firman
MEMUJI NAMANYA DENGAN SEGENAP BATIN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 103: 1-5
Salam sejahtera semoga kita makin mampu memotivasi hati, jiwa, batin kita untuk memuji dan bersyukur pada Tuhan seperti ungkapan dalam Mazmur 103:1 Dari Daud. Pujilah TUHAN, hai jiwaku ! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku.
Ayat ini mendorong, mengajak hati jiwa batin pikiran kita untuk memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan benar, bukan asal-asalan. Kita memuji seseorang kalau sudah kenal dengan baik. Kalau belum mengenal, kita tidak tahu apa yang dipuji, tidak bisa memuji dengan baik. Walaupun sudah kenal, ada orang tidak bisa memuji yang lain. Kita bisa memuji Tuhan kalau kita sudah mengenal Tuhan, melalui hasil perenungan setiap hari, siang dan malam, dengan sukacita. Kita merenungkan perbuatan dan janji Tuhan. Merenungkan, memahami, mendalami, menyelidiki Firman Tuhan sehingga meresapi firman Tuhan dalam hati, jiwa, batin dan pikiran, lama kelamaan nilai-nilai Firman Tuhan menjadi mendarah daging dalam hidup kita. Makan roti hidup, artinya mencerna, merenungkan, menggali, menghayati, memahami, mendalami, menyelidiki Firman Tuhan, perintah, kehendak Tuhan. Roti Hidup yang dimakan akan menjadi daging artinya menjadi darah daging, menjadi kebiasaan, nilai-nilai yang tidak hilang dari hidup kita, tidak melupakan Firman Tuhan (Mazmur 103:2)
Orang yang memuji Tuhan, kalau tidak merenungkan makna lagu dengan sepenuh hati atau jiwa maka hanya menjadi ucapan dibibir saja, memuji nama Tuhan dengan sia-sia, tanpa makna, tanpa penghayatan dalam hati. Dalam paduan suara makna lagu diulang-ulang, kalau ada salah diulang. Pengulangan tanpa perenungan, pendalaman makna, penghayatan akan membosankan. Demikian lagu yang kita nyanyikan dalam kebaktian minggu, kebaktian keluarga, kalau hanya dengan bibir saja, berarti kita memuji Tuhan tidak dengan segenap hati jiwa batin kita. Kalau belum menghayati makna lagu dalam kebaktian, kita perlu mengulang di rumah, dipahami, direnungkan makna, dihayati, hal itu membuat kita makin percaya, makin kuat iman, makin dewasa iman dan berbuah dengan melakukan firman Tuhan.
Orang yang belum mengenal Allah, akan memuji menyembah, berserah pada berhala dunia, menganggap berhala dunia penolong penyelamat pemelihara hidupnya. Memuji Allah, karena mengenal Allah yang dapat diandalkan untuk menolong menyelamatkan memelihara, mengasihi penyayang panjang sabar. Memuji Tuhan karena hati melekat pada Tuhan dan menyerahkan segenap hati pada arahan, perintah, kehendak Tuhan.
Memuji Tuhan berarti memuji nama Tuhan. Mengapa memuji nama Tuhan? Sebab Tuhan bukan manusia, tapi Tuhan mempunyai sifat, pribadi. Nama adalah indentitas dari oknum, pribadi. Allah yang hidup punya nama, dan nama itu yang diperkenalkan kepada umat, supaya nama itu diingat, dimuliakan dipuji. Nama Tuhan bukan hasil pikiran manusia, itu dari Allah sendiri. Abraham mendengar suara Allah yang menjelaskan namaNya. Aku adalah Aku Yahwe. Artinya Aku menyertai, hadir bersamamu. Allah yang menyayangi, memberi pertolongan, menyelamat, memelihara, Allah berpihak pada manusia yang percaya. Memuji nama Tuhan dalam doa, dalam ibadah, dalam hidup sehari-hari tidak sembarangan, tidak asal menyebut nama Tuhan. Kita tidak menyebut nama Tuhan tanpa percaya pada Tuhan. Kita memuji Tuhan karena mengasihi nama Tuhan, yang menggambarkan sifat Tuhan yang adil penyayang, yang mengampuni kesalahan, menebus dosa, agar kita mendapat hidup kekal, mendapat kesembuhan dari penyakit, mengalami kasih setia dan rahmat, agar hasrat hati kita dipuaskan dengan kebaikan, menjadikan hati yang baru, agar bisa menjalankan sifat Allah yang penuh keadilan penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia
Memuji Tuhan, berarti menyembah dan tunduk pada Allah. Memuji Tuhan tapi tidak menyembah dan tidak tunduk pada Tuhan, maka pujian pada Tuhan sia-sia. Memuji Tuhan berarti memuji karya Tuhan, bukan memuji karya sendiri, karya manusia, dan tidak berpikir bahwa manusia lebih dari Tuhan. Orang ateis merasa karya manusia lebih hebat dari karya Tuhan, bahkan mereka berpikir tidak ada karya Tuhan. Kita harus bertobat dari sifat memuji membanggakan diri sendiri, membanggakan hal-hal duniawi dari diri sendiri, agar bisa memuji Tuhan segenap hati, jiwa, batin. Memuji Tuhan berarti Allah menjadi pusat, teosentris, bukan manusia menjadi pusat, homosentris. Memuji hasil karya sendiri, karya manusia, maka orang tidak akan memuji Tuhan segenap hati jiwa batin, tapi mendua hati.
Kita memuji Tuhan jangan dengan pikiran yang salah tentang Allah. Orang berpendapat Allah Maha Kuasa, tapi tidak mengakui kekudusan Allah, tidak mengakui kemurahan, kasih Allah, keadilan Allah, maka orang ini berpikiran salah tentang Allah. Kita memuji Allah yang Esa, tapi tidak memuji Yesus dan Roh Kudus, maka kita berpikiran yang salah tentang Allah yang Esa. Orang mengakui Allah pengasih penyayang tapi tidak mengakui kemahakuasaan Allah, maka pikirannya yang salah tentang Allah. Orang mengakui Allah Maha Kuasa dan Mulia tapi tidak mengakui Allah memelihara, mengurus, menolong menyelamatkan dunia dan isinya, maka orang ini berpikiran salah tentang Allah. Memuji Tuhan berarti mementingkan Allah lebih dari ajaran tentang Allah. Pemimpin Yahudi lebih mementingkan ajaran dari pada Allah. Karena itu mereka menolak Yesus sebagai Mesias utusan Allah. Ajaran bukan puji-pujian atau pengakuan yang hidup pada Allah yang hidup, kalau orang bergantung pada ajaran tapi tidak bergantung pada Allah yang hidup, maka agama itu menjadi sia-sia, tidak menghidupkan.
Kita memuji Allah, karena kita mengenal Allah melalui Yesus yang telah menebus dosa. Allah disembah dalam bimbingan Roh Kudus dan kebenaran Allah. Tanpa bimbingan Roh maka hati jiwa batin kita tidak bisa memuji Tuhan dengan penuh. Kita memuji Allah, yang tidak kelihatan, sebab Allah bukan manusia, tapi Roh dan Kebenaran Firman. Kita bisa memuji Tuhan segenap hati, kalau kita bergaul, dekat, bersekutu dengan Tuhan. Orang yang tidak dekat dengan Firman Tuhan, tidak bisa memuji Tuhan.
Marilah kita merenungkan pemberian Tuhan dalam Penebusan Yesus. Kita mengenang darah Yesus yang dicurahkan kepada kita, maka jiwa kita memuji Tuhan, bahwa sungguh besar Allah kita, seperti ungkapan dalam KJ. 64 ayat 2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus, ‘ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus. Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!” Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin mampu memotivasi hati, jiwa, batin kami untuk memuji dan bersyukur pada Tuhan dengan segenap hati, untuk memuji bahwa Tuhan yang sungguh besar, yang memberi penebusan melalui Yesus. Kami berdoa dalam nana Yesus. Amin
BABEL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bahan: Kejadian 11:1-9, (9),
Itulah sebabnya kota itu disebut dengan nama Babel karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
Syalom saudara-saudari yang dikasihi Kristus, nama Babel terbaca di kitab Kejadian sampai wahyu, rupanya Babel sebuah kota penting dalam Alkitab. Jika ditelusuri dari Alkitab, kota Babel dengan menaranya didirikan oleh Nimrod dari keturunan Ham anak Nuh (Kej 10:8). Nimrod yang penuh dengan kekerasan berkehendak (visinya) agar manusia setelah air bah jangan terserak. Sebagai usahanya (misinya) dan lambang kekuasaannya, Nimrod membangun kota Babel dengan menara yang ujungnya sampai ke langit. Menara itu dibangun mengerucut dan Visi dan misi Nimrod ini tidak sesuai dengan visi dan misi Tuhan, bahkan visi dan misi Nimrod ini berbahaya karena kekerasan yang terjadi. Tuhan menghendaki agar manusia memenuhi seluruh bumi (Kej 1:28), untuk itu Tuhan memberi kemampuan dan kuasa untuk beranak cucu, yaitu dengan pernikahan yang diberkati oleh Tuhan.
Selagi pembangunan kota dan menara yang ujungnya sampai ke langit dalam pembangunan, Tuhan melihat rencana itu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, maka Tuhan menghentikan pembangunan itu dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga namanya Babel. Kita bisa bayangkan dalam kekacauan itu, apa yang diperintahkan oleh Nimrod justru sebaliknya yang dikerjakan orang, akibatnya mereka terbagi dengan kelompok kecil dan saling menghindar, masing-masing melakukan sesuatu yang berbeda dan masing-masing berangkat meninggalkan yang lain masing-masing menurut bahasa mereka. Rupanya menara itu adalah lambang dan tempat pemujaan dewa mereka, keyakinan mereka pelataran puncak menara itu adalah pertemuan dewa Marduk, dewa langit dengan manusia.
Dalam perkembanan kerajaan Yehuda dengan Yerusalem kota kebanggaannya, oleh raja-raja mereka membawa Israel umat Tuhan meninggalkan Tuhan. Raja-raja Israel sendiri mengangkat imam untuk melaksanakan ibadah, begitu juga nabi ditunjuk oleh raja, mereka ini sebagai pemimpin telah meninggalkan Tuhan. Ibadah-ibadah Israel hanya formalitas saja, sedangkan hati umat itu jauh dari Tuhan. Dalam situasi Israel yang meninggalkan Tuhan, maka Tuhan memakai dan memanggil Babel untuk menghukum, menindas dan menghancurkan Yehuda dan Yerusalem. Raja dan penduduk diangkut sebagai tawanan dibuang ke negeri Babel. Namun karena Babel tidak percaya dan tidak mengenal Tuhan Allah, mereka membawa nama dewa Marduk yang memberi kemenangan maka dalam kejayaan ini Babel dihancurkan oleh kerajaan Persia dan Media.
Dari berdirinya Babel dengan menaranya, telah menjadi lambang kecongkakan manusia dan kejatuhannya yang tidak dapat dihindari. Kecongkakan hati ini hanya bisa dikalahkan oleh Allah, karena Allah mempunyai rencana agung yang mau dilaksanakan-Nya. Demikian juga kebebalan hati manusia yang diperlihatkan Israel juga dihancurkan Allah, walau memakai Babel sebagai alat, kehancuran itu untuk mendapat kembali orang yang percaya mengandalkan Tuhan yang terlihat dari Israel yang kembali dari pembuangan.
Aplikasi:
- Coba cari di mana letak kota Babel sekarang ini.
- Menurut Anda hal-hal apa yang membuat seseorang berhati congkak?
- Anda bisa memberikan tips untuk menghilangkan kecongkakan hati?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga sumber kehidupan, berbagai karunia kami terima yang membawa hidup kami menyenangkan. Karuniakan hikmat oleh Roh Kudus, sehingga kebahagiaan yang ada pada kami tidak membawa kecongkakan hati, tetapi kebahagiaan yang memuliakan Bapa. Inilah doa kami dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS230924]
TAHU TEK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yohanes 13:34-35 (TB 2)
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, apakah Anda mengenal sajian yang bernama ‘tahu tek’? Ya, Tahu tek adalah salah satu makanan khas dari kota surabaya. Sajian ini terdiri dari tahu yang digoreng setengah matang, lontong, telur, kentang, taoge dan irisan mentimun; kemudian disiram dengan saus kacang dengan campuran petis. Setelah itu diberi taburan kerupuk udang yang sudah dihancurkan. Keunikan tahu tek terlihat dalam proses penyajiannya, yaitu menggunakan gunting untuk memotong tahu, lontong, kentang dan sebagainya. Konon, nama tahu tek ini berasal dari suara gunting saat memotong tahu dan yang lainnya. Saat proses menggunting ini, munculah suara “tek… tek… tek…” yang bisa didengar oleh pembeli dan itu menandakan bahwa pesanan sedang diolah. Suara yang khas inilah yang membuat olahan makanan berbahan dasar tahu ini diberi nama ‘tahu tek’. Ciri khas suara “tek… tek… tek…” inilah yang membedakan sajian tahu tek dengan sajian dari tahu yang lainnya.
Ciri khas tahu tek ini mengingatkan kita tentang identitas kekristenan kita. Bila merujuk pada apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, ciri khas yang harus nampak dalam diri para murid adalah dipraktikannya kasih di sepanjang kehidupan. Sebagai nasihat bagi para murid sebelum peritiwa penangkapan dan wafat-Nya, Tuhan Yesus memberikan tekanan yang cukup tegas terkait dengan kasih. Saat itu, Tuhan Yesus menyampaikan, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi”. Topik tentang kasih yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ini berbeda dengan topik tentang kasih yang lainnya, misalnya: untuk mengasihi sesama manusia (Mat. 22:39; Luk. 10:25-37), dan mengasihi musuh (Mat. 5:44; Luk. 6:27, 35). Dalam nasihat Tuhan Yesus ini, IA mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi satu sama lain sama seperti Dia telah mengasihi kita, sehingga dunia akan mengenal bahwa kita ini benar-benar murid Tuhan Yesus. Dari cara-Nya menjadikan perintah ini sebagai tanda bagi orang luar untuk mengenali identitas kita, dengan demikian fokus praktik kasih itu ditujukan kepada saudara seiman dan mengasihi mereka dengan benar. Dari nasihat ini kita dapat menarik kesimpulan: pertama, mengasihi adalah sebuah perintah. Jika mengasihi merupakan perintah, hal itu berarti bahwa mengasihi merupakan kewajiban, bukan sebuah pilihan. Karena merupakan perintah, maka mengasihi merupakan tindakan nyata yang mesti diupayakan, bukan sekedar perasaan. Kedua, ada tolok ukur dalam mempraktikkan kasih ini, yaitu: mengasihi seperti Dia telah mengasihi kita. Hal ini berarti bahwa mengasihi saudara seiman itu mesti dilakukan sampai pada akhirnya dengan kerendahan hati untuk melayani mereka, dan berani mengurbankan segalanya. Ketiga,memiliki tujuan, yaitu: agar semua orang akan tahu bahwa kita adalah murid-murid-Nya. Praktik kasih inilah yang akan membedakan sikap hidup anak-anak Tuhan dengan orng-orang lain. Dengan kata lain, praktik kasih dapat menjadi sarana agar orang lain mengenal Tuhan Yesus yang sudah lebih dahulu mengasihi kita.
Saudaraku, kasih seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus itulah yang telah menjadi ciri khas para rasul dan jemaat perdana. Oleh karena itu, sebagai murid-murid Tuhan, kita mesti berupaya untuk dapat mempraktikkan kasih ini dengan sungguh-sungguh. Seperti halnya ‘tahu tek’ yang memiliki ciri khas, demikian pula murid-murid Tuhan mesti memiliki ciri khas pula, yaitu dengan memraktikkan kasih. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk dapat memraktikkan kasih seperti yang telah Engkau lakukan bagi kami. Kami rindu agar kami dapat menjadi kitab yang terbuka, sehingga banyak orang dapat mengenal Engkau. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
AYAT HAFALAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 116:5-6 (TB2)
”TUHAN itu pengasih dan adil, Allah kita penyayang. TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku tak berdaya, tetapi Ia menyelamatkan aku.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Saat masih anak-anak, pada waktu Sekolah Minggu, guru Sekolah Minggu yang melayani seringkali diakhir pelayanan firman memberikan sebuah ayat hafalan kepada anak-anak. Ayat hafalan itu harus dihafalkan, untuk kemudian diucapkan secara bergantian pada ibadah Minggu berikutnya. Dari hal sederhana ini, anak-anak dapat mengingat bermacam-macam ayat yang menjadi ayat hafalan. Cara ini efektif, dan sampai saat ini masih dipergunakan sebagai metode pengajaran firman Tuhan kepada anak-anak. Ayat hafalan menjadi salah satu cara melatih anak untuk mengingat dan melakukan firman Tuhan yang telah dia dengar dan renungkan.
Bacaan Alkitab saat ini merupakan bagian kesaksian Pemazmur akan kasih setia TUHAN dalam hidupnya. Diungkapkan dalam kesaksiannya, Pemazmur sangat mengasihi TUHAN, karena TUHAN mendengarkan seruan permohonannya (Ay. 1-2). Di saat maut mengancam hidupnya, Pemazmur berseru kepada TUHAN, maka TUHAN meluputkannya dari maut (Ay. 3-4). Pemazmur meyakini bahwa TUHAN senantiasa memelihara hidupnya dan menyelamatkannya (Ay. 5-6). Di dalam TUHAN ada kehidupan (Ay. 9). Dari kesaksian Pemazmur ini, kita mengetahui bahwa karya kasih Tuhan Allah nyata dalam setiap perjalanan hidup umat-Nya. Tidak dibiarkannya orang yang benar ditimpa kemalangan, orang yang lemah jatuh dalam kesesakan, sebab Tuhan kasih setia menyertai umat-Nya.
Di bulan bina ini, apakah yang menjadi kesaksian kita untuk menceritakan karya kasih Allah di dalam hidup kita? Jawabnya sederhana, Tuhan itu pengasih dan penyayang sebagaimana yang diungkapkan oleh Pemazmur. Dari kecil, melalui ayat hafalan kita menghafalkan ayat-ayat yang menguatkan iman kita. Saat kita dewasa, kita mengingat-ingat kembali ayat-ayat hafalan yang pernah kita hafalkan, kita renungkan dan yakini kebenaran firman Tuhan melalui ayat-ayat hafalan tersebut.
Kini mari kita tidak hanya sekedar hafal dengan ayat-ayat firman Tuhan tersebut, namun kita juga melakukan firman Tuhan tersebut.
Kita percaya firman Tuhan yang setiap hari kita baca dan renungkan akan menjadi pelita dalam perjalanan hidup kita di dunia ini. Di tengah gelapnya dunia, firman Tuhan menerangi langkah kita menuju kebenaran. Mari kita melanjutkan ayat hafalan kita, serta meyakini firman Tuhan adalah kebenaran dan pegangan hidup kita, yang membawa keselamatan. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati.
KAUM MUDA, JADILAH TELADAN!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara Saudari dan kaum muda yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik, dalam anugerah dan penyertaan Tuhan. Hari ini dalam Pekan Bina Kaum Muda kita merenungkan pesan firman Tuhan yang sangat penting bagi kita semua, terutama bagi pemuda, berjudul: “Kaum Muda, Jadilah Teladan!”. Dengan dasar dari 1 Timotius 4:12 (TB 2 ) “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kemurnianmu.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Tahukah Saudara bahwa dalam ayat ini rasul Paulus memberi nasihat kepada Timotius, seorang aktivis muda dalam gereja. Pada zaman itu, usia muda sering kali dipandang sebelah mata dan dianggap kurang berpengalaman. Namun, Paulus mengingatkan Timotius agar tidak membiarkan pandangan negatif orang lain merendahkan dirinya hanya karena usianya yang muda.
Di sini Paulus mendorong Timotius untuk menjadi teladan bagi jemaat dalam lima hal: dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian.
Bapak Ibu dan saudara-saudara khususnya para pemuda dan remaja, bagaimana kita dapat mengaplikasikan ayat ini dalam kehidupan kita sehari-hari? Paulus menasihatkan: Jangan minder karena usia. Sebagai pemuda, kita sering kali merasa tidak dihargai atau kurang dianggap serius karena usia kita. Sesungguhnya kita dipanggil untuk membuktikan bahwa meskipun muda, kita bisa menjadi contoh dalam iman dan kehidupan.
Pertama, Jadilah teladan dalam perkataan. Mulailah dari perkataan yang kita ucapkan setiap hari. Ucapan yang positif, yang membangun, dan yang membawa damai mencerminkan kehidupan seorang yang beriman. Kita harus menjaga mulut kita dari gosip, kebohongan, atau perkataan yang menyakitkan.
Kedua, Jadilah teladan dalam tingkah laku. Tindakan kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain, terutama oleh mereka yang mungkin tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu, perilaku kita harus mencerminkan ajaran Yesus. Dalam pergaulan, pekerjaan, atau studi, tunjukkan sikap yang jujur, rajin, dan menghormati orang lain.
Ketiga, Jadilah teladan dalam kasih. Kita dipanggil untuk mengasihi sesama, terutama mereka yang mungkin sulit untuk dikasihi. Dengan kasih, kita bisa membawa orang-orang di sekitar kita lebih dekat kepada Tuhan. Tunjukkan kasih melalui tindakan nyata, seperti membantu yang membutuhkan, menghibur yang berduka, dan mengampuni yang bersalah.
Keempat, Jadilah teladan dalam iman. Kita semua akan menghadapi tantangan dan cobaan dalam hidup. Namun, sebagai orang percaya, kita harus menjadi contoh dalam mempercayai Tuhan sepenuhnya, bahkan di saat-saat sulit.
Kelima, Jadilah teladan dalam kemurnian dan kesucian. Dalam dunia yang penuh dengan godaan, kita dipanggil untuk menjaga hati dan hidup kita tetap suci. Ini mencakup menjaga pikiran, perasaan, dan tindakan kita agar senantiasa berkenan di hadapan Tuhan.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan para Remaja dan Pemuda GKI Kwitang Pos Wismajaya sebuah lagu yag berjudul: “Ku mau setia.” Sebuah pujian yang menginspirasi banyak orang, tertuama kaum muda membuka diri di hadapan Tuhan, untuk dikoreksi oleh Tuhan. Para pemuda bertekad untuk menjaga hati tetap setia kepada Tuhan.
Ada kesaksian, seorang pemuda di gereja kita, sebut saja namanya Andi, meskipun sibuk dengan studinya, ia tetap rajin melayani Tuhan. Di tengah kesibukannya di kampus, ia masih menyempatkan diri untuk terlibat aktif dalam kegiatan gereja di kalangan Pemuda, dan selalu siap membantu siapa pun yang membutuhkan.
Ada satu saat ketika Andi sedang menghadapi tantangan besar. Nilai-nilainya di kampus sempat turun drastis karena terlalu banyak terlibat dalam pelayanan. Beberapa teman dan bahkan keluarganya menyarankan agar ia mengurangi pelayanan dan fokus pada studinya. Namun, dengan iman, Andi tetap percaya bahwa Tuhan akan memberikan jalan keluar. Ia belajar membagi waktu dengan lebih baik, tetap berdoa, dan terus melayani dengan setia.
Hasilnya, Andi berhasil lulus dengan nilai yang baik, dan pelayanan pemuda yang ia pimpin juga terus berkembang. Ia menjadi teladan bagi banyak pemuda lainnya di gereja, menunjukkan bahwa dengan iman, kesetiaan, dan kerja keras, kita bisa menjadi berkat bagi sesama. Puji Tuhan!
Saudara-saudara Bersediakah Saudara menjadi teladan yang baik dan menjadi berkat bagi banyak orang? Bersediakah, Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa kami yang di surga, kami bersyukur karena Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihi kami semua khususnya remaja pemuda. Kami berdoa untuk Komisi Remaja dan Komisi Pemuda, kiranya Tuhan memberkati. Tuhan memberkati kaum muda agar boleh menjadi teladan yang baik bagi masyarakatnya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM 19092024).
APA YANG ADA DI TANGANMU?
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Keluaran 4:2,
Tuhan bertanya kepadanya: “Apa yang ada di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.” Firman Tuhan, “Lemparkan tongkat itu ke tanah.” Ketika Musa melemparkannya ke tanah, tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa meninggalkannya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, “Syaloom.” Suatu kejahatan yang sering kita dengar yaitu “penjahat tertangkap tangan,” misalnya maling sedang mendorong motor yang dicurinya, pencuri atau “pengutil” yang digeledah mengeluarkan barang curiannya dari kantongnya. Dengan jelas kejahatan yang dia lakukan dan bisa ditanya kepadanya: Apa yang ada di tanganmu itu? Tetapi secara positif bisa juga dikenakan kepada seseorang untuk menunjukkan kebaikannya, seperti kapur tulis ada di tangan seorang guru, stir mobil ada ditangan sopir, sendok penggorengan ada di tangan ibu rumah tangga.
Nas renungan ini adalah awal panggilan Tuhan kepada Musa untuk memimpin umat Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Setelah Tuhan menyampaikan panggilan itu kepada Musa, ternyata awalnya Musa menolak, berbagai alasan telah dikemukakan Musa untuk menolak panggilan itu, karena Musa sungguh merasa tidak layak dan tidak mampu mengerjakan panggilan itu. Tiba saatnya Tuhan menyatakan penyertaan-Nya dengan memberi kuasa kepada Musa untuk tugas itu. Musa yang sedang menggembalakan kambing domba, sebagai gembala dia mempunyai tongkat, yaitu tongkat gembala. Tongkat itu sudah menyatu dengan dirinya, bagian dari kekuatannya, menjadi tanda kehadirannya di tengah kawanan dombanya. Tuhan bertanya kepada Musa dengan menunjuk ke tongkat itu: APA YANG ADA DI TANGANMU? Tongkat itu telah dijadikan oleh Tuhan sebagai tanda kehadiran-Nya dan kuasa-Nya sepanjang Musa memimpin umat Israel keluar dari Mesir. Kemudian tongkat itu disebut: tongkat Allah. Dari negeri Midian tanah pengungsiannya dari Firaun, dia kembali ke Mesir dengan membawa isteri dan anak-anaknya; ia juga memegang tongkat Allah itu di tangannya (Kel 4:20). Kemudian tongkat itu dilemparkan di depan Firaun, maka terjadilah mujizat, tongkat itu menjadi ular, dan ular-ular dari sihir-sihir dukun Firaun dimakan oleh ular Musa itu. Dengan tongkat itu Musa memukul air sungai Nil sehingga semua air di seluruh tanah Mesir menjadi darah. Tongkat Allah itu diangkat Musa di atas laut Teberau sehingga laut itu terbelah dua menjadi jalan selamat menyeberang bagi umat Israel. Dengan tongkat Allah itu di Rafidim Musa memukul tebing batu cadas maka memancarlah air dari batu itu dan umat Israel bisa minum. Sewaktu Yesus memberi makan 5000 orang di bukit padang, murid-murid menunjukkan 5 roti dan 2 ikan, hanya itu yang ada di tangan mereka, dengan mengucap syukur Yesus memecah roti itu dan murid-murid menyajikan sehingga 5000 orang lebih makan sampai kenyang dan sisa 12 bakul.
Pertanyaan Tuhan kepada kita: “Apa yang ada di tanganmu?” Sebagai buruh pabrik di tangan mereka ada mesin dan bahan untuk diproduksi, anak sedang belajar di sekolah ada alat tulis dan buku di tangan mereka, petani di ladang ada pacul dan alat lain mengerjakan sawah ladang, ibu rumah tangga ada sendok penggorengan di tangan mereka. Nas renungan kita mengajak kita agar apa yang ada di tangan kita dipakai menyatakan penyertaan dan kuasa Tuhan untuk mendatangkan kebaikan.
Aplikasi:
- Dalam bayangan/pikiran Anda, bagaimana Musa dan Harun menggunakan tongkat Allah itu?
- HP, barang yang paling lama di tangan kita, apakah itu menyatakan kuasa dan memuliakan Allah?
- Apakah pernah, (apa) yang ada di tangan Anda justru menyatakan kuasa dosa?
Mari berdoa:
Bapa di dalam surga, kami mohon utuslah Roh Kudus memimpin kami agar apa yang ada di tangan kami turut memuliakan nama Bapa. Demi Yesus Kristus kami mohon. Amin. [AS160924]
PERGUNAKAN WAKTU DENGAN BAIK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 2 Timotius 3:3 (TB2)
”tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranyabapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Akhir-akhir ini terjadi beberapa peristiwa mutilasi, ada seorang pemuda yang memutilasi kekasihnya sendiri, sadis dan kejam, belum lagi adanya penemuan mayat terbakar tanpa kepala, sepertinya tidak ada rasa kasihan lagi dalam diri orang-orang tersebut.
Alkitab sudah menggambarkan keadaan manusia pada zaman akhir, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak tahu mengasihi. Rasul Paulus mengatakan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat, sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
Paulus mengatakan hari-hari ini jahat, dia mau mengacu kepada kehidupan di zaman akhir, menuju akhir zaman, yang memang jahat. Hari-hari ini jahat, menunjukkan realita hidup bagaimana manusia semakin hari semakin jahat, kecenderungannya makin hari makin jahat.
Paulus mengajak kita untuk mempergunakan waktu yang ada, karena terus terang Iblis berusaha mengalihkan fokus hidup kita agar menyibukkan diri untuk hal-hal duniawi, kita sibuk bermain dengan scroll sosial media, sibuk menjelekkan orang lain seperti yang Alkitab katakana, dan lain sebagainya. Sehingga waktu yang ada kita isi dengan hal-hal yang menyenangkan diri kita bukan hati Tuhan. Kita semakin tidak ada waktu untuk berdoa, tidak ada waktu merenungkan firman Tuhan, tidak ada waktu untuk beribadah dan bersekutu.
Mari kita gunakan waktu yang ada untuk memuliakan Tuhan, Tuhan Yesus berkata, ”Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia”. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita.
