harian
TUHAN TELAH MELAKUKAN PERKARA BESAR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 126:1-6
Salam sejahtera, semoga kita bersukacita, bersorak sorai, mulut penuh tawa, karena Tuhan telah melakukan perkara besar seperti ungkapan dalam Mazmur 126:2 Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”
Ketika kita merenungkan bahwa Tuhan telah melakukan perkara atau perbuatan yang besar bagi pribadi kita, bagi keluarga, bagi gereja, bagi masyarakat kita, maka kita bisa bersukacita. Kalau orang tidak mengingat perbuatan Tuhan yang besar, maka hidupnya datar saja, tidak ada sukacita.
Menurut Mazmur 126 ini, perbuatan Tuhan yang besar adalah tindakan pemulihan. Kita diajak untuk merenungkan perbuatan Tuhan yang besar, pemulihan yang Tuhan lakukan, bukan melihat perbuatan besar diri kita, keluarga, gereja kita. Kalau orang hanya merenungkan perbuatan besar yang dilakukan diri sendiri, keluarga, gereja sendiri, maka orang ini bersukacita jika ada yang memuji dirinya. Jika tidak ada yang memuji maka orang tersebut tidak bersukacita. Seorang ayah, ibu, teman kerja, ketua program bisa mengatakan karena dirinya maka pekerjaan besar ini bisa terjadi. Ketika orang yang menghayati dirinya yang telah melakukan perbuatan besar, bukan Tuhan yang melakukan perbuatan besar, maka orang ini jarang bersukacita, karena tidak ada orang yang setiap hari memuji dirinya. Ada orang lebih sering mencari kesalahan, kekurangan orang lain. Seorang ketua program, hidupnya menjadi tertekan, karena bukan pujian yang didapatkan tapi penghakiman, dicari-cari kesalahan dirinya. Kita belajar dari Mazmur 126, yang perlu kita renungankan bahwa Allah telah melakukan perbuatan yang besar, Tuhan sudah melakukan pemulihan dalam diri pribadi, keluarga, gereja dan masyarakat kita, maka kita bersukacita, ada semangat, mau melanjutkan pelayanan, bukan mundur dari pelayanan, ketika ada yang menghakimi.
Pemulihan dari Tuhan seperti Tuhan memulihkan keadaan Sion. Pemulihan itu adalah pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Babel. Bertahun-tahun pintu gerbang Babel tertutup bagi bangsa Israel yang di dalam perbudakan. Setelah raja Koresy berkuasa, maka Tuhan membukakan pintu gerbang Babel dan bangsa Israel bebas, bisa berjalan menuju Yerusalem.
Pemulihan pada masa kini adalah pembebasan dari perbudakan dosa, perbudakan ketakutan, kekuatiran penindasan, yang menutup pintu gerbang kebahagiaan, kedamaian, dan keadilan. Hanya Tuhan yang bisa membukakan pintu gerbang yang tertutup tersebut dan kita berjalan menuju Kerajaan Allah, kerajaan penuh bahagia, bersorak sorai, damai, adil, benar, aman. Ini semua karena perbuatan Allah yang besar dan telah dilakukannya terhadap kita.
Setelah bebas dan sampai di Yerusalem, ternyata kota Yerusalem sudah hancur, tembok kota hancur, bait Allah hancur. Orang Israel yang sudah dibebaskan, terus berdoa pada Tuhan agar Yerusalem dipulihkan, bait Allah dan tembok kota dibangun lagi. Orang yang dalam perbudakan hidup menderita, kerja keras, tidak punya uang yang disimpan, tapi mereka setia mengikuti kehendak Tuhan dan selalu berdoa pada Tuhan. Mereka tidak sanggup membangun tembok dan bait Allah yang hancur. Tuhan melakukan perbuatan yang besar, sehingga tembok dan bait Allah bisa dibangun. Cara Tuhan melakukan perbuatan yang besar adalah menggerakan raja Koresy, agar mendorong bangsa-bangsa lain membantu proses pembangunan tembok dan bait Allah di Yerusalem. Raja Koresy bukan orang yang percaya Tuhan, tapi Tuhan bisa melakukan perbuatan besar dengan menggerakkan siapapun yang Tuhan pilih.
Kita sebagai orang Kristen yang setia pada Tuhan, dalam penderitaan, kesulitan, kesusahan, apapun, baik di rumah, di gereja, di tempat kerja, kita tetap menghayati bahwa Tuhan mampu melakukan perbuatan yang besar, Tuhan mampu memulihkan keadaan kita. Dengan penghayatan seperti ini Tuhan akan memberikan sukacita ketika melayani di rumah, di gereja, di masyarakat.
Pemulihan Tuhan yang utama bukan bangunan fisik tapi pemulihan hati jiwa pikiran menjadi umat yang bebas, iman yang murni, setia pada Tuhan, mengalami kasih Tuhan, bersukacita, bersemangat. Setelah dibebaskan bangsa Israel berjalan bersama-sama menuju kota Yerusalem, kota suci. Perjalanan ini disebut ziarah, yang dilakukan dengan berarak-arak, bersama-sama, tidak sendirian, tidak egois, tidak individualis. Kita masa kini juga dalam ziarah menuju Kerajaan Allah, kita melayani bersama-sama, tidak sendiri. Ketika ada penderitaan, kesulitan, kita tetap memuji Tuhan bahwa Tuhan telah melakukan perbuatan yang besar. Ketika kita kesulitan keuangan, kita tetap mengimani Allah mampu melakukan perbuatan yang besar, kita tetap bersukacita, bersemangat. Cara Tuhan melakukan perbuatan yang besar tidak dapat kita pikirkan. Kita hanya mengimani Tuhan melakukan perbuatan yang besar.
Kita yakin Tuhan melakukan perbuatan yang besar, tapi kita tetap bekerja, kita tetap menabur benih dengan menderita sambil menangis. Setelah bekerja kita akan menuai panen, dengan bersorak sorai, seperti Yusuf menabur benih kebaikan, kerajinan ketekunan, keuletan di rumah Potifar dan di penjara, dan akhirnya Yusuf menuai panen dengan sorak sorai. Yusuf percaya Tuhan mampu melakukan perbuatan besar, tapi tetap tekun bekerja walau menderita, susah dalam menjadi budak. Kita belajar seperti Yusuf, walau menderita, susah dalam bekerja sebagai budak, ia tidak putus asa, ia terus bekerja, bertanggungjawab, sampai Tuhan melakukan perbuatan yang besar, yang ajaib dan tidak bisa diduga manusia. Tangisan, penderitaan tidak membuat orang beriman, berhenti bekerja, berhenti melayani, berhenti menabur benih, kita terus menabur sambil menangis, sampai menghasilkan panen dengan bersukacita.
Yesus terus menabur benih dengan penderitaan dan air mata, dihina, disalib. Dengan perbuatan Allah yang besar, Yesus menuai kebangkitan dan murid-murid juga bangkit, menjadi berani, memberitakan Injil, walau mereka mengalami derita, di penjara. Mereka terus menabur benih sambil menangis, sampai Tuhan melakukan perbuatan besar, memberi hasil panen yang membawa sukacita. Seorang ibu terus menabur benih yang baik bagi anak-anaknya, seorang pelayan gereja terus menabur benih kebaikan, kebenaran sampai Tuhan melakukan perbuatan besar dan menghasilkan panen yang membuat sukacita. Mari kita memuji perbuatan Tuhan dan memberitakan perbuatan Tuhan serta firmanNya seperti ungkapan dalam KJ 391 ayat 4 Reff: Puji Tuhan, haleluya! Puji Tuhan, haleluya, kini dan selamanya! Amin. Sampaikanlah firmanNya di mana-mana pun, serta perbuatanNya teruskan bertekun! Reff
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami semakin bersukacita, karena Tuhan telah melakukan perkara besar, Tuhan memulihkan kami. Kami terus menabur benih yang baik, walau ada penderitaan, karena kami percaya Tuhan mampu melakukan perbuatan besar, dalam nama Yesus kami berdoa amin
TIDAK ADA TINGGAL KELAS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Ulangan 28:1, 13,
Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. (13), Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu yang kusampaikan pada hari ini …
Undang-undang Diknas, terlihat peserta didik di SD, tidak lagi ada murid yang disebut tinggal kelas. Karena itu guru harus kerja keras agar murid bisa berkembang mencapai prestasi sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan murid. Setiap sekolah dipantau oleh instasi atasannya, memonitor apa saja kesulitan sekolah itu menyampaikan pelajaran kepada murid. Saya mohon maaf kalau pantauan saya ini keliru, tetapi saya hendak mengangkat satu pokok penting dalam pendidikan dan juga di bidang-bidang kehidupan kita, yaitu TIDAK ADA TINGGAL KELAS, kecuali akan binasa kekal.
Umat Israel sudah berjalan 40 tahun, sejak keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Selama 40 tahun itu umat Israel, bagaikan anak murid dalam bimbingan sang guru yaitu Musa, umat itu terus naik kelas, tidak akan kembali ke landasan, tidak akan tinggal kelas, walau suka-duka yang mereka alami dan tidak sedikit yang menjadi korban. Mereka tidak akan mengulang kembali, walau ada kegagalan mereka, bersama Musa mereka naik terus. Karena mereka harus naik kelas, maka Musa memberi nasihat yang lebih pas jika disebut sebagai perintah. Bacaan ini di awali dari pasal 28:1, “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN …” kemudian dia sampaikan banyak perintah, firman Tuhan kepada umat Israel. Di dalam perintah itu tertanam janji Tuhan, suatu keadaan dan masa depan yang indah bersama Tuhan. Sebagai contoh nyata, bagaimana Israel mengalahkan bangsa Moab yang memanggil Bielam untuk mengutuk Israel, tetapi mereka gagal, di situ juga ada orang Midian, ada bangsa Amalek, kerajaan Basan, yang semua dipukul Allah untuk kemengan Israel. Maka Tuhan berjanji: “… TUHAN, Allahmu mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi;” “… mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik …” Tetapi ada suatu syarat: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya …”
Menjadi kepala, dan naik terus di hadapan Tuhan adalah dambaan semua orang. Keadaan ini disebut juga “bukan menjadi ekor,” dan “bukan turun,” tema kita ingin menegaskan: Tidak ada yang tinggal kelas. Tinggal kelas di sekolah, akan mengalami kerugian besar, waktu, biaya dan moril (harga diri). Demikian kita renungkan untuk perjalanan iman mengikut Kristus, ada pasang surutnya, ada keterbatasan kemampuan, dengan semua keadaan kita maju menjadi kepala, bukan ekor, naik terus tidak akan turun. Janji Tuhan ini didasarkan dalam landasan: “… apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu yang kusampaikan pada hari ini …” Dengan ketetapan ini, maka tidak ada yang tinggal kelas, kecuali binasa total.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Menurut Anda apakah Tuhan mengangkat Anda sebagai kepala dan bukan ekor.
- Dapatkah Anda sebut akhir pengangkatan Anda sebagai kepala itu?
- Apa yang harus dilakukan agar pengangkatan sebagai kepala akan terjadi?
Mari berdoa:
Bapa sorgawi, janji Bapa indah dan agung menjadi harapan dalam hidup ini. Oleh Kristus kami telah dibebaskan dari perhambaan dosa menjadi hamba Allah yang mengangkat kami menjadi kepala mengendalikan dan memimpin hidup kami melakukan kehendak dan firman Tuhan, itulah makna sesungguhnya kehidupan kami. Roh Kudus menolong kami, dalam Kristus kami mohon. Amin.
[AS041223]
ADA DRAMA DI DALAM RAGA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Korintus 12:26-28 – TB2
“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Allah telah menetapkan dalam gereja: pertama para rasul, kedua para nabi, ketiga para pengajar; selanjutnya mereka yang berkarunia untuk membuat mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berbicara dalam berbagai jenis bahasa lidah”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, suatu kali, terjadilah drama perdebatan di antara anggota-anggota tubuh. Mata menyampaikan protes kepada tangan. Mata mengatakan, “akulah yang selalu melihat makanan tetapi aku sama sekali tidak pernah mengambilnya. Aku protes kepada tangan yang berani mengambil makanan yang aku lihat”. Mendengar hal itu, tangan berteriak, ”sembarangan saja kamu mata! Memang akulah yang mengambil makanan yang kau lihat tetapi aku tidak pernah mengecap rasanya. Lihatlah si mulut, dialah yang menikmati makanan yang aku ambil. Jadi mata, jangan engkau protes terhadapku tetapi proteslah kepada mulut itu!”
Mendengar dirinya disebut-sebut, mulut menyambung, ”ada apa ini, ribut-ribut. Apa kalian tidak tahu aku sedang beristirahat!” Mata segera menyahut, ”Hai mulut, enak-enakan kamu istirahat. Tahukah kamu bahwa kamu ini adalah organ tubuh yang paling tidak tahu diri?” Mendengar apa yang dikatakan oleh mata, maka mulut menyahut dengan sengit, ”sembarangan saja kamu mengatakan bahwa aku tidak tahu diri! Memang, apa yang aku lakukan?” Tangan pun menyahut, ”Nah, itulah keegoisanmu! Masih saja tidak merasa bersalah! Kamu itu selalu makan apa yang dilihat oleh mata dan yang aku pegang. Kamu menikmati yang enak sementara mata dan aku yang berjuang untuk melihat dan mengambilnya!” Mulutpun menyahut dengan sengit, ”Oooo, urusan makanan, toh! Eh kalian berdua perhatikan baik-baik! Aku memang yang mengunyah dan merasakan makanan itu, tetapi tengoklah yang menikmati itu bukan aku, tetapi perut! Kalian perhatikan saja, bahwa aku ini seperti kalian. Aku yang mengunyah tetapi perutlah yang menikmati!” Mata menyahut, ”ooo, jadi selama ini kamulah yang selalu mengambil untung dari kami, hai perut…! Ternyata kamulah yang paling egois, selalu mengambil keuntungan dari kami!”
”Lho, kok aku? Dengar dulu penjelasanku. Kalian tidak mengerti apa yang sedang kalian percakapkan itu. Kalian salah menilai aku,” begitu sahut perut mengiba. ”Tidak bisa!” timpal mulut, ”aku sudah terhina oleh ucapan mata dan tangan, maka mulai saat ini aku akan tutup mulut. Aku tidak akan mau makan dan mengunyah lagi!” Mata dan tangan juga sepakat untuk tidak mau melihat dan tidak mau mengambil makanan.
”Hai mulut, pikirkan kembali keputusmu itu! Bila kamu tidak mengunyah makanan, aku akan sakit sekali dan semua organ tubuh juga akan merasakan akibatnya, please!” pinta perut kepada mulut. ”Tidak peduli, toh yang sakit itu kamu bukan aku. Terserah aku!”, demikian sahut mulut dengan ketus. Sejak saat itu, mulut melakukan aksi tutup mulut.
Setengah hari sudah lewat, perut mulai merintih, ”aduh, sakit dan perih. Mata lihatlah di sekitarmu adakah makanan di sana, tangan ambilah sesuatu yang bisa dimakan dan engkau, mulut, membuka dan kunyahlah makanan.” Mata, tangan dan mulut pun menyahut bersamaan, ”Tidak mau!” Sehari telah lewat, perut makin merintih-rintih karena perih dan sakit. Perut tetap mengiba tetapi mata, tangan dan mulut tetap diam. Tiba-tiba terdengar suara kaki, ”aku merasa lemas, susah bergerak!” Sesaat kemudian, otak pun berseru, ”oi… aku tidak bisa berpikir!” Mata juga berbisik kepada tangan, ”aku juga merasa selalu ngantuk, lemas!” Tangan menyahut, ”aku juga lemas enggak bisa pegang apa-apa”. Ternyata mulut juga berkomentar, ”lidahku kok, jadi pahit, ya?” Namun, hidung berteriak kepada mulut, ”Hoi mulut, jangan dibuka lebar-lebar! Engkau berbau sekali!”
Dengan suara pelan dan menahan sakit, perut bersuara, ”teman-teman, inilah akibatnya jika mulut tidak mau makan. Aku sudah berusaha menjelaskan, tetapi kalian tidak mau dengar. Memang benar bahwa mata yang melihat makanan, tangan yang mengambil, mulut yang mengunyah dan aku yang mengolahnya. Namun, aku tidak menikmatinya bagi diriku sendiri. Melalui usus halus, aku menyerap sari-sari makanan dan melalui aliran darah hasil olahan itu dibawa ke seluruh organ agar menjadi tenaga, termasuk untuk kalian juga”.
Saudaraku, untung itu semua hanya mimpi karena rupanya saya terlalu menghayati perkataan Paulus, “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Allah telah menetapkan dalam gereja: pertama para rasul, kedua para nabi, ketiga para pengajar; selanjutnya mereka yang berkarunia untuk membuat mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berbicara dalam berbagai jenis bahasa lidah”. Setiap orang tentu memiliki talenta masing-masing. Mari kita menghargai perbedaan talenta yang ada dan membangun kerjasama agar persekutuan semakin erat. Tidak perlu ada drama dengan tema iri dan dengki karena orang lain bisa berbuat lebih dibanding diri kita. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, tolonglah kami agar dapat melihat setiap talenta yang ada dengan jujur dan benar, sehingga mampu membangun sinergi dengan orang-orang lain. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Di dalam Nama Tuhan Yesus kami sudah berdoa. Amin.
MENGHIDUPI KASIH KRISTUS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 25:35-36 (TB 2)
”Sebab, ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makanan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Anja Ringgren Loven, seorang aktivis asal Denmark pernah menjadi perbincangan publik setelah mengunggah foto bersama seorang anak yang diberinya nama Hope. Foto itu menggambarkan suatu potret Hope yang terlihat kurus kering sedang diberi minum oleh Loven. Hope adalah anak dari Nigeria yang dituduh memiliki ilmu hitam oleh masyarakat setempat sehingga dibuang oleh orang tuanya dan dikucilkan hingga mengalami kelaparan dan gizi buruk.
Tidak berhenti di situ, menurut kesaksian Loven dalam unggahannya, ia sering melihat anak-anak lain disiksa sampai mengalami kematian. Ia berupaya untuk merawat dan memperjuangkan kehidupan Hope. Menurut berita yang banyak ditulis di internet, Hope pun akhirnya mendapat kehidupan yang layak, ia bisa mendapatkan hak untuk bersekolah dan bertumbuh menjadi anak yang sehat.
Semangat Loven dalam memberikan pengharapan bagi kehidupan menjadi poin penting dalam perikop kita saat ini. Yesus memberi gambaran akhir zaman, dimana terjadi penghakiman. Mereka yang benar dan yang jahat akan dipisahkan seperti domba dan kambing. Domba adalah orang yang melakukan kebaikan dan berpihak pada orang-orang yang menderita. Sedangkan kambing adalah orang yang tidak melakukan kebaikan dan tidak peduli dengan sesamanya yang menderita. Orang yang tidak melakukan perbuatan baik, mereka akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar akan hidup kekal. Dalam hal ini, Yesus menunjukkan keberpihakan-Nya kepada mereka yang paling hina. Ia membawa pembebasan dan pengharapan melalui dimensi kemanusiaan sebagai jalan kemesiasan-Nya.
Kita pun dipersiapkan untuk melakukan dan menghidupi kasih Kristus secara total. Hal ini yang akan membawa kelegaan bagi kehidupan yang penuh dengan wajah derita. Hal ini merupakan panggilan bagi setiap kita yang mau terlibat untuk menghadapi segala wajah kehidupan, khususnya penderitaan. Semangat Loven untuk memberi harapan bagi kehidupan kiranya menjadi semangat kita pula. Kita lakukan melalui hal kecil dalam keseharian, dengan hadir memberi semangat, dukungan serta pertolongan bagi mereka yang mengalami kesulitan. Mari terus belajar memberi diri untuk mencurahkan kepedulian, seperti halnya wajah kasih Kristus yang berlaku bagi seluruh kehidupan.
MARI SEMUA, MARI SEMBAH TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Mari semua mari sembah Tuhan.” dengan dasar dari Kitab Mazmur 95:1-3, 6-7 “Marilah kita bersorak- sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. Marilah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar di atas segala ilah. Ay. 6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita , dan kitalah umat gembalaan-Nya, kawanan domba tuntunan tangan-Nya.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Mazmur ini dipakai oleh umat Tuhan sebagai nyanyian arak-arakan. Umat mengajak semua orang untuk memuji Allah. Semua orang diajak untuk datang menyembah TUHAN dengan penuh sukacita dan sorak sorai. Datang ke hadapan Tuhan dengan nyanyian syukur. Mengapa? Karena Tuhan adalah Allah yang besar dan Pencipta. TUHAN adalah Raja yang besar di atas segala ilah.
Tahukah Saudara, bahwa Raja yang besar di atas segala ilah itu adalah Tuhan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita? Dia adalah Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan (1Tim. 6:15). Itulah sebabnya Minggu ini disebut Minggu Kristus Raja! Gereja mengakhiri Tahun Liturgi dengan pengakuan bahwa Kristus adalah Raja atas alam semesta. PemerintahanNya adalah kekal selama-lamanya.
Kristus adalah Raja yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Kristus dalam kemuliaanNya, akan memisahkan kambing dan domba. Kristus adalah Gembala yang akan menggembalakan domba-dombaNya dalam hidup yang kekal.
Dalam mazmur ini kemudian Tuhan sendiri berfirman memperingatkan umat agar bersedia mendengar dan taat perintah-perintahNya. Jangan mencontoh nenek moyang mereka yang durhaka di padang gurun dahulu.
Bagaimana dengan Saudara? Untuk itu, marilah kita semua yang bernafas memuji dan menyembah Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dikumandangkan dengan penuh semangat dalam kebaktian di GKI Kwitang sebuah lagu pujian yang berjudul: “Mari semua Mari sembah Tuhan.” Syair dan lagu: Uyaimose dan Alexander Gondo . Terjemahan Yamuger . Syair pujian sungguh indah berdasarkan Mazmur ini dan mengajak semua orang untuk sujud menyembah Tuhan. Tuhan layak dipuji dan disembah, karena Dialah Allah kita, Dialah yang menjadikan kita. Kita telah diselamatkan dan dijadikan umat yang digembalakanNya dengan penuh kasih. Kita adalah kawanan domba tuntunan TanganNya.
Tuhan Yesus Sang Raja telah mengajarkan kepada kita untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Bersediakah Saudara-saudara dan keluarga, selagi kita masih dapat bernafas, tetap setia menyembah Tuhan? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa yang di surga, terpujilah NamaMu kekal selama-lamanya. Engkaulah ya Tuhan dan Raja kami. Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Tuntunlah hidup kami hari ini untuk berkarya, memuji, dan memuliakan NamaMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM30112023)
MULAI KERJAKAN WALAU KECIL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan Alkitab: Filipi 3:12-14
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Salam Kasih dalam Kristus, kepada sahabat semua yang terus rindu mendapatkan kekuatan dan kesegaran dalam kehidupan ini.
Bersama saya, Pdt Lindawati Niman dari GKI Kwitang.
Hari ini kita masuki perenungan ke 2 dari rangkaian perenungan berkelanjutan berdasarkan bacaan Firman Tuhan dari Filipi 3:12-14.
Tema-tema perenungan untuk beberapa minggu ini berisi bagaimana kita dapat membangkitkan semangat untuk terus mengisi waktu yang Tuhan berikan, selama kita masih diberi anugerah Nafas dari Tuhan.
Minggu lalu, perenungan Firman Tuhan mengajak kita untuk memiliki dan menghayati tujuan hidup kita, itu membuat kita termotivasi, dan memiliki kekuatan dan semangat dalam mengisi kehidupan ini. Persoalannya adalah: seringkali kita merasa ingin segera selesai atau mendapatkan hasil sempurna sesegera mungkin. Sehingga ingin melakukan hanya pekerjaan yang besar. Sahabat, saya ingin mengatakan bahwa semua yang instan itu biasanya murahan dan tak berkualitas. Bukanlkah Makan Mie instan atau prosesed food lain (yang dibeli di toko itu) tak sehat kan?
Menyadari itu, maka soal memiliki dan mencapai tujuan, kini kita pandang sebagai sebuah dorongan arah dan semangat bagi kita untuk mencapainya dan bersamaan dengan itu juga yang terpenting menghargai kehadiran kita di hari ini, di saat ini.
Jadi untuk memiliki kekuatan dan semangat, setiap kita akan menghargai hari dan saat saat ini, dimana kita mau memilih untuk tetap berenergi mengisinya. Hal ini juga disebut Paulus dengan berlari_untuk mencapai panggilan Sorgawi. Jadi Paulus pun, dengan memiliki tujuan, ia tak melupakan hari/saat ini untuk mengisi nya dengan kekuatan dan semangat yang penuh. Saat ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Kesadaran bahwa kita hadir di saat ini, dengan segala apa yang ada, baik itu adalah pekerjaan atau berkat yang kecil maupun yang besar, disadari sebagai, sesuatu yang berharga membuat kita akan lebih menghargai dan bersemangat dalam _moment yang berharga ini.
Sehubungan bahwa kesempatan ini sangat berharga, dan apa yang adapun menjadi berharga, maka sikap dan perbuatan kita pun menjadi bentuk penghargaan pada apa yang Tuhan telah berikan kepada kita saat ini. Kita kita akan memulai pekerjaan kita dengan apapun yang telah Tuhan berikan itu, yang walaupun kita pandang kecil dan sederhana pada saat ini. Itu semua terjadi karena kita dipenuhi penghargaan kepada Tuhan, maka kita tak akan menunda melakukan pekerjaan untuk mencapai tujuan nya, saat ini. Kita tak perlu menunggu sampai segala yang kita harapkan dan impikan menjadi lengkap dan sempurna dulu untuk mencapai dan memenuhi panggilan demi mencapai tujuan hidup kita. Yang kita lakukan adalah memulai pekerjaan untuk mencapai tujuan. dengan menggunakan segala yang ada yang telah Tuhan berikan, walau itu adalah suatu yang sederhana. Ingatlah kita tak akan pernah sampai ke “Roma” jika tak pernah mengawalinya dengan langkah pertama. Jadi, memiliki tujuan, dilanjutkan dengan melakukan langkah permulaan (= memulai dengan yang sederhana) adalah suatu yang sangat penting. Kita bisa melakukannya dan memulainya!. Filosofi Jepang yang berhubungan dengan hal ini sikenal dengan Kaizen, yakni fokus pada usaha yang kecil setiap hari, daripada melakukan segalanya di 1 (satu) hari.
Nah, kiranya setiap hari kita dapat menghagai segala kasih karunia Tuhan _saat ini, lalu bersukacita, karena Tuhan masih memberi kita nafas dan juga kesempatan untuk memenuhi panggilanNya dengan Sukacita dan bersemangat ya…
Ingatlah, Roh Kudus menyertai mu selalu (LiN-RH, Rabu, 29-11-2023)
RAJA KEMULIAAN JAYA DAN PERKASA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 2
Bacaan: Mazmur 24: 1-10
Salam sejahtera, semoga kita makin mampu mengagungkan Raja Kemuliaan, dengan tunduk dan rela menjalankan perintahNya. Kita membuka hati kita untuk menerima Raja Kemulian yang jaya, gagah dan perkasa, secara pribadi dan dalam persekutuan jemaat, sehingga pintu surga dibukakan bagi kita oleh Raja Kemuliaan, seperti ungkapan dalam Mazmur 24: 7-8 Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!”
Puji-pujian Mazmur 24 ini, menunjuk kepada Mesias, Raja Kemuliaan, Tuhan Yesus. Kita mempersiapkan diri menanti kedatangan Raja Kemuliaan dengan terus berdoa agar Raja Kemuliaan dan Kerajaan Allah segera datang, karena waktunya sudah dekat. Kita bertobat dan hidup sesuai dengan Injil. Orang yang bertobat dan hidup sesuai dengan Injil adalah orang yang membuka pintu hatinya, agar Allah hadir dan memerintah hati, jiwa pikiran dan tindakan hidup sehari-hari.
Puji-pujian Mazmur 24 ini, menjelaskan tentang arak-arakan atau prosesi dengan membawa tabut perjanjian Allah, di gereja di simbolkan dengan Alkitab. Sambil berarak-arak memuji Tuhan untuk menyambut Raja Kemuliaan, Yesus Kristus, yang hadir dalam hidup kita dan akan datang pada akhir zaman dalam kemuliaanNya. Orang yang ikut arak-arakan adalah orang yang mau membuka pintu hatinya bagi Raja Kemuliaan. Sambil berarak-arak ada pertanyaan “siapakah Raja Kemuliaan” dan dijawab : “ Tuhan jaya, gagah dan perkasa. Perkasa dalam peperangan, Tuhan semesta alam, pemilik langit dan bumi. Tuhan yang dimuliakan itu mau hadir dalam hidup pribadi dan persekutuan.
Pada hari Minggu, kita menghormati kehadiran Raja Kemuliaan, dengan hadir bersama-sama pada arak-arakan atau prosesi, bukan hadir pada saat pembacaan firman Tuhan. Memang ada orang karena alasan tertentu bisa datang beribadah pada saat pembacaan firman, namun dalam Mazmur 24 ini kita diajak untuk menghormati dan memuliakan Raja Kemuliaan pada saat arak-arakan bersama-sama. Kita datang dalam arak-arakan dengan segenap hati membuka pintu hati kita agar firman Tuhan yang dibaca dan direnungkan bisa kita terima sebagi bukti kita menerima perintah Raja Kemuliaan dan tunduk serta taat pada Raja Kemuliaan. Kita membuka pintu hati, termasuk memberi kepada Tuhan harta milik yang dipinjamkan kepada kita. Sebab Tuhan adalah pemilik sesungguhnya. Sikap mengagungkan dan hormat karena kita mengingat betapa besarnya Allah dengan karya penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, perlindunganNya dan mau memperhatikan umatNya.
Yesus adalah Raja Kemuliaan yang telah menyelesaikan pekerjaan-Nya di bumi, kemudian naik ke sorga dan pintu gerbang sorga terbuka bagi-Nya. Pintu gerbang sorga adalah pintu-pintu yang berabad-abad, yang telah ditutup bagi kita, yang berdosa. Yesus, Juruselamat telah membukakan pintu-pintu surga yang tertutup, dengan cara mencurahkan darah-Nya sebagai penebusan dosa dan kita memperoleh hak untuk masuk ke dalam tempat yang kudus. Pintu surga dibukakan karena Yesus Raja Kemuliaan jaya, gagah dan perkasa telah mengalahkan kuasa iblis yang menguasai manusia. Yesus perkasa dalam peperangan untuk menyelamatkan umat-Nya dan menaklukkan musuh-musuh-Nya dan musuh-musuh umat-Nya.
Raja Kemuliaan adalah raja yang adil, memberi keamanan, perlindungan, damai dan kemakmuran atau sejahtera. Kita harus makin dekat, akrab dengan Raja Kemuliaan. Kita benar-benar menyambut Raja Kemuliaan dalam hati jiwa pikiran dan tindakan kita. Ketika Allah sebagai raja benar-benar tinggal dalam kehidupan umat, maka hidup umat dan pemimpin atau gembala akan mengikuti kehendak Allah, dan janji Allah. Tuhan akan memberikan berkatNya pada umat, memberi keselamatan yaitu aman, damai, adil, benar, makmur atau sejahtera. Allah menjadi raja dalam hidup umat, maka keadilan, kebenaran kita lakukan. Hidup benar dan adil adalah hidup dengan bela rasa, peduli satu sama lain terutama bagi yang membutuhkan. Bila ada keadilan akan ada rasa aman, damai dan kemakmuran (Otto Hentz SJ. Pengharapan Kristen, Kanisius, 2005).
Bagi orang yang menolak, tidak menyambut Raja Kemulian, tidak menghormati, menghina, tidak tunduk pada Raja Kemuliaan maka akan menerima hukuman murka dari Tuhan. Orang ini termasuk dalam kelompok kambing. Mereka akan menerima murka Tuhan dalam penderitaan kekal. Mereka yang menyambut dan menghormati, tunduk pada perintah Raja Kemuliaan masuk dalam kelompok domba, masuk ke Kerajaan Allah.
Orang yang menghormati dan menyambut Raja Kemuliaan adalah orang-orang yang menjaga diri dari semua perbuatan dosa. Mereka bersih tangannya, dan murni hatinya. Orang yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan atau sesuatu yang semu, orang yang tidak bersumpah palsu. Orang yang akan menerima berkat dari Tuhan dan menerima keadilan dari Allah yang menyelamatkan dirinya. Orang-orang yang menanyakan Tuhan dan yang mencari wajah Tuhan.
Orang yang murni hatinya adalah orang yang murni perilaku, tidak munafik, tidak pura-pura baik atau lembut tapi dalam kenyataan kasar, penuh kekerasan. Orang yang murni hati adalah orang yang murni dalam persekutuan dengan Allah, tidak pura-pura bersekutu dengan Allah, tidak ibadah lahiriah saja. Orang yang hatinya penuh penipuan, palsu, maka ucapan dan perbuatan juga penuh tipu dan kepalsuan, seperti calon pemimpin yang janji-janji palsu demi memenangkan suara. Begitu memerintah yang terjadi ketidakadilan, kekerasan, ketidakdamaian, tidak aman, tidak makmur atau tidak sejahtera, rekayasa hukum demi kepentingan pribadi, keluarga, kelompok tertentu, makin banyak nepotisme, kolusi dan korupsi. Orang yang murni hatinya dalam berdoa juga murni untuk mengasihi Tuhan, mengasihi sesama, dan mengasihi diri sendiri, tidak mengikuti nafsu kedagingan seperti serakah, mencari keuntungan diri sendiri, egois, otoriter.
Kita memuji Kristus Raja mulia, yang telah menebus manusia oleh kurban salibNya, mengalahkan kuasa maut dan pintu sorga terbuka bagi kita seperti ungkapan dalam KJ. 5 ayat 4 Kristus, Raja mulia, Putra Bapa yang abadi, Kau tebus manusia oleh kurbanMu di salib. Kuasa maut menyerah, sorga pun terbukalah! amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami mengagungkan Raja Kemuliaan, dengan tunduk dan rela menjalankan perintahNya. Kami membuka hati kami untuk menerima Raja Kemulian yang jaya, gagah dan perkasa, secara pribadi dan dalam persekutuan jemaat, dan pintu surga dibukakan bagi kami oleh Raja Kemuliaan, dalam nama Yesus kami berdoa, amin
KRISTUS RAJA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bahan: Wahyu 19:16,
Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, tiba saatnya kita mengakhiri satu tahun liturgi gerejawi dan akan memasuki tahun kalender baru. Minggu depan kita memasuki masa adven yang mengarahkan kita merayakan hari natal. Karena itu minggu kemarin tgl, 26 Oktober adalah minggu penutupan satu tahun gerejawi. Minggu kemarin merangkum semua pemberitaan firman yang telah disampaikan dengan tema: “Kristus Raja Semesta Semesta Alam.” Dengan demikian kita siap memulai kembali dengan suatu kurikulum baru membangun iman dalam ibadah-ibadah kita yang diawali Minggu depan dengan adven pertama.
Penggambaran dalam kitab Wahyu ini perjuangan Yesus Sang Mesias tidak kecil, itulah yang disampaikan keempat Injil. Oleh kitab Wahyu ini dijelaskan bagaimana Yesus menghadapi raja-raja kegelapan yang berusaha menyingkirkan Sang Mesias, raja-raja kegelapan tidak rela begitu saja meninggalkan dunia dan manusia yang sudah dalam cengkeramannya. Iblis penghulu kuasa kegelapan itu memang demikian sifatnya, yaitu membawa dunia dan manusia ke dalam kebinasaan abadi. Dalam wahyu ini diperlihatkan perjuangan Mesias membebaskan manusia yang dikasihi-Nya agar kembali ke pangkuan Bapa, Sang Khalik. Setahap demi setahap perjuangan yang keras untuk manusia dimenangka-Nya, manusia yang menang oleh Roh Kudus bekerja sehingga di mana-mana kesaksian Kristus itu diterima dan diimani.
Waktu berjalan terus, perjuangan pasti berakhir. Dalam ayat renungan kita ini mengungkapkan akan tiba waktunya Yesus Sang Mesias yang menang menjadi “Raja” segala raja dan “Tuan” segala tuan. Ayat-ayat yang mendahului telah mengungkapkan, perjuangan yang keras, menghadapi tantangan segala kuasa gelap di bumi, namun “Sang Raja” ini juga mempunyai pasukan di sorga, Dia berjuang dengan perjuangan yang adil, dan menghakimi segala bangsa dengan adil. Dengan keadilan inilah membuat segala kuasa dan kerajaan di bumi tidak mampu menghadapi Sang Mesias. Dengan keadilan itulah Sang Mesias memakai jubah bersih yang telah dicelupkan (dicuci) dalam darah yang tak lain darah korban Anak Domba Allah. Dengan perjuangan-Nya Dia memenangkan manusia sehingga Dia berkuasa menjadi Raja segala raja, tetapi Dia juga Hamba segala hamba. Akhirnya Dialah yang menghakimi segala bangsa dengan keadilan yang telah diperjuangkan-Nya. Sebaliknya dengan kemenang ini Sang Mesias juga menghimpun para lawan, mereka ada di bawah gada besi.
Ada baiknya juga kita bercermin dengan kehidupan segala bangsa di dunia ini, khususnya dengan kehidupan masyarakat bangsa dan negara kita. Alangkah agungnya bangsa kita jika “keadilan” menjadi dasar kebersamaan kita, kita mendambakan keadilan sesuai dengan UUD 45, sebagai hasil perjuangan para pahlawan dengan berdarah. Undang-undang ini telah diterima dan yang mampu mempersatukan segala kepelbagaian masyarat, semoga keadilan ini mampu mempersatukan dari Sabang sampai Merauke.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Apakah menjadi perhatian, dan apa artinya bagi Anda kalau Minggu depan kita memasuki Minggu Adven?
- Bagaimana Anda menghayati dan memahami perjuangan Kristus sebagai Raja?
- Seberapa besar bagi Anda bahwa Kristus Raja Alam Semesta?
Mari berdoa:
Bapa yang di Surga, Kerajaan Surga tegak abadi oleh perjuangan Kristus, yang dilanjutkan dengan mengutus Roh Kudus maka manusia berdosa terpanggil ikut masuk ke dalam Kerajaan Surga. Terima kasih, Tuhan Yesus telah berjuang walau darah tercurah menggantikan darah kami manusia berdosa. Semoga kami bertahan di dalam Kristus sampai akhir, untuk menerima mahkota kemenangan bersama Sang Raja abadi. Demi Kristus kami berdoa. Amin, [AS271123]
MONTOR MABUR, MABUR NANG NDUWUR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kolose 1:3-5 – TB2
“Kami senantiasa mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di surga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, ketika masih kecil dahulu, saya dan teman-teman memang tidak pernah melihat montor mabur – alias pesawat terbang – secara langsung. Oleh karena itu bila kami sedang bermin, dan mendengar suara montor mabur di kejauhan, maka kami berlomba untuk segera mencari sumber suaranya. Meski hanya nampak seperti titik kecil di langit, namun kami bangga bisa menemukan montor mabur tadi. Nah, yang paling seru adalah kami segera meneriakkan kalimat yang selalu kami katakan setiap kali melihat montor mabur, yaitu: “montor mabur, mabur nang nduwur, sing ati-ati” (artinya: pesawat terbang, terbang di langit, berhati-hatilah!). Kami akan meneriakkan kalimat tadi sampai montor mabur tadi hilang dari pandangan.
Cerita tadi mungkin terdengar lucu. Namun tanpa sadar ternyata ada nilai-nilai yang saya pelajari dari kebiasaan mengatakan “montor mabur, mabur nang nduwur, sing ati-ati”. Ya, saya belajar untuk peduli dan mendoakan pihak lain, dalam hal ini adalah mengharapkan pesawat terbang itu terbang dengan hati-hati supaya sampai di tujuan dengan selamat. Secara tidak sengaja saya belajar untuk berdoa syafaat bagi pihak lain di luar diri saya. Doa syafaat dimaknai sebagai doa yang bukan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, melainkan untuk mendoakan hal-hal positif dan kebaikan pihak lain.
Saudaraku, di dalam Alkitab, kita dapat melihat banyak contoh praktik berdoa syafaat yang dilakukan oleh para tokoh Alkitab. Salah satunya adalah Rasul Paulus. Rasul Paulus mendoakan orang-orang yang dilayaninya. Meski tidak disebutkan secara spesifik nama-nama orang yang didoakan, namun Paulus mendoakan agar mereka memelihara iman di tengah-tengah tantangan iman yang begitu keras. Orang-orang yang dilayaninya, diberi tempat yang istimewa di dalam hati Paulus. Oleh sebab itulah, Paulus selalu mendoakan pertumhuhan iman mereka. Kepada Jemaat di Kolose, Rasul Paulus mendoakan, “Kami senantiasa mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di surga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil”. Bila Paulus mendoakan Jemaat di Kolose, maka sesungguhnya itu adalah perwujudan cinta kasih dan perhatian yang tulus.
Saya sangat meyakini bahwa bila saya dapat berdiri tegar dan melayani, itu karena doa-doa dari orang-orang yang mengasihi saya, seperti: papa – mama saya, bapak-ibu mertua saya, Bunda dan anak-anak, dan tentunya Anda. Teriakan “montor mabur, mabur nang nduwur, sing ati-ati” kembali mengiang di dalam benak saya, seolah mengingatkan untuk tidak lelah berdoa syafaat bagi pihak lain. Karena di dalam doa syafaat terkandung cinta yang mendalam terhadap mereka yang didoakan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk menjadi pendoa syafaat bagi pihak lain. Kami rindu meneladani enkau yang juga berdoa bagi kami dan bagi dunia ini. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
