firman
SUARA KENABIAN UNTUK PENGUASA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Daniel 5:25-28, Inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. Inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: Tuanku ditimbang dengan neraca didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, Tuhan sering “berbicara” menyampaikan kuasanya melalui mimpi, penglihatan, dll. Seperti Tuhan menyatakan masa depan negeri Mesir melalui mimpi Firaun, dan dijelaskan oleh Yusuf maknanya. Nebukadnezar juga bermimpi dan Daniel, seorang Yahudi sebagai orang buangan, memberi arti mimpi itu dan terjadi, dijalani oleh raja Nebukadnezar. Dari bahan renungan ini, raja Belsyazar dalam suatu perjamuan istananya, tibat-tiba ada sepotong telapak tangan yang memegang alat tulis, dan menulis sebuah kalimat: “Mene, mene, tekel ufarsin,” tulisan itu asing bagi seisi istana, diminta juga kepada para orang bijak, yaitu ahli nujum dan ahli jampi untuk membaca dan mengartikannya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengartikannya. Peristiwa itu membuat raja gelisah ketakutan.
Permaisuri, berkata: ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus, dia dapat membaca dan menyatakan makna tulisan itu, dialah Daniel. Dengan rela Daniel akan menyatakan maknanya, dengan tidak akan menerima hadiah yang telah dijanjikan raja. Di sinilah dibutuhkan Suara Kenabian Kepada Penguasa, walau suara atau makna tulisan itu suatu hukuman kepada raja. Makna tulisan itu bukan janji kejayaan, tetapi kehancuran dan akhir kekuasaan raja itu. Tidak ada suatu beban atau ketakutan pada Daniel untuk menyampaikan makna tulisan itu, yang isinya hukuman kepada raja, dan kerajaan Babel akan direbut oleh bangsa Media dan Persia. Demikian juga raja Belsyazar mendengar dengan tenang, bahkan sempat memerintahkan agar hadiah yang dia janjikan itu diberikan kepada Daniel. Dengan tenang raja menerima makna tulisan itu. Pada malam itu juga terbunuhlah raja, dan kerajaan Babel runtuh oleh Persia dan Media.
Sebagai orang Kristen dan kehadiran Gereja di negeri ini, menyuarakan “suara kenabian” adalah tugas kita. Bapak TB Simatupang dengan penghayatannya bahwa “Pembangunan adalah pengamalan Pancasila,” turut disebut-sebut oleh penguasa di jaman Orde Baru. Seorang teolog Jerman Dietrich Bonhoeffer, seorang pemrakarsa untuk menentang kekejaman Hitler, demikian dia menyuarakan suara kenabian bagi penguasa, akhirnya Hitler menggantung dia. Kemungkinan resiko seperti itu akan muncul. Apakah dibayangi resiko ini maka kita enggan menyuarakan suara kenabian di masyarakat kita, atau karena alasan lain? Saya rasa suara kenabian dari kita tidak harus berskala besar, tetapi dilingkungan kecil, lingkungan kerja atau kantor. Di mana kita menyuarakan kebenaran sesuai firman Tuhan, di mana kita menolak atau melawan kejahatan sesuai firman Tuhan, maka itulah suara kenabian kita.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Di setiap penolakan oleh sekelompok atas kehadiran bangunan gereja, di sana selalu kandas “suara kenabian” kita, apa penyebabnya?
- Apakah Anda mempunyai tips untuk kita menyampaikan “suara kebenaran”? di masyarakat kita?
- Apakah menurut Anda kita cukup berbicara tentang kasih, kebenaran, keadilan sesuai firman Tuhan, hanya untuk kalangan jemaat gereja saja?
Mari berdoa: Bapa surgawi, kami telah menerima firman Tuhan, kami berusaha agar firman Tuhan itu menjadi dasar hidup, usaha dan kerja kami. Karena itu karuniakan hikmat agar suara kenabian, suara kebenaran, kasih dan keadilan dapat kami sampaikan baik dalam lingkup kecil maupun besar sesuai dunia kehidupan kami. Dalam Kristus kami mohon, Amin. [AS180324]
SUPER CARRY
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Samuel 16:12 – TB2
“Kemudian Isai menyuruh orang untuk menjemput dia.Pipinya kemerah-merahan, matanya indah dan tampan kelihatannya. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Super carry adalah nama salah satu jenis mobil produksi sebuah pabrikan mobil asal Jepang. Kalau tidak salah, jenis kendaraan ini menjadi raja jalanan baik di kota maupun pedesaan karena digunakan sebagai mobil angkutan. Ketika masih melayani di Ajibarang – Jawa Tengah, super carry ini banyak digunakan sebagai moda angkutan pedesaan. Bahkan, kendaraan ini bisa mengangkut muatan melebihi kapasitas angkut yang ditetapkan. Dan saat itu, merupakan pemandangan yang biasa bila jam-jam berangkat atau pulang sekolah, ada beberapa penumpang yang naik di atas kap kendaraan.
Nama super carry ini sendiri seringkali dipakai sebagai bahan tebak-tebakan di kalangan masyarakat. Pertanyaan untuk tebak-tebakkan-nya adalah: “mobil apa yang paling lambat lajunya?” atau “kendaraan apa yang selalu tertinggal di belakang?” Jawabnya: “super carry”. Bagi orang Jawa, pasti langsung bisa mengerti apa yang dimaksudkan dengan jwaban tadi. Jadi begini,bila dilafalkan kata “carry” memiliki kesamaan bunyi (homofon) dengan salah satu kosa kata bahasa jawa “kéri”. Dan kata “kéri” ini di dalam bahasa Jawa berarti tertinggal. Sudah paham maksudnya, kan? Kata “kéri” saja artinya sudah tertinggal, apalagi ditambah dengan kata “super”, ya jelas lebih tertinggal lagi. Kemudian, dari tebak-tebakkan ini, maka sering muncul guyonan, seperti: “lha wong “super kéri”, kok jalannya bisa cepat sekali, ya?” Maksudnya: “lha wong namanya sangat tertinggal kok, larinya bisa kencang sekali?”
Pertanyaannya sekarang adalah: apakah yang sangat tertinggal ini (super carry) pasti jalannya lambat? Pasti tidak. Dengan muatan yang berlebih saja, kendaraan ini masih bisa melaju dengan kencang, apalagi bila tidak ada muatannya sama sekali. Meski disebut dengan ‘sangat tertinggal’, namun kenyataannya jenis kendaraan ini masih digunakan sebagai moda angkutan desa dan kota di berbagai wilayah Indonesia. Artinya, kemampuannya dbuktikan dalam kenyataan bukan dalam sebutan.
Nama, julukan atau casing seringkali tidak mewakili kapasitas sesungguhnya dari seseorang. Inilah pengalaman yang pernah di alami oleh Samuel. Samuel pernah melihat Daud hanya sebagai orang muda yang pipinya kemerah-merahan, matanya indah dan tampan wajahnya. Mungkin bila dibandingkan dengan perawakan Raja Saul waktu itu, sosok Daud ini jelas kalah jauh. Atau mungkin bagi Samuel, Daud tidak mewakili “potongan” yang pas sebagai calon raja Israel. Namun kenyataannya, apa yang dilihat Samuel tidak sama dengan apa yang dilihat oleh Tuhan. Alkitab memberikan kesaksian, demikian: “Kemudian Isai menyuruh orang untuk menjemput dia. Pipinya kemerah-merahan, matanya indah dan tampan kelihatannya. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Sejarah Israel mencatat bahwa orang muda yang pipinya kemerah-merahan, matanya indah dan tampan wajahnya itu berhasil mendirikan kerajaan Israel raya dengan wilayah meliputi Dan di sebelah utara sampai Bersyeba di sebelah selatan (bdk. 2 Samuel 3:10).
Dalam kehidupan ini, yang dibutuhkan adalah berani menunjukkan jatidiri dan kapasitas yang terbaik yang dimiliki. Oleh karena itu, jangan hanya terjebak pada nama atau julukan atau ‘casing’ saja, melainkan bukti dari kerja yang nyata. Sebagai anak-anak Tuhan, mari kita berikan yang terbaik dari kemampuan kita, sebab kita rindu untuk memuliakan Nama Tuhan. Meski namanya “super kéri”, namun nyatanya bisa melaju dengan kencang, bukan? Selamat berjuang Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati,
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kamki rindu untuk memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang Engkau anugerahkan ke dalam diri kami. Kiranya roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
ATI-ATI PAK SUPIR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: 1 Korintus 10:12-13 (TB2)
”Sebab itu, siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Allah itu setia dan tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan..Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Beberapa saat yang lalu sempat viral video rombongan ibu-ibu yang berwisata kesuatu kota yang baru pertama kali mereka datangi. Dalam video tersebut salah satu ibu mengucapkan “Ati-ati pak supir!”, Ibu tersebut bermaksud mengingatkan supir untuk melaju dengan pelan, sehingga dapat mengabadikan pemandangan sekitar melalui ponselnya.
Ada momentnya kata ”Ati-ati pak supir” yang diucapkan untuk mengingatkan pengendara dalam mengendarai kendaraannya. Akan tetapi supir kendaraan yang saya naiki, saat itu saya melakukan perjalanan ke Mojokerto untuk bina kader dan saya bersama beberapa teman naik bus malam, sang supir mengendarai dengan laju yang sangat kencang. Supir merasa dirinya sudah terbiasa melewati jalan tersebut, maka ia mengendarai kendaraannya dengan penuh percaya diri.
Nampaknya pada saat itu, jemaat di Korintus sangat percaya diri. Hal inilah yang menjadikan mereka merasa tahu dan bisa mengatasi segalanya. Akan tetapi, kenyataannya mereka seperti bangsa Israel yang jatuh dalam kesalahan berkali-kali. Bangsa Israel sudah melihat Allah dalam wujud tiang awan dan api, tetapi tingkah laku mereka seringkali menyimpang dari kehendak Allah dan menjadikan mereka jatuh berulang kali.
Belajar dari pengalaman bangsa Israel dan sikap jemaat di Korintus, rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus agar mereka berhati-hati dalam menjalani hidup, supaya mereka jangan jatuh dalam pencobaan. Paulus juga mengingatkan mereka agar pengalaman hidup bangsa Israel dijadikan sebagai peringatan.
Ketika kita diperhadapkan pada cobaan dan tantangan hidup, terkadang kita terlalu percaya diri, merasa mampu menyelesaikan masalah dengan kekuatan diri sendiri. Di sisi lain, ada yang pesimis, merasa tidak ada jalan keluar dan cara menyelesaikan masalah. Memang segala sesuatu yang sifatnya “terlalu” itu tidaklah baik. Orang yang terlalu menganggap “bisa” akan lebih merasa kecewa jika ia jatuh.
Untuk itu, bacaan kita saat ini mengajak kita agar berhati-hati dan tetap taat pada kehendak Allah. Dalam penghayatan masa prapaskah ini, hendaknya kita selalu berhati-hati dan berserah pada kehendak Tuhan. Percayalah bahwa apa yang sedang kita alami dan hadapi, semua ada dalam rengkuhan kasih Allah yang menyelamatkan dan memberikan jalan keluar kepada kita seturut kehendak-Nya.
Selamat berefleksi dan menghayati minggu-minggu prapaskah. Tuhan Yesus memberkati.
MENJADI ANAK-ANAK ALLAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: ”Menjadi anak-anak Allah” dengan dasar dari 1 Yohanes 3:1 “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.”
Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, tahukah Saudara, ayat ini menggarisbawahi identitas kita sebagai anak-anak Allah? Tahukah Saudara bahwa Alkitab menyebut dengan jelas bahwa kita adalah anak-anak Allah? Menjadi anak-anak Allah itu adalah karena kasih karunia yang diberikan oleh Allah Bapa kepada kita melalui Tuhan Yesus Kristus. Tanpa melalui Tuhan Yesus Kristus, kita tidak mungkin menjadi anak-anak Allah!
Allah adalah Bapa yang penuh cinta kasih dan Dia telah memilih kita untuk menjadi bagian dari keluargaNya yang mulia. Maka Yohanes menyebutkan: “Lihatlah betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita sehingga kita disebut anak-anak Allah.”
Tahukah Saudara bahwa kehadiran kita di dunia ini bukanlah kebetulan, tetapi merupakan rencana Allah yang sempurna. Alktab mengatakan dengan tegas: “Dan memang kita adalah anak-anak Allah.” Oleh sebab itu sebagai anak-anak Allah kita juga memiliki panggilan untuk hidup mulia. Kita dipanggil untuk mencerminkan kasih dan belas kasihan Allah kepada dunia ini melalui tindakan dan kata-kata kita.
Marilah kita menjalani hidup untuk memuliakan namaNya dan menjadi berkat bagi banyak orang di manapun kita berada.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Eliatha yang dinyanyikan dalam ibadah di GKI Kwitang sebuah lagu yang berjudul: I am His Child. Melalui lagu ini Paduan Suara Eliatha ingin mengungkapkan suatu kesaksian: Aku mungkin tidak sama dengan kamu. Aku mungkin bukan bintang yang bersinar. Tapi siapa aku? Aku bersyukur kepada Tuhan karena menjadikan aku anak-Nya. Aku bersyukur karena Tuhan telah mendengarkan setiap doa. Aku bersyukur karena Tuhan selalu ada besertaku. Aku bersyukur, meskipun aku seorang berdosa, orang yang tidak layak menerima cintaNya, tetapi Ia menjadikan aku anakNya. Maka aku selalu bersyukur dan memuji nama Tuhan.
Allah mengasihi aku tanpa syarat. KasihNya melampaui segala kekurangan dan kesalahanku. O, sungguh luar biasa!
Saudara-saudara, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan panggilan untuk hidup mulia. Allah selalu siap untuk menyambut kita dalam pelukanNya. Allah mau menjadikan kita anak-anakNya. Di tengah-tengah arus dunia yang penuh dengan godaan dan cobaan, bersediakah Saudara menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan untuk tetap menjadi anak-anakNya yang terkasih? Lakukanlah saja, itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Allah Bapa yang disurga, kami bersyukur karena kasih karuniaMu, meskipun kami tidak layak, tetapi kami boleh menjadi anak-anakMu yang terkasih. Tuntunlah kami supaya kami mampu menjalani hidup sebagai anak-anak Allah yang menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM14032024)
PERSEMBAHAN YANG HIDUP
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 12:1-2
Salam sejahtera semoga kita dimampukan untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah seperti ungkapan dalam Roma 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Paulus memberi nasihat atas kemurahan Allah, yaitu karya Allah membenarkan dan menyelamatkan manusia dari dosa, secara gratis. Hidup dan perbuatan orang percaya di tempatkan dalam karya Allah dan kesetiaan Allah. Menasihati dalam arti meminta, memohon, menegur, meneguhkan, menuntut orang yang hidup dalam Kristus.
Nasihat itu mengandung tuntutan dan tuntunan perilaku bagi setiap orang. Tuntutan dan tuntunan itu adalah orang beriman mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Tubuh tidak sama artinya dengan badan. Kalau hewan yang dikorbankan adalah daging dan tulang. Mempersembahkan tubuh berarti seluruh kemanusiaan, termasuk, hati jiwa, pikiran dan perilaku sehari-hari. Mempersembahkan tubuh untuk Tuhan berarti mempersembahkan seluruh hidup yaitu, hati, jiwa, pikiran, materi, potensi, sikap dan perilaku sehari-hari, relasi dengan sesama dalam keluarga, gereja dan masyarakat, relasi dengan lingkungan. Mempersembahkan berarti merelakan, dengan senang hati, bukan terpaksa, bukan kewajiban yang membuat orang merasa terbebani.
Mengapa dengan rela dan senang hati? Karena kita sudah mendapat kemurahan Allah, mendapat kasih karunia Allah yang telah menebus dosa manusia melalui pengorbanan Tuhan Yesus. Seorang bapak A melakukan pelayan di sebuah gereja sebagai kewajiban, karena itu ia merasa tidak ada sukacita dalam melayani. Sukacita dalam melayani karena kerelaan hati dan tidak merasa dibebani, tidak terpaksa.
Orang percaya meyakini bahwa tubuh dan nyawa adalah milik Allah. Sejak lahir sampai akhir hidup, tubuh dan nyawa kita, milik Allah. Setelah berakhir hidup kita, maka kita menyerahkan tubuh dan nyawa kita kepada Allah. Tubuh, jiwa dan nyawa milik Allah, maka semuanya kita persembahkan kepada Allah untuk mengasihi dan melayani Allah. Tubuh itu adalah tempat Roh Kudus bekerja untuk melayani Allah, melayani kehendak Allah, kebenaran dan keadilan Allah.
Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup artinya persembahan yang tidak mati. Persembahan yang mati adalah persembahan yang tidak berguna, sia-sia bagi Tuhan dan bagi sesama. Persembahan yang mati, tidak berguna adalah persembahan dari orang yang tidak mau mendengar suara, perintah dan kehendak Allah, tidak mau ikut jalan Allah, hanya mau mengikuti rancangan sendiri, hatinya degil dan jahat (Yeremia 7:21-28). Persembahan yang hidup dari orang yang taat pada kehendak Allah, taat melakukan kehendakNya.
Persembahan yang kudus adalah persembahan yang tidak disucikan oleh hal-hal yang lahiriah, ibadah yang lahiriah, tidak disucikan oleh air atau alat-alat yang dibuat manusia. Uang persembahan yang kita berikan dalam kebaktian tidak menyucikan dosa kita. Bantuan untuk orang miskin, tidak menyucikan dosa kita. Orang beriman disucikan hanya karena penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus, dan dibimbing Roh Kudus dalam melakukan kehendak Allah. Persembahan yang kudus adalah persembahan dari orang yang menyesali dosa, ditebus oleh Yesus dan mau hidup baru atau hidup kudus sesuai kehendak Allah dan berkenan dengan Allah.
Mempersembahkan tubuh atau hidup dengan kerelaan, adalah ibadah yang sejati. Ibadah sejati berbeda dengan ibadah lahiriah, ibadah seremonial. Ibadah lahiriah adalah ibadah tanpa hati, jiwa, pikiran yang mengalami kehadiran Allah, tanpa menyesali dosa dan tidak membutuhkan anugerah pengampunan dosa, tidak ada tekad hidup baru dan setelah pulang kebaktian tidak ada firman atau perintah Tuhan yang diingat, dihayati serta dilakukan. Ibadah lahiriah adalah orang datang kebaktian hanya secara fisik, tanpa hati, jiwa, pikiran, sikap, yang dikuasai Roh Kudus, tidak mau menerima dan dikuasai firman Tuhan. Ibadah yang sejati, adalah ibadah yang dilanjutkan dengan melakukan kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari, di tengah dunia.
Nasihat Paulus juga menuntut dan menuntun agar orang beriman tidak menyesuaikan diri dengan dunia. Maksudnya adalah orang beriman tidak mengikuti cara berpikir, cara hidup dan cara kelakuan dari dunia ini. Dunia yang dimaksud adalah dunia yang jahat, gelap, egois, yang merusak hati, jiwa dan pikiran manusia. Orang beriman harus hidup di dunia dan menghadapi pergumulan dunia dengan segala kejahatan, kecurangan ketidakadilan, ketidakbenaran, korupsi, tapi orang beriman tidak menyesuaikan dengan kejahatan, kegelapan dunia tersebut.
Nasihat Paulus menuntut dan menuntun orang untuk mengalami perubahan melalui pembaruan budi. Budi manusia dapat menjelaskan dan menentukan mana hal-hal yang pokok, yang penting, yang berguna, yang baik, yang benar, menurut kehendak Allah bukan kehendak sendiri. Pembaruan budi membuat orang beriman mempunyai tujuan hidup yang sesuai kehendak Allah dan berkenan bagi Allah. Membedakan berarti mempunyai kemampuan pengetahuan, penghayatan firman Tuhan dan juga kemampuan pengetahuan menghadapi masalah atau pergumulan hidup yang bisa menyesatkan dan yang benar menurut Tuhan. Pembaruan budi berarti bersikap kritis terhadap diri sendiri, pikiran sendiri dan pikiran dunia. Yang baik dan benar tidak menurut teman-teman atau menurut dunia, tapi menurut Allah.
Hidup orang beriman adalah hidup dalam persaudaraan, tidak egois, hidup dalam persekutuan dengan Allah, hidup yang merelakan diri untuk terlibat dalam dunia, bukan mengasingkan diri dari dunia. Keterlibatan dalam dunia dalam rangka mempersembahkan hidup bagi Allah. Ibadah yang sejati adalah ibadah kepada Allah yang diwujudkan dalam keterlibatan dan pelayanan di dalam dunia. Persembahan hidup sebagai ibadah yang sejati, membutuhkan pembaruan, yang menciptakan budi dan pikiran baru. Pembaruan tidak hanya dapat dipahami sebagai perubahan moral, melainkan pembaruan dalam Roh.
Marilah kita membawa kepada Tuhan persembahan hidup yang berkenan pada Tuhan. Nilai persembahan hidup, tidak dapat dibandingkan dengan berkat yang Tuhan berikan pada kita seperti ungkapan dalam PKJ 147 ayat 1. Di sini aku bawa, Tuhan, persembahan hidupku, semoga berkenan. Berapalah nilainya, Tuhan, dibandingkan berkatMu yang t’lah Kau limpahkan. T’rimalah Tuhan, O t’rimalah Tuhan. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami untuk mempersembahkan tubuh kami sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
TIPU DEMI ANAK KESAYANGAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Kejadian 27:9-10,
Pergilah ke tempat kambing domba kita, ambillah dari sana dua anak kambing yang baik, maka aku akan mengolahnya menjadi makanan yang enak bagi ayahmu, seperti yang digemarinya. Bawalah itu kepada ayahmu, supaya dimakannya, agar dia memberkati engkau, sebelum ia mati.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, Demi Anak Kesayangan, orang tua berjerih lelah. Seorang ayah bekerja sebagai pemulung untuk membiayai sekolah anaknya, sedangkan anaknya tidak tahu pekerjaan ayahnya itu. Seorang Ibu mencuri susu di toko untuk makanan anaknya. Demi anak kesayangan berbagai usaha dan pekerjaan dilakukan dan tidak jarang kejahatan pun dilakukan.
Ishak hendak memberkati Esau yang merupakan berkat warisan dari Abraham, berkat yang diikat oleh janji antara Allah dan Abraham dengan keturunannya. Dapat kita katakan itu sebagai berkat dinasti. Ishak merasa berkewajiban untuk memberkati Esau anak sulungnya menjadi pewaris. Sebelum diberkati Ishak meminta disiapkan makanan yang enak, dimakan yang nanti menyatu dengan tubuhnya, maka demikian berkat itu disampaikannya sebagai kesatuan kata, hati dari seluruh dirinya sehingga tidak bisa dicabut lagi. Esau segera berangkat lengkap membawa senjata perburuannya untuk mendapatkan binatang yang akan disiapkannya menjadi makanan Ishak, agar dia mendapat berkat itu.
Ribka istri Ishak mendengar percakapan suaminya dengan Esau anak sulung mereka. Ribka ingin agar berkat itu diterima oleh Yakub anak kesayangannya. Dengan segera dia mengambil tindakan, menyuruh Yakub mengambil dua anak kambing mereka, segera diolahnya menjadi makanan kegemaran Ishak. Makanan dan anggur minuman sudah siap, maka Yakub dipanggil agar dia harus berperan sebagai Esau di depan Ishak yang akan memberkati. Ribka sadar ada kendala besar sehingga tipuan dan pura-pura ini terbongkar, yaitu, Esau badannya berbulu, sedangkan Yakub badannya licin. Ribka sudah mantap dengan tipuannya, yaitu tangan, leher Yakub yang mungkin akan dipegang dan diraba oleh Ishak, sudah dipalut dengan kulit kambing yang berbulu.
Drama tipuan ini berjalan, Yakub yang mengaku sebagai Esau memanggil Ishak ayahnya untuk makan seperti permintaan Ishak. Suara adalah suara Yakub, tetapi mengaku Esau, menimbulkan keraguan besar Ishak, sehingga dia memohon agar Yakub, lebih mendekat supaya Ishak boleh memegang tangan dan meraba lehernya. Ishak tidak ragu lagi karena dia meraba tubuh yang berbulu, walau kulit kambing, lebih dekat lagi Ishak hendak mencium bau yang sangat khas bau Esau. Rupanya Ishak mencium bau khas baju Esau, yang dipakai Yakub, membuat Ishak tidak ragu lagi, sehingga dia makan, minum dan merasa puas, kemudian memberkati Yakub, berkat Tuhan yang diwariskan kepada keturunan Abraham. Siasat tipuan Ribka berhasil demi anak kesayangannya, walau resiko sangat besar karena Yakub harus melarikan diri karena menjadi buronan Esau. Tetapi ke manapun Yakub lari dia tetap bersama berkat Tuhan.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Adakah usaha Anda mewariskan harta iman kepada anggota keluarga?
- “Kita pewaris Kerajaan Surga,” bagaimana Anda menjadi pewaris?
- Sampai hati Ribka menipu Demi Anak Kesayangan, setujukah Anda?
Mari berdoa:
Allah Bapa yang di surga, oleh bimbingan Roh Kudus kami bersyukur atas kebaikan Bapa dalam seluruh kehidupan kami. Kami bersyukur atas kebaikan Yesus Kristus Juruselamat kami, karena itu jauhkan hati penipu, jauhkan kami berbuat curang. Berkat Tuhan pasti bagi kami dalam kebenaran, kebaikan. Inilah doa kami dalam Yesus Kristus, Amin. [AS110324]
SEPANJANG JALAN KENANGAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Ezra 9:9 – TB2
“Sebab, meskipun kami menjadi budak, di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami memperoleh semangat untuk membangun Rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, serta memperoleh kubu pelindung di Yehuda dan di Yerusalem”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Lagu ‘Sepanjang Jalan Kenangan’ yang diciptaan oleh musisi A. Riyanto dan dinyanyikan oleh penyanyi Tety Kadi, mengisahkan tentang seseorang yang pulang kampung dan mengenang kembali masa berpacaran yang pernah dialaminya. Kenangan itu kembali hidup saat ia menyusuri kembali jalanan yang pernah dilalui. Menurut saya, lagu ini mewakili salah satu kemampuan manusia untuk mengingat dan mengenang hal-hal yang terekam di dalam memori. Menurut para ahli, memori adalah kemampuan otak manusia untuk mengkode, menyimpan, mempertahankan dan mengingat informasi atau pengalaman masa lalu. Sebagian besar informasi tersebut disimpan sebagai kontrol di masa yang akan datang pada aktivitas motorik dan untuk dipakai dalam pengolahan berpikir.
Kenangan yang ada di dalam memori menolong seseorang untuk dapat merencanakan dan bertindak di waktu-waktu mendatang. Dengan adanya memori ini, maka manusia dapat bertindak dengan lebih baik dibandingkan dengan tindakan masa lalunya. Nah, apa yang seharusnya merupakan hal baik terkait dengan memori itu justru tidak terjadi di kalangan umat Yehuda sekembalinya mereka dari pembuangan. Begini penjelasannya!
Peristiwa pembuangan yang dialami oleh Yehuda telah memakan waktu kurang lebih 70 tahun hingga diijinkan pulang kembali ke Yerusalem oleh Koresy. Peritiwa pembuangan itu sendiri dimaknai sebagai cara Tuhan untuk menghukum umat yang telah banyak melakukan dosa. Oleh karena itu, berakhirnya masa pembuangan ini seharusnya dimaknai juga sebagai pengampunan yang diberikan oleh Tuhan kepada umat. Dengan kata lain, umat sudah menjadi “umat yang baru” karena sudah diampuni dosanya. Ijin yang diberikan oleh Raja Koresy kepada Yehuda pun adalah untuk membangun kembali Rumah Allah. Sebagai “umat yang baru” ini, maka sudah seharusnya umat menjaga kekudusan hidup. Salah satunya dengan cara tidak kawin campur dengan bangsa lain yang tidak dikehendaki oleh Allah. Namun, rupanya perintah ini dilanggar oleh umat Yehuda. Bahkan para pemimpin umat justru melakukannya terlebih dahulu.
Dalam Kitab Ezra pasal 9, kita dapat melihat kegundahan hari Ezra menyaksikan tingkah umat Yehuda. Hati Ezra sangatlah sedih. Dia mengoyakkan pakaiannya, mencabut rambutnya dan janggutnya. Bahkan, Ezra juga menyiksa dirinya sendiri. Tindakan Ezra itu dilakukan bukannya tanpa alasan. Ezra sadar bahwa nenek moyang mereka dahulu juga berbuat dosa di hadapan Tuhan. Karena berdosa, maka mereka diserahkan kepada raja-raja negeri lain. Di pembuangan, umat mengalami penganiayaan, penjarahan dan penghinaan di depan umum. Ezra menghendaki agar umat kembali mengingat peristiwa yang pernah dialami oleh nenek moyang umat. Oleh karena itu Ezra menyampaikan, “Sebab, meskipun kami menjadi budak, di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami memperoleh semangat untuk membangun Rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, serta memperoleh kubu pelindung di Yehuda dan di Yerusalem”. Ezra mengajak umat agar mengingat kembali kebaikan Tuhan, sehingga mereka meninggalkan perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Memang benar, mengingat kembali semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Tuhan, akan menolong kita untuk bisa berjalan dan berlaku sesuai dengan kehendak Tuhan. Bukankah hidup kita ini seperti sebuah perjalanan? Biarlah semua berkat Tuhan di dalam hidup itu menjadi ‘jalan kenangan’ di mana kita mengingat berkat dan kebaikan Tuhan, sehingga kita dapat menjaga pikiran, perkataan dan tindakan. Kiranya ‘sepanjang jalan kenangan’ yang sudah kita lalui, kita dapat menyukuri berkat-berkat Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, setiap pengalaman yang terjadi di dalam hidup kami kiranya menjadi kenangan yang baik di dalam memori kami. Kami percaya bahwa di sepanjang hidup kami, Engkau hadir untuk menopang dan menolong kami. Terimakasih, ya Tuhan Yesus. Amin.
DIMANAKAH TUHAN?
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
2 Raja-raja 1:3(TB2)
”Tetapi, Malaikat Tuhan berfirman kepada Elia, orang Tisbe, “pergilah segera menemui utusan-utusan raja Samaria dan katakana kepada mereka: Apakah tidak ada Allah di Israel, segingga kamu pergi untuk bertanya kepada Ba’al-Zebub, ilah di Ekron?”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Ada seorang anak yang baru berumur 8 tahun, Ia biasa diajak berdoa oleh orang tuanya. Tiap hari, kedua orang tuanya dengan penuh ketekunan mengajarinya untuk menjumpai Allah di dalam doa. Suatu malam menjelang tidur, mereka berdoa bersama. Di akhir doanya, sang anak bertanya, “Papa, di manakah Tuhan sebenarnya berada?” Dengan susah payah sang papa menjelaskan bahwa Tuhan ada di mana-mana, bahkan di hatinya. Lalu sang anak dengan polos bertanya, “Kalau Tuhan ada di hatiku, mengapa aku harus mengatakan dan meminta banyak hal kepadaNya? Apakah Dia tidak bisa membaca saja hatiku dan Dia menjadi tahu apa yang kuingini?”
Sekalipun nampaknya sepele, namun pada kenyataannya mungkin kita perlu lagi untuk bertanya: Di manakah Tuhan dalam hidup kita? Dalam kesengsaraan karena pergumulan keluarga, di manakah Dia? Dalam penderitaan karena sakit-penyakit, di manakah Dia? Apakah Dia masih ada dalam kehidupan kita? Sebab banyak orang, merasa putus asa setelah berdoa meminta kesembuhan dan pemulihan diri namun tak mendapatinya.
Banyak orang ketika memohon pencerahan dari Tuhan tetapi merasa tidak mendapatinya lalu merasa putus asa. Dan keputusasaan demi keputusasaan itu lalu melahirkan niat untuk mencari allah-allah lain demi kesembuhan dan pemulihan dirinya. Tanpa disadari, pertanyaan Malaikat Tuhan melalui Elia kepada utusan raja-raja Samaria itu menjadi pertanyaan kita bersama. Di manakah Tuhan?
Tuhan tidak ke mana-mana! Tuhan ada di sisi kita, setia selamanya. Kalau kita merasa bahwa Dia jauh dari kita, mungkin tanpa kita sadari justru kitalah yang jauh dari Dia. Kita berdoa kepadaNya, tetapi iman kita tidak mantap. Kita memohon kepadaNya, tetapi hati kita kurang pasrah. Kita berhadapan dengan Dia, tetapi hati kita galau. Kalau kita merasa Dia berdiam diri tanpa mau menjawab pergumulan dan pertanyaan kita, itu adalah karena Dia juga ingin melihat ketekunan dan kesetiaan kita menyandarkan diri kepadaNya. Dan pada saat yang tepat, untuk maksud yang sungguh indah, Dia berkarya. Sebab Dia, ada dalam hidup kita. Tuhan ada di sini, di dalam hidup ini. Setialah!. Selamat menghayati minggu-minggu prapaskah, Tuhan memberkati kita.
