renungan
”PA’PIONG”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 1 Yohanes 4:10 (TB 2)
“Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, pa’piong merupakan salah satu makanan khas Toraja yang menggunakan daging babi sebagai bahan utamanya. Pa’piong inilah yang menjadi menu makan siang yang disajikan dalam pembukaan Sidang Raya ke-18 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) yang di selenggarakan di Rantepao Toraja Utara. Kenikmatan rasa pa’piong_ini menyatu dalam keakraban bersama masyarakat yang turut hadir dalam ibadah. _Pa’piong berasal dari kata “pa’” dan “piong”. Piong dalam bahasa lokal Toraja berarti tabung bambu. Sementara kata Pa’ di awalnya berarti makanan ini terbuat dari bahan dasar daging babi. Dengan demikian pa’piong berarti daging babi yang dimasak di dalam tabung bambu. Masakan pa’piong itu sendiri terdiri dari potongan daging babi yang dicampur dengan daun miana – sejenis tanaman hias yang berwarna ungu dan kaya manfaat. Kemudian, bambu yang telah berisi bahan-bahan makanan ini dibakar hingga dagingnya matang.
Selain rasanya yang lesat, pa’piong juga menyimpan kisah tentang cinta dan pengurbanan. Alkisah cikal bakal leluhur orang Toraja yang bernama Pong Gaunti Kembong sedang terbang dan melihat seorang perempuan yang cantik rupawan di daratan. Ia pun ingin mempersuntingnya. Namun, perempuan itu bersembunyi dan masuk ke dalam batu. Perempuan ini bersedia keluar dan menjadi istri, dengan syarat: Pong Gaunti Kembong bersedia membuat makanan pa’piong Sanglampa. Pong Gaunti Kembong pun berusaha memenuhi syarat itu dan akhirnya perempuan itu keluar dari batu dan menikah dengannya. Dari perkawinan itu, lahirlah Pong Mattua, yang menjadi leluhur dan sosok yang disakralkan oleh masyarakat Toraja. Rupanya kelezatan pa’piong ini muncul karena ada cinta kasih yang mewarnai proses pembuatannya.
Saudaraku, kerelaan berkurban dengan dasar cinta kasih, merupakan pesan dari Injil. Rasul Yohanes menyatakan, “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”. Pernyataan ini mesti dipahami dalam kerangka nasihat Rasul Yohanes kepada Jemaat Kristen waktu itu yang sedang menghadapi persoalan pengajaran. Persoalan yang paling menonjol ialah ajaran palsu / sesat yang mengajarkan bahwa Yesus itu bukanlah Kristus (1 Yoh. 2:22, 1 Yoh. 5:1) dan menolak bahwa Kristus menjelma menjadi manusia (1 Yoh. 4:2-3). Ajaran sesat itu juga mengajarkan untuk tidak perlu menaati perintah Kristus (1 Yoh. 2:3-4, 1 Yoh 5:3), tidak perlu hidup kudus dan terpisah dari dosa (1 Yoh. 3:7-12) maupun dari dunia (1 Yoh. 2:15-17). Nah, dalam rangka menangkal ajaran sesat itu, maka Rasul Yohanes kembali menegaskan kemmbali tentang karya Tuhan Yesus Kristus yang telah membawa keselamatan. Karya Kristus ini didasari oleh kasih Allah sendiri. Hanya karena kasih-NYA-lah maka Allah telah mengutus Yesus Kristus sebagai kurban pendamaian bagi keselamtan umat manusia. Dari apa yang ditegaskan oleh Rasul Yohanes ini, kita memahami bahwa kasih Allah telah mendorong terjadinya pengurbanan yang maha agung melalui kematian Tuhan Yesus di kayu salib. Oleh karena itu, sebagai umat yang percaya dan tetap memegang iman kepada Kristus, maka kita mesti membuktikan kasih kita kepada-Nya dengan cara mengasihi sesama. Sumber inspirasi dari tindakan kasih itu adalah karya Tuhan Yesus sendiri yang bersedia mengasihi hingga IA terluka dan mati.
Saudaraku, kita semua adalah insan-insan yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita benar-benar mengimani dan mengamini kasih-Nya kepada kita. Dengan demikian, biarlah kita terus menyatakan kasih kepada siapapun, di manapun dan kapanpun agar Kristus dimuliakan. Kiranya sajian pa’piong hari ini mengingatkan kita agar terus menyatakan kasih itu. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami percaya bahwa Engkau begitu mengasihi kami. Oleh karena itu kami rindu untuk dapat menyatakan kasih kepada sesama kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
BERTANDINGLAH DENGAN BENAR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: I Timotius 6:12 (TB 2)
”Bertandinglah dengan benar dalam pertandingan iman dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang bena di depan banyak saksi”
Bertandinglah Dengan Benar
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Jemaat yang Kunci kemenangan seorang atlet dalam sebuah pertandingan adalah konsisten mempertahankan stamina dan mental.
Semua itu tidak terjadi secara instan, melainkan sebuah proses panjang yang dimulai sejak sebelum bertanding. Stamina dibangun dengan latihan fisik, pola makan, dan istirahat yang cukup. Sedangkan kekuatan mental dilatih dengan berfokus pada tujuan pertandingan.
Paulus menggambarkan kehidupan beriman sebagai sebuah pertandingan yang bertujuan mencapai kehidupan yang kekal. Memang, kehidupan kekal itu diperoleh karena anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Namun bukan berarti iman itu diterima ala kadarnya saja. Iman harus dilatih dengan melakukan ibadah, keadilan, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan. Paulus juga mengingatkan adanya berbagai godaan yang dapat melemahkan iman, seperti materi yang dapat mengakibatkan kesombongan dan ajaran kosong yang menyebabkan pertentangan.
Dengan menjaga iman agar tetap terlatih, kita akan tetap teguh dan kuat pada saat bertanding dalam pergumulan hidup. Kehidupan iman kita memang akan mengalami situasi naik turun dan gejolak seiring pergumulan hidup yang dihadapi. Kita mungkin berpikir betapa sulitnya hidup mengikut Tuhan dan mengapa semakin kita setia, godaan terasa semakin banyak. Justru itulah pertandingan dan ujian iman kita. Buktikanlah bahwa iman yang kita terima karena anugerah Tuhan itu tidak kita jalani dengan ala kadarnya, melainkan sungguh teruji dalam pertandingan iman. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita.
JANGANLAH GENTAR, HAI KAWANAN KECIL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara saudari dan anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Tema renungan kita adalah “Janganlah Gentar Hai Kawanan Kecil”, dengan dasar Lukas 12:32 (TB 2 ) Tuhan Yesus bersabda: “ Janganlah takut, hai Kamu kawanan kecil, karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu!” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, harus diakui bahwa dalam situasi dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan penolakan, para murid dapat merasa kecil, tidak berdaya, dan terpinggirkan. Ini mencerminkan kondisi para murid yang lemah. Tetapi Tuhan Yesus berkata: “Janganlah takut, hai Kamu kawanan kecil…” Istilah “kawanan kecil” merujuk kepada para pengikut Tuhan Yesus yang setia. Meskipun kita mungkin merasa lemah atau tak berdaya sebagai kawanan kecil, kita tetap memiliki nilai dan tempat di hadapan Tuhan.
“Bapamu telah berkenan memberikan Kerajaan itu” Ini menunjukkan hubungan intim kita dengan Bapa yang ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Janji kehidupan dalam Kerajaan Tuhan, adalah sebuah janji yang membebaskan kita dari rasa takut dan menghadirkan semangat pengharapan.
Firman Tuhan ini merupakan penghiburan dan janji yang kuat. Ini meyakinkan kita bahwa Tuhan telah memberikan kita bagian dalam kerajaan-Nya.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh jemaat GKI Kwitang dalam ibadah Minggu sebuah pujian yang berjudul: “Janganlah gentar hai kawanan kecil”, lagu ini memberikan penguatan bagi setiap orang percaya. “Janganlah gentar, hai kawanan kecil. Rajamu menang atas maut ngeri”; Syair ini mengingatkan kita bahwa Tuhan Yesus, Raja kita telah mengalahkan maut. Kemenangan-Nya di kayu salib membuat tidak ada lagi yang perlu kita takutkan. Tuhan sudah memberikan jaminan kepastian kehidupan yang kekal, dan musuh yang paling besar telah ditaklukkan.
“Segala kuasa dib’ri pada-Nya di sorga dan di bumi demi umat-Nya.” Syair ini mengingatkan kita akan otoritas Tuhan Yesus yang mutlak. Dia memiliki kuasa atas segala sesuatu, dan kuasa itu telah diberikan demi kita.
“Gembala memilih tempat kau pergi; getir kepahitan dimaniskan-Nya, pahitnya diminum-Nya di Golgota.” Kita diingatkan bahwa sebagai kawanan kecil, Tuhan adalah Gembala kita yang mempunyai rencana bagi kehidupan kita. Meskipun ada getir kepahitan dalam hidup ini, Tuhan akan mengubahnya menjadi manis. Mengapa Saudara? Karena Dia sendiri telah merasakan pahitnya penderitaan di Golgota, sehingga Dia memahami kita dan berjalan bersama kita dalam setiap langkah hidup kita.
“Dengan Tuhan hadir kau tak terpencil; kau tak ‘kan pernah ditinggalkan tetap”. Ini adalah janji bahwa Tuhan selalu bersama kita. Kita mungkin merasa sendirian dalam perjalanan kita, tetapi kenyataannya, Tuhan selalu menyertai kita, dalam terang maupun gelap. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kehadiran-Nya membawa kenyamanan dan pengharapan.
Oleh sebab itu Refrein lagu ini menyatakan: “Percayalah, percayalah! Tiada yang mustahil, percayalah!” Ini adalah seruan kepada kita semua untuk percaya. Ketika kita dihadapkan pada kesulitan, iman kita tetap teguh, membawa kita untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Amin, Saudara? Puji Tuhan!
Saudara-saudara, janganlah gentar, hai kawanan kecil. Kita memiliki Bapa yang hebat yang berkenan memberikan Kerajaan-Nya kepada kita semua. Yakinlah, Tuhan kita adalah Gembala yang baik, yang akan terus memimpin kita. Janganlah gentar, hai kawanan kecil! Bersediakah Saudara untuk tetap percaya dan saling menguatkan? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa yang di surga, terima kasih firmanMu hari ini mengingatkan kami untuk tetap percaya dan saling menguatkan, meskipun kami sebagai kawanan kecil menghadapi berbagai persoalan hidup. Kami berdoa bagi setiap pribadi anak-anakMu yang saat ini sedang mengalami pergumulan hidup yang berat, kuatkanlah ya Tuhan, tolonglah ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
Tetap Setia
Admin 02 Renungan Harian firman, renungan
Views: 0
Bacaan: Markus 13:9-23
Sahabat Kristus, Tuhan Allah yang penuh kasih, menghendakinkita untuk terap taat dan setia kepadaNya. Sekalipun kita sedang merasa hidup begitu berat. Tekanan dan cobaan melanda, kita akan setia berpegang Teguh padaNya. Jangan biarkan dirimu terhanyut oleh bujukan dunia ini untuk memilih memandang dan berpihak kepada mereka, melainkan kita akan memandang kepada Tuhan Allah yang menyelamatkan kita oleh Mesias Nya, dalam perjalanan kita di dunia ini.
Seperti bacaan Alkitab hari ini kita memperoleh kekuatan untuk tetap berpegang teguh pada Sang Meaias yang sesungguhnya. Yerusalem dalam bacaan kita, adalah tanah yang sudah lama diperebutkan untuk dikuasai. Demikianlah Tuhan menghendaki setiap umat yang sedang mengalami tekanan dan penderitaan, karena perebutan kekuasaan, agar selalu kembali taat dan setia kepadaNya. Umat Israel pun seringkali berlaku buruk dan keji, karena lebih memandang dunia ini, sehingga kali ini, umat diingatkan bahwa jika mereka yang ingin mendapatkan klekuatan dan kelepasan, maka mereka akan mempertahankan iman mereka dalam keadaan apapun. Dalam perjuangan untuk menjadi setia, bersaksi dan mengabarkan berita Keselamatan, mereka akan membiarkan diri mereka dipimpin oleh Roh Kudus. Walau hidup kelihatannya berat dan menakutkan sekalipun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa jika mereka tetap setia dan menjadi Saksi Nya, mereka inilah yang akan mendapat keselamatan.
Sahabat Kristus, marilah kita menghargai kehidupan bersama yang saling menguatkan dan mendukung agar bersama kita hidup berhati-hati dan tetap seria menantikan kedatanganNya kembali, dan kita percaya bahwa kita adalah bagian dari mereka yang diselamatkan. Tuhan menyertai. Immanuel. (LiN-RH, 20-11-2024)
Tuhan Kekuatan Umat
Admin 02 Renungan Harian harian, renungan
Views: 0
Salam sejahtera, semoga kita makin mempercayai bahwa Tuhan adalah kekuatan umat, keluarga, pribadi. Pada saat kita sakit, lemah, dalam bahaya, terancam, berduka, menderita, kita percaya Tuhan adalah kekuatan kita (Mazmur 28:8, Tuhanlah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!)
Kita percaya hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan, menolong, melindungi umat. Tuhan adalah kekuatan dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi. Diurapi Tuhan berarti dipilih dan ditahbiskan oleh Tuhan untuk tujuan tertentu, diutus Tuhan. Pengurapan melambangkan kehadiran dan kekuatan dari Roh Kudus dalam kehidupan seseorang. Yesus Kristus diurapi oleh Allah dengan Roh Kudus untuk memberitakan Kabar Baik dan membebaskan manusia dari dosa.
Kalau orang percaya bahwa Tuhan adalah kekuatan dan perisai maka orang tersebut sangat membutuhkan, mengandalkan dan mengharapkan Tuhan, hidup mendekat dan mencari Tuhan. Ada orang yang dalam kesusahan, kesedihan atau kedukaan, menderita, makin menjauh dari Tuhan. Orang ini merasa tidak membutuhkan kekuatan, pertolongan dari Tuhan. Mengapa makin menjauh dari Tuhan? Karena salah berpikir. Ia berpikir penderitaan, kedukaan, kemiskinan, yang dialaminya disebabkan oleh Allah. Baginya, Tuhan tidak adil, tidak mengasihi dirinya, tidak memperhatikan dirinya, Orang ini kesal pada Tuhan karena tidak mengerti, tidak merenungkan firman Tuhan yang menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah membuat kesusahan umat yang diurapiNya, yang mendekat pada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Cara berpikir yang benar adalah Tuhan itu menyelamatkan, menolong, mengasihi, melindungi. Inilah sifat Tuhan yang sesuai dengan pengakuan iman yang diucapkan setiap minggu. Orang yang berpikir Tuhan tidak baik, berarti ia menyimpang dari pengakuan iman.
Seorang remaja A, ditinggal oleh ayah dan ibu yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Remaja A ini marah terhadap Tuhan karena Tuhan tidak menyembuhkan ayah dan ibunya dari sakit, sehingga meninggal. Ia tidak percaya Tuhan mampu melindungi ayah dan ibunya dari penyakit. Remaja A ini akhirnya mencari kekuatan dari teman, minuman yang beralkohol, narkoba dan lain-lain. Remaja ini makin menjauh dan tidak membutuhkan Tuhan. Hidupnya bukannya makin kuat, malah makin lemah dan rusak. Remaja A ini berpikir kalau Allah kekuatan, melindungi, menyelamatkan, maka Allah melindungi ayah dan ibu dari penyakit. Kalau ada sakit, Allah harus segera menyembuhkan, baru ia percaya Allah kekuatan, melindungi menyelamatkan.
Kita jangan mengikuti cara berpikir sendiri yang salah, yang menyimpang dari firman Tuhan, yang melemah. Kita mengikuti cara berpikir dalam Mazmur 28 bahwa ketika hidup kita makin susah, berduka, sakit, tidak bisa berjalan, tidak bekerja, lemah, teraniaya, maka kita makin mencari, membutuhkan Tuhan adalah kekuatan, Gunung Batu kita. Orang yang makin menjauh dari Tuhan seperti kisah remaja A, hidupnya semakin di runtuhkan Tuhan, hidupnya tidak ditegakan Tuhan lagi (Mazmur 28: 5). Orang yang menjauh dari Tuhan, ketika ia sedang berduka, miskin, lemah, hidupnya makin memburuk, makin rusak. Pada akhir zaman, hidupnya runtuh seperti semua batu-batu besar di Bait Allah di runtuhkan. Kita tidak ingin dalam kesedihan, kelemahan, sakit, teraniaya, hidup kita makin rusak, karena itu kita membutuhkan, mengandalkan Tuhan kekuatan umat, gunung batu, perisai, benteng keselamatan, agar hidup kita tegak, tidak runtuh. Kita beria-ria, selalu bernyanyi bersyukur bahwa Tuhan baik, Tuhan kekuatan yang memampukan kita melakukan apa yang baik dan benar, menguatkan, menegakkan hidup kita.
Tuhan adalah kekuatan umat artinya hanya pada Tuhan kita berharap, bukan pada manusia, bukan pada benda. Orang berharap pada Tuhan Gunung Batu. Gunung batu , berarti tidak ada badai yang bisa mengoyahkan gunung batu. Orang yang berlindung pada gunung batu akan aman. Dalam kesulitan hidup, dalam sakit, dalam kedukaan Tuhan mengangkat kita ke gunung batu, tempat Allah yang mahakudus, tempat yang aman, tenteram damai, tenang bersama Allah. Gunung batu hanya satu, tidak ada yang lain, hanya Tuhan satu-satunya, tempat kita dijamin aman, damai tenang, selamat, terlindungi dari serangan musuh, dari ancaman bahaya, seperti pengalaman Daud yang merasa damai, aman dalam perlindungan Tuhan, walau ada ancaman dari Saul.
Allah Gunung Batu bukan dalam arti benda mati, bisu, tidak berbicara. Tuhan Gunung Batu itu mendengar seruan minta tolong dari umat yang diurapiNya. Tuhan memperhatikan dan menjawab seruan umatNya. Dalam kondisi kita, keluarga sakit, menderita jangan pernah berpikir Allah itu diam, bisu, Allah tidak bertindak. Apapun situasi kita, kita percaya bahwa Allah tetap Gunung Batu dan kekuatan, perisai hidup, benteng keselamatan. Tuhan pasti mendengar, menjawab seruan dari umat yang diurapiNya. Allah sudah memberi contoh ketika bangsa Israel menderita diperbudak Mesir, seruan umat di dengar Allah, namun cara Allah menolong melindungi dan waktu menolong melepaskan, sesuai kehendak dan rencana Allah. Waktu Tuhan tidak bisa ditentukan manusia. Umat diminta mengikuti cara Tuhan menolong, memulihkan, menyelamatkan. Allah itu Gunung Batu yang tidak bisu, karena itu sampaikan keluh kesah dalam seruan doa, dengan sikap yang sangat membutuhkan Tuhan, mengandalkan Tuhan.
Kalau kita berpikir Allah itu diam, bisu, maka sia-sialah iman kita. Hidup yang sia-sia seperti orang menuju kepada kematian bukan menuju pada kehidupan. Allah tidak bisu, mendengar seruan doa kita, maka Allah akan mengangkat kita ke arah tempat Allah yang mahakudus. Mengangkat itu seperti burung rajawali, ketika anaknya jatuh, hampir sampai ke tanah, maka burung rajawali segera mengangkat anaknya ke sarang tempat tinggal rajawali. Tuhan selalu melihat kita dari jauh, dan ketika kita dalam bahaya, terperosok, kita berseru pada Tuhan, maka Tuhan akan mengangkat dengan cara dan waktu Tuhan, bukan sesuai cara dan waktu manusia. Tuhan mengangkat saat kita bersedih, berduka, menderita, sakit lemah, itulah yang disebut dengan Tuhan kekuatan kita.
Marilah kita menyanyikan dan bersyukur bahwa Tuhan kekuatan kita, Tuhan nyanyian kita, Tuhan keselamatan kita, Tuhan dipihak kita. Kita tidak gentar menghadapi hidup seperti ungkapan dalam PKJ 307 ayat 1. Tuhanlah kekuatanku, Tuhanlah nyanyianku: Dialah kes’lamatanku. Jikalau Dia di pihakku, terhadap siapakah ‘ku gentar? amin
Berdoa: Ya Tuhan kiranya kami makin mempercayai bahwa Tuhan adalah kekuatan umat, keluarga, pribadi. Pada saat kami sakit, lemah, dalam bahaya, terancam, bingung, menderita, kami tetap percaya Tuhan kekuatan kami, benteng keselamatan bagi orang yang diurapi, dalam Yesus kami berdoa. amin
ARARAT
Admin 02 Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 8:4, Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit. Dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari. Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, “melawan lupa,” kali ini kita menyegarkan ingatan kita dengan nama ARARAT, suatu pegunungan tempat bahtera Nuh ‘kandas.’ Tujuan mengadakan air bah oleh Tuhan telah tercapai, semua manusia dan binatang darat telah, binasa oleh air bah yang didatangkan Tuhan. Untuk itu mata-mata air yang membual dari bumi ditutup oleh Allah, hujan lebat dari langit berhenti diganti dengan terang matahari pagi hingga sore, dan angin bertiup mempercepat air bah itu makin surut. Bahtera Nuh itu tidak dilengkapi dengan kemudi sehingga bisa diarahkan, dan bahtera itu bukanlah untuk suatu perjalanan menuju tempat tertentu, melainkan bahtera keselamatan bumi ini, manusia dan binatang darat. Tuhanlah juru mudi bahtera itu, sehingga dapat berlabuh dengan selamat dan nyaman di suatu tempat di pegunungan ARARAT. Ararat bukan tujuan terakhir tetapi awal memulai hidup baru bumi ini.
Pernah orang membuat sebuah kapal digerahkan oleh mesin, dikemudikan oleh seorang kapten kapal itu, namanya kapal Titanic. Biaya membangun kapal itu menghabiskan uang dan tenaga yang sangat besar, sehingga perhitungan perjalanan kapal Titanic itu aman dan nyaman, pada hari perjalanannya semua penumpang bersukacita, tetapi kapal itu mengalami bencana menabrak gunung es pada lambungnya dan kapal itu kandas, tenggelam seluruhnya ke dasar laut dengan banyak korban manusia. Bahtera Nuh dalam pelayarannya menuju hari baru untuk keselamatan dunia dengan segala isinya. Bahtera itu dikemudikan oleh Allah sampai berlabuh dengan selamat, sehingga semua penumpang mendapat hari yang baru, kehidupan yang baru, keselamatan, melanjutkan rencana Tuhan untuk dunia ini, dimulai kembali di pegunungan Ararat.
Ada baiknya kita melihat perjalanan hidup ini, bagaikan bahtera, itulah perjalanan hidup kita dengan segala yang kita alami, seperti dari lahir, kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa, bekerja, mengembangkan karier, menikah, membangun keluarga dengan anak, makin bertambah usia, lanjut usia, usia tua, dan akhirnya berlabuh di suatu tempat yang disediakan oleh Tuhan bagi kita, itulah Ararat, untuk melanjutkan hidup bersama Allah. Bahtera hidup kita masih mengarungi lautan kehidupan, mungkin bagaikan kapal Titanic, hidup berkelebihan, nama termasyur, atau mungkin bagaikan bahtera Nuh, yang membawa benih keselamatan, akan tiba saatnya tinggal cerita untuk dikenang, apakah tiba di ARARAT, atau di tempat lain untuk kehidupan berikutnya?
Aplikasi:
1, Mengapa Nuh yang terpilih saat itu membuat bahtera keselamatan bumi ini?
2, Apakah bahtera hidup Anda telah berawal dari Ararat yang disedikan Tuhan?
3, Coba cari letak geografi gunung Ararat, sekarang di negara mana?
Mari berdoa: Bapa kami yang disurga, sumber kehidupan dan pengendali kehidupan. Tahapan-tahapan perjalanan hidup ini kami jalani, “ararat demi ararat” kami lalui, tetapi tujuan hidup kami jelas agar bersama dengan Kristus. Inilah doa dan harapan kami dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS1811’24]
”WEDANG UWUH”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 2 Korintus 4:7 (TB 2)
“Namun, harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku,wedang uwuh adalah minuman tradisional khas daerah Yogyakarta yang berbahan dasar rempah-rempah. Tampilan minuman ini berbeda dari jenis wedang-wedangan lainnya, yaitu: penampakannya yang awut-awutan alias berantakan penuh ranting dan dedaunan. Dari tampilannya inilah, maka lahir nama “wedang uwuh”. Dalam bahasa jawa wedang berarti “minuman” dan uwuh berarti “sampah”, jadi ‘wedang uwuh’ berarti “minuman sampah”. Tampilan yang awit-awutan ini disebabkan karena wedang uwuh berisi rempah-rempah yang terdiri dari: jahe, kayu secang, kayu manis, serai, kapulaga, gula batu, bunga cengkeh, daun cengkeh dan batang cengkeh. Tetapi, walaupun penampakannya seperti tumpukan sampah di dalam gelas, wedang uwuh kaya manfaat untuk kesehatan tubuh. Berikut adalah beberapa manfaat wedang uwuh untuk kesehatan tubuh, yaitu: mengandung senyawa antioksidan sehingga dapat meningkatkan imunias tubuh; berpotensi sebagai antiradang, antikanker, dan antijamur; meningkatkan fungsi sel-sel otak, sehingga dapat mencegah penyakit parkinson dan Alzheimer; mengurangi kadar kolesterol dalam darah; menyehatkan pencernaan; membantu mengatasi radang tenggorokan; dan lain-lain. Meski nama dan tampilannya buruk, namun wedang uwuh kaya akan manfaat.
Saudaraku, wedang uwuh ini mengingatkan kita pada pengalaman pelayanan Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus. Pada waktu itu terjadi perselisihan di dalam persekutuan Jemaat Korintus. Perselisihan itu dipicu adanya kelompok-kelompok yang menyebut diri sebagai pengikut Paulus, Apolos ataupun Kefas. Selain itu, ada sebagian anggota jemaat yang merasa memiliki karunia-karunia Roh, sehingga mengganggap dirinya memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik dibanding dengan yang lainnya. Ada juga pemisahan golongan berdasarkan status ekonomi, sosial dan juga ras (Yahudi – Romawi). Di tengah situasi yang saling mengunggulkan diri, Rasul Paulus Rasul Paulus justru menyatakan dirinya di dalam status yang tidak layak untuk dibanggakan, yaitu penderitaan dan kelemahan. Paulus menyebutkan, “Namun, harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami”. Melalui pernyataan ini, Rasul Paulus mengingatkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya semua hal yang berharga di dalam kehidupan kita itu anugerah Allah yang mulia. Sedangkan kita ini hanyalah bejana tanah liat yang rapuh. Pernyataan ini sekaligus menjadi sebuah peringatan yang keras supaya kita tidak menjadi sombong karena segala hal yang kita miliki, seperti: karunia, jabatan, harta, karunia Roh dan lain-lain. Bagi Rasul Paulus, yang penting bukan memamerkan dirinya sendiri, melainkan Nama Kristus. Dan jika Paulus dapat melakukan tugas pelayanan, itu semua bukan karena kehebatan dirinya sendiri, melainkan Allahlah yang telah menyediakan hidup, kuasa, dan berita itu. Meski Paulus merasad ri hanyalah mahluk yang tidak pantas membanggakan diri, namun ia sadar bahwa dirinya telah diberi pengetahuan dan pengalaman dalam mengenal Tuhan Yesus Kristus. Pengenalan dan pengalaman iman di dalam dan bersama Tuhan Yesus inilah yang diwartakan kepada orang lain. Pernyataan Paulus tadi menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan dan kuasa Allah, bagi siapa saja yang bersedia mendengar kabar sukacita yang menguatkan tentang Kristus Tuhan. Dan kuasa untuk menyampaian berita itu tidak berasal dari kepintaran atau kekuatan Paulus sendiri, melainkan berasal dari Allah sendiri.
Saudaraku, sebagai murid-murid Kristus mari kita mengingat bahwa kita ini hanyalah bejana-bejana tanah liat yang rapuh. Oleh karena itu, bila kita dapat menjadi saksi Kristus, maka itu semua karena pertolongan Tuhan. Tubuh kita boleh rapuh, tetapi iman kita harus tetap teguh dan kuat di dalam Tuhan. Sehingga kita dapat bersaksi tentang Allah yang hidup di dalam Nama Tuhan Yesus. Seperti tadi, meski namanya “wedang uwuh” alias ‘minuman sampah’ bahkan tampilannya juga seperti sampah di dlaam gelas, namun memiliki khasiat yang hebat bagi kesehatan. Mari kita terus bersaksi bagi kemuliaan Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus membarkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
YA Tuhan, kami sadar bahwa berbagai persoalan silih berganti hadir di dalam kehidupan kami. Kami rindu agar di tengah-tengah kelemahan, kami tetap dappt menyatakan kasih dan anugerah-MU. Terpujilah kiranya Nama-Mu. Terimakasih, ya Kristus. Amin.
NIAT BAIKMU DITOLAK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Kisah Para Rasul 7: 25 (TB 2)
”Ia menyangka saudara-saudaranya akan mengerti bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Jemaat yang terkasih.. Alkisah, ada seorang anak yang terkejut dengan bunyi pecah piring yang ada di dapur. Segera ia melihat apa yang terjadi di sana. Sang ibu ternyata tak sengaja menyenggol piring saat sedang memasak. Sang anak segera berlari dan mengambil pecahan kaca itu dengan tangannya. Sontak, sang ibu membentak nya karena khawatir tangan anaknya itu terluka. Namun apa yang terjadi? Anak tersebut menangis dan merasa niat baiknya tidak diterima oleh ibunya. Sang ibu kemudian dengan lembut segera memeluk anak tersebut dan menjelaskan bahwa ia bermaksud baik, tetapi menggunakan cara yang salah.
Seperti halnya kisah dalam bacaan hari ini, Musa merasa gelisah melihat bangsanya tertindas oleh bangsa Mesir. Suatu ketika ia melihat dua orang bangsa Israel bertengkar. Musa berusaha melerai, tetapi ditolak oleh kedua orang itu.
Salah satu dari mereka mengungkit kasus pembunuhan terhadap orang Mesir yang pernah Musa lakukan. Pembunuhan itu dilakukan oleh Musa untuk membela bangsanya, tetapi dengan cara yang salah. Musa menjadi takut dan lari ke tanah Midian. Namun kisah Musa tidak berhenti di situ, karena Allah memanggil Musa kembali dan menuntunnya menjadi penolong Israel. Kali ini, Allah menolong Musa melakukan untuk niat baik bagi bangsanya dengan cara yang benar.
Jemaat yang terkasih, mungkin niat baik kita pernah ditolak oleh orang lain. Hal itu terasa menyakitkan dan bisa jadi membuat kita enggan berbuat baik lagi. Namun tunggu dulu, barangkali yang ditolak bukanlah niat baik kita, melainkan cara kita yang kurang tepat. Jangan menyerah untuk terus berbuat baik. Mintalah hikmat dari Tuhan agar kita dituntun untuk menolong sesama dengan cara yang benar. Kiranya Tuhan memampukan kita untuk terus melakukan hal baik, Tuhan memberkati.
