firman
MENGGEMBALAKAN DENGAN PENGETAHUAN DAN PENGERTIAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yeremia 3:12-19
Salam sejahtera, semoga makin banyak orang yang diangkat Tuhan menjadi gembala, sesuai dengan hati Tuhan, dan mampu menggembalakan sesama dengan pengetahuan dan pengertian seperti ungkapan dalam Yeremia 3:15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.
Mengangkat gembala-gembala sesuai hati Tuhan berarti gembala yang taat pada kehendak Tuhan, bijaksana dan penuh pengertian. Tuhan mengangkat gembala karena Ia penuh kasih karunia dan rahmat, tetap setia memelihara perjanjian-Nya dengan umat. Tuhan mengangkat gembala dalam rangka memulihkan kembali hubungan Tuhan dengan umat-Nya, bukan mereka tidak bersalah, melainkan karena Tuhan mengampuni orang yang mau mengakui kesalahannya. Tuhan mengangkat gembala yang tidak akan memakai kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk melaksanakan keadilan dan rahmat. Gembala itu mengajak umat untuk mengakui kemuliaan Tuhan sebagai Raja, menaati kehendak Tuhan.
Penggembalaan adalah pelayanan yang dilakukan di dalam kasih untuk mendukung, membimbing, menilik, menegur, menyembuhkan, dan mendamaikan, agar anggota jemaat dan simpatisan mengasihi Allah, hidup taat kepada Allah, serta hidup dalam damai sejahtera dengan Allah, sesama dan seluruh ciptaan Allah. Oleh karena itu penggembalaan dilaksanakan secara bijaksana dan penuh tanggung jawab. Penggembalaan diberikan juga kepada simpatisan, karena simpatisan adalah setiap orang yang belum menjadi anggota GKI, sedang mengikuti katekisasi sidi atau menjadi pengunjung tetap kebaktian. Simpatisan berperan serta dalam melaksanakan misi gereja dan pembangunan jemaat (Tata Gereja dan Tata Laksana GKI 2023).
Penggembalaan dilaksanakan oleh anggota dan/atau pejabat gerejawi dan /atau lembaga gerejawi. Penggembalaan terdiri dari penggembalaan umum dan penggembalaan khusus. Penggembalaan umum terhadap anggota, simpatisan, pejabat gerejawi, dan lembaga gerejawi adalah penggembalaan yang dilakukan terus menerus melalui berbagai kegiatan baik secara pribadi maupun bersama-sama dengan menggunakan berbagai bentuk seperti kebaktian, pembinaan, diakonia, dan/atau percakapan pastoral, surat penggembalaan, perlawatan atau bentuk penggembalaan lainnya. Penggembalaan khusus dilakukan terhadap anggota, pejabat gerejawi, dan lembaga gerejawi, yang kelakuannya bertentangan dengan Firman Allah dan/atau melakukan praktek bergereja yang bertentangan dengan Tata Gereja dan Tata Laksana GKI, paham pengajaran bertentangan dengan Firman Tuhan dan Ajaran GKI, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang lain, agar ia bertobat.
Langkah-langkah penggembalaan khusus didasarkan pada laporan tentang dugaan yang disampaikan secara lisan dan/atau tertulis dan dapat disertai bukti-bukti awal. Laporan ini tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan penggembalaan khusus. Bertolak dari laporan itu, penatua atau pendeta melakukan klarifikasi untuk mengetahui kebenaran laporan tersebut. Jika laporan itu tidak benar, maka diputuskan bahwa persoalan ini dianggap selesai. Jika laporan tersebut diakui benar, maka penatua atau pendeta melakukan peneguran dan memberikan nasihat dalam kasih agar ia bertobat. Jika yang bersangkutan bertobat maka persoalan ini dianggap selesai. Jika laporan itu benar tapi yang bersangkutan tidak bertobat, maka dilakukan langkah-langkah pastoral, agar bertobat. Jika yang bersangkut tidak bertobat, masih berada di bawah penggembalaan khusus maka yang bersangkutan tidak diperkenankan menerima pelayanan pengakuan percaya, pernikahan gerejawi, menjadi anggota badan pelayanan (Tata Gereja dan Tata Laksana GKI 2023).
Penggembalaan itu dilakukan dalam rangka mengasihi Yesus dan sesama (Yohanes 21:15-17). Melakukan penggembalaan dengan kasih berarti tidak dilakukan dalam hati yang emosi, marah, menghina, menghakimi, menuduh dengan tuduhan yang belum diklarifikasi, tapi dalam kesabaran, murah hati, tidak sombong, tidak bersukacita karena ketidakadilan. Penggembalaan itu untuk menemukan damai sejahtera dengan Allah dan sesama, rekonsiliasi (memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula; menyelesaikan perbedaan), bukan konflik yang penuh dendam, sakit hati, terpecah.
Dalam penggembalaan ada fungsi konseling pastoral. Konseling adalah proses pertolongan, untuk meringankan penderitaan yang ditolong, dan mendapat kekuatan baru, wawasan baru untuk memahami dan mengatasi masalah yang dihadapi. Konseling pastoral adalah konseling bersifat penggembalaan. Penggembalaan yang baik bersifat lemah lembut, pemelihara, penolong, memberikan kebebasan bagi yang ditolong untuk mengambil sikap dan mengambil keputusan sendiri. Gembala bukanlah diktator, tapi penuh cinta kasih menggembalakan domba-domba. Tidak ada gembala yang baik ingin agar yang digembalakannya itu celaka. Konseling pastoral itu berfungsi untuk menyembuhkan, menopang, membimbing, memperbaiki hubungan, mengasuh atau memelihara (Aart Martin Van Beek, Konseling Pastoral, Satya Wacana, 1992).
Gembala yang sesuai hati Tuhan berarti gembala yang hidup sesuai dengan firman Allah dan menyalurkan hidup melalui pemahaman akan firman itu. Karena mengenal hati Allah, mereka akan tahu bagaimana penggembalaan yang baik berdasarkan kasih, bijaksana dan pengertian. Penggembalaan itu adalah memberitakan Injil bahwa Allah mengampuni dosa dan menerima dan menghibur orang-orang berdosa yang bertobat dan kembali. Allah menyatukan umat Tuhan yang tercerai-berai.
Penggembalaan itu menjelaskan bahwa Allah belum melupakan umat, walaupun umat sudah melupakan Allah. Mengingatkan orang yang keras hati yang menolak panggilan Tuhan supaya kembali kepada Allah. Bertobat, kembali kepada kesetiaan, kembali kepada jalan baik yang telah ditinggalkan. Tuhan itu murah hati, Ia tidak akan murka untuk selama-lamanya, melainkan akan berdamai. Penggembalaan mendorong orang mengakui kesalahan, dosa, merasa malu dengan dosa-dosanya.
Kita meniru Tuhan Yesus sebagai Gembala yang baik, yang membawa ketentraman, ketenangan, jiwa disegarkan, menunjukkan jalan yang lurus dan baka seperti ungkapan KJ. 285 ayat 1,2. Ayat 1 Tuhankulah Gembalaku; oleh Nya ‘ku tent’ram di padang hijau yang segar, di pinggir air tenang. Ayat 2. Jiwaku disegarkanNya dan kar’na namaNya ditunjukkanNya jalanku yang lurus dan baka. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya semakin banyak orang yang diangkat Tuhan menjadi gembala, sesuai dengan hati Tuhan, dan mampu menggembalakan sesama dengan pengetahuan dan pengertian, dalam nama Tuhan Yesus, amin.
JEHOVAH-JIREH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Kejadian 22:13-14
Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kata JEHOVAH-JIREH, semoga tidak asing bagi kita. Alkitab bahasa Inggirs (KJV), menuliskannya dengan dua kata itu yang artinya “Tuhan menyediakan.” Abraham sudah beberapa kali mempersembahkan korban bakaran yaitu hewan, lembu sapi atau kambing domba. Tetapi setelah Ishak remaja, masa-masa yang menyenangkan dalam keluarga, apa lagi Ishak anak yang dinantikan, pada saat itulah Allah mencoba Abraham, agar dia mempersembahkan Ishak anaknya sebagai korban bakaran di tempat yang ditunjuk Allah. Tentu permintaan itu menjadi suatu pergumulan batin (iman) bagi Abraham, sangat beralasan kalau Abraham memperdebatkannya terlebih dulu baik dengan Sara, isterinya dan juga dengan Allah. Abraham pernah mempertanyakan, janji Tuhan atas anak yang akan dikaruniakan yang tidak kunjung tiba. Sara isteri Abraham sudah sempat memberikan Hagar hambanya menjadi isteri Abraham dengan berkata: “… hampirilah hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak” (Kej 16:2).
Atas permintan Allah kali ini, Abraham sama sekali tidak berdalih, tidak ragu, karena iman ia rela mempersembahkan anaknya yang tunggal itu (Ibr 11:17). Iman Abraham itu bukan untung-untungan, untung kalau dikarunia anak, kalau tidak Ismael siap menerima sebutan “keturunan Abraham.” Kali ini ujian iman itu bukan menunggu yang belum ada, tetapi mengorbankan yang sudah ada dan satu-satunya. Kalau dulu dia sudah awali dengan iman meninggalkan negeri asal, rumah dan warisan, sanak saudara untuk memenuhi panggilan Tuhan, maka iman seperti itu ternyata konsisten menjadi dasar sikap Abraham atas firman Tuhan. Karena itu Abraham tidak mempertanyakan alasan mengapa Allah meminta mengorbankan Ishak sebagai korban bakaran, agar tidak mengurangi keteguhan iman Abraham. Dalam kisah ini sedikit pun tidak diungkapkan kesedihan dan keraguan Abraham, dia lakukan menurut apa yang dia imani.
Ishak yang sudah mengerti bagaimana mempersembahkan korban bakaran, sempat bertanya: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” (7). Abraham tidak berbohong, tidak juga salah jawab, itulah yang dia katakan “Jehovah-Jireh” ”Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya anakku,” jawaban ini adalah ungkapan iman, bukan pura-pura dan bukan membohongi Ishak anaknya. Kehidupan jemaat gereja kita, tidak akan terlepas dari persembahan, yang menjadi pengorbanan dari anggota jemaat. Pengorbanan sebagai ungkapan iman atas semua karunia Tuhan yang sudah kita terima dan juga sebagai harapan akan janji Tuhan yang kita nantikan. Ungkapan iman tidak bisa dihitung secara matematis, walau pun persembahan kita selalu dalam bentuk jumlah. Persepuluhan, kita jadikan persembahan sehingga persepuluhan tidak ditentukan dengan jumlah, tetapi menjadi persembahan atas dasar iman, sehingga persembahan kita (persepuluhan) dalam iman ialah karena “Jehovah-jireh.”
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Apakah Anda perhatian dan setia dengan persembahan persepuluhan?
- Bagaimana dan kapan Anda menyiapkan kolekte untuk ibadah Minggu?
- Persembahan janda miskin (Luk 21), dikatakan oleh Tuhan Yesus: “… janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang,” mengapa?
Mari berdoa:
Allah Bapa, kami bersyukur atas kehidupan kami, atas apa yang ada pada kami karena Bapa karuniakan bagi kami, demikianlah kami imani. Dunia telah dikuasai oleh dosa, ketamakan, egois, kejahatan, membuat kami sulit untuk peduli kepada sesama. Sebagai anak Tuhan, kami mohon Roh Kudus mengajar kami agar dengan iman kami rela berkorban sebagai persembah yang berkenan kepada Tuhan. Dalam Kristus kami berdoa, Amin. [AS110923]
PANCURAN DESA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Imamat 19:9-10 (TB 2)
”Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit habis ladangmu sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang tertinggal dari penuaianmu. Kebun anggurmu jangan kaupetik hasilnya untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu jangan kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan pendatang. Akulah TUHAN, Allahmu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Sekitar tahun 1990-an, saya pernah tinggal di sebuah desa di pinggiran kota Wonosobo. Kala itu, masih sedikit rumah yang memiliki kamar mandi. Sehingga masyarakat memanfaatkan sebuah pancuran desa sebagai pusat aktifitas mandi, cuci dan kakus (MCK), termasuk saya dan keluarga paklik (paman) saya. Pancuran desa itu terbuat dari bambu yang sudah dilobangi ruas-ruasnya. Sumber air dari pancuran itu adalah sebuah mata air di lereng bukit yang selalu mengeluarkan air.
Suatu kali, ketika saya dan adik sepupu akan mandi di pancuran, kami mendapati bahwa air yang mengalir dari pancuran tidak sederas biasanya. Kemudian adik sepupu mengatakan, “wah iki mesti ono sing mampet” (wah, sepertinya salurannya ada yang tersumbat). Segera ia naik ke arah persawahan dan menyusuri saluran dari batang bambu tersebut. Kira-kira 15 menit setelah adik sepupu saya itu pergi, air pancuran sudah mengalir deras seperti sedia kala. 10 menit kemudian adik sepupu saya muncul dari arah persawahan sembari berkata, “bener mas, mau ono godong sing mepeti. Padahal yo mung godong siji tapi marakké banyuné gak biso mili” (benar mas, tadi ada daun yang menyebabkan saluran mampet. Padahal hanya selembar daun tapi airnya tidak bisa mengalir).
Setiap kali mengingat peristiwa itu, saya seperti disadarkan kembali tentang hakikat hidup anak-anak Tuhan yang dipanggil untuk menjadi berkat. Kita menghayati bahwa Tuhan ibarat mata air yang selalu melimpahkan berkat bagi kita. Sementara kita ini ibarat saluran bambu yang mengalirkan air kepada masyarakat. Adakalanya muncul kendala-kendala yang membuat diri kita gagal menjadi saluran berkat. Bisa jadi kendala-kendala itu berupa keegoisan diri, kesombongan atau relasi dengan Tuhan yang tidak terpelihara dengan baik.
Melalui Musa, Tuhan menyampaikan kepada umat Israel agar mereka memiliki kepedulian kepada orang-orang lain terutama kepada orang miskin dan pendatang. Oleh karena itu, kepada umat yang memiliki ladang gandum dan / atau kebun anggur, Tuhan bersabda, ”Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kausabit habis ladangmu sampai ke tepinya, dan janganlah kaupungut apa yang tertinggal dari penuaianmu. Kebun anggurmu jangan kaupetik hasilnya untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu jangan kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan pendatang. Akulah TUHAN, Allahmu”. Dasar utama bagi sikap peduli dan berbagi umat ini adalah keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat yang telah memelihara kelangsungan kehidupan orang-orang Israel. Umat Israel didik untuk tidak bersikap tamak, melainkan bersedia menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain yang memerlukan. ‘Blessed to be a blessing’ – diberkati untuk menjadi berkat, rasanya menjadi ungkapan yang tepat. Karena umat telah merasakan berkat dan pemeliharan dari Tuhan, maka mereka harus juga menjadi berkat bagi orang lain dengan tidak mengambil habis semua hasil panen – baik gandum ataupun anggur – dan memberikan itu kepada orang-orang yang membutuhkan.
Saudaraku, kita semua adalah saluran berkat dari Tuhan. Seperti pancuran yang bisa saja tersumbat karena adanya kotoran, maka kita mesti menjaga dan memelihara relasi dengan Tuhan agar terus dapat menjadi berkat bagi orang lain. Ingat pancuran desa…. Jadi ingin liburan, nih…. Eh, bukan…..! Ingat pancuran desa, jadi ingat supaya terus menjadi berkat. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa
Ya Tuhan, ada begitu banyak berkat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Buatlah kami ini menjadi saluran berkat bagi orang-orang lain di sekitar kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
BAHTERA YANG MEMPERSATUKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kejadian 8:1 (TB 2)
”Allah megingat Nuh, segala Binatang liar dan segala ternak yang bersama dia dalam bahtera itu, lalu Allah membuat angin bertiup di atas bumi, sehingga air itu surut.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Bahtera adalah suatu kapal kayu yang sangat besar, yang mulai dikenal pada zaman Nuh. Bahtera itu mengangkut keluarga Nuh dan berbagai jenis binatang yang ada di bumi. Nuh berhasil membuat bahtera itu atas perintah Tuhan. Dengan sikap taat dan penuh semangat Nuh mampu menyelesaikan tugas untuk membuat bahtera itu, meskipun banyak orang yang mencemooh Nuh. Setelah bahtera itu selesai, tidak lama kemudian terjadilah hujan selama 40 hari, 40 malam. Air bah datang menenggelamkan seluruh permukaan bumi. Nuh bersama keluarganya dan binatang-binatang yang berjumlah sepasang itu selamat. Ia menggunakan bahtera itu untuk menyelamatkan kehidupan di dunia.
Apa yang terjadi pada peristiwa air bah dan keluarga Nuh menjadi sebuah gambaran bahwasanya apapun yang terjadi, Allah tetap memelihara dan menyertai kehidupan manusia. Selama manusia hidup taat dan mau melakukan perintah Tuhan, maka Tuhan akan menyelamatkannya. Setelah 150 hari lamanya, air bah pun surut, semua yang berada di dalam bahtera itu pun kembali melanjutkan kehidupan. Tuhan telah menujukkan kasih dan kuasa-Nya kepada kita dengan memberi kita hidup dan keselamatan. Maka menjadi tugas kita sebagai umat-Nya hidup saling bergotong-royong, bersatu, taat, dan setia kepada Tuhan.
Marilah kita belajar dari keluarga Nuh, agar persekutuan kita di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat semakin teguh. Memang dalam realitanya, kita tidak mudah menghadapi berbagai tantangan dan perbedaan yang mengancam kesatuan kita. Mari kita terus taat pada kehendak Tuhan dan berharap kepada Tuhan. Sebagaimana bahtera Nuh mempersatukan dan menuntun pada kehidupan yang baru, mari kita hidup dengan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan Sang Penolong kita. Selamat berefleksi. Tuhan memberkati kita.
MAKIN SERUPA YESUS, TUHANKU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bapak Ibu dan saudara sekalian yang setia mengikuti renungan harian GKI Kwitang, Syalom Alekhem!
Kita sudah memasuki Bulan Bina GKI Kwitang. Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Makin Serupa Yesus, Tuhanku” dengan dasar dari surat Roma 8:29 (TB2 ) “ Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Ayat ini berada dalam perikop “Pengharapan anak-anak Allah.” Salah satu harapan anak-anak Allah atau orang-orang percaya adalah makin serupa dengan Tuhan Yesus. Harapan ini tentu tidak salah, tetapi terkadang orang-orang percaya salah mengerti, salah memaknai harapan ini. Menjadi serupa dengan Tuhan Yesus terkadang dimaknai ingin menjadi Tuhan Yesus yang hebat dan spektakuler, yang mampu melakukan berbagai mujizat seperti mengubah air menjadi anggur, menyembuhkan orang sakit, memberi makan 5 ribu orang dengan 5 roti dan 2 ikan, mampu meredakan angin ribut, mampu membangkitkan orang mati, dsb. Apakah benar ayat ini bermaksud demikian? Tentu bukan, Saudara-saudara.
Dalam ayat ini Rasul Paulus menjelaskan tujuan Allah dan rencana-Nya yang kekal untuk membuat orang-orang percaya serupa dengan gambaran Anak-Nya, yaitu gambaran yang sempurna dari Sang Bapa. Dengan demikian, Sang Anak adalah Anak Sulung di antara banyak Saudara.
Allah sudah memilih dan menentukan Tuhan Yesus, menjadi yang sulung, artinya menjadi yang pertama dan tertinggi di antara saudara-saudara yang telah diselamatkan.
Tuhan Yesus mengajak kita semua untuk mengikuti-Nya, sehingga kita memiliki keteladanan-Nya dalam hal ketaatan kepada Bapa (Yoh 15:10 ), dalam hal kasih yang mau berkorban (Yoh 15:12-13 ), dan kesabaran dalam hal menanggung penderitaan (1 Ptr 2:19-23).
Bertumbuh menjadi makin serupa Kristus merupakan rencana dan kehendak Allah bagi kita. Bertumbuh menjadi serupa Kristus adalah proses seumur hidup. Oleh sebab itu marilah kita menjalani hidup ini berproses makin bertumbuh serupa dengan Kristus, dengan mengubah pola pikir kita dalam mengikuti teladan Kristus. Amin Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Grup Kwitang Line Dance, sebuah lagu yang berjudul: “Makin serupa Yesus, Tuhanku”. Sebuah pujian yang menjadi berkat bagi banyak orang percaya, yang menginspirasi untuk memiliki kerinduan makin serupa Tuhan Yesus.
Lagu ini mengajak kita semua: Makin serupa Yesus, Tuhanku. Inilah sungguh kerinduanku. Makin bersabar, lembut dan rendah hati, makin setia dan rajin bekerja. Biarlah kita pun memiliki kerinduan makin bergiat menjadi murid-Nya dan makin berani bersaksi menjadi saksi-Nya. Biarlah kita setiap hari berdoa dan menyerahkan seluruh kehidupan kita kepada Tuhan, supaya kita dimampukan mengasihi Tuhan dan Tuhan membersihkan hidup kita dari dosa dan ego kita. Mengapa Saudara? Karena kita rindu makin serupa dengan Yesus, Tuhanku dan kita tetap menjadi milikNya !.
Bapak Ibu dan Saudara sekalian, Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk berkomitmen: menjadi serupa dengan Kristus, perhatikan: bukan menjadi “DIA”, tetapi menjadi SERUPA dengan DIA, mengikuti teladan-Nya.
Bersediakah Saudara mengikuti teladan Kristus dalam hal kasih, kerendahan hati, kesabaran, dan kerelaan berkorban? Bersediakah Saudara makin setia dan rajin bekerja, makin giat menjadi murid-Nya? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji NamaMu, karena Engkaulah sumber pertolongan kami, sumber kekuatan kami, Engkaulah sumber keselamatan kami.
Kabulkanlah kerinduan dan doa kami: menjadi makin serupa dengan Tuhan Yesus. Mampukanlah kami menjalani hari-hari dalam hidup kami dengan mengikuti teladan Kristus.
Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM7092023)
AKU ADALAH BIJI KECIL ITU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 13: 31-32
Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
Salam Sukacita dalam Tuhan Yesus Kristus bagi sahabat semua: bapak-ibu, para muda dan para anak.
Senang bisa hadir menjumpai sahabat semua dalam Renungan Harian GKI Kwitang, bersama saya, Pdt Lindawati Niman.
Sahabat, apakah pernah merasa bahwa kita begitu kecil dan tidak berharga. Ketika kita memperhatikan diri sendiri, lalu kita menyimpulkan bahwa saya tak punya apa-apa dan tak bisa apa-apa. Tak ada apapun yang dapat saya berikan dan bagikan bagi dunia di sekitar yang begitu luas dan besar. Saya cuma sebuah biji yang mudah berdegup jantungnya karena takut dan kuatir akan kehidupan ini.
Sahabat kebiasaan diri yang berpikir dan lalu merasa tak berdaya dan tak berharga inilah yang seringkali justru menghambat diri kita sendiri untuk bisa “ke luar” dan berguna bagi dunia di sekitar kita. Dalam hubungan dengan bacaan kita, seringkali kita ini bagai biji sesawi, yang tergeletak di atas mangkuk. Biji kecil yang tak berdaya karena kecil dan tak berguna. Untuk apa biji sekecil itu sebelum ditanam? Tak ada faedahnya, bahkan diberikan pada burung pun jika hanya sebiji, tak akan memberi kenyang pada si burung. Nah begitulah kita yang berpikiran dan merasa diri sebagai kecil.
Berbalik dengan berpikir dan merasa kecil adalah berpikir dan merasa berguna. Ini bukan persoalan bahwa lalu kita sebagai biji tiba-tiba menjadi buah segar, ranum, dan harum baunya, membuat air liur menetes bagi setiap yang ada di sekitar nya, sehingga banyak orang yang memperhatikan dan menginginkannya. Berpikir dan merasa berguna adalah bagai biji sesawi yang terkecil itu, namun ia mengetahui bahwa tujuan dirinya ada dalam hidup ini adalah menghasilkan buah, namun sebelum sampai pada saatnya ia berbuah , ia harus melewati taham yakni ditanam, busuk, dan tumbuh, semakin besar barulah nanti berguna bagi yang di sekitarnya. Ditanam, berarti bahwa sebuah biji harus rela menerima diri yang mesti dikubur. Dan membiarkan kuasa Tuhan menumbuhkan dan membuat nya berkembang. Pada masa itu, biji membiarkan kulit kerasnya dilepas dan ditanggalkan, mungkin di sana ada kesakitan dan keluh kesah, namun lalu membiarkan diri menerima segala bentuk tubuh baru; batang, daun yang semakin hari semakin kuat sampai tiba saatnya ia memberi diri menjadi tempat bagi mahluk lain (baca: burung) untuk berteduh dan lalu mendapat kekuatan baru.
Demikianlah kita diajak untuk memiliki panggilan dalam hidup ini, yakni bagaimana kita dapat menjadi berguna bagi dunia di sekitar kita. Karlina Supeli berkata: kita seharusnya memiliki prinsip hidup Ad Maiora Natus Sum artinya lahir untuk hal2 besar. Apa itu? hidup lebih dari kepentingan dirimu sendiri, lebih dari kepentingan 4 tembok rumahmu, sebesar/seluas langit, dunia, bumi shg disitu lah kamu berkarya. Kita terpanggil untuk melahirkan orang dg kesadaran “saya bisa berbuat lebih”, itu dikejar terus. Jangan pernah takut. Mungkin dia tergelincir, namanya jg manusia. Ttp ia bangun lagi.” Dengan itu kita juga diingatkan akan panggilan kita untuk selalu tertuju pada panggilan kita bagi dunia di sekitar kita. Ini tentu tak boleh membuat kita hina dan tak berdaya karena hanya sebagai biji. Namun kita juga percaya pada kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang dapat terjadi melalui kita. Kita adalah biji yang ada di tangan Tuhan. Jika kita mengalami kesakitan, kelemahan, ketidakberdayaan, kita akan tetap bangkit. Denga pengalaman melepaskan kulit lalu tumbuh, walau itu sakit, kita take menyerah. Kita akan bergantung pada Tuhan yang memberikan pertumbuhan itu. Dan membuat kita menjadi alat kebaikanNya; kita adalah alat di tangan Tuhan.
Kini mari kita merenungkan: apakah pilihan sikap dan perbuatan kita adalah tertuju sebagai alat di tangan TUHAN, ataukah alat bagi dirimu sendiri? Dan membiarkan mereka mengalami sakitnya, derasnya, kacaunya angin dan hujan yang menimpa mereka. Apakah selama kau aman, kau akan tetap bergeming dalam cangkang biji? Tak pedulikah akan kehancuran dan kerusakan yang diterima sahabat-sahabatmu?
Mari kita perbaharui lagi panggilan kita, bahwa kita akan membiarkan diri mengalami ditanam, bertumbuh agar sabahat lainnya mendapatkan kekuatan dan pengharapan dengan kehadiran kita. Kita adalah biji sesawi yang ditanam dan tumbuh untuk menjadi alat di tangan Tuhan agar mereka juga merasakan kehidupan yang berpengharapan.
(LiN-RH, 06-09-2023)
MEMBERIKAN NYAWA-NYA MENJADI TEBUSAN (MESIAS YANG MENDERITA)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Markus 10: 32-45
Salam sejahtera, semoga kita makin diberi kemampuan untuk menderita, berkorban dalam melayani Tuhan dan sesama, seperti Yesus datang ke dunia untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang seperti ungkapan dalam Markus 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Apa artinya kita mengakui Yesus yang menderita, memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang? Yaitu Yesus datang ke dunia untuk melayani, berkorban nyawa, dengan tujuan menebus dosa bagi banyak orang. Kata banyak orang berarti Allah menyelamatkan orang Yahudi, orang Yunani dan bangsa lain. Allah menyelamatkan banyak orang juga berarti menyelamatkan seorang hamba, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak, remaja, pemuda, dewasa, lanjut usia, kaya, miskin, sakit, sehat. Semua orang diselamatkan dalam Kristus Yesus. Allah itu untuk semua orang (inklusif), bukan Allah yang terbatas untuk kelompok orang tertentu saja (ekslusif). Allah tidak memisahkan anak, remaja pemuda dengan orang dewasa dan lanjut usia, semuanya diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Hal ini juga menjadi dasar pembinaan intergenerasi.
Penderitaan Yesus telah menyingkirkan halangan manusia untuk diselamatkan Allah. Penderitaan Allah dalam Yesus membuat orang-orang yang berbeda latar belakang, tradisi, dapat bersama-sama mengakui bahwa mereka membutuhkan kuasa penyelamatan Allah. Tradisi keagamaan, yang dicontohkan oleh pemimpin Yahudi, cenderung mengasingkan orang yang berbeda suku, orang yang berdosa, miskin, sakit, lemah, tidak berdaya. Tempat ibadah, dibuat dinding pemisah, oleh pemimpin agama, dengan memisahkan laki-laki, perempuan, anak, remaja, pemuda dengan orang dewasa dan lanjut usia, orang bukan Yahudi, orang miskin, sakit dan lemah. Kesetiaan pada agama, telah membuat orang beragama, mengasingkan orang yang berbeda agama dan orang berdosa.
Yesus datang di dunia untuk menderita, berkorban, bukan karena permintaan umat manusia atau atas keputusan pemimpin agama. Pemimpin agama Yahudi malah menolak Yesus. Yesus menderita dan berkorban tidak membutuhkan pengesahan, pembelaan dari umat manusia, oleh sebab itu tidak perlu membuat perkumpulan pembela Yesus, pembela Kristen.
Yesus yang menderita dan berkorban tidak disembah dan diagungkan dengan liturgi yang indah (Choan Seng Song, Allah yang Turut Menderita, BPK Gunung Mulia, 2012). Yesus disembah dalam ibadah sejati, yaitu dengan menderita ketika melayani Tuhan dan sesama. Kita sebagai orang yang mengaku bahwa Yesus yang menderita dan berkorban, maka kita mengikuti jalan penderitaan Yesus, dengan kita melayani Tuhan dan sesama, bukan minta dilayani. Orang yang minta dilayani bukanlah orang yang mengasihi sesama, bukan orang yang berkorban demi orang lain agar dosa sesama ditebus, diampuni oleh Yesus.
Penderitaan adalah tempat Allah dan manusia bertemu. Penderitaan dalam melayani dan berkorban adalah tempat semua orang bertemu, raja-raja, pemimpin agama, orang miskin, orang kaya, suku yang berbeda, usia yang berbeda.
Dalam pertemuan itu mereka akan menyadari dan mengakui bahwa manusia itu lemah dan fana, membutuhkan kasih Allah yang menyelamatkan. Penderitaan dalam melayani Tuhan dan sesama, membuat kita makin dekat Tuhan, dan Allah lebih dekat kita. Penderitaan, bukan yang dirindukan, tapi dalam penderitaan, kita dimampukan untuk merindukan, menemukan, memelihara, membela kemanusiaan yang adil dan beradab, kesatuan, kebersamaan, keadilan.
Yesus tidak merindukan penderitaan, tapi penderitaan terjadi karena cara berpikir pemimpin Yahudi, mengikuti pikiran dan kehendak sendiri. Pemimpin Yahudi menjatuhi hukuman mati, dengan cara Yesus diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh. Yesus yang menderita, menyadarkan kita untuk melayani Tuhan dan sesama, dengan membela keadilan, memperjuangkan orang yang diperlakukan tidak adil, orang yang dihina, diolok-olok, agar kebenaran Allah ditegakkan. Orang yang mengakui Yesus menderita, adalah orang yang mau menderita, berkorban, bukan mencari keuntungan diri sendiri, dalam melayani, demi keadilan, kebenaran, damai, kebaikan, kasih dengan sekuat tenaga.
Salib Yesus adalah simbol penderitaan, karena itu salib tidak perlu dihiasi dengan emas dan perak. Salib yang dihiasi emas dan perak, menggambarkan penderitaan yang tempat mewah, di tempat yang indah, menyenangkan. Padahal salib Yesus terjadi di tempat di mana ada ketidakadilan, miskin, penyiksaan, tempat yang tidak indah, tempat orang dipermalukan. Ibadah yang mengakui Yesus menderita adalah pelayanan di tempat yang terjadi ketidakadilan, miskin, sakit, lemah, penganiayaan, keterasingan dan lain-lain. Ibadah yang sia-sia, adalah ibadah dengan pikiran dan kehendak sendiri, memikirkan diri sendiri, memikirkan kesenangan sendiri, tidak mau memikirkan pelayanan bagi orang lain yang diperlakukan tidak adil, miskin, lemah, tidak berdaya, diolok-olok, diludahi, dihina, dibunuh walau tidak melakukan kesalahan. Allah itu hadir di tengah-tengah umat yang menderita, maka ibadah yang sejati juga hadir di tengah-tengah penderitaan manusia. Itu sebabnya Yesus sangat menekankan ajaran mesias yang menderita, agar orang percaya jangan ikut pikiran dan kehendak sendiri, dengan berpikir mengikut Yesus mau mencari kedudukan terhormat dan kuasa, seperti permintaan Yakobus dan Yohanes.
Yesus menggunakan mahkota duri, bukan mahkota emas. Mahkota duri adalah simbol mesias yang menderita, hanya dengan penderitaan, berkorban, maka banyak orang bisa ditebus dosanya. Mahkota emas adalah simbol dari raja yang berjuang dengan perang, mengalah musuh dapat mahkota emas tapi tidak bisa menebus banyak orang dari dosa-dosanya. Pemimpin atau raja dari bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka (Markus 10:42). Yesus turun dari sorga, menjalani penderitaan, untuk melayani dengan menggunakan mahkota duri, semua itu karena kasih Yesus terhadap banyak orang seperti ungkapan dalam NKB. 85 ayat 1 Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g’lap penuh cela; berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit’rimaNya? Mengapa Yesus menderita, didera, dan mahkota duri pun dipakaiNya? Mengapa Yesus mati bagi saya? KasihNya, ya kar’na kasihNya.
Berdoa:
Ya Tuhan, mampukan kami untuk menderita, berkorban dalam melayani Tuhan dan sesama, seperti Yesus datang ke dunia untuk melayani dan memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin
BERSAING DENGAN KEBENARAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: I Samuel 20:30-31
Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu? Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”
Bersaing dengan kebenaran, pastilah kebenaran yang menang, namun kebenaran manusia adalah subyektif, hanya Tuhanlah kebenaran sejati. Kebenaran yang subyektif itu terlihat dari sikap atau pendirian seseorang yang gampang berubah-ubah, hal seperti itu selalu kita lihat di masyarakat kita. Demikian juga kita lihat orang memaksakan kebenarannya, tetapi kandas karena akhirnya dia bergabung (berkoalisi) dengan pihak yang dulu dia berseberangan.
Bahan renungan kita berintikan, rencana raja Saul agar Yonatan anak sulungnya akan menggatikan dia sebagai raja Israel. Hal seperti itu suatu kebiasaan atau kewajaran, dengan pemerintahan dalam bentuk monarki. Saul sebagai raja Israel mempunyai kuasa kepada siapa tahta kerajaan diserahkan, dan tentunya dia serahkan kepada anaknya, yaitu Yonatan dan itu suatu kewajaran. Namun Saul melihat suatu kenyataan bahwa ada saingan berat, yang sangat bepotensi menjadi raja Israel, yang disebutnya anak Isai, yaitu Daud. Dari sisi kehendak Tuhan telah terlihat bahwa Daud adalah pilihan Tuhan untuk menjadi raja Israel. Dari sisi lain, Saul berencana agar kerajaan harus jatuh ke tangan Yonatan, dan Saul merasa mampu mewujudkannya, dia mau bersaing dengan kebenaran.
Bagaimana dengan Yonatan? Dia seorang yang gagah, sebagai pahlawan yang dapat dibanggakan. Tetapi dia berpikir lurus, walau pun gagah sebagai pahlawan, dia melihat Daud lebih gagah, dan disisi lain dia telah berpikir bahwa Daud itu pilihan Allah. Karena itu Yonatan memandang Daud bukan sebagai saingan, tetapi sebagai teman. Demikian juga Daud sangat menghormati Yonatan sebagai pahlawan terutama dia sebagai putera raja. Yonatan dan Daud, dua pemuda itu telah bersepakat untuk saling menghargai dan saling mengasihi. Siapa pun nanti menjadi raja, mereka akan saling mendukung dan saling mengasihi. Raja Saul telah merasakan sikap Yonatan anaknya itu, tetapi di situlah dia hendak bersaing dengan kebenaran. Bahan renungan kita menegaskan bagaimana Saul marah kepada Yonatan, yang disebutnya: anak sundal kurang ajar, kau memberi aib bagi perut ibumu, dan akhirnya Saul mengatakan: anak Isai itu yaitu Daud harus mati. Sejak saat itu Saul berusaha dan menjadikan Daud buruannya untuk dibunuh. Sikap Saul ini menganggap kerjaan Israel itu adalah milik keluarganya atau perusahaan milik pribadinya. Sudah berapa kali Saul melihat bahwa Tuhan melindungi Daud, tetapi Saul tetap hendak bersaing dengan kebenaran dan akhirnya rencana Tuhan yang jadi, Daud menggantikan Saul sebagai raja Israel. Sayang sekali Yonatan tidak sempat melihat Daud sebagi raja, karena dia telah tewas dalam peperangan dengan orang Filistin. Bangsa kita sudah bergejolak menuju pergantian pimpinan pemerintahan dan Lembaga pemerintahan. Akan kita dengar rencana para calon pemimpin itu, untuk kita dibutuhkan pemikiran yang kritis dan tanggung jawab sebagai warga negara, agar kebenaran tidak jauh dari bangsa kita.
Kita bersyukur prinsip NKRI, Pancasila, UUD 1945, menjadi “kebenaran” yang telah teruji mampu mempersatukan rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke. Semoga pemimpin selanjutnya mampu menegakkan kebenaran itu untuk negeri ini.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Wajarkah Saul raja Israel, menghendaki Yonatan anaknya menggatikan dia?
- Coba ingat, siapa raja-raja yang memerintah Israel?
- Kepemimpinan di negeri kita didasarkan pada prinsip demokrasi, menurut Anda apakah sudah berjalan baik?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, Engkau pemimpin di muka bumi ini, kami mohon Engkau juga menempatkan pemimpin di tengah masyarakat dan bangsa kami. Jauhkan bangsa kami dari perpecahan yang telah direkatkan dari Sabang sampai Merauke dalam falsafah Pancasila. Itulah kerinduan kami, menuju pembangunan bangsa dan negara kami semakin maju. Demi Kristus kami berdoa, Amin. [AS040923]
SAPU LIDI DAN SAPU IJUK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 12:3 (TB 2)
”Berdasarkan anugerah yang diberikan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, suatu kali sapu lidi berbicara kepada sapu ijuk, demikian: “wah, kamu enak ya ijuk. Kamu selalu ditempatkan di dalam rumah dan hampir-hampir tidak pernah bersentuhan dengan tanah atau sampah yang busuk”. Sapu ijuk merespon, “lidi, kita ini ditemparkan sesuai dengan fungsi masing-masing, lho. Kita punya tanggungjawab bersama, yaitu membuat rumah dan halamannya ini jadi bersih”. Sapu lidi tidak puas dan ia menyahut, “ah, itu kan karena mau-maumu saja. Emangnya saya tidak bisa membersihkan lantai sebersih dirimu? Aku pasti bisa. Coba aku diberi kesempatan, maka akan kutunjukkan bahwa aku pasti bisa menyapu lantai sampai bersih”. Sembari tersenyum, sapu ijuk berkata, “Kalau itu maumu, silahkan engkau menyapu lantai.” Dan akhir dari kisah ini tentu dapat ditebak. Sapu lidi memang tidak bisa membersihkan lantai sebersih sapu ijuk karena mereka memang memiliki fungsi yang berbeda.
Meski cerita tadi adalah kisah imaginer, akan tetapi kadangkala atau bahkan seringkali kita bersikap seperti sapu lidi. Kita kadang kala merasa bisa sama seperti yang lain, bahkan merasa lebih baik dari mereka, bukan? Kita lupa untuk melakukan self essesment (menilai dirinya sendiri berkaitan dengan kompetensi), sehingga tidak tahu kemampuan diri yang sesungguhnya. Kepada Jemaat Roma, Rasul Paulus menasihati, demikian: ”Berdasarkan anugerah yang diberikan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”. Nasihat Paulus ini sangat terkait dengan ajakannya tentang keterlibatan setiap anggota jemaat dalam pelayanan.
Meski demikian, Paulus memberikan catatan: Pertama, jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi. Dengan kata lain, angggota jemaat diminta untuk memikirkan apa yang bisa dijangkau agar bisa juga dilaksanakan. Lidi mesti berpikir sebagai lidi, bukan merasa mampu seperti ijuk. Paulus meminta anggota jemaat untuk dengan rendah hati sedia melakukan self assesment. Bila ‘berpikir lebih tinggi dari apa yang bisa dijangkau’ ini terus menguasai hati, maka tanpa sadar seseorang akhirnya akan memandang yang lain sebagai rival. Berpikir apa yang tidak bisa dijangkau justru akan membuat seseorang terganggu pikirannya. Kedua, hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa. Frasa ini dapat diterjemahkan sebagai ”berpikirlah dengan bijaksana / jernih.” Kita perlu mengatur, mengelola atau menguasai pikiran kita sedemikian rupa sehingga pikiran-pikiran kita merupakan pikiran-pikiran yang bijaksana. Dengan berpikir bijaksana / jernih, maka kita akan dapat memilih dan memilah manakah pikiran yang bersifat merusak dan mana yang membangun. Ketiga, menguasai diri. Bila kita telah melakukan self assesment dan berpikir dengan bijak, maka seharusnya kita akan terhindar dari sikap ‘trouble maker’ yang sukanya mengganggu pekerjaan orang lain.
Saudaraku, mungkin kita ini adalah sapu lidi bukan sapu ijuk atau sebaliknya kita ini sapu ijuk bukan sapu lidi. Meskipun sama-sama untuk menyapu, namun fungsinya akan optimal bila berada di tempat yang tepat. Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu: _ jangan memikirkan hal-hal yang lebih tinggi._ Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, seringkali kami gagal untuk melakukan self assesment sehingga mudah untuk merasa iri hati terhadap orang lain. Kiranya Tuhan menolong agar kami dapat dengan kerendahan hati memeriksa diri, berpikir dengan bijaksana dan menguasai diri. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
