renungan
ENGKAU TELAH MENILIK SENGSARAKU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 31: 1-16
Salam sejahtera,
Kiranya kita semakin percaya kepada Allah, terutama ketika mendengar gunjingan banyak orang, ketika ada yang bermufakat mencelakakan kita, bahkan saat nyawa kita terancam. Dalam situasi seperti itu, kita tetap percaya bahwa Allah telah menilik sengsara kita (Mazmur 31:8).
Pada Minggu VI Prapaskah, umat Kristen memperingati masuknya Yesus ke Yerusalem yang disambut dengan sorak sorai sebagai Raja. Yesus datang bukan dengan kekuatan duniawi atau kemegahan, melainkan dengan kerendahan hati, untuk membawa damai dan keselamatan. Ia bukan Raja yang menaklukkan melalui kekuatan militer, tetapi yang menebus melalui penderitaan dan pengorbanan. Sambutan “Hosana!” yang diteriakkan orang banyak—yang berarti “Selamatkanlah kami!”—sebenarnya adalah pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, meskipun mereka belum sepenuhnya memahami misi sejati-Nya: jalan salib.
Namun, rakyat Yerusalem yang semula menyambut Yesus, kemudian berubah menolak dan menyalibkan-Nya. Mengapa demikian? Karena harapan mereka tidak terpenuhi. Mereka mengharapkan Mesias yang akan membebaskan dari penjajahan Romawi secara politik. Ketika harapan itu tidak dipenuhi, mereka kecewa dan menolak-Nya. Para pemuka agama pun memprovokasi massa dan memanipulasi opini publik, sehingga orang banyak mudah terombang-ambing.
Yesus juga menantang kenyamanan mereka. Ia tidak mengambil alih kekuasaan politik, tetapi justru menegur sistem agama dan ekonomi yang korup, misalnya dengan mengusir pedagang dari Bait Allah. Hal ini membuat banyak orang merasa terganggu dan tidak nyaman. Sambutan mereka bersifat dangkal dan emosional, tidak berakar pada pengenalan yang sejati akan pribadi Yesus. Ketika keadaan berubah, iman yang tidak dalam pun goyah. Penolakan terhadap Yesus adalah cerminan hati manusia yang lebih memilih kenyamanan dan keinginan pribadi daripada kebenaran Allah.
Perubahan sikap penduduk Yerusalem menunjukkan iman yang tidak mendalam dan pengharapan yang keliru. Mereka tidak mengenal Yesus secara pribadi; mereka hanya menginginkan sosok Mesias yang sesuai keinginan mereka. Pertanyaannya bagi kita: Apakah kita juga menyambut Yesus hanya saat keadaan baik, lalu meninggalkan-Nya saat hidup tak sesuai harapan?
Dari Mazmur 31, kita belajar tentang iman yang mendalam—yakni beriman dengan bersandar penuh kepada Allah, sekalipun banyak suara dan pengaruh di sekitar kita menggoyahkan kepercayaan itu. Sama seperti penduduk Yerusalem yang mudah terpengaruh oleh para pemuka agama untuk meninggalkan Yesus.
Umat Israel juga pernah mengalami rasa malu karena mereka memberontak terhadap Asyur dan berharap bantuan dari Mesir, yang ternyata tidak mereka terima. Tuhan sudah memperingatkan melalui nabi-Nya agar mereka tidak bersandar pada Mesir, namun mereka tidak mendengarkannya. Mereka pun kecewa ketika berhala-berhala yang mereka sembah tidak mampu menolong saat bencana datang.
Melalui Mazmur 31, kita diingatkan bahwa hanya Allah yang dapat diandalkan. Ia membenarkan orang yang hidupnya terarah kepada-Nya. Tuhan menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang mempercayakan hidupnya kepada-Nya. Orang yang percaya akan berdoa, “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” (Mazmur 31:6). Ia tidak menyerah pada nasib, melainkan percaya pada Tuhan yang setia dan sanggup melepaskan dari maut.
Tuhan membenci penyembahan kepada berhala-berhala dunia yang sia-sia. Tetapi, orang yang sepenuhnya percaya kepada Tuhan akan bersorak-sorai dan bersukacita karena kasih setia-Nya. Kasih setia Tuhan adalah jaminan hidup bagi orang percaya. Kasih setia-Nya pula yang membuat Dia menilik kesengsaraan umat-Nya dan mengetahui kesesakan mereka.
Apa Arti “Tuhan Menilik Kesengsaraan”? Kata “menilik” berarti melihat dengan seksama, penuh perhatian. Tuhan tidak hanya “tahu”, tetapi memperhatikan secara aktif penderitaan umat-Nya. Ia tidak acuh atau membiarkan penderitaan itu terjadi begitu saja. Bahkan, penderitaan yang tak terlihat oleh orang lain pun diketahui dan dipahami-Nya. Tidak ada luka terlalu kecil atau tersembunyi bagi Tuhan.
Dan lebih dari itu, Tuhan bertindak sesuai kasih setia-Nya. Dalam konteks Mazmur ini, “menilik” diikuti oleh tindakan penyelamatan. Artinya, Tuhan tidak hanya mengetahui penderitaan kita, tetapi juga menolong dan memulihkan.
Bagaimana aplikasi dalam Kehidupan? Saat kita merasa tidak ada seorang pun yang memahami atau peduli terhadap pergumulan kita, ingatlah bahwa Tuhan menilik kesengsaraan kita. Ia melihat air mata kita, memahami batin kita, dan berjalan bersama kita dalam penderitaan itu. Ini menjadi penghiburan besar — bahwa kita tidak pernah sendiri. Tuhan berjalan dekat, mengangkat, dan menopang kita.
Beriman yang mendalam berarti kita yakin bahwa Tuhan mengetahui kesesakan jiwaku (Mazmur 31:8). Kata “mengetahui” di sini bukan sekadar pengertian intelektual, tetapi pengenalan yang intim dan mendalam. Kesesakan jiwa melukiskan batin yang penuh tekanan, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan. Tuhan memahami semua itu bahkan lebih dalam daripada kita sendiri — dan Dia peduli secara pribadi.
Ketika tidak seorang pun memahami apa yang kita alami secara batin, Tuhan mengenalnya sepenuhnya dan tidak membiarkan kita sendiri.
Mazmur juga menyatakan bahwa Tuhan menegakkan kakiku di tempat yang lapang. Ini adalah gambaran pemulihan dan pembebasan. Tanah yang lapang melambangkan ruang bebas, keselamatan, dan kehidupan yang tidak lagi dalam tekanan. “Menegakkan kaki” menunjukkan pijakan yang teguh dan stabil. Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita dari penderitaan, tetapi juga menempatkan kita dalam keadaan aman dan penuh pengharapan.
Tuhan mengenal luka hati kita dan menyiapkan ruang yang lapang bagi kita—simbol kebebasan, damai, dan pemulihan.
Tuhan tidak membiarkan kita terjebak selamanya dalam penderitaan. Ia akan menegakkan kita dan membawa kita keluar ke ruang yang luas, di mana kita bisa berdiri teguh dan hidup dengan damai. Sebagaimana dinyanyikan dalam lirik NKB 195 ayat 2: “Kendatipun susah terus menekan, dan iblis geram menyerbu, Tuhanku menilik anak-Nya tetap; S’lamatlah, s’lamatlah jiwaku.” Reff: “S’lamatlah (s’lamatlah) jiwaku (jiwaku), S’lamatlah, s’lamatlah jiwaku.”amin
Berdoa:
Ya Tuhan, kiranya kami semakin percaya kepada-Mu, terutama ketika kami mendengar gunjingan banyak orang, ketika ada yang berniat mencelakakan kami, dan hidup kami terasa terancam. Dalam situasi seperti itu, ajarlah kami untuk tetap percaya bahwa Engkau telah menilik sengsara kami dan menyelamatkan jiwa kami. Dalam nama Yesus kami berdoa, Amin.
JALAN YANG DIBERKATI
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Mazmur 118:26,
Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN!
Saudari-saudari yang dikasihi Kristus, ibadah Minggu kemarin disebut Minggu Palma, untuk itu daun-daun palma dihadirkan. Minggu Palma dengan daun palma itu merujuk saat peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, dengan menunggang keledai, sebagai lambang damai dan kelemah-lembutan hati. Perjalanan Yesus bersama murid-Nya, memulai menunjukkan perjalanan seorang raja, murid-murid menghamparkan jubah mereka di jalan yang dilalui keledai tunggang itu. Sontak dengan spontan masyarakat bergabung, lebih lagi mereka memotong ranting-ranting dan daun palma dilambai-lambaikan di sepanjang perjalanan Yesus. Lambaian itu sudah merupakan prosesi disertai dengan seruan: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan …” perjalanan ini sungguh menjadi kejutan bagi para petinggi Yahudi di Yerusalem.
Kita melihat dalam sambutan masyarakat terhadap Yesus, tidak terlepas dari apa yang telah diajarkan, yang telah dilakukan Yesus di sepanjang pelayanan-Nya. Penyambutan itu berisikan pengharapan penuh, agar Yesus menyatakan diri sebagai Raja Israel, sebagai Mesias yang membebaskan Israel khususnya dari penjajahan orang Roma. Memang sungguh kedatangan Yesus ke Yerusalem untuk menyatakan diri sebagai Raja, tetapi bukan hanya untuk teritorial Israel, bukan hanya untuk satu bangsa, walau mereka disebut Israel umat Tuhan. Tetapi teritorialnya ialah seluruh bumi, dan untuk semua bangsa dan bahasa di muka bumi. Dia masuk ke Yerusalem membawa pembebasan bagi manusia, bukan mengalahkan pemerintahan Roma yang menjajah bangsa Israel, tetapi untuk membebaskan dari dosa yang menindas manusia. Penghulu dosa itu ialah Iblis, yang sudah menguasai hati manusia sejak Adam dan Hawa, yang tidak mampu mengalahkan Iblis.
Dalam Minggu Palma ini kita menghayati perjalanan Yesus yang dramatis mengalahkan Iblis, diawali dengan sorak: “Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN!..” Perjalanan ini bukan rencana Yesus sendiri, tetapi telah dinubuatkan termasuk dalam Mazmur nas renungan ini, perjalanan Yesus ini dalam nama Tuhan. Sorak orang banyak yang mengandung pengharapan, dan sorak itu dipertanggung jawabkan oleh Yesus dalam menanggung sengsara dosa dan memasuki kematian untuk dikalahkan-Nya dalam kebangkitan-Nya. Dengan melambaikan daun palma, kita mengenang jalan sengsara yang ditempuh oleh Yesus untuk meraih kemenangan bagi manusia berdosa. Sorak berbunyi: “Diberkati dia yang datang dalam nama TUHAN”, akan berganti dengan seruan “salibkan Dia,” begitulah Yesus menggenapi pengharapan orang berdosa.
Aplikasi:
- Bagi Anda apakah penting Minggu Palma, atau sama saja dengan Minggu biasa?
- Saat ini, sebesar apa harapan Anda akan Yesus Kristus?
- Seandainya Yesus tidak rela mati disalib, siapa yang menjadi harapan “keselamatan” bagi Anda?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, terima kasih Yesus Kristus berhasil menjadi harapan keselamatan kami. Tiada harapan lain, tiada Juruselamat yang lain, hanya Yesus, sempurna itu bagi kami. Terpujilah Bapa dalam Yesus Kristus dengan persatuan-Nya dengan Roh Kudus. Amin. [AS140425]
”JENANG CANDIL”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 2 Tawarikh 17:7-9 (TB 2)
“Pada tahun ketiga pemerintahannya ia mengutus para pembesarnya, Benhail, Obaja, Zakharia, Netane’el dan Mikha, untuk mengajar di kota-kota Yehuda. Bersama-sama mereka turut juga orang-orang Lewi, Semaya, Netanya, Zebaja, Asael, Semiramot, Yonatan, Adonia, Tobia dan Tob-Adonia; bersama semua orang Lewi ini ada Imam Elisama dan Yoram. Mereka mengajar di Yehuda dan membawa kitab Taurat TUHAN. Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, Jenang candil atau bubur candil adalah makanan berupa bubur yang terbuat dari tepung ketan, gula merah dan santan. Jenang ini memakai bola-bola berukuran kecil dari tepung ketan sebagai isiannya. Bola-bola kecil ini terlebih dahulu direbus dengan kuah gula merah sehingga rasanya menjadi manis legit. Kata candil berarti bulatan-bulatan kenyal yang berasal dari adonan tepung ketan tadi. Ketika dihidangkan, jenang ini disiram dengan kuah santan. Sepintas, jenang candil mirip dengan bubur biji salak. Bedanya, pada jenang candil bola-bola kecilnya dibuat dari tepung ketan sedangkan bubur biji salah dibuat dari ubi kuning. Di beberapa tempat di Jawa, jenang candil juga disebut dengan jenang grendul. Jenang candil merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas harmonisasi kehidupan dan berjalannya roda kehidupan yang terus berputar. Ketika jenang candil ini dibuat dan disajikan, maka orang lain akan ikut menikmatinya. Hal itu berarti bahwa ungkapan syukur kepada Tuhan ini diwujudkan dalam bentuk ajakan kepada orang lain agar dapat ikut merasakan sukacita tersebut. Dengan kata lain, rasa syukur itu diungkapkan dalam wujud tindakan menjadi berkat kepada orang lain.
Saudaraku, mungkin kita sering mendengar istilah “blessed to be a blessing” – diberkati untuk menjadi berkat. Rasanya, jenang candil ini cukup menggambarkan keadaan ini. Karena rasa syukur atas berkat Tuhan, sehingga mengajak orang lain untuk turut merasakan sukacita dengan ikut menikmati enaknya jenang candil ini. Tindakan “blessed to be a blessing” ini pernah ditunjukkan oleh salah seorang Raja Yehuda yang bernama Yosafat. Alkitab menyaksikan bahwa Raja Yosafat ini memiliki pribadi yang baik. Ia raja yang taat pada Tuhan (2 Taw. 17:3-4) dan berupaya menghadirkan pemerintahan yang melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Oleh karena itu, tidaklah heran apabila raja Yosafat mendapat dukungan dari rakyatnya, bahkan juga dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Salah satu bentuk upayanya untuk menyejahterakan rakyatnya adalah dengan mendidik mereka baik di dalam ilmu maupun iman. Tindakan raja Yosafat ini berbeda dengan kebanyakan pejabat di dunia ini yang terkesan justru membodohi rakyat. Alkitab menyaksikan, demikian: “Pada tahun ketiga pemerintahannya ia mengutus para pembesarnya, Benhail, Obaja, Zakharia, Netane’el dan Mikha, untuk mengajar di kota-kota Yehuda. Bersama-sama mereka turut juga orang-orang Lewi, Semaya, Netanya, Zebaja, Asael, Semiramot, Yonatan, Adonia, Tobia dan Tob-Adonia; bersama semua orang Lewi ini ada Imam Elisama dan Yoram. Mereka mengajar di Yehuda dan membawa kitab Taurat TUHAN . Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat”. Apa yang dilakukan oleh Raja Yosafat ini menjunjukkan betapa pentingnya pendidikan intelektual dan pendidikan iman / spiritualitas. Pengetahuan dan wawasan yang baik akan menolong rakyat agar dapat memecahkan masalah, memahami informasi, berpikir kritis, dan membuat keputusan yang rasional. Sedangkan spiritualitas yang baik akan menolong rakyat agar dapat menjaga keseimbangan mental dan emosional, serta menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana. Ungkapan syukur Raja Yosafat diwijudkan dengan tindakan mencerdakan rakyatnya baik dalam pengetahuan maupun iman kepada Tuhan.
Saudaraku, sebagai anak-anak Tuhan, tentunya kita mesti bersikap “blessed to be a blessing”. Tuhan sudah begitu baik kepada kita, maka sudah seharusnyalah kita menghasilkan buah bagi kemuliaan-Nya. Raja Yosafat telah mengupayakan yang terbaik bagi rakyat Yehuda sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Kiranya, hidangan jenang candil dapat mengingatkan kita semua agar dapat menjadi berkat bagi banyak orang karena begitu besar kebaikan Tuhan bagi kita. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami bersyukur untuk semua berkat dan pertolongan-Mu bagi kami. Kami rindu agar hidup ini dapat kami persembahkan bagi kemuliaan-Mu. Kiranya apa yang kami pikirkan, katakan dan lakukan ini dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujdukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
SEDERHANA NAMUN BERMAKNA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan
Views: 0
Bacaan: Lukas 9:13 (TB2)
”Tetapi, Ia berkata kepada mereka, ‘Kamu harus memberi mereka makan!’ Mereka menjawab, ’Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang ini.””
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan sukacita.. Jemaat yang terkasih, ibu Teresa penah berkata, “Tidak setiap orang bisa melakukan hal besar, tetapi semua orang bisa melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.” Ungkapan Ibu Teresa ini memiliki sebuah makna yang luar biasa, dimana kita diingatkan untuk menjadi bermakna tidak selalu dengan melakukan hal yang besar, tetapi dengan hal kecil dan sederhana pun, kita juga dapat membuat hal yang berharga dan bermakna apabila hal kecil dan sederhana itu kita lakukan dengan cinta yang besar.
Seperti yang dilakukan oleh Yesus kepada orang banyak, yang saat itu sedang mengikuti-Nya, mendengarkan firman-Nya dan melihat mukjizat yang lakukan-Nya. Pada saat itu hari sudah malam dan orang banyak itu masih setia mendengarkan pengajaran dari Yesus, tetapi para murid merasa cemas karena seharian mereka belum makan, kemudian para murid berkata kepada Yesus, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil.” (Ay. 12). Tetapi Yesus malah meminta para murid-Nya untuk memberi makan orang banyak itu. Berkatalah para murid, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan.” (Ay. 13). Melihat para murid yang kebingungan dengan apa yang Yesus perintahkan, Ia meminta para murid-Nya untuk menyuruh orang banyak ini duduk berkelompok, kira-kira lima puluh orang dalam satu kelompok. Setelah itu, Yesus mengadakan mukjizat sehingga orang banyak itu dapat makan hingga kenyang.
Memberi makan adalah hal sederhana yang bisa dilakukan oleh siapapun, tetapi karena cinta yang dimiliki oleh Yesus inilah yang kemudian menggerakkan hati Yesus untuk mengadakan sebuah mukjizat di mana semua orang yang hadir saat itu mendapat makan dan merasa kenyang. Demikian pula dengan kita, Yesus pun juga mengharapkan kita berlaku yang sama, bukan perkara besar yang Ia minta untuk kita lakukan tetapi perkara sederhana namun bermakna, agar semua orang dapat merasakan apa yang kita perbuat dan memuliakan Allah melalui tindakan yang kita lalukan. Mari kita setia melakukan hal yang sederhana bagi hormat dan kemuliaan Allah. Selamat menghayati minggu-minggu Pra Paskah, Tuhan memampukan kita.
SEPERTI MARIA MENGURAPI YESUS
admin Renungan Harian harian, renungan, tuhan
Views: 1
Umat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Saya mengajak hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Seperti Maria Mengurapi Yesus” dengan dasar dari Injil Yohanes 12:1-3 “ Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani , sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali , lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. Bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu” Demikianlah firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Injil Yohanes mengisahkan seorang wanita yang mengurapi Yesus, yaitu Maria, saudara Marta dan Lazarus yang dibangkitkan Tuhan Yesus. Maria adalah sosok yang sangat menginspirasi kita untuk setia melayani Tuhan. Dengan penuh kasih, Maria mengambil minyak narwastu murni yang sangat mahal harganya dan mengurapi kaki Yesus, lalu menyekanya dengan rambutnya. Bagi Yudas Iskariot tindakan Maria dianggap bodoh dan hanya suatu pemborosan yang tidak berguna. Tetapi bagi Maria, ini adalah tindakan yang sangat pribadi dan penuh penghormatan bagi Tuhan Yesus, yang dia pikirkan adalah bagaimana dia bisa melayani Tuhan Yesus dengan cara yang terbaik.
Maria menunjukkan bahwa melayani Tuhan bukanlah tentang apa yang kita terima, melainkan tentang bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik kepada-Nya. Amin, Saudara?
Meskipun Yudas mengkritik tindakan Maria, dengan alasan yang seolah-olah mulia, yakni memberi kepada orang miskin, tetapi Tuhan Yesus mengatakan bahwa tindakan Maria tersebut adalah sebuah pengurapan untuk persiapan menghadapi kematian-Nya di kayu salib. Kita tahu, bahwa kematian Kristus adalah pengorbanan terbesar yang pernah ada di dunia. Tuhan Yesus memberikan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Kasih dan pengorbanan-Nya di kayu salib adalah dasar dari segala sesuatu yang kita lakukan. Sebelum kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan, kita perlu menyadari terlebih dahulu betapa besar kasih-Nya yang telah menyelamatkan kita.
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Aktivis Jemaat GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Kutetap setia melayaniMu” Sebuah pujian yang menjadi berkat bagi banyak orang. Kesaksian pujian ini menyatakan: “Seperti wanita mengurapi-Mu. Menangis di bawah kaki-Mu. Demikian hidupku mau mengasihi-Mu. Yesus, Engkau baik bagiku. Sampai akhir ku menutup mata,
ku tetap setia menanti janji-Mu. Sampai kudapatkan mahkota kehidupanku. Ku tetap setia ku melayani-Mu” Seperti syair dalam lagu itu, kita semua diajak untuk tetap setia melayani Tuhan sampai akhir menutup mata.
Saudaraku, mari kita merenungkan tindakan wanita yang mengurapi Yesus ini, dan bertanya pada diri kita: Apakah kita sudah mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan Yesus, yang telah menyelamatkan kita melalui kasih dan pengorbanan-Nya di kayu salib? Seperti wanita tersebut, kita dipanggil untuk memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki, tanpa menunggu sesuatu yang lebih atau menunggu kondisi yang lebih baik. Kasih-Nya yang besar memanggil kita untuk memberi dengan hati yang penuh syukur. Mari kita hidup sebagai penyembah yang sejati, yang selalu memberikan yang terbaik bagi Tuhan yang telah lebih dulu memberi yang terbaik bagi kita.
Wanita itu tidak hanya memberikan sesuatu yang mahal, tetapi dia juga mengorbankan dirinya untuk Tuhan. Memang, memberikan yang terbaik sering kali membutuhkan pengorbanan. Itu bisa berarti memilih untuk memberi waktu kepada Tuhan daripada menghabiskannya untuk hal-hal duniawi, atau mengorbankan kenyamanan demi melayani sesama. Seperti Maria, kita dipanggil untuk memberikan pengorbanan yang tulus kepada Tuhan, bukan hanya apa yang tersisa, tetapi apa yang terbaik yang kita miliki.
Sebagaimana Maria tidak memperhitungkan harga minyak yang mahal, kita pun harus rela memberikan hidup kita secara total untuk Tuhan. Apakah kita siap untuk memberikan yang terbaik dari hidup kita, baik dalam waktu, kemampuan, maupun harta untuk memuliakan nama-Nya? Bersediakah Saudara memperbaharui komitmen Saudara untuk setia melayani Tuhan dan memberikan yang terbaik untuk Tuhan? Bersediakah Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan Bapa kami yang di surga, yang kami kenal dalam Tuhan Yesus. Terima kasih karena Engkau telah memberikan segalanya untuk kami. Kami ingin belajar dari wanita yang mengurapi kaki-Mu dengan minyak narwastu yang mahal. Ajari kami untuk mempersembahkan yang terbaik dalam hidup kami kepada-Mu. Kiranya hidup kami menjadi persembahan yang indah bagi-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
PULIHKAN KEADAAN KAMI, YA TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 126
Salam sejahtera semoga kita makin dipulihkan keadaan kita menjadi pemulihan yang makin lengkap melalui perbuatan Tuhan yang besar (Mazmur 126:3-4)
Dalam NKB 170 ayat 1 dijelaskan bahwa jalan hidup tidak selalu tanpa kabut yang pekat, namun kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Ketika ekonomi sulit, keluarga sedang berduka, tubuh menderita sakit, atau kita bergumul dengan berbagai persoalan hidup, rasanya seperti berjalan dalam awan yang tebal dan gelap. Awan itu membuat kita kehilangan arah, masa depan terasa tak pasti, dan setiap langkah menjadi berat.
Namun, apakah kita percaya bahwa di balik awan yang gelap ada pelangi kasih Tuhan yang kekal? Bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berubah? Apakah kita yakin bahwa sehabis hujan akan tampak pelangi, sebagai tanda janji Tuhan yang teguh? Di balik kedukaan, kesulitan ekonomi, dan berbagai pergumulan hidup, kita tetap menanti dan berharap akan pelangi kasih Tuhan. Apakah ketakutan hidup kita akan sirna jika kita mengingat janji kasih-Nya yang setia?
Bangsa Israel yang hidup dalam pembuangan juga pasti mengalami masa-masa kelam. Namun justru di tengah penderitaan itulah mereka mulai menyadari bahwa mereka sangat membutuhkan pemulihan dan pertolongan dari Tuhan. Ketika akhirnya mereka kembali dari pembuangan, Mazmur ini, salah satu dari Nyanyian Ziarah, menjadi pujian syukur kepada Tuhan karena ratapan telah berubah menjadi sukacita dan harapan.
Nyanyian Ziarah. Mazmur 126 merupakan salah satu dari 15 “Nyanyian Ziarah” (Mazmur 120–134). Lagu-lagu ini diyakini digunakan oleh umat Israel saat mereka melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem, khususnya pada tiga hari raya besar Yahudi: Paskah, Pentakosta, dan Hari Raya Pondok Daun. Yerusalem secara geografis terletak di tempat yang tinggi, sehingga ziarah disebut juga “pendakian”.
Namun pendakian ini tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga spiritual—sebuah simbol mendekatkan diri kepada Tuhan, meninggalkan kehidupan lama, dan memasuki persekutuan yang lebih dalam dengan-Nya.
Pemulihan yang Membuat Seperti Bermimpi. Mazmur 126:1 berbicara tentang pemulihan yang Tuhan lakukan atas Sion. Umat Tuhan merasa seperti orang yang bermimpi, karena besarnya sukacita dan keheranan mereka. Pemulihan itu bisa merujuk pada kembalinya mereka dari pembuangan di Babel atau tindakan penyelamatan besar lainnya oleh Tuhan.
Demikian juga kita. Ketika Tuhan memulihkan hidup kita, dari penderitaan, dari dosa, dari masa kelam, rasanya seperti mimpi. Pengalaman kasih karunia-Nya begitu besar dan ajaib. Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mengingat karya pemulihan Tuhan di masa lalu agar kita tetap memiliki pengharapan di masa kini dan masa depan.
Sukacita yang Menjadi Kesaksian. Mazmur 126:2 menggambarkan tawa dan sorak-sorai umat Tuhan karena pemulihan yang mereka alami. Bahkan bangsa-bangsa lain mengakui bahwa Tuhan telah melakukan hal besar bagi mereka. Ketika Tuhan memulihkan dan memberkati hidup kita, sukacita itu seharusnya menjadi kesaksian yang hidup bagi orang lain. Sukacita kita bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk dibagikan. Dalam hidup yang penuh damai dan syukur, dunia dapat melihat Kristus melalui kita.
Mazmur 126:3 berkata, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” Ini adalah pengakuan iman dan rasa syukur yang lahir dari hati yang mengenal karya Tuhan. Sukacita ini bukan emosi sesaat, melainkan respons dari hati yang menyadari bahwa semuanya adalah karena Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan kembali karya Tuhan dalam hidup kita, dan tetap bersyukur meskipun situasi belum berubah total.
Kita Masih Membutuhkan Pemulihan. Mengapa setelah mengalami pemulihan umat Israel masih memohon pemulihan lagi? Karena hidup ini tidak pernah sepenuhnya sempurna. Selalu ada bagian-bagian dari diri, keluarga, masyarakat, dan dunia yang masih perlu dipulihkan oleh Tuhan. Kita butuh pemulihan setiap hari, sampai kita sepenuhnya masuk dalam Kerajaan Allah.
Pemulihan dari Tuhan digambarkan seperti sungai di tanah yang kering tiba-tiba dialiri air deras. Kita sudah pernah ditolong Tuhan, tetapi ada bagian hidup kita yang masih “kering” dan belum selesai. Maka kita berdoa: “Tuhan, Engkau sudah menolong kami dahulu, pulihkanlah kami lagi… lebih dalam, lebih luas, lebih lengkap.”
Menabur dalam Air Mata, Menuai dalam Sorak Sorai. Mazmur 126:5 berkata, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak-sorai.” Ayat ini menjadi janji dan penghiburan bagi mereka yang tetap setia dalam masa sulit, masa berduka. Menabur dengan air mata berarti tetap berusaha, bekerja, dan beriman walau dalam kesedihan atau penderitaan.
Menabur adalah tindakan iman. Dan menuai adalah hasil dari kesetiaan itu. Bersorak-sorai adalah sukacita yang datang sebagai buah dari kerja keras dan iman yang tidak sia-sia. Tuhan menghargai setiap air mata yang dicurahkan dalam kesetiaan.
Tetap Berjalan, Tetap Menabur. Mazmur 126:6 menggambarkan seseorang yang tetap melangkah maju walaupun menangis. Ia tidak menyerah dalam kesedihan, tetapi terus menabur benih. Dan Tuhan berjanji: orang seperti itu akan pulang dengan sorak-sorai sambil membawa hasil panennya.
Air mata dalam Tuhan tidak sia-sia. Penderitaan, kesetiaan dalam pelayanan, pengorbanan dalam keluarga, pendidikan iman yang melelahkan—semuanya akan berbuah sukacita jika dilakukan dengan iman.
Bagi orang tua yang membesarkan anak dalam iman, walaupun lelah dan belum melihat hasilnya, Tuhan menjanjikan panen rohani di kemudian hari.
Bagi para pelayan Tuhan, dan semua yang menabur Firman di tengah tantangan, Tuhan akan mengubah tangis menjadi sukacita. Kuncinya: tetap berjalan, tetap menabur, tetap percaya.
Tuhan menolong kita, membangunkan iman memulihkan kasih yang remuk. Tuhan mengubah hati kita dan Tuhan membentuk kita, seperti lirik PKJ 282 ayat 1 Tuhan, tolonglah, bangunkan iman; pulihkanlah kasih yang remuk.(2x) Ubahlah hatiku, jamahlah diriku biar di tanganMu berbentuk. Tuhan, tolonglah bangunkan iman; pulihkanlah kasih yang remuk. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan pulihkan keadaan kami menjadi pemulihan yang makin lengkap melalui perbuatan Tuhan yang besar, dalam nama Yesus kami berdoa amin.
PENGAMPUNAN DAN PEMBERSIHAN DOSA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Mazmur 51:3-4,
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan dari dosaku tahirkanlah aku!
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kita sudah memasuki Minggu Prapaskah V, menapak tilas jalan sengsara Kristus. Semua itu untuk menuntaskan tanggungan Mesias, tugas penyelamatan manusia yang selesai dikerjakan-Nya. Tetapi bagi kita apa yang harus kita lakukan agar keselamatan yang sempurna itu kita terima, menjadi milik kita? Apa bagian kita agar keselamatan itu menjadi milik kita, apa yang harus kita lakukan?
Nas renungan ini, suatu pengalaman raja Daud yang jatuh ke dalam dosa, awalnya dia merasa aman karena tidak ada yang tahu. Tetapi Tuhan tahu dan melihat dengan jelas, nabi Natan diutus Tuhan menyampaikan tegoran dengan keras menyadarkan Daud yang telah melanggar firman Tuhan. Tegoran nabi Natan itu disampaikannya dalam bentuk cerita/perumpamaan kejahatan seorang kaya yang mengambil domba seorang miskin, hanya untuk menjamu tamunya yang datang berkunjung. Daud sendiri sudah mengatakan “orang kaya” itu harus dihukum mati. Nabi Natan membukakan, Daudlah “orang kaya” itu karena pelanggaran firman Tuhan yang dia lakukan, berselingkuh dengan Batsyeba, dan atas perintahnya Panglima Uria, suami Batsyeba tewas dalam pertempuran. Atas tegoran itu, langkah awal, dengan penuh penyesalan, Daud mengaku dosa di hadapan Tuhan, sadar akan kesalahannya, dosa yang tersembunyi bagi orang lain, tetapi terang di hadapan Allah. Pengakuan dosa itu sebagai tanda hidup ini tergantung pada Allah. Dosa yang kita lakukan harus ada tindak lanjut, tidak akan selesai dengan mendiamkannya saja, kita bisa lupa karena waktu, tetapi bagi Tuhan tetap tercatat untuk diselesaikan. Pengakuan berlanjut memohon belas kasih untuk membersihkan catatan dosa itu. Tidak ada jalan untuk menghindar atau menyembunyikan dosa dari catatan hidup kita, itulah kesadaran Daud. Besar kebaikannya, banyak jasanya di hadapan Tuhan, semua itu tidak mampu melindungi Daud dari upah dosa yaitu “kebinasaan.” Berat dosa yang upahnya maut tidak bisa diimbangi oleh berat amal dan ibadah kita.
Kita beruntung darah Yesus, Anak Allah membersihkan kita dari segala dosa dan kesalahan kita. Dalam Minggu Prapaskah V ini, menyadarkan kita bahwa di dalam Kristus kita telah diselamatkan, bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan, tetapi oleh iman, akan karya kasih Yesus, iman itu menghubungkan kita dengan Kristus. Dalam iman kita menghayati derita yang dialami Yesus, dalam iman juga kita menerima kasih Bapa yang begitu besar, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk disucikan oleh darah Kristus.
Aplikasi:
- Bagaimana Anda mengaku dosa di hadapan Tuhan?
- Adakah dosa Anda yang Anda lupakan, dengan tidak mengakuinya di hadapan Allah?
- Bagaimana Anda memastikan dosa Anda telah diampuni Tuhan?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di surga, di hadapan Bapa saya mengaku telah berdosa, saya sungguh berdosa, ampuni dosa saya dengan pertobatan saya meninggalkan dosa dengan hidup dalam firman Tuhan. Dalam Yesus Kristus kami berdoa, Amin. [AS070425]
”AIR MATA KUCING”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Kolose 3: 17 (TB 2)
“Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah Bapa”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, ‘air mata kucing’ merupakan nama satu jenis minuman khas dari Malaysia. Di Malaysia atau Singapura, jenis minuman ini banyak dijajakan di kaki lima. Meski namanya adalah ‘air mata kucing’, namun minuman ini tidak ada kaitannya dengan binatang kucing. Air Mata Kucing bercita rasa manis, asam dan segar. Bagi yang belum bisa membayangkan rasanya, maka air mata kucing ini seperti cincau hitam dalam bentuk cair. Namanya yang unik sejatinya diambil dari salah satu bahan pembuatnya, yakni buah kelengkeng. Di Malaysia, buah kelengkeng yang berdaging putih dan memiliki biji berwarna hitam ini kerap disebut sebagai mata kucing. Nah, ketika sudah menjadi minuman, maka olahan ini disebut sebagai air mata kucing. Air Mata Kucing sendiri merupakan air dari rebusan buah lo han kuo (yakni buah dari tanaman merambat yang berasal dari daratan Cina), buah kelengkeng, buah kundur (mirip seperti timun suri, di Jawa tengah disebut bligo), dan gula. Setelah matang, air rebusan tersebut disaring dan didinginkan. Untuk penyajiannya, air rebusan ini ditambah dengan jeruk nipis dan buah kelengkeng tanpa biji. Air mata kucing ini memiliki khasiat bagi kesehatan, yaitu: dapat mengobati panas dalam, dapat meredakan batuk, mengeluarkan dahak, dan meningkatkan vitalitas tubuh.
Saudaraku, air mata kucing mengingatkan tentang kesederhanaan namun menjadi berkat besar. Betapa tidak? Cara membuatnya tidak membutuhkan keahlian khusus, saat penyajian pun tidak perlu penampilan khusus, dan ketika dipasarkan pun tidak membutuhkan lapak yang khusus. Pendek kata: sangat sederhana! Akan tetapi, dibalik kesederhanaannya itu, terkandung berkat yang besar, yaitu: khasiat yang sangat baik bagi kesehatan tubuh. Dengan kata lain, khasiat air mata kucing itu tidak bergantung pada kemasan atau tempat penjualannya, melainkan karena memang pada dirinya sudah terkandung khasiat itu. Nah, hal ini mengingatkan tentang cara hidup anak-anak Tuhan, yaitu: dipanggil untuk menjadi berkat melalui perkataan dan perbuatan di mana dan kapan saja. Rasul Paulus mengingatkan Jemaat Kolose, demikian: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur melalui Dia kepada Allah Bapa”. Nasihat ini sangat terkait dengan tantangan iman yang dihadapai oleh Jemaat Kolose. Salah satu tantangan itu adalah paham gnostik. Paham ini mengajarkan bahwa dunia materi ini jahat dan kotor. Karena dunia materi ini jahat, maka tubuh manusia juga kotor dan jahat. Tubuh yang kotor dan jahat ini harus dikekang supaya tidak liar, dengan cara melakukan beragam ritual yang ‘menyakiti’ tubuh. Contoh: agar tidak rakus makan, maka seseorang harus “menyakiti tubuh” dengan melakukan puasa ekstrim, dll. Bagi rasul Paulus, tubuh manusia tidak dengan sendirinya jahat. Bukankah Allah hadir ke dunia dalam wujud manusia Yesus, untuk mewujudkan karya penebusan-Nya? (Lih. Kolose 1: 19,22). Oleh karena itu, Rasul Paulus mengajak Jemaat Kolose untuk membuat agar perkataan dan pebuatan itu sebagai ungkapan syukur karena telah dikasihi, dikuduskan dan dipilih menjadi anak-anak Allah melalui Kristus; bukan karena mendasarkan pada pemahaman bahwa ‘tubuh ini jahat’! Dengan kata lain, kualitas diri kita sebagai Anak-anak Tuhan teruji melalui perkataan dan perbuatan; bukan karena lahir dari garis keturunan siapa, lahir di mana, dan dari strata sosial atau pendidikan seperti apa.
Saudaraku, satu hal saya sangat meyakini bahwa perkataan dan perbuatan yang sederhana namun jika disertai dengan cinta yang besar, maka akan menjadi berkat. Oleh karena itu, mari kita tunjukkan kualitas iman melalui perkataan dan perbuatan sebagai ungkapan syukur. Seperti khasiat air mata kucing itu muncul karena memang pada dirinya terkandung khasiat itu. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk menjadi berkat melalui perkataan dan pernbuatan kami. Kiranya kami dapat mempersembahkan kehidupan kami dengan cinta yang besar kepada-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
