renungan
PERLENGKAPAN SENJATA ALLAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 6: 13-20
Salam sejahtera, semoga kita makin mampu menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk mengadakan perlawanan pada hari-hari jahat dan tetap berdiri dan menyelesaikan segala sesuatu seperti ungkapan dalam Efesus 6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu
Senjata Allah itu dipergunakan untuk melawan iblis. Senjata itu sudah Allah sediakan, manusia tidak perlu membuat sendiri, hanya mengambil dan menggunakan senjata Allah. Perjuangan melawan iblis sudah dimulai sejak lahir sampai akhir hidup kita. Iblis tidak pernah berhenti menyerang hidup kita. Serangan iblis bisa dalam bentuk pujian yang licik, pencobaan dengan berbagai cara yang tidak diduga. Pencobaan pada saat sakit, berduka, ekonomi keluarga merosot, kemalasan, kesenangan dunia yang menjebak, merusak. Iblis akan berhenti menyerang pada saat Yesus datang kembali, karena iblis dan para pengikutnya akan Yesus masukkan dalam neraka. Dalam Kerajaan Allah tidak ada kuasa iblis dan pengikutnya.
Mengenakan senjata Allah berarti berdiri tegap, dan mengunakan ikat pinggang kebenaran Allah. Berdiri tegap berarti tidak tidur, tidak malas, tapi berjaga-jaga, dengan terus-menerus menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah, selalu siap melakukan perlawanan terhadap iblis dan menang atas iblis, seperti Yesus selalu menang atas iblis dan selalu mengusir iblis.
Kemenangan orang percaya atas iblis diperoleh dalam iman pada Kristus yang telah mati di salib, untuk mengalahkan kuasa iblis. Yesus menebus orang berdosa dari kuasa Iblis, diampuni dosa-dosanya, menurut kekayaan kasih karuniaNya (Efesus 1:7). Menang berarti berbalik dari kegelapan atau dosa, masuk dalam terang Tuhan.
Dalam berperang melawan iblis, maka orang Kristen harus menggunakan kuasa Roh Kudus. Hanya dengan kuasa Roh Kudus kita dapat mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan kita akan hidup. Kita berperang terhadap keinginan daging yang membuat kita berdosa, dan merusak hati jiwa pikiran serta perbuatan kita. Kita berperang terhadap kesenangan duniawi yang tidak senonoh dan berbagai pencobaan. Kita diminta untuk menjauhkan diri dari pencobaan yang mendatangkan dosa. Menjauhkan diri dari dosa, atau pencobaan berarti membenci dosa yang merusak hidup.
Dalam peperangan iman tersebut, orang Kristen diminta untuk bertahan menghadapi kesulitan sebagai tentara Kristus yang tangguh, mau menderita bagi Injil, bertanding dalam pertandingan iman yang benar.
Kuasa iblis membuat orang bertambah fasik, mengolok-olok dan menentang kehendak Allah dan menyerang orang percaya, mencari orang beriman untuk ditelan iblis. Iblis berusaha sedapat-dapatnya untuk menghancurkan keyakinan orang Kristen agar tidak percaya atau ragu-ragu pada firman Allah serta melupakan firman Allah. Iblis berjuang agar orang beriman tidak meniru Yesus, tapi meniru orang dunia. Iblis mendorong orang beriman untuk tidak bersaksi, tidak berdiakonia atau melayani, tidak mau bersekutu secara pribadi atau bersama suami istri, orangtua anak, dengan anggota jemaat dan anggota masyarakat. Iblis mendorong orang, agar menyerahkan diri kepada kehendak iblis, seperti iblis mendorong Adam dan Hawa mengikuti kehendak iblis.
Berperang melawan iblis harus menggunakan ikat pinggang kebenaran. Manusia tidak memiliki kebenaran Allah dalam dirinya, karena itu kebenaran Allah harus diikatkan terus menerus dalam hidup kita, pagi siang malam, agar bisa mengalahkan iblis dan tidak dipengaruhi oleh perkataan atau bujukkan iblis. Kebenaran Allah adalah senjata pemberian Allah, diterima manusia dengan percaya dan menjadi kuasa, kekuatan yang memimpin hidup manusia dalam perjuangan melawan iblis. Yesus melawan bujukan iblis, dengan menggunakan kebenaran Allah yang telah terikat dengan kuat dalam hidup Yesus. Yesus tidak melawan bujukan iblis dengan pendapat atau kebenaran sendiri. Ikat pinggang kebenaran Allah, berarti tidak menggunakan kebenaran sendiri, kebenaran dunia, dalam melawan iblis. Ilmu pengetahuan dunia, teknologi tidak dapat melawan iblis. Orang yang mengikatkan kebenaran Allah dalam hidupnya maka bisa menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan benar dan baik bukan untuk merusak diri dan orang lain.
Agama tanpa ketulusan dan kebenaran adalah sia-sia, tidak berguna dalam melawan kejahatan, kerusakan. Kebenaran-kebenaran Injil harus melekat kepada kita seperti ikat pinggang melekat pada pinggang atau seperti ranting anggur melekat pada pokok anggur agar menang, bertumbuh dan berbuah.
Berperang melawan iblis dengan berbaju zirah, berbaju besi keadilan. Keadilan Allah dalam diri manusia belum ada, karena itu Allah memberikan keadilanNya sebagai senjata melawan iblis. Keadilan Allah diterima dengan percaya dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbaju zirah untuk melindungi dari panah api iblis, agar kejahatan iblis tidak merusak hidup manusia. Keadilan Allah diberikan karena manusia adalah mahluk fana, lemah, mudah jatuh oleh godaan iblis, karena itu manusia perlu perlindungan, baju besi, agar tidak tembus kuasa jahat. Keadilan Allah melalui karya Yesus yang menebus dosa, mengampuni dosa. Darah Yesus membuat panah iblis, tidak membakar, tidak mematikan. Orang yang sudah ditebus akan taat mutlak kepada Allah, tidak menyerah pada kehendak iblis.
Manusia tidak berjiwa adil, karena suka memikirkan diri sendiri atau kelompok sendiri. Keadilan itu hanya ada pada Allah, karena itu orang yang mendapat anugerah dari Allah, ditebus dosa, maka keadilan Allah akan melekat pada hidup kita seperti mengenakan baju zirah. Kebenaran dan keadilan Allah menjadi kekuatan untuk bertahan dari tipuan iblis. Yesus ketika digoda iblis, menggunakan kebenaran Allah untuk bertahan dari tipuan iblis.
Mari kita menggunakan senjata Allah sebagai penyokong orangtua dan orang lemah, memimpin orang muda. Kita menggunakan senjata Allah dalam perang melawan penggodaan seperti ungkapan KJ. 54 ayat 2. Penyokong orang tua dan orang yang lemah, pemimpin orang muda dan sukacitanya, senjata perjuangan di p’rang penggodaan dan bantal perhentian di jam kematian. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin mampu menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah untuk mengadakan perlawanan pada hari-hari jahat dan tetap berdiri dan menyelesaikan segala sesuatu. Senjata Allah menjadi penyokong orang tua dan orang lemah, pemimpin orang muda dalam perang melawan penggodaan. Dalam nama Yesus kami berdoa amin
NEGOSIASI DALAM DOA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Kejadian 18:23-24.
Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama orang fasik? Bagaimana kalau ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidak mengampuninya demi kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya? …”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, secara sederhanya negosiasi ini kita artikan sebagai suatu perundingan untuk kesepakatan bersama. Tentu kita selalu bernegosiasi seperti negosiasi harga barang yang kita jual atau beli, negosiasi waktu mungkin hitungan jam atau hari, negosiasi kwalitas nomor satu atau nomor tiga, dst. Diharapkan dalam negosiasi ini ada pihak yang maju dan pihak lain mundur, atau ada yang naik, dan pihak lain turun yang akhirnya mendapat hasil kesepakatan untuk maju lebih lanjut.
Bahan renungan kita kali ini adalah suatu negosiasi yang ditawarkan oleh Abraham kepada Tuhan, berkenaan dengan renana Tuhan untuk menghancurkan kota Sodom dan Gomora karena dosa kejahatan penduduk kota itu yang dikeluhkan orang yang melihatnya. Tiga orang malaikat Tuhan yang sempat singgah di kemah Abraham telah melanjutkan perjalanannya ke Sodom dan Gomora untuk melihat langsung seperti keluhan itu. Abraham adalah sahabat Yahwe sehingga rencana Tuhan untuk menghancurkan kota dan penduduknya ini patut juga disampaikan-Nya kepada Abraham sebagai sahabat. Di sinilah terjadi negosiasi (perundingan) antara Abraham dengan Tuhan. Abraham berpikir, tidak adil kalau orang jahat dibinasakan bersama dengan orang benar, sehingga Abraham merundingkan dengan Tuhan, bagaimana kalau ada 50 orang benar di kota itu, apakah mereka disamakan saja sebagai orang jahat untuk dibinasakan? Perundingan itu berjalan baik, Tuhan menerima tawaran Abraham, kota itu tidak dibinasakan demi 50 orang benar. Perudingan berlanjut, karena Abraham ragu tidak akan ada 50 orang benar, maka dia menawar menjadi 45 orang benar. Negosiasi berjalan terus, dengan permintaan maaf Abraham menurunkan tawarannya menjadi 40 orang benar, diturunkannya lagi menjadi 30 orang benar, lagi-lagi Abraham minta maaf diturunkannya lagi menjadi 20 orang benar, dan berakhir menjadi 10 orang benar. Negosiasi menjadi 10 orang benar masih diterima oleh Tuhan, tidak membinasakan kota Sodom dan Gomora maka berakhirlah negosiasi. Ternyata kejahatan Sodom dan Gomora disaksikan oleh malaikat Tuhan, dan tawaran Abraham 10 orang benar tidak terpenuhi, karena 4 orang yang mendengarkan perkataan malaikat Tuhan yaitu: Lot, istrinya dan dua anaknya perempuan. Tiba saatnya Sodom dan Gomora hangus.
Dari negosiasi Abraham dan Tuhan, yaitu 10 orang benar akan menyelamatkan kota Sodom dan Gomora, begitu besarnya tanggung jawab orang benar. Demikian juga tanggung jawab orang benar atas keselamatan dunia ini sehingga dunia masih berjalan baik, demikian juga tanggung jawab orang benar di negeri kita ini sehingga negeri ini masih berdiri seperti yang kita lihat sekarang, demikian juga tanggung jawab orang benar di kota Jakarta ini, sehingga kota ini masih stabil seperti yang kita alami. Kalau bukan karena orang benar, orang takut akan Tuhan di kota kita ini, maka wajah kota ini sudah berobah, entah menjadi kota apa? Begitu besar arti dan tanggung jawab kita anak Tuhan.
Aplikasi:
- Coba cari tahu kejahatan bagaimana di kota Sodom dan Gomora?
- Kapan Anda berdoa untuk negeri dan kota Anda?
- Bagaimana warga lingkungan Anda mengenal Anda sebagai orang Kristen?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, besar tanggung jawab kami “orang benar” dan yang takut akan Tuhan, sehingga dunia kami ini berjalan seperti sekarang ini. Tanggung jawab kami harus kami amalkan supaya bukan hanya kwantitas, tetapi juga kwalitas menjadi saksi dan pelayan kasih dan kebenaran Tuhan. Demikianlah harapan dan permohonan kami, dalam nama Yesus. Amin.
[AS290724]
PECEL LELE
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Matius 10:16-17 (TB 2)
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, tentunya sajian makanan “pecel lele” sudah tidak asing lagi bagi kita. Namun, tahukah Anda bahwa sebelum bernama “pecel lele”, di daerah asalnya – yaitu: Lamongan – jenis makanan ini disebut dengan “pecek lele”. Disebut “pecek lele” karena penyajiannya dengan cara dipecek / dipenyet dan diberi sambel. Ketika sampai ke Jakarta, banyak orang sering keliru dengan jenis makanan betawi yang namanya “pecak ikan”, yaitu ikan goreng atau bakar yang disiram dengan kuah santan dengan bumbu campuran cabai dan kemiri. Nah, agar tidak keliru lagi, maka para penjual “pecek lele” ini mengganti namanya menjadi “pecel lele”. Sejak itulah, “pecek lele” berubah nama menjadi “pecel lele” dan dikenal dihampir semua tempat.
Sekarang pertanyaannya, mengapa harus ‘ikan lele’? Ikan lele dipilih karena jenis ikan ini menupakan jenis ikan yang mampu bertahan di tengah kondisi minim air. Ikan lele memiliki adaptasi fisik dan fisiologis yang unik. Ia memiliki insang yang berkembang dengan baik yang memungkinkannya untuk bernapas dalam lingkungan air yang rendah oksigen atau bahkan tidak ada air sama sekali. Insangnya dilengkapi dengan kapiler yang kecil, yang memungkinkannya untuk menyerap oksigen langsung dari udara. Oleh karena itu penjual “pecek lele” memilih ikan ini karena dapat disajikan dalam kondisi yang selalu segar karena ikan lelenya masih hidup sebelum diolah.
Saudaraku, “pecel lele” mengingatkan kita tentang sikap hidup orang percaya yang mesti mampu untuk bertahan dalam perjuangan iman. Seperti ikan lele yang mampu hidup dalam kondisi yang sangay minim oksigen, demikianlah iman kita mesti tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai tantangan. Karena memang sejak awal Tuhan Yesus menganalogikan pengutusan kita ke tengah dunia ini seperti mengutus domba ke tengah-tengah serigala. Tuhan Yesus bersabda, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya”. Dengan ungkapan “mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” mengisyaratkan bahwa Tuhan Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa dengan mengikuti Dia, orang-orang percaya akan mengalami banyak cobaan dan tantangan. Akan tetapi agar mampu berahan dalam kondisi itu, Tuhan Yesus menegaskan dua hal, yaitu: pertama, Tuhan Yesus meminta kita untuk “cerdik seperti ular”. Melalui ungkapan ini, Ia mengajak kita agar memiliki kreatifitas sehingga memungkinkan keberhasilan proses kesaksian iman di tengah dunia modern. Untuk mengimbangi perkembangan dunia yang sangat cepat, maka diperlukan ide-ide, gebrakan, dan cara-cara baru agar pesan Injil dapat dikomunikasikan secara efektif dan efisien. Kedua, Tuhan Yesus meminta kita untuk “tulus seperti merpati”. Orang-orang percaya mesti mengomunikasikan pesan injil itu dengan semangat kejujuran, kesederhanaan, dan kerendahan hati. Kedua hal tadi itu hanya akan dapat dilakukan apabila setiap orang percaya yakin bahwa Tuhan Yesus akan memampukan dan melengkapi, sehingga kekuatiran dan ketakutan tidak menguasai hati orang-orang percaya saat mengomunikasikan Injil tersebut.
Saudaraku, kiranya sajian _“pecel lele”_hari ini mengingatkan kita tentang sikap iman yang bertahan ketika menghadapi tantangan, sehingga pesan injil tetap dapat diberitakan secara kreatif, efektif dan efisien. Seperti lele yang mampu bertahan, demikian juga setiap orang percaya dituntut untuk tetap berjuang dan bertahan di dalam iman. Selamat mengomunikasikan pesan Injil, Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami sadar bahwa kami hanyalah domba di tengah kawanan serigala, oleh karena itu mampukan kami agar mampu berserah pada pertolongan kasih-Mu. Kiranya melalui hidup ini, kami dapat mengomunikasikan pesan Injil dengan sebaik-baiknya. Kami percaya bahwa Roh Kudus akan menolong kami agar dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
HANYA KARENA IMAN YANG KUAT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Lukas 18:42 (TB2)
”Lalu kata Yesus kepadanya: Melihatlah sekarang! Imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Hal yang paling membahagiakan bagi seorang yang sedang sakit adalah sembuh dari sakit yang ia derita. Kesembuhan menjadi pengharapan dan kelegaan bagi setiap orang yang sedang bergumul dengan sakit yang dialami, terlebih jika sakit itu sudah lama, dan bertahun- tahun dia derita.
Oleh karena itu, banyak orang berupaya untuk sembuh dan pulih dari sakitnya, baik itu dengan pergi ke dokter, ke klinik, ke rumah sakit untuk mendapatkan obat dan perawatan medis. Ada juga yang menggunakan ramuan herbal dan menjalani terapi sebagai upaya mendapatkan kesembuhan dan pemulihan dari sakit yang dialami.
Bacaan kita pada saat ini menceritakan Yesus yang menyembuhkan seorang buta di dekat kota Yerikho. Dikisahkan Yesus hampir tiba di Yerikho, di sana Dia melihat ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Pada saat Yesus lewat di depannya, berserulah dia, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya agar dia diam, namun justru dia berseru semakin keras. Yesus berhenti dan menyuruh para murid membawa orang buta itu pada-Nya. Lalu Yesus bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Yesus berkenan menyembuhkan orang buta itu, “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Maka melihatlah orang buta itu dan mengikut Yesus sambil memuliakan Allah.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, karya dan mujizat Tuhan Yesus dapat kita rasakan dan terjadi pada kita. Hal sederhana yang kita rasakan: kita masih diberikan kesempatan hidup hari ini, dapat bernafas, dapat bekerja, dapat beraktifitas, semua adalah wujud penyertaan Tuhan atas hidup kita. Renungan hari ini saya persembahkan secara khusus untuk para oma,opa, usia indah, kita diingatkan bahwa Tuhan juga menyertai dan memelihara kehidupan para warga usia indah.
Di tengah kelemahan fisik, keterbatasan ragawi dalam melakukan aktivitas, Tuhan Yesus setia menyertai dan menolong oma dan opa. Mari kita terus percaya pada mujizat dan kuasa Tuhan Yesus yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Mari kita senantiasa berjalan dengan iman, percaya kepada Tuhan Yesus yang berkuasa menyembuhkan kita, Ia juga yang akan menolong kita. Sekalipun mungkin raga kita lemah, badan kita sakit, tetapi iman kita senantiasa kuat di dalam Tuhan. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati.
TAK TERPISAHKAN DENGAN KASIH KRISTUS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Jemaat Tuhan yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik, namun apabila ada Saudara yang sedang menghadapi pergumulan yang berat sekalipun, yakinlah bahwa kita tetap dalam naungan kasih Kristus.
Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Tak Terpisahkan dengan Kasih Kristus” yang berdasar dari Surat Roma 8:38-39 “ Sebab, aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun suatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita .” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara yang terkasih, tahukah Saudara bahwa ayat-ayat ini menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada apapun dan siapapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Ini berarti dalam segala keadaan hidup, baik dalam kebahagiaan maupun penderitaan, dalam kehidupan maupun kematian, kasih Kristus selalu bersama kita.
Rasul Paulus memulai dengan pernyataan yang sangat personal dan penuh keyakinan: “Sebab aku yakin” Yakin apa Saudara? Yakin akan kasih Kristus yang abadi dan tak tergoyahkan, sudah dianugerahkan kepada Saudara dan saya!
Kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus melampaui segala penghalang. Ini adalah kasih yang universal, meliputi semua ciptaan, dan tidak terbatas oleh apapun. Saudara dan saya pun dapat berkata seperti Paulus: “Sebab aku yakin”, ini menunjukkan bahwa keyakinan kita sudah matang dan mendalam dalam hidup kita.
Keyakinan ini tidak terhalang oleh apapun yang terjadi, tidak terhalang oleh siapapun yang dapat merusak iman dalam hidup kita. Keyakinan yang sangat kuat bahwa tidak ada satu pun di alam semesta ini yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus.
Ini adalah penegasan yang luar biasa mengenai jaminan yang kita miliki dalam kasih Allah. Rasul Paulus menyimpulkan dengan menegaskan bahwa kasih Allah yang kita terima melalui Kristus Yesus adalah kekal dan tak tergoyahkan. Kasih ini adalah dasar dari iman dan pengharapan kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh jemaat dengan penuh sukacita dalam Ibadat di GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Yesus tetap mengasihi aku” Pujian ini sungguh menguatkan dan meneguhkan iman kita. Lagu ini mengingatkan kita bahwa kasih Yesus tidak pernah berakhir dan tidak ada kuasa di dunia ini yang dapat memisahkan kita dari-Nya.
Lirik kedua mengingatkan kita akan kondisi kita sebelum diselamatkan oleh Yesus. Kita semua adalah manusia berdosa yang telah ditebus oleh kasih karunia-Nya. Yesus mengangkat kita dari kegelapan dan memberikan kita hidup yang baru.
Lirik ketiga merupakan kesaksian tentang sukacita melimpah ruah yang kita miliki dalam Kristus, karena Kristus telah membebaskan kita dari dosa. Dengan darah-Nya, kita ditebus dan diberikan kebebasan sejati.
Dan Refrein lagu ini menyatakan: “Aku tetap milikNya, Yesus pun milikku, bukan untuk sementara, tapi selamanya.”
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kasih Allah adalah dasar dari iman kita dan sumber dari pengharapan kita. Tidak ada satu pun di dalam alam semesta ini yang bisa memisahkan kita dari kasih-Nya yang besar dan tak tergoyahkan. Oleh sebab itu, marilah selalu kita ingat, bahwa bagaimanapun keberadaan kita, kita tak terpisahkan dengan kasih Kristus! KasihNya yang kekal dan tak tergoyahkan selalu menjaga dan melindungi kita. Tidak ada apapun di dunia ini yang dapat memisahkan kita dari kasihNya. Marilah kita hidup dalam sukacita dan syukur karena kita telah ditebus dan diselamatkan oleh Yesus.
Bersediakah Saudara tetap setia, terus hidup dalam kasihNya? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, Bapa yang mengasihi kami dengan kasih yang kekal dalam Tuhan Yesus, di tengah segala pergumulan hidup kami mampukanlah kami tetap setia hidup di dalam kasihMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 250724)
OASE IMAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Keluaran 17:7,
Tempat itu dinamai Masa dan Meriba, karena orang Israel telah berbantah dan mencobai Tuhan dan mengatakan: “Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dehidrasi, secara sederhana kita artikan kondisi tubuh yang kekurangan air, kondisi dehidrasi cukup berbahaya karena membawa orang tidak sadar diri. Kalau keadaan tidak sadar diri tidak mendapat pertolongan bisa berakibat fatal yaitu kematian. Penanggulangannya cukup sederhana, yaitu dengan memberi minum air atau kalau tidak bisa lagi minum bisa diinfus cairan ke tubuh orang yang dehidrasi.
Tiba saatnya perjalanan umat Israel yang dipimpin Musa sampai di daerah gurun Sinai. Di Mesir mereka sudah terbiasa dengan panasnya gurun, walau pun demikian mereka tetap membutuhkan konsumsi air yang cukup. Ternyata bekal air yang mereka bawa telah habis, di gurun itu mereka tidak menemukan sumber air, umat itu kehausan tanda dehidrasi. Karena tidak mungkin ada sungai, maka yang diharapkan ada oase untuk mendapat air minum juga untuk ternak yang mereka bawa. Haus dan dehidrasi mengancam mereka dan tidak terlihat tanda-tanda adanya oase. Situasi ini membawa kemarahan dan kekuatiran, mereka berame-rame mendatangi Musa, mereka melampiaskan kemarahan dan uneg-uneg dengan berkata: “Berikanlah air kepada kami ..,” Dalam kondisi demikian ini mereka mengingat negeri Mesir yang berlimpah air, sehingga mereka berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir?” Ketiadaan air minum berarti kematian bagi mereka dengan anak-anaknya. Tempat mereka mengeluh dan meminta hanya kepada Musa. Dengan situasi itu keluhan mereka yang paling berat bukan saja soal air tetapi bertanya: “Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?”
Pertanyaan itu tentu tidak akan muncul bagi “orang percaya,” demikian seharusnya bagi umat Israel yang telah keluar dari Mesir. Tetapi melihat beratnya masalah yang menantang berakibat fatal, membuat keraguan dan mempertanyakan: Apakah Tuhan ada di tengah-tengah kita? Rencana Tuhan tidak akan mengakibatkan fatal, tetapi situasi mereka sudah mengarah fatal. Kemarahan umat itu membuat Musa tidak sabar, dan mungkin sedikit takut kalau umat itu mencelakai dia. Dalam keadaan yang tergesa-gesa, kesal dan tak sabar Musa membawa tua-tua Israel sesuai dengan nasihat Tuhan, Musa memukul tebing batu dan memancarlah air bagaikan oase pemuas haus, pendingin hati, mereka boleh minum sepuasnya dan istirahat.
Demikianlah kita membutuhkan oase iman, mendinginkan hati yang kuatir, sudah jenuh menantikan tanda-tanda kasih dan pemeliharaan Tuhan yang tak kunjung datang sesuai pikiran kita. Kita butuh oase iman saat ekonomi keluarga yang tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan keluarga, yaitu doa dan harapan pada Tuhan. Kita butuh oase iman yaitu berserah, berdoa menantikan pertolongan Tuhan setelah lama mencari kerja dan tak kunjung ketemu. Tuhan pasti ada bersama dan mendengar permohonan kita, Dia Oase iman kita.
Aplikasi:
- Adakah sesuatu lain sebagai oase iman Anda, penyejuk dikala banyak kuatir?
- Adakah film untuk ditonton yang menyejukkan hati Anda?
- Pernahkah Anda tawar hati kepada Tuhan karena doa yang tak terjawab?
Mari berdoa:
Bapa surgawi, dengan tangan gembala yang baik menggenggam gada dan tongkat, tetapi itulah yang menghibur kami, Dialah Kristus Juruselamat kami menjadi oase iman kami. Banyak yang menggoda kami, kiranya Roh Kudus menetapkan hati kami, Dia Penghibur dikala kami takut dan hilang harapan. Inilah doa kami, dalam nama Yesus. Amin. [AS220724]
”KUE DONGKAL”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 123:1-2 (TB 2)
“Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang berse-mayam di surga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki tertuju kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan tertuju kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kue dongkal merupakan salah satu jenis kue tradisional Indonesia yang berasal Betawi. Kue ini memiliki bentuk kerucut menyerupai tumpeng putih serta rasa yang manis dan gurih. Bentuk kerucut kue dongkal ini berasal dari kukusan kerucut yang terbuat dari bambu. Bahan dasar kue dongkal mirip dengan kue putu, yaitu terbuat dari tepung beras dan diisi dengan gula aren lalu dikukus. Lapisan gula aren yang dikukus bersama tepung beras akan mempercantik tampilan kue dongkal dengan warna belang-belang hasil kombinasi warna coklat dan putih. Berbeda dengan kue putu, kue dongkal memiliki tekstur yang lebih kenyal dibandingkan kue putu. Selain itu, kue dongkal berwarna putih (karena tidak ada campuran warna) sedangkan kue putu berwarna hijau dari daun suji. Kue Dongkal biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut sehingga rasanya menjadi lebih gurih. Sedangkan nama dongkal berasal dari cara pengambilan kue ini yaitu dengan cara diiris dan didongkal (dicongkel) dengan centong.
Ada filosofi yang menarik di balik nikmatnya kue dongkal ini. Kue dongkal yang berbentuk kerucut mengingatkan bahwa kehidupan itu mesti memiliki fondasi yang kuat dan senantiasa mengarah kepada Tuhan. Sedangkan manisnya gula aren di antara lapisan tepung beras yang pulen dimaknai sebagai kehidupan yang dijalani tak selamanya pahit. Selain itu, kue dongkal ini juga mengajarkan bahwa persoalan yang menerpa kehidupan justru akan membuat kehidupan manusia semakin matang, menghasilkan rasa manis dan nampak cantik.
Filosofi kue dongkal ini mengingatkan kita pada sikap iman pemazmur ketika sedang menghadapi persoalan hidup. Kala itu Pemazmur sedang mengalami penghinaan dari orang-orang yang secara ekonomi dan sosial sangat mapan dan juga penghinaan dari orang-orang sombong. Di tengah-tengah penderitaannya inilah, ia memohon pertolongan Tuhan. Imannya yang kuat telah mengarahkan hatinya hanya kepada Tuhan. Pemazmur berkata, “Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di surga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki tertuju kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan tertuju kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita”. Pemazmur meletakkan pengharapannya hanya kepada Tuhan. Pemazmur yakin bahwa Tuhan adalah Raja Surga yang tidak ada tandingannya dan Ia mampu menyelamatkannya. Mungkin ia harus menunggu lama dalam menantikan datangnya pertolongan, namun demikianlah pengharapannya diuji. Itu sebabnya sang pemazmur memusatkan diri hanya kepada Allah.
Saudaraku, berbagai macam persoalan atau penderitaan hidup yang berat memang bisa membuat kita bertanya-tanya tentang makna hidup, bahkan juga tentang keberadaan dan pertolongan Tuhan Allah. Namun hari ini, kita diajak untuk meneladani sikap iman Pemazmur yang sungguh berharap hanya kepada Tuhan. Kita sadar bahwa membutuhkan kesabaran dan kepekaan untuk melihat kehendak Tuhan, akan tetapi habis hujan akan tampak pelangi. Kiranya sajian kue dongkal kali ini, mengingatkan kita tentang sikap terarah kepada Tuhan yang akan membuat kita mampu menghayati bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan kebaikan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, kadangkala kami merasa gentar manakala berhadapan dengan berbagai persoalan kehidupan. Kami rindu untuk terus berpegang pada tangan-Mu yang perkasa namun penuh dengan kelembutan itu, sehingga kami dapat berserah pada kehendak dan rancangan-Mu atas kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk tetap dapat menjaga iman percaya kami kepada-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
