harian
MENGAKU YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Filipi 2: 5-11
Salam sejahtera, semoga semua orang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, seperti ungkapan dalam Filipi 2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Allah sangat meninggikan Yesus, karena Yesus telah merendahkan diri-Nya. Allah mengangkat Yesus tinggi melampaui segalanya. Kemuliaan Yesus sudah dimiliki sebelum dunia ada (Yohanes 17:5), setelah Yesus masuk dalam dunia sebagai manusia yang taat sampai mati, kemudian dipermuliakan Allah dalam kebangkitanNya.
Kita mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan sampai akhir hidup kita. Jangan karena sakit parah, sangat miskin, sangat menderita, kita tidak mengakui Yesus adalah Tuhan, menganggap Yesus manusia biasa, tidak berkuasa, tidak mengasihi, tidak berguna bagi hidup pribadi atau keluarga kita.
Kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dalam hidup bersama dengan menaruh pikiran dan perasaan Yesus. Cara berpikir Yesus diantaranya adalah tujuan hidup Yesus bukan untuk diri sendiri tapi untuk kemuliaan Allah. Yesus menarik banyak orang supaya orang memuliakan Allah. Kita dalam hidup bersama, tujuan hidup kita bukan untuk diri sendiri tapi untuk Allah. Kita mengajak orang yang hidup bersama-sama agar memuliakan Allah.
Ada orang tidak mudah mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan, terutama orang yang mengandalkan kekayaan, kekuatan, kehebatan sendiri, yang menjadi berhala bagi dirinya. Ada juga orang mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan, tapi sesungguhnya ia memperalat Yesus Kritus untuk mendukung kekayaan, kekuatan, kehebatan dirinya.
Anak-anak, remaja pemuda orang dewasa, orang lanjut usia diharapkan bisa mengakui dalam hidupnya setiap hari bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Kuasa Yesus, kasihNya, pengampunan-Nya Yesus adalah segala-galanya bagi diri kita.
Mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, dalam hidup bersama, berarti hidupnya tidak sendiri-sendiri, tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri, tidak memuaskan ambisi pribadi, tapi hidup untuk memuliakan Allah. Pelayananan, kesaksian dan persekutuan kita bukan untuk diri sendiri tapi untuk kemulian Allah.
Perasaan dan pikiran Yesus ketika melihat orang buta, lapar, lumpuh, miskin, berdosa, itulah yang kita bicarakan, pikirkan, hayati dan rasakan dalam hidup bersama. Kita sering membicarakan tentang bisnis, pekerjaan, politik, tapi paling utama kita bicarakan adalah pikiran dan perasan Yesus ketika menghadapi masalah, cemooh, dihina, diperlakukan tidak adil. Cara Yesus menjumpai orang lemah, berdosa, cara Yesus berelasi, berkomunikasi, kita terapkan dalam cara berelasi orangtua dengan anak, anak dengan orangtua, berelasi dengan teman, berelasi dengan tetangga. Cara berelasi suami istri.
Banyak masalah yang terjadi dalam diri cucu, anak remaja pemuda dewasa lanjut usia, ketika menghadapi masalah itu kita belajar dari cara berpikir dan perasaan Yesus, saat Ia menghadapi masalah besar. Cara Yesus inilah yang kita ajarkan dalam hidup bersama dalam keluarga, jemaat. Mungkin ada orang menuduh kita sok suci karena kita selalu belajar cara Yesus berpikir dan merasakan. Tapi kita taat pada kehendak Tuhan yaitu terus meniru cara berpikir dan merasakan dari Yesus.
Persekutuan yang menggunakan cara berpikir dan perasaan Yesus, maka orang luar yang melihat akan tahu juga bagaimana cara berpikir dan merasakan Yesus. Persekutuan yang tidak menggunakan cara berpikir perasaan Yesus, malah menggunakan cara berpikir dan merasakan dari iblis, orang tahu cara hidup persekutuan akan menampakan kebencian, merendahkan orang, mementingkan diri sendiri, meninggikan diri. Di dalam gereja, anggotanya yang menggunakan cara berpikir dan merasakan Yesus, akan membawa kebaikan, nyaman, penuh kasih, menghargai, peduli seperti yang Yesus lakukan.
Cara berpikir dan merasakan dari Yesus lain adalah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Sebagai contoh seorang presiden A yang dihormati di pemerintahan dan masyarakat, ketika menemui anak atau cucunya untuk bermain, maka kepresidenannya, tidak dipakai. Ia menjadi sama seperti anak atau cucunya, bermain dengan gaya anak atau cucunya. Yesus adalah Allah, mau menjadi sama dengan manusia agar bisa menjumpai manusia. Itulah cara berpikir dan perasaan Yesus.
Ketika kita menjumpai tetangga yang beda agama, kita tidak perlu membanggakan kehormatan, kekayaan, kedudukan, pendidikan, jabatan, kehebatan kita dan menganggap orang yang kita jumpai penting dan berharga. Kita merendahkan diri seperti Yesus merendahkan dirinya sampai mati di kayu salib. Kita menjumpai orang dengan hati yang rendah hati, bukan tinggi hati, bukan merasa lebih pintar, tapi menghargai orang yang dijumpai
Ketika kita mengosongkan diri, maka berhadapan orang di tengah masyarakat kita tidak merasa diri hebat, arogan, tapi berlaku sebagai hamba, menghargai orang yang dijumpai, siapapun mereka. Orang yang mengosongkan diri inilah yang ditinggikan Tuhan. Ketika rapat, atau debat kita tidak akan mengatakan pendapat orang lain itu dengan kata goblok, tolol. Ini kata yang merendahkan merasa diri lebih pintar dan ini tidak mengosongkan diri, hal ini tidak sama dengan cara berpikir dan perasaan Yesus. Orang yang mengosongkan diri dan merendahkan diri seperti Yesus akan menghargai orang apapun pendapatnya.
Kalau salah pendapat orang perlu diluruskan tanpa merendahkan orang tersebut. Yesus sangat menghargai Petrus walau cara berpikir Petrus tidak sama dengan cara berpikir Yesus. Yesus pernah mengatakan kepada Petrus “enyalah iblis”, tapi bukan mengatakan enyalah Petrus. Pikiran Petrus salah karena pengaruh iblis, tapi pribadi Petrus sangat dihargai Yesus. Orang yang merendahkan diri, mengosongkan diri ketika rapat, debat, bertukar pikiran akan menjadi bijaksana dalam perkataannya. Dalam rapat orang memberikan pendapat, kemudian ada yang merendahkan orang, tersinggung dan menjadi konflik, karena saling membalas merendahkan yang lain, tidak ada damai.
Yesus yang mengosong diri, merendahkan diri sampai mati, tapi Allah meninggikan dengan membangkitkan Yesus. Cara berpikir dan perasaan Yesus yang merendahkan diri sampai mati inilah yang kita gunakan dalam hidup kita agar Allah membangkitkan kita pada akhir zaman, dan banyak orang akan mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan.
Kita mengaku Yesus Kristus Tuhan yang membawa keselamatan seperti ungkapan KJ. 13 ayat 2. Yesus Kristus, Tuhan, yang membawa kes’lamatan, Yesus Kristus, Tuhan, yang membawa kes’lamatan, Lahir dalam dunia ini, mati tapi bangkit lagi, Kaulah Jurus’lamat kami!
Berdoa :
Ya Tuhan mampukan kami dalam hidup bersama mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, dan kami menggunakan pikiran dan perasaan Yesus dalam hidup bersama kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin
MENCURI HATI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: 2 Samuel 15:1-2a,
Lalu datanglah seseorang mengabarkan kepada Daud, katanya: “Hati orang Israel telah condong kepada Absalom.” Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: “Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom, Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita…
Pepatah yang mengatakan MENCURI HATI, tetapi tidak ada yang kehilangan, antara lain mencuri perhatian, mencuri jalan dst. Menjelang Pemilu di negeri kita tidak kurang juga para calon yang minta dipilih, berusaha mencuri hati dan perhatian masyarakat. Demikianlah Absalom yang begitu ambisi menjadi raja Israel, tetapi dia menyadari kalau dari segi kemampuan berperang, dan hikmat memimpin bangsa Israel, pasti Absalom tidak mampu mengungguli ayahnya Daud. Karena itu Absalom mengambil siasat lain, dengan memperkenalkan diri sebagai anak raja, berhari-hari dia berdiri di jalan masuk kota Yerusalem, menyapa setiap rakyat, khususnya yang mohon keadilan dan pembelaan atas masalah dan perkaranya, mereka semua disapa dengan ramah oleh Absalom, meneliti perkara orang itu dan memberi keadilan, sehingga orang pulang dengan hati yang lega selesai perselisihan mereka. Ditambah lagi dia bergaul akrab dengan pejabat kerajaan terutama di bidang militer. Setelah tiba saatnya merasa rakyat telah dekat dengan dia, maka dengan kesepakatan dengan beberapa para pejabat, mereka pergi ke Hebron kota besar, dengan mengendarai kreta seperti pejabat negeri, dengan meniup sangkakala sebagai pertanda ada suatu kejutan, dan rakyat terbawa dalam arak-arakan yang menganggap itu adalah resmi kedatangan pejabat negara mereka berseru “Hidup raja, raja baru Absalom.” Maka gemparlah seluruh negeri sampai ke Yerusalem.
Daud sadar bahwa Absalom telah mengangkat diri sebagai raja Israel dengan kekuatan tentara yang cukup besar. Bagaimana sikap raja Daud dengan situasi kudeta itu? Menghindari serangan dari pasukan Absalom yang pasti terjadi perang saudara, bahkan bisa membahayakan keselamatannya, Daud memilih melarikan diri, itulah sikap raja Daud. Tetapi perang saudara tidak dapat dihindari karena Absalom telah merekrut para pimpinan militer, untuk merebut kekuasaan, kecuali kalau Daud menyerahkan diri, dan dengan konsekwensi yang begitu berat bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi untuk pembesar dan pegawai-pegawai kerajaan. Sebetulnya bagi Daud tantangan itu kecil, tetapi dia menghindari pertumpahan darah antar saudara. Bagaimana dengan situasi kita saat ini? Ada yang mengatakan dari calon presiden dan wakilnya di pemilu mendatang, “kita memilih yang terbaik dari yang tidak baik.”
Absalom dengan pimpinannya telah mengatur barisan perangnya, dari pihak Daud juga telah mengatur barisan perangnya yang dipimpin oleh Yoab panglimanya. Daud berpesan “majulah menyerang pasukan Absalom, tetapi sayangkan nyawa Absalom” demikianlah pesannya. Terjadi pertempuran, tentu saja dengan mudah pasukan Daud meraih kemenangan, dan Absalom pun tewas dalam pertempuran itu. Raja Daud terkejut atas kematian Absalom anaknya, dan dia menangisi sejadi-jadinya atas kematian Absalom. Demikian rencana Absalom merebut kekuasaan sebagai raja Israel, tetapi dia gagal, dan dia tewas.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Kalau Anda teman dekat Absalom, apa saran Anda atas rencana kudetanya itu?
- Menurut Anda mengapa Daud menangisi kematian Absalom yang memberontak?
- Kalau raja Daud menyerah, konsekwensi apa yang mungkin dia terima?
Mari berdoa:
Bapa kami dalam sorga, ada kalanya kami dalam situasi pilihan yang sulit, semua pilihan yang meragukan kami. Hanya dalam hikmat Tuhanlah membawa kami dalam pilihan yang baik dan menjadi pelajaran memberi kematangan berpikir bagi kami. Kami berdoa untuk pemilu yang makin dekat di negeri ini, agar pilihan kami dalam hikmat yang dikarunia Tuhan bagi kami. Demikianlah doa kami dalam nama Tuhan Yesus, Amin. [AS220124]
NDABLEG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 2 Tawarikh 28:5 – TB2
“Sebab itu TUHAN, Allahnya, menyerahkannya ke dalam tangan raja orang Aram. Mereka mengalahkan dia dan membawa banyak tawanan dari antara rakyat lalu membawanya ke Damsyik. Selain itu, ia diserahkan ke dalam tangan raja Israel dan mengalami kekalahan yang besar”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Pernahkah Anda tahu atau mendengar kata ‘ndableg’? Kata ini merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berkonotasi negatif karena berarti bebal atau tidak mempan dinasihati. Orang yang ndableg adalah orang yang tidak memperhatikan orang lain yang menyuruh atau menasihatinya. Orang yang ndableg tentu membuat hati kita menjadi kesal, dongkol atau jengkel. Misalnya saja, kita memiliki teman yang jarang memerhatikan pesan Whatsapp yang dikirimkan kepadanya, kemudian kita memberikan nasihat bahwa ada banyak kerugian yang dialami oleh pihak lain akibat sikapnya itu. Namun, bukannya memperbaiki sikapnya, ia malah mengulangi perbuatannya itu. Ketika diberi nasihat kembali, ia masih saja melakukan hal yang sama. Nah, ini contoh dari ndableg tadi.
Di dalam Alkitab, kita juga dapat menemukan salah seorang tokoh yang ndableg. Ia adalah Raja Ahas. Ia adalah raja Yehuda yang menggantikan Yotam ayahnya. Ia berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Alkitab mencatat bahwa ia tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Ia dikenal sebagai salah seorang raja Yehuda yang paling jahat perbuatannya.
Alkitab juga mencatat bahwa ketika melakukan penyembahan berhala, Ahas pun melakukan ritual dengan mengorbankan anak-anaknya. Atas perbuatannya yang melawan Tuhan, maka Tuhan pun menegurnya melalui serangan dari raja Aram. Alkitab mencatat, “Sebab itu TUHAN, Allahnya, menyerahkannya ke dalam tangan raja orang Aram. Mereka mengalahkan dia dan membawa banyak tawanan dari antara rakyat lalu membawanya ke Damsyik. Selain itu, ia diserahkan ke dalam tangan raja Israel dan mengalami kekalahan yang besar”.
Teguran Tuhan ini tidak membuat Ahas berbalik kepada Tuhan, melainkan justru berpaling dari Tuhan. Ahas tidak memohon pertolongan kepada Tuhan, tetapi justru mencari pertolongan dari Raja Asyur. Akan tetapi, alih-alih mendapat bantuan, Raja Asyur malah semakin menyusahkannya, meski Ahas telah memberikan emas yang dirampasnya dari rumah Tuhan, istana dan rumah-rumah para pemimpin rakyat. Tidak cukup sampai di situ, Ahas – yang ndableg ini – juga mengulang kebodohannya dengan mencari pertolongan di luar Tuhan. Ia mempersembahkan korban kepada illah asing, dengan harapan dapat meraih kemenangan seperti yang diperoleh Asyur. Kendablegan Ahas inilah yang merupakan penyebab dari keruntuhan pemerintahannya beserta dengan Kerajaan Yehuda.
Mari kita menjadikan kisah Raja Ahas ini menjadi cermin bagi kita untuk mengoreksi diri sendiri. Jangan kita berlaku bebal atau ndableg. Mari kita membuat telinga, hati dan pikiran kita untuk selalu sedia mendengar teguran Tuhan yang dilakukan-Nya melalui berbagai hal dan bermacam cara yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat berubah menjadi semakin baik dan lebih baik. Ingat bahwa semakin bebal seseorang, maka ia akan semakin menjadi beban bagi pihak lain. Jangan sampai Tuhan bertindak keras dengan menghancurkan diri kita sebagai bentuk teguran-Nya yang tegas. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk memiliki kepekaan sehingga mampu mendengar suara-Mu melalui nasihat-nasihat baik dari orang-orang yang ada di sekitar kami. Kiranya kami semakin dibentuk menjadi anak-anak-Mu yang taat dan setia. Terpujilah Nama-Mu, ya Kristus. Amin.
SEMUA DALAM RANCANGANNYA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Yesaya 55 : 8
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan.”
Shalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik.
Jemaat yang terkasih.. Seringkali kita bertanya, kenapa Tuhan membiarkan pergumulan dan penderitaan terjadi dalam kehidupan kita?
Banyak hal, banyak perkara di dalam hidup ini yang seringkali tidak kita mengerti hadir dalam kehidupan kita.
Kita memang seringkali tidak memahami cara Tuhan bekerja, kita tidak memahami jalan Tuhan.
Bahkan mungkin yang seringkali kita lakukan adalah, kita meminta dengan sangat dalam doa kita agar Tuhan mengikuti kehendak kita, cara kita, jalan kita.
Jemaat yang terkasih, bangsa Israel pada waktu itu juga tidak bisa memahami jalan Tuhan, ketika harus melewati padang gurun, padahal ada rencana Tuhan yang indah bagi mereka dibalik ketidaknyamanan yang mereka alami. Padahal mereka seringkali melihat perbuatan Tuhan yang ajaib di sepanjang perjalanan, tetapi mereka belum memahami juga rancangan dan jalan Tuhan. Yesaya mengingatkan kita bahwa Tuhan itu jauh melampaui pengertian dan akal budi kita, seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah tingginya jalan dan rancangan Tuhan dari jalan dan rancangan kita.
Sekalipun kita seringkali tidak mengerti jalan dan rancangan Tuhan, karena keterbatasan kita, namun hal ini tidak boleh menghalangi kita untuk mempercayai-Nya dan terus beriman keoada-Nya. Dia adalah Tuhan yang Maha Besar, tidak mungkin kita bisa menyelami pikiran-Nya dengan pikiran kita yang terbatas ini.Walau terkadang jalan Tuhan terasa berat, namun percayalah bahwa semuanya itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita, ada rencana Tuhan yang indah bagi kita.Nabi Yeremia berkata, ”Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.
Maka dari itu, biarlah kita boleh senantiasa menyerahkan segala rancangan dan perencanaan kita hanya kepada Allah saja. Kita memikirkan segala rancangan dalam kehidupan kita, tetapi Allah yang akan menentukan arah langkahnya (Ams. 16:9; Yer.10:23). Tidak ada seorang pun yang mengetahui dan mampu mengendalikan akan apa yang terjadi pada hari esok. Semua ada dalam kendali dan kehendak Allah (Yak. 4:13-16).
Percayalah, meskipun kita masih harus menjalani kehidupan kita dengan banyak sekali pergumulan dan penderitaan, itu semuanya terjadi dalam kendali Allah. Sampai kapan harus kita jalani?
Yang harus kita percaya bahwa rancangan Allah bagi kehidupan kita adalah rancangan damai sejahtera (lih. Yer. 29:11). Kalaupun saat ini kita merasakan kesesakan yang luar biasa, bukan karena Allah menghukum atau membenci kita, Ia ingin melihat bagaimana kita menggantungkan itu semua? Tetap setia dalam rancanganNya atau sebaliknya?Selamat berefleksi, Tuhan Memberkati kita.
YESUS TUHANKU YANG MULIA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Yesus Tuhanku yang Mulia” dengan dasar dari Injil Matius 4:23 , “ Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan serta menyembuhkan orang- orang di antara bangsa itu dari segala penyakit dan kelemahan.” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Firman Tuhan ini menjadi dasar bagi kita, sebagai jemaat Tuhan untuk menyadari panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan Yesus sendiri berkeliling untuk mengajar, memberitakan kabar baik, dan menyembuhkan orang-orang yang membutuhkan. Bukankah kita seharusnya mengikuti teladan-Nya?
Pertama , marilah kita makin aktif belajar dan mengajar. Yesus tidak hanya duduk di satu tempat dan menunggu orang datang kepada-Nya, tetapi Ia berkeliling dan mengajar di rumah-rumah ibadat. Kita punya tanggung jawab untuk terus berkembang dalam pengetahuan dan iman kita, lalu membagikannya kepada sesama.
Kedua , kita dipanggil untuk menyebarkan kabar baik Injil Kerajaan Tuhan. Tuhan Yesus tidak hanya menyimpannya untuk diri-Nya sendiri, tetapi Ia berbicara tentang kerajaan yang membawa damai, kasih, dan keadilan.
Hal ini mengajar kita untuk menjadi saksi-saksi Injil, menyampaikan kasih Kristus kepada dunia yang membutuhkan pengharapan.
Sebagai kelanjutan dari prinsip pertama, di mana kita diajak untuk aktif belajar dan mengajar, menjadi saksi Injil adalah cara nyata kita membagikan pengetahuan dan iman kepada sesama.
Ketiga , kita dipanggil untuk menyembuhkan. Menjadi saksi-saksi Injil tidak hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang tindakan nyata kasih dan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.
Dengan memberikan dukungan doa, kasih sayang, dan bantuan yang diperlukan, kita dapat menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan.
Dengan demikian, ketiga prinsip ini membentuk suatu kesatuan yang mengajak kita untuk terus belajar, memberitakan kabar baik, dan menyembuhkan, sebagaimana Tuhan Yesus sendiri teladankan bagi kita. Marilah kita bersama-sama mengikuti jejak-Nya dalam mengemban tugas yang besar ini.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan dalam oleh Grup Kwitang Line Dance sebuah pujian yang berjudul: Menakjubkan Benar. Syair dan lagu anonim, terjemahan Yamuger. Lagu ini menyatakan kuasa dan kasih Tuhan Yesus yang menakjubkan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan: Orang buta celik; orang sakit sembuh, orang tuli mendengar, bahkan orang yang dirasuk setan dilepaskan! Sungguh, Yesus Tuhanku yang mulia!
Saudara-saudara, Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk datang kepada Tuhan Yesus dengan iman yang teguh, percaya bahwa Dia adalah Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengubah hidup kita.
Oleh sebab itu bagi Saudara-saudara yang memiliki pergumulan hidup, ingatlah, Tuhan Yesus mencari Saudara! Ia menawarkan kasih dan ketenangan jiwa. Ia mengundang kita semua dengan tangan-Nya yang penuh kasih.
Bersediakah Saudara datang kepada Tuhan Yesus untuk mengalami transformasi hidup yang Ia tawarkan? Bersediakah Saudara meneladaniNya menjadi pembawa kabar baik di dalam keluarga, persekutuan jemaat, dan masyarakat? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Tuhan memberkati!
Mari kita berdoa:
Tuhan Yesus yang Mulia. Kami percaya dan membuka hati untuk Engkau berkarya. Berikanlah kekuatan dan kesembuhan bagi kami yang sakit, lepaskanlah kami dari segala yang jahat. Mampukanlah kami meneladani Engkau menjadi pembawa-pembawa kabar baik. Dalam namaMu, Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM18012024)
TUHAN MENJADI SANDARAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Amsal 3:1-26
Salam sejahtera, semoga kita makin mengagungkan kuasa Tuhan dan menjadikan Tuhan sandaran dalam hidup kita sehingga kita terhindar dari jerat hidup seperti ungkapan dalam Amsal 3:26 Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.
Jerat hidup diantaranya adalah ketika kita mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan diri sendiri, memuji-muji diri sendiri, bermegah pada hal-hal lahiriah dan bukan batiniah (2 Korintus 5:12). Orang yang terkena jerat, adalah orang yang menjauh dari pertimbangan dan kebijaksanaan yang dari Tuhan (Amsal 3:21) dan bersandar pada pengertian sendiri (Amsal 3:5). Memang orang perlu percaya pada diri sendiri tapi percaya kepada Tuhan dengan segenap hati lebih perlu dan sangat penting sekali. Jerat hidup sering muncul ketika kita bosan, lelah, lemah, sakit, putus asa, menghadapi kesulitan yang besar, berduka. Pada saat itu orang bisa tidak tahu apa yang akan dilakukan, orang bisa tidak menguasai diri sendiri, orang bisa melupakan ajaran Tuhan.
Kita perlu bersandar pada Tuhan agar Tuhan meluruskan jalan kita, dan kita tidak menyimpang dari jalanNya, kita berjalan di jalan dengan aman, dan kaki kita tidak akan terantuk, jalan kita penuh bahagia dan sejahtera. Orang yang bersandar pada Tuhan, adalah orang yang berpegang pada Tuhan dan disebut bahagia (Amsal 3:17-18).
Orang yang menaruh kepercayaan pada Tuhan akan merasakan perlindungan dari Tuhan, yang jauh lebih utama dari perlindungan oleh diri sendiri. Tuhanlah yang paling sanggup memberi perlindungan yang baik dari semua serangan, ancaman yang merusak hidup manusia.
Ketika orang bersandar pada Tuhan maka orang akan menggunakan hikmat, pengertian, dan pengetahuan dari Tuhan. Apapun yang terjadi di dunia, orang yang menaruh kepercayaan kepada Tuhan akan selamat. Bahkan, orang tersebut bisa tidur nyenyak ketika orang lain panik dan dalam kesulitan (Amsal 3:24).
Kita bersandar pada Tuhan berarti kita berjalan dalam takut akan Tuhan dengan hikmat, pengertian, dan pengetahuan dari Tuhan, yang memberi manusia ketentraman yang besar dan perlindungan (Amsal 14:26). Takut akan Tuhan adalah sumber kehidupan, yang membuat orang terhindar dari jerat yang mematikan hidup manusia. Orang yang takut akan Tuhan, tidak menganggap diri sendiri bijak, tidak mengagungkan diri sendiri dan selalu menjauhi kejahatan. Takut akan Tuhan akan menyembuhkan dan menyegarkan hidup kita.
Apapun kesulitan atau ancaman yang menghadang hidup kita, maka kita bersandar pada Tuhan dengan yakin Tuhan akan melepaskan dan menyelamatkan kita. Kita tidak perlu putus asa, tapi percaya, maju terus dengan iman pada Tuhan segenap hati. Kita melakukan apa yang perlu kita lakukan, lalu pergi tidur dengan nyenyak. Kita tidak putus asa, ketika kita percaya melihat kebaikan Tuhan, kita menantikan Tuhan dengan tabah dan Tuhan menguatkan hati kita. Kita belajar dari Tuhan yang menghadapi penderitaan berat di salib, tapi masih bisa menikmati makan perjamuan bersama dan melayani orang lain, hanya beberapa jam sebelum pengkhianatan dan penyaliban. Yesus berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita dan tidak akan mengabaikan kita (Ibrani. 13:5). Kita dengan yakin dan berani berkata bahwa Tuhan adalah penolong kita. Kita tidak akan takut, dengan apa yang akan dilakukan manusia terhadap kita. Tuhan penolong kita maka Ia memberikan sukacita yang besar, memberi ketentraman, sehingga kita bisa membaringkan diri dengan damai dan tidur (Mazmur 4:9).
Orang yang bersandar pada Tuhan adalah orang yang mempercayai Tuhan, yakin pada Tuhan memberi keamanan dan ketentraman dan melindungi dari ancaman dan bahaya. Tuhan memelihara, menyertai orang yang memegang hikmat Tuhan dan memuliakan dan mengagungkan Tuhan dengan mempersembahkan hidup dan materi.
Orang bersandar pada Tuhan tidak menolak didikan Tuhan, dan tidak bosan dengan ajaran dan peringatan Tuhan (Amsal 3:11). Tuhan memberikan ajaran kepada orang yang dikasihi Tuhan, seperti orangtua yang sayang pada anaknya akan memberikan ajaran yang benar pada anaknya. Orang yang menerima ajaran Tuhan adalah orang yang berbahagia, karena memperoleh kepandaian dari Tuhan, dan merasa beruntung, lebih beruntung dari mendapat emas. Orang yang tidak bersandar pada Tuhan, tidak suka dan cepat bosan mendengar ajaran Tuhan, hanya mau ikut pendapat dan kesenangan sendiri dan ikut pendapat orang yang disenangi saja.
Orang yang menerima ajaran Tuhan dengan sukacita maka Tuhan akan menolong dalam masa kesusahan, kesulitan, dan bahaya; dan akan menjaga kita, melepaskan kita dalam jerat dosa, godaan, dan kenakalan.
Orang yang bersandar pada Tuhan adalah orang yang mengarahkan dan menyerahkan hidup kepada Tuhan karena hanya Tuhan yang sangat berkuasa, telah menjadikan langit dan bumi serta memberi hidup kepada semuanya (Nehemia 9:6).
Orang yang bersandar pada Tuhan akan berdoa kepada Allah, berseru kepada-Nya dengan suara nyaring, memohon pengampunan atas dosa-dosa dan perkenanan Allah pada mereka. Mereka memuji Allah, dengan tujuan yaitu memberi kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya. Pemujaan dilakukan dengan penuh rasa gentar kepada Allah, yang sempurna dan mulia, dan sumber dari segala yang ada.
Tuhan dipuji sebagai satu-satunya Allah yang hidup dan benar, orang bergantung pada Allah sendiri, dan tidak bergantung pada siapa pun. Sebab Allah sebagai pencipta segala sesuatu. Dalam Pengakuan Iman Rasuli, kita percaya dan memuji Allah Bapa pencipta langit dam bumi, sebagai pelindung, pemelihara yang agung atas seluruh ciptaan. Apa yang telah dijadikan Allah akan dipelihara oleh-Nya, dan apa yang diperbuat-Nya, dikerjakan dengan berhasil. Nama Allah ditinggikan, diagungkan sebagai pengakuan yang penuh syukur atas kebaikan-kebaikan Allah. Kita harus memanfaatkan segala kesempatan untuk menyebutkan kasih setia Tuhan, dan mengucap syukur dalam setiap doa dan hidup kita.
Kita berpegang teguh dalam badai hidup kita dan terus bersandar pada Yesus, karena Yesus harapan hidup kita seperti ungkapan NKB 123 ayat 1 Dalam badai hidupku Yesus ‘ku pegang teguh. Walau imanku lemah, ‘ku bersandar padaNya. Reff Yesuslah harapanku tiap saat hidupku; Apa jua menerpa, ‘ku bersandar padaNya. Amin
Berdoa :
Ya Tuhan biarlah kami semakin mengagungkan kuasa Tuhan dan menjadikan Tuhan sandaran dalam hidup kita sehingga kita terhindar dari jerat hidup dalam nama Yesus kami berdoa. amin
MENJADI ORANG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Kejadian 2:16-17,
Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.”
Di kebun binatang, semua binatang dan hewan dibatasi tempat mereka, ada kandang gajah, harimau, burung, ular, dst. Binatang-binatang itu dipelihara, cukup makan dan minum, kadang yang dibersihkan. Walaupun dikurung sifatnya sebagai binatang tetap melekat pada dirinya. Satu waktu di kandang singa pengasuh binatang itu lupa menutup pintu, setelah dia memberi makan, singa itu melewati pintu dan menyerang pengasuhnya itu seperti menyerang mangsa di alam bebas. Untung singa itu bisa dilumpuhkan dan pengasuhnya itu luka parah dan beruntung dia selamat.
Adam dan Hawa di tempatkan dalam taman Eden, itulah“kandang” mereka untuk menikmati hidup, cukup makan dan minum. Kandang itu ada batas atau pagarnya namun mereka adalah manusia, itulah sebabnya taman itu secara fisik tidak dipagar. Sebagai tanda bahwa mereka adalah manusia, pagar itu dalam bentuk “peraturan,” yaitu mereka boleh makan semua buah pohon dalam taman itu, kecuali buah satu pohon yang diberi Tuhan namanya“pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat.”Keberadaan pohon itu sama dengan pohon yang lain, hanya diberi pagar berupa aturan yang sederhana dan gampang mentaatinya, yaitu tidak memakan buah pohon itu, atau dilarang memakan buah pohon itu. Mengikuti aturan itu, atau taat pada peraturan itu yang merupakan firman Tuhan yang sangat penting, bila dilanggar akan beresiko fatal. Aturan inilah yang membuat manusia itu MENJADI ORANG, bukan hewan, aturan itu menjadikan manusia itu MENJADI ORANG bijaksana, tetapi aturan itu kalau dilanggar MENJADIKAN ORANG jahat dan hukuman akan menimpa dia.
Dalam kehidupan berlalu lintas di jalan umum ada rambu-rambu jalan yang melarang masuk, yang harus ikut jalan yang ditunjuk dan yang menyuruh pemakai jalan berhati-hati atau waspada, rambu ini disampaikan juga dengan warna, merah merupakan larangan, kuning sebagai peringatan dan hijau harus jalan. Selain itu ada petunjuk jalan, seperti “Cirebon 245 km,” maksudnya jalan itu arah ke Cirebon dan jaraknya 245 km. Sebagai anak Tuhan, yang percaya dan menerima Yesus Kristus, hidup ini merupakan suatu perjalanan dengan tujuan yang jelas yaitu Kerajaan Surga. Hidup ini perjalanan iman yang terang dan jelas, sesuai dengan firman Tuhan Yesus, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Sebagai jalan dengan tujuan yang jelas, maka ada rambu-rambu dan marka jalan, hampir sama dengan tiga warna tadi, yaitu larangan, kewajiban dan tanda waspada. Rambu ini bukan suatu beban, atau kekang yang membatasi gerak, tetapi justru membuat jalan kita lancar, menyenangkan dalam sukacita dan tujuan yang pasti. Namun tidak sedikit orang yang telah berjalan di “jalan itu,” yang melanggar rambu, tidak mengikuti marka jalan, berbelok kearah lain dan tentu dibutuhkan penyadaran kembali agar selagi ada kesempatan dia kembali kejalan itu, maka rambu dan marka akan menuntun dia. Tidak berlebihan kalau kita menyamakan posisi hidup kita seperi Adam dan Hawa di taman Eden, yang harus taat firman Tuhan.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Coba dicari aturan dalam firman Tuhan yang menjadi beban berat bagi Anda.
- Aturan mana dalam firman Tuhan yang paling sering Anda langgar?
- Sejauh mana Anda MENJADI ORANG bijaksana?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, kami hadir dalam hidup ini yang adalah suatu perjalanan dengan tujuan yang pasti, Kerajaan Sorga, dalam kelemahan kami firman Tuhan menuntun kami. Ada kalanya firman Tuhan menempatkan kami dalam kesukaran dan penderitaan, namun semua itu untuk memurnikan iman kami. Roh Kudus menolong kami agar kami tidak sesat, dalam Krsitus kami berdoa.
Amin. [AS150124]
CIKINI-GONDANGDIA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Lukas 6:41-42 – TB2
“Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? … Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, setelah itu akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Salah satu hal yang paling membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah kemampuanya berpikir. Dengan kemampuan ini, maka manusia bisa memilih dan menilai segala sesuatu serta membentuk moral dan etika sehingga menjadikan manusia sebagai makhluk yang beradab. Hanya saja, bagaimana kita dapat menggunakan kemampuan berpikir itu secara kreatif dan kritis agar terhindar dari sikap sekedar ikut arus?
Sebagai contoh, ketika ada sebuah berita yang didengarnya, apakah seseorang akan menerima dan memercayai berita itu begitu saja sebagai sebuah kebenaran atau mengonfirmasi kebenaran berita tersebut? Adakalanya orang bersikap hanya sekedar mengikuti padangan orang lain di sekitar atau sekedar mengikuti kebiasaan umum yang sedang tren. Karena hanya ikut-ikutan, maka seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Padahal berpikir kritis terhadap hal-hal; seperti: berita, pandangan, ajaran, sikap, bahkan isi khotbah sekalipun; sangatlah diperlukan supaya tidak mudah terjebak pada asumsi, penilaian yang subjektif atau sikap mudah untuk menghakimi orang lain.
Apakah berpikir kritis itu? John Dewey – seorang pakar pendidikan – mendefinisikan ‘berpikir kritis’ sebagai “proses aktif”. Maksudnya adalah proses dimana seseorang memikirkan pelbagai hal secara lebih mendalam, mengajukan berbagai pertanyaan dan menemukan informasi yang relevan bagi dirinya. Berpikir kritis merupakan kontras dari “proses pasif” di mana seseorang hanya menerima begitu saja gagasan-gagasan dan / atau informasi dari orang lain.
Lantas apa bedanya dengan berpikir negatif? Kalau berpikir negatif, maka seseorang akan cenderung selalu mencurigai sesuatu, dengan mencari apa yang salah. Setelah menemukannya, kemudian mengangkatnya ke permukaan. Jadi jelas di sini bahwa berpikir kritis sangat berbeda dengan berpikir negatif. Berpikir kritis tidak untuk saling menyerang dan menjatuhkan atau menganggap diri sendiri paling benar, melainkan saling memperhatikan dan menopang di dalam kasih demi kebaikan bersama.
Berpikir kritis itu mesti dimulai dengan berani mengritisi diri sendiri dahulu. Tuhan Yesus pernah mengatakan, “Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? … Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, setelah itu akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu”. Sebelum kita berpikir kritis untuk orang lain memang lebih baik kita berpikir kritis untuk diri sendiri terlebih dahulu.
Oke, kita akan menguji apakah kita menggunakan proses aktif atau pasif di dalam berpikir. Mari kita mencobanya. “Dari Cikini ke Gondangdia (cakep), naik bajaj bayar sejuta (cakep)”. Lho..lho..lho… mengapa Anda masih merespon dengan mengatakan ‘cakep!’, padahal itu adalah kasus pemalakan. Saya itu dirampok! Masa dari Cikini ke Gondangdia mesti bayar sejuta? Ha..ha..ha.. Mari kita berpikir kritis. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati!
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar mampu berpikir kritis sehingga tidak terjebak pada asumsi, sikap menghakimi atau subyektifitas. Kiranya Roh Kudus menolong kami agar dapat mengkritisi diri kami sendiri. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
