renungan
BERAKAR DALAM KASIH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 3 :14-21
Salam sejahtera, semoga kita dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus di dalam batin, sehingga oleh karena iman maka Kristus tinggal di dalam hati dan kita berakar di dalam kasih seperti ungkapan dalam Efesus 3:16-17 (TB2) Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
Pada saat ini, era digital sangat berkembang di dalam masyarakat terutama di dalam generasi muda. Perkembangan ini dapat memunculkan pengaruh, seperti perilaku dalam memanfaatkan teknologi dengan bijak atau tidak. Ada sebagian orang menggunakan kemajuan teknologi ini untuk hal-hal negatif, yang merusak. Kita berharap, kemajuan era digital membawa dampak perubahan yang baik bagi semua orang terutama generasi muda, sehingga dapat memajukan kehidupan bersama di masa depan.
Era digital banyak membawa dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak positif adalah kemudahan untuk menerima berita yang terbaru dan aktual, mudah mencari informasi yang ingin diketahui melalui media sosial. Dampak negatifnya adalah informasi palsu, negatif, yang merusak, membuat resah, mudah disebar melalui media sosial, walau sudah dihapus, tetap saja beredar, karena disebar ulang oleh pihak lain. Orang mudah menggunakan teknologi sebagai bahan untuk belajar atau mengajar. Orang dibantu dalam merintis usaha dengan lebih mudah karena ada aplikasi belanja dapat dijangkau oleh semua kalangan. Setiap orang, yang memiliki keahlian atau prestasi dapat menyalurkannya melalui media sosial, seperti konten belajar, seni, keterampilan membuat masakan, make up, dan lain – lain dengan mempromosikan lewat konten yang menarik, serta banyak yang lainnya.
Gadget membawa pengaruh negatif seperti membuat orang menjadi bermalas-malasan dan tidak produktif karena sangat ketergantungan atau kecanduan menggunakan gadget. Era digital meningkatkan resiko pembulian. Banyak orang dapat mengalami pelecehan, ancaman, atau penggunaan kata-kata yang merugikan, yang berdampak negatif pada kesehatan mental dan emosional orang. Banyak situs belanja online membuat orang lebih konsumtif karena memudahkan orang dapat membeli sesuatu yang diinginkan tapi kurang bermanfaat dan hanya ingin dibeli karena sedang trend. Konten-konten yang tidak sehat, seperti kekerasan, pornografi, dan perjudian online, dapat mempengaruhi pemikiran dan perilaku secara negatif. Perjudian online yang menipu dan menjerat orang dalam utang sehingga membuat kerusakan dalam hidup pribadi dan keluarga. Era digital membuat sebagian orang lebih senang ibadah online, dan tidak suka bersekutu tatap muka di tempat kebaktian.
Kemajuan era digital banyak membawa pengaruh dan dampak bagi banyak orang. Perlu pemahaman mengenai bagaimana cara kita menyikapi semua dampak yang ditimbulkan dari era digital ini. Edukasi mengenai literasi digital, pembimbingan, dan komunikasi terbuka sangatlah penting.
Dalam menghadapi pengaruh negatif dan merusak dari ajaran, perilaku yang ada di lingkungan rumah, sekolah, gereja, maka anggota gereja perlu dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus di dalam batin, sehingga dalam iman pada Kristus maka Kristus tinggal dalam hati kita dan kita berakar serta berdasar di dalam kasih dan menguatkan orang dalam menghadapi pengaruh negatif di sekitar.
Roh Kudus bekerja dalam batin artinya dalam akal budi, kesadaran dan kemauan. Akal budi untuk mengetahui mana yang baik dan jahat. Kita berdoa agar Kristus memberi hikmat agar kita hidup dalam keselamatan, bukan kebinasaan. Dalam menghadapi pengaruh negatif era digital dan pengaruh di lingkungan maka kita memohon Roh Kudus bekerja, berkuasa dalam batin kita. Kesadaran adalah kepekaan, sifat sensitif terhadap apa yang jahat buruk, merusak sehingga kita berjaga-jaga terhadap tipuan iblis melalui pengaruh digital dan pengaruh dunia lainnya. Kemauan adalah kemauan untuk melakukan kehendak Tuhan, melakukan kebenaran keadilan damai kasih dan lain-lain. Kalau hanya mengetahui kehendak dan kebenaran Tuhan tapi tidak ada kemauan melakukan, maka iman menjadi sia-sia sebab iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Akal budi, kesadaran, kemauan akan makin kuat jika Yesus tinggal dalam hati kita.
Kita beriman pada Kristus dan Kristus tinggal dalam hati kita maka kita makin berakar di dalam kasih. Berakar artinya menyerap firman Tuhan dan kasihNya yang dibutuhkan oleh hidup kita. Menyerap itu berarti mengerti, memahami, betapa lebarnya, panjangnya, tingginya dan dalamnya kasih Kristus, yang dinyatakan dalam kematianNya di salib untuk menebus dosa semua manusia. Kasih Kristus itu melampaui segala pengetahuan. Paulus mendoakan agar anggota jemaat terus-menerus mengenal, mendalami kasih Kristus tersebut. Kita saat ini dalam persekutuan bersama, juga mendoakan anggota jemaat, agar terus-menerus mengenal, mendalami merenungkan siang dan malam kasih Kristus. Merenungkan itu bukan hanya membaca dan mendengar firman Tuhan, tapi mencerna, menghayati kasih Kristus dan menyerap menjadi bagian hati jiwa pikiran dan perilaku kita. Menyerap firman dan kasih Kristus, berarti firman Tuhan dan kasih Kristus tinggal di dalam hati selama kita hidup, dan kita terus beriman pada firman dan kasih Kristus. Kristus tinggal dalam hati, berarti firman Tuhan Yesus tinggal dalam hati, mengatur sikap, cara berpikir, cara merasa, dan bertindak sesuai kehendak Yesus.
Kita berdoa dalam persekutuan bersama agar semua anggota jemaat diberikan Tuhan kemampuan mengenal kasih Tuhan. Kita makin mengenal bahwa salib Yesus adalah dasar harapan orang Kristen. Mengenal kasih Kristus berarti memahami, mengakui bahwa Allah mengasihi anggota jemaat. Di luar kasih Allah, hanya ada kegelapan, hukuman murka Allah. Semakin mengenal, memahami kasih Kristus maka kita yakin bahwa tidak ada kasih di dunia ini yang melebihi kasih Kristus. Kasih Kristus kita kenal dalam persekutuan umat yang bersatu, saling mengasihi, bukan berseteru. Kasih Kristus tidak dikenal dalam jiwa yang egois atau individualis.
Dalam menghadapi pengaruh negatif di era digital, kita sangat memerlukan Kristus setiap jam, dalam cobaan, hanya Tuhan yang kita pegang, karena Dia penuntun. Siang dan malam Kristus tingga beserta kita seperti ungkapan dalam KJ. 329 ayat 3. Aku perlukan Dikau tiap jam; dalam cobaan Kaulah kupegang. Siapa penuntun yang setaraMu? Siang dan malam tinggal sertaku! amin
Berdoa;
Ya Tuhan kiranya kami makin dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus di dalam batin, sehingga oleh karena iman maka Kristus tinggal di dalam hati dan kami berakar di dalam kasih, dalam nama Yesus kami berdoa. amin
KETIKA MENINGGALKAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bahan: Yeremia 2:32,
Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannya, atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya? Tetapi umat-Ku melupakan Aku, sejak waktu yang tak terbilang lamanya. (Tb.1)
Saudara saudari yang dikasihi Kristus, tidak jarang kita lupa di mana kita meletakkan barang berharga milik kita. Ada saatnya seseorang lupa meletakkan arloji, kacamata, kunci, dst. Kalau lupa berarti tidak sengaja, sehingga saat diingat atau dibutuhkan langsung mencari sampai dapat. Berbeda dengan melupakan sesuatu, dengan sengaja hendak meninggalkannya dari ingatan, mungkin sesuatu itu tak berguna lagi, bahkan bisa menjadi beban, sehingga lebih baik meninggalkannya atau melupakannya.
Bahan renungan kita hendak menyatakan seharusnya, seperti seorang anak dara yang tidak akan lupa pada perhiasannya. Perhiasan bagi anak gadis merupakan kebangaan dan sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak mungkin dia lupakan. Seperti pengantin perempuan orang Yahudi, memakai selendang sebagai ikat pinggang menatang gaun pengantin yang dikenakannya, sehingga selendang ikat pinggang pengantin itu tidak mungkin dilupakannya. Apa yang hendak disampaikan nabi Yeremia ialah: suatu kesedihan yang amat mendalam karena ketidaksetiaan umat Tuhan, bangsa Israel. Mereka telah melakukan hal yang tak terpikirkan, yaitu melupakan, meninggalkan Tuhan (dengan sengaja) yang telah menebus mereka dari Mesir yang telah memelihara mereka selama 40 tahun di padang gurun.
Pemeliharaan itu tidak sia-sia, akhirnya mereka menduduki dan memiliki tanah Kanaan. Di tanah ini mereka menjadi besar, jaya dan makmur. Pada awal kejayaan mereka dalam pemerintahan raja Daud mereka dibangun dalam ibadah, memuji dan menyembah Tuhan Allah. Kesetiaan kepada Allah dalam ibadah memberi kejayaan, sehingga Allah berjanji mengekalkan, meneguhkan kerajaan Israel kekal selamanya. Israel dalam kesetiaan, ibadah, penyembahan bagaikan perhiasan yang tak terlupakan. Namun kesetiaan, ibadah, penyembahan itu tergerus dan diselewengkan bangsa itu yang diprakarsai oleh pemimpin, seperti raja, imam dan nabi. Kesetiaan menjadi pura-pura, ibadah menjadi formalitas, penyembahan dialihkan kepada berhala, dewa Baal.
Yeremia mendapat tugas menjadi nabi Allah untuk menyampaikan nasihat firman Tuhan. Nasihat yang dibarengi dengan konsekwensi, bila mereka kembali sadar berbalik kepada Tuhan Allah (bertobat) maka Allah memelihara mereka, tetapi bila mereka menolak pertobatan, tetap melupakan Allah, maka negeri mereka hancur, umat itu menjadi tawanan diperbudak bangsa lain. Berbarengan dengan nasihat itu, tentara kerajaan Babel sudah mendekati negeri mereka, siap dengan pasukan menghancurkan Yehuda dan Yerusalem. Dalam perumpamaan anak dara dengan perhiasannya atau pengantin perempuan dengan ikat pinggangnya, demikian lembut Yeremia menyampaikan nasihat itu, tetapi dengan tegas. Sayang sekali Israel tegar melupakan dan meninggalkan Allah, sehingga Nebukadnezar raja Babel, menghacurkan Yehuda dan Yerusalem, rakyat dibawa tertawan ke pembuangan di Babel.
Aplikasi:
- Pernahkah Anda meninggalkan firman Tuhan dan berakibat buruk?
- Israel lebih percaya kepada Mesir dari pada pertolongan Allah, mengapa?
- Pernahkah Anda merasa terlambat untuk bertobat dari kesalahan?
Mari berdoa:
Bapa surgawi yang tak henti-hentinya menasihati kami, agar perhiasan kebanggan kami, yaitu kasih setia Tuhan jangan sekali-kali kami lupakan. Kami menjalani hidup ini menjadi berarti kalau kasih dan kuasa Tuhan dalam pimpinan dan hikmat oleh Roh Kudus ada di hati kami. Demikianlah harapan dan permohonan kami dalam nama Yesus Kristus, Amin. [AS240624]
”SLUMAN, SLUMUN, SLAMET”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Amos 5:14-15 (TB 2)
“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup. Dengan demikian, TUHAN, Allah Semesta Alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat, cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang. Mungkin TUHAN, Allah Semesta Alam, akan mengasihani yang tersisa dari keturunan Yusuf”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mungkin Anda pernah mendengar peribahasa “sluman, slumun, slamet” ini. Tetapi apakah Anda tahu arti dan maksudnya? Ada sebagian masyarakat Jawa yang mengartikan pepatah ini hanya sebagai “yang penting selamat” saja. Ternyata artinya tidaklah sesederhana itu, karena peribahasa “sluman, slumun, slamet” ini memiliki makna yang mendalam dan bersifat religius. Kata ‘sluman’ dapat diartikan sebagai lancar, ‘slumun’ berarti halus, dan ‘slamet’ berarti aman atau selamat.
Peribahasa “sluman,slumun, slamet” ini merupakan sebuah doa untuk memohon kebaikan. Bila diartikan memakai bahasa sekarang, “sluman,slumun, slamet” adalah teknik positif thingking untuk dapat menguasai diri, sehingga bisa memiliki pikiran yang jernih supaya dapat menentukan strategi agar bisa bergerak maju. Maksudnya, “sluman, slumun, slamet” dapat digambarkan sebagai seseorang yang ingin menggapai sebuah keberhasilan, namun dilakukannya secara diam-diam tidak menyolok dan tidak pamer. Oleh karena itu, makna peribahasa “sluman, slumun, slamet” bukanlah ‘sekedar selamat’ saja, melainkan permohonan atas keselamatan yang diperoleh melalui jalan yang ditetapkan Tuhan, bukan sekadar keselamatan dari bahaya duniawi.
Nah, berbicara tentang “sluman, slumun, slamet” ini, mengingatkan kita tentang salah satu episode kehidupan umat Israel pada jaman pelayanan Nabi Amos. Pada waktu itu, umat begitu gemar untuk ‘mencari Tuhan’ melalui peribadahan mereka. Salahkah? Tentu tidak, bukan? Karena Tuhan sendiri yang mengatakan “carilah Tuhan, maka kamu akan hidup!” Hanya saja upaya mereka dalam mencari Tuhan itu dipisahkan dari praktik hidup sehari-hari. Tindakan mencari TUHAN itu tidak bisa dipisahkan dari relasi kita dengan sesama. Bagaimana seseorang menjalani dan mempraktikkan relasi sosialnya sesdungguhnya merupakan cerminan dari bagaimana kedekatannya dengan TUHAN. Dengan kata lain, relasi dengan TUHAN dilihat dari relasi dengan sesama. Yang terjadi di kalangan umat pada waktu itu adalah: ibadah dilakukan dengan baik, namun perilaku mereka tetap jahat kepada orang lain dan tidak adil kepada yang lemah. Oleh karena itu, melalui Nabi Amos Tuhan bersabda, “Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup. Dengan demikian, TUHAN, Allah Semesta Alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. Bencilah yang jahat, cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang. Mungkin TUHAN, Allah Semesta Alam, akan mengasihani yang tersisa dari keturunan Yusuf”.
Kata “mencari” dalam konteks ini berbicara tentang orientasi hati seseorang, bukan hanya sekadar suatu tindakan. Yang ingin dibenahi bukan hanya tindakan (perubahan perilaku), tetapi juga perubahan sikap hati. Sedangkan untuk menekankan aspek batiniah, dipakai ungkapan “bencilah yang jahat”. Sikap ini bukan sekadar menjauhi atau tidak melakukan yang jahat, tetapi benar-benar memandang kejahatan dengan penuh kebencian. Ruang hati tidak boleh disisakan untuk kejahatan. Sebaliknya, ketaatan juga didorong oleh cinta. Ketaatan kepada Allah yang tidak disertai dengan cinta kepada-Nya hanyalah keterpaksaan yang melelahkan dan menakutkan. Melelahkan, karena seseorang memang tidak benar-benar ingin melakukannya. Menakutkan, karena seseorang melakukan hanya gara-gara takut dijatuhi hukuman.
Saudaraku, kiranya peribahasa “sluman, slumun, slamet” ini mengingatkan kita agar kita dapat mewujudkan apa yang menjadi kehendak Tuhan, yaitu: “carilah yang baik dan jangan yang jahat, bencilah yang jahat dan cintailah yang baik!”. Tidak perlu pamer, tetapi lakukan dengan tekun dan penuh cinta kepada Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, meski kami sadar bahwa ini tidaklah mudah, namun kami rindu untuk mewujudkan kehendak-Mu agar dapat ‘mencari yang baik dan bukan yang jahat’. Kiranya roh Kudus menolong kami untukd apat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
ORANG TERHORMAT PANTANG GILA HORMAT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Ester 5:9 (TB2)
”Pada hari itu Haman keluar dengan hati riang gembira. Tetapi ketika Haman melihat Mordekhai di pintu gerbang istana raja tidak bangkit atau bergerak menghormati dia, panaslah hati Haman terhadap Mordekhai”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Memiliki kekuasan atau dekat dengan pusat kekuasaan adalah ujian terberat bagi seseorang untuk tetap berkepribadian rendah hati. Seringkali karena merasa memiliki kekuasaan, atau dekat dengan sosok yang memiliki kekuasaan menjadikan seseorang bersikap pongah, congkak dan sombong. Itu semua terjadi karena dia merasa menjadi orang yang terhormat dan harus dihormati bahkan disanjung.
Haman sedang merasakan kondisi yang membuatnya sebagai pribadi yang terhormat. Dia memiliki akses kepada Raja, bahkan bisa hadir dalam undangan pesta Raja. Kedekatan Haman pada pusat kekuasaan membuatnya pongah dan congkak. Manakala dia melihat Mordekhai yang tidak memberikan hormat dengan menundukkan kepala, Haman merasa tersinggung dan marah. Rasa tersinggung itu begitu hebat dan membuatnya ingin menghabisi Mordekhai. Haman menjadi profil pribadi yang terhormat namun sedang gila hormat.
Kehidupan di zaman modern seperti ini berpeluang menjadikan pribadi yang memiliki kekayaan dan kekuasaan sebagai pribadi yang pongah dan congkak, hanya minta dilayani dan dihormati tanpa mau melayani apalagi menghormati orang lain. Jika ada orang lain yang tidak mengikuti kemauannya, maka dia akan memakai kekuasaan yang dia miliki untuk menekan atau jika mungkin menghancurkan. Jangan pernah bertanya tentang kasih dan pengampunan kepada pribadi yang seperti itu. Yang ada di benaknya hanyalah kepentingan pribadi dan keduniawian.
Bisakah kita menyebut pribadi seperti itu sebagai yang terhormat? Pribadi yang terhormat adalah pribadi yang mau melakukan perbuatan yang berarti bagi sesama. Pribadi yang tidak mengutamakan kepentingan pribadi. Pribadi seperti ini meyakini bahwa kekuasaan yang dia miliki adalah pemberian kepercayaan dari sang pemilik kekuasaan yang sebenarnya. Maka dia harus menggunakannya dengan tanggungjawab. Inilah pribadi yang terhormat dan pantas kita berikan hormat. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati.
SERIKAT PERSAUDARAAN YANG SALING MENOLONG
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Umat Tuhan yang mengasihi Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik. Di minggu ke 3 Bulan Diakonia GKI Kwitang kita akan merenungkan hal yang sangat penting bagi umat yaitu saling menolong. Maka kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Serikat Persaudaraan yang Saling Menolong” dengan dasar dari Galatia 6:2 “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, tahukah Saudara dalam ayat ini Rasul Paulus menekankan dua hal penting untuk persekutuan jemaat, yaitu: Pertama, “bertolong-tolongan menanggung beban.” Artinya kita dipanggil untuk saling menolong dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi kesulitan hidup. Ini bukan hanya tentang beban fisik, tetapi juga beban emosional dan spiritual. Kedua, “memenuhi hukum Kristus.” Yang dimaksud hukum Kristus adalah hukum kasih. Dengan saling menolong, kita menunjukkan kasih Kristus dalam tindakan nyata. Contohnya bagaimana?
Menolong secara praktis, kita bisa menolong berupa bantuan fisik, seperti membantu orang disekitar kita yang sedang kesusahan atau memberikan dukungan finansial bagi yang membutuhkan. Jangan ragu untuk memberi bantuan sesuai kemampuan kita, baik itu materi, tenaga, maupun waktu.
Menolong secara emosional, kita bisa memberi perhatian berupa mendengarkan dan memberikan nasihat kepada teman yang sedang mengalami masalah. Bisa juga dalam bentuk ikut serta dalam kegiatan sosial gereja seperti kunjungan ke rumah sakit dan lain-lain.
Menolong secara spiritual, kita bisa mendukung melalui doa, memberi penguatan rohani, dan membimbing dalam iman. Suka mendoakan mereka yang sedang dalam kesulitan. Doa memiliki kuasa yang besar!
Pertanyaan penting: Mengapa kita harus saling menolong? Karena Teladan Kristus, Yesus Kristus telah memberi kita teladan yang sempurna dalam hal saling menolong. Dia selalu menolong dan mengasihi orang-orang di sekitarnya.
Ketika kita saling menolong, kita memperkuat ikatan persaudaraan dan membangun komunitas yang lebih kuat dan solid. Yakinlah, Tuhan memberkati orang-orang yang tulus ikhlas dan tanpa pamrih dalam menolong sesama.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Vokal Grup Bapak-bapak Pos Wismajaya, sebuah pujian yang berjudul: “Serikat Persaudaraan” Pujian ini sungguh menginspirasi banyak orang percaya, karena lagu ini mengandung pesan yang begitu kuat untuk tetap teguh dalam iman, rendah hati, mengikuti perintah Tuhan, dan saling mengasihi satu sama lain.
Pesan ini bertujuan untuk mengajak umat hidup saling mengasihi. Kasih sayang adalah fondasi yang kuat untuk persatuan dan kebersamaan. Dengan saling mengasihi, kita bisa menciptakan lingkungan yang aman dan penuh kedamaian.
Saudara-saudara, marilah kita semua membangun serikat persaudaran yang saling menolong. Dengan demikian, kita memenuhi hukum Kristus dan menjadi terang serta garam bagi dunia. Mari kita mulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita sehari-hari dan biarkan kasih Kristus mengalir melalui tindakan kita.
Saudara-saudara, bersediakah Saudara menyatakan komitmen untuk tetap teguh dalam iman, rendah hati, mengikuti perintah Tuhan dan saling mengasihi satu dengan yang lain? Bersediakah Saudara melakukannya? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau yang telah memanggil kami untuk membangun serikat persaudaraan yang saling menolong. Kiranya Tuhan memberkati semua pelayanan GKI Kwitang melalui Bidang Kesaksian dan Pelayanan dan Komisi-komisinya. Kiranya Tuhan memberkati YSKK dan Unit-unitnya. Kiranya Tuhan memberkati semua pelayanan yang kami lakukan secara pribadi di tengah masyarakat. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 200624)
MEREKA DAPAT MAKAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yohanes 6:1-15
Salam sejahtera semoga kita makin percaya pada Yesus yang sangat mengasihi peduli peka terhadap pergumulan hidup kita dan semua orang yang lapar dan lelah. Yesus tahu apa yang harus dilakukanNya agar mereka yang lapar dan lelah dapat makan seperti ungkapan dalam Yohanes 6: 5-6 (TB2) Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.
Orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus, bukanlah murid Yesus tapi orang yang tertarik melihat mujizat Yesus. Orang yang berbondong-bondong itu sudah hampir 15 km berjalan dengan bergegas, datang kepada Yesus hendak melihat mujizat penyembuhan. Yesus sangat mengasihi, peka hatinya dan peduli kepada orang banyak yang telah berjalan jauh. Mereka lapar dan lelah. Yesus tahu harus berbuat apa bagi orang yang lapar dan lelah. Tapi Yesus bertanya kepada murid-murid, di mana dapat membeli roti supaya dapat memberi makan orang banyak itu ? Pertanyaan Yesus adalah untuk melibatkan dan mengajarkan murid-murid agar peduli, peka kepada orang yang lapar dan lelah. Sikap Yesus sangat relevan dengan kehidupan kita. Yesus peka, peduli dengan pergumulan hidup kita. Ia mempunyai rencana untuk menjawab pergumulan hidup kita.
Respon Filipus terhadap pertanyaan Yesus, menggambarkan sikap manusia masa kini, yang pengetahuannya sangat terbatas dalam menjawab pergumulan manusia. Filipus menjelaskan bahwa sangat sulit dan mustahil mencari roti untuk orang banyak dalam waktu singkat, roti seharga dua ratus dinar tidak cukup untuk orang banyak, walau dipotong-potong kecil. Jawaban Filipus sesuai akal manusia, tidak mungkin memberi makan banyak orang dengan uang terbatas. Ini berarti dengan uang terbatas tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong orang yang lapar dan lelah.
Pertanyaan Yesus kepada Filipus juga menjadi pertanyaan pada gereja masa kini. Apakah kita sebagai gereja peka, peduli, mengasihi orang yang lapar dan lelah di sekitar kita, mau mengenal orang yang benar-benar lapar dan lelah dan mau bertemu Yesus? Apakah kita menjadi gereja yang hanya tenang, diam, hanya berdoa dan membaca mendengar firman saja tapi tidak berbuat apa-apa terhadap pergumulan di sekitar kita? Apakah gereja mau peka terhadap masalah kelaparan, kekurangan gizi di sekitar kita? Apakah kita hanya sibuk dengan kebutuhan sendiri, kita yang sudah cukup gizi tapi merasa lapar akan makanan enak, lapar karena nafsu kedagingan, padahal sudah berlebihan menurut ilmu kesehatan. Apakah kita tidak tergerak hati kita seperti Yesus tergerak hatinya terhadap orang yang lapar akan roti hidup, yang memberi hidup kekal. Yesus tidak membiarkan kita tenang, diam, karena itu Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, di mana kita dapat membeli roti supaya mereka dapat makan, supaya mereka tercukupkan gizi? Pertanyaan Yesus ini juga menguji kita pribadi, menguji gereja seberapa pekanya, pedulinya kita kepada orang yang kekurangan gizi dan kekurangan kebutuhan hidup lainnya.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada Filipus, bahwa untuk peka, untuk melayani Yesus dan sesama, tidak bergantung kepada kekuatan diri sendiri, kemudian kita menyerah, putus asa, tidak mungkin, mustahil melayani, menolong orang banyak, uang terbatas, potensi terbatas. Kita jangan bersikap seperti Andreas, yang berkata, apa artinya untuk orang sebanyak ini? Ketika kita tidak mampu, Yesus dalam kuasa Allah Bapa, lebih mampu, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kemampuan kita terbatas, tapi kita menyerahkan apa yang ada pada kita kepada Yesus, untuk dipakai Yesus. Ia mempersembahkan kemampuan kita yang terbatas kepada Allah, maka Allah membuat suatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, buktinya 5000 orang kenyang hanya dengan 5 roti dan 2 ikan. Cara Allah melakukan mujizat tidak sama bagi setiap orang, dan kita tidak tahu cara Allah melakukan mujizat, tapi Allah mampu mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Inilah yang dimaksud Yesus bahwa Ia tahu apa yang dilakukanNya untuk menolong orang yang lapar dan lelah, orang yang punya pergumulan hidup. Kita percaya bahwa kemampuan Allah dan kehendakNya untuk memakai kita. Hal itu terletak pada penyerahan diri kita kepada Tuhan, maka Tuhan akan memakai kita untuk melayani, menolong sesama.
Usaha Andreas adalah membawa seorang anak kecil kepada Yesus. Melalui anak kecil Yesus menggunakan apa yang ada, mengubahnya dengan kuasa Yesus menjadi sesuatu yang sangat berguna bagi banyak orang. Andreas tidak tahu apa yang akan diperbuat Yesus, tapi Yesus Maha Tahu apa yang akan diperbuatNya dengan menggunakan apa yang ada pada anak kecil tersebut. Orang tua bisa membawa anaknya yang kecil pada Yesus, dan Yesus juga bisa menggunakan apa yang dimiliki anak-anak tersebut dengan kuasaNya menjadi berguna bagi banyak orang. Guru sekolah minggu membawa anak-anak kepada Yesus, maka Yesus dapat menggunakan kuasaNya untuk mengubah apa yang ada pada anak kecil menjadi berguna bagi banyak orang nantinya, bagi gereja, bagi masyarakat.
Yesus memerlukan apa saja yang kita bawa pada Yesus untuk diubah Yesus menjadi berguna bagi Yesus bagi gereja bagi masyarakat. Mungkin yang kita bawa pada Yesus tidak banyak, tapi Yesus dengan kuasaNya mampu mengubah menjadi suatu mujizat. Kita membawa diri kita kepada Yesus, membawa waktu, tenaga, pikiran, uang, potensi kepada Yesus dan minta Yesus memakainya menjadi suatu mujizat yang berguna, membuat orang kenyang atau membuat orang lain berkembang, hidup dalam kemenangan. Kita perlu menyesali dosa kita karena tidak membawa apa-apa pada Yesus agar diubahkan Yesus menjadi berguna. Kita membawa sesuatu pada Yesus karena Yesus tahu apa yang hendak dilakukanNya melalui diri kita.
Gereja yang berdiakonia, berarti gereja yang dilibatkan dan diajarkan untuk peka, peduli kepada orang yang lapar, lelah seperti pertanyaan Yesus: “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Pertanyaan ini, berarti Tuhan mengutus kita ke dalam dunia untuk yang miskin dan lapar berkeluh, kita melayani dengan sepenuh, dengan senang, dan kita memuliakan namaNya seperti ungkapan dalam PKJ 185 ayat 3. Tuhan mengutus kita ke dalam dunia untuk yang miskin dan lapar berkeluh. Meski dihina serta dilanda duka, harus melayani dengan sepenuh. Reff: Dengan senang, dengan senang, marilah kita melayani umatNya. Dengan senang, dengan senang, berarti kita memuliakan namaNya.amin.
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin percaya pada Yesus yang sangat mengasihi peduli peka terhadap pergumulan hidup kami dan semua orang yang lapar dan lelah. Kami mau dilibatkan Yesus untuk peka, peduli mengasihi orang yang lapar dan lelah, dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
SKALA PRIORITAS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 2
Bahan: Hagai 1:2-4,
“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rmah-rumahmu yang dipapani dengan baik? Sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, saat kita mau makan, yang menjadi prioritas ialah berdoa. Karena yang kita akan makan adalah dari tangan Tuhan. Tetapi dalam suasana lapar sekali dan mengejar waktu, ada saatnya kita tidak berdoa atau doanya di bawah standar sebelum makan. Kita bisa memaafkan diri sendiri, tetapi bagaimana “perasaan Tuhan”? Demikian juga waktu kita mau tidur malam, ngantuk sekali sehingga lupa berdoa. Demikian dengan prioritas.
Kitab nabi Hagai, suatu keadaan setelah umat Israel pulang dari pembuangan, mereka telah sampai di Yehuda dan Yerusalem, itulah waktu yang ditunggu telah tiba, merdeka dan keluar dari tawanan. Alangkah bahagianya mereka, mereka membangun rumah tinggal, membuka usaha pertanian, segala keperluan mereka usahakan. Tetapi keadaan sehari-hari ternyata sulit, tidak maju-maju, kehidupan sangat berat, tidak cukup sandang pangan, dan harga membubung tinggi. Apa sebabnya? Karena prioritas hidup bangsa yang merdeka ini keliru. Setiap orang semata-mata hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, mereka lupa siapa yang mengembalikan, membawa pulang ke negeri mereka. Peran dan kedudukan Tuhan diabaikan, nafsu mencari kenikmatan menjauhkan mereka dari peran dan kehadiran Tuhan. Itulah yang terjadi, masing-masing sibuk membangun rumah untuk mereka, ladang mereka buka untuk meraih hidup yang lebih baik dan layak. Padahal segala yang baik dalam hidup ini, sampai saat ini bagi kita berasal dari Tuhan, Dia berkenan mengaruniakannya, Dia juga berkenan menahannya, bahkan menstop aliran karunia itu bagi kita. Bagi orang yang tak berTuhan, mengatakan untung atau rugi, sukses atau gagal, terletak dalam “studi kelayakan” atau perhitungan usaha seseorang.
Nabi Hagai menunjukkan skala prioritas yang disingkirkan oleh umat itu, yaitu mencari Tuhan, (mencari kebenaran dan Kerajaan Allah, Mat 6:33). Hagai dengan telak menusuk hati sanubari umat itu. Rumah Tuhan, Bait Allah yang dalam puing reruntuhan, sama dengan rumah mereka, Rumah tempat perjumpaan umat dengan Tuhan, tidak ada yang menggubris. Sama juga dengan sikap kita saat ini, apakah Mat 6:33, menjadi prioritas dalam keseharian kita? Atau biarkan saja ayat itu tinggal di Alkitab, kemudian kita berusaha menurut skala prioritas dengan studi kelayakan atau perhitungan logika kita saja. Apa yang menjadi prioritas aktivitas keseharian kita? Tegoran nabi Hagai, membuat umat memandang pada puing reruntuhan Bait Allah. Dengan tegoran itu umat menghentikan kepentingan diri sendiri dan mereka membangun Bait Allah, walau tidak seindah aslinya, tetapi suatu kenyamanan hidup terpancar bagi setiap orang yang berdoa dan bersekutu dalam ibadah umat di Bait itu.
Aplikasi:
- Dapatkah Anda membuat skala prioritas dalam menjalani kehidupan ini?
- Bagaimana Anda menyatakan tanggung jawab pada Jemaat Anda?
- Mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, (Mat 6:33) bisakah menjadi prioritas Anda?
Mari berdoa:
Bapa surgawi yang kaya dengan karunia yang baik bagi kami, kami mohon Roh Kudus membimbing hati dan pikiran kami untuk mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kami mohon dalam usaha dan kerja kami Tuhan karuniakan kesuksesan bagi kami, sehingga nama Tuhan termulia bagi kami. Amin. [AS170624]
”WOW…, KĒRÉN…!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Pengkhotbah 11:5 (TB 2)
“Sebagaimana engkau tidak mengetahui pergerakan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang membuat segala sesuatu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Ungkapan “wow, kērén!” merupakan sebuah ungkapan yang wajar dikatakan pada saat melihat atau menjumpai sesuatu yang menakjubkan, indah, baik, cantik dlsb. Ungkapan “wow, kērén!” ini juga yang muncul di benak saya hampir 24 tahun lalu, ketika pertama kali melihat bunda beberapa saat sebelum pernikahan kami berdua diteguhkan dan diberkati. Saya percaya, Anda pasti dapat membayangkan perasaan saya kala itu, bukan?
Ungkapan “wow, kērén!” itu mestinya juga sering muncul di dalam benak kita. Mengapa? Karena bila kita dengan jujur menengok kebelakang dan melihat kembali rangkaian perjalanan kehidupan, maka sesungguhnya kita hanya akan melihat rangkaian berkat-berkat Tuhan yang tak henti-hentinya mengalir. Bukan berarti bahwa kita tidak pernah mengalami persoalan, musibah atau bahkan tragedi; namun jumlah permasalahan yang kita jumpai ternyata masih jauh lebih sedikit didandingkan dengan berkat-berkat Tuhan yang dicurahkanNya.
Saya dan teman-teman pernah mengungkapkan frasa “wow, kērén!” ini juga. Betapa tidak? Ada sebuah peristiwa yang banyak menguras perhatian dan energi kami sebagai lembaga. Kami berusaha mengambil bagian sesuai dengan peran dan tugas masing-masing. Sedikit demi sedikit persoalan itu akhirnya mampu kami dihadapi dan diatasi. Bila persoalan dapat diselesaikan, maka itu pasti bukan karena kehebatan kami, melainkan Tuhan Yesus-lah yang berada di depan dan berkarya bagi kami. Kami menghayati bahwa Anugerah Tuhan itu: “wow, kērén!”. Di dalam hidup ini sudah seharusnya kita menghayati bahwa Tuhan sudah melakukan yang terbaik bagi kita, kita hanya perlu melakukan apa yang menjadi bagian kita sesuai dengan kemampuan dan talenta masing-masing. Ya, betul! “God already do the best, and then we will do the rest!”
Pemahaman seperti itulah yang disampaikan oleh Penulis Kitab Pengkhotbah. Dalam Kitab Pegkhotbah 11, diajarkan tentang sikap iman di tengah ketidakpastian. Dalam nasihatnya, Pengkhotbah secara khusus memberi pedoman tentang bagaimana kita mesti terus berjuang, berusaha dan bersikap dengan benar di tengah-tengah kehidupan yang tidak pasti. Menurut Pengkhotbah, jika hanya memerhatikan risiko-risiko dan / atau gejolak-gejolak yang ada saja, maka bisa jadi kita malah tidak akan pernah melakukan apapun. Kita mesti selalu yakin bahwa Tuhan hadir dan telah berkarya bagi kita. Tugas kita hanya melakukan bagian kita dengan upaya yang seoptimal mungkin. Oleh karena itu Pengkhotbah menasihatkan, “Sebagaimana engkau tidak mengetahui pergerakan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang membuat segala sesuatu”. Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib yang seringkali terjadi di luar dari apa yang bisa kita bayangkan.
Saudaraku, mari kita dengan jujur melihat setiap berkat yang telah diberikan oleh Tuhan, maka niscaya kita akan mengatakan bahwa kasih dan berkat Tuhan itu: “wow, kērén!” Sampai hari ini pun ketika saya melihat bunda, kakak, dhedhek, semua keluarga besar, teman-teman dan seluruh pengalaman hidup ini, maka tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengatakan, “wow, kērén!”. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan berilah kepada kami kepekaan untuk dapat melihat dan merasakan setiap campur tangan Tuhan di dalan kehidupan kami. Dengan demikian, kami akan terus dapat belajar mengucapkan syyukur atas kebaikan-Mu. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
