renungan
KASIHILAH TUHAN DENGAN SEGENAP HATI, JIWA, KEKUATAN DAN AKAL BUDI (II)
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 10: 25-28
Salam sejahtera, semoga kita makin mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akal budi dan mengasihi sesama manusia (Lukas 10:27).
Minggu, 9 Maret 2025 kita telah memasuki minggu Prapaskah I, yang merupakan awal masa persiapan menuju Paskah. Pada Minggu ini kita diajak untuk merenungkan hubungan kita dengan Tuhan melalui pertobatan, doa, dan puasa. Kita juga mendalami kisah pencobaan Yesus di padang gurun (Lukas 4:1-13), di mana Yesus menunjukkan keteguhan iman dalam menghadapi godaan dan kesetiaan-Nya kepada kehendak Allah.
Dalam Minggu Prapaskah I, kita diingatkan untuk meneladani Yesus dengan mengasihi Allah secara total, dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk memperkuat iman, menjauhi godaan duniawi, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui disiplin rohani.
Kita mengasihi Tuhan karena kita telah dikasihi Tuhan, dan diselamatkan dari dosa, melalui penderitaan Yesus , agar hati kita tidak dikuasai dosa. Jika Kita segenap hati mengasihi Tuhan, mendengarkan Tuhan, setia melakukan perintah Tuhan, maka nama kita terdaftar dalam Kerajaan Sorga, kita mendapat hidup kekal, seperti pertanyaan ahli Taurat, bagaimana mendapat hidup kekal ? Kalau belum menyesali dosa, membuang dosa, dendam sakit hati, pikiran dan niat jahat seperti ahli Taurat maka kita tidak bisa mengasihi Allah dengan segenap hati, tidak bisa mendengarkan Allah segenap hati, karena kita terus mengutamakan untuk mendengar pendapat sendiri, memberhalakan pikiran sendiri, selubung pikiran belum dibukakan Tuhan.
Mengasihi Allah dengan memuji Allah, bergaul dengan Allah, berdoa, meminta pertolongan dari Allah, mendengar perintah aturan dari Allah, dan melakukannya Hukum Tuhan yang paling utama. Mengasihi Allah dengan segenap hati, memandang Allah sebagai yang terbaik dari antara semua yang ada di dunia, semua orang yang baik di dunia. Kita mengasihi dengan bersyukur pada Tuhan dan menjunjung tinggi Tuhan , serta mengabdikan diri sepenuhnya kepada Dia. Kasih kita kepada-Nya harus melebihi kasih atas apa pun juga. Kita mengasihi Allah lebih dari mengasihi suami, istri, anak, orang tertentu materi uang. Seorang pemuda bunuh dari karena mengagumi seorang artis dunia. Artis dunia bunuh diri dia juga ikut bunuh diri. Sikap pemuda ini lebih mengasihi artis dari pada Tuhan. Seorang ibu ingin segera dipanggil Tuhan karena ia sangat mengasihi suami, yang baru saja dipanggil Tuhan. Ibu ini lebih mengasihi suami dari mengasihi Tuhan yang hidup.
Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, bukan setengah hati. Hati itu pusat kemauan, pusat perintah. Bertobat dimulai dari hati yang menerima firman Tuhan, meninggalkan kehendak sendiri. Mengasihi Tuhan segenap hati, segenap perubahan hati, menyesali dosa dalam hati, agar hati yang keras seperti batu diubah menjadi hati yang subur sehingga benih firman Tuhan bertumbuh. Segenap hati artinya hati yang remuk, menyesali dosa, mengosongkan hati dari keinginan dosa. Hati yang keras, tidak tunduk, tidak mengasihi Tuhan, tidak menanggapi kehendak Tuhan.
Tuhan tahu hati manusia, Tuhan tidak bisa ditipu dari gaya penampilan ibadah. Mengasihi Tuhan segenap hati, terlihat dari doa yang tulus hati, mau mendengar kehendak Tuhan dengan sungguh sungguh. Kalau belum segenap hati, maka minta Tuhan bersihkan kotoran dihati kita. Mengasihi Tuhan segenap hati maka firman Tuhan akan ditulis dalam hati, bukan dibibir. Mengasihi Tuhan segenap hati maka keinginan melakukan kehendak perintah Tuhan terus dipelihara agar kita mencapai tujuan hidup kekal, tujuan kita bukan kematian pada akhir hidup dan bukan kematian kekal.
Mengasihi Tuhan dengan kasih agape, bukan hanya dengan kasih filia (sahabat) atau eros (lawan jenis). Mengasihi sesama dengan kasih eros, filia dan agape. Mengasihi Tuhan segenap hati, artinya hatinya benar, tidak curiga, tidak kesal pada Tuhan, hati yang benar memuliakan Tuhan, merendahkan diri.
Mengasihi Tuhan dengan segenap Jiwa arti Roh manusia, nyawa, atau bagian dari manusia yang menyebabkan manusia hidup. Seluruh kehidupan batin manusia, seperti perasaan, pikiran, dan angan-angan. Kesadaran dan kepribadian seseorang, bukan jasmani dalam diri seseorang. Pribadi seutuhnya yang memiliki kesadaran, keinginan, dan emosi. Dalam Alkitab, jiwa adalah pribadi seutuhnya yang memiliki kesadaran, keinginan, dan emosi. Orang yang mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa artinya ia menjalankan hidup agar tidak mati, tidak diam, tidak berbuat apa-apa. Orang bunuh diri putus asa, karena jiwa rusak, jiwa lemah dan mati. Jiwa manusia terlihat dari tingkah laku manusia sehari-hari. Fungsi dan kekuatan jiwa dari tanggapan, pengamatan ingatan fantasi, pikiran perasaan, nafsu dorong kehendak. Jiwa anak anak beda jiwa orang dewasa. Mengasihi Tuhan segenap jiwa berarti sesuai perkembangan jiwa dari anak remaja pemuda dewasa lansia. Perkembang jiwa membuat sikap hidup , menumbuhkan kebiasaan kebiasaan hidup kita. Jiwa yang mengasihi Tuhan akan membentuk perilaku dalam keluarga, bermasyarakat. Mengasih Tuhan dengan segenap jiwa akan memampukan jiwa kita dalam menghadapi badai topan, perkara yang mengecewakan, ketika jiwa diserang oleh pertikaian, godaan ancaman. Menghadapi kekuatiran ketakutan, dengan mengasihi Tuhan segenap jiwa, maka membuat jiwa kita hidup, tidak mati seperti orang yang putus asa, mabok, bunuh diri, melarikan dari masalah hidup. Jiwa yang hidup, tidak takut menghadapi badai hidup, karena sudah mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa. Pergumulan jiwa waktu menghadapi musuh konflik di lingkungan, pertikaian dengan teman, kita tetap hadapi dengan mengasih Tuhan segenap jiwa membuat kita makin sehat jiwa kita. Dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Masing masing kita mempunyai karakter jiwa, kita mengasihi Tuhan dan sesama sesuai dengan karakter jiwa kita. Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa akan menyembuhkan jiwa yang sakit. Tuhan Yesus mampu menyembuh jiwa yang sakit seperti mengusir roh jahat. Yesus yang kita kasihi akan merawat jiwa kita menjadi hidup sehat.
Kita mengasihi Tuhan dengan mempersembahkan hidup kita pada Tuhan karena jiwa dan raga kita berasal dari Tuhan. Kita mengasihi Tuhan dengan memberi hati yang telah dipulihkan kepada Tuhan seperti ungkapan dalam KJ 367 ayat 1. PadaMu, Tuhan dan Allahku, kupersembahkan hidupku: dariMu jiwa dan ragaku, hanya dalamMu ‘ku teduh. Hatiku yang Engkau pulihkan padaMu juga kuberikan. amin
Berdoa: Ya Tuhan mampukan kami mengasihi Tuhan dalam masa prapaskah ini, dengan merenungkan hubungan kami dengan Tuhan melalui penyesalan dosa, melalui doa dan puasa, agar kami makin teguh menghadapi godaan dan makin setia kepada kehendak Allah. Dalam nama Yesus kami berdoa amin.
DIBUANG TAPI TIDAK DITINGGALKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Nas: Yeremia 52:12-15, (15),
Sebagian dari rakyat yang paling melarat dan sisa-sisa rakyat yang masih tinggal di kota itu, serta para pembelot yang menyeberang ke pihak raja Babel dan para tukang yang tersisa dibawa ke pembuangan oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal itu.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, nas renungan kita kali ini menambah wawasan kita tentang sejarah Israel yang paling kelam. Mengapa umat yang banyak disebut sebagai kesayangan Tuhan, sempat dihancurkan oleh bangsa lain, yaitu oleh bangsa yang memang kuat secara militer pada zaman itu?
Tidak putus-putusnya Tuhan menyatakan, bahwa kerajaan Daud tidak akan terputus selama-lamanya, yang pada zaman pemerintahan Daud sangat berkenan kepada Tuhan, seperti yang disampaikan Tuhan kepada Daud: “Dinastimu dan kerajaanmu akan teguh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya,” (2 Sam 7:16). Seperti janji Tuhan kepada Daud, untuk mengokohkan kerajaan Daud, maka Salomo menggantikan dia, tetapi dengan syarat, “hidup lurus, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, serta jika engkau memelihara segala ketetapan dan peraturan-Ku, Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel…, (1 Raj 9:4-5).
Kehancuran Kerjaan Israel sebagai kosekwensi Dosa raja dan bangsa itu. Ketidaktaatan raja Yehuda dan rakyat, maka Tuhan mendatangkan kehancuran Yehuda dan Yerusalem. Sebelumnya para nabi telah memberi pengajaran dan peringatan agar Israel, membuang dewa-dewa kejijikan Tuhan, para nabi menuntun agar Israel dari ketulusan hati memperhatikan sesama, seperti anak Yatim, kaum janda miskin dan rakyat jelata agar dipelihara dengan kasih. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, raja mengangkat nabi palsu yang membenarkan setiap kecurangan raja, ibadah mereka hanya formalitas, bukan dari ketulusan hati. Penindasan oleh pejabat kerajaan kepada orang miskin, yang nabi Amos katakan: “Supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut” (Am 8:6). Sejak Kerajaan Israel di tinggal oleh raja Daud, malah raja-raja yang mengajak rakyat meninggalkan Tuhan dan sebagai gantinya mereka menyembah kepada dewa-dewa lain yang bukan Allah. Salomo menyembah Asytoret, dewi orang Sidon, menyembah dewa Milkom dewa orang Amon, dewa Kamos dari orang Moab. Demikian sedikit gambaran pupusnya ketaatan Israel kepada Tuhan yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan mengambil jalan menyingkirkan orang-orang yang tidak taat itu dengan menghancurkan kerajaan itu, dan rakyat dibuang ke negeri asing di Babel. Pembuangan dalam waktu 70 tahun, menghabiskan satu generasi, dan akan kembali ke negeri Israel dengan generasi yang baru. Dengan generasi yang baru ini Tuhan kembali melanjutkan janji-Nya, sampai digenapinya pengutusan Mesias untuk seluruh bangsa. Israel dibuang tetapi tidak ditinggalkan demi janji Tuhan.
Aplikasi:
- Satu genarasi Israel di pembuangan, apakah Anda punya kesan masa yang ditinggal Tuhan?
- Adakah pengalaman Anda dihajar Tuhan karena berbuat dosa?
- Sejauh mana keyakinan Anda yang tidak akan ditinggal Tuhan?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi, kami sungguh bergantung pada Tuhan. Namun ada saatnya kami meninggalkan Tuhan terbawa dosa, dan kami mengalami penderitaan, tetapi kami yakin Tuhan dalam kuasa Roh Kudus tidak pernah meninggalkan kami. Teguhkan keyakinan iman kami ini dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS100325]
”TELUR 1000 TAHUN”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yakobus 1:12 (TB 2)
“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang mengasihi Dia”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, telur 1000 tahun merupakan masakan yang berasal dari Tiongkok yang dibuat dengan cara mengawetkan telur ayam atau bebek dalam pasta khusus yang terbuat dari sekam padi, kapur tohor, garam, abu dan tanah liat. Sebelum diawetkan dengan cara membungkusnya dalam campuran pasta khusus tadi, telur ini direbus terlebih dahulu dengan menggunakan bubuk teh. Meski namanya adalah telur 1000 tahun, sebenarnya telur ini diawetkan dalam jangka waktu tertentu atau maksimalnya delapan bulan bergantung proses yang pakai. Selama proses pengawetan ini kuning telur akan berubah warna menjadi hijau gelap dan teksturnya menjadi seperti krim dengan aroma belerang dan amonia, sementara putih telurnya berubah warna menjadi kecokelatan dan agak transparan. Perubahan warna dan tekstur telur ini terjadi karena adanya material alkalin yang menaikkan kadar PH dari telur tersebut menjadi 9 atau lebih. Oh ya, olahan ini juga dikenal sebagai century egg, telur hitam, telur bitan atau telur pitan. Meski telah diawetkan dalam waktu berbulan-bulan, telur 1000 tahun ini tetap memiliki nilai gizi yang hampir sama dengan telur biasa. Menurut laman www.tempo.co, telur 1000 tahun ini memiliki lebih banyak kandungan protein dan lebih rendah kandungan karbohidratnya dibanding dengan telur segar pada umumnya. Proses pengawetan ini juga tetap mempertahankan semua nutrisi mikro bermanfaat lain yang ditemukan dalam telur segar normal, termasuk vitamin A, dan vitamin B seperti B-12 dan riboflavin. Selain itu, telur 1000 tahun juga merupakan sumber zat besi, selenium, fosfor, serta vitamin D yang sangat baik. Meski demikian, telur ini memiliki kandungan kalori yang sedikit lebih tinggi dibanding telur normal. Banyak orang Tiongkok percaya bahwa telur 1000 tahun ini dapat dikonsumsi sebagai afrodisiak yang baik dan camilan berprotein tinggi yang sehat. Dan konsumsi telur ini secara teratur dapat menurunkan tekanan darah, meningkatkan nafsu makan, memperbaiki penglihatan dan memperbaiki fungsi hati.
Saudaraku, telur 1000 tahun ini mengingatkan kita tetang perjalanan iman kita. Sebagai orang-orang Kristen, tentu kita pernah menghadapi berbagai macam persoalan di dalam kehidupan. Betul bahwa menjadi orang kristen itu tidaklah mudah, terutama ketika berada di dalam kondisi yang tidak enak. Di dalam Alkitab, kita akan menemukan banyak tokoh yang berhasil melalui berbagai macam persoalan yang berat. Dari berbagai kesaksian itu, kita tahu bahwa Tuhan selalu berada di samping mereka. Artinya, kapan dan dimana saja mereka mengalami kesulitan, Tuhan akan senantiasa menyertai dan memberikan dorongan semangat agar dapat mengatasi kesulitan tersebut. Yakobus menasihati jemaat kala itu, demikian: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang mengasihi Dia”. Yakobus memperlihatkan kepada kita bahwa pencobaan dan penderitaan adalah salah satu cara untuk menguji iman kita. Melalui penderitaan kita sedang dituntun untuk memiliki iman yang semakin bertumbuh dan dewasa di dalam Kristus. Di satu sisi pencobaan merupakan ujian bagi iman kita, namun di sisi yang lain iman akan semakin bertumbuh dan dewasa di dalam Tuhan. Sekalipun berada di tengah penderitaan, Tuhan tidak akan pernah tinggal diam. Dia sedang memelihara dan menjaga iman kita supaya iman itu tidak menjadi lemah lalu mati.
Saudaraku, iman yang tidak diuji adalah iman yang tidak bertumbuh. Seperti telur 1000 tahun tadi, ketika dibungkus dengan pasta selama beberapa waktu, ia tidak rusak, melainkan tetap mengandung gizi yang baik. Marilah kita terus berjuang untuk bertahan dalam kesesakan sebagai bagian dari ujian bagi iman kita, karena hal ini yang dapat membawa kita semakin dewasa di dalam Kristus. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami sadar bahwa kadangkala kami berada dalam situasi persoalan yang berat. Kami rindu agar berbagai persoalan itu tidak melemahkan iman kami, melainkan menjadi ujian agar iman kami semakin bertumbuh dewasa di dalam Engkau. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
BERANI MENJADI SAKSI KEBENARAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Imamat 5 : 1(TB2)
”Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar kata-kata kutuk, dan ia adalah saksi karena melihat atau mengetahui tetapi tidak memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya itu”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Menurut psikolog Paul Ekman, manusia memiliki 6 emosi dasar, yaitu marah, jijik, bahagia, sedih, terkejut, dan takut. Takut merupakan emosi negatif yang sangat tidak menyenangkan apabila itu kita alami, sebab ketika kita merasa takut maka pola pikir kita juga turut berperan aktif dalam mengikat emosi ini. Takut merupakan salah satu emosi yang implikasinya sangat luas dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh : takut menegur dan takut menjadi saksi atas perbuatan tidak baik yang orang lain lakukan.
Bacaan firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa: “Apabila seseorang berbuat dosa, yakni jika ia mendengar kata-kata kutuk, dan ia adalah saksi karena melihat atau mengetahui tetapi tidak memberi keterangan, maka ia harus menanggung kesalahannya itu.” (Ay. 1) Bagian ini menjelaskan bahwa, ketika kita mengetahui seseorang berbuat dosa dan kita tidak menegurnya atau kita tidak mau memberikan kesaksian atas kesalahannya, maka kitapun juga ikut berdosa. Kita ikut berdosa karena kita tidak membantu sesama kita untuk menyadari dan mengakui kesalahannya. Ketika seseorang tidak mengakui dan menyadari akan kesalahannya maka pertobatan itu tidak akan terjadi dan dosa akan terus dilakukan.
Ketika kita takut dalam menegur dan menjadi saksi pada orang yang melakukan kesalahan, berarti kita bisa menyebut diri kita egois. Karena kita lebih mementingkan diri sendiri, kita takut kehilangan komunitas kita. Meskipun komunitas itu, komunitas yang sedang difase tidak sehat. Diam dan ketakutan itu menutupi banyak kemungkinan–kemungkinan akan hal baik ada dan bertumbuh. Ketakutan ini akhirnya mengurangi kualitas diri kita untuk menjadi pengikut Kristus yang taat. Maka bersama, marilah kita menjaga kualitas diri yang baik. Bersama kita kalahkan rasa takut itu. Mari berani untuk menegur orang lain yang berbuat salah dengan kasih. Sebab dengan kita menegur dan mengingatkannya, kita ikut menyelamatkan orang itu dari perbuatan jahat lainnya. Kiranya kita dimampukan dan diberikan keberanian melakukannya. Selamat menghayati minggu-minggu pra paskah, Tuhan memberkati.
BERTOBATLAH DAN BALIK PADA BAPA!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Umat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Hari ini kita merenungkan firman Tuhah yang berjudul: “Bertobatlah dan Balik pada Bapa” dengan dasar dari kitab Yoel 2:12-13 “ Tetapi sekarang juga, demikianlah firman Tuhan, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa , menangis dan meratap . Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu , dan berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, Ia menyesal atas malapetaka yang hendak didatangkanNya.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, kehidupan kita sering kali dihadapkan dengan godaan dan tantangan yang membawa kita jauh dari jalan Tuhan. Ketika kita berbuat dosa, Tuhan mengundang kita untuk bertobat. “ Berbaliklah dengan Segenap Hati ” (Yoel 2:12 ) Pada ayat ini, Tuhan menyatakan bahwa pertobatan yang diinginkan-Nya bukan sekadar tindakan lahiriah, seperti mengenakan kain kabung atau berpuasa secara eksternal. Melainkan, pertobatan yang berdasarl dari hati yang tulus, sebuah keputusan untuk berpaling dari dosa dan kembali kepada Tuhan dengan sepenuh hati.
Kata “berbalik” atau “kembali” ini menggambarkan sebuah perubahan arah, dari hidup yang berfokus pada dosa menuju hidup yang berfokus pada Tuhan. Perubahan ini bukan sekedar tindakan lahiriah, tetapi juga perubahan dalam motivasi dan hati.
“Dengan segenap hati” menekankan bahwa pertobatan bukan hanya soal menghindari hukuman atau mendapatkan pengampunan, tetapi melibatkan relasi yang dipulihkan dengan Tuhan.
Tuhan memanggil umat-Nya untuk bertobat dengan tindakan yang mendalam: “ Dengan Berpuasa, Menangis, dan Meratap ” (Yoel 2:12). Ini adalah tanda penyesalan yang sungguh-sungguh atas dosa-dosa kita. Berpuasa dalam konteks ini adalah simbol penolakan terhadap kesenangan duniawi dan kesediaan untuk mengorbankan diri demi memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Menangis dan meratap menunjukkan kedalaman penyesalan, namun, ini bukan sekedar tentang perasaan emosional. Semua ini harus mengarah pada pertobatan yang sejati.
Tuhan menyatakan lebih tegas lagi: “ Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu ” (Yoel 2:13). Dalam tradisi Israel kuno, orang mengenakan pakaian kain kabung yang dikoyakkan dan menaburkan abu di kepala untuk menunjukkan pertobatan dan kesedihan. Tetapi Tuhan menginginkan lebih dari sekadar tanda yang nampak dari luar. Ia menginginkan hati yang hancur dan rendah hati di hadapan-Nya.
Tuhan ingin perubahan kita bukan saja perilaku yang nampak dari luar, tetapi juga perubahan dalam sikap hati dan niat kita.
Di bagian akhir dari ayat 13, Tuhan mengingatkan kita akan karakter Pribadi-Nya yang penuh kasih: “Sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya”. Ini adalah alasan mengapa kita dapat yakin bahwa Tuhan mengundang kita untuk kembali kepada-Nya. Karena Tuhan bukan hanya Tuhan yang adil dan benar, tetapi juga penuh kasih dan pengampunan.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh aktivis jemaat GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Bertobatlah dan balik pada Bapa.” Sebuah pujian yang menjadi berkat bagi banyak orang. Pujian ini menyatakan: “Bertobatlah dan balik pada Bapa, Dia tunggu kau dengan kesetiaanNya. Tuhan siap mengampuni dosamu. Oh baliklah pada Bapa. Jangan lambat hai sobatku. Tuhan tunggu kepadamu. Oh baliklah pada Bapa. Lagu ini mengajak kita semua yang mendengarnya untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan yang penuh kasih dan pengampunan. Lirik lagu ini sungguh menggambarkan belas kasih Allah yang selalu menanti kita kembali, tidak peduli seberapa jauh kita telah menyimpang.
Saudara-saudara yang terkasih, Tuhan adalah pengasih, penyayang, dan panjang sabar, dan saat ini Dia mengundang kita untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh kerendahan. Tuhan tetap memberi kesempatan bagi kita untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.
Bersediakah Saudara bertobat dan balik pada Bapa? Bukan hanya karena takut akan hukuman, tetapi karena kita mengenal kasih dan kesetiaan Tuhan yang tidak terbatas!
Bersediakah Saudara sekarang juga memperbarui komitmen Saudara untuk sungguh-sungguh bertobat dan balik pada Bapa? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa yang di surga, puji syukur dan terima kasih, firmanMu mengundang kami untuk sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada Bapa. Mampukanlah kami menghidupi pertobatan dalam hidup sehari-hari. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.
Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
RABU ABU: BUKAN DRAMA YANG PALSU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Matius 6: 1-8
Salam Damai Sejahtera dalam Anugerah Tuhan Yesus Kristus bagi bapak ibu, para muda dan para anak, yang datang dalam nama Tuhan Yesus.
Sebuah kesempatan isimewa jika kita dapat memaauki Rabu Abu, Kita diajak untuk bertobat dan percaya selalu kepada Kasih Allah dalam kehidupan kita, kepada Injil yang mengabarkan bahwa Kristus membawa keselamatan. Ini berarti dalam perayaan ini, kita menghayati lagi bahwa kesengsaraan Tuhan Yesus yang akan berujung Kebangkitan dan KenaikanNya ke Surga. Mengikuti perayaan ini adalah wujud bahwa kita sudah ada di jalan yang yang benar di dalam kehidupan ini; mengikuti teladan dan Jalan Keselamatan dari Dia. Dalam perayaan ini, kita menyerahkan diri kepada Allah dan percaya bahwa dalam keadaan apapun kita, umat Tuhan akan setia membawa kebaikan dan damai sejahtera, juga kabar keselamatan bagi dunia. Itulah sebabnya kita yang mengakui bahwa kita ini abu, mau bertobat dan mendapatkan keselamatan dari Injil Tuhan Yesus Kristus.
Namun harus diakui bahwa ada saja orang-orang yang memperingati Rabu Abu karena kita merayakan nya dengan “drama” penoreran abu itu. Tentu salah jika kita berhenti pada “drama” itu. Sejajar Dengan bacaan ini, hal seperti itulah yang kita hindari, yakni beribadah dengan kepalsuan. Apa artinya ibadah dengan kepalsuan? Jika kita menonton drama di TV atau Layar Lebar atau di internet, kita akan melihat berbagai adegan; harapannya dari drama itu kita dapat melihat ringkasan dari kehidupan yang nantinya pesan yang disampaikan membuat kehidupan kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Drama itu dapat menjadikan kita yang melihat atau yang memerankannya mendapatkan peringatan akan makna kehidupan dan bagaimanakah kita akan menjalaninya. Berbeda dengan sebaliknya; jika hidup kita juga adalah “drama”, maka hidup dijalani dengan topeng, lalu kebenarannya justru disembunyikan. Kisah Alkitab mengatakan demikian bahwa Tuhan tak menyukai jika kita justru menjalani hidup ini sebagai “drama“ semata; Berpuasa dengan muka muram, memberi agar dilihat orang, dan berdoa di perempatan jalan. Apakah juga sahabat akan memakai baju putih dengan sayap di belang dan mahkota di kepala, untuk menunjukkan kesalehan? Tentu tidak kan. Berteriak tentang kesalahan dan dosa orang lain, apakah tak malu? Padahal mereka (baca Farisi dalam bacaan kita tadi), bahkan rela merampas dan korup pada harta para janda dan orang miskin. Dengan jubah panjang dan doa di tengan jalan, itu semua drama, untuk menutupi bahwa mereka berlaku dan berbuat kejam. Ini kan jadi terbalik: kehidupan malah dijadikan drama untuk melanggengkan kejahatan dari ada hati dan pikiran juga perbuatan buruk yang disembunyikan. “Drama “ dipakai dalam kehidupan untuk mengecoh sesamanya.
Namun dalam bacaan kita hari ini, kita diingatkan bahwa jika kita melakukan “drama” spt di atas, maka sesungguhnya Tuhan tak dapat tertipu. Mengapa?
Karena Tuhan mengenal hati setiap orang. Penghayatan ini membuat umat Kristen menyadari bahwa apa yang ada di dalam hati, pikiran dan perbuatan, sekalipun disembunyikan (karena curang dan jahat kah?), maka sesungguhnya Tuhan mengetahuinya. Dan ini membuat umat Tuhan menjalani kehidupan yang sejajar dalam doa, dalam sikap dan dalam perbuatannya. Hidup sebagai orang yang utuh, tak terpecah kepribadiannya: ketika ibadah pun ketika dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita
Menyesali perbuatan dan dosa kita, maka demikianlah sesungguhnya kita, tak mengejar dosa, dan mau berjuang melakukan yang benar dan adil di hadapan Tuhan dalam keseharian hidup. Dengan penyesalan di ibadah Rabu Abu kitapun sedang berkata bahwa kita mau hidup kuat di dalam Tuhan Yesus, berjuang sampai akhir hidup, yakin bahwa tak ada perjuangan yang sia-sia dalam meneladani Tuhan. Dengan penerimaan diri apa adanya, dengan perjuangan, dengan dipenuhi syukur atas berbagai bentuk berkat, kasih dan penyertaan Allah kita, kita akan hidup jujur dan benar di hadapan Allah yang mengenal hati dan pikiran yang terdalam. Dengan Ibadah Rabu Abu, kita mohon agar dijauhkan dari “drama” yang menyesatkan dan jauh dari kehendak Allah.
Kini marilah kita memmohon Tuhan Tolonglah kami…, Tuhan kasihanilah kami…, Kyrie Eleison. Selamat Rabu Abu. (LiN-RH, 05-03-2025)
KERAS KEPALA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Nas: Keluaran 14:5, 8, Ketika diberitahukan kepada raja Mesir bahwa bangsa itu telah lari, berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu. Mereka berkata: “Apa yang telah kita perbuat ini, sampai-sampai kita melepaskan orang Israel dari perbudakan kita?” Demikian TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh Tangan Yang Tinggi.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, seseorang KERAS KEPALA, disebut Keras Kepala, karena tindakannya yang berulang yang selalu menghasilkan kerugian, walau pun sudah dinasihati agar menghentikan tindakan yang sudah berulang. Bagaimana dengan Firaun, raja Mesir, yang sudah sepuluh kali menolak permintaan Musa agar Firaun memperkenankan Israel keluar dari Mesir.
Tentu saja Firaun tidak memperkenankan Israel pergi dari Mesir, karena orang Mesir telah menjadikan Israel sebagai budak, tenaga kerja tanpa bayaran, dan Israel harus taat menghadapi kekerasan mandor Mesir yang mengawasi Israel. Tulah demi tulah, bagaikan pukulan yang menimpa Firaun dan rakyatnya sudah cukup peringatan untuk melepas bangsa itu. Pada saat tulah menimpa, Firaun telah bersedia mengabulkan agar Israel keluar dari Mesir, tetapi pikiran Firaun segerah berubah setelah tulah berlalu, dan keadaan aman kembali. Memang Firaun dan orang Mesir sangat melecehkan dan merendahkan orang Israel dengan Tuhan yang disebut oleh Musa. Ternyata Tuhanlah yang mengeraskan hati Firaun, agar Tuhan mempunyai kesempatan untuk membukakan kuasa-Nya, bagi bangsa Mesir dan bangsa Israel, demikian juga bagi bangsa di seluruh bumi. Menjadi suatu pelajaran bagi bangsa Mesir, dan bagsa Israel, bahwa Tuhan yang menyertai Israel sungguh mahakuasa, tak terkalahkan.
Tema kita Keras Kepala, dalam hidup sehari-hari disebut, “tobat sambel,” saat makan dengan sambal yang sangat pedas membuat “hidung meler” berucap, “tobat makan sambel sepedas ini,” tetapi dua hari kemudian masih juga suka dengan sambel pedas itu, karena mengundang selera makan. Banyak tindakan kita membawa kita jatuh ke dalam dosa, pada saat itu kita janji bertobat, tetapi tiba pada kesempatan baik, maka tindakan itu terulang lagi, dan ada lagi penyesalan dan janji untuk bertobat; untuk tindakan itu patut disebut Keras Kepala. Akhirnya Firaun dengan sikap keras kepala mengakibatkan kebinasannya dengan rakyatnya, mereka ditenggelamkan di laut Teberau, sedangkan Israel sungguh bebas dan selamat, merdeka dari perbudakan Mesir. Mesir telah mengalami kerugian besar, pasukan elit bersama petinggi militer Mesir telah tenggelam, malapetaka, dan kerugian besar itu, tidak akan terjadi kalau mereka memperkenankan Israel keluar dari Mesir.
Aplikasi:
- Awalnya di sebut Keras Kepala atas kelakuannya, tetapi ternyata berhasil baik, disebut sikap apakah yang demikian?
- Adakah kata lain dengan sebutan “sesal kemudian tak berguna.”?
- Sikap apa yang dibutuhkan agar tidak bertindak Keras Kepala?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, firman-Mu kami pegang teguh, bukan untuk Keras Kepala, karena hati kami setiap saat terbuka belajar dan menambah wawasan akan kehendak Tuhan yang harus kami pegang teguh. Inilah kerinduan kami dalam pertolongan Roh Kudus, Amin. [AS030325]
SOFT DRINK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 1 Petrus 5:8-9 (TB 2)
“Waspadalah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa saudara-saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, soft drink atau minuman ringan adalah minuman beraroma yang berbahan dasar air, yang pada umumnya berkarbonasi dan mengandung pemanis tambahan. Istilah soft drink merupakan kategori dalam industri minuman dan merupakan istilah halus untuk jenis minuman yang tidak mengandung alkohol. Menurut laman www.goodstats.id, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat bahwa 1 kaleng minuman soft drink ukuran 350 mililiter (ml), rata-rata mengandung 39 gram gula. Sementara itu, batas konsumsi gula yang disarankan adalah 50 gram. Artinya, dengan mengonsumsi 1 gelas soft drink saja, kebutuhan gula harian sudah hampir tercukupi. Survei Kemenkes tahun 2023 menemukan bahwa ada 2,5% penduduk Indonesia mengonsumsi soft drink perharinya. Bila perilaku ini tiak berubah, maka tidak heran apabila International Diabetes Federation (IDF) memproyeksikan bahwa pada tahun 2045, penderita diabetes di Indonesia akan mencapai 28,6 juta orang. Perlu diingat bersama bahwa menurut data di tahun 2021 lalu, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia, dengan total 19,5 juta orang. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa soft drink nikmat dan menyegarkan, namun demikian mesti tetap bijak dalam mengonsumsinya karena dapat menyebabkan: karies gigi, obesitas, diabetes, penyakit jantung dan asam urat.
Saudaraku, cerita tentang soft drink ini mengingatkan kita tentang kecenderungan kita terhadap dosa. Ibarat kata, nikmat sesaat namun membawa sengsara. Dengan pesona dan daya tariknya yang membutakan, kuasa gelap senantiasa berupaya agar anak-anak Tuhan kembali melakukan dosa. Kita harus selalu ingat bahwa Tuhan tidak menggolongkan dosa sebagai dosa yang kecil atau dosa besar sebab di hadapan-Nya sebuah dosa tetaplah dosa. Tuhan ingin agar kita semua selalu waspada terhadap godaan dari penguasa kegelapan. Cara kerja penguasa kuasa kegelapan itu seperti singa yang mengendap-endap dan menunggu mangsanya menjadi lengah. Rasul Petrus menasihati, “Waspadalah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa saudara-saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama”.
Petrus menasihati agar kita selalu waspada dan berjaga. Dalam nasihatnya ini Petrus mengingatkan kita untuk wasapda dan berjaga-jaga karena kita mempunyai musuh. Musuh yang sangat ganas, selalu siap menyerang untuk menghancurkan. Kepawaspadaan ini penting untuk tetap dipelihara sebab seringkali kita terlalu optimis dan menganggap bahwa penguasa kegelapan sudah kalah dan tidak berdaya lagi. Anggapan inilah yang kemudian membuat kita merasa tenang saat berada dalam situasi nikmat, gembira, aman, nyaman dan berhasil. Akibatnya, kita jadi lengah. Petrus mengingatkan bahwa sesungguhnya penguasa kegelapan – Iblis – itu aktif. Dia tidak pernah tinggal diam dan selalu mencari kesempatan untuk menyergap dan kembali menguasai kita. Apabila melalui strategi ‘kenikmatan dan kenyamanan’ ini tidak berhasil, maka iblis akan menyerang dengan cara melemahkan kita melalui berbagai macam persoalan, penderitaan dan pencobaan.
Saudaraku, sebagai anak-anak Tuhan kita mesti memiliki pergaulan yang erat dengan Tuhan, karena hanya Dia sajalah yang menjaminkan penyertaan dan pertolongan kepada kita. Jangan terlena dengan kenikmatan sesaat, namun justu membawa kita pada kesengsaraan di masa depan. Ingat bahwa soft drink itu nikmat, namun mesti bijak dalam mengonsumsinya agar tidak terkena penyakit diabetes, obesitas dan jantung. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, mampukan kami untuk tetap waspada dan berjaga-jaga terhadap berbagai upaya iblis untuk merebut kami dari kasih-Mu. Ajarlah kami untuk selalu dekat dengan firman dan kehendak-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
