harian
SATU HATI MULIAKAN ALLAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Roma 15: 1-13
Salam sejahtera semoga kita makin satu hati dan satu suara memuliakan Allah, bukan memuliakan diri sendiri, harta, kedudukan, kekuasaan dalam diri kita (Roma 15:6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.)
Mengapa kita perlu satu hati memuliakan Allah? Karena membangun persekutuan yang baik dan benar hanya dalam kesatuan bukan sendirian. Bersekutu itu, bersama-sama yang bukan kerumunan seperti orang berkumpul di bioskop. Dalam bioskop orang tidak saling mengenal, saling menyapa, saling membangun satu dengan lainya dan tidak terus-menerus hadir dalam bioskop yang sama, dan tidak bertanggung jawab dengan yang lain.
Gereja dan keluarga Kristen, berkumpul bersama, tapi bukan seperti bioskop, kerumunan yang tidak peduli satu dengan lain, tidak mengenal satu dengan lainnya, tidak ada kesatuan hati jiwa pikiran dan tindakan. Gereja dan keluarga Kristen, bersekutu, bersama-sama dalam kerukunan yaitu satu hati, satu jiwa, satu pikiran dan satu tindakan sesuai kehendak Tuhan.
Hati itu adalah ada sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian, nilai, kebenaran moral etika, belas kasih, teguh, tekun, tulus ikhlas, rajin, dan ada juga yang buruk atau negatif. Satu hati berarti ada yang sama dalam nilai-nilai, moral, etika, kebenaran dalam dua orang atau lebih. Satu hati dalam terang Tuhan, yang membuat hidup bersama menjadi lebih bijak, berhikmat, baik, benar. Hati terkait dengan jiwa pikiran dan tindakan manusia.
Suami istri, anggota jemaat yang sehati dalam Tuhan akan menggunakan hati yang melahirkan kebijakan yang sesuai kehendak Tuhan. Seseorang bertindak dengan mengikuti kehendak kedagingan maka akan melakukan tindakan sesuai kehendak daging tersebut, bukan sesuai kehendak atau kebenaran Tuhan. Manusia perlu mengenali hatinya sendiri apakah mengikuti kehendak daging atau kehendak Tuhan. Orang yang tidak mengenal isi hatinya sendiri, maka ia tidak mengenal tindakan yang akan dilakukannya. Orang yang tidak mengenal hati sendiri, sulit mengenal kehendak Tuhan atau Roh Kudus
Orang beriman, hatinya tempat berdiam kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Orang makin mengenal Tuhan dan kehendakNya, makin merenungkan kuasa Tuhan dan kehendakNya maka orang tersebut makin mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan. Mengasihi Tuhan segenap hati artinya setiap hari, setiap waktu hanya Tuhan dan kehendak Tuhan yang direnungkan dan dihayati dan tidak bosan-bosan malah makin membahagiakan, membawa damai, membawa ketenangan. Sama seperti suami atau istri yang mencintai segenap hati pasangannya maka akan memikirkan pasangan tentang apa yang baik dan benar dari pasangan yang membuat bahagia, damai tenang dalam keluarga.
Orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati maka ia makin mengenal kehebatan kuasa, kehendak Tuhan, ia makin memuliakan Tuhan, membanggakan Tuhan, sehingga membuat hati bahagia, damai tenang. Hati yang mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan adalah hati yang sudah dibersihkan dari keinginan diri sendiri, keinginan daging yang dikendalikan oleh iblis. Hanya orang yang menyesali dosa, maka Yesus menebus dosa, membersihkan hati orang tersebut agar bisa segenap hati mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan.
Satu hati artinya dua orang atau lebih, punya hati yang sama dalam mengasihi Tuhan, mengenal kuasa dan kehendak Tuhan, memuliakan Tuhan. Dua orang atau lebih, adalah orang yang saling mengenal satu dengan lain, saling menyapa, saling membantu, saling peduli, saling melayani. Mereka bersama-sama punya ketertarikan pada Tuhan, kehendakNya, karyaNya yang menyelamatkan manusia dari dosa. Satu hati bisa juga dalam hal ketertarikan pada hoby, rekreasi, mengejar harta, uang, kedudukan, kekuasaan dunia. Orang satu hati dalam mengejar kekuasaan, kehormatan untuk diri sendiri seperti yang dilakukan ahli Taurat. Orang yang seperti ini tidak akan mampu mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan segenap hati. Orang yang satu hati mengejar ilmu pengetahuan dan filsafat, merasa paling berpengetahuan untuk mengatasi masalah dunia, maka ia tidak lagi mengasihi dan memuliakan Tuhan, malah menghujat Tuhan, menolak Tuhan, menjadi ateis.
Hati yang mengasihi dan memuliakan Tuhan akan mendorong orang bertindak mengasihi dan memuliakan Tuhan. Tindakan yang saling mengasihi, yang kuat membantu yang lemah, adalah tindakan mengasihi dan memuliakan Tuhan. Tindakan yang saling menghina, merendahkan, menghakimi, mengecam, menyakiti dengan kekerasan fisik dan verbal, adalah keluar dari hati yang benci, dendam, marah, bukan hati mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan. Tindakan yang mengasihi dan memuliakan Tuhan adalah tindakan yang sesuai kehendak Tuhan Yesus, tindakan yang membawa pada kerukunan, untuk mengasihi Tuhan dan sesama, tindakan memuji Tuhan dalam doa bersama, dalam nyanyian jemaat, dan kegiatan melayani bersama-sama.
Satu hati dalam mengasihi dan memuliakan Tuhan, maka orang tersebut tidak akan mencari kesenangan diri sendiri dalam arti orang beriman senang telah dibebaskan dari dosa, oleh Tuhan Yesus, dibebaskan dari aturan haram dan halal. Sementara ada orang yang baru masuk Kristen masih terikat dengan aturan larangan makan. Dalam perbedaan ini, kita orang beriman dalam kebersamaan, maka kita mencari kesenangan sesama, bukan mengutamakan kesenangan pribadi. Demikian dalam keluarga, kita mencari kesenangan sesama, yaitu suami, istri, anak, orangtua, demi kebaikan bersama demi membangun keluarga dan juga jemaat. Mencari kesenangan sendiri berarti tidak mengasihi Tuhan, tidak menyenangkan Tuhan dan tidak memuliakan Tuhan. Orang yang individualisme secara rohani, egoisme rohani, tidak memuliakan Tuhan, tidak mengasihi Tuhan, tidak menyenangkan Tuhan. Yesus tidak mencari kesenangan sendiri, kita meniru cara hidup Yesus.
Kita berpengharapan untuk menjadi satu hati, satu suara mengasihi dan memuliakan Tuhan. Allah memberi ketekunan, keteguhan agar satu hati dalam mengasihi dan memuliakan Tuhan. Marilah kita memuliakan Tuhan Allah dan pimpinanNya dalam kasih sayangNya. Kita datang pada Tuhan bersyukur sebulat hati, karena kasih Tuhan yang besar pada kita seperti ungkapan dalam KJ. 14; 1,2 ayat 1. Muliakan Tuhan Allah muliakan Tuhan Allah, muliakan pimpinanNya dalam kasih sayangNya.2. Kami datang kepadaMu, kami datang kepadaMu, bersyukur sebulat hati, kar’na kasihMu besar. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin satu hati dan satu suara memuliakan Allah, bukan memuliakan diri sendiri, bukan memuliakan harta, kedudukan, kekuasaan dalam diri kami, dalam nama Yesus kami berdoa. amin
MENYESALLAH ALLAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas. Yunus 3:10,
Ketika Allah melihat apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, menyesallah Allah atas malapetaka yang akan dibuat-Nya terhadap mereka seperti yang telah disampaikan-Nya. Ia pun tidak jadi melakukannya.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, ada saatnya kita melihat penyesalan yang membawa kebaikan. Dalam kaitan nas renungan kita, yaitu renana Tuhan yang sudah mantap dan final untuk membinasakan kota Niniwe. Mungkin renana itu sudah dirinci seperti menunggang balikkan kota Sodom dan Gomora. Tinggal satu hal lagi yaitu menyampaikan rencana itu melalui utusan Tuhan yaitu nabi Yunus. Tuhan menyampaikan renana pembinasaan itu karena kasih-Nya kepada mereka. Kenapa disampaikan rencana pembinasaan itu? Karena Allah adalah kasih, Allah tidak membabibuta. Sekiranya pun Niniwe dibinasakan, tentu denga kasih, mungkin kota itu akan menjadi peringatan bagi kota yang lain. Setelah disampaikan dengan baik, maka menyusullah eksekusinya yaitu membinasakan kota itu. Demikian oleh Nuh memberi contoh dan penjelasan bahwa akan ada air bah, tetapi orang banyak justru mengolok-olok Nuh. Demikian Lot mengajak orang meninggalkan kota Sodom itu, tetapi ajakan Lot ditanggapi sebagai perkataan olok-olok (hoax).
Berbeda dengan penduduk kota Niniwe, setelah Yunus menyampaikan berita “aneh itu” yaitu Tuhan akan membinasakan kota itu, maka mulai dari raja sampai rakyat jelata, percaya kepada Allah, percaya pada seruan nabi Yunus. Sebagai tanda kepercayaan pada Tuhan, raja turun dari singgasananya, menanggalkan jubahnya dan mengenakan kain kabung dan duduk di abu. Demikian semua penduduk kota melakukan yang sama, mengumumkan puasa termasuk bagi ternak mereka, dan yang paling utama mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan. Berbalik arah sama dengan “metanoia” yaitu bertobat. Dengan berbuat baik itu, bukan membujuk atau memaksa Tuhan membatalkan rencana pembisanaan-Nya, tetapi memohon, siapa tahu Allah akan berbalik dan menyesal dan berpaling meninggalkan, membatalkan murka-Nya itu. Allah melihat tindakan penduduk kota Niniwe yang tulus itu, maka menyesallah Allah, menarik kembali murka-Nya diganti dengan kasih dan anugerah-Nya.
Pertobatan kota Niniwe, tidak meminta balasan, tetapi hanya itu yang dapat mereka lakukan, yaitu bertobat, dan pasrah apa yang Tuhan berikan. Kalau pun mereka dibinasanakan, mereka binasa dalam pertobatan, lebih luas kita lihat tindakan pertobatan itu perbuatan baik yang tidak minta imbalan, tetapi berbuat baik, meninggalkan kejahatan dan kekerasan, adalah hakekat hidup di hadapan Tuhan. Kita tinggalkanlah pikiran “kalau memberi 10%, Tuhan balas dengan 100%”, pikiran seperti ini adalah pikiran transaksional. Di dalam ketulusan, berapa pun kita persembahkan, itu adalah hakekat hidup dan tanggung jawab kita di hadapan Tuhan, bukan berharap imbalan.
Aplikasi,
- Adakah firman Tuhan (ayat) yang mengawali pertobatan Anda?
- Apakah Gereja Anda cukup besar seruannya seperti nabi Yunus?
- Adakah gambaran kejahatan kota Niniwe di jaman sekarang?
Mari berdoa:
Allah, Bapa surgawi, ajakan bertobat selalu kami dengar, baik dari Alkitab firman Tuhan, melalui ibadah yang diselenggarakan gereja, mau pun dari hati kami oleh bisikan dan tuntunan Roh Kudus. Semoga pertobatan kami tidak pernah berhenti, agar arah perjalanan hidup kami sungguh mengikut jalan Tuhan. Demikian doa kami dalam mana Yesus Kristus, Amin. [AS111124]
”WEDANG RONDE”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 133:1-3 (TB 2)
“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara berdiam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang berharga di atas kepala meleleh ke janggut, ke janggut Harun, turun ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas Gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Wedang ronde merupakan salah satu minuman khas Indonesia yang merupakan asimilasi budaya Nusantara dan Tionghoa. Biasanya wedang ronde disajikan dalam keadaan hangat di mangkuk dan piring kecil pada malam hari dan dinikmati besama keluarga. Ronde sendiri terbuat dari adonan tepung ketan yang dicampur dengan sedikit air dan dibentuk menjadi bola-bola kecil. Adonan tersebut menjadi isian utama dalam wedang. Ronde disajikan dengan kuah khas yang terdiri dari jahe yang dicampur gula Jawa, bahkan juga banyak yang mencampurnya dengan susu. Bahan-bahan ronde juga memiliki sebuah filosofi, misalnya seperti air jahe, manisan jahe yang memiliki khasiat menghangatkan tubuh. Sementara tiga bola ronde yang berbeda-beda yakni merah, hijau dan putih dengan isian gula Jawa; memiliki filosofi tersendiri.
Nama ronde merupakan serapan dari bahasa Belanda yang artinya “bulat”. Sebelum Belanda datang namanya edang ronde disebut dengan nama Wedang Guyub (minuman keakraban). Karena, Bentuk bulat itu sendiri merupakan simbol keakraban, Sedangkan warna-warni ronde bermakna: warna merah memiliki makna keberanian, hijau merupakan karunia, putih artinya hati bersih dan air jahe adalah kehangatan. Sementara rasa manis jadi simbol keberkahan.
Saudaraku, kehangatan dan keakraban menjadi dambaan di dalam hidup persaudaraan. Kehangatan dan keakraban akan muncul bila masing-masing anggota keluarga atau komunitas memiliki hati yang bersih. Dan situasi ini tentu akan dapat menghadirkan berkat. Gambaran wedang ronde menjadi relevan untuk berbicara tentang keakraban dan kehangatan di dalam persekutuan baik di dalam Gereja maupun keluarga. Pemazmur menyebutkan, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara berdiam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang berharga di atas kepala meleleh ke janggut, ke janggut Harun, turun ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas Gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”. Meski istilah ‘saudara-saudara’ sering diartikan dalam kerangka hubungan keluarga, namun istilah ini juga bisa dipakai dalam konteks yang lebih luas, yaitu seluruh umat Tuhan. Jika sebuah persaudaraan diwarnai dengan kesatuan, maka hal itu merupakan sesuatu yang ‘baik dan indah’. Pemakaian dua kata ini secara sekaligus menyiratkan sebuah penekanan. Kata yang diterjemahkan sebagai ‘indah’, lebih tepat diterjemahkan dengan “menyenangkan”. Semua versi di dalam Bahasa Inggris juga bermaknam menyenangkan, bukan sekadar “indah”. Maksudnya, kata itu hendak menggambarkan bahwa keakraban di dalam persaudaraan itu bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi menyenangkan untuk dirasakan. Betapa baik dan menyenangkannya persekutuan persaudaraan ini, digambarkan dengan ilustrasi minyak yang meleleh ke janggut Harun dan embun Gunung Hermon yang mengalir ke Sion. Dengan kata lain, Kedekatan, kehangatan, keakraban dalam relasi persuadaraan, menjadi pintu masuk bagi mengalirnya berkat Tuhan.
Saudaraku, keberadaan persekutuan yang akrab dapat membuka tingkap-tingkap berkat dari Tuhan, oleh karena itu kita dipanggil untuk dapat mewujudkannya. Kiranya sajian wedang ronde hari ini, menginspirasi kita untuk tetap memelihara persaudaraan yang akrab baik di dalam persekutuan Gereja maupun bagi seluruh anggota keluarga. Dengan demikian, maka keberanian, kesucian hati, kehangatan dan berkat dapat mengalir di dalam persaudaraan ini. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk dapat mewujudkan keakraban di antara setiap anak-anak Tuhan, baik di dalam keluarga muapun persekutuan. Kami percaya bahwa Roh Kudus akan menolong kami di dalam mewujudkan damai-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
JANGAN SAMPAI JADI BOM WAKTU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Kejadian 31:44 (TB 2)
”Sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, dan hendaklah ada saksi antara aku dan engkau”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Jemaat yang terkasih.. Tidak ada orang yang senang berada dalam konflik, namun menghindari konflik juga tidak selalu benar. Sikap mendiamkan dan tidak ingin berkonfrontasi bisa menjadi bahaya dalam sebuah hubungan. Seperti sebuah pepatah yang mengatakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Perasaan tidak senang dan tidak nyaman yang terus menerus dipendam, hanya akan membuahkan amarah yang akan berkembang menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Telah sekian lama, Yakub menahan perasaannya yang terluka karena selama dua puluh tahun, ia bekerja di rumah Laban, telah sepuluh kali Laban, ayah mertuanya mengubah upah Yakub (Ay. 41). Sampai pada satu titik, Yakub memutuskan untuk pergi dari rumah Laban, dengan membawa istri, anak-anak serta semua ternak yang ia dapatkan darinya (Ay. 20-21). Mengetahui hal itu, Laban tidak tinggal diam. Ia beserta sanak saudaranya mengejar Yakub dan akhirnya menjumpai Yakub di pegunungan Gilead (Ay. 23).
Yakub yang terluka hatinya dan juga Laban yang tersakiti oleh sikap Yakub akhirnya saling mengutarakan isi hatinya, satu dengan yang lain. Mereka tidak menyelesaikan pertikaian mereka dengan kebencian dan kemarahan, justru sebaliknya Yakub dan Laban mengikat suatu perjanjian di hadapan Allah yang mereka namakan Galed dan Mizpa. Mereka meminta TUHAN untuk menjaga perjanjian yang mereka buat tersebut, sehingga masing-masing pihak tidak akan berbuat jahat seorang terhadap yang lain. Pertikaian mereka berakhir damai, lalu mereka mengadakan perjamuan makan dan sebelum berpisah Laban mencium dan memberkati anak-anak dan cucu-cucunya.
Tak bisa dipungkiri dalam kehidupan berkeluarga, bergereja ataupun bermasyarakat, ada banyak hal yang dapat membuat kita tidak senang dan tidak nyaman dengan orang lain. Janganlah kita bertahan dalam kebencian dan kemarahan. Janganlah kita memendamnya berlarut-larut, sebab itu akan menjadi bom waktu. Jikalau ada perasaan tidak senang dan tidak nyaman, adalah baik jika kita berani untuk mengutarakannya, agar menemukan solusi dan dapat saling mengerti. Dengan demikian kedamaian akan selalu ada dalam kehidupan kita berkeluarga, bergereja ataupun bermasyarakat. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati.
ALLAH SUMBER KASIH KITA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 11
Bapak Ibu, Saudara Saudari dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Ada pertanyaan yang harus kita jawab: Apakah tanda bahwa kita hidup dalam Kerajaan Allah? Tandanya ialah KASIH. Dari mana sumber kasih itu? Dengan penuh sukacita hari ini saya mengajak Saudara untuk merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Allah Sumber Kasih kita” dengan dasar dari Surat 1 Yohanes 4:7 (TB 2), “ Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah. Setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, dalam hidup ini, kita seringkali dihadapkan pada berbagai persoalan dan pergumulan hidup yang membuat kita merasa bimbang dan gentar. Namun, kita memiliki satu kepastian: Allah adalah Sumber kasih kita yang tidak pernah berubah dan selalu siap menopang kita.
Firman Tuhan hari ini menyatakan: kasih itu berasal dari Allah, sebab Allah adalah kasih. Kita diyakinkan bahwa “setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (ay. 8).
Kata kasih (ἀγάπη, agapē) dalam konteks ini merujuk pada jenis kasih yang tulus dan tanpa syarat, yang mencerminkan karakter Allah itu sendiri. Sadarkah Saudara, bahwa Saudara dan saya adalah manusia yang berdosa, namun telah memperoleh anugerah kasih itu, sehingga kita dimampukan saling mengasihi dengan kasih itu?
Kita dapat memiliki kasih itu, jika kita memiliki hubungan yang benar dengan Allah, yaitu jika kita: “lahir dari Allah” Mereka yang mengasihi menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan dengan Allah dan diubah oleh-Nya, bukan hanya punya pengetahuan intelektual tentang Dia!
Tahukah Saudara, 1 Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes untuk menghadapi ajaran-ajaran sesat yang muncul di kalangan jemaat. Salah satu tema utama dalam surat ini adalah kasih, dan menekankan kasih sebagai inti dari iman Kristen. Ini menunjukkan bahwa kasih seharusnya menjadi tanda pengenal atau identitas sebagai orang-orang percaya.
Kasih bukan hanya sebuah pengajaran teologis, tetapi juga merupakan panggilan praktis untuk setiap tindakan. Mengasihi satu sama lain adalah respons yang tepat terhadap kasih Allah.
Mengasihi, adalah identitas kita sebagai anak-anak Allah. Ini juga menunjukkan proses pertumbuhan rohani di mana kita semakin menyerupai karakter Kristus.
Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya mengasihi satu sama lain. Di tengah-tengah dunia yang sering dipenuhi dengan kebencian dan perselisihan, umat Allah dipanggil untuk menjadi agen kasih.
Dengan memahami bahwa kasih berasal dari Allah, kita dipanggil untuk mengasihi sebagai respons terhadap kasih yang kita terima. Ini memberikan motivasi bagi kita untuk mempraktikkan kasih dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita dapat mencerminkan karakter Allah kepada orang-orang di sekitar kita.
Seperti pujian yang dinyanyikan oleh jemaat GKI Kwitang dalam ibadah Minggu, sebuah kesaksian yang benar: “Allah adalah Kasih dan Sumber kasih. Bukalah hatimu bagi FirmanNya.”
Saudara-saudara, ketika kita menyadari bahwa Allah adalah Sumber Kasih, kita diundang untuk datang kepada-Nya dengan segala pergumulan kita. Jangan biarkan hatimu bimbang, gentar dan sendu menguasai hidup kita. Alihkan pandangan kita kepada kasih-Nya yang sempurna! Pastikan bahwa kita tidak sendirian dalam setiap langkah hidup kita.
Mari kita ambil waktu untuk berdoa dan merenungkan bagaimana kita bisa lebih menghayati kasih Allah dalam hidup kita. Agar kita dapat membagikan kasih itu kepada sesama kita. Ketika kita mengalami kasih-Nya, kita akan memiliki keberanian untuk menghadapi setiap tantangan dengan penuh keyakinan.
Kasih yang lahir dari Allah seharusnya mendorong kita untuk saling mengasihi dalam keluarga, gereja dan masyarakat! Bersediakah Saudara melakukannya? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa yang di surga, terima kasih karena Engkau adalah sumber kasih kami. Ajari kami untuk selalu mengingat kasih-Mu dalam setiap keadaan. Kuatkanlah kami untuk tidak bimbang dan gentar, tetapi untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT BERTOBATLAH DAN PERCAYALAH KEPADA INJIL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Markus 1: 14-15
Salam sejahtera semoga kita makin mampu menghayati tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat dan kita makin bertobat serta percaya kepada Injil seperti ungkapan dalam Markus 1:15 (TB2) kata-Nya: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! “
Sesudah Yohanes ditangkap, Yesus datang untuk memberitakan Injil. Kuasa Yesus lebih besar dari Yohanes yang telah membuka jalan bagi Yesus. Yesus tidak mencegah penangkapan Yohanes. Karena penderitaan Yohanes juga akan dialami Yesus bahkan lebih berat lagi penderitaan yang dialami Yesus. Yohanes ditangkap bukan karena berbuat dosa, tapi karena menyatakan kebenaran, menegur perbuatan yang salah dari Herodias istri Herodes. Menyatakan kesalahan orang, menegur orang yang bersalah dan punya kuasa besar, maka akan ada resiko menderita ditangkap. Apa yang dialami Yohanes juga dialami Yesus, menjalani penderitaan, aniaya, disalib karena menyatakan kebenaran Allah, perintah Allah, kehendak, rencana Allah, ketetapan Allah.
Yohanes memberitahu bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Yesus juga menyatakan Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan Allah sudah dekat artinya Yesus sudah dekat, sudah datang ke dalam dunia, hadir dalam hidup sehari-hari manusia. Kerajaan Allah sudah dekat artinya bukan waktunya sudah dekat, tapi menggambarkan Allah adalah Raja yang tidak jauh, tapi dekat melalui kehadiran Yesus dalam dunia. Kerajaan Allah sudah dekat berubah menjadi undangan kegembiraan, yaitu untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Yesus datang untuk menjamin pengampunan dosa, dan membukakan rahasia Kerajaan Allah. Pemerintahan Allah yang berkuasa sudah dimulai dalam Yesus, yang merupakan kabar baik dari Allah. Kuasa Allah dapat dimiliki oleh orang yang membuka diri pada Yesus dan InjilNya.
Kerajaan Allah sudah dekat artinya Yesus, Sang Penguasa sorga, telah datang ke bumi. Yesus hadir untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kedamaian, kasih, dan sukacita ke dalam kehidupan manusia. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang telah memasuki zaman ini melalui kehadiran Yesus.
Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga adalah kehidupan roh bersama Allah yang kekal. Ketika Penguasa sorga itu hadir di bumi dan di hidup kita. Tuhan ingin sorga itu juga mengalir dari dalam kehidupan kita. Yesus hadir di dunia untuk membawa terang pada manusia. Kerajaan Allah adalah Kerajaan Terang. Di mana Kuasa Yesus mengalahkan kegelapan akibat dosa.
Bertobat adalah perubahan dari hidup gelap, hidup dalam dosa menjadi hidup terang, hidup dalam Roh Kudus, hidup dalam firman Tuhan. Bertobat adalah membenci dosa, menangisi dosa-dosa dalam diri, dan menyesalinya, mengakuinya di hadapan Allah. Yesus mengajarkan agar orang membenci kejahatan dan mencintai kebenaran, kebaikan, keadilan, damai, kasih. Pertobatan adalah perubahan dari mencintai dosa menjadi membenci dosa, kejahatan, kebusukan kemudian mencintai firman Tuhan, kebenaran Tuhan atau percaya Injil.
Percaya Injil artinya percaya Yesus dengan perkataan-perkataanNya. Percaya pada Allah seperti yang diajarkan Yesus. Percaya bahwa Allah begitu mengasihi dunia sehingga Allah berkorban untuk membawa kita kembali kepadaNya.
Percaya Injil berarti percaya pada kebenaran Yesus tentang Allah, tidak ragu-ragu, tidak samar-samar mengenal Allah. Percaya pada kuasa Yesus di tengah ketidakberdayaan manusia dalam hal-hal yang dibutuhkan manusia. Percaya Yesus memberi pengharapan pada hati yang putus asa, yang lemah tidak berdaya. Percaya Injil berarti Yesus memberi damai, membuat hati kita tidak berperang melawan diri sendiri, melawan keinginan daging yang dikuasai iblis, sebab dalam Yesus semuanya dikalahkan. Percaya Injil berarti percaya pada janji Allah yang memberi hidup kekal, melalui pengorbanan Yesus, bukan memberi kematian kekal. Percaya Injil berarti percaya bahwa melalui Yesus kita diselamatkan dari dosa dan hukuman Allah serta mampu hidup dalam kemenangan, hidup dalam firman Tuhan.
Kerajaan Allah bukan dari dunia, bukan Kerajaan politik, bukan hasil peperangan dengan manusia, bukan melawan pemerintahan dunia. Kerajaan Allah berbeda dengan Kerajaan dunia. Kerajaan Allah berasal dari Allah yang di sorga. Warga Kerajaan Allah hanya taat, tunduk dan melakukan perintah, ketetapan, peraturan, kebenaran dari Allah saja yang dituliskan dalam Alkitab. Untuk melakukan perintah, ketetapan, peraturan kebenaran Allah, orang perlu menyesali dosa, bertobat dan percaya pada Injil Tuhan.
Kerajaan Allah itu adalah ketaatan, tunduk melakukan perintah, ketetapan, perarturan kebenaran Tuhan, bukan mengikuti cara penguasa dunia. Kerajaan Allah bukan melawan kuasa pemerintah dunia dengan kekerasan, dengan aniaya. Kerajaan Allah adalah kuasa Allah, perintah Allah, kebenaran Allah yang menguasai hati semua manusia.
Dalam Doa Bapa Kami, kita diajarkan berdoa supaya Kerajaan Allah datang. Kerajaan Allah datang melalui Yesus yang datang ke dunia, yang menanggung sengsara untuk menebus semua dosa manusia, agar orang bertobat dan percaya kepada Injil. Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah sesungguhnya sudah hadir dalam kegiatan pelayanan-Nya, seperti tampak dalam kuasa pengusiran setan yang dilakukan-Nya
Kedatangan Kerajaan Allah yang sempurna dihubungkan dengan kedatangan Yesus kembali. Kemuliaan Kerajaan Allah bersamaan dengan kemuliaan kerajaan pendamaian Mesias. Kedatangan Kerajaan Allah dalam kesempurnaan dimulai dengan kedatangan hari Tuhan, yang mendatangkan hukuman bagi yang murtad, yang menolak Yesus, dan mendatangkan keselamatan bagi orang yang bertobat dan percaya kepada Injil.
Kerajaan Allah adalah situasi di mana semua yang baik bertumbuh dan berkembang dan yang jahat busuk dihancurkan. Kerajaan Allah ditandai oleh kasih, sukacita, dan damai. Mencari Kerajaan Allah berarti menjadikan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidup. Kerajaan Allah ditujukan kepada siapa saja, meliputi semua orang dari beraneka ragam kehidupan
Di dalam dunia yang berperang, rusuh, bermusuhan, kita berdoa agar datanglah Kerajaan Allah. Kita berdoa agar Gereja bersatu agar nyata manusia baru, manusia yang bertobat dan percaya Injil seperti ungkapan KJ. 260:1 Dalam dunia penuh kerusuhan, ditengah kemelut permusuhan
datanglah KerajaanMu; di Gereja yang harus bersatu, agar nyata manusia baru, datanglah KerajaanMu! Reff: Datanglah, datanglah, datanglah KerajaanMu! Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin mampu menghayati tentang Kerajaan Allah yang sudah dekat dan kami makin bertobat serta percaya kepada Injil, dalam nama Yesus kami berdoa amin
MENYESALLAH TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 6:5-6,
Tuhan melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi, dan segala kecenderungan hatinya selalau membuahkan kejahatan semata-mata. Lalu TUHAN menyesal bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, tema yang kita percakapkan ini mengungkapkan sisi positif dari penyesalan Tuhan Allah atas rencana dan tindakannya. Ayat renungan ini adalah pertama sekali dalam Alkitab mengungkapkan penyesalan Tuhan Allah terhadap manusia yang telah diciptakan-Nya. Pada awalnya Allah sangat senang melihat hasil ciptaan-Nya yang termasuk mausia yang telah diciptakan-Nya. Tetapi setelah manusia melanggar firman Tuhan dengan memakan buah yang Tuhan katakan: “jangan kaumakan buahnya…” tetapi Adam dan Hawa telah memakan buah itu dengan niat jahat yaitu ingin “menjadi sama seperti Tuhan Allah.” Melihat apa yang telah terjadi atas manusia itu, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati Tuhan, mendukakan hati Tuhan. Pilu dan duka berarti kesedihan yang paling mendalam. Anda bisa melihat makna pilu dan duka dalam kamus.
Kelakuan manusia yang diciptakan Tuhan memilukan dan mendukakan hati Tuhan sehingga satu-satunya tindakan untuk melegakan dan mengangkat kembali kepiluan dan kedukaan itu ialah manusia dibinasakan. Berarti merusak, membinasakan apa yang diciptakan Tuhan, dan yang merusak itu ialah Tuhan sendiri. Bersama dengan manusia maka makhluk yang lain dan tumbuhan turut binasa, sehingga suasana bumi sama seperti awal kejadian. Pembinasaan itu bukan dengan kebencian hati, bukan dengan dendam dengan perkataan: “rasain lho,” tetapi dengan prihatin. Karena pembinasaan itu berarti Allah mundur ke suasana awal, berarti menyita waktu yang panjang. Pembinasaan itu bukan seperti penjahat, atau pemberontah di depan regu tembak mati. Tetapi dengan penyesalan, prihatin yang memulikan dan mendukakan hati Tuhan. Dengan demikian hati Tuhan yang pilu terobati, karena ada benih yang unggul disediakan Tuhan yaitu keluarga Nuh, yang bergaul akrab dengan Allah. Demikian juga benih hewan dan binatang yang kembali akan berkeriapan.
Ternyata hasil bibit unggul (keluarga Nuh), kembali lagi melenceng, berulah, kembali memilukan dan mendukakan hati Tuhan. Apakah akan dibinasakan lagi seperti pada jaman Nuh? Yang berarti waktu Tuhan mundur lagi, dan bisa berulang lagi? Untuk itu Tuhan mengganti cara, benih unggul itu dicari dalam hati manusia, yang namanya “iman.” Tuhan mencari orang yang beriman dan ditemukan dalam hati Abraham, yang berkenan kepada Allah, yang rela hidup hanya dalam berkat Tuhan. Tuhan sangat senang dan berkenan dengan hati dan iman Abraham ada di hati Anda.
Aplikasi:
- Seberapa sering kelakuan, atau kelalaian Anda memilukan hati Tuhan?
- Sungguhkah Tuhan menemukan iman kepada-Nya di hati Anda?
- Firman Tuhan yang mana yang membuat Anda sering jatuh ke dalam dosa?
Mari berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami mohon utuslah Roh Kudus ke dalam hati kami menolong, menasihati dan mengarahkan hati kami melakukan dan mempercakapkan hal-hal yang membangun hidup iman kami. Itulah permohonan syukur dan doa kami, dalam nama Kristus. Amin. [AS041124]
”GEPLAK BANTUL”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 5:20 (TB 2)
“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Geplak adalah makanan tradisional yang berasal dari daerah Bantul, Yogyakarta. Kuliner tersebut terbuat dari parutan kelapa dan gula merah atau gula pasir. Geplak sering menjadi oleh-oleh khas Jogja. Keberadaannya mudah ditemukan di toko oleh-oleh.
Dilansir dari laman Kementeriaan Pendidikan, Kabudayaan, Riset, dan Teknologi, geplak telah dikenal sejak abad ke-19. Sejarah geplak tidak terlepas dari keberadaan pabrik-pabrik gula di sekitar Yogyakarta, perkebunan tebu, dan kelapa. Pabrik gula telah berdiri sejak zaman pendudukan Belanda, salah satunya terdapat di Bantul. Pada masa kolonial, Batul terkenal sebagai penghasil gula. Banyak tanaman tebu di sekitar wilayah Bantul. Kondisi geografis Bantul juga berupa wilayah pesisir selatan sebagai penghasil kelapa. Produksi gula dan kelapa yang melimpah tersebut yang melahirkan kreasi makanan berupa geplak. Pada zaman dahulu, geplak terkadanng berfungsi sebagai makanan alternatif pengganti. Pada masa paceklik, masyarakat kadangkala mengkonsumsi geplak sebagai makanan pokok.
Geplak merupakan simbol rasa syukur atas kelimpahan yang diperoleh masyarakat. Berlimpahnya gula dan kelapa, tidak membuat masyarakat Bantul bersikap menyia-nyiakan atau membuang-buang apa yang ada, melainkan mengolahnya menjadi makanan pengganti beras yang bisa dimakan pada saat paceklik. Rasa syukur karena menghargai kelimpahan berkat dari Tuhan, diwujudkan dengan mengolah berkat sebagai upaya berjaga-jaga. Menurut para pengrajin geplak, makanan ini dapat bertahan hingga 1 bulan bila disimpan di dalam toples tertutup.
Saudaraku, geplak Bantul ini mengingatkan kita untuk selalu mengucap syukur atas setiap berkat yang Tuhan limpahkan kepada kita. Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan Yesus yang selalu mencukupkan setiap kebutuhan kita. Bahkah lebih daripada itu, ada berkat besar berupa keselamatan yang telah diberikan Tuhan Yesus bagi kita. Keselamatan yang diberikan Tuhan ini, seharusnya membuat kita mengalami pembaruan kehidupan. Maksudnya tidak lagi hidup dengan cara hidup yang lama. Rasul menyampaikan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita”. Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus ini merupakan bagian dari nasihat-nasihatnya kepada jemaat di Efesus, khususnya tentang hidup sebagai anak-anak terang. Mereka yang telah diterangi oleh Injil Kristus diajak untuk hidup layaknya anak- anak terang, sekalipun berada di dunia penuh kegelapan. Salah satu wujud dari hidup tersebut adalah senantiasa mengucap syukur atas segala sesuatu. Nas ini menunjukkan bahwa mengucap syukur itu hendaknya dilakukan setiap waktu dan atas segala sesuatu, bukan hanya pada saat-saat dan setiap hal tertentu yang terjadi.
Saudaraku, ada begitu banyak berkat Tuhan yang dilimpahkannya kepada kita, seperti: waktu, kesehatan, materi, teman, dll. Oleh karena itu, mari kita terus belajar mengucapkan syukur atas setiap berkat Tuhan kapan, di mana dan apapun yang kita alami. Kiranya sajian geplak Bantul hari ini mengingatkan kita untuk selalu menghargai dan tidak menyia-nyiakan berkat dari Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk selalu belajar mengucapkan syukur di mana, kapan dan apapun yang kami jumpai. Dengan demikian, kami juga belajar untuk menggunakan seluruh hidup kami sebagai persembahan kepada-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
