firman
MENGECAP KEBAIKAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 2:1-15
Salam sejahtera, semoga kita makin bertumbuh iman, semakin rindu melakukan firman Tuhan karena kita telah benar-benar mengecap kebaikan Tuhan, seperti ungkapan dalam 1 Petrus 2:2-3 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.
Surat 1 Petrus dituliskan kepada orang Kristen yang hidup di dalam masyarakat Romawi, penyembah berhala. Menurut orang Romawi, orang yang percaya Yesus, dianggap jahat, pantas dianiaya, disiksa, seperti masa kini, ada kelompok agama tertentu, yang menganggap orang Kristen jahat, berdosa, masuk neraka. Orang Kristen disingkirkan, dihambat rumah ibadahnya, dihambat usaha bisnisnya, karirnya dan hak politiknya untuk menjadi pemimpin daerah atau pemimpin negara. Orang Kristen dibenci, padahal perbuatan sehari-hari orang Kristen tidak melanggar hukum, taat pada hukum. Bagi orang Romawi, menyembah berhala dianggap kebaikan, walau perilaku mereka sehari-hari jahat, mencuri, berzinah, membunuh, munafik, tipu muslihat, dengki. Pemimpin Yahudi juga menganggap percaya Yesus sebagai kejahatan, walau perilaku pemimpin Yahudi penuh kemunafikan, tipu muslihat, ketidakadilan, kekerasan, menganiaya.
Dalam keadaan dihina dan ditindas, orang Kristen taat bersekutu dan berjanji menjauhkan kejahatan, tidak menipu, tidak munafik, tidak dengki, tidak memfitnah, tidak mencuri, tidak berzinah. Dosa-dosa ini dibuang, disesali karena merusak kasih dan menghambat pelaksanaan firman Tuhan, menghambat pembaharuan hidup dan pertumbuhan iman.
Menyembah berhala adalah gambaran orang yang beragama secara seremonial, dan agama tidak berdampak pada perilaku sehari-hari. Orang Kristen dituntut, beragama tidak seremonial, tapi melakukan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari. Penyembah berhala tidak menyembah kehendak Allah, tapi menyembah kehendak sendiri. Kalau mau perang, mereka minta tolong pada berhala A, agar bisa menang, kalau kalah berkali-kali, mereka akan meninggalkan berhala A, dan menyembah berhala B. Berhala harus memenuhi kehendak manusia. Berhala tidak menuntut perilaku sehari-hari, tapi sesuka manusia.
Orang Kristen tidak menyembah berhala, tapi menyembah Allah dan kehendakNya. Oleh sebab itu, orang Kristen benar-benar melakukan kehendak Allah, karena telah mengecap kebaikan Allah. Orang yang mengecap kebaikan Allah adalah orang yang diampuni dosa, ditebus oleh Yesus, dan hidup dengan meminum susu murni yaitu firman Tuhan, kehendak Tuhan. Minum susu murni berarti segenap hati merindukan makanan dari firman Allah. Sebab dengan susu murni orang Kristen bertumbuh dalam iman dan mendapat keselamatan. Susu murni, artinya firman Tuhan yang tidak dicampur dengan ajaran lain yang meracuni, merusak jiwa dan iman Kristen. Bagi orang Kristen, belajar firman Tuhan bukan beban berat, tapi kesukaan besar, sebab sudah mengecap kebaikan Tuhan, yang memberi bahagia, membuat hati berkobar-kobar, karena Yesus hadir dan merasakan kehadiran Yesus.
Kita tidak dapat mengecap kebaikan Tuhan dari jarak jauh, kita harus dekat, akrab dengan Tuhan. Kita mengecap semua pemeliharaan-Nya, mengecap kasih karunia Kristus, penghiburan Allah dalam hidup ini. Mengecap kebaikan Tuhan berarti kita bergantung pada kehendak Tuhan, bukan kehendak sendiri. Mengecap kebaikan Tuhan berarti orang beriman tidak bermalas-malasan menanti kebaikan Tuhan, tapi sebaliknya, giat mendorong orang untuk menyesali dosa, diperbaharui dan melakukan kehendak Tuhan, mengalami kasih Tuhan dan kuasa kehadiran Tuhan.
Percaya pada Yesus adalah mahal, karena dibayar dengan mahal melalui darah Yesus. Orang Kristen juga harus membayar mahal, dengan pengorbanan diri, dianiaya, dihina, demi percaya Yesus dan melakukan kehendak Allah. Pemimpin Yahudi dan Romawi menganggap percaya Yesus murah, mereka membuang Yesus, karena dianggap tidak berharga, tidak mulia. Pada masa kini, banyak orang membuang Yesus, termasuk kelompok ateis, agnostik, kelompok intoleran, radikal, pembenci agama Kristen. Yesus yang dibuang orang Yahudi dan Romawi, telah dibuat oleh kuasa Allah menjadi dasar persekutuan umat Tuhan yang kuat, bukan karena kemampuan manusia.
Di tengah dunia ini, iman orang Kristen diuji, apakah makin murni menggunakan ajaran Yesus, atau makin tercampur dengan ajaran dunia. Orang Kristen mendapat fitnah, ejekan, agar tidak percaya dan meninggalkan Yesus. Ada orang Kristen yang dihina, disingkirkan, dihambat usahanya, akhirnya meninggalkan iman Kristen, dengan harapan usaha bisnisnya makin lancar, tidak ada yang menghambat. Penghinaan seperti ini kita tidak perlu heran dan terkejut, sebab sudah sejak awal perjanjian baru, orang Kristen diperlakukan seperti ini, tapi umat Tuhan terus bertumbuh, berbuah, melakukan kebaikan, melakukan kehendak Tuhan dan tetap mengecap kebaikan Tuhan. Setiap kejadian penghinaan, penganiayaan, membuat orang Kristen berbahagia karena sudah berbuat baik. Orang Kristen telah ambil bagian dari penderitaan Yesus.
Walau dihina, dianiaya orang Kristen terus berbuat baik, dengan cara menghormati pemimpin negara, menghormati lembaga legislatif dan yudikatif. Sebagai orang yang dipilih Allah, maka cara hidup orang Kristen adalah terlibat dalam kebaikan mendukung pemerintah, menjadi pejabat yang memberitakan perbuatan Allah yang besar, yang memuliakan Allah bukan pamer kemewahan dari hasil suap atau korupsi. Terlibat dalam lembaga legislatif untuk memperjuangkan undang-undang yang membawa keadilan, kedamaian, kesetaraan, anti korupsi, anti suap. Terlibat di lembaga yudikatif, di pengadilan memperjuangkan orang benar, menghukum orang salah, bukan membebaskan orang bersalah dan menghukum orang benar. Kita melakukan kebaikan karena kita telah mengecap kebaikan Tuhan, mengalami kebahagian damai, yang melampaui akal dari Tuhan.
Orang yang mengecap kebaikan Tuhan percaya bahwa apa yang diperbuat Allah adalah kebaikan semuanya. Rancangan Tuhan indah, teguh, kita berserah pada Tuhan yang kita andalkan. Pada Tuhan kita selalu aman seperti ungkapan KJ. 378 ayat 1 Yang diperbuat Allahku, kebaikan semuanya. RancanganNya tetap teguh; ‘ku berserah padanya. Tuhankulah selamanya yang ingin kuandalkan: PadaNya aku aman. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin bertumbuh iman, semakin rindu melakukan firman Tuhan karena kami telah benar-benar mengecap kebaikan Tuhan. Kami taat bersekutu dan menjauhkan, menyesali dosa-dosa agar tidak menghambat pertumbuhan iman kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. amin
MELIHAT TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bahan: Yesaya 6:1-8,
Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. (5), Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”
Dalam P L banyak peristiwa, Tuhan memperlihatkan diri. Di taman Eden Tuhan datang untuk menemui Adam dan Hawa, namun tidak ada keterangan bagaimana sosok Tuhan dalam pertemuan itu. Abraham dipanggil Tuhan, terlihat mereka berbicara, juga tidak terungkap sosok Tuhan itu, namun pada kesempatan lain malaikat Tuhan mendatangi Abraham. Musa ditemui dan dipanggil Tuhan Allah, diawali dengan semak belukar yang menyala, dan mereka berbincang, yang akhirnya Musa diutus membali ke Mesir membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir. Musa bertemu dengan Allah di gunung Sinai, dijelaskan kehadiran Tuhan di gunung itu sangat dahsyat, tetapi bagaimana sosok Tuhan itu tidak jelas. Samuel hamba Tuhan yang disebut sebagai pelihat ditemui oleh Tuhan Allah, Allah menyampaikan firman yang harus dilakukan oleh Samuel, pertemuannya sekedar suara hati yang diberikan oleh Allah kepada Samuel, sedangkan sosok Allah itu tidak dijelaskan.
Bahan renungan kita ketika nabi Yesaya melihat Tuhan Allah, yang ternyata sangat mengejutkan, kekudusan dan kemuliaan Allah sungguh tak terhampiri. Sosok Allah itu duduk di atas takhta-Nya, berpakaian jubah. Kalau kita simak penjelasan penglihatan nabi Yehezkiel tentang Allah, penjelasan kemuliaan, kebesaran Allah sosok yang tak tergambarkan kehebatannya. Demikianlah sekelumit keberadaan Allah semesta alam. Penggambaran tentang sosok Tuhan Allah itu yang tak terlukiskan dengan kata, sebanding dengan ciptaan-Nya, alam semesta ini hingga ruang angkasa yang masih rahasia besar bagi manusia. Allah menampakkan diri dengan maksud tertentu dan untuk memahami panggilan-Nya, namun bagaimana bentuk sosok Allah, Alkitab belum mengungkapkan yang sesungguhnya.
Untuk satu tujuan keselamatan manusia Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal Yesus Kristus. Kita berpuas diri mengenal Allah dalam Yesus Kristus, terutama menjadi Juruselamat kita. Untuk melanjutkan karya keselamatan Kristus itu Roh Kudus diutus, sehingga oleh Roh Kudus yang akan tinggal di hati kita menghadirkan Allah dalam hidup kita. Sepanjang hidup dan pelayanan Yesus, Dia telah menghadirkan Allah yang mengasihi untuk menyelamatkan kita. Kalau kita mau mencari tahu tentang sosok diri Allah, kita bisa mencarinya dalam Yesus Kristus. Setelah Dia bangkit, justru Dia yang mencari dan menghimpunkan murid-murid-Nya untuk suatu tujuan yaitu mengutus mereka menjadi saksi-Nya, menyampaikan berita keselamatan ke suluruh dunia. Dalam kesaksian banyak orang mengatakan bagaimana mereka bertemu dengan Yesus Kristus masing-masing dengan cara yang unik yang tak lain untuk menyelamatkan dan menjadikan dia menjadi saksi-Nya. MELIHAT TUHAN, dalam bentuk sosok badan pasti tidak mungkin bagi kita, namun terjadi bagi kita dengan mata iman, bukan gambaran sosok diri-Nya, tetapi tentang pribadi-Nya, kuasa, kemuliaan, keagungan, kasih, kesetiaan-Nya yang dulu terlihat oleh Adam, Musa, Abraham, Yesaya, Yehezkiel, saat ini menjadi terang bagi kita oleh Alkitab dalam bimbingan Roh Kudus.
Mari kita dalami renungan ini melalui pokok-pokok berikut:
- Menurut Anda mengapa Yesaya berkata: “celaka aku”, kalau melihat Sang Raja.
- Menurut Anda adakah sosok diri Tuhan Allah yang mengutus Yesus Kristus?
- Cukupkah bagi Anda melihat sosok diri Allah dalam Yesus Kristus?
Mari berdoa: Bapa dalam Sorga yang mulia, agung, berkuasa yang tak terhampiri manusia berdosa seperti kami; tetapi Bapa mengutus Yesus Anak Bapa agar manusia bisa berjumpa dengan Dia. Sudah cukup, Yesus Anak Allah bagi kami yang membawa kami berjumpa dengan Bapa, inilah kerinduan kami. Dalam Kristus Tuhan. Amin. [AS240423]
SAPI ATAU AYAM?
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 5:16
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Sebuah pengalaman menarik yang saya alami ketika bersama dengan teman-teman pendeta dan capen GKI Klasis Purwokerto melakukan perjalanan darat menuju ke Jogjakarta dalam rangka berangkat untuk mengikuti sebuah kegiatan di sana. Karena dari Purwokerto pukul 6.00 Wib, maka kami tidak sempat sarapan terlebih dahulu. Sekitar jam 9.00 Wib, kami telah sampai di daerah Wates Kulon Progo dan memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuh warung soto sembari sarapan. Di warung tersebut ditawarkan soto daging sapi dan daging ayam.
Mulailah kami memesan soto sesuai dengan selera kami. Seorang rekan yang akan mencatatkan pesanan bertanya, “sapi berapa? Dan ayam berapa?” Nah, mendengar pertanyaan itu, kami langsung menyahut, “aku ayam…. aku sapi!” Setelah catatan jumlah pesanan diserahkan kepada pelayan, kami melanjutkan ngonbrol.
Tidak berapa lama, pesanan kamipun datang. Sekarang giliran pelayan bertanya, “ingkang sapi sinten, ingkan ayam sinten? – yang sapi siapa, yang ayam siapa?” Kami yang memesan soto sapi segera menyahut “aku mbak, aku sapi…!” Demikian pula dengan meraka yang memesan ayam berkata, “aku ayam, mbak!” Pelayan pun mengantar soto kepada kami sesuai dengan jenis pesanan. Sembari ngobrol tentang acara yang akan kami ikuti di Jogjakarta nanti, kami menikmati soto yang sudah disajikan.
Selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Di dalam perjalanan itu, salah seorang teman bertanya kepada saya, “pak, sejak kapan awakmu dadi sapi? – sejak kapan kamu jadi sapi?” Saya menyahut, “Lho, ya pada karo awakmu, sejak kapan dadi pithik? – sama saja denganmu, sejak kapan jadi ayam” Sembari tertawa, kami pun saling mengolok bahwa kami ini rombongan sapi dan ayam. Sampai pada akhirnya, ada seorang rekan yang nyeletuk, “iya ya, gara-gara luwé, kabeh malih dadi sapi opo pithik – iya ya, gara-gara lapar, maka semua berubah menjadi sapi atau ayam”.
Pernyataan “gara-gara lapar, maka semua berubah menjadi sapi atau ayam” menyentak diri saya. Bukankah hal seperti itu yang seringkali terjadi. Kita bisa saja kehilangan jati diri sebagai anak-anak terang karena suatu dorongan atau keinginan sesaat yang nampak menarik dan enak? Seperti misalnya, karena tergiur oleh sejumlah rupiah, maka seseorang melakukan korupsi dan melupakan bahwa dirinya adalah anak Tuhan yang seharusnya menjadi terang.
Kerinduan Tuhan terhadap diri kita sangat tegas dan jelas, yaitu bahwa identitas sebagai anak-anak terang mesti selalu dinyatakan di manapun kita berada. Tuhan Yesus bersabda, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”. Setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup dengan sebaik mungkin, supaya Bapa dipermuliakan dan membuka kesempatan untuk orang lain datang kepada Kristus. Ketika kehidupan kita bertolak belakang dengan pengajaran yang tertulis dalam Alkitab, maka efeknya adalah diri kita tidak akan memuliakan Bapa di surga dan orang lain tidak akan tertarik untuk datang kepada Kristus.
Mari saudaraku, sudahkan kita menjadi anak-anak Tuhan yang menyatakan terang? Janganlah gara-gara “lapar”, maka kita berubah menjadi ‘sapi atau ayam’! Atau dengan kata lain, jangan karena keinginan daging, maka kita kehilangan jatidiri sebagai anak-anak terang. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Terimakasih karena Engkau telah mengingatkan kami untuk selalu menyatakan diri sebagai anak-anak terang, ya Tuhan. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkan identitas kami dengan sebaik-baiknya. Terpujilah Nama-Mu, ya Tuhan Yesus. Amin.
Febe: Menjadi Teladan Bagi Banyak Orang
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Roma 16:1-2
”Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memeberikan bantuan kepada banyak orang juga kepadaku sendiri.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih..Hari ini, 21 April merupakan salah satu hari bersejarah bangsa Indonesia. Ya….kita memperingati hari Kartini. Kartini adalah nama seorang wanita yang dianggap sebagai pelopor gerakan emansipasi wanita di Indonesia, suatu usaha menuntut persamaan hak kaum wanita terhadap pria di segala bidang kehidupan. Emansipasi ini bertujuan memberi wanita kesempatan belajar, bekerja dan berkarya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Dialah R.A. Kartini yang lahir di Rembang (Jepara) 21 April 1879, sang pelopor. Setelah menamatkan Sekolah Dasar Kartini tidak diperbolehkan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Ia dipingit karena hendak dinikahkan. Meski demikian hal itu tidak menyurutkan niat Kartini muda untuk terus belajar. Kartini menjadi seorang yang maju pola pikirnya sehingga ia pun rindu para wanita Indonesia berpikiran maju seperti dirinya. Kartini juga sering menulis surat kepada teman-temannya yang ada di negeri Belanda, salah satunya adalah JH Abendanon.
Surat-surat yang dikirim Kartini dikumpulkan dan dibukukan serta diberi judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ oleh JH Abendanon. Inilah sekelumit tentang Kartini. Berkat perjuangannya, wanita-wanita indonesia tidak lagi terbelakang. Wanita tidak lagi hanya berperan di seputar rumah dan dapur tapi di segala bidang kehidupan yang ada. Mereka memiliki hak-hak yang sama dengan pria. Kini wanita bisa berprofesi apa pun asal mereka mampu.
Pada kesempatan ini mari kita belajar dari salah satu wanita yang tercatat dalam Alkitab yang patut kita teladani: Febe, yang berarti ‘berseri-seri atau bersinar’. Sesuai dengan arti namanya, kehidupan Febe bersinar dan menjadi teladan bagi banyak orang. Ia adalah seorang pelayan Tuhan di Kenkrea, sebuah kota pelabuahan di sebelah timur Korintus. Sebagai pemimpin jemaat Febe membuktikan bahwa dia memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan kaum pria.
Bila dilihat dari namanya Febe bukanlah seorang Yahudi, tapi ia orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan hidupnya telah diubahkan. Febe bukan hanya percaya saja, tapi juga memiliki komitmen untuk melayani Tuhan. Keberadaannya sebagai pelayan jemaat adalah bukti bahwa Febe bukanlah orang Kristen yang biasa-biasa saja, tapi dia seorang Kristen yang ‘di atas rata-rata’, sehingga ia pun dipercaya untuk menjadi pemimpin.
Selain sebagai pemimpin, Febe adalah sosok pribadi yang dikenal murah hati. Ia suka membantu orang lain dan juga pekerjaan Tuhan yang diakui juga oleh Paulus, “…ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.” Adakah kita punya kemurahan hati seperti Febe ini? Ada tertulis, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri.” (Amsal 11:7).
Itulah sebabnya rasul Paulus mendorong agar orang-orang percaya di Roma menyambut dan menerima kehadiran Febe dengan baik, bahkan “…berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya.” Febe pun menuai apa yang telah ditaburnya. “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan,” Mari kita menjalani hidup untuk terus menghadirkan teladan bagi orang lain. Selamat berefleksi. Tuhan memberkati kita.
YESUS, AKU CINTA PADAMU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Umat Tuhan yang mengasihi dan dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita akan merenungkan firman Tuhan yang berjudul “Yesus, Aku cinta PadaMu” dengan dasar Surat 1 Yohanes 4:15 “Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. ” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Surat 1 Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes penulis Injil Yohanes, untuk menasihati jemaat para pengikut Kristus supaya tetap teguh berpegang pada kebenaran bahwa Yesus, Anak Allah adalah sungguh-sungguh manusia yang telah menumpahkan darahNya untuk menyucikan segala dosa (1:7).
Di sini Rasul Yohanes hendak menegaskan kepada kita: “Setiap orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tinggal di dalam dia dan dia di dalam Allah.”
Saat ini kita percaya bahwa Tuhan Yesus telah datang sebagai manusia dan Dia sungguh-sungguh Anak Allah. Kita telah merayakan kematian dan kebangkitanNya dari antara orang mati.
Suatu anugerah yang besar jikalau kita dapat mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, karena Roh Kudus membimbing kita untuk menyatakan pengakuan itu. Allah mengijinkan kita boleh bersekutu di dalam Dia, Dia di dalam diri kita, artinya hidup kita ada di dalam TanganNya! Tangan Tuhan akan selalu menopang hidup kita. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dipersembahkan oleh pengurus Komisi Diakonia GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul “Yesus, Aku cinta padaMu” Lagu ini merupakan suatu pengakuan dan pernyataan pribadi kita kepada Tuhan Yesus: “Aku cinta padaMu.” Kita mengakui, sesungguhnya Tuhan Yesus lebih dahulu mengasihi kita.
Melalui pujian ini Pengurus Komisi Diakonia mengajak kita semua untuk mengasihi Tuhan Yesus dan mengagungkan namaNya dalam segala keadaan: dalam kesusahan atau dalam kelimpahan.
Ketika kita menghadapi badai dan gelombang menerpa kehidupan, kitapun dapat bersaksi: “Kapalku tak akan tenggelam.” Mengapa Saudara? Karena Tuhan Yesus Jurumudi hidupku, maka kapalku tak akan tenggelam. Aku tak akan goyah, sebab Tuhan menopangku.” Puji Tuhan!
Mungkin saat ini ada di antara Saudara yang sedang menghadapi persoalan hidup yang berat, persoalan sakit penyakit, persoalan keluarga, pekerjaan, dan sebagainya. Tetaplah selalu berdoa dan meminta pertolongan Tuhan. Kita yakin bahwa Tuhan pasti menjawab doa kita dan memberikan pertolongan yang indah pada waktuNya.
Saudara-saudara, bukti dari pernyataan kasih dalam kehidupan kita adalah kasih kepada Tuhan dan sesama. Memang, bagian tersukar adalah kasih kepada Tuhan. Kalau kita berkata: “Yesus, aku cinta padaMu”, tetapi tidak ada bukti mengasihi sesama saudara, itu berarti omong kosong! Kalau begitu, apakah Allah di dalam kita dan kita di dalam Dia?
Oleh sebab itu bersediakah Saudara menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama, misalnya dengan mendukung pelayanan Komisi Diakonia, mendukung pelayanan Yayasan Sosial Karya Kasih dan Unit-unitNya, dsb. Amin, Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur karena Tuhan memberi anugerah kepada kami, kami dapat mengaku Yesus Kristus adalah Anak Allah! Dan kami boleh hidup dalam pesekutuan kasih dengan Tuhan dan sesama. Mampukanlah kami mewujudkan kasih kami kepada Tuhan dan sesama. Berkatilah pelayanan Komisi Diakonia dan Yayasan Sosial Karya Kasih beserta Unit-unitnya. Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga! (AM20042023)
KAMU HARUS MENDERITA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 2:19-25
Salam sejahtera, semoga kita makin dimampukan Tuhan untuk berbuat baik dengan melakukan kehendak Allah, walau harus menderita demi kebenaran Allah, seperti ungkapan 1 Petrus 2:20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Menderita dalam ayat ini berarti menderita bagi Kristus yang telah menebus dosa kita, dan itu adalah kasih karunia Allah. Kita menderita bukan karena kesalahan sendiri. Kita siap menderita ketika melakukan kehendak Allah, kita bertahan pada iman kepada Yesus. Kita menderita karena ada masyarakat dan pejabat pemerintah yang benci pada Yesus dan iman Kristen, seperti pemimpin Yahudi dan rakyatnya menindas Yesus.
Pada masa kaisar Romawi kelima, Nero, membakar kota Roma, karena ingin membangun kota Roma yang baru. Setelah kebakaran besar terjadi, penduduk Roma umumnya percaya bahwa pelaku pembakaran itu adalah Nero, namun Nero menfitnah, mengkambinghitamkan umat Kristen sebagai penyebab kebakaran. Ia menggunakan cara yang sangat jahat untuk menghukum mati orang Kristen.
Cara orang beriman menghadapi penderitaan berat ini, adalah dengan menyerahkan diri kepada Allah, merasa lebih baik menderita demi kebenaran Allah. Umat diminta untuk berharap pada Allah, agar diberikan keberanian, kekuatan menghadapi penderitaan, terus hidup dalam kasih untuk mematahkan fitnahan. Orang beriman yakin bahwa Tuhan Yesus akan datang segera, dan akan diselamatkan dari hukuman kekal pada akhir zaman. Orang Kristen berharap pada kasih karunia Allah, yang menebus dosa dan menyelamatkan. Hari kedatangan Yesus sangat dinanti-nantikan oleh orang beriman. Orang yang menderita bersama Kristus akan bersukacita bersama Kristus saat kemuliaanNya dinyatakan. Ketika Gembala Agung datang, maka orang beriman akan menerima mahkota kemuliaan. Kedatangan Yesus kembali menjadi motivasi dalam hidup yang benar di tengah dunia yang membenci Yesus.
Orang percaya Yesus, pada masa Petrus adalah orang yang baru bertobat, disebut sebagai pendatang, perantau, pengembara, peziarah di dunia ini, yang sedang menuju garis akhir yaitu Kerajaan Allah. Sebagai pendatang, peziarah, pengembara, orang Kristen tetap hidup dalam kebenaran Allah, di tengah dunia yang membenci Yesus. Orang beriman menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang merusak jiwa dan merusak iman.
Motivasi orang percaya bertahan dalam penderitaan adalah mereka mempunyai suatu panggilan yang mulia dan warisan sorgawi di dalam Yesus Kristus. Iman dan kasih di dalam hidup ini, akan diuji dan dimurnikan sehingga akan mengakibatkan pujian, hormat, dan kemuliaan pada saat kedatangan Tuhan. Keselamatan yang besar ini sudah dijanjikan dan pasti digenapi. Orang percaya harus hidup kudus, hidup dengan hormat dan rendah hati.
Orang Kristen banyak yang menjadi budak di Romawi, karena mereka adalah tawanan Romawi. Dokter, guru, dan pekerja lainnya, disebut budak. Budak adalah barang, bukan manusia yang punya hak, tidak bisa memperjuangkan keadilan. Orang Kristen di dunia ini, bersikap patuh, hormat pada majikan dan pejabat dan siap menderita dengan melakukan kebenaran bagi Kristus dan menuruti teladan Yesus. Orang percaya apabila mereka menderita karena kebenaran, maka mereka akan disenangi oleh Tuhan. Menderita karena kebenaran seperti Yusuf menderita sebagai budak Potifar di Mesir, tapi Yusuf bekerja dengan kehendak Allah, melakukan yang benar dan bertanggungjawab, dipercaya Potifar. Dalam penderitaan, orang beriman tidak lalai dalam melakukan tanggungjawab, di manapun bekerja dan melayani, tidak bersikap masa bodoh terhadap berbagai persoalan. Orang Kristen harus menjadi pekerja yang lebih baik, lebih disiplin dari pada yang lainnya.
Orang Kristen tidak setuju dengan perbudakan sebab dalam ajaran Yesus, semua orang berharga di mata Allah, tidak ada budak dan orang merdeka. Tapi orang Kristen tidak boleh memberontak terhadap majikan dan pemerintah yang melakukan perbudakan. Orang Kristen tetap taat dan hormat kepada majikan dan pemerintah. Kuasa Allah yang membebaskan dari perbudakan seperti kisah pembebasan perbudakan di Mesir dan Babilonia. Yesus tidak melakukan pemberontak menghadapi perbudakan Romawi, seperti yang dilakukan orang Zelot. Dalam menghadapi perbudakan Romawi, Yesus melayani, mengasihi, menyembuhkan, memberitakan tentang keselamatan, dan mempersiapkan Kerajaan Allah di dalam hati manusia. Dalam kerajaan Allah tidak ada perbudakan, penderitaan, semua berharga di mata Allah. Dalam kehidupan persekutuan Kristen, tidak ada budak dan orang merdeka, semua berharga di mata Allah.
Orang Kristen yang bekerja dan melayani, semua itu dilakukan karena sadar akan kehendak Allah, dan siap menderita karena melakukan pekerjaan yang sesuai kehendak Allah. Seorang guru, dokter, pegawai yang tulus, jujur akan menderita, dihina, disingkirkan oleh teman kerjanya yang tidak jujur, korupsi, tidak tulus, tidak mengikuti kehendak Allah tapi mengikuti kehendak sendiri. Ketika orang Kristen menderita di penjara karena korupsi, maka itu penderitaan karena berbuat dosa, itu tidak menjadi pujian bagi Allah. Orang melakukan yang benar, jujur, tulus, dan menderita maka itu adalah kasih karunia Allah, menjadi pujian bagi Allah. Kita mengikuti teladan Yesus, rela menderita untuk melakukan kebenaran, untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Walau Yesus dicaci maki, tidak ada balasan untuk mencaci maki, Yesus tidak melakukan kekerasan fisik dan verbal. Yesus tidak membalas dendam, tidak mengancam, tapi menyerahkan semua pergumulanNya kepada Allah, hakim yang adil.
Kita mau mengikuti Yesus sampai selama-lamanya, meski kita susah dan menderita karena melakukan kehendak Tuhan. Kita mengikuti Yesus, dengan melakukan kehendak Tuhan selama-lamanya seperti ungkapan KJ. 375 – Saya mau ikut Yesus, saya mau ikut Yesus sampai s’lama-lamanya. Meskipun saya susah, menderita dalam dunia, saya mau ikut Yesus sampai s’lama-lamanya. Amin
Berdoa :
Ya Tuhan mampukan kami agar bisa berbuat baik dengan melakukan kehendak Allah, walau harus menderita demi kebenaran Allah. Kami menderita bagi Kristus yang telah menebus dosa kami dan itu adalah kasih karunia Allah. Mampukan kami menghadapi penderita dari orang yang membenci Yesus dan kebenaranNya. dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
PASKAH JAMINANNYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: II Raja-raja 4:32, 35,
Dan Ketika Elisa masuk ke rumah, ternyata anak itu sudah mati dan terbaring di atas tempat tidurnya. 35, Sesudah itu ia berdiri kembali dan berjalan dalam rumah itu sekali ke sana sekali ke sini, kemudian meniarap pulalah ia di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu tujuh kali, lalu membuka matanya.
Paskah merobah wajah dunia, “karena Yesus bangkit ada hari esok,” demikian bunyi syair sebuah nyanyian. Percaya atau tidak, sadar atau tidak, tahu atau tidak, hari esok kita menjadi jelas dalam Yesus yang bangkit. Jauh waktu sebelum zaman Tuhan Yesus hidup, kuasa kebangkitan dari kematian sudah ada dalam pelayanan beberapa nabi. Nabi Elia yang menyingkir ke Sarfat, menumpang di rumah seorang janda, dengan kehadiran nabi Elia, kehidupan ibu janda dan seorang anaknya perempuan terpelihara “karena tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli tidak habis,” pada saat paceklik, kekeringan. Tetapi kejadian mengejutkan, anak perempuan ibu janda itu meninggal, kemalangan itu diartikan oleh ibu itu karena dosa-dosanya yang berat diingatkan atau ditegor oleh abdi Allah itu, yaitu Elia. Dalam suasana memilukan itu Elia berdoa, memohon kepada Allah agar dikembalikan kehidupan anak itu. Tuhan mendengar doa nabi Elia, anak itu hidup kembali. Demikian juga dalam bacaan kita nabi Elisa (penerus nabi Elia), dalam perjalanan pelayannya, selalu menumpang di rumah seorang yang cukup berada, tetapi dia tidak mempunyai anak. Akhirnya Elisa memohon kepada Allah dan berkata kepada keluarga itu, mereka akan mendapat anak laki-laki. Doa nabi Elisa didengar Tuhan, keluarga itu dikarunia anak, tetapi setelah anak itu remaja, dia meninggal, tetapi nabi Elisa berada di tempat lain. Ibu itu sangat kecewa, diberi anak tetapi diambil kembali, seolah-olah nabi Elisa memberi janji kosong. Karena itu dia berangkat menjumpai nabi Elisa, menyampaikan keadaan duka yang mendalam itu. Nabi Elisa kembali mendapatkan jenazah anak itu, dan dengan berbuat seperti yang dilakukan nabi Elia, yaitu membaringkan diri di atas jenazah itu, membuat jenazah itu menjadi panas, akhirnya hidup kembali. Oleh rasul Paulus, seorang pendengar khotbahnya di malam sampai dini hari, bernama Eutikhus, jatuh dari jendela lantai tiga. Ketika diangkat ternyata dia sudah mati (Kis20:9). Sama seperti yang dilakukan Elia dan Elisa, maka Paulus juga membaringkan diri ke atas jenazah itu, dan Eutikhus hidup kembali. Seorang pemuda yang telah meninggal dan sedang diusung ke kuburan, di tengah jalan di hentikan oleh Tuhan Yesus, dan membangunkan pemuda itu, dia hidup kembali. Lazarus yang sudah mati, sudah 4 hari dikuburkan sudah bau, tetapi dipanggil namanya oleh Tuhan Yesus, hidup kembali.
Itulah beberapa peristiwa orang mati dihidupkan kembali. Tetapi mereka itu semua mati lagi, hanya bertahan sepanjang umur yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Kebangkitan Tuhan Yesus, setelah Dia mati, dikubur, pada hari ketiga Dia bangkit. Tidak ada orang yang membaringkan diri di atas jenazah-Nya, tidak orang memanggil nama-Nya. Dia dibangkitkan oleh Bapa, menggenapkan janji keselamatan dalam diri dan karya-Nya, yang dikatakan-Nya: “Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,” PASKAH JAMINANNYA. Semua yang dibangkitkan oleh nabi Elia, Elisa, Paulus, pemuda di kota Nain dan Lazarus, mereka mati kembali, tetapi oleh Paskah Yesus mendapat hidup kekal, tidak mati lagi. Oleh Paskah kita berada dalam barisan hidup kekal.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok-pokok berikut:
- Bagaimana Anda memaknai ucapan: “Selamat Paskah.”
- “Orang menangis ketika keluarganya meninggal dunia,” menurut Anda mengapa?
- “Karena Yesus bangkit ada hari esok,” bagi Anda hari esok yang bagaimana?
Mari berdoa:
Bapa sorgawi, Tuhan Yesus bangkit untuk kami yang berdosa, kebangkitan yang diterima-Nya karena Dia telah menyelesaikan missi keselamatan bagi dunia dan manusia dari dosa. Dialah kebangkitan bagi kami, Dialah jalan, kebenaran dan hidup bagi kami. Roh Kudus menolong kami agar kami setia bertahan dalam iman kepada Kristus, karena dunia selalu menghadang dan menutup hati kami supaya keluar dari kasih karunia Allah. Inilah doa kami dalam nama Yesus, Amin.
[AS170423]
BA KUT TEH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kisah Rasul 2:42
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Bak kut teh, atau sup iga babi, merupakan salah satu hidangan Chinesse food yang populer di Singapura dan Malaysia. Sesuai dengan namanya, hidangan ini terdiri dari iga babi yang direbus dengan campuran bumbu dan rempah-rempah seperti bawang putih, cengkih, kayu manis, adas bintang, biji adas, dan ketumbar. Meski banyak yang mengatakan bahwa bak kut teh lahir di Port Klang Malaysia, namun kesahihan data ini masih diperdebatkan.
Menurut sejarah versi Port Klang, bak kut teh diciptakan awal abad ke 20. Makanan ini adalah makanan kuli pelabuhan. Daging yang dipakai adalah daging bertulang yang merupakan sisa penjualan daging. Sup daging ini dimasak dengan berbagai rempah dan obat-obatan sebagai tonik dengan harga yang terjangkau oleh para kuli kasar itu.
Saat ini bak kut teh, dapat dijumpai di hampir semua pujasera Singapura atau juga di Malaysia. Mencari bak kut teh di Indonesia juga tidak terlalu sulit, karena sudah banyak restoran chinesse food yang menyajikannya sebagai salah satu menu yang ditawarkan. Bak kut teh biasanya disantap dengan nasi putih kukus hangat.
Memperhatikan sejarah kemunculan bak kut teh ini, kita dapat melihat bahwa para pekerja kelas bawah di pelabuhan ternyata membutuhkan asupan makanan yang dapat mendukung fisik mereka dalam bekerja sebagai kuli pelabuhan. Meski tidak mahal, tetapi nasi bak kut teh terbukti dapat segera memulihkan tenaga para kuli pelabuhan yang menyantapnya. Seporsi nasi bak kut teh terbukti dapat memenuhi kebutuhan energi bagi para pekerja kasar pelabuhan itu. Selain kandungan rempah dan tonik dalam kuah bak kut teh, setidaknya bila mengacu pada ilmu gizi, maka ada 3 (tiga) komponen utama makanan sebagai sumber energi yang dibutuhkan tubuh agar dapat berfungsi optimal, yaitu: Karbohidrat yang dapat diperoleh misalnya dari nasi, gandum, kentang; Protein yang bisa kita dapatkan misalnya dari daging, sayur, dan biji bijian; serta yang terakhir adalah Lemak.
Bila bak kut teh ini dapat mewakili menu makanan yang dapat 3 (tiga) komponan utama sumber energi bagi tubuh, maka di dalam kehidupan iman sebagai anak-anak Tuhan, kita juga membutuhkan 3 (tiga) hal penting untuk mendukung agar iman percaya kita terus bertumbuh dan mampu bertahan menghadapi tantangan, yaitu: Firman Tuhan, Doa dan Persekutuan. Firman Tuhan, Doa dan Persekutuan inilah yang nampak sangat dihidupi oleh orang-orang kristen perdana pasca pentakosta. Kisah Para Rasul menyaksikan bahwa “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”. Bertekun dalam pengajaran jelas menunjukkan kehausan mereka untuk terus belajar dan menggali Firman Tuhan. Demikian juga dengan kerinduan untuk selalu bersekutu agar dapat saling menguatkan dan mendoakan. Dengan kata lain, orang-orang Kristen perdana sangat menghidupi dan menghayati pertumbuhan iman melalui pendalaman Firman Tuhan, doa dan persekutuan.
Kiranya seporsi nasi bak kut teh kali ini, mengingatkan kita akan pentingnya firman Tuhan, doa dan persekutuan bagi pertumbuhan iman kita dan menjadi sumber kekuatan mana kala menghadapi berbagai macam persoalan di dalam kehidupan kita. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar iman percaya kami semakin bertumbuh dewasa. Oleh karena itu kami berjuang untuk selalu membaca dan merenungan firman Tuhan, berdoa dan bersekutu. Kiranya roh Kudus menolong kami untuk mewujdukannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
