firman
SETIAP HARI MEMUJI ENGKAU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Mazmur 145
Salam sejahtera semoga kita makin mampu dan berniat teguh untuk memuji, mengagungkan, memuliakan nama Tuhan setiap hari seperti ungkapan dalam Mazmur 145:1-2 (TB2) Puji-pujian dari Daud. Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
Kita memuji Tuhan bukan karena kebiasaan, ikut-ikutan, atau terpaksa tapi karena alasan yang jelas, dimengerti dan direnungkan setiap hari. Kita membuat keputusan, tekad yang tidak berubah untuk memuji, memuliakan Tuhan setiap hari, seumur hidup kita. Kita belajar dari pemazmur bagaimana ia merumuskan alasan untuk memuji Tuhan.
Orang yang memuji Tuhan adalah orang yang mengalami kemenangan dalam iman, mengalami pembaharuan hidup, sehingga sadar dan mau melakukan kehendak Tuhan dengan taat sesuai bimbingan Roh Kudus. Kehendak Tuhan diantaranya adalah memuji, memuliakan, mengagungkan Tuhan. Orang yang memuji Tuhan adalah orang yang mempunyai hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. Mempunyai cara pandang yang benar tentang Tuhan.
Memuji Tuhan dilakukan dalam ibadah, berdoa, membaca firman. Memuji Tuhan berarti menyebut nama Tuhan dengan penghayatan, perenungan yang mendalam, semua perhatian diarahkan untuk memahami tentang Tuhan dengan benar, dan tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan seperti yang ungkapkan dalam Keluaran 20:7 (TB2), Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu, untuk disalahgunakan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyalahgunakan nama-Nya. Maknanya adalah kita harus selalu menghormati Tuhan, menjaga kekudusan nama Tuhan, tidak menggunakan nama Tuhan untuk lelucon, candaan, tidak menyebut nama Tuhan, kalau tidak pada tempatnya. Tempat kita menyebut nama Tuhan adalah dalam bersekutu, ibadah, doa, membaca firman Tuhan, bersaksi, menjelaskan firman Tuhan dan melayani. Menyebut nama Tuhan bukan untuk memuliakan nama diri sendiri, bukan untuk kepentingan pribadi tapi yang utama adalah untuk memuliakan, memuji nama Tuhan.
Melalui kalimat doa, nyayian memuji Tuhan, kita mengenal hati jiwa, sikap iman orang terhadap Allah. Kita mengenal hati jiwa dan sikap iman pemazmur melalui doa, nyanyian yang tertulis dalam kitab Mazmur. Kita belajar dari doa pemazmur tentang sikap iman, sikap dan dasar memuji dan bersyukur pada Tuhan. Dalam ibadah, yang diutamakan adalah persekutuan, kebersamaan dalam memuji Tuhan. Ini berarti ada sikap iman bersama agar bersama-sama mengagungkan, memuliakan dan memuji Tuhan.
Dalam memuji Tuhan, maka diri sendiri tidak dipuji. Daud seorang raja, tapi ia tidak memuji diri sendiri sebagai raja yang hebat, ia mengagungkan Tuhan sebagai Allah dan Raja yang agung, mulia, tidak ada bandingnya, perkasa. Hanya Allah sebagai raja yang disembah, sujud untuk menerima perintah Raja, menerima tugas dan kuasa untuk melakukan rencana atau kehendak Allah. Menyembah dengan sujud dihadapan Allah dengan sukacita, bukan perasaan kesal, marah, hampa, ketika menerima perintah, kuasa dari Tuhan. Kita menyapa Tuhan karena hasil perenungan yang mendalam dan membuat sukacita hati kita.
Alasan pemazmur memuji, memuliakan Tuhan karena Tuhan itu besar dan patut dipuji setinggi tingginya. Kebesaran Tuhan mengagumkan, tidak dapat diselami, tidak ada yang mampu memahami rahasia Allah. Ketidakmampuan memahami Allah membangkitkan pujian. Pemazmur sadar akan kebesaran Tuhan yang tidak terduga karena itu ia semangat, meluap-luap menyapa dan memuji Tuhan. Dan ia mengharapkan agar semua generasi memuji Tuhan. Pujian kepada Tuhan terus dijelaskan berulang-ulang kepada setiap generasi. Kita diingatkan agar anak-anak diajarkan agar mau dan mampu memuji Tuhan dengan sikap iman yang benar.
Memuji Tuhan berarti memberitakan, membicarakan, menyanyikan, memasyurkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang mulia agung, semarak ajaib, kuat, dahsyat baik adil. Karya Tuhan yang besar harus dijadikan peringatan, perayaan. Tuhan yang membangkitkan peringatan. Dalam ibadat, karya Allah yang agung dikenang kembali melalui pewartaan dan perayaan.
Alasan memuji Tuhan, yang lain adalah karena Tuhan itu pengasihi dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setianya. Tuhan itu baik dan penuh kerahiman, yaitu sifat seorang ibu, yang memelihara kandungannya. Kerahiman Allah yaitu melindungi, menghidupi, menghangatkan, memberi pertumbuhan, menjaga, menerima tanpa syarat. Kita dalam ibadah atau perayaan mengajak seluruh umat manusia untuk menyadari kembali belas kasih Allah yang tiada batasnya, yang dibutuhkan manusia dalam segala kondisi terutama ketika manusia telah menjadi korban tirani kuasa dosa, tirani kematian. Orang beriman agar lebih sering mengakui kebaikan dan kerahiman Allah yang tidak ada batas agama, suku, warna kulit kedudukan sosial, usia, jenis kelamin. Pemazmur berharap agar seluruh ciptaan ikut bersama-sama memuji Tuhan. Bersama-sama dengan orang yang dikasihi Tuhan yaitu orang beriman yang telah menerima kasih dan kesetiaan Tuhan. Kita berharap makin banyak orang yang memberitakan, menceritakan Kerajaan dan keperkasaan Allah, yang mulia, kepada setiap orang.
Alasan ketiga memuji Tuhan adalah Ia setia dan adil. Setia dalam segala perkataan-Nya, setia berpegang pada janji-Nya, penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. Pemazmur dalam penderitaannya berulang-ulang memohon kasih setia Tuhan. Bukti kasih setia Tuhan tampak dalam tindakanNya menopang orang yang jatuh dan menegakkan yang tertunduk. Orang yang berharap kepadaNya tidak pernah dikecewakan, karena Dia memberi mereka makanan pada waktunya dan memenuhi kebutuhan segala yang hidup. Keadilan Tuhan tampak dalam kasih setiaNya terhadap orang yang menderita. Dia dekat pada setiap orang yang berteriak minta tolong kepada-Nya. Tapi orang fasik dibinasakan-Nya.
Marilah kita memuji Tuhan setiap hari dengan jiwa yang bernyanyi, dalam terang surgawi. Kita berharap agar dunia turut bermazmur dan bersyukur padaNya seperti ungkapan dalam PKJ 220 ayat 1. Jiwaku, mari, nyanyi! Tuhanmu pujilah, yang dalam t’rang sorgawi dipuji, disembah. Hendak di dunia ini ‘ku turut bermazmur, selagi ‘ku di sini padaNya bersyukur! Amin
Berdoa;
Ya Tuhan mampukan kami untuk memuji, mengagungkan, memuliakan nama Tuhan setiap hari dengan alasan yang kami renungkan tentang Tuhan yang baik, perkasa, pengasih, penyayang. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
”TIWUL”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 4:2-3 (TB 2)
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Tiwul mengingatkan masa kecil saya. Setiap hari Minggu pagi, Mamah selalu membelikan kami tiwul krawu, yaitu penganan dari tiwul manis dengan parutan kelapa di atasnya. Tiwul krawu itu kami santap sebelum berangkat ke Sekolah Minggu. Bagi yang belum tahu, tiwul adalah salah satu makanan tradisional Jawa pengganti nasi yang dibuat dari gaplék (singkong yang sudah dikeringkan) kemudian ditumbuk dan dikukus hingga matang. Tak hanya lezat, nasi tiwul memiliki kandungan gizi yang tinggi dan bermanfaat. Kandungan serat dalam tiwul juga sangat bagus bagi pencernaan untuk mencegah sembelit. Cukup makan sedikit saja, sudah dapat mengenyangkan perut. Selain itu kandungan karbohidratnya lebih rendah dari nasi putih dan bebas gluten sehingga cocok untuk diet menurunkan berat badan.
Tiwul mudah ditemukan di Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, dan Blitar. Tidak diketahui secara pasti kapan tiwul ini mulai dibuat, namun tiwul sudah menjadi makanan pokok sebagian besar rakyat Jawa pada masa penjajahan Jepang seiring dengan mahal dan langkanya beras kala itu. Saat agresi militer Belanda yang ke-2 tahun 1948-1949, tiwul menjadi bekal makanan yang dibawa oleh para pasukan republik. Oleh karena itu, nasi tiwul menjadi bagian dari sejarah perjuangan melawan penjajah. Bagi pasukan republik dan rakyat yang berjuang melawan penjajah, tiwul bukan hanya sekedar makanan, melainkan mengandung filosofi yang dalam.
Dalam kamus bahasa Jawa modern Bausastra oleh Purwadarminta dijelaskan bahwa kata tiwul ini merupakan keratabasa (akronim) dari _‘setiti bén aja di awul-awul’ (terjemahannya teliti / cermat agar tidak berantakan). Dengan kata lain tiwul bermakna agar bertindak hati-hati, seksama, cermat, dan tidak ceroboh supaya tetap satu dan tidak mudah dipecah belah. Tiwul mengajarkan kepada manusia untuk tetap bersatu, berhati-hati dalam mengambil tindakan, dan juga tidak mudah dibuat berantakan atau terpecah-belah.
Filosofi tiwul mengingatkan kita kepada nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Efesus tentang rendah hati, lemah lembut, dan sabar agar dapat memelihara kesatuan dan persekutuan di tengah perbedaan latar belakang setiap anggota jemaat. Rasul Paulus mengingatkan, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”. Kerendahhatian mengarahkan kita kepada pengenalan diri, sehingga dapat memiliki kesadaran bahwa yang ada pada pada diri kita hanyalah karunia dari Tuhan. Dengan demikian, tidak ada hal yang patut kita sombongkan di hadapan orang lain. Kelemahlembutan mengajarkan kita agar menjaga persekutuan supaya lebih baik. Nasihat ini sesdungguhnya tentang pegendalian nafsu supaya tidak semena-mena terhadap orang lain. Khususnya, bagi anggot ajemaat yang dipercaya untuk menjadi pemimpin. Kesabaran mengarahkan agar semangat kita tidak kendor meski menghadapi gesekan, gunjingan dan perbedaan pendapat di tengah persekutuan. Kerendahhatian, kelemahlembutan, dan kesabaran yang dinyatakan ini menjadi bukti bahwa kasih itu menguasai hati kita. Dengan demikian, damai sejahtera Allah dapat hadir di tengah-tengah persekutuan jemaat.
Saudaraku, hari ini filosofi tiwul alias ‘setiti bén aja di awul-awul’ mengajak kita untuk tetap memelihara persekutuan dengan sebaik-baiknya. Bila setiti (teliti / cermat) itu dapat diwujudkan dalam sikap rendah hati, lemah lembut dan sabar, maka niscaya tidak akan di awul-awul karena damai sejatera Allah berada di tengah-tengah persekutuan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar persekutuan jemaat Tuhan tetap menjadi satu sama seperti Bapa dan Yesus adalah satu. Kami sadar bahwa kami harus terus berupaya agar tetap rendah hati, lemah lembut dan sabar. Untuk itu kami memohon pertolongan Roh Kudus agar mampu mewujdukannya. Terimakah Tuhan Yesus, Amin.
TANTANGAN YANG MENEGUHKAN PELAYANAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Kisah Para Rasul 20: 2 (TB2)
”Ia menjelajahi daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Sebelum bertobat, Chang Shen adalah pencuri, penjudi, dan seorang hidung belang. Ia pernah dipukuli sampai buta. Para tetangga menganggapnya sebagai hukuman para dewa. Pada suatu hari, ia pergi ke sebuah rumah sakit misionari untuk menyembuhkan matanya, lalu menerima Injil dengan sukacita. Ia pulang dan memperbaharui hidupnya.
Suatu hari, kelalaian dokter lokal membuatnya kembali buta, tetapi dalam kebutaannya, ia berkeliling dari desa ke desa untuk memberitakan Injil. Ia tak menyerah meskipun menghadapi tantangan besar. Akhirnya, ia menyerahkan diri dan dibunuh agar orang-orang yang menerima pemberitaan Injilnya dibebaskan dari tawanan kelompok penguasa. Demikian kisah Chang Shen sang martir, penginjil yang paling terkenal di Manchuria, Cina.
Sama halnya dengan Paulus, setelah bertobat dan memberitakan Injil, tekanan yang dialami Paulus semakin berat. Ia mengalami penganiayaan sekaligus ancaman kematian dari waktu ke waktu. Paulus harus mengubah rute perjalanannya karena ia sedang dikejar orang-orang Yahudi yang hendak membunuhnya. Tetapi ancaman dan derita tidak membuatnya gentar. Ia memilih jalan lain lalu bertemu dengan jemaat-jemaat yang pernah didirikannya.
Disanalah ia berjumpa dengan banyak pengikut Kristus yang juga menderita aniaya. Ia menguatkan hati saudara-saudaranya agar tetap teguh dalam iman meskipun ia sendiri menderita. Secara lahiriah, Paulus tampak lemah dan hina, tetapi kehadiran teman-teman yang menyertai perjalanannya menopang dan menunjukkan bahwa kehadirannya berharga. Paulus juga membangkitkan Eutikhus dari kematiannya. Peristiwa itu semakin meneguhkan kerasulan Paulus dan penyertaan Tuhan atas dirinya.
Di minggu terakhir bulan Diakonia ini, kita diingatkan bahwa perjalanan pelayanan tidak mungkin lepas dari tantangan. Gereja dan umat yang turut serta dalam pelayanan akan selalu berhadapan dengan tekanan pelayanan dari banyak sisi. Perkara diragukan, diremehkan, dihina, dicaci maki, tak dihargai, dan berbagai pergumulan yang dihadapi justru menjadi tantangan yang meneguhkan.
Dalam kerapuhan, tangan Tuhan menopang. Di batas kelemahan, Tuhan meneguhkan perutusan-Nya. Seperti Paulus diberi-Nya kuasa untuk membangkitkan orang mati, demikian Tuhan menyatakan kuasa-Nya melampaui batas-batas kemampuan manusia. Kiranya kuasa dan penyertaan Tuhan di tengah tantangan semakin meneguhkan kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Selamat melayani, Tuhan memampukan kita.
KUPERCAYA HANYA YESUS PENOLONG YANG SETIA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Jemaat Tuhan yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik. Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Kupercaya hanya Yesus Penolong yang setia” dengan dasar dari Mazmur 23:1-4 (TB 2) “ TUHANlah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang meneguhkan aku.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, apakah Saudara saat ini sedang mengalami berbagai tantangan, pergumulan, dan kesulitan? Tahukah Saudara dalam Mazmur 23 yang sangat terkenal ini kita memiliki janji Tuhan yang pasti bahwa Dia adalah Penolong yang setia, yang senantiasa menyertai dan menuntun kita? Ya, Dialah Gembala yang baik dalam hidup kita. Dalam Yohanes 10:11 Tuhan Yesus menyatakan: “Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-domnba-Nya.” Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik bukan hanya memelihara, menuntun, dan melindungi kita. Tetapi juga mengasihi kita dengan kasih yang tak terhingga. Dia memberikan nyawa-Nya demi keselamatan kita! Karena itu, kita dapat percaya bahwa hanya Dia adalah Penolong yang setia. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Joyful Choir GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Hanya Yesus Penolong yang Setia” Pujian ini sungguh menginspirasi dan meneguhkan banyak orang percaya, karena lagu ini mengandung pesan yang meneguhkan iman, tidak takut dan bimbang, karena Tuhan lebih tahu yang terbaik bagi kita. Ia sanggup memulihkan setiap orang yang berserah dan percaya kepadaNya.
Saudara-saudara, mungkin saat ini ada Saudara yang sedang berjalan menghadapi lembah kekelaman, seperti masa-masa sulit yang penuh dengan ketidakpastian dan kesedihan. Namun, firman Tuhan hari ini meneguhkan kita: kita tidak perlu takut, tak perlu bimbang, karena Tuhan Yesus senantiasa menyertai kita. Dia adalah Terang yang menerangi jalan kita dan memberikan penghiburan di tengah kegelapan seperti kesaksian pemazmur: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang meneguhkan aku.”
Yakinlah Saudara, Tuhan Yesus adalah Penolong yang setia. Dia tidak pernah meninggalkan atau membiarkan kita. Dalam setiap situasi, kita dapat berserah kepada-Nya dan percaya bahwa Dia sanggup memulihkan kita! Dialah Penolong yang setia!. Marilah kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan Yesus. Dia adalah Penolong yang setia, yang selalu menyertai dan menuntun kita.
Dalam setiap pergumulan dan tantangan, mari kita ingat bahwa kasih-Nya menerangi jalan kita, dan kita tidak perlu takut dan bimbang karena Dia selalu bersama kita.
Percayalah bahwa Tuhan Yesus tahu yang terbaik bagi kita dan sanggup memulihkan hidup kita. Ketika kita mengandalkan Tuhan Yesus, kita menemukan damai sejahtera yang sejati.
Bersediakah Saudara menyerahkan hidup sepenuhnya dalam pimpinan Tuhan? Bersediakah Saudara bersaksi dalam kehidupan sehari-hari dan menyatakan: “Kupercaya hanya Yesus Penolong yang setia.” Bersediakah Saudara melakukannya? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus, Gembala yang baik. Kami bersyukur dan memuji Engkau karena Engkaulah Penolong yang setia. Kami berdoa bagi setiap pribadi anak-anakMu yang sedang mengalami pergumulan hidup yang berat, kiranya Tuhan menolong dan memulihkan serta memberi damai sejahtera. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 270624)
BERAKAR DALAM KASIH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 3 :14-21
Salam sejahtera, semoga kita dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus di dalam batin, sehingga oleh karena iman maka Kristus tinggal di dalam hati dan kita berakar di dalam kasih seperti ungkapan dalam Efesus 3:16-17 (TB2) Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Pada saat ini, era digital sangat berkembang di dalam masyarakat terutama di dalam generasi muda. Perkembangan ini dapat memunculkan pengaruh, seperti perilaku dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak atau tidak. Ada sebagian orang menggunakan kemajuan teknologi ini untuk hal-hal negatif, yang merusak. Kita berharap, kemajuan era digital membawa dampak perubahan yang baik bagi semua orang terutama generasi muda, sehingga dapat memajukan kehidupan bersama di masa depan.
Era digital banyak membawa dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak positif adalah kemudahan untuk menerima berita yang terbaru dan aktual, mudah mencari informasi yang ingin diketahui melalui media sosial. Dampak negatifnya adalah informasi palsu, negatif, yang merusak, membuat resah, mudah disebar melalui media sosial, walau sudah dihapus, tetap saja beredar, karena disebar ulang oleh pihak lain. Orang mudah menggunakan teknologi sebagai bahan untuk belajar atau mengajar. Orang dibantu dalam merintis usaha dengan lebih mudah karena ada aplikasi belanja dapat dijangkau oleh semua kalangan. Setiap orang, yang memiliki keahlian atau prestasi dapat menyalurkannya melalui media sosial, seperti konten belajar, seni, keterampilan membuat masakan, make up, dan lain – lain dengan mempromosikan lewat konten yang menarik, serta banyak yang lainnya.
Gadget membawa pengaruh negatif seperti membuat orang menjadi bermalas-malasan dan tidak produktif karena sangat ketergantungan atau kecanduan menggunakan gadget. Era digital meningkatkan resiko pembulian. Banyak orang dapat mengalami pelecehan, ancaman, atau penggunaan kata-kata yang merugikan, yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional orang. Banyak situs belanja online membuat orang lebih konsumtif karena memudahkan orang dapat membeli sesuatu yang diinginkan tapi kurang bermanfaat dan hanya ingin dibeli karena sedang trend. Konten-konten yang tidak sehat, seperti kekerasan, pornografi, dan perjudian online, dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku secara negatif. Perjudian online yang menipu dan menjerat orang dalam utang sehingga membuat kerusakan dalam hidup pribadi dan keluarga. Era digital membuat sebagian orang lebih senang ibadah online, dan tidak suka bersekutu tatap muka di tempat kebaktian.
Kemajuan era digital banyak membawa pengaruh dan dampak bagi banyak orang. Perlu pemahaman mengenai bagaimana cara kita menyikapi semua dampak yang ditimbulkan dari era digital ini. Edukasi mengenai literasi digital, pembimbingan, dan komunikasi terbuka sangatlah penting.
Dalam menghadapi pengaruh negatif dan merusak dari ajaran, perilaku yang ada di lingkungan rumah, sekolah, gereja, maka anggota gereja perlu dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus di dalam batin, sehingga dalam iman pada Kristus maka Kristus tinggal dalam hati kita dan kita berakar serta berdasar di dalam kasih dan menguatkan orang dalam menghadapi pengaruh negatif di sekitar.
Roh Kudus bekerja dalam batin artinya dalam akal budi, kesadaran dan kemauan. Akal budi untuk mengetahui mana yang baik dan jahat. Kita berdoa agar Kristus memberi hikmat agar kita hidup dalam keselamatan, bukan kebinasaan. Dalam menghadapi pengaruh negatif era digital dan pengaruh di lingkungan maka kita memohon Roh Kudus bekerja, berkuasa dalam batin kita. Kesadaran adalah kepekaan, sifat sensitif terhadap apa yang jahat buruk, merusak sehingga kita berjaga-jaga terhadap tipuan iblis melalui pengaruh digital dan pengaruh dunia lainnya. Kemauan adalah kemauan untuk melakukan kehendak Tuhan, melakukan kebenaran keadilan damai kasih dan lain-lain. Kalau hanya mengetahui kehendak dan kebenaran Tuhan tapi tidak ada kemauan melakukan, maka iman menjadi sia-sia sebab iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Akal budi, kesadaran, kemauan akan makin kuat jika Yesus tinggal dalam hati kita.
Kita beriman pada Kristus dan Kristus tinggal dalam hati kita maka kita makin berakar di dalam kasih. Berakar artinya menyerap firman Tuhan dan kasihNya yang dibutuhkan oleh hidup kita. Menyerap itu berarti mengerti, memahami, betapa lebarnya, panjangnya, tingginya dan dalamnya kasih Kristus, yang dinyatakan dalam kematianNya di salib untuk menebus dosa semua manusia. Kasih Kristus itu melampaui segala pengetahuan. Paulus mendoakan agar anggota jemaat terus-menerus mengenal, mendalami kasih Kristus tersebut. Kita saat ini dalam persekutuan bersama, juga mendoakan anggota jemaat, agar terus-menerus mengenal, mendalami merenungkan siang dan malam kasih Kristus. Merenungkan itu bukan hanya membaca dan mendengar firman Tuhan, tapi mencerna, menghayati kasih Kristus dan menyerap menjadi bagian hati jiwa pikiran dan perilaku kita. Menyerap firman dan kasih Kristus, berarti firman Tuhan dan kasih Kristus tinggal di dalam hati selama kita hidup, dan kita terus beriman pada firman dan kasih Kristus. Kristus tinggal dalam hati, berarti firman Tuhan Yesus tinggal dalam hati, mengatur sikap, cara berpikir, cara merasa, dan bertindak sesuai kehendak Yesus.
Kita berdoa dalam persekutuan bersama agar semua anggota jemaat diberikan Tuhan kemampuan mengenal kasih Tuhan. Kita makin mengenal bahwa salib Yesus adalah dasar harapan orang Kristen. Mengenal kasih Kristus berarti memahami, mengakui bahwa Allah mengasihi anggota jemaat. Di luar kasih Allah, hanya ada kegelapan, hukuman murka Allah. Semakin mengenal, memahami kasih Kristus maka kita yakin bahwa tidak ada kasih di dunia ini yang melebihi kasih Kristus. Kasih Kristus kita kenal dalam persekutuan umat yang bersatu, saling mengasihi, bukan berseteru. Kasih Kristus tidak dikenal dalam jiwa yang egois atau individualis.
Dalam menghadapi pengaruh negatif di era digital, kita sangat memerlukan Kristus setiap jam, dalam cobaan, hanya Tuhan yang kita pegang, karena Dia penuntun. Siang dan malam Kristus tingga beserta kita seperti ungkapan dalam KJ. 329 ayat 3. Aku perlukan Dikau tiap jam; dalam cobaan Kaulah kupegang. Siapa penuntun yang setaraMu? Siang dan malam tinggal sertaku! amin
Berdoa;
Ya Tuhan kiranya kami makin dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus di dalam batin, sehingga oleh karena iman maka Kristus tinggal di dalam hati dan kami berakar di dalam kasih, dalam nama Yesus kami berdoa. amin
KETIKA MENINGGALKAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bahan: Yeremia 2:32,
Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannya, atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya? Tetapi umat-Ku melupakan Aku, sejak waktu yang tak terbilang lamanya. (Tb.1)
Saudara saudari yang dikasihi Kristus, tidak jarang kita lupa di mana kita meletakkan barang berharga milik kita. Ada saatnya seseorang lupa meletakkan arloji, kacamata, kunci, dst. Kalau lupa berarti tidak sengaja, sehingga saat diingat atau dibutuhkan langsung mencari sampai dapat. Berbeda dengan melupakan sesuatu, dengan sengaja hendak meninggalkannya dari ingatan, mungkin sesuatu itu tak berguna lagi, bahkan bisa menjadi beban, sehingga lebih baik meninggalkannya atau melupakannya.
Bahan renungan kita hendak menyatakan seharusnya, seperti seorang anak dara yang tidak akan lupa pada perhiasannya. Perhiasan bagi anak gadis merupakan kebangaan dan sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak mungkin dia lupakan. Seperti pengantin perempuan orang Yahudi, memakai selendang sebagai ikat pinggang menatang gaun pengantin yang dikenakannya, sehingga selendang ikat pinggang pengantin itu tidak mungkin dilupakannya. Apa yang hendak disampaikan nabi Yeremia ialah: suatu kesedihan yang amat mendalam karena ketidaksetiaan umat Tuhan, bangsa Israel. Mereka telah melakukan hal yang tak terpikirkan, yaitu melupakan, meninggalkan Tuhan (dengan sengaja) yang telah menebus mereka dari Mesir yang telah memelihara mereka selama 40 tahun di padang gurun.
Pemeliharaan itu tidak sia-sia, akhirnya mereka menduduki dan memiliki tanah Kanaan. Di tanah ini mereka menjadi besar, jaya dan makmur. Pada awal kejayaan mereka dalam pemerintahan raja Daud mereka dibangun dalam ibadah, memuji dan menyembah Tuhan Allah. Kesetiaan kepada Allah dalam ibadah memberi kejayaan, sehingga Allah berjanji mengekalkan, meneguhkan kerajaan Israel kekal selamanya. Israel dalam kesetiaan, ibadah, penyembahan bagaikan perhiasan yang tak terlupakan. Namun kesetiaan, ibadah, penyembahan itu tergerus dan diselewengkan bangsa itu yang diprakarsai oleh pemimpin, seperti raja, imam dan nabi. Kesetiaan menjadi pura-pura, ibadah menjadi formalitas, penyembahan dialihkan kepada berhala, dewa Baal.
Yeremia mendapat tugas menjadi nabi Allah untuk menyampaikan nasihat firman Tuhan. Nasihat yang dibarengi dengan konsekwensi, bila mereka kembali sadar berbalik kepada Tuhan Allah (bertobat) maka Allah memelihara mereka, tetapi bila mereka menolak pertobatan, tetap melupakan Allah, maka negeri mereka hancur, umat itu menjadi tawanan diperbudak bangsa lain. Berbarengan dengan nasihat itu, tentara kerajaan Babel sudah mendekati negeri mereka, siap dengan pasukan menghancurkan Yehuda dan Yerusalem. Dalam perumpamaan anak dara dengan perhiasannya atau pengantin perempuan dengan ikat pinggangnya, demikian lembut Yeremia menyampaikan nasihat itu, tetapi dengan tegas. Sayang sekali Israel tegar melupakan dan meninggalkan Allah, sehingga Nebukadnezar raja Babel, menghacurkan Yehuda dan Yerusalem, rakyat dibawa tertawan ke pembuangan di Babel.
Aplikasi:
- Pernahkah Anda meninggalkan firman Tuhan dan berakibat buruk?
- Israel lebih percaya kepada Mesir dari pada pertolongan Allah, mengapa?
- Pernahkah Anda merasa terlambat untuk bertobat dari kesalahan?
Mari berdoa:
Bapa surgawi yang tak henti-hentinya menasihati kami, agar perhiasan kebanggan kami, yaitu kasih setia Tuhan jangan sekali-kali kami lupakan. Kami menjalani hidup ini menjadi berarti kalau kasih dan kuasa Tuhan dalam pimpinan dan hikmat oleh Roh Kudus ada di hati kami. Demikianlah harapan dan permohonan kami dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS240624]
”SLUMAN, SLUMUN, SLAMET”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Amos 5:14-15 (TB 2)
“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup. Dengan demikian, TUHAN, Allah Semesta Alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat, cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang. Mungkin TUHAN, Allah Semesta Alam, akan mengasihani yang tersisa dari keturunan Yusuf”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mungkin Anda pernah mendengar peribahasa “sluman, slumun, slamet” ini. Tetapi apakah Anda tahu arti dan maksudnya? Ada sebagian masyarakat Jawa yang mengartikan pepatah ini hanya sebagai “yang penting selamat” saja. Ternyata artinya tidaklah sesederhana itu, karena peribahasa “sluman, slumun, slamet” ini memiliki makna yang mendalam dan bersifat religius. Kata ‘sluman’ dapat diartikan sebagai lancar, ‘slumun’ berarti halus, dan ‘slamet’ berarti aman atau selamat.
Peribahasa “sluman,slumun, slamet” ini merupakan sebuah doa untuk memohon kebaikan. Bila diartikan memakai bahasa sekarang, “sluman,slumun, slamet” adalah teknik positif thingking untuk dapat menguasai diri, sehingga bisa memiliki pikiran yang jernih supaya dapat menentukan strategi agar bisa bergerak maju. Maksudnya, “sluman, slumun, slamet” dapat digambarkan sebagai seseorang yang ingin menggapai sebuah keberhasilan, namun dilakukannya secara diam-diam tidak menyolok dan tidak pamer. Oleh karena itu, makna peribahasa “sluman, slumun, slamet” bukanlah ‘sekedar selamat’ saja, melainkan permohonan atas keselamatan yang diperoleh melalui jalan yang ditetapkan Tuhan, bukan sekadar keselamatan dari bahaya duniawi.
Nah, berbicara tentang “sluman, slumun, slamet” ini, mengingatkan kita tentang salah satu episode kehidupan umat Israel pada jaman pelayanan Nabi Amos. Pada waktu itu, umat begitu gemar untuk ‘mencari Tuhan’ melalui peribadahan mereka. Salahkah? Tentu tidak, bukan? Karena Tuhan sendiri yang mengatakan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup!” Hanya saja upaya mereka dalam mencari Tuhan itu dipisahkan dari praktik hidup sehari-hari. Tindakan mencari TUHAN itu tidak bisa dipisahkan dari relasi kita dengan sesama. Bagaimana seseorang menjalani dan mempraktikkan relasi sosialnya sesdungguhnya merupakan cerminan dari bagaimana kedekatannya dengan TUHAN. Dengan kata lain, relasi dengan TUHAN dilihat dari relasi dengan sesama. Yang terjadi di kalangan umat pada waktu itu adalah: ibadah dilakukan dengan baik, namun perilaku mereka tetap jahat kepada orang lain dan tidak adil kepada yang lemah. Oleh karena itu, melalui Nabi Amos Tuhan bersabda, “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup. Dengan demikian, TUHAN, Allah Semesta Alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat, cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang. Mungkin TUHAN, Allah Semesta Alam, akan mengasihani yang tersisa dari keturunan Yusuf”.
Kata “mencari” dalam konteks ini berbicara tentang orientasi hati seseorang, bukan hanya sekadar suatu tindakan. Yang ingin dibenahi bukan hanya tindakan (perubahan perilaku), tetapi juga perubahan sikap hati. Sedangkan untuk menekankan aspek batiniah, dipakai ungkapan “bencilah yang jahat”. Sikap ini bukan sekadar menjauhi atau tidak melakukan yang jahat, tetapi benar-benar memandang kejahatan dengan penuh kebencian. Ruang hati tidak boleh disisakan untuk kejahatan. Sebaliknya, ketaatan juga didorong oleh cinta. Ketaatan kepada Allah yang tidak disertai dengan cinta kepada-Nya hanyalah keterpaksaan yang melelahkan dan menakutkan. Melelahkan, karena seseorang memang tidak benar-benar ingin melakukannya. Menakutkan, karena seseorang melakukan hanya gara-gara takut dijatuhi hukuman.
Saudaraku, kiranya peribahasa “sluman, slumun, slamet” ini mengingatkan kita agar kita dapat mewujudkan apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu: “carilah yang baik dan jangan yang jahat, bencilah yang jahat dan cintailah yang baik!”. Tidak perlu pamer, tetapi lakukan dengan tekun dan penuh cinta kepada Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, meski kami sadar bahwa ini tidaklah mudah, namun kami rindu untuk mewujudkan kehendak-Mu agar dapat ‘mencari yang baik dan bukan yang jahat’. Kiranya roh Kudus menolong kami untukd apat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
