renungan
MENJADI PELAYAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Markus 9:30-37
Salam sejahtera semoga kita menjadi gereja yang melayani Tuhan dengan cara melayani sesama, bukan gereja yang mencari kehormatan atau menjadi yang terbesar, seperti ungkapan dalam Markus 9:35 (TB2) Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.
Di dalam suatu gereja, sering mengalami kesulitan dalam mencari calon penatua yang baru, dan yang muda, mencari guru sekolah minggu, mencari pengurus badan pelayanan, mencari panitia, mencari orang yang mau bersaksi, mau melayani dan mau bersekutu. Regenerasi penatua dan pengurus badan pelayanan juga sulit dilakukan, sehingga yang mau melayani hanya orang tertentu saja.
Mengapa gereja perlu penatua, pendeta, guru sekolah minggu, pengurus badan pelayanan, panitia atau tim ? Penatua dan pendeta diperlukan untuk mengemban fungsi pelayanan kepemimpinan dalam rangka memperlengkapi anggota gereja agar mampu berperan serta ke dalam misi Allah. Guru sekolah minggu juga memperlengkapi anak-anak sekolah minggu. Pengurus badan pelayanan diperlukan dalam pelayanan kepemimpinan dalam bidang tertentu. Fungsi kepemimpinan dilakukan secara kolektif kolegial, bersama-sama tidak sendirian.
Anggota gereja dipanggil Allah untuk berperan serta dalam misi Allah yaitu karya Allah dalam penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, pembaruan di dunia, yang dikerjakan melalui Anak di dalam Roh Kudus. Peran tersebut dilakukan dalam komunitas, persekutuan bukan individualis, egois, dan mau mewujudkan kesaksian dan pelayanan dengan memperjuangkan kesejahteraan, keadilan, perdamaian, keutuhan seluruh ciptaan Allah. Peran serta gereja ke dalam misi Allah itu dilaksanakan oleh setiap dan seluruh orang beriman di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia.
Gereja sebagai pelayan bagi misi Allah, maka anggota gereja tunduk kepada kehendak dan pikiran Allah, bukan mengikuti kehendak dan pikiran sendiri. Yudas secara fisik mengikut Yesus, tapi hatinya terarah pada kepentingan diri sendiri, rencana sendiri, tidak ikut rencana Tuhan. Yudas merencanakan untuk menyerahkan Yesus, Anak Manusia kepada pemimpin Yahudi. Yesus tahu isi hati dan rencanaYudas, karena itu Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari ia dibunuh, ia akan bangkit (Markus 9:31). Yesus dapat melihat isi hati pikiran Yudas. Ia terkena tipu muslihat iblis, yang menawarkan kekayaan. Pada masa kini, Yesus juga bisa melihat isi hati dan pikiran kita, apakah kita juga sudah terkena tipu muslihat iblis, mengejar kekayaan, kehormatan dunia, bukan mencari harta surgawi, dan mahkota kemuliaan dari Allah, dengan melayani dan bersaksi bagi Tuhan.
Turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid Yesus yang membuat orang beriman berkumpul. Roh Kudus menghimpun umatNya dari segala bangsa, suku, kaum bahasa ke dalam persekutuan di mana Kristus adalah Tuhan dan kepala. Roh Kudus memberi kuasa kepada gereja dan mengutus gereja ke dalam dunia untuk menjadi saksi, melayani. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri. Gereja berusaha untuk senantiasa sehati sejiwa selaku jemaat Allah, Gereja terbuka kepada segala bangsa dan tidak boleh terpecah-belah. Tapi dalam kenyataan di lapangan, anggota gereja sering terpecah-pecah, tidak sehati sejiwa, karena ada anggota yang memikirkan diri sendiri, seperti perpecahan, pertengkaran yang dilakukan murid-murid, karena ada yang mau menjadi yang terbesar, mereka tidak memikirkan apa yang sedang dilakukan Yesus melalui jalan penderitaan di salib.
Murid-murid walau sudah berjalan bersama Yesus, tapi mereka belum terbentuk jiwa melayani, malah dalam pikiran mereka yang ada ambisi untuk mendapatkan kedudukan yang tertinggi, terbesar dalam pemerintah Yesus, jika sudah terbentuk pemerintahan Allah. Mengejar ambisi dan gila hormat, membuat murid-murid berselisih atau bertengkar menentukan siapa yang terbesar. Padahal mereka berjalan bersama-sama Yesus yang akan menghadapi penderitaan jalan salib. Yesus menjelaskan bahwa menjadi pelayan seperti yang Yesus lakukan, siap direndahkan, diejek, dianiaya demi menjalankan tugas dari Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa, dengan jalan berkorban di salib. Jalan salib bukan jalan mencari kedudukan, tapi siap dihina dan direndahkan, tapi tujuan semua itu agar manusia menyesali dosa dan ditebus, diperbaharui hidupnya sesuai kehendak Tuhan. Apa yang dipikirkan, diinginkan murid-murid harus dinyatakan dihadapan Yesus, sehingga murid-murid tahu apakah pikiran mereka sesuai dengan kehendak Yesus.
Yesus menjelaskan kepada murid-murid dan juga kita masa kini, kalau ingin menjadi terbesar dalam Kerajaan Allah, menjadi terbesar dihadapan Allah maka orang tersebut menjadi yang terakhir, siap menjadi hamba, siap melayani Tuhan. Murid-murid Yesus bukan orang yang berambisi memerintah, menyuruh, tapi sebaliknya berambisi melayani, menjadi hamba dan bukan dilayani, bukan menjadi tuan. Yesus dikenang, dihargai, dihormati karena Yesus melayani manusia yang lemah menderita, berdosa, tersesat untuk diselamatan dari dosa. Yesus dihormati dikenal karena melayani menolong orang sakit lemah miskin menderita. Kita adalah murid Yesus, maka kita diajarkan menggunakan karunia talenta untuk melayani. Orang yang tidak mengejar kedudukan, tapi yang siap melayani dalam bidang apapun juga.
Marilah kita mendengar panggilan Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan dan menyerahkan hidup kita pada Tuhan untuk dipakai sebagai hamba Tuhan, untuk diutus menjadi saksi Tuhan. Kita memohon agar diberi hati yang setia melayani, diberi hati yang bersih dalam mengasihi Tuhan dan sesama, diberikan hikmat dan kuasa dalam melayani dan memberitakan Injil seperti ungkapan dalam Kidung Keesaan 651 ayat 1 Aku hambaMu, Tuhan, Dikau memanggilku. Aku berserah, Tuhan, pakailah hambaMu, Ini aku utus aku jadi saksiMu. B’rilah hati yang setia melayani. B’rilah hati yang bersih mengasihi. B’rikanlah kuasaMu dan b’rikan hikmatMu kepadaku, dan mampukan diriku membawa InjilMu ke s’luruh dunia. amin
Berdoa:
Ya Tuhan kami memuliakan nama Tuhan, yang telah memanggil kami untuk menjadi hamba Tuhan, melayani Tuhan dan sesama, bukan mencari kehormatan atau menjadi yang terbesar. Kami menyerahkan hidup kami untuk dipakai sebagai hamba Tuhan. Kami memohon agar diberi hati yang setia melayani, diberi hati yang mengasihi Tuhan dan sesama, diberikan hikmat dan kuasa dalam melayani dan memberitakan Injil. dalam nama Yesus kami berdoa amin.
MAKHPELA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 23:17-18a, 19a,
Demikanlah ladang Efron, yang terletak di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta semua pohon di ladang itu hingga di seluruh batas tanah itu, beralih kepada Abraham menjadi miliknya, di depan mata bani Het .. (19a) Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela …
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dengan memperabukan (kremasi) jenazah berarti tidak butuh tanah makam. Abu jenazah ditaruh dalam wadah yang relatif kecil, bisa disimpan, dan bisa dihamburkan ke sungai atau ke laut. Kuburan khususnya bagi masyarakat Jakarta kadang menjadi pemikiran yang tidak gampang. Kadang TPU bagi jenazah memerlukan biaya, dan pemeliharaan kuburan itu juga memerlukan biaya, akhirnya di TPU mana dan biaya berapa harus diadakan karena jenazah harus dimakamkan.
Demikianlah nas renungan ini membuat Abraham “repot,” karena isterinya Sara telah mati. Dia hidup berpindah-pindah (nomaden), negeri dan tanah tempat tinggalnya milik orang lain, di situlah isterinya mati, mau dikubur di mana? Jalan ke luar yang bisa dilakukannya ialah dengan membeli tanah menjadi miliknya sehingga dia bebas menggunakan tanah itu dan di situ dia bisa menguburkan jenazah isterinya. Awalnya orang negeri itu, yaitu bani Het di negeri Hebron mengijinkan Abraham menguburkan di pekuburan yang ada. Tetapi Abraham tidak nyaman menguburkan isterinya di pekuburan orang lain, maka dia mengusulkan agar dia bisa membeli sebidang tanah milik Efron bani Het, letak tanah itu di Makhpela merupakan ladang yang ada gua di sana. Sesuai dengan kebiasaan perjanjian di gerbang kota berkumpul para saksi, dan Efron menetapkan harga ladang itu empat ratus syikal perak. Dengan membayar harga itu disaksikan orang yang berkumpul, kepemilikan tanah itu beralih kepada Abraham.
Ladang Makhpela ini menjadi catatan penting, sebagai awal Abraham dan keturunannya telah memiliki sebidang tanah di Makhpela. Pembelian tanah Makhpela memiliki makna simbolis untuk tanah perjanjian yaitu Kanaan yang diberikan Allah kepada Abraham dan keturunannya. Dengan dibelinya ladang dan gua di Makhpela ini sebagai simbolis pemilik yang sah atas seluruh tanah Kanaan yang dijanjikan Allah. Yakub, cucu Abraham yang mati di Mesir pada jaman Yusuf berkuasa di Mesir, jenazahnya dibawa oleh Yusuf ke ladang Makhpela, di dekat kuburan Abraham leluhurnya. Semua leluhur Israel mulai dari Abraham, Sara, Ishak, Ribka, Lea dan Yakub dikuburkan di Makhpela. Abraham membeli dari tangan orang Het, sebagai tanda mereka melepas hak atas tanah itu dengan damai. Ratusan tahun kemudian oleh Yosua menaklukkan seluruh tanah Kanaan sebagai penggenapan janji Allah, tidak ada bangsa dan raja-raja yang bertahan di hadapan Yosua karena Allah hendak mengaruniakan tanah itu kepada keturunan Abraham. Demikianlah seluruh tanah Kanaan menjadi milik umat Israel keturunan Abraham.
Aplikasi:
- Kami sarankan untuk Anda mengetahui di mana Makhpela sekarang berada.
- Apakah kuburan leluhur Anda menjadi tanda kepemilikan ladang keluarga?
- Melihat kuburan makin penuh, apakah kremasi bisa menjadi jalan keluar?
Mari berdoa:
Bapa surgawi, pengatur perjalanan zaman, kami sebutkan zaman berubah, tetapi janji dan firman Tuhan tetap tak tergoyahkan. Janji Tuhan sejak Abraham bapa orang beriman, kami memegang dan mengimani akan tiba akhir zaman, saatnya kami menerima penggenapan menjadi anak-anak Kerajaan, datanglah ya Kristus. Kami mohon dalam nama Yesus, Amin. [AS020924]
NASTAR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Galatia 5:22-23 (TB 2)
“Namun, buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, kue nastar sepertinya tidak asing lagi di telinga kita. Kue yang terbuat dari terigu, mentega dan olahan selai nanas ini menjadi kudapan yang hampir selalu hadir di saat Natal. Menurut sejarahnya, kue nastar merupakan salah satu resep kue asal Belanda yang diperkenalkan saat jaman penjajahan. Nama nastar sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Belanda yaitu nastaart. Kata ini merupakan gabungan dari kata ananas yang berarti nanas dan taart atau _ taartje _ yang berarti kue / pie. Pada awalnya nastar dibuat dengan isian bluebery atau apel. Akan tetapi pada masa itu sangat sulit ditemukan buah-buahan, sehingga digunakanlah nanas sebagai isiannya. Nah, dibalik kelezatannya, kue nastar mengandung filosofi yang mendalam, yaitu: kemakmuran, kesabaran, kebersamaan, keseimbangan, dan keramahan.
Filosofi nastar ini mengingatkan pada apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Sebagai pribadi yang sudah diselamatkan oleh Kristus, kita memiliki kewajiban supaya bertindak hati-hati dan tidak mengikuti hawa nafsu. Kita mesti selalu mengingat bahwa keinginan daging sangat bertentangan dengan keinginan Roh (lih. Gal. 5: 19-21). Agar hidup dan perilaku kita tidak bertentangan dengan keinginan Roh, maka kita mesti selalu melekat dan dituntun oleh Roh Kudus. Ibaratnya kita ini adalah ranting-ranting yang tidak akan dapat hidup dan menghasilkan buah, bila tidak melekat pada pangkal pohon. Oleh karena itu, agar kita juga dapat menghasilkan buah dan menjadi berkat, maka kita harus melekat pada tuntunan Roh Kudus. Bila kita melekat pada Roh Kudus, maka kita pun akan menghasilkan buah Roh. Rasul Paulus menasihatkan kepada jemaat Galatia, demikian: “Namun, buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”. Kata ‘kasih’ di sini menunjuk pada kehendak hati yang selalu murah hati dan selalu menginginkan kebaikan orang lain, tanpa peduli apa yang dilakukan orang itu. Secara singkat, kasih itu memberi secara cuma-cuma tanpa mengharapkan balasan. Kata ‘sukacita’ menunjuk pada rahmat yang berasal dari Allah, bukan sekadar kebahagiaan manusia yang bersifat sementara. Sukacita sejati merupakan ekspresi dari Roh yang menguasai diri kita meskipun sedang mengalami kesusahan sekalipun. Kata damai sejahtera merupakan hasil dari penyandaran diri pada hubungan yang akrab dengan Allah. Damai digambarkan sebagai keadaan istirahat tenang yang dihasilkan dari mencari Allah, dan jauh dari keadaan “kacau balau”. Kata kesabaran menggambarkan tentang kesediaan untuk selalu tabah dan bertahan di tengah berbagai penderitaan. Meski sebetulnya dapat membalas dendam, tetapi sebaliknya memilih untuk menahan diri. Kata kemurahan menunjuk pada tindakan yang bermanfaat bagi orang lain tanpa peduli tindakan sebelumnya. Kemurahan ini merupakan perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap yang lain, dan bersikap penuh rahmat. Kata kebaikan menunjuk pada perilaku yang menyatakan kebajikan, kemuliaan, dan bukti dari keselarasan dengan kehendak Allah. Kata kesetiaan menunjuk pada kehendak untuk mendedikasikan diri kepada Allah dan tidak berpaling pada yang lain. Meski tidak mudah untuk menjadi setia, namun kita mesti selalu yakin akan campur tangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Karena Allah adalah setia, maka sudah seharusnya juga kita berlaku setia. Kata kelemahlembutan menunjuk pada kemampuan dalam menguasai energi dan kekuatan. Kita diharapkan mampu mengampuni kesalahan, memperbaiki kekeliruan, dan menguasai jiwa kita sendiri dengan baik. Kata penguasaan diri merupakan bingkai dari semua buah roh itu. Kita mesti dapat mengendalikan diri agar tetap sesuai dengan kehendak Allah dan menjauhi dosa.
Saudaraku, kiranya sajian kue nastar hari ini selalu mengingatkan kita akan buah Roh yang harus kita nyatakan di dalam kehidupan kita. Hendaknya setiap suap kue nastar yang masuk ke dalam mulut, akan mendorong kita untuk selalu mempraktikkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar dapat menyatakan buah Roh di dalam pikiran, tutur kata dan perilaku kehidupan kami. Dengan demikian Nama-Mu kiranya dimuliakan dan hidup kami dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
KENA MENTAL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 34:19(TB2)
”TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Dunia maya melaju begitu cepat, baik itu media sosial maupun berita online. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas internet tersebut selalu muncul istilah-istilah populer baru, salah satunya adalah “kena mental”. Istilah ini merujuk pada keadaan seseorang yang belum siap menghadapi keadaan atau respons dari orang lain tentang kondisi dirinya. Secara umum kondisi kena mental sama artinya dengan tekanan mental yang intens dan terjadi secara tiba-tiba.
Selama periode ini, orang yang mengalaminya tidak dapat menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Istilah tersebut juga merujuk pada berbagai kondisi kesehatan mental, hingga depresi. Mungkin jika diucapkan sebatas untuk meramaikan suasana tidak akan menjadi masalah, tetapi jika keadaan kena mental tersebut memang sedang dialami oleh seseorang yang tidak siap hingga dia depresi, ini adalah masalah yang serius, yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Bacaan kita saat ini merupakan seruan Pemazmur Daud yang memohon pertolongan kepada Tuhan. Saat itu, Daud sedang melarikan diri dari dikejaran Saul. Di sisi lain, Daud menghadapi Abimelekh. Dalam keadaan terdesak itulah, dia berpura-pura gila di depan Abimelekh agar selamat (Ay. 1). Di situasi inilah, Daud berseru memohon pertolongan Tuhan. Dia percaya Tuhan mendengar dan melepaskannya dari kesesakan. (Ay. 18). Tuhan akan melindungi dan membebaskannya dari marabahaya (Ay. 21, 23). Nyata dalam hidup Daud, dia pernah merasakan takut dan kena mental, tetapi imannya pada Tuhan mengalahkan rasa takut pada dirinya.
Paparan permasalahan hidup dapat membuat kita kehilangan kedamaian jiwa dan merusak kesehatan. Maka kita belajar dari Pemazmur yang mengingatkan bahwa ada Tuhan yang bisa memberikan damai dalam hidup kita. Karena kedamaian Tuhan tidak bergantung pada keadaan kita atau apa yang terjadi di dunia. Tuhan lebih besar dari rasa kekhawatiran dan ketakutan yang kita alami. Maka saat ini mari kita mengingat sabda Kristus: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh. 14:27).
KEMBANGKAN TALENTAMU!
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bapak Ibu, Saudara-saudari dan anak-anak sekalian yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Mengakhiri Bulan Ulang Tahun, hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Kembangkan Talentamu!” dengan dasar dari Matius 25:14-30 namun saya akan membacakan ayat mas dari ayat 20 yang demikian, “ Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan membawa laba lima tealenta, katanya: Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.” Demikianlah firman Tuhan, yang berbahagia ialah setiap orang yang menengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, tahukah Saudara bahwa Tuhan telah memberikan kepada setiap orang talenta atau karunia khusus yang unik. Talenta ini bukan hanya untuk kepuasan diri, tetapi untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama. Sejak kanak-kanak, penting bagi kita untuk mengenali dan mengembangkan talenta yang Tuhan berikan, agar kita memuliakan Tuhan melalui kehidupan kita.
Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan Yesus menceritakan bagaimana seorang tuan mempercayakan harta kepada hamba-hambanya. Setiap hamba diberikan talenta sesuai dengan kemampuan mereka. Ini menunjukkan bahwa setiap kita, dari usia dini hingga dewasa, telah diberi sesuatu yang berharga oleh Tuhan. Talenta ini bisa berupa kemampuan berbicara, menulis, bermain musik, atau ketrampilan lainnya. Yang penting adalah kita menyadari bahwa talenta ini adalah pemberian Tuhan yang harus kita syukuri dan gunakan dengan bijaksana.
Setelah menerima talenta, para hamba dalam perumpamaan itu bertindak berbeda-beda. Dua dari mereka segera bekerja dengan talenta yang mereka terima dan berhasil menggandakannya, sementara satu hamba menyembunyikan talenta tersebut.
Dalam kehidupan kita, kita dipanggil untuk mengembangkan talenta yang kita miliki, bukan menyembunyikannya atau membiarkan tidak berkembang. Ini berarti sejak usia muda, kanak-kanak perlu didorong untuk mengenali apa yang mereka sukai, apa yang mereka pandai lakukan, dan bagaimana mereka menggunakan talenta tersebut untuk melayani Tuhan dan sesama.
Tuhan sangat senang dan menghargai usaha kita dalam mengembangkan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ketika kita menggunakan talenta kita untuk melayani Tuhan, baik itu melalui pelayanan di gereja atau membantu orang lain atau menjadi teladan yang baik, pasti menjadi berkat!
Oleh sebab itu marilah kita selalu berusaha menjadi lebih baik dalam mengembangkan talenta kita. Amin, Saudara?
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Paduan Suara Anak GKI Kwitang, sebuah lagu yang berjudul “Mari Hitunglah Talenta”. Lagu ini mengajak kita semua untuk menghitung dan memanfaatkan talenta yang Tuhan berikan kepada kita dengan sebaik-baiknya.
Ada sebuah kesaksian yang menarik: Di sebuah gereja kecil, ada seorang anak perempuan bernama Tina. Sejak kecil, Tina sangat suka bernyanyi. Setiap kali ada lagu yang diputar di rumah atau di sekolah, Tina selalu ikut bernyanyi. Suaranya merdu, tetapi Tina merasa bahwa bernyanyi hanya sekadar hobi, bukan sesuatu yang penting.
Suatu hari, pada saat ada latihan paduan suara anak di gereja, pemimpin paduan suara mendengar Tina ikut bernyanyi. Dia mendekati Tina dan berkata, “Tina, kamu punya suara yang sangat indah. Bagaimana kalau kamu ikut latihan paduan suara? Kita sedang mencari anggota baru, dan aku yakin kamu bisa jadi berkat.”
Awalnya, Tina ragu-ragu. Dia berpikir, “Apakah aku cukup baik? Bagaimana jika aku membuat kesalahan?” Tapi setelah didorong oleh ibunya dan beberapa teman, Tina memutuskan untuk mencoba.
Setiap minggu, Tina berlatih dengan sungguh-sungguh bersama paduan suara. Dia belajar teknik bernyanyi yang lebih baik, dan cara menyanyikan lagu dengan perasaan. Seiring berjalannya waktu, Tina semakin percaya diri. Suaranya yang merdu mulai membawa sukacita bagi seluruh jemaat. Tidak hanya itu, Tina juga mulai belajar bermain piano di gereja. Pemimpin musik gereja mengajarinya dasar-dasar bermain piano, dan Tina dengan tekun berlatih setiap hari. Dalam waktu singkat, dia sudah bisa mengiringi paduan suara dengan permainan pianonya.
Saat ini Tina menyadari bahwa talenta bernyanyi dan bermain musiknya adalah karunia dari Tuhan yang harus diperkembangkan dan digunakan untuk melayani-Nya. Dia merasa sangat bahagia karena bisa memuliakan Tuhan dengan talenta yang telah diberikan kepadanya. Puji Tuhan!
Marilah kita semua, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa, terus mengembangkan talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita. Jangan takut untuk mencoba, jangan malas untuk belajar, dan selalu ingat bahwa setiap talenta yang kita miliki adalah pemberian Tuhan yang harus digunakan untuk kemuliaan-Nya. Semoga kita semua menjadi hamba yang setia dan bijaksana dalam mengembangkan talenta yang telah dipercayakan kepada kita. Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja, itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa kami yang di surga, kami bersyukur untuk talenta yang Tuhan sudah berikan kepada kami. mampukanlah kami mengembangkan untuk Tuhan dan sesama. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM 29082024).
BERSAMA TUHAN KITA DAPAT BERBUAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan Alkitab: Yohanes 15:1-8
POKOK ANGGUR YANG BENAR
15:1 “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah tukang kebunnya. 15:2 Setiap carang pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap carang yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. 15:3 Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. 15:4 Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti carang tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah carang-carangnya. Siapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 15:6 Siapa yang tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. 15:7 Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki , dan kamu akan menerimanya. 15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku. “
Salam kasih Karunia dari ALLAH dalam Tuhan Yesus Kristus.
Sahabat Kristus,
Hidup itu bagai pohon yang kita tanam. Ketika kita menanam pohon manga, kita berharap mendapatkan buah manga yang bagus, menanam pohon durian berharap mendapatkan buah durian yang tidak banggel, sehingga rasanya hambar dan keras. demikian juga hidup sedorang Kristen. Tuhan mengharapkan kita berbuah manis. Pelayanan dan pekerjaan kita kiranya membawa sukacita bagi keluarga, sahabat dan rekan-rekan. Pelayanan kita kiranya memberi motivasi, kekuatan dan semangat bagi setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan kita. mengembangkan dan memperbaharui dengan sikap dan perbuatan kita dalam pelayanan dan pekerjaan kita itu yang terpuji; menyenangkan dan memuliakan Tuhan.
Untuk hal di atas, maka kita diminta untuk sedia dituntun oleh kasih dan pimpinan Tuhan, karena “Bapaku lah tukang kebunnya”. Oleh karena itu kita berdedia untuk “dibersihkan”, seperti pohon anggur yang membutuhkan perawatan rutin: dipotong rantingnya yang tak berguna, disiangi, dipupuk dll, demikianlah kita mempersilahkan Tuhan memberlakukan segala pengalaman di hidup kita agar Tuhan membuat kita dapat tumbuh subur dan berbuah bagi Tuhan. saat-saat seperti ini adalah saat dimana kita akan berserah penuh pada Tuhan, menuruti kehendakNya dalam hidup kita dan memohon kuat kuasaNya bagi kita. Kita juga dapat diberi kesemoatan melihat dan Bersama dengan mereka yang sedang mengalami Tuhan dalam hidupnya, kiranya jika itu terjadi, kita memilih untuk menjadi alat di tangan TUhan agar mereka tetap teguh dan tekun berjalan Bersama Tuhan dengan segala kelebihan yang kita punya. Pada saat itulah kita sesungguhnya juga dapat dikatakan sedang berbuah. Jadi Setiap kita dapat sedang memperoleh kesempatan sedang dibersihkan agar berbuah, atau kita sedang menunjukkan buah dari Tuhan sang pemilik kehidupan kita.
Mengingat semua hal itu, dalam segala keadaan: senang maupun susah, kita meyakini dan dikuatkan bahwa yang telah memberi kehidupan bagi kita dan sumber keselamatan serta berkat yang dating maupun yang akan muncul dalam dan dari kehidupan kita, itu adalah dari TUhan. dengan iman ibi kita akan semakin melekat, bukan pada buahnya itu sendiri, karena buah itu berasal dari Tuhan, melainkan semakin melekat pada TUhan saja; Sang pemberi berkat/buah dan yang membuat kita membagikan berkat/buah dari Tuhan itu. kita semakin memahami bahwa tan[a melekat pada Tuhan, kita akan lemah, dan tak berdaya; bagai ranting anggur yang patah dan tak cukup mendapatkan nutrisi dari Sang Pokok Anggur. Lama kelamaan ia akan layu dan kering. demikianlah juga bagi kita orang yang beriman kepada Sang Juruselamat Yesus Kristus, kita meyakini bahwa kita akan tetap dapat berbuah, dalam keadaan apapun di dunia ini, selama kita melekat tak henti-hentinya, tak mengurangi lekatan kita (seperti ranting yang patah), melekat terus pada Tuhan Allah yang membuat kita tetap dapat hidup dan mengahsilkan buah.
Sebagai penutup renungan ini saya ingin mengucapkan Selamat Berbuah di dalam kasih, berkat dan kekuatan dari Tuhan ALLAH dalam Yesus Kristus. Tuhan memberkati setiap orang yang rindu dan mengusahakan diri untuk terus berbuah. (LiN-RH, 28-08-2024)
SALAH BERDOA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yakobus 4:1-10
Salam sejahtera, semoga kita makin mampu berdoa sesuai kehendak Tuhan, bukan kehendak sendiri. Kalau kita berdoa untuk memuaskan hawa nafsu, maka kita tidak menerima apa-apa dari Tuhan, seperti ungkapan dalam Yakobus 4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.
Renungan harian Selasa berturut-turut membahas tentang doa, tanggal 13 Agustus 2024, telah membahas tentang Berdoa di dalam Roh, dari Efesus 6:18-20. Renungan Harian Selasa, 20 Agustus 2024, membahas tentang Rumah Doa dari Lukas 19:41-48. Renungan itu menjelaskan tentang Rumah Tuhan tujuannya untuk berdoa, menyembah Tuhan bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri. Rumah Tuhan adalah rumah doa untuk mengajarkan firman Tuhan kepada umat, memberitakan tentang Kerajaan Allah, dan keselamatan yang disediakan Allah untuk manusia, untuk berdoa, menyembah Tuhan, agar bisa mengasihi dan melayani Tuhan, mengasihi dan melayani sesama bukan menindas, merugikan sesama. Rumah doa tempat ibadah, haruslah berdoa dalam roh dan kebenaran. Renungan harian saat ini kita membahas tentang Salah Berdoa dari Yakobus 4: 1-10.
Mengapa orang salah berdoa? Karena doa yang diminta adalah sesuatu yang akan digunakan untuk memuaskan hawa nafsu. Doa yang benar adalah keluar dari hati yang menyembah, memuliakan Tuhan serta kehendakNya. Doa yang salah, keluar dari hati yang menyembah diri sendiri, kehendak sendiri. Kehendak sendiri adalah mengikuti nafsu kedagingan, mengikuti kesenangan dunia. Orang yang tujuan hidupnya adalah kesenangan sendiri, kesenangan duniawi maka sering menimbulkan pertengkaran, perkelahian. Orang yang pikirannya terpusat pada nafsu kedagingan, maka orang tersebut tidak akan dapat menangkap maksud Tuhan Yesus, tidak memahami kehendak Tuhan. Orang yang mengejar nafsu kedagingan tidak akan mengejar hidup yang kekal, tidak mencari Kerajaan Allah dan tidak menganggapnya paling penting.
Berdoa tanpa Roh Allah tidak menghidupkan hati jiwa seseorang. Berdoa dengan Roh Allah maka orang berdoa dengan benar dihadapan Allah. Jika Roh bekerja dalam doa, maka doa itu berguna dalam pertumbuhan iman, pengharapan dan kasih kita. Orang yang berdoa dalam Roh akan menyukai perkataan dan kehendak Yesus, bukan menyukai pikiran dan nafsu sendiri.
Orang yang tujuan hidupnya hanya mengejar uang, harta, kekuasaan, kehormatan, kesenangan makanan, pakaian, gaya hidup maka doanya juga terkait dengan tujuan hidupnya itu. Hawa nafsu akan berjuang dalam tubuh kita. Ketika kita ingin uang banyak, ingin kaya, tapi kita tidak memperolehnya, maka kita marah, kecewa pada Tuhan. Orang berdoa ingin mendapat jabatan, menjadi pemimpin daerah, tapi tidak mendapat jabatan, padahal sudah banyak uang keluar, akhirnya marah pada diri sendiri, marah pada keluarga, dan orang lain yang tidak memilihnya, termasuk marah pada Tuhan. Ada orang yang marah pada diri sendiri dan keadaan dirinya, membuat dia menjadi sakit jiwa.
Doa yang mengejar kesenangan duniawi akan menutup doa kita pada Tuhan. Doa yang memuaskan nafsu adalah doa yang mengejar kepentingan diri sendiri bukan kepentingan Tuhan. Doa yang seperti ini tidak dijawab Tuhan. Orang yang mementingkan diri sendiri, egois, individualis sulit berdoa dengan benar. Kalau orang tidak menjadikan Tuhan pusat hidupnya, maka dia tidak bisa berdoa dengan benar.
Doa yang benar adalah kita berdoa berdasarkan kehendak Tuhan atau jadilah kehendakMu. Doa yang sesuai kehendak Tuhan berdasarkan Keluaran 20:7 (TB2) Janganlah menyebut nama Tuhan Allahmu, untuk disalahgunakan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyalahgunakan nama-Nya. Berdoa yang benar menurut Matius 6: 9 berdoa dengan mengatakan: Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah namaMu. Kita berdoa dengan memanggil namaNya secara hormat dan percaya.
Doa yang menyalahgunakan nama Tuhan adalah doa untuk memaksa Tuhan ikut kehendak kita diri sendiri. Nama Tuhan mulia, kudus, tidak bisa dipaksa, tidak bisa diatur manusia. Nama Tuhan kudus, hanya Ia satu-satunya pertolongan kita, tidak ada yang lain. Orang yang memaksa kehendak sendiri dalam doa sama saja mencobai Tuhan. Doa yang salah adalah menghujat nama Tuhan seperti yang dilakukan oleh penjahat disalib. Penjahat yang tidak menghujat Yesus, malah memuliakan, menguduskan nama Yesus, dengan mengatakan Yesus tidak berdosa. Marah pada Tuhan karena sakit, menderita, miskin tanpa mau bertobat dari kemarahan tersebut berarti ia sudah termasuk menghujat Tuhan. Bagi orang yang menghujat nama Tuhan, maka Yesus tidak menyediakan tempat di Firdaus. Orang yang menguduskan nama Tuhan, maka Yesus akan mengatakan: “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:43).
Nama Tuhan harus digunakan dengan iman. Tuhan menghendaki agar kita mengakui nama Tuhan (J. Verkuyl, Etika Kristen, Kapita Selekta, BPK Gunung Mulia, 1992). Allah telah menyatakan diri kepada kita. Ia mau bersekutu dengan kita. Tuhan memanggil kita agar kita berkata kepadaNya : “ Ya Yesus Engkaulah Tuhan dan Juruselamat kami”. Kita berdoa dengan mengakui Allah dalam hidup. Menyebut, mengakui nama Tuhan dalam doa dengan percaya bukan hanya dibibir saja tanpa hati yang sungguh-sungguh beriman. Percaya pada Tuhan berarti mau melakukan kehendak rencana, perintah Tuhan, mau mengasihi Tuhan dengan cara mengasihi sesama. Bukan mau melakukan kehendak sendiri, mengikut nafsu dunia, nafsu kedagingan.
Orang yang mengikuti nafsu kedagingan, nafsu dunia, maka orang tersebut menjadi musuh Allah, dan menghancurkan hati Allah, membuat Roh Kudus cemburu. Kita hanya menyembah Tuhan dan kehendakNya bukan menyembah diri sendiri, kehendak sendiri dan kehendak dunia. Berdoa sesuai kehendak Tuhan adalah mendekatkan diri pada Tuhan. Berdoa sesuai kehendak sendiri berarti menjauhkan diri pada Tuhan. Kita berdoa agar semakin disucikan, diperbaharui agar makin dekat pada Tuhan dan melakukan kehendakNya.
Marilah kita berdoa, agar kehendak Tuhan yang jadi bukan kehendak kita dan kita menerima pemberian Tuhan, seperti ungkapan dalam KJ. 460 ayat 1 : Jika jiwaku berdoa kepadaMu, Tuhanku, ajar aku t’rima saja pemberian tanganMu dan mengaku, s’perti Yesus di depan sengsaraNya: Jangan kehendakku, Bapa, kehendakMu jadilah. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan yang kudus, mampukan kami berdoa sesuai kehendak Tuhan, dan mampukan kami melakukan kehendak Tuhan, bukan memuaskan kehendak sendiri atau hawa nafsu kedagingan. dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
BERSYEBA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 21:22-34. (29-31),
Lalu kata Abimelekh kepada Abraham: “Untuk apakah ketujuh anak domba yang kaupisahkan ini?” Jawabnya: “Ketujuh anak domba ini harus kauterima dari tanganku untuk menjadi tanda bukti bagiku, bahwa akulah yang menggali sumur ini.” Itulah sebabnya tempat itu disebut Bersyeba karena kedua orang itu telah bersumpah di sana.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, biasa ada suatu tempat yang istimewa bagi kita, atau berkesan atau tempat kenangan, karena di tempat itu telah terjadi satu hal atau peristiwa yang sangat penting bagi kita. Peristiwa itu tersimpan di hati kita karena peristiwa yang sangat penting, sangat berkesan bagi kita pribadi, ada saatnya peristiwa yang sangat pribadi itu sering kita ceritakan kepada teman, tetapi ada saatnya peristiwa itu sangat pribadi yang kita tutup rapat di dalam hati.
Ayat renungan kita mengungkapkan nama Bersyeba, (kenapa di sebut Bersyeba) suatu tempat yang kemudian diberi nama menjadi satu daerah padang gurun. Sewaktu Sara menyuruh Abraham mengusir pergi Hagar dan Ismael anaknya, Hagar dan Ismael mengembara di daerah Bersyeba, di situ Allah menunjukkan mata air untuk Hagar dan dengan air itu selamatlah mereka dari kehausan. Daerah Bersyeba itu terletak di ujung Laut Mati.
Diberi nama Bersyeba untuk daerah itu karena ada suatu peristiwa yang besar terjadi antara Abraham dan Abimelekh penguasa daerah itu. Abimelekh raja negeri Gerar, yang kemudian menjadi tanah Filistin, di daerah kekuasaan raja inilah Abraham mendirikan kemahnya untuk seluruh hewan dan hambanya. Para hamba Abraham menggali sumur untuk mendapat air kebutuhan kambing dombanya, tetapi sumur itu direbut oleh hamba raja Abimelekh, dan selalu hamba Abraham mengalah. Tindakan perebutan sumur dan merupakan ketidakadilan itu sangat mengesalkan Abraham. Satu ketika Abimelekh bersama panglima tentaranya mendatangi Abraham, meminta agar Abraham sekali-kali tidak berbuat curang (jahat) kepada dirinya, kepada anak, cucu sampai cicitnya, karena Abimelekh takut melihat Abraham, seorang yang disertai, dijaga dan diberkati Tuhan. Atas permintaan raja ini Abraham menjawab: “Aku bersumpah.” Kedua pihak Abimelekh dan Abraham bersumpah bersahat bahwa tidak akan berbuat curang (jahat) satu dengan yang lain.
Sumpah persahatan telah terjadi, tetapi Abraham tidak merasa puas, karena hamba-hamba Abimelekh sebelumnya telah merampas sumur yang digali hamba Abraham dan Abimelekh tidak mau tahu kejahatan hambanya itu. Untuk itu Abraham menyisihkan tujuh anak domba, dan menyerahkan langsung kepada Abimelekh dengan mengatakan bahwa hamba Abimelekh telah duluan merampas sumur yang digali mendapat air yang melimpah. Karena ketegasan Abraham menegakkan kebenaran, maka tempat itu diberi sebutan Bersyeba. Di Bersyeba ini juga Ishak melanjutkan pengembaraan ayahnya Abraham sebagai pendatang di negeri orang.
Aplikasi:
- Di mana kekuatan Abraham sebagai pengembara (nomaden), sehingga tidak diperbudak Abimelekh raja negeri Gerar?
- Apakah Anda mengingat peristiwa lain di daerah Bersyeba?
- Adakah tempat yang peting bagi Anda yang menggembirakan atau menakutkan?
Mari berdoa:
Bapa dalam surga, penguasa segala tempat dan bagi semua orang, karuniakan hikmat kepada kami agar kami mampu menyatakan kebenaran, walau pun kami telah menjadi korban ketidakadilan dari orang lain. Doa ini kami panjatkan dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS260824]
WAJIK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 85:10-11 (TB 2)
“Sungguh, pertolongan-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan-Nya tinggal di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, wajik merupakan salah satu kue tradisional di daerah Jawa yang bertekstur lengket dengan rasa manis legit dan dipotong membentuk jajaran genjang. Kudapan tradisional ini terbuat dari campuran beras ketan, gula jawa, atau gula pasir ditambahkan dengan parutan atau santan kelapa. Teksturnya cukup unik karena terlihat seperti beras yang belum matang sempurna tapi akan lunak dan lembut ketika digigit. Wajik adalah salah satu kudapan yang sudah dikenal sejak era kerajaan Majapahit. Fakta tersebut tercatat dalam sebuah karya sastra berbahasa Jawa di era kerajaan Majapahit ini yaitu Kitab Nawaruci karya Empu Siwamurti.
Di balik rasanya yang manis, wajik menyimpan makna yang sangat mendalam. Kata wajik merupakan “kerata basa” (akronim) dari “wani tumindak becik” yang artinya berani bertindak yang baik dan benar. Oleh karena itu, wajik juga mengandung harapan agar setiap orang yang menyantap kue wajik bersedia untuk selalu “wani tumindak becik”.
Kue wajik ini mengingatkan kita akan harapan umat Israel ketika berada di dalam persoalan dan tekanan. Mereka memohon kepada Tuhan untuk hadirnya kasih dan pertolongan Tuhan. Pemazmur mengungkapkan, “Sungguh, pertolongan-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan-Nya tinggal di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman”. Kata ‘kesetiaan’ (Ibr. eh’-meth) dipahami sebagai: keberlanjutan, kebenaran, dapat dipercaya, kepastian dan kestabilan. Sedangkan kata ‘kasih’ (Ibr. kheh’-sed) dipahami sebagai: anugerah, kebaikan, keramahan dan belas kasihan. Umat menghayati bahwa pertolongan dan keselamatan Allah itu sebagai bertemunya kheh’-sed dengan eh’-meth, Pengalaman Israel menunjukkan bahwa anugerah dan kebaikan Allah itu mewujud dalam tindakan Allah yang bersedia melanjutkan relasi-Nya dengan Israel, betapapun kesalahan Israel di masa lalu. Bahkan Allah berkenan menyatakan keadilan dan damai sejahtera bagi Israel. Meski demikian, bertemunya kasih dan kesetiaan itu juga mesti diupayakan oleh umat, tidak bisa hanya dinantikan atau diharapkan saja. Hal ini dapat dilihat dari frasa ‘bercium-ciuman” yang terangkai dengan kata keadilan dan damai sejahtera. Pengertian cium itu sebenarnya memiliki arti “keintiman” atau “koneksi”. Dengan kata lain, keadilan dan damai sejahtera merupakan dua hal yang saling berkaitan dan berhubungan dengan sesama, karena di mana ada keadilan di sana pasti ada damai sejahtera. Dan menurut pemazmur, keadilan dan damai sejahtera sebagai dampak dari dipraktikkannya kasih dan kesetiaan.
Dengan demikian, kasih merupakan pasangan dari kesetiaan (yang bermakna kebenaran), sedangkan keadilan merupakan pasangan dari damai sejahtera. Kedua pasang nilai ini tidak boleh dipisahkan. Jika hanya menekankan kasih saja tanpa kesetiaan, maka bisa sangat permisif terhadap semua hal, termasuk kemanjaan, kejahatan, dan dosa. Namun sebaliknya, jika hanya menekankan kesetiaan saja, maka bisa dengan mudah terjatuh dalam penghakiman. Demikian juga keadilan harus dibatasi oleh damai sejahtera. Memperjuangkan keadilan tanpa mengingat damai sejahtera hanya mendorong terjadinya revolusi berdarah. Sebaliknya, menciptakan damai sejahtera dengan melupakan keadilan, hanya melahirkan penindasan. Pemazmur mengingatkan kita agar senantiasa memperjuangkan kasih, kesetiaan (dalam arti kebenaran), keadilan, dan damai sejahtera.
Saudaraku, kiranya sajian kue wajik hari ini kembali mengingatkan kita agar selalu “wani tumindak becik” (berani bertindak yang baik dan benar). Seperti harapan dan doa pemazmur kita mesti sedia untuk memperjuangkan kasih, kesetiaan, keadilan, dan damai sejahtera. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar kami terus memperjuangkan kasih, kesetiaan, keadilan dan damai sejahtera. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Amin.
