka yang usianya lebih muda.
Saudaraku, kiranya sajian rempéyék hari ini mengingatkan kita semua akan tugas dan tanggungjawab kita sebagai bagian dari keluarga di dalam memelihari dan mengajarkan perihal iman kepada anak-anak, sehingga keberlanjutan, transformasi dan persekutuan keluarga dapat tetap terjaga. Dengan demikian, Nama Tuhan sajalah yang akan dimuliakan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar kehidupan kami dapat senantiasa menjadi teladan bagi semua orang tentang iman kepada-MU. Mampukanlah kami agar tetap rendah hati di manapun dan kapanpun. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
