harian
UBUNTU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 2
Bacaan: Kisah Rasul 20:35
“Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mungkin kata ‘ubuntu’ ini masih asing di telinga kita. Kata ‘ubuntu’ ini berasal dari salah satu dialek Bantu Afrika. ‘Ubuntu’ merupakan filosofi tradisional Afrika yang menawarkan pemahaman tentang diri kita dalam hubungannya dengan dunia. Menurut Alm. Desmond Tutu – Uskup Gereja Anglikan di Afrika Selatan – ‘ubuntu’ adalah inti dari manusia. ‘Ubuntu’ berbicara tentang fakta bahwa kemanusiaan kita ini saling terkait erat. ‘Ubuntu’ berbicara tentang keutuhan dan kasih sayang. Seseorang dengan ‘ubuntu’ akan menjadi pribadi yang terbuka, ramah, hangat, murah hati, dan bersedia untuk berbagi.
Ada sebuah cerita menarik tentang ‘ubuntu’ ini, sebagai berikut: alkisah seorang antropolog yang sedang melakukan penelitian di Afrika dengan melibatkan sekelompok anak-anak. Ia menempatkan sekeranjang permen di bawah sebuah pohon dan anak-anak itu diminta berdiri 100 meter jaraknya dari keranjang tersebut. Kemudian ia mengatakan bahwa siapa yang dahulu sampai di keranjang itu berhak memiliki seluruh permen yang ada. Sang antropolog pun mulai memberikan aba-aba, “1…2…3…”. Dan apa yang terjadi? Ternyata anak-anak itu berlari bersama menuju keranjang permen sambil bergendengan tangan. Ketika sampai di keranjang, mereka membagi permen itu di antara mereka, masing-masing dengan jumlah yang sama. Ketika antropolog itu menanyakan mengapa mereka melakukan hal itu, anak-anak ini menjawab, ”Ubuntu“. Yang artinya ‘saya ada karena kami ada’. Maksudnya adalah “bagaimana aku bisa bahagia ketika yang lainnya merasa sedih?”
Filosofi ‘ubuntu’ ini mengingatkan kita bahwa berbagi adalah sebuah konsep tentang memberi dan menerima dalam keseimbangan. Orang-orang yang memegang prinsip Ubuntu akan bersikap terbuka dan bersedia membantu orang lain, mendukung yang lain, dan tidak merasa terancam karena mengetahui bahwa mereka termasuk dalam keseluruhan yang lebih besar. Prinsip membantu orang-orang lain – khususnya mereka yang lemah, sesungguhnya merupakan salah satu gaya hidup para pengikut Kristus. Bukankah para pengikut Kristus mesti menunjukkan sikap hidup yang berbeda dan memberi dampak positif. Setidaknya itulah salah satu isi dari pesan-pesan perpisahan Paulus dengan para penatua Jemaat Efesus yang disampaikannya di Miletus. Isi dari pesan perpisahan Paulus ini menceritakan tentang teladan pelayanan yang sudah dilakukan oleh Paulus. Melalui apa yang sudah dilakukannya, Paulus berusaha membangun cara hidup baru di kalangan orang-orang percaya agar mereka dapat merasakan kasih karunia Kristus juga. Paulus mengatakan, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”. Apa yang dikatakan oleh Paulus ini semakin menegaskan bahwa saling menolong merupakan jati diri murid-murid Kristus. Dengan kata lain, tindakan saling membantu dan menolong ini merupakan bukti bahwa kita adalah pengikut Kristus.
Karena setiap kita ini saling terhubung dan saling terkait satu dengan yang lainnya, maka Kita harus berdampak bagi kehidupan. Oleh karena itu mari kita saling membantu dan menolong, dengan demikian kita melakukan kehendak Tuhan Yesus. Bila anak-anak Afrika dapat mewujudkan ‘Ubuntu’, maka tentunya kita pun dapat mewujudkannya. Kiranya dengan pertolongan Tuhan, kita dapat ber-‘ubuntu’ sehingga dapat menjadi pribadi yang terbuka, ramah, hangat, murah hati, dan bersedia untuk berbagi. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kami rindu untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Mu dengan tindakan saling membantu dan bertolongan di antara kami dan sesama. Kami percaya bahwa Roh Kudus akan memampukan kami untuk mewujudkannya. Dengan demikian kiranya Nama-Mu semakin dimuliakan. Terimakasih, Tuhan Yesus. Amin.
Limitless
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih..
Dalam kehidupan nyata sangat lazim jika seseorang mengalami kondisi terburuk dalam hidupnya, lalu dia depresi dan seketika itu juga hidupnya menjadi berantakan. Namun terkadang dengan kehancuran hidupnya, hal itu bisa menjadi salah satu langkah untuk menuju perbaikan. Inilah yang digambarkan dalam sebuah film berjudul “Limitless”, dengan tokoh utama yang bernama Eddie Morra. Pada awalnya, dia diceritakan sebagai penulis yang gagal.
Setiap hari, dia habiskan waktunya untuk minum-minum dan pekerjaan yang tidak tentu arah. Sampai suatu saat dia mendapatkan obat misterius yang mampu menunjang sistem kerja otaknya bahkan mampu mencapai performa terbaiknya. Yang umumnya kemampuan kerja otak hanya bisa optimal pada 20%, obat tersebut mampu menjadikan performanya 100%. Singkat cerita, Eddie pun merasa di atas angin. Dia mampu mempelajari dan melakukan semua hal, dia tidak pernah mengenal lelah dan dia menjadi orang yang benar-benar sukses seketika waktu. Namun, pada bagian akhir film ini diceritakan, bahwa obat yang dikonsumsi oleh Eddie memiliki efek samping, di mana lambat laun obat tersebut akan menggerogoti kekuatan fisik setiap orang yang mengkonsumsinya. Ketidakterbatasan yang dirasakan oleh Eddie tetap ada batasnya.
Pernahkah kita bertanya, kenapa jika Allah menghendaki manusia hidup lebih baik, manusia diciptakan oleh Allah dengan segala macam keterbatasan? Pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang juga ditanyakan oleh Ayub kepada Allah, pada saat dia mengalami penderitaan. Akan tetapi Allah justru tidak memberikan jawaban yang pasti kepada Ayub, apa yang menjadi maksud dan tujuan Ayub menjadi menderita. Allah justru memperlihatkan kepada Ayub, bahwa dia sama sekali tidak mampu menembus keterbatasan hidupnya sebagai seorang manusia yang tidak akan mampu mengerti jalan pikiran Allah. Oleh karena keterbatasannyalah, Ayub mampu mengagungkan Allah yang tidak terbatas.
Tuhan menciptakan kita dengan segala keterbatasan, agar kita dapat menyadari akan kemahakuasaan Allah yang tidak terbatas itu. Mari kita menyadari keterbatasan diri kita, sebab dalam keterbatasan diri kitalah, kuasa Allah dinyatakan. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita.
JANGAN PERNAH MENYERAH
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi Kristus. Syalom Alekhem! Berjumpa kembali dengan saya dalam Renungan Harian GKI Kwitang. Hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Jangan pernah menyerah” dengan dasar Mazmur 43:5 “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada- Nya, penolongku dan Allahku!”
Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Saudara-saudara, adakah di antara Saudara yang pernah berpikir: Mengapa saya seorang Kristen tidak pernah bebas dari pergumulan dan persoalan hidup? Persoalan demi persoalan datang silih berganti? Terkadang saya merasa tidak kuat lagi menghadapi berbagai tekanan persoalan, pergumulan, sakit penyakit, keuangan, keluarga, pekerjan, bisnis/usaha saya. Semuanya itu membuat kepala saya pusing, stres, dan gelisah terus, gampang marah, kecewa dan bersungut-sungut. Apa yang Saudara lakukan ketika mengalami seperti itu?
Saudara-saudara, pengalaman seperti itu sering terjadi dan dialami banyak orang. Bahkan orang-orang Kristen yang mengasihi Tuhan pun juga terkadang mengalami nya.
Seperti pemazmur, juga pernah dilanda badai kehidupan yang sangat menyesakkan jiwanya oleh karena perbuatan dan tindakan-tindakan orang yang tidak adil, tidak benar, para penipu dan musuh-musuhnya yang terus mengejar dirinya. Hal ini membuat jiwanya makin tertekan. Pemazmur sampai mengatakan: Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?
Apa yang dilakukan pemazmur ketika jiwa tertekan oleh berbagai persoalan? Pemazmur berkata: Pertama, berharaplah kepada Tuhan. Di tengah-tengah masa-masa yang sukar itu pemazmur berharap kepada Tuhan. Ketika keadaan dan situasi tidak bisa dipahami dan dimengerti, biarlah mata hati kita hanya tertuju kepada Tuhan. Itu jauh lebih bermakna dari pada mata hati kita tertuju kepada persoalan.
Sikap berharap, bersandar dan bergantung kepada Tuhan, berarti mengandalkan Tuhan untuk menolong, melepaskan dan memberi kemenangan atas setiap kemelut persoalan hidup kita. Bagi kita, Tuhan Yesus adalah pengharapan yang tidak mengecewakan! Kedua, mengucap syukur untuk setiap peristiwa. Jika kita tidak bersyukur, jika kita makin membiarkan amarah, emosi, bersungut-sungut, protes, kecewa kepada Tuhan, maka jiwa kita makin tertekan. Ketiga, percayalah kepada Tuhan akan menyatakan kuasaNya melalui diri kita. Apapun penyebab masalah itu, percayalah bahwa di dalamnya pekerjaan-pekerjaan Allah akan dinyatakan. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Jemaat GKI Kwitang Pos Wismajaya sebuah pujian yang berjudul: “Jangan pernah menyerah” Sebuah lagu pujian yang telah menjadi berkat dan menguatkan banyak orang. Lagu ini menyatakan: Tuhan tak pernah janji langit selalu biru, tetapi Dia berjanji selalu menyertai. Tuhan tak pernah janji jalan selalu rata, tetapi Dia berjanji untuk memberikan kekuatan kepada Saudara.
Oleh sebab itu ketika Saudara mengalami berbagai persoalan hidup bahkan yang berat sekalipun, jangan pernah menyerah! Jangan pernah berputus asa! Tetaplah setia, berharap dan percaya! Yakinlah Tuhan akan menolong Saudara, dengan cara Tuhan yang ajaib.
Yakinlah, mujizat Tuhan ada bagi yang setia dan percaya! Amin, Saudara?
Bersediakah Saudara menjadi pengikut Kristus yang tetap setia dan percaya meskipun beban berat mendera? Jangan pernah menyerah! Jangan pernah berputus asa! Tetaplah setia dan percaya! Lakukanlah saja, itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur karena Tuhan selalu menyertai kami dan memberi kekuatan, sehingga kami mampu menghadapi berbagai persoalan hidup. Penyertaan Tuhan dan kekuatan yang Tuhan berikan, itu cukup bagi kami untuk bersaksi dan melayani sesama kami yang menderita. Berkatilah jemaatMu melaksanakan Bulan Diakonia. Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Selamat melayani Tuhan! Tuhan memberkati!
(AM22062023)
Bersukacita Dikala Duka
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan:
1 Tesalonika 5:16-18
Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Roma 5:3-5
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Sahabat Kristus, yang dikasihi Tuhan
Apakah judul diatas mungkin terjadi? Kita dapat bersukacita dikala duka melanda hidup kita. Pada umumnya orang berpendapat bahwa: seseorang hanya dapat merasakan senang jika kita mendapatkan keuntungan, tubuh yang sehat-bugar juga tak ada persoalan dalam hidup; pekerjaan lancar, keluarga baik-baik saja, pokoknya hidup tak menghadapi persoalan. Pertanyaan nya adalah: apakah kita tak akan menghadapi persoalan dalam kehidupan ini? Malah kalau mau dibilang, bukankah persoalan itu selalu ada? Terlebih lagi,bagaimanakah kita dapat mengalami Sukacita Tuhan jika tak ada persoalan dalam hidup?
Dalam Firman Tuhan yang kita baca tadi, kita diajak untuk bersukacita senantiasa. Bagaimana hal ini dapat terjadi?, sementara kehidupan kita tak selalu berjalan tanpa hambatan atau malah halangan dalam hidup selalu ada. Apakah yang dimaksud dengan bersukacita senantiasa? Nah, sahabat Kristus, sebagai anak2 Tuhan yang telah menerima pengorbanan kasih Kristus bagi kita, maka kita menyadari benar bahwa demi kelepasan dan keselamatan kita, Tuhan sudah rela menderita dan mati bagi kita. Lalu apakah kita berpikir bahwa setelah itu, kita tak boleh mengalami tantangan kehidupan, yang seringkali bahkan tak sebanding dengan pengorbananNya? Paulus, ketika ia menuliskan ajakan ini, sebagai hamba Tuhan yang setia, ia bukan sedang dalam kehidupan keadaan nyaman dan baik-baik saja. Ia sedang ada dalam penjara karena memberitakan Injil. Difitnah dan ditangkap. Bagaimana seorang yang difitnah, dipenjara, yang sedang mengalami kesusahan seperti itu dapat mengajak umat Tuhan untuk bersukacita senantiasa? Apakah ajakan Paulus adalah ajakan palsu atau omong kosong? Tentu bukan. Paulus sendiri adalah seorang yang sungguh-sungguh menghayati dan beriman akan pengorbanan dan kasih Kristus baginya. Penghayatan iman sedemikian itu malah membuatnya melihat bahwa penderita dan tantangan kehidupan itu membuatnya semakin melihat cinta kasih Tuhan yang telah ia terima. Inilah yang melahirkan iman bahwa sukacita pengikut Kriatus menjadi tidak berkurang karena penderitaan atau situasi tidak menguntungkan lainnya, sebab sukacita itu berakar pada hubungan dengan Kristus yang sangat kuat dan erat. Lagipula ketika kita sungguh percaya dan beriman kepada Tuhan Allah, maka kita juga percaya bahwa di atas semua kesusahan dan tantangan itu, kita percaya pada penyelenggaraan Allah atas dunia ini, pastilah adaaksud dan rencana Tuhan Allah bagi kita atau bagi dunia ini (bdk Rm 5:3-5). Sukacita yang diajak oleh Paulus adalah sukacita yang melampaui apa yang kelihatan, namun sykacita itu dialami oleh iman kepada Tuhan. Itulah sebabnya Paulus dapat bersukacita di tengah persoalan dan tantangan kehidupannya.
Apakah Paulus dan setiap orang beriman tak merasakan kesedihan kerika tantangan dan persoalan iti hadir. Sebagai manusia biasa, pastilah Pulus merasakan kesedihan. Oleh karena itu, Paulus mengajak juga untuk berdoa. Doa adalah cara kita tetap terhubung dengan Tuhan Allah. Dalam hal ini, sarana kita meminta kekuatan dan sukacita Nya. Doa membuat kita lebih terfokus pada kehendak dan rencana Allah dalam hidup kita. Doa membuat kita dapat melihat segala yang luar biasa yang terjadi atas hidup kita yang telah ada di sekitar kita bukan hanya terpusat pada tantangan dan persoalannya saja. Kata @ Bond Pieter: “Hidup itu sulit, tetapi lebih sulit jika kamu menyerah”, ini menandakan bahwa jika kita menyerah dan tak datang pada Tuhan, maka perjalanan hidup kita ke depan menjadi Gelap. Doa membuat kita tenang, melihat sesungguhnya Tuhan mau memberi kita jalan keluar apa atau apakah yang telah diberikan kepada kita sebagai karya Allah melalui hidup kita yang mengalami kesusahan dan tantangan. Singkatnya, dalam keheningan doa, kita diberi hikmat dan juga sukacita sorgawi (spt yang dialami Paulus ketika dalam penjara/paulus dapat tetap dapat berdoa dan bernyanyi). Dalam kedekatan hubungan kita dengan Allah, kita tahu bahwa tak semua hal yang kita inginkan terjadi, namun kita juga beriman bahwa jika Tuhan Allah berkehendak, tak ada yang dapat menghalanginya. Ke mana, bagaimana maksud Tuhan, biarlah kita serahkan padaNya. Di sanalah sukacita dari Tuhan hadir dalam kehidupan kita, dan kita akan terus berjalan dan berjuang memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan ini. Walau untuk iti kadang kita merasa sendirian, ditinggalkan, dicemooh oleh orang-orang di sekitar kita dan harus menanggung sendirian. Tetapi sesungguhnya kita tak pernah sendirian, ada Tuhan yang selalu bersama kita, yangbwri kita kekuatan. Oleh karena itu benar kata @Zarinda: “Seperti Matahari, kamu bisa sendirian namun tetap bersinar. Bagi kita ini dapat terjadi karena kuasa kasih Allah dalam Yesus Kristus yang telah berkorban bagi kita, Ia hidup di dalam kita.
Nah kini, bagaimana jika saudara dan saya yang sedang melihat sahabat/teman kita yang sedang mengalami kesusahan dan tantangan kehidupan? Jangan ambil bagian seperti mereka yang menyebabkan Paulus dipenjara ya…. Jangan membawa kesusahan bagi mereka, umat Tuhan (itu tanda bahwa engkau tak hidup dalam Sukacita Tuhan karena tak mengalami kelepasan dari kasih pengorbanan Tuhan). Jika kita tak bisa berbuat lebih, Paling tidak kita bisa mendoakannya agar Tuhan memberikan kepadanya kekuatan, pertolongan dan sukacitaNya dengan cara Nya. Jika kita dipenuhi sukacita, tentu kita juga ingin sahabat dan teman kita bersukacita. Sama seperti kita yang telah dan terus terhubung dengan Kristus, kiranya ia pun, yang sedang menghapi tantangan, menemukan dan ditangkap oleh kasih Kristus yang adalah sumber sukacita bagi setiap pengikutNya.
Jadi sahabat Kristus; bersukacita di tengah dukacita? Tentu bisa! Karena kita telah memiliki Kristus dalam hidup kita, dan menjadi pancaran kasihNya(LiN-RH, 21-06-2023)
Memegang Ketetapan Bagimu dan Anak-anak
(Ibadah dan kegiatan Intergenerasi)
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Salam sejahtera, semoga kita makin mampu untuk bersekutu bersama anak-anak dan orangtua dalam rangka memegang ketetapan Allah seperti ungkapan dalam Keluaran 12:24 Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu.
Bersekutu dalam memegang ketetapan Allah sangat penting agar makin mengenal, menghayati dan melakukan ketetapan Allah. Orang yang individualis menutup kemungkinan mengenal Allah dan ketetapanNya dengan benar. Seorang individualis, secara pribadi hanya mengenal Allah tanpa mengenal sesama. Persekutuan adalah wadah untuk menyatukan pribadi, Allah dan sesama. Manusia menemukan jati dirinya melalui perjumpaan etisnya dengan orang lain (John de Gruchy, Saksi Bagi Kristus Kumpulan Cuplikan Karya Dietrich Bonhoeffer, BPK Gunung Mulia). Perjumpaan etis adalah perjumpaan pada sesama yang memicu rasa iba, belas kasih, sekaligus membangkitkan kesadaran akan kewajiban moral. Yesus sudah memberi teladan berjumpa dengan orang sakit, orang lemah, dan Ia tergerak untuk berbelas kasih, menolong, menyembuhkan.
Persekutuan terdiri dari orang yang berbeda budaya, berbeda kepribadian. Persekutuan itu bersifat kolektif. Manusia perseorangan menjadi bertanggungjawab atas persekutuan. Persekutuan yang benar bukan orang yang sama gagasan, tapi orang yang bersama-sama berhubungan secara etis.
Allah tidak menghendaki manusia hidup secara individualis, Ia menghendaki persekutuan manusia. Persekutuan tidak menghilangkan individu, tapi membangun kesatuan individu yang berbeda. Paulus menggambarkan persekutuan itu sebagai tubuh Kristus, yang terhubung satu dengan lainnya dan semuanya punya peranan masing-masing dan sama pentingnya. Dosa merusak persekutuan manusia karena kehendaknya untuk mempertahankan diri sendiri dan tidak mempertahankan orang lain. Yesus telah berkorban untuk menebus dosa manusia, agar manusia kembali menjadi mahluk kolektif, tidak individualis.
Ibadah Minggu adalah persekutuan yang dilakukan setelah paskah, setelah Yesus bangkit. Bangsa Israel juga mengadakan ibadah Paskah setelah Allah menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, menyelamatkan dari tulah-tulah yang diberikan Allah kepada orang Mesir. Ibadah Minggu dan ibadah Paskah Israel adalah persekutuan yang ditetapkan Allah agar dilakukan bersama-sama, anak-anak dan orang dewasa selama-lamanya.
Ketetapan keselamatan dari Allah diberikan kepada orang tua, dan anak-anak. Bagi Allah anak-anak, remaja, pemuda, orang dewasa dan lanjut usia adalah sama-sama penting untuk diselamatkan. Allah tidak memisahkan anak-anak, remaja, pemuda, orang dewasa dan lansia. Dalam ibadah Paskah anak-anak juga dilibatkan (Keluaran 12:26-27), ada peran anak-anak dan orangtua. Anak bertanya tentang apa arti ibadah Paskah, maka orangtua menjelaskan bahwa ibadah Paskah adalah ibadah menghayati keselamatan dari Allah bagi orang yang taat pada kehendak atau ketetapan Allah. Anak-anak dan orangtua diminta taat pada ketetapan Allah, selama-lamanya, agar selamat dari tulah atau hukuman Allah dan masuk dalam Kerajaan Allah.
Ibadah dan kegiatan dalam gereja, ada kecenderungan memisahkan jemaat berdasarkan usia atau generasi. Hal ini dapat memperlebar gap generasi, yang merusak relasi persekutuan jemaat antara anak, remaja pemuda dan orang dewasa serta lanjut usia. Ibadah dan kegiatan intergenerasi dalam gereja adalah upaya pemulihan kehidupan persekutuan dalam gereja, memperkuat persekutuan dan mengurangi perbedaan dan kesenjangan generasi.
Perbedaan generasi dapat membuat orang berpandangan negatif terhadap generasi lain, seperti generasi lebih tua meragukan kepemimpinan generasi muda; meragukan spiritualitas generasi muda. Generasi muda meremehkan generasi tua karena kurang adaptif teknologi, tidak nyaman berkomunikasi dan beribadah dengan generasi tua. Beberapa contoh perbedaan ini memicu kesenjangan dalam persekutuan. Hal ini terjadi oleh karena setiap generasi kurang menyadari atau mengenal karakteristik generasinya dan kurang adanya keterbukaan antar generasi untuk saling mendengar dan memahami keunikan masing-masing generasi. Persoalan ini dapat dibantu melalui ibadah, kegiatan intergenerasi. Ibadah dan kegiatan intergenerasi mampu menolong gereja atau jemaat dalam setiap kelompok generasi untuk saling memahami, menghargai dan belajar bersama agar bersatu menjadi gereja.
Ibadah, kegiatan intergenerasi adalah dua atau lebih kelompok usia yang berbeda dalam komunitas bersama-sama belajar, bertumbuh, dan hidup dalam iman melalui pengalaman bersama, belajar bersama, saling berinteraksi dan berkontribusi. Intergenerasi bertujuan untuk menyatukan semua generasi dalam pelayanan. Semua generasi yang ada dalam gereja bisa saling mengenal karakteristik generasinya sekaligus menerima keunikan karakteristik generasi yang lain. Dengan demikian ibadah, kegiatan intergenerasi membangun penerimaan diri, penerimaan terhadap generasi lain dan sikap menghargai antar generasi sehingga terwujud kesatuan sebagai Tubuh Kritus dalam gereja.
Kisah dalam gereja mula-mula tergambar kegiatan intergenerasi seperti anak-anak hadir bersama orang tua dalam ibadah dan perayaan-perayaan keagamaan. Kisah Yesus masa anak-anak berdiskusi dengan orang dewasa adalah salah satu bentuk kegiatan intergenerasi. Dalam Keluaran 12 ini juga menggambarkan ibadah intergenerasi, yang ditetapkan Allah untuk mengadakan ibadah Paskah dan harus ditaati orang dewasa dan anak-anak. Dalam ibadah Paskah, anak-anak dan orang dewasa merayakan keselamatan yang sudah diberikan Allah, sehingga tidak terkena tulah atau hukuman dari Allah. Orangtua dan anak-anak memegang ketetapan dari Allah. Melalui ibadah dan kegiatan intergenerasi berarti orangtua, anak-anak secara bersama-sama tidak dipisahkan untuk menghayati dan memegang ketetapan Allah agar selamat.
Marilah kita menyanyi memuji Tuhan yang mendirikan semuanya untuk selamanya, mengatasi langit, alam raya. Semua raja, pemerintah, teruna, anak dara, orangtua, orang muda memuji Tuhan seperti ungkapan dalam PKJ 28 ayat 2 Nyanyikan Tuhanmu: Haleluya, Haleluya! Malaikat, kerubim, serafimpun, puji Dia! Yang mendirikan semuanya untuk selamanya, keagunganNya mengatasi langit, alam raya. Wahai, segala raja serta pemerintah dunia, teruna, anak dara, orang tua dan yang muda, bunyikan bagi Tuhanmu seruling dan kecapi, dan puji Dia dengan sorak-sorai dan menari.
Berdoa: Ya Tuhan mampukan kami untuk bersekutu bersama anak-anak dan orangtua dalam rangka memegang ketetapan Allah melalui ibadah, pelayanan dan kegiatan intergenerasi, agar kami saling mengenal, memahami dan menerima. dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
TEGAKNYA KEADILAN
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Bilangan 35:11-12, Maka haruslah kamu memilih beberapa kota yang menjadi kota-kota perlindungan bagimu, supaya orang pembunuh yang telah membunuh seseorang dengan tidak sengaja dapat melarikan diri ke sana. Kota-kota itu akan menjadi tempat perlindungan bagimu terhadap penuntut balas, supaya pembunuh jangan mati, sebelum ia dihadapkan kepada rapat umat untuk diadili.
Hukum Taurat adalah dasar pengadilan dan memutuskan atas suatu perkara. Hukum Taurat menghendaki agar tegaknya keadilan, sehingga ditetapkan “mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Secara sederhana dapat kita artikan kerugian baik materi maupun phisik harus dibayar atau ditanggung oleh yang melakukannya, dan keputusan ini diambil oleh rapat umat yang menjadi pengadilan mereka. Namun ada kejadian yang menyebabkan seseorang terbunuh atau mati, dengan tidak disengaja, tidak ada maksud atau niat untuk membunuh atau menciderai seseorang. Dalam kejadian seperti ini sangat sulit menegakkan keadilan: “nyawa ganti nyawa.” Orang yang menyebabkan kematian itu bisa lari ke kota perlindungan, agar perkaranya, atau kejadian itu dijelaskan dengan bukti-bukti, menjadi pembelaan. Kalau benar kejadian itu tanpa motifasi yang merugikan atau menciderai seseorang maka demi tegaknya keadilan dia terbebas dan harus tinggal di kota perlindungan sampai matinya imam besar yang diurapi, kemudian dia bisa pulang ke tempatnya.
Untuk tegaknya keadilan maka “mata ganti mata,” menyadarkan umat agar sungguh bertanggung jawab atas perlakuannya. Bagaimana dengan dosa? Rasul Paulus menyebut untuk tegaknya keadilan atas dosa, maka mereka yang berdosa menanggung maut, karena “upah dosa ialah maut.” Dosa yang membawa maut tadi telah menjalar ke seluruh alam raya ini, termasuk ke angkasa luar ke segala planet di segenap alam raya. Untuk tegaknya keadilan, perbuatan baik, amal baik, ibadah, tidak cukup membayar hutang maut, yaitu kebinasaan. Bagaimanapun baiknya dan seberapapun besarnya amal baik dan ketaatan ibadah seseorang tidak mampu membersihkan dosa dari dirinya. Namun ada Kota Perlindungan bagi kita yang landasannya ialah kasih yang besar, dasarnya bukan perbuatan manusia. Di dalam Kota Perlindungan ini kita terlindung menantikan penghakiman oleh Hakim Agung, yaitu penghakiman terakhir. Demi tegaknya keadilan kita akan didakwa, menerima kebinasaan, namun ada Pembela bagi kita, Dia telah membayar hutang maut itu. Di dalam kasih-Nya kita terlindungi. Pengakuan, penyerahan diri, iman menghubungkan dan mengikat kita dengan Kota Perlindungan ini yaitu Yesus Kristus, Juruselamat. Pengakuan, penyerahan diri, iman memang tidak semurah itu, semua itu dalam bimbingan kuasa Roh Kudus, oleh Roh Kuduslah memampukan kita beriman kepada Yesus Kristus. Demikian kita telah merayakan hari turunya Roh Kudus.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok-pokok berikut:
- Adilkah Allah yang membiarkan Tuhan Yesus menderita dan mati membayar hutang maut orang berdosa?
- Maukah Anda ambil bagian dalam menegakkan keadilan mengalahkan maut?
- Kalau Anda setuju bahwa keselamatan karena iman kepada Yesus Kristus, maka untuk apa kita berbuat baik?
Mari berdoa: Bapa Tuhan Yesus Kristus, Kota Perlindungan bagi kami, terima kasih, kami dalam naungan-Mu untuk mendapat keselamatan. Pakai kami memberitakan berita keselamatan ini, Roh Kudus memberi kuasa bagi kami, inilah kerinduan kami dalam Yesus Juruselamat kami. Amin. [AS190623]
JUICE JACKING
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 5:8-9
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Tentu kita telah mengenal juice (baca: jus) dari buah dan sayuran sebagai minuman yang sehat bagi tubuh kita. Pertanyaannya adalah: jenis juice seperti apakah juice jacking ini? Juice jacking ini bukanlah nama menu makanan, melainkan sebutan untuk salah satu modus peretasan (hacking) dengan tujuan mencuri data yang disimpan dalam telepon seleuler (ponsel).
Kemajuan teknologi informasi telah memungkinkan terjadinya transaksi keuangan melalui ponsel dalam bentuk aplikasi mobile banking. Selain itu ponsel juga menjadi tempat dimana orang menyimpan data-data pribadinya. Kembali kepada juice jacking. Secara umum, Juice Jacking adalah metode peretasan yang dilakukan dengan memanfaatkan port USB (lubang konektor) ponsel dan kabel usb saat mengisi daya di fasilitas penge-charge-an gratis yang tersedia di bandara, stasiun kereta, hotel, kendaraan umun dll. Jadi, pada saat ponsel di-charge (dicas) di fasilitas pengecasan gratis, maka ponsel dapat terinfeksi kode atau perangkat lunak berbahaya (malware). Nah, melalui malware yang telah dikirim via koneksi USB itu, seorang peretas (hacker) dapat mengendalikan ponsel pengguna dan mencuri data pribadi yang ada di dalamnya, termasuk data perbankan.
Agar dapat terindar dari aksi juice jacking ini, maka saat men-charge alat ponsel, gunakalnlah stop kontak dengan memakai adaptor charge (baca: cas). Pakailah selalu kabel USB (data) milik sendiri dan tidak meminjam milik orang lain apalagi yang tidak kita kenal. Karena kabel usb juga bisa dipakai untuk transfer data, maka usahakan untuk memakai jenis kabel USB yang khusus untuk pengisian daya saja agar dapat mencegah transfer data saat men-charge ponsel. Bila sangat terpaksa harus men-charge di fasilitas umum, maka perhatikan notifikasi (peringatan) yang muncul di layar ponsel. Apabila muncul notifikasi pilihan untuk tindakan “charge only” (hanya mengisi daya saja) atau “share data” (mentrasfer data), maka selalu pilih tindakan “charge only” demi mencegah transfer data yang tidak diinginkan. Fasilitas kemudahan yang disediakan seringkali menjadi titik lemah, sehingga kita menjadi kurang waspada dan tidak menyadari bahaya pencurian data yang mengancam.
Fenomena ‘Juice jacking’ ini mengingatkan kita pada salah satu nasihat Rasul Petrus kepada jemaat, yaitu: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”. Petrus pernah mempunyai pengalaman pahit terkait dengan ‘berjaga-jaga’ ini. Dengan sombong, ia pernah berujar bahwa ia siap untuk dipenjara dan mati demi Tuhan Yesus. Saat itu, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa iblis telah menampi Petrus seperti gandum. Namun Tuhan Yesus telah mendoakan supaya iman Petrus tidak gugur. Dan bila sudah bertobat, maka Petrus mesti mengingatkan para saudara yang lain (bdk. Luk. 22:21-22).
Tantangan iman masa masa kini bukanlah penganiayaan secara fisik, melainkan tawaran kemudahan dan kenyamanan dengan menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, mari kita senantiasa sadar dan berjaga-jaga, agar dapat melawan godaan Iblis. Kita mesti melawannya dengan dengan iman yang teguh di dalam Kristus, yaitu dengan berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran Firman-Nya. Kiranya fenomena juice jacking kali ini semakin membuat diru kita sadar dan berjaga-jaga terhadap tipu muslihat iblis. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar tetap memiliki iman yang teguh di dalam Engkau. Oleh karena itu melalui tuntunan Roh Kudus kami akan selalu belajar prinsip-prinsip kebenaran Kehendak-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
MELUPAKAN DENDAM
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 3 :9
“…dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik.. Apakah yang akan saudara lakukan ketika saudara disakiti, direndahkan, dan dihina oleh orang lain? Sebagian orang yang terluka hatinya, dia akan membalas perbuatan orang yang telah menyakiti, merendahkan, dan menghina dirinya. Dia akan mencari kelemahan orang tersebut, untuk kemudian membalas rasa sakit hati yang dia rasakan. Dia mendendam dengan orang yang menyakitinya. Dan hal ini bisa kita alami juga dalam kehidupan kita bersama, baik di lingkungan keluarga, gereja, dan masyarakat. Akibat dari menyimpan dendam tentu akan merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Untuk itu, kita perlu hidup damai dan melupakan dendam dalam hidup bersama dengan orang lain.
Rasul Petrus dalam suratnya kepada Jemaat di Asia Kecil menasihatkan pentingnya hidup dalam kasih dan damai. Dia mengharapkan Jemaat di Asia Kecil senantiasa seia sekata, seperasaan, saling mengasihi dan menyayangi, rendah hati, dan tidak menyimpan dendam terhadap sesama. Bukan tanpa alasan Rasul Petrus menasihatkan yang demikian, sebab kehidupan Jemaat di Asia Kecil banyak diwarnai dengan pertentangan dan penganiayaan. Dalam nasihatnya, Rasul Petrus juga mengingatkan pentingnya menjaga lidah dan bibir dari ucapan-ucapan yang menipu. Mereka diminta untuk menjauhi perbuatan jahat, hidup dengan perbuatan baik serta hidup damai dengan semua orang.
Hidup bersama dengan orang lain memang tidak lepas dari perbedaan yang dapat menyebabkan orang terluka, tersakiti, dan dendam. Firman Tuhan pada saat ini mengajak kita untuk hidup bersama dalam kasih dan damai. Salah satu tindakan yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan hidup dalam kasih dan damai dengan sesama adalah tidak menyimpan dendam dan amarah dalam hati kita. Kita akui kita memang merasa sakit hati, terluka manakala ada orang lain yang merendahkan dan menghina diri kita. Namun bukan berarti kemudian kita mendendam dan membalas perbuatan orang yang melukai hati kita. Yang perlu kita lakukan adalah mendoakan dan memaafkan orang tersebut. Janganlah mendendam tetapi mari melupakan dendam, karena itulah yang membuat kita merasakan damai sejahtera. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita🙏
WITHOUT LOVE
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi dan mengasihi Kristus. Syalom Alekhem! Dalam rangka Bulan Diakonia GKI Kwitang, hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Without Love” dengan dasar 1 Korintus 13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku . Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Firman Tuhan ini disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Korintus pada waktu itu, tetapi juga kepada kita sekalian yang hidup pada zaman ini. Paulus hendak menekankan betapa pentingnya seluruh kehidupan kita didasari dengan kasih.
Paulus mengatakan: “sekalipun aku…” “sekalipun aku…” sampai tiga kali. Sekalipun aku memiliki karunia untuk berbagai bahasa, sekalipun aku memiliki pengetahuan ilahi dan iman yang hebat, bahkan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu dan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, “tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sama sekali aku tidak ada gunanya.”
Apa maksudnya dengan kasih di sini? Bukankah semua orang berbuat sesuatu dapat berkata “aku punya kasih?” Memang pada waktu itu istilah eros sangat populer (tidak muncul di PB). Eros adalah kasih seksual. Dan istilah philia, yaitu kasih persaudaraan, dan kasih storge, adalah kasih di antara anggota keluarga.
Namun kata khusus yang dipakai dalam ayat ini adalah agape, yang menunjuk kasih Allah (Yoh. 3:16; Rm. 5:5-8) dan kasih seorang beriman untuk sesamanya ( Mrk. 12:31 ; Rm. 13:9).
Bagaimana kita menerapkan kasih itu dalam pelayanan, khususnya di Bulan Diakonia ini? Agape adalah kasih yang tidak melihat latar belakang. Kasih ini bersifat tulus dan ikhlas layaknya kasih Kristus Yesus dalam kehidupan manusia yang mau berkorban bagi dunia. Kasih agape identik dengan sikap tidak kenal pamrih dan tidak mementingkan diri sendiri. Amin, Saudara? Puji Tuhan.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Eliatha dalam Ibadah Minggu kedua Bulan Diakonia GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Without Love” Lagu yang didasarkan 1 Korintus 13 ini mengajak kita semua untuk melakukan pelayanan dengan dasar kasih agape, sebab tanpa kasih agape segala perbuatan baik kita tidak ada gunanya.
Karena kasih agape itu tidak memegahkan diri, sabar, tidak cemburu, tidak sombong, murah hati, tidak pemarah, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, melainkan kebenaran. Kasih inilah yang perlu ditunjukkan oleh umat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari!
Melalui nyanyian ini setiap kita diajak untuk merenungkan kembali: apakah selama ini kasih agape itulah yang mendasari segala pelayanan kita? Bersediakah Saudara menjadi pengikut Kristus yang setia melayani dengan dasar kasih agape? Tetaplah bersemangat untuk melayani Tuhan sesuai dengan karunia Saudara masing-masing. Lakukanlah saja, itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami besyukur karena Tuhan selalu memberi kesempatan untuk kami melayani Tuhan. Mampukanlah kami melayani Tuhan dengan dasar cinta kasihMu yang ajaib, yaitu kasih agape. Berkatilah jemaatMu, GKI Kwitang dalam menjalankan program Bulan Diakonia. Terpujilah namaMu, kekal selama-lamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Selamat melayani Tuhan! Tuhan memberkati Saudara!
(AM15062023)
