renungan
IA MENGHARDIK ANGIN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Markus 4: 35-41
Salam sejahtera semoga kita makin percaya akan kasih, kepedulian dan kuasa Yesus pada saat kita sendiri mengalami topan yang dahsyat, karena Yesus berkuasa untuk menghardik angin, penyebab topan, dan membuatnya reda dan teduh seperti ungkapan dalam Markus 4:39 (TB2) Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
Seorang ibu A merasa tidak yakin bahwa anak laki-laki yang dikasihinya telah meninggal. Menurut dokter, anak ibu A sudah tidak bernyawa. Bagi ibu A, kedukaan ini adalah topan yang sangat dahsyat. Ibu A merasa hidupnya hampir tenggelam, dalam arti tidak bisa melanjutkan hidupnya, karena beratnya beban hidup, seperti perahu yang penuh dengan air, di tengah ombak yang dahsyat, susah untuk maju, tidak menentu arah.
Ibu A, selalu bersama Yesus, rajin berdoa, membaca dan mendengar firman Tuhan, rajin melayani Tuhan dan sesama, namun ia juga mengalami topan yang sangat besar seperti murid-murid dalam perahu bersama-sama Yesus, tetap juga mengalami topan yang dahsyat. Apakah ibu A merasa Yesus tidak peduli pada dirinya saat ditimpa topan kedukaan yang berat? Seperti murid-murid merasa bahwa Yesus tidak peduli pada mereka yang sedang menghadapi topan? Apakah benar Yesus tidak peduli? Marilah kita belajar dari Markus 4:35-41.
Kisah dalam Markus 4:35-41 ini, adalah kisah Yesus memberi kesempatan kepada murid-murid untuk lebih memahami siapa Dia sebenarnya. Mereka telah mengetahui tentang Kerajaan Allah, telah bersama Yesus, ketika Yesus menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh jahat. Mereka sudah mengerti dan kagum akan kuasa Yesus. Sekarang, mereka sendiri yang mengalami masalah besar yaitu topan dahsyat. Bagaimana sikap percaya mereka pada Yesus, waktu menghadapi topan dan secara fisik mereka melihat Yesus tertidur? Mereka tahu tentang Yesus yang peduli, kasih, berkuasa, namun pada saat topan datang menimpa diri sendiri, mereka lupa akan kasih, kepedulian dan kuasa Yesus. Mereka tahu bahwa Yesus berkuasa, tapi belum mengenal sendiri kuasa tersebut. Ayub juga tahu tentang kasih, kepedulian dan kuasa Allah, saat topan belum menimpa diri sendiri. Ketika topan menimpanya, Ayub masih mempertanyakan tentang kasih, kepedulian, dan kuasa Tuhan. Setelah melalui proses perenungan yang panjang, dalam menghadapi topan hidup, Ayub akhirnya mengenal sendiri kasih, kepedulian dan kuasa Allah. Ayub makin percaya Allah.
Ketika menghadapi topan kehidupan, orang bisa berpikir bahwa Yesus sedang tidur, tidak peduli pada masalah berat yang dihadapinya. Padahal Yesus sudah sering memperlihatkan sikap kasih, kepedulian Yesus bagi orang sakit, lemah, tidak berdaya, orang yang membutuhkan pertolongan Yesus, orang yang berduka, yang gagal, menderita, miskin, lapar dan haus. Tapi mengapa ketika menghadapi masalah besar, orang bisa lupa pada kasih, kepedulian dan kuasa Yesus. Menurut Yesus itu disebabkan karena takut dan kurang percaya.
Kita diajak makin percaya, makin mengenal dengan benar, kasih kepedulian dan kuasa Yesus pada saat topan hidup menimpa kita. Kuasa Yesus sangat besar, ajaib perbuatanNya, dinyatakan dengan kata “diam, tenanglah” kepada angin ribut lalu angin reda, dan danau menjadi teduh. Pergerakan angin menjadi penyebab utama dari topan, itulah yang didiamkan, ditenangkan oleh Yesus sehingga keadan menjadi teduh.
Dalam kedukaan, apa penyebab utama topan hidup kita? Apakah kita bisa mengajarkan Yesus bahwa penyebab utama kedukaan sesuai pikiran kita ? Yesus maha tahu, apa yang menjadi penyebab utama topan hidup. Apakah kita bisa mengatur Yesus cara untuk meredakan topan hidup kita ? Cara Tuhan Yesus meredakan topan hidup, hanya Yesus yang tahu, kita tidak bisa mengatur Yesus sesuai kehendak kita. Kita hanya memohon pada Yesus. Murid-murid memohon pada Yesus dengan cara membangunkan Yesus, itu sama dengan berbicara, berdoa kepada Yesus. Tapi dalam berbicara pada Yesus, pikiran mereka negatif, menuduh, bahwa Yesus tidak peduli, tidak mengasihi mereka saat menghadapi topan. Kita berdoa pada Tuhan, saat mengalami topan, tapi sering dengan pikiran dan kehendak kita sendiri. Pikiran kita bisa jadi negatif. Pada waktu tidak ada topan hidup, kita bisa berdoa, memuji Tuhan bahwa rencana Tuhan indah dan baik. Pada saat mengalami sendiri topan hidup, kita bisa berpikiran negatif pada Tuhan, dengan mempertanyakan Tuhan, apakah kematian adalah rencana Tuhan yang indah dan baik ?
Yesus bertanya pada murid-murid mengapa kamu takut? Mengapa kamu belum percaya? Yesus mau mengatakan pada murid-murid bahwa mereka baru pada tahap tahu tentang Yesus, belum mengenal sepenuhnya. Sekarang, pada saat menghadapi sendiri topan hidup maka murid-murid bukan sekedar tahu, tapi makin percaya penuh, makin mengenal kasih, kepedulian dan kuasa Yesus, makin tidak takut menghadapi penderitaaan, topan hidup.
Yesus sangat mengasihi, peduli dan besar kuasaNya, sangat ajaib perbuatanNya. Walau posisi Yesus tidur, itu bukan berarti kuasa Yesus juga tidur, Allah tidur ? Percaya yang benar adalah sesuai dengan Mazmur 121:2-5, yang menyatakan bahwa Allah itu penjaga Israel, sumber pertolongan bagi umat. Ia tidak membiarkan kaki umatNya goyah. Allah penjaga tidak akan terlelap. Tuhan akan menjaga umatNya dari segala kecelakaan. Ia akan menjaga nyawa umatNya.
Melalui kitab Markus kita diajak percaya pada seluruh kehidupan Yesus, kematian dan kebangkitanNya, percaya akan perlindungan Tuhan, penjagaan dari Tuhan pada umatNya, termasuk pada saat menghadapi ketegangan dan kekacauan dalam hidup. Allah itu setia melindungi, menjaga umatNya selama-lamanya. Percaya Tuhan bukan sekedar kagum pada kuasa Tuhan tapi menyerahkan hidup, hati jiwa pikiran dan perbuatan pada Tuhan. Percaya pada kuasa Yesus yang bisa menenangkan topan dalam hidup kita.
Ketika angin ribut menerpa hidup kita maka kita memohon pada Yesus dan Yesus akan menghardik ombak dalam hidup kita dan semua akan menjadi teduh seperti ungkapan dalam PKJ 254 ayat 1 Di saat murid Yesus di dalam bahtera, datanglah angin ribut dan ombak menderu. Dan Yesus dibangunkan, menghardik ombak laut; semua pun teduh. Dan Yesus dibangunkan, menghardik ombak laut; semua pun teduh. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami makin percaya akan kasih, kepedulian dan kuasa Yesus pada saat kami sendiri mengalami topan yang dahsyat. Kami makin percaya bahwa Yesus berkuasa untuk menghardik angin, penyebab topan, dan membuat topan hidup menjadi reda dan teduh. dalam nama Yesus kami berdoa. amin.
MENAATI PERINTAH TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: I Samuel 13:12-13,
Pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerangku di Gilgal, padahal aku belum memohon perkenanan Tuhan. Sebab itu, aku memaksa diri untuk mempersembahkan kurban bakaran.” Kata Samuel kepada Saul, “Sungguh bodoh tindakanmu itu! Engkau tidak menaati perintah TUHAN, Allahmu, yang dititahkan-Nya kepadamu. Tadinya TUHAN hendak mengokohkan kerajaanmu atas Israel untuk selamanya.
Saudara, saudari yang dikasihi Kristus; Pemilu telah usai dan khususnya telah ditetapkan pemenang untuk presiden dan wakil presiden oleh KPU. Penetapan itu telah melalui pengadilan dan M K tempat pengaduan itu memeriksa dan menetapkan menolak semua pengaduan itu karena tidak terbukti keberatan para pemohon. Satu hal yang menjadi pokok dalam proses ini ialah semua pihak harus taat aturan atau taat undang-undang. Sebelum taat aturan, maka perlu kita memahami aturan itu, baik masalah kecil atau besar. Berkaitan dengan undang-undang di negeri ini, semua undang-undang telah dibicarakan dalam lingkup pusat (DPR) atau lingkup daerah (DPRD).
Demikian juga hubungan kita dengan Tuhan. Kehadiran kita di hadapan Tuhan, juga ada aturan, dan di balik aturan itu kita harus memahami siapa Tuhan, apa rencana-Nya dan kita memahami posisi kita. Kehadiran kita di hadapan Tuhan tak lain untuk keselamatan kita, damai sejahtera . Makin kita mengenal Tuhan, makin tinggi ketaatan kita, bahkan ketaatan mutlak di hadapan Tuhan. Benarkah demikian? Kemuliaan, kasih dan kuasa Tuhan kita nyatakan dengan ketaatan berjalan di jalan yang ditetapkan oleh Tuhan, karena kita percaya Tuhan mampu, memelihara dan menyelamatkan kita. Demikianlah terlihat dalam bahan renungan ini, Saul yang telah diurapi atas nama Tuhan oleh Samuel. Karena itu Saul harus yakin dan percaya, Tuhan akan menjadi penolong dia sebagai raja Israel. Pada jaman Saul ini, satu ancaman yang datang dari bangsa Filistin, merongrong bahkan memaksa Israel takluk kepada bangsa Filistin. Sebagai kerajaan, bangsa Filistin lebih tua, lebih berpengalaman, lebih kuat, dan mereka ini hendak menaklukkan bangsa Israel. Saul, dia raja pertama, kerajaan Israel masih muda belum berpengalaman. Bangsa Filistin telah siap dengan pasukan kreta kuda, pasukan penunggang kuda, dan prajurit berjalan kaki seperti pasir di pantai. Melihat itu, bangsa Israel menjadi ciut, takut, banyak mereka yang telah undur, ngumpet bersembunyi. Namun sebenarnya Israel milik Tuhan, melalui Samuel, imam dan nabi Tuhan sebagai penasihat kerajaan menenteramkan hati Saul dan rakyat. Samuel mengatakan “kita akan mohon kuasa Tuhan,” dengan beribadah mempersembahkan korban di Gilgal. Samuel telah menuju Gilgal, sedangkan Saul beserta rakyat telah menantikan kedatangan Samuel. Secara psikologis, Saul dan rakyat, melihat pasukan Filistin menjadi takut, sehingga dia terlanjur memegang persembahan untuk dikorbankan yang seharusnya dilakukan oleh imam Samuel. Saul terlanjur, tidak sabar, tidak percaya lagi sehingga melakukan yang bukan wewenangnya. Selesai Saul dengan persembahan itu, Samuel tiba untuk mempersembahkan persembahan itu, tetapi telah tidak ada. Melihat itu dengan hati yang kesal, Samuel katakan: “Perbuatan itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah Tuhan.” Sia-sia dan mubazir apa yang dipersembahkan Saul, pada hal pasukan Filistin masih jauh. Allah marah dan membatalkan kerajaan Israel dari Saul dan keturunannya, dan diberikan kepada pilihan Allah yang lain.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Setelah memahami kebodohan Saul, pernahkah Anda “bodoh” melakukan atau mengucapkan yang melawan perintah Tuhan?
- Bagaiman sikap kita agar kita tidak terlanjur bodoh di hadapan Tuhan?
- Selain terlanjur, ada juga “sok tahu,” apakah Anda pernah melakukannya?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi, pemilik dan penguasa hidup kami, oleh Roh Kudus mengajar kami memahami kuasa dalam kasih Allah, yang menyelamatkan. Kami memiliki semangat, semoga tidak mubazir karena kami harus sabar dan taat pada perintah Tuhan. Inilah permohonan kami dalam nama Yesus, Amin.
[AS200524]
”KAN CUMA SEBENTAR…!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Mazmur 51:5-6 (TB 2)
“Sebab aku sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat. Maka Engkau benar dalam keputusan-Mu, bersih dalam penghakiman-Mu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Seperti pernah saya sampaikan dalam renungan-renungan terdahulu, bahwa di rumah kontrakan kami ada sebatang pohon mangga. Tempat teduh di bawah pohon mangga itu, menjadi tempat paling ideal untuk parkir mobil. Hanya saja, setiap kali kami memarkirkan mobil, kami pasti selalu menutupinya dengan cover mobil. Memang agak merepotkan, namun mau tidak mau mesti dilakukan. Tujuannya adalah untuk melindungi body mobil agar terhindar dari tetesan getah yang mungkin jatuh dari pohon mangga tersebut.
Suatu sore ketika pulang dari perlawatan, kami pun memarkirkan mobil seperti biasanya. Hanya saja, kali itu kami tidak menutup mobil dengan cover. Karena sebentar lagi, kami mesti berangkat untuk pelayanan ibadah lingkungan. Saat itu kami berpikir sangat sederhana, “cuma sebentar saja, masa ada getah mangga yang menetes. Pasti aman, lah! Semalaman saja tidak ada getah yang menetes, kok.” Kami pun segera masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap. Dan benar saja, ketika kami hendak berangkat, kami melihat bahwa di bagian kaca depan, kap mesih dan beberapa bagian body mobil ada tetesan getah mangga. Tetapi, karena tidak ada waktu lagi untuk membersihkan, kami pun segera berangkat pelayanan. Dalam perjalanan, hati kami berkata, “tahu gitu kan ditutup seperti biasa, toh tidak perlu waktu lama juga untuk menutupnya, dan sebagainya….” Dan malam itu, kami bersyukur bahwa pelayanan ibadah lingkungan tidak terganggu karena persoalan getah mangga tersebut. Barulah di keesokan harinya, kami mesti meluangkan waktu untuk membersihkan tetesan getah mangga tadi dengan cairan “tar remover”. Ternyata butuh waktu lebih lama untuk membersihkan tetesan getah tadi dibandingkan dengan waktu untuk menutup mobil dengan cover.
Pengalaman terkait getah pohon mangga ini mengingatkan kami tentang kewaspadaan. Setiap saat kita mesti selalu sadar dan waspada agar tidak jatuh ke dalam kesalahan dan dosa. Sebab penyesalan selalu ada di belakang! Di dalam mazmur 51, kita membaca bahwa setelah ditegur oleh Nabi Natan, Raja Daud sangat menyesali kesalahannya. Mungkin saat melakukan, Daud hanya berpikir bahwa tindakannya itu hanyalah tindakan biasa seperti yang dilakukan juga oleh raja-raja yang lain. Akan tetapi, bagi Tuhan, apa yang dilakukan oleh Daud adalah dosa. Dalam penyesalan atas dosanya itulah, Daud memohon kepada Tuhan, “Sebab aku sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat. Maka Engkau benar dalam keputusan-Mu, bersih dalam penghakiman-Mu”. Kesadaran akan kesalahan yang telah dilakukan itu, menjadi titik balik bagi Daud untuk berupaya agar tidak jatuh lagi ke dalam dosa. Daud berjuang untuk mengevaluasi dan berefleksi atas tindakan-tindakan yang sudah dilakukannya.
Kesediaan dan keberanian untuk mengevaluasi dan berefleksi atas tindakan yang dilakukan, akan menolong kita supaya selalu dapat menjaga serta memiliki kewaspadaan terhadap pikiran, kata dan tindakan. Dengan demikian, maka kita dapat terhindar dan tidak terjatuh ke dalam kesalahan atau dosa. Meski kelihatannya sepele dan kecil, ingatlah bahwa kesalahan yang kecil tetap merupakan kesalahan. Demikian juga tentunya dengan dosa, meski pun kecil, dosa tetap merupakan dosa. Dan dampaknya pun sangat besar bagi diri kita maupun bagi lingkup sekitar kita. Pengalaman tidak menutup mobil dengan cover, menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kami. Untuk itu, kami terus belajar untuk tidak menyepelekan sesuatu dengan berkata, “kan, cuma kecil; kan, cuma sebentar…..” dan berbagai kalimat lain sebagai alasan untuk tidak bijak dalam berpikir, berkata dan betindak. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami sadar bahwa kuasa gelap senantiasa menggoda hati kami agar jatuh kembali ke dalam dosa. Oleh karena itu, kami rindu untuk terus waspada dan berjaga-jaga. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Terima kasih Tuhan Yesus, Amin.
HAPPY TUMMY, HAPPY LIFE
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Amos 8:11 (TB2)
”Sesungguhnya waktunya akan datang, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku mengirim kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan untuk mendengarkan firman Tuhan”
Happy tummy, happy life
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Happy tummy, happy life adalah istilah yang mungkin tidak asing kita dengarkan, sebab menjadi motto salah satu iklan di televisi. Tanpa disadari ternyata ungkapan happy tummy, happy life mengajak kita untuk melihat bahwa keadaan pencernaan seseorang mempengaruhi psikisnya. Contoh yang paling sering, ada seseorang yang ketika menghadapi masalah dalam hidupnya, nafsu makannya menurun. Melihat makan saja mungkin ia terasa mual.
Sebaliknya ketika kehidupan terasa membahagiakan, nafsu makannya akan naik. Padahal makanan memiliki peranan yang cukup penting dalam kehidupan, bukan hanya dalam sisi psikis saja. Tidak ada seorang pun dapat bertahan hidup jika tidak mengkonsumsi makan secara teratur setiap hari.
Demikian juga ketika berbicara tentang kehidupan rohani kita, kita membutuhkan makanan rohani yang dikonsumsi secara teratur agar kehidupan rohani kita sehat.
Nabi Amos adalah nabi yang dikirimkan Tuhan Allah untuk menegur bangsa Israel dari segala perilaku mereka yang menyimpang dari kehendak-Nya. Ketika bangsa Israel ditegur oleh Nabi Amos, mereka semakin murka terhadap Amos karena sikap hidup dan perilaku mereka yang salah, dinyatakan kepada mereka melalui firman Tuhan. Apakah Allah tinggal diam? Tidak! Allah terus mengingatkan umat-Nya kala itu.
Bacaan hari ini menggambarkan bagaimana Allah akan menghukum bangsa Israel dengan cara: (1) mereka akan haus dan lapar akan firman Allah, dan (2) mereka akan mencari Tuhan tetapi tidak akan mendapati-Nya. Mereka telah menyia-nyiakan kesempatan yang mereka miliki. Teguran-teguran Tuhan Allah yang disampaikan melalui Nabi Amos tidak mereka indahkan, mereka tetap berpaut pada dewa-dewa yang sia-sia. Ketika pada akhirnya mereka sadar mereka membutuhkan Tuhan, mereka baru mencari Tuhan.
Bila kita renungan dalam kehidupan sehari-hari, seberapa sering kita tidak mengindahkan perintah-perintah Tuhan? Ketika segala sesuatu lancar, bisa jadi kita terlena seperti bangsa Israel yang menyia-nyiakan firman Tuhan. Memperhatikan firman Tuhan rasanya jadi tugas yang berat, apalagi melakukannya.
Mari saat ini, jangan pernah menunggu masa sukar tiba dan sesal kita terlambat, tetapi mari kita memohon belas kasihan Tuhan dan lebih memperhatikan firman-Nya saat ini. Selamat berefleksi, Tuhan memberkati kita.
O, ROH KUDUS, PEGANGLAH TANGANKU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bapak/ibu dan saudara sekalian yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik. Dalam hari-hari menjelang perayaan Pentakosta, umat Tuhan berdoa memohon Roh Kudus terus berkarya melalui umatNya.
Hari ini kita akan merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “O, Roh Kudus, Peganglah Tanganku” dengan dasar dari Injil Yohanes 16:13 (TB 2), Tuhan Yesus bersabda: “Namun, apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. Sebab, Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, dalam ayat ini Tuhan Yesus berjanji bahwa Roh Kudus yaitu Roh Kebenaran, akan datang sebagai Pembimbing, membawa setiap orang percaya kedalam segala kebenaran. Ini menegaskan peran Roh Kudus dalam memberikan pengertian spiritual kepada setiap orang percaya.
Sebagai umat Kristen kita hidup dalam zaman dimana Roh Kudus tetap hadir dan aktif berkarya di dalam hidup kita. Namun, terkadang kita mungkin merasa bingung atau kehilangan arah. Di saat-saat seperti itu, kita perlu mengingat janji Tuhan Yesus bahwa Roh Kudus akan membimbing kita.
Kita merenungkan, betapa pentingnya memiliki Pembimbing sejati, yaitu Roh Kudus, Roh Kebenaran yang dianugerahkan Bapa kepada kita sebagai Penolong dalam menjalani hidup ini. Roh Kudus adalah Roh Allah yang menjadi sumber kekuatan dan hikmat kita. Roh Kudus bukan hanya memberikan hikmat dan nasihat kepada kita, tetapi juga menginsyafkan kita dari dosa dan membawa kita dalam segala kebenaran.
Di tengah dunia yang penuh dengan kebohongan atau hoaks, dan kesesatan, Roh Kudus adalah Sumber kebenaran yang pasti. Dia membawa kita kepada pemahaman yang benar tentang Firman Allah, tentang Allah Tritunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus, serta rencana-Nya yang indah bagi hidup kita.
Kita dipanggil untuk senantiasa hidup dalam bimbingan Roh Kudus, maka kita dimampukan hidup dalam kebenaran untuk menjadi saksi-saksi Injil keselamatan.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh seorang aktifis jemaat GKI Kwitang Lingk. I, sebuah pujian yang berjudul: “Peganglah tanganku Roh Kudus.” Lagu ini menyatakan suatu permohonan: “Peganglah tanganku Roh Kudus, setiap hari, ‘ku tak dapat jalan sendiri, tanpa Roh-Mu. Bawalah diriku kepada segala kebenaran, agar ‘ku tidak tersesat, mengikuti jalan-Mu. Kudus, kudus, kudus lah Tuhan.”
Kita semua diajak untuk menguduskan Nama Tuhan melalui seluruh ke beradaan hidup kita. Kita semua diajak untuk memuliakan nama Tuhan dalam simfoni indah, sehingga banyak orang yang kagum, hormat dan mengenal Allah Tritungal: Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Saudara-saudara, Firman Tuhan hari ini mengajak kita semua untuk menyerahkan diri dalam bimbingan Roh Kudus. Biarlah setiap pribadi kita memohon: “O, Roh Kudus, peganglah tanganku setiap hari.” Yakinlah, Roh Kudus senantiasa menyertai Saudara dan membimbing Saudara untuk mampu menjadi saksi-saksi Kristus. Amin Saudara?
Buatlah komitmen di hadapan Tuhan untuk menyerahkan diri dalam pimpinan Roh Kudus dan semakin giat melayani, menjadi saksi Injil Kristus. Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji Engkau karena Tuhan Yesus yang telah naik ke Surga tetap menyertai kami dengan Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran yang terus membimbing kami hidup dalam kebenaran, sehingga kami dimampukan menjadi saksi-saksi Kristus. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 160524)
KEMBALI KEPADA ALLAH
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Ezra 9:5-15
9:5 Pada waktu korban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diriku, lalu aku berlutut dengan pakaianku dan jubahku yang koyak-koyak sambil menadahkan tanganku kepada TUHAN, Allahku, 9:6 dan kataku: “Ya Allahku, aku malu dan mendapat cela, sehingga tidak berani menengadahkan mukaku kepada-Mu, ya Allahku, karena dosa kami telah menumpuk mengatasi kepala kami dan kesalahan kami telah membubung ke langit. 9:7 Dari zaman nenek moyang kami sampai hari ini kesalahan kami besar, dan oleh karena dosa kami maka kami sekalian dengan raja-raja dan imam-imam kami diserahkan ke dalam tangan raja-raja negeri, ke dalam kuasa pedang, ke dalam penawanan dan penjarahan, dan penghinaan di depan umum, seperti yang terjadi sekarang ini. 9:8 Dan sekarang, baru saja kami alami kasih karunia dari pada TUHAN, Allah kami yang meninggalkan pada kami orang-orang yang terluput, dan memberi kami tempat k menetap di tempat-Nya yang kudus, sehingga Allah kami membuat mata kami bercahaya dan memberi kami sedikit kelegaan di dalam perbudakan kami. 9:9 Karena sungguhpun kami menjadi budak, tetapi di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat kelegaan untuk membangun rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, o dan diberi tembok pelindung di Yehuda dan di Yerusalem. 9:10 Tetapi sekarang, ya Allah kami, apa yang akan kami katakan sesudah semuanya itu? Karena kami telah meninggalkan perintah-Mu, 9:11 yang Kauperintahkan dengan perantaraan hamba-hamba-Mu, para nabi itu, dengan berfirman: Negeri yang kamu masuki untuk diduduki adalah negeri yang cemar oleh karena kecemaran penduduk negeri, yakni oleh karena kekejian yang mereka lakukan dengan segala kenajisan mereka di segenap negeri itu dari ujung ke ujung. 9:12 Jadi sekarang janganlah kamu memberikan anak-anak perempuanmu kepada anak lelaki mereka, ataupun mengambil anak-anak perempuan mereka untuk anak-anak lelakimu. Janganlah kamu mengikhtiarkan kesejahteraan dan kebahagiaan mereka untuk selama-lamanya, supaya kamu menjadi kuat, mengecap hasil tanah yang baik, dan mewariskan tanah itu kepada anak-anakmu untuk selama-lamanya. 9:13 Sesudah semua yang kami alami oleh sebab perbuatan kami yang jahat, dan oleh sebab kesalahan kami yang besar, sedangkan Engkau, ya Allah kami, tidak menghukum setimpal dengan dosa kami, dan masih mengaruniakan kepada kami orang-orang yang terluput sebanyak ini, 9:14 masakan kami kembali melanggar perintah-Mu dan kawin-mengawin dengan bangsa-bangsa yang keji ini? Tidakkah Engkau akan murka kepada kami sampai kami habis binasa, sehingga tidak ada yang tinggal hidup atau terluput? 9:15 Ya TUHAN, Allah Israel, Engkau maha benar, sebab kami masih dibiarkan tinggal sebagai orang-orang yang terluput, seperti yang terjadi sekarang ini. Lihatlah, kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami. Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-Mu.
Malo, anjing kecil kami, tiba-tiba berlari sangat kencang, ketika saya membuka pintu n pagar. Dia baru datang dan masih kecil saat itu. Terapi tubuh kecilnya tak menghalanginya untuk dapat berlari sangat kencang. Itulah sebabnya. Walau sudah berusaha secepat mungkin mengejarnya, saya tak sanggup menangkapnya, hari itu. Lalu dengan berat hati, saya meninggalkannya di luar, mengunci pagar dan pergi. Malam hari saya baru kembali. Dan melihat Malo sdh menunggu di depan pagar. Entah sudah berapa lama ia menunggu di sana. Badanya kotor, sepertinya kelelahan karena panasnya matahari siang siang hari nya. Dia juga sepertinya kelaparan dan kehausan. Matanya yang semula sedih ketika ada di depan pintu pagar lalu tiba-tiba berbinar-binar melihat saya keluar dari mobil untuk membuka pagar. Sepertinya Dia sudah yakin sekarang bahwa ketenangan dan kebahagiaan nya adalah ada di rumah, bersama saya dan keluarga.
Bayangkanlah kita seperti Malo kecil. Kita dapat mengira bahwa kita akan menjadi lebih senang dan bahagia jika kita pergi dari Tuhan, meninggalkan dan meninggalkan dan mau melupakanNya. Demikianlah yang terjadi dengan umat Israel. Mereka dulu sebelum masa pembuangan sudah sering melawan dan mentang Tuhan, tak mau tinggal dekat dengan hadiratNya. Mereka melakukan dosa dengan menduakan Tuhan Allah dan juga hidup tak peduli pada sesamanya. Hanya kepentingan sendiri dan kesenangan sendiri yang dikejar. Dan tulisan dalam kitab Ezra di atas adalah tulisan bahgaimana mereka bersyukur karena mereka telah dikembalikan Tuhan ke Israel. Walau mereka sudah demikian buruk dan cela, namun kasih dan pertolongan Tuhan telah mereka alami. Jauh dari Tuhan di tanah.pembuangan adalah pengalaman pahit yang membuat mereka kapok. Kini mereka menyadari bahwa hanya kasih karunia Tuhan saja yang menghalau ketakutan, kekuatiran, kemarahan, kekecewaan dalam kegidupan mereka. Tadinya umat Israel mengira bahwa akan lebih baik memandang dan ikut dunia. Namun ternyata kembali kepada Tuhan adalah yang terbaik, itulah kini yang umat Israel imani. Tuhan Allah adalah pembela, sumber kekuatan, tempat berteduh dan dan pusat pemulihan bagi umat yang mengalami segala tantangan dunia ini. Oleh karena itu, setiap orang yang menghargai dan mengalami cinta kasih Allah, akan kembali lagi kepadaNya, dengan iman, sukacita, dan pengharapan penuh bhwa kepada Tuhan, tempat bersandar dan berlindung bahkan diyakini bahwa Tuhan sesungguhnya adalah sumber kehidupannya. (LiN-RH, Rabu15 Mei 2024)
YESUS PERGI UNTUK MENYEDIAKAN TEMPAT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yohanes 14: 1-3
Salam sejahtera semoga kita makin memahami bahwa Yesus pergi ke sorga untuk menyediakan tempat di rumah Bapa bagi orang yang mau menjadi muridNya, seperti ungkapan dalam Yohanes 14:2 (TB2) Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu.
Di dalam sebuah bus, rombongan paduan suara, pulang dari sebuah pelayanan, para peserta bernyanyi bergantian. Seorang ibu A ingin menyanyikan lagu favoritnya yaitu NKB 49, dan ia menjelaskan bahwa lagu ini diharapkan agar dinyanyikan dalam ibadah kedukaan saat dia dipanggil Tuhan. Ibu B mengatakan bahwa lagu NKB 49 sebaiknya dinyanyikan bersama-sama agar ibu A mendengarnya. Ibu C mengatakan bahwa ia takut dan gelisah kalau lagu kedukaan dinyanyikan saat di dalam bus. Ketakutan dan kegelisahan ibu C tidak dijelaskannya. Apakah kita perlu takut dan gelisah karena bernyanyi tentang lagu kedukaan ?
Syair lagu NKB 49 menjelaskan tentang seseorang yang tidak tahu akan hari esok, namun langkah hidupnya tegap. Ia tidak berharap pada matahari karena matahari akan lenyap, tidak kekal. Ia tidak gelisah akan masa menjelang, sebab ia berjalan beserta Yesus, dan hatinya tenang. Banyak hal yang ia tidak pahami tentang masa menjelang. Tapi terang baginya bahwa dalam perjalanan hidupnya, tangan Tuhan selalu memegangnya. Makin terang perjalanan hidupnya, makin ringan beban hidupnya, makin nampak yang baik. Dalam rumah Bapa ada terang yang abadi, tidak ada tangisan dan keluhan. Ia tidak tahu akan hari esok tapi Tuhan yang mengasihinya akan tetap melindunginya. Meskipun perjalanan hidup penuh kesusahan, tapi Tuhan memimpinnya bertahan sampai akhir langkah hidupnya. Syair lagu NKB 49 ini mengajak kita untuk tidak takut dan gelisah menghadapi hari esok, dan kita bertahan sampai akhir langkah hidup kita, dan sampai di rumah Bapa.
Dalam Yohanes 14 dijelaskan bahwa Yesus pergi ke sorga adalah untuk menyediakan tempat di rumah Bapa bagi orang percaya. Yesus pergi ke sorga, kita rayakan pada hari kenaikan Tuhan Yesus. Pemerintah Indonesia menetapkan waktu khusus bagi orang Kristen untuk merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, hari kenaikan Tuhan Yesus bagi orang Kristen adalah hari untuk beribadah, bersukacita karena Yesus menyediakan tempat di sorga. Yesus pergi ke sorga, kemudian Ia mengutus Roh Penghibur yaitu Roh Kudus membimbing manusia mengikuti jalan keselamatan yang disediakan Allah dalam Yesus.
Yesus mengetahui isi hati manusia. Yesus tahu kesedihan, ketakutan dan kegelisahan yang dialami murid-murid, ketika Ia menjelaskan tentang akan berakhirnya hidupNya di dunia ini, melalui penderitaan, disalib, mati, bangkit dan naik ke sorga. Kematian, kebangkitan, kenaikan ke sorga adalah satu kesatuan yang menjelaskan tentang Yesus dimuliakan Allah. Ia menjelaskan bahwa kepergianNya ke sorga untuk mempersiapkan tempat bagi murid-muridNya. Yesus akan datang kembali membawa murid-murid ke rumah Bapa.
Tuhan Yesus mengenal semua kesedihan kita yang tersembunyi, luka-luka batin dalam hidup kita. Tuhan tahu penderitaan dan beban hidup serta kesedihan yang kita alami dan rasakan. Ia memperhatikan semua kesusahan yang dialami umatNya. Ia mengenal jiwa kita yang berada dalam kesesakan.
Murid-murid yang sangat mengasihi Yesus, yang telah meninggalkan segala-galanya untuk mengikuti Yesus, sangat bersedih kalau Yesus meninggalkan mereka. Mereka bersedih kalau ditinggalkan Yesus berarti tidak ada pelindung mereka. Kalau ada masalah besar, dan Yesus tidak bersama mereka, maka mereka menjadi takut, gelisah. Karena itulah Yesus mengatakan jangan gelisah hati murid-murid, jangan cepat menjadi kacau hati, tidak tenang hati mereka. Tuhan Yesus tidak melarang orang untuk memikirkan kedukaan atau kesedihan, tapi Yesus menjelaskan agar tidak terganggu hati, tidak gusar, tidak tertekan hati. Hati atau jiwa tetap dipertahankan agar tenang, tidak terganggu. Sebab orang yang menjadi murid Yesus adalah orang yang sudah ditebus, dipilih dan dikuduskan sehingga mengetahui apa yang baik untuk dilakukan dalam menghadapi kesedihan, kedukaan, pergumulan. Orang beriman menenangkan hati jiwa pikiran ketika segala sesuatu kacau balau.
Cara hidup untuk menghadapi kegelisahan hati adalah percaya kepada Allah dan Yesus. Percaya kepada pemeliharaan Allah Bapa. Allah yang Maha Tahu, penuh hikmat, sangat berkuasa dan berdaulat atas semua yang terjadi dalam hidup kita. Percaya kepada Allah dan Yesus berarti percaya pada janji dan berkatNya. Tanpa Allah dan Yesus, maka hilang pengharapan dalam menghadapi masalah hidup kita. Percaya kepada Allah maka kita akan dihiburkan. Percaya kepada Allah melalui Yesus merupakan cara menjauhkan kegelisahan hati kita. Orang percaya akan melihat kebaikan Allah dibalik masalah hidup, kesedihan, kedukaan, pergumulan hidup kita.
Percaya berarti mempercayakan diri pada Allah melalui Yesus demi kebahagiaan di masa depan. Kebahagiaan abadi di sorga adalah pengharapan yang membangkit semangat hidup, untuk menghadapi kegelisahan hati. Percaya berarti memikirkan benar-benar kebahagiaan abadi tersebut. Bahwa Allah melalui Yesus menyediakan tempat yang kekal di rumah Bapa. Tempat kebahagiaan bukan buatan manusia, bukan hasil karya manusia. Tuhan Yesus naik ke sorga, untuk menyediakan tempat kebahagiaan bagi murid-muridNya. Tempat kebahagiaan bukan untuk sementara tapi selama-lamanya. Tempat kebahagiaan itu banyak disediakan Yesus, masing-masing pribadi ada tempat kebahagiaan di sorga. Yesus tahu jumlah murid-muridNya yang akan mendapat tempat kebahagiaan di sorga. Karena itu murid-murid Yesus tidak perlu kuatir, gelisah atau takut. Tempat murid-murid di sorga adalah janji yang pasti diberikan Yesus. Yesus tidak berbohong, selalu tepat janji menyediakan tempat kebahagiaan di sorga.
Kita diajak untuk tidak takut dan gelisah serta percaya dan berpikir bahwa tujuan Yesus pergi adalah menyediakan tempat kebahagiaan di sorga bagi murid-muridNya. Kita tidak menolak ketulusan kasih Yesus yang setia, agar kita masuk terang yang mulia di rumah Bapa. Kita percaya Yesus, maka kita diterimaNya seperti ungkapan dalam NKB. 172 ayat 1 “Dalam rumah Bapaku banyak tempatnya”, terdengar suara Yesus yang merdu; Dia pergi ke Neg’ri t’rang sorga yang baka, menyediakan tempatmu dan tempatku. Reff Jangan tolak kasih Tuhanmu setia, agar ‘kau pun boleh masuk t’rang mulia. “Dalam rumah BapaKu banyak tempatnya”. Percayalah tentu ‘kau dit’rimaNya. Amin.
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami untuk memahami bahwa Yesus pergi ke sorga untuk menyediakan tempat di rumah Bapa bagi orang yang mau menjadi murid Yesus. Biarlah kami menerima kasih yang tulus dari Yesus dan percaya pada Allah dan Yesus. Dalam nama Yesus kami berdoa amin.
PELAYANAN TRANSAKSIONAL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Mikha 3:5,
Beginilah firman Tuhan terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku, yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang.
Syalom saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dalam dunia usaha, para pengusaha tentu saja menjalankan usaha untuk mendapatkan keuntungan sebaik-baiknya, itulah usaha provit, tetapi ada juga usaha yang melakukan usahanya dengan tidak mengharapkan keuntungan, itulah usaha non-provit.
Ayat renungan kita suatu kritik terhadap pelayanan masyarakat yang harus diberikan oleh para nabi, suruhan Tuhan untuk menguatkan, menghibur atau menegor umat Tuhan, agar kehidupan umat sesuai dengan firman Tuhan. Sebagai suruhan Tuhan, tentu Tuhan telah terlebih dulu membekali suruhan-Nya, baik jasmani maupun rohani, sehingga pelayanan mereka menjadi usaha non-provit. Tetapi nabi Mikha menegor sesama nabi yang melayani umat atas nama dan kuasa Tuhan yang secara terang-terangan mendasarkan pelayanannya atas bayaran dari orang yang dia layani. Kalau kedatangan umat disertai dengan uang, maka si nabi memberi nasihat dalam suasana damai, tetapi bila tidak ada pemberitan apa-apa maka nasihat sang nabi dalam suasana perang. Inilah yang disebut Pelayanan Transaksional. Dalam pengajaran Tuhan Yesus, dengan jelas menggambarkan dengan gembala yang baik dan gembala upahan. Pada gembala yang baik, ada suatu relasi yang baik yaitu, gembala mengenal domba-dombanya secara luas dan mendalam, sehingga gembala yang baik ini rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan dombanya. Sebaliknya domba-dombanya mengenal getaran atau nada suara gembalanya, maka terjadilah suatu relasi yang akrab dan saling mengasihi. Sedangkan gembala upahan, orientasi pelayanannya hanyalah upah, atau kepentingan diri sendiri, pelayanannya mengharapkan pamrih, baik material atau imaterial (pencitraan, popularitas). Nabi Mikha, mengkritik pelayanan nabi di tengah umat Israel yang disebutnya sebagai penyesatan (nabi palsu), pelayannya yang transaksional yang terus mengharap upah harta saja.
Dalam bahan renungan kita, pelayanan transaksional ini juga terjadi dalam bidang hukum yang menegakkan keadilan dalam kehidupan umat (ay 11). Sejak kepemimpinan Musa sampai pada raja-raja Israel, keadilan menjadi dasar kehidupan umat, tetapi jaman nabi Mikha ini ternyata keadilan tidak ditegakkan, karena keadilan didasarkan secara transaksional, dan tidak adil.
Kehidupan pelayanan gereja yang Pendeta bertindak sebagai pelayan dan pemimpin umat gerejanya. Kita sangat mengharapkan Pendeta sebagai gembala yang memiliki relasi yang akrab dan kasih sebagai orientasi pelayanannya, orientasi pengabdian, demikian juga umat mendengar suara pendetanya, karena bernada kasih sesuai firman Tuhan. Pendeta yang transaksional, orientasi pelayanannya adalah uang. Semoga Pendeta jauh dari pelayanan transaksional yang memikirkan kepentingan diri, semoga pelayanannya jauh dari mengharapkan pamrih baik material maupun imaterial untuk pribadinya, karena teladannya ialah Yesus Gembala yang baik.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Apakah Pendeta jemaat Anda telah mencerminkan gembala yang baik?
- Pada umumnya Pendeta jemaat menerima “gaji,” sudah mencukupikah gaji Pendeta jemaat Anda?
- Menurut Anda apakah relasi Pendeta Anda dengan umatnya cukup akrab?
Mari berdoa:
Allah Bapa dalam Tuhan Yesus gembala yang baik, Dialah teladan pelayanan kami untuk saling melayani. Dialah dasar dan teladan gembala jemaat Tuhan yaitu dalam diri pendeta jemaat. Jauhlah kiranya gembala jemaat gereja Tuhan dari sifat transaksional, dan berikan sikap pelayanan pengabdian yang berani berkorban. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin. [AS130524]
”TUHAN, SATU LAGI …!”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Yesaya 58:10-11 (TB 2)
“… Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri dan memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memenuhi kebutuhanmu di tanah gersang, serta membarui kekuatanmu. Engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kisah kepahlawanan Desmond Doss – seorang tentara Amerika di perang dunia II – merupakan kisah yang sangat unik dan mengispirasi. Karena jasanya, maka ia dianugerahi “Medal of Honor” (Medali Kehormatan) oleh Presiden AS Harry S Truman usai Perang Dunia II. Apa keunikannya? Ya, sebagai penganut Kristen yang taat ia menjadi prajurit yang tidak mau memegang senjata. Karenanya ia ditempatkan di bagian medic. Dan apa kisah inspiratifnya? Inilah kisahnya. Selama pertempuan Okinawa, rombongannya pasukan Desmond Doss ditugaskan untuk membantu Divisi Infanteri ke-96, yang bertugas memanjat dan mengamankan Tebing Maeda (“Hacksaw Ridge”) setinggi 122 meter. Dalam pertempuran tersebut, banyak prajurit Amerika yang meninggal dan terluka. Alih-alih menyelamatkan diri, meski seorang diri, Desmond memilih untuk kembali ke tempat para prajurit yang terluka dan menyelamatkan mereka satu-persatu dengan menurunkannya dari tebing menggunakan tali. Setelah berhasil menolong seorang prajurit, ia memohon pada Tuhan, “Tuhan, ijinkan aku menolong satu lagi…” Dan tidak terasa ada 75 orang prajurit yang berhasil diselamatkannya. Tindakan Desmond Doss ini menginspirasi seluruh pasukan untuk melakukan serangan balasan hingga akhirnya memenangkan perang. Kisah nyata Desmond Doss ini telah difilmkan dalam sebuah film berjudul “Hacksaw Ridge”, yang dirilis tahun 2016.
Sungguh menarik mencermati kisah Desmond Doss ini. Di tengah-tengah kecenderungan banyak orang untuk mencari selamat bagi diri sendiri, ia justru kembali untuk menolong dan menyelamatkan rekannya sesama prajurit. Kisah ini mengingatkan pada salah satu episode pengalaman iman Israel di akhir masa pembuangan. Kala itu Tuhan bersabda, “… Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri dan memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memenuhi kebutuhanmu di tanah gersang, serta membarui kekuatanmu. Engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan”. Di akhir pembuangan, umat memohon pengampunan dari Tuhan melalui tindakan berpuasa. Dan saat itulah, Allah menghendaki agar puasa diwujudkan dengan meninggalkan kelaliman dan menjadi orang-orang yang rendah hati. Allah menghendaki umat agar melaukan ibadah yang membawa perubahan bagi diri dan berdampak nyata dalam kehidupan umat, karena dengan bertindak demikian umat akan menjadi terang dan berkat. Ibadah yang dikehendaki oleh Tuhan adalah ibadah yang berorientasi kepada kepentingan Allah dan pengenalan yang benar akan kehendak-Nya, bukan kepada kepentingan diri sendiri.
Ketika menangalkan kepentingan diri sendiri dan memberikan pertolongan dengan tulus kepada orang lain yang membutuhkan, maka pada saat yang sama terang Tuhan akan terbit atas diri kita. Desmond Doss telah berhasil membuktikan tindakan nyata dari ibadah yang sejati. Kiranya kita juga terinspirasi untuk melakukan tindakan yang sama, yaitu menolong orang-orang yang membutuhkan bantuan dengan tulus dan rendah hati. Bila kita sudah melakukan, maka memohonlah, “Tuhan, mampukan aku untuk menolong satu lagi!” Sepertinya sederhana, “Tuhan, satu lagi…!” Tetapi percayalah bahwa permohoan itu akan mendorong kita untuk terus menolong orang-orang yang lain lagi. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Tuhan mampukan kami untuk dapat menanggalkan ego agar dapat menolong orang lain. Kami rindu untuk menjadikan doiri kami sebagai persembahan yang hidup bagi kemuliaan-Mu. Kiranya roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujdukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
