harian
BERTOBAT DARI SEGALA DOSA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yehezkiel 18: 21-24
Salam sejahtera semoga kita makin mampu bertobat, dan makin berpegang pada ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran, agar kita hidup, seperti ungkapan dalam Yehezkiel 18:21 Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.
Dalam minggu prapaskah, kita makin dimampukan untuk menyesali dosa, dan bertobat karena Yesus telah menderita, berkorban untuk menebus dosa manusia. Tuhan tidak senang orang jahat mati, tapi Tuhan senang mereka meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup. Orang jahat yang bertobat, maka dosa dan pelanggaran masa lalunya, tidak diingat Tuhan. Kebenaran yang dilakukannya akan membuat orang tersebut hidup.
Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya, dan melakukan kecurangan, kekejian yang menjijikan seperti yang dilakukan orang fasik, maka segala kebenaran yang pernah dilakukannya tidak akan diingat Tuhan. Orang tersebut akan mati, karena ia berlaku tidak setia dan karena dosa yang dilakukannya. Sering kali orang benar, jatuh dalam dosa keegoisan. Motivasi tindakannya sering bercampur dengan keegoisan, mementingkan diri sendiri, tidak mampu menyangkal diri. Padahal mengikut Yesus harus mampu menyangkal diri dan memikul salib (Markus 8: 34).
Seorang pemimpin negara A, pada awal memerintah, ia melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, melakukan kebenaran dan keadilan bagi seluruh masyarakat, membawa kemajuan sehingga banyak orang mengaguminya. Tapi beberapa tahun setelah memerintah, sikap pemimpin ini berubah, menjadi haus kekuasaan, muncul keegoisan, lebih mementingkan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, melakukan kecurangan, ketidakadilan, dan tidak dapat dipercaya. Pemimpin seperti ini adalah orang benar yang berbalik dari kebenarannya, kemudian melakukan kecurangan, kekejian, kedurhakaan, kejahatan. Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat Tuhan lagi. Ia harus mati karena ia berubah setia dan karena dosa yang dilakukannya (Yehezkiel 18:24). Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, tersesat karena pilihan terakhir yang dibuatnya dalam hidup. Ia jatuh dalam dosa keegoisan, demi mendapatkan uang, ia berkhianat pada Yesus. Yudas kerasukan iblis, padahal ia masih bersama-sama Yesus. Iblis telah membisikkan rencana dalam hatinya untuk mengkhianati Yesus demi uang. Ada pemimpin negara, pemimpin daerah, pejabat tinggi, pegawai swasta, pada awalnya baik, benar, tapi lama kelamaan, berubah jatuh dalam dosa demi kepentingan pribadi, keluarga, kelompok. Mereka mendengar bisikkan iblis, untuk berkhianat terhadap masyarakat, berlaku curang demi uang, kekuasaan bagi dirinya.
Orang yang tadinya baik berubah menjadi dikuasai dosa, maka ia akan mati dalam dosanya. Ada orang berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Mengapa orang harus dihukum padahal ia telah berbuat banyak kebaikan, pahala di masa lalu ? Manusia berpikir. sebaiknya Tuhan menimbang pahala yang sudah dilakukan dan dosa yang dilakukan, mana yang lebih besar? Bisa jadi pahalanya lebih besar dari dosanya. Dalam iman Kristen, kita tidak mengikuti pikiran manusia, kita diajarkan Tuhan bahwa Tuhan tidak akan menimbang pahala dan dosa orang. Tuhan melihat keadaan kita yang sekarang. Yang penting adalah hubungan kita dengan Tuhan sekarang ini. Masa lalu, baik atau buruk, dilupakan Tuhan. Seorang penjahat yang digantung di kayu salib bersama Yesus, bertobat dan Yesus mengatakan bahwa hari ini ia akan bersama-sama denganNya di Firdaus (Lukas 23:42-43). Apakah Yesus tidak adil terhadap penjahat yang bertobat ini ? Itulah anugerah Tuhan bagi orang yang bertobat.
Kita tidak perlu kuatir dengan masa lalu kita. Yang terpenting adalah bagaimana kita berhubungan, bersekutu dengan Tuhan hari ini, dan hari-hari berikutnya. Kita membuat pilihan, hidup bersama Tuhan, atau menjauh dari Tuhan. Baik secara langsung atau melalui cara kita berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Jika hari ini kita memilih bersama Tuhan, maka tidak ada yang perlu kita takuti, apa pun kesalahan kita di masa lalu. Bukan Tuhan yang menghukum kita. Kitalah yang membuat pilihan untuk bersama Tuhan atau menjauh dari Tuhan. Tuhan mengakui pilihan kita.
Kita mendapat penghiburan bahwa, apa pun yang kita lakukan di masa lalu, hal itu tidak akan berpengaruh pada hubungan kita dengan Tuhan asalkan kita dekat dan bersekutu dengan Tuhan, mengasihi Tuhan saat ini juga. Kebaikan kita di masa lalu dapat hilang sepenuhnya jika kita menolak Tuhan dan kehendakNya.
Bertobat adalah panggilan Tuhan agar kita berbalik dari jalan yang salah, menuju jalan Tuhan. Kita berbalik dari kejahatan-kejahatan, pelanggaran-pelanggaran, keburukan-keburukan dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik, dari kemerosotan moral, etika dan agama, dari mengagungkan materi, kemegahan duniawi. Bertobat adalah berpaling kepada Tuhan, Allah yang hidup dan yang telah menyatakan diriNya kepada manusia (J. Verkuyl, Etika Kristen, Bagian Umum, BPK Gunung Mulia, 1986). Kita tidak bertobat hanya dari jahat menjadi baik, tapi berpaling kepada Tuhan dan kehendak Tuhan. Ada orang merasa bertobat dengan usaha sendiri berubah dari jahat menjadi baik, dari malas menjadi rajin, tapi ia tidak bergaul tidak bersekutu, tidak percaya Tuhan dan kehendakNya. Bukan pertobatan seperti ini yang diharapkan Tuhan. Bertobat adalah kembali setia kepada Tuhan, kembali mengasihi Tuhan dan sesama. Seorang suami yang bertobat terhadap istri, bukan berubah dari tidak pernah membawa hadiah menjadi membawa hadiah. Bertobat adalah kembali setia terhadap janji pernikahan, mengasihi dan dekat dengan istri. Demikian juga istri bertobat kepada suaminya. Bertobat dimulai dari hati, kemudian sampai ke seluruh kehidupan.
Hanya anugerah Tuhan yang mengerjakan pertobatan, kasih Tuhan, kesetiaan Tuhan, belas kasih Tuhan yang menggerakan kita untuk bertobat.
Kita menginsafi kesalahan kita, di muka Tuhan Yesus, dan saat ini kita bertobat dengan hati kita di muka Tuhan Yesus seperti ungkapan dalam KJ 29 ayat 3 Di muka Tuhan Yesus ‘ku insaf akan salahku; bertobat kini hatiku di muka Tuhan Yesus. amin
Berdoa:
Ya Tuhan, kiranya anugerah Tuhan yang mengerjakan pertobatan kami. Kasih Tuhan, kesetiaan dan belas kasih Tuhan yang menggerakan kami untuk bertobat dan kami makin berpegang pada ketetapan Tuhan serta melakukan keadilan dan kebenaran, agar kami hidup. dalam nama Yesus kami berdoa, amin
ALLAH PEDULI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: 2 Raja-raja 4:14-16,
Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” Jawab Gehazi: “Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.” Lalu berkatalah Elisa: “Panggilah dia!” Dan sesudah dipanggilanya, berdirilah perempuan itu di pintu. Berkatalah Elisa: “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.” …”
Tema kita ini menjadi bagian suatu syair lagu “Allah peduli,” yang mungkin lagu yang enak dihayati. Sebetulnya Allah pastilah peduli bagi semua manusia. Kasih setia-Nya kita terima setiap hari yang baru, pemeliharaan-Nya di sepanjang hidup kita, hanya saja justru kitalah yang kurang menyadari semua kepedulian Allah dalam hidup kita, khususnya kasih-Nya dalam Kristus yang menyelamatkan.
Seorang nabi, Elisa bersama pembantunya Gehazi sering dalam perjalanan mereka melewati desa Sunem, di situ mereka dijamu oleh satu keluarga dengan makan, minum dan disediakan oleh keluarga itu juga kamar untuk nabi ini beristirahat dalam perjalanan itu. Kita ingatjuga nasihat Tuhan Yesus: “Barang siapa menyambut seorang nabi, ia akan menerima upah nabi, …” (Mat 10:41.) Kemudian nabi Elisa memanggil Ibu di keluarga itu, dan menjanjikan akan seorang anak laki-laki bagi keluarga itu. Janji itu secara alami tidak mungkin lagi, sudah lama mereka menikah, suaminya sudah tua, tetapi itulah kepedulian Allah melalui nabi Elisa kepada mereka yang dengan setia, tanpa pamrih telah menerima dan melayani nabi Elisa, semua itu tidak berlalu dengan kosong. Kelahiran anak laki-laki ini kita dapat katakan sebagai “kepedulian,” walau pun tidak diminta, hanya karena nabi itu sering singgah di rumah keluarga itu dan diperlakukan seperti nabi (abdi) Allah, pelayanan yang mereka berikan bukan karena pamrih. Berbeda dengan anak yang dijanjikan Allah kepada Abram atau kepada Ishak, Abraham dan Ishak dipanggil, dipersiapkan dan dijanjikan untuk menerima anak sebagai suatu rencana yang panjang bagi keselamatan dunia. Masa depan anak yang dikaruniakan ini tidak diketahui bagaimana masa depan atau masa tuanya, berbeda dengan anak perjanjian itu yang terikat teguh dengan janji Tuhan.
Bercermin dari pengalaman keluarga yang melayani nabi Elisa ini, demikian juga dalam kehidupan persekutuan, dan kehidupan di masyarakat, banyak pemberian dan kepedulian kita kepada sesama secara nyata, seperti pemberian materi. Merujuk kepada Mat 10:41 tadi, kepedulian (pemberian) kita kepada sesama, tidak akan sia-sia, namun sebaliknya setiap pemberian yang kita terima, adalah merupakan suatu beban dan tanggung jawab untuk melihat apa yang dapat kita berikan kepada mereka yang memberi itu. Artinya “jangan enak saja menerima,” tetapi tidak mau memberi, walaupun pemberian kita kemungkinan bukan materi, tetapi im-materi, rasa syukur, terima kasih, dan yang paling penting ialah berdoa agar Tuhan membalas pemberian itu berlipat ganda sesuai kebutuhannya. Pemikiran seperti ini maka “banyak memberi, akan banyak menerima.” Di hadapan Tuhan lebih tegas lagi seperti yang dikatakan oleh raja Daud, dia sudah berkuasa dan kaya raya, tetapi dia katakan kepada Allah: “Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu …” menyadarkan kita setiap pemberian kita adalah yang berikan Tuhan.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Dalam kesempatan apa saja kita memberi tanpa pamrih?
- Adakah ajakan menyumbang tapi dengan pamrih?
- Apakah Anda turut melayani abdi (hamba) Tuhan dalam bentuk apa saja?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, Bapa telah mengasihi, memelihara, melayani kami, kami mohon Roh Kudus menolong dan memampukan kami untuk saling mengasihi dan melayani, terutama dalam bentuk nyata, secara material. Apa yang ada pada kami dalam kebenaran dan anugerah Tuhan, untuk kami bersyukur dan saling berbagi, maka jauhkan kami dari rasa egois. Demikianlah doa kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS260224]
GIANT BABY
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Korintus 15:33-34 – TB2
“Janganlah sesat! “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kami punya seekor anjing pitbull yang masih tergolong anak-anak alias masih puppy. Namanya tyson. Usianya baru sekitar 8 bulan, namun beratnya sudah lebih dari 26 kg. Tyson tampak seperti seekor anjing dewasa, namun perilakunya masih sangat puppy. Karena itu, kami menyebut tyson sebagai giant baby, alias bayi raksasa. Nah, tyson ini punya kebiasaan tidur di depan pintu rumah kontrakan kami. Padahal pintu itu dibuka ke arah luar. Jadi, jika tyson tidur di depan pintu, maka kami akan kesusahan membuka pintu karena ada penghalang seberat lebih dari 26 kg.
Sebetulnya, depan pintu itu merupakan tempat tidur favorit bagi coffee, guzie dan chalie. Ketiga anjing tadi sudah tergolong dewasa, namun tubuh mereka kecil dan tidak terlalu berat. Kebiasaan tyson tidur di depan pintu itu, diawali ketika tyson kami bawa di usia sekitar 3 bulan. Ia suka tidur ngeringkel bersama dengan coffee dan guzie. Lama-kelamaan, tyson terbiasa tidur di depan pintu. Kesimpulan kami, kebiasaan tyson untuk tidur di depan pintu karena meniru coffe, guzie dan chalie. Padahal, kebiasaannya itu menghalangi kami bila akan membuka pintu. Memang pergaulan dapat mempengaruhi perilaku, bukan?
Berbicara tentang pergaulan yang mempengaruhi perilaku ini, mengingatkan kita akan nasihat rasul Paulus kepada jemaat Korintus, demikian: “Janganlah kamu sesat! “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu”. Nasihat ini terkait dengan perilaku sebagian anggota jemaat Korintus yang tidak percaya terhadap kebangkitan orang mati. Bagi Paulus, pandangan ini tentu sangat berbahaya. Sebab pandangan ini akan membuat orang untuk berpikir bahwa Tuhan Yesus juga tidak bangkit dari kematian. Oleh karena itu, dalam Surat 1 Korintus 15, Paulus secara khusus membahas tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan doktrin kebangkitan orang mati.
Mengapa ada anggota jemaat yang tidak percaya terhadap kebangkitan orang mati? Karena mereka memiliki pergaulan yang keliru. Jadi, mereka ini bergaul dengan komunitas orang-orang kaya di Korintus yang memiliki pola hidup hedonisme. Bagi kaum hedonis, hidup itu hanya satu kali, setelah itu selesai saat kematian. Jadi tidak perlu berpikir tentang kebangkitan orang mati. Kita ingat bahwa percakapan tentang kebangkitan orang mati pernah juga dilakukan antara Tuhan Yesus dengan orang Saduki, seperti disaksikan dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Mengingat bahwa kesalahan anggota jemaat Korintus ini dimulai dari pemikiran yang menyimpang, maka Paulus menasihati mereka untuk ‘sadarlah kembali sebaik-baiknya’. Dari nasihat Paulus ini, kita dapat melihat bahwa keberdosaan sebagian anggota jemaat Korintus dipicu oleh kekeliruan pandangan mereka sebagai akibat dari pergaulan yang keliru. Penolakan terhadap kebangkitan orang mati telah mempengaruhi gaya hidup mereka ke arah yang lebih buruk. Karena itu, sangat wajar apabila Paulus berusaha mengubah perilaku mereka mulai dari pemikiran terlebih dahulu.
Memang betul, pergaulan yang salah dapat mengakibatkan banyak hal yang salah juga. Oleh karena itu jangan mau disesatkan oleh pergaulan yang salah. Tapi….. ya, si giant baby tidur di depan pintu lagi. Salah gaul dia…. Eh, maaf, maaf. Mari kita ingat bahwa “Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kamki rindu untuk tetap berada di dalam naungan kasih-Mu. Oleh karena itu kami terus belajar untuk dapat menjaga kehidupan kami dari kemungkinan pergaluan yang dapat menyesatkan kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakash Tuhan Yesus, Amin.
MASIHKAH TAAT BERDOA?
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Daniel 9:17 (TB2)
”Ya Allah kami, sekarang, dengarkanlah doa hamba-Mu ini dan permohonannya. Sinarilah tempat kudus-Mu yang telah hancur ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Apakah ketaatan mudah kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Sudahkah kita berhenti ketika lampu merah dan berjalan ketika lampu hijau? Jika sudah, kira-kira ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas itu kita lakukan untuk keselamatan kita atau karena takut kena tilang?
Bagi beberapa orang menaati rambu lalu lintas adalah karena takut kena tilang, takut jika nanti terkena denda, tanpa memikirkan bahwa sejatinya menaati rambu lalu lintas itu berarti kita juga menjaga keselamatan diri kita dan keselamatan pengendara lainnya. Apakah hal demikian juga berlaku saat kita berdoa? Apakah kita berdoa karena takut dihukum oleh Tuhan atau mungkin bahkan hanya formalitas? Bukankah doa itu adalah nafas hidup orang percaya?
Bacaan kita hari ini berkisah tentang Daniel, seorang Yehuda yang taat berdoa kepada Allah. Baginya, doa adalah sumber keselamatan dalam hidupnya. Daniel menyadari ketaatannya berdoa, bukan berarti hidupnya akan aman-aman saja, tetapi dalam doa itulah, Daniel mendapatkan kekuatan dan ketenangan. Daniel pernah ditangkap dan dihukum karena ia berdoa.
Tetapi, hal itu tidak pernah membuat Daniel putus asa dan berhenti untuk tetap taat berdoa. Daniel tetap terus berdoa, secara khusus ia berdoa mengakui dosa dan memohon belas kasihan kepada Tuhan. Dalam doanya, Daniel menyadari bahwa dia adalah salah satu dari bangsa Israel yang telah melakukan dosa setelah 70 tahun masa murka Tuhan. Tuhan tidak diam saja, saat mendengarkan doa Daniel yang meminta tolong dan mengakui dosanya, Tuhan menjawab doa Daniel melalui perantara Gabriel, yang menyampaikan pesan kepada Daniel.
Kisah Daniel memberikan kita pelajaran bahwa ketaatan dan kesungguhan dalam berdoa tidak akan sia-sia, sebab Tuhan akan menjawab setiap seruan umat-Nya. Memang tidak mudah bagi kita memahami pesan yang Tuhan sampaikan ketika kita berada dalam masa sulit di kehidupan kita. Memang tidak mudah bagi kita mengakui kesalahan kita di hadapan Tuhan. Dan terkadang kita merasa gengsi untuk mengakui bahwa segala yang kita peroleh berasal dari kasih kuasa Tuhan. Kiranya sikap ketaatan dalam doa yang dilakukan oleh Daniel juga terjadi atas setiap diri kita. Selamat menghayati minggu-minggu prapaskah. Tuhan memberkati kita.
LIHAT PELANGI, INGAT JANJI TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Lihat Pelangi, Ingat Janji Tuhan” dengan dasar dari Kejadian 9:16, “ Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, dan mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Saudara, kapan Saudara terakhir melihat pelangi? Tentu ada banyak pengalaman Saudara kapan terakhir Saudara melihat pelangi. Entah sudah lama, atau belum lama. Yang jelas Saudara melihat pelangi, setelah turun hujan. Jika kita melihat pelangi, kita ingat janji Tuhan! Dalam Kejadian 9:16 ini Tuhan sendiri memberi tanda perjanjianNya yang kekal melalui simbol busur (qeset) atau pelangi.
Jikalau semula dengan busur yang dilengkapi dengan anak panah dipakai oleh Allah untuk memanah setiap umat yang berdosa, sehingga mereka binasa. Tetapi setelah setelah peristiwa air bah, Allah mengambil keputusan untuk menempatkan pelangi kasih-karuniaNya yang membaharui kehidupan umat manusia di bumi ini.
Pada minggu-minggu Prapaskah ini kita diingatkan bahwa simbol busur (qeset) yang dilambangkan dalam wujud pelangi bermakna tumbuhnya pengharapan dan keselamatan yang baru di dalam Kristus.
Simbol Busur itu menunjukkan bahwa kasih karunia Allah terus bekerja dalam kehidupan kita, sehingga kita saat ini dikaruniai pengharapan dan kesempatan untuk bertobat.
Pada saat kita melihat pelangi, kita mengingat Tuhan telah memberikan perjanjianNya, Tuhan mengasihi semua manusia dari segala bangsa. Meskipun beda warna kulit, latar belakang, budaya bahkan segala keadaan manusia, Tuhan mengasihi dan menerimanya!
Saudara, marilah kita lihat keindahan pelangi setelah gelapnya awan hujan. Marilah kita berpegang pada janji Tuhan, berfokus pada kasih dan kesetiaan Tuhan yang menutupi, betapa pun besar masalah dalam hidup kita.
Mungkin saat ini ada Saudara yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup yang tidak mudah, yang sering digambarkan dengan awan mendung yang gelap, atau hujan masalah terus menerus datang silih berganti tidak kunjung reda.
Namun percayalah di balik setiap situasi sulit yang terjadi, disana ada campur tangan Tuhan yang bekerja. Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya yaitu kita akan melihat pelangi kasih Tuhan dinyatakan di dalam hidup kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh aktivis GKI Kwitang Pos Sindangkarsa sebuah nyanyian yang berjudul: Pelangi Kasih. Lagu ini menyatakan: “Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti, cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu.”
Lagu ini meyakinkan kita: “Tangan Tuhan sedang merenda, suatu karya yang agung mulia. Saatnya kan tiba nanti kau lihat pelangi kasihNya.”
“Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti. Saatnya kan tiba nanti kau lihat pelangi kasihNya.”
Jadi, Saudara betapaun kita mengalami hari ini betapa beratnya, tetaplah teguh di dalam Tuhan, sebab pada waktunya pelangi kasih Tuhan pasti akan dinyatakan di dalam hidup kita. Lihatlah pelangi kasihNya. Percayalah terus pada janjiNya! Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Tuhan memberkati! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat kami. Di tengah segala pergumulan hidup kami, mampukanlah kami melihat pelangi kasihMu, supaya kami tetap setia berpegang pada janji keselamatanMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM22022024)
MENDAPAT KEKUATAN BARU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yesaya 40 :27-31
Salam sejahtera, semoga kita makin mendapat kekuatan baru dari Tuhan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan, ada kekalahan, kegagalan, penderitaan. Kita tetap menanti-nantikan Tuhan, karena hanya Tuhan yang memberi kekuatan baru bagi kita, sehingga kita berjuang tidak mudah lelah dan lesu, seperti ungkapan dalam Yesaya 40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
Bangsa Israel, kalah perang, kemudian dibuang ke Babel. Dalam pembuangan umat mengeluh. Keluhan mereka adalah Tuhan telah menyembunyikan diri dari mereka, Tuhan telah mengabaikan hak mereka, dan tidak memperhatikan mereka, tidak peduli dengan penindasan dan himpitan yang mereka alami. Mereka berdoa agar Tuhan tidak menyembunyikan diri terhadap mereka yang mengalami kesengsaraan. Tuhan jangan jauh dari mereka. Tuhan jangan tidur, tapi terjaga terus, bangun terus untuk membela hak mereka serta memperhatikan mereka.
Bangsa Israel dalam pembuangan, mereka terpusat perhatiannya kepada nasib mereka yang malang, mereka tidak memusatkan perhatian pada Tuhan yang dapat mengubah nasib. Mereka memusatkan perhatian untuk mengasihi diri sendiri, tapi tidak memusatkan perhatian untuk mengasihi Tuhan. Tuhan menentang ibadah yang memusatkan pada diri sendiri dan usaha diri sendiri. Mereka berpikir dengan korban persembahan yang mereka lakukan akan mendapat keadilan dan kebebasan dari Tuhan. Nabi Yesaya mengajarkan umat untuk tidak berpusat pada diri sendiri, tapi menunjukkan pandangan kepada Allah. Tujuan dari ibadah adalah untuk Allah, bukan untuk diri sendiri, untuk memuji Allah bukan memuji diri sendiri. Memuji Tuhan sebagai Allah kekal yang mencipta bumi. Allah yang tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya, sulit menyelami pikiran Tuhan. Allah yang tidak terlelap dan tidak tertidur tapi Allah selalu menjaga Israel (Mazmur 121:4). Allah yang kekal, sejak penciptaan terus berkuasa sampai akhir zaman. Firman dan kasih setiaNya, janjiNya tetap sama, tidak berubah. Tuhan sanggup menjalankan maksud atau kehendakNya, rencanaNya dan janjiNya. Maksud Tuhan sejak penciptaan akan sama sampai akhir zaman. Tuhan ingin dipuji sebagai Allah yang kekal, Allah yang mencipta dengan tujuan kekal. Kita sebagai ciptaan Tuhan, maka dalam keseharian dan dalam ibadah, kita hanya memuji kebesaran Tuhan dalam kondisi apapun hidup kita, saat menderita atau tidak menderita, sakit atau sehat, miskin atau kaya, tidak tenang atau tenang.
Tuhan itu pencipta, membuat dari yang tidak ada menjadi ada. Tuhan mencipta sesuatu yang baru, yang belum pernah ada. Tuhan pencipta berarti Tuhan mempunyai kuasa dalam sejarah hidup manusia, untuk melakukan perbuatan yang ajaib dan besar, mencipta masa depan, menyelamatkan. Kita memuji kuasa Tuhan yang mencipta, melakukan perbuatan ajaib dan besar.
Tuhan pencipta, berbeda dengan manusia ciptaan yang mudah lelah dan lesu. Tuhan itu bukan manusia, karena itu Tuhan tidak lelah dan lesu. Tuhan tidak terlelap dan tertidur. Pikiran manusia terbatas, tapi pikiran dan pengertian Tuhan pencipta, sangat tidak terbatas dan sangat luas, tidak dapat dimengerti oleh akal manusia, tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Tuhan yang tinggi, yang tidak terselami pikiranNya, tapi Tuhan tidak menjauh dari manusia, Tuhan berkenan, dan dekat dengan manusia yang lemah, berdosa, yang terbatas pikirannya. Tuhan ingin berbicara ke dalam hati umatNya, dan membawa kembali hati umat datang kepada Tuhan. Dan Tuhan hendak membangkitkan kembali umatNya. Tuhan tidak menjauh, tidak sembunyi. Tuhan datang kepada yang kehabisan tenaga dan lelah, tidak berdaya lagi atau lesu, tidak ada kuasa lagi untuk memberi kekuatan atau semangat. Tuhan memberi kuat kuasa, daya gerak, sehingga bisa berlari, berjuang dalam hidup, dalam menghadapi penderitaan, sakit, miskin, kegagalan, kekalahan dan lain-lain.
Tuhan berjanji memberi kekuatan baru bagi orang yang menanti-nantikan Tuhan. Kekuatan baru itu digambarkan seperti daya terbang dari sayap burung rajawali, yang dengan kuat, tenang menghadapi badai. Kuasa dan kekuatan itu datang dari Tuhan, bukan dari usaha manusia, tidak datang dari usaha dalam ibadah, tidak datang dari usaha manusia yang tidak percaya Tuhan dan tidak menanti-nantikan Tuhan. Tuhan membagikan kepada orang yang menantikan Tuhan, apa yang ada pada Tuhan, memperbarui dengan kuasa penciptaan Tuhan. Menantikan Tuhan berarti sangat mengharapkan Tuhan dan kuasa Tuhan serta kehendak Tuhan. Kalau orang mengharapkan uang, materi, kesehatan, mengharapkan orang tertentu maka akan mudah kecewa, tapi orang yang mengharapkan kuasa Tuhan, kehadiran Tuhan, tidak akan kecewa. Orang yang menanti-nantikan Tuhan adalah orang yang dalam keadaan gawat, menderita, tapi mempercayai Tuhan dekat, tidak tersembunyi, percaya Tuhan peduli dan memperhatikan manusia, termasuk yang berdosa, yang terbuang, yang diasingkan, yang diabaikan. Orang yang percaya Tuhan akan menyerahkan dirinya hanya ke dalam tangan Tuhan untuk diatur Tuhan, ditolong, dilindungi, diselamatkan Tuhan. Tuhan menjanjikan keselamatan bagi orang yang berharap, dan menanti-nantikan Tuhan.
Orang yang menanti-nantikan Tuhan, tidak menunggu secara pasip, mereka tidak mengalah terhadap nasib, tapi orang yang secara aktif mempercayakan diri kepada Tuhan, ikut cara dan perintah Tuhan ketika Tuhan menolong, melindungi, mengangkat, mengubah hidup kita. Kita mempersiapkan diri ketika Tuhan memberi perintah, Tuhan bertindak, menolong, melindungi, membangkitkan, menyelamatkan kita.
Kita membawa segala kesusahan hidup kita dan berserah kepada Yesus, yang telah berjanji memberi kekuatan pada saat menghadapi taufan hidup. Tuhan tidak pernah berjanji akan selalu hujan dan selalu panas. Tuhan mengubah duka menjadi suka, seperti ungkapan lagu S’RAHKANLAH: Apakah kau payah mencari-cari, apakah kau payah berkeliling. Bawalah sekarang segala susahmu, pada kaki Yesus, serahkanlah. Tak pernah Dia janji s’lalu kan panas, dan tak pernah Dia janji hanya ada hujan. Tapi Dia berjanji memb’ri kekuatan. Bila taufan ganas melandamu. Reff : S’rahkanlah, s’rahkanlah, s’rahkan pada Yesus segala beban yang menindih hidupmu s’rahkanlah, s’rahkanlah, s’rahkan pada Yesus Dia kan ganti s’gala duka menjadi suka. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kami percaya akan mendapat kekuatan baru dari Tuhan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan, ada kekalahan, kegagalan, penderitaan. Kami tetap menanti-nantikan Tuhan, karena hanya Tuhan yang memberi kekuatan baru bagi kami, sehingga kami berjuang tidak mudah lelah dan lesu, dalam nama Yesus kami berdoa, amin
TERUJI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 2
Bahan: 1 Raja-raja 10:1, 3, 6,
Ketika ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama TUHAN, maka datanglah ia hendak mengujinya dengan teka-teki. (3) Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu. (6) Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu.
Berbagai istilah kita kenal yang melecehkan, seperti; “omdo, abs, nato” kata-kata ini hendak mengatakan lain beritanya, lain kenyataannya yang diucapkan merupakan pelecehan atau kekesalan. Sebaliknya ada juga yang patut dipuji, sehingga di sebut “tahan banting, yahut, keren” kata-kata ini memuji bahwa berita dan kenyataannya memang teruji patut di puji.
Berita yang tersebar cukup menarik tentang hikmat dan kemegahan raja Salomo telah menarik hati seorang ratu dari negeri Syeba (negeri Syeba ini diperkirakan sekarang di Yaman). Ratu ini datang ke Yerusalem karena penasaran mendengar berita, maka dia hendak menguji, melihat dan mendengar sendiri tentang kemegahan dan hikmat yang telah tersohor beritanya. Perjalanan yang cukup jauh, memerlukan biaya yang tidak sedikit, perjalanan itu mungkin merupakan wisata, menjalin hubungan baik, saling tukar hadiah, karena ratu ini telah menyiapkan hadiah rempah-rempah, emas, batu permata, dan nanti dia juga akan menerima hadiah dibawa pulang. Tetapi merupakan suatu pertanyaan, atau untung-tuntungan, semua akan berjalan baik kalau yang didengarnya memenuhi maksud kedatangan sang ratu, maka hadiah yang dibawanya diberikan dengan senang hati. Tetapi sebaliknya akan terjadi, dia akan kesal dan menyesal memberikan hadiah itu kalau yang didengar dan dilihatnya jauh dari apa yang dia harapkan, “omong doang” dia akan melecehkan.
Apa yang terjadi, sang satu telah siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang berupa teka-teki, untuk menguji raja Salomo tentang hikmat, apakah yang didengar oleh sang ratu sesuai dengan kenyataannya. Dengan hikmat yang dari Tuhan, Salomo dengan lancar menjawab dan menyampaikan hikmat lain, membuat ratu itu kagum dan berkata: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, … setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku.” Hadiah yang dibawanya berimbang dengan kenyataan berita yang dia dengar. Namun hikmat Salomo dan kemegahan kerajaannya, semua itu adalah karunia Tuhan, yang tidak tertandingi sepanjang zaman.
Kita telah mendengar hikmat dari mereka-mereka yang telah menjadi pilihan dalam pemilu yang lalu. Kita telah mendengar janji, visi, kebijakan dan rencana yang telah mereka sampaikan, baik secara pribadi mau pun partai-partai. Yang menguji mereka adalah kanyataan di lapangan, apakah hikmat, visi, janji, kebijakan yang mereka beritakan menjadi kenyataan. Pujian akan diterimanya kalau yang dijanjikannya menjadi perjuangan dalam karyanya, kekecewaan dan pelecehan akan diterimanya kalau karyanya bertentangan dengan janjinya. Kalau satu hal ini saja, yaitu “tidak korupsi, memberantas korupasi” menjadi perjuangannya sebagai pejabat, pimpinan, maka bisa melegakan hati kita, “tidak sia-sia pilihan rakyat.”
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut.
- Pernahkah Anda memberi pinjaman baik barang atau uang dengan suatu janji dan janjinya itu tidak ditepatinya?
- Pernahkah Anda berjanji kepada seseorang tetapi tidak ditepati?
- Bagaimana Anda menjadi saksi hikmat dari firman Tuhan saat ini?
Mari berdoa:
Bapa yang di surga, kami menerima hikmat agar hidup kami menyaksikan kehendak Tuhan. Roh Kudus kiranya menolong kami agar hati kami dipenuhi hikmat yang nyata melalui tutur kata dan perbuatan kami. Dengan hikmat dari Roh Kudus kami menjadi saksi dan pelayan Injil bagi orang lain. Inilah kerinduan kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS190224]
SATYAMEVA JAYATE
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 4
Bacaan: 1 Raja-raja 22:8 – TB2
“Jawab raja Israel kepada Yosafat: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi, aku membenci dia, sebab ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla”. Kata Yosafat, “Janganlah raja berkata demikian”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mungkin Anda sudah sering mendengar ungkapan “wong jujur ajur” yang artinya: orang yang jujur akan hancur. Ungkapan ini didasarkan pada kecenderungan orang untuk menolak kritikan atau pendapat yang bertentangan dengan keinginan hati, oleh sebab itu siapapun yang memberikan masukan yang membangun atau pendapat berbeda justru dibenci. Latarbelakang berpikir seperti inilah yang membuat banyak orang akhirnya memilih untuk diam dan tidak menyatakan kebenaran dari pada dibenci atau dimusuhi.
Mikha bin Yimla adalah salah seorang Nabi Tuhan yang berani menyatakan pendapat yang berbeda dengan nabi-nabi lain dan berani juga memberikan kritikan kepada raja. Mikha adalah nabi Tuhan yang melayani di jaman pemerintahan Raja Ahab di Israel. Karena keberaniannya untuk menyatakan kebenaran itulah yang membuat raja Ahab begitu membenci Mikha. Kebencian Ahab kepada Mikha itu terungkap ketika Raja Yosafat dari Yehuda menyampaikan kepada Raja Ahab untuk menanyakan petunjuk Tuhan sebelum berperang melawan bangsa Aram. Kala itu, Raja Yosafat mengajak Ahab untuk bersekutu dan berperang melawan bangsa Aram dalam rangka merebut wilayah Ramot-Gilead. Kisah ini tercatat di dalam Kitab 1 Raja-raja 22.
Meski ada 400 orang nabi yang telah mengatakan bahwa Tuhan berpihak kepada Israel dan Yehuda, namun Raja Yosafat tetap meminta pendapat dari nabi yang lain selain ke – 400 nabi tadi. Saat itulah Raja Ahab mengungkapkan ketidaksukaannya kepada Nabi Mikha. Alkitab mencatat demikian, “Jawab raja Israel kepada Yosafat: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi, aku membenci dia, sebab ia tidak pernah menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla”. Kata Yosafat, “Janganlah raja berkata demikian”. Dan memang, setelah Mikha dipanggil untuk menyampaikan petunjuk Tuhan, ia mengatakan pesan yang berbeda dari ke-400 nabi lainnya. Mikha menyampaikan bahwa Israel dan Yehuda akan kalah apabila melawan bangsa Aram. Karena pernyataannya itu, maka Mikha dipenjara oleh Raja Ahab. Dan ternyata apa yang disampaikan oleh Mikha ini benar adanya. Bahkan raja Ahab juga terbunuh dalam peperangan itu meski sudah menyamar sebagai prajurit biasa.
Kisah Nabi Mikha ini kembali menyatakan kepada kita bahwa kebenaran itu akan terungkap dan akhirnya menang. Dalam bahasa sansekerta dikenal istilah “satyameva jayate”. Ungkapan ini berasal dari naskah India kuno, yang jika diterjemahkan artinya adalah: “hanya kebenaranlah yang akan menang”. Memang mesti diakui bahwa seringkali dibutuhkan waktu tertentu hingga akhirnya kebenaran itu dapat terungkap. Bahkan seringkali mesti berhadapan dengan risiko-risiko yang tidak menyenangkan dalam usaha mengungkapkan dan menyampaikan kebenaran. Namun inilah panggilan kita sebagai anak-anak Tuhan, yaitu memperjuangkan kebenaran. Dengan pertolongan Tuhan, mari kita tetap berani berjuang untuk menyampaikan kebenaran apapun risikonya. Ingat “satyameva jayate” – hanya kebenaranlah yang akan menang. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kadangkala kami memilih diam ketika kecurangan dan ketidakbenaran terjadi di depan mata. Kami rindu agar terus berani menyuarakan kebenaran. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
