tuhan
BERSEDIA UNTUK TAAT
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: 2 Raja-raja 21:8 (TB2)
” Aku tidak akan membiarkan Israel dibawa keluar lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, asalkan mereka tetap berbuat sama seperti yang telah Kuperintahkan kepada mereka dan memelihara semua hukum yang diperintahkan hamba-Ku Musa kepada mereka”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Saya pernah melihat stiker besar bertuliskan “Jesus Loves Me” di motor pengendara, tapi sang pengendara membelah jalanan Pramuka dengan ugal-ugalan, berjalan zig-zag, menerabas lampu merah dan melaju tanpa helm pula, sungguh miris. Mengaku anak Tuhan, tapi kelakuan sudah macam anak ….. ! Demikianlah ketaatan pada hal-hal berbau ritual ternyata seringkali tak berbanding lurus dengan tindakan yang real.
Sebagaimana si pemotor ugal-ugalan tadi, ternyata Israel yang adalah umat pilihan Allah juga tak taat aturan. Di bawah kepemimpinan Manasye, Israel yang saat itu telah menjadi Kerajaan Yehuda lagi-lagi jatuh dalam dosa. Yehuda mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan, membangun mezbah untuk Baal dan membuat patung bagi Asyera (ay. 3-4). Manasye memimpin Yehuda untuk melupakan kebaikan Allah dan menyakiti hatiNya. Mereka melupakan janji Tuhan yang telah menyatakan bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan bangsa Israel keluar lagi dari tanah perjanjian, asal mereka taat pada perintah Allah (ay. 8).
Tapi sekali lagi, Manasye dan rakyatnya mengabaikan kasih dan janji Allah. Mereka memilih menaati dirinya sendiri, menuruti kehendak dan nafsunya sendiri. Bahkan para nabi yang diutus Allah untuk memperingatkan mereka pun tak digubris. Hingga ajalnya pun, Manasye tetap saja tak bersedia kembali ke jalan Tuhan, tak bersedia menaatiNya.
Hari ini, mari kita berefleksi dan memeriksa diri. Jangan-jangan sikap dan tindakan kita pun tak jauh berbeda dari pemotor tadi atau bahkan Manasye. Mungkin kita rajin ibadah, pelayanan dan persembahan. Mungkin pula kita memasang stiker rohani besar-besar di kendaraan kita bahkan gantungan salib. Namun, pertanyaannya sederhana.
Sudahkah kita taat? Ibadah kepada Allah akan jadi berarti dalam ketaatan kepada perintah dan kehendakNya. Ketaatan kepada Allah memimpin seseorang pada ketaatan peraturan di masyarakat. Selamat untuk terus menjadi taat, Tuhan memberkati.
PENDIDIKAN SARANA PEMBERITAAN INJIL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bapak Ibu, Saudara Saudari dan Anak-anak yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, Syalom Alekhem! Apa kabar Saudara? Semoga semua dalam keadaan baik, dalam anugerah dan penyertaan Tuhan.
Hari ini dalam rangka Pekan Pendidikan Kristen, kita merenungkan kembali Firman Tuhan yang berjudul: “Pendidikan Sarana Pemberitaan Injil” dengan dasar Markus 14:9 (TB 2) “ Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan diceritakan juga untuk mengingat dia.” Demikianlah firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang melakukannya.
Tahukah Saudara bahwa ayat ini adalah Sabda Tuhan Yesus sebagai respons terhadap tindakan seorang wanita yang mengurapi Dia? Tindakan wanita yang mengurapi Tuhan Yesus ini dianggap mulia dan penting, sehingga Tuhan Yesus menyatakan bahwa perbuatannya akan dikenang setiap kali Injil diberitakan di seluruh dunia.
Dalam konteks Pekan Pendidikan Kristen, tahukah Saudara bahwa setiap peran yang kita jalani dalam pendidikan Kristen, baik sebagai guru, staf sekolah, orang tua, maupun anggota gereja adalah bagian dari pemberitaan Injil? Ketika kita mendukung dan berpartisipasi aktif dalam pendidikan Kristen, kita turut ambil bagian dalam menyebarkan pesan kasih Kristus kepada dunia.
Ada dua hal penting perlu kita ketahui:
Pertama, Pendidikan Kristen adalah salah satu sarana Pemberitaan Injil: Sekolah Kristen berperan penting dalam menyebarkan nilai-nilai Injil kepada generasi muda. Melalui pendidikan, anak-anak kita diajar bukan hanya untuk meraih prestasi akademis, tetapi juga untuk memahami kasih, pengampunan, dan harapan dalam Kristus.
Kedua, peran penting Jemaat dan Orang Tua untuk mendukung Pemberitaan Injil melalui sekolah Kristen. Dukungan ini dapat berupa doa, keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah, atau kontribusi finansial untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas pendidikan di sekolah. Amin, Saudara?
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh Paduan Suara PSKD sebuah lagu yang berjudul “Seperti Wanita yang Mengurapi-Mu”, menceritakan seorang Wanita yang mengurapi Tuhan Yesus dengan minyak narwastu yang mahal. Wanita itu mengurapi Tuhan Yesus dan menangis di bawah kaki-Nya. Ini menunjukkan betapa besarnya kasihnya kepada Tuhan Yesus yang menyelamatkan dirinya.
Demikian juga hidup kita, jika kita mau mengasihi Tuhan Yesus, kita dapat katakan: “Tuhan Yesus, Engkau baik bagiku. Sampai akhir ku menutup mata, ku tetap setia menanti janji-Mu. Sampai kudapatkan mahkota kehidupanku. Ku tetap setia melayani-Mu, Ku tetap setia melayani-Mu.”
Seperti wanita yang memberikan yang terbaik kepada Tuhan Yesus, kita juga diajak untuk memberikan yang terbaik demi kemajuan pendidikan Kristen. Biarlah kita bersama-sama dapat memastikan bahwa pesan Injil terus diajarkan dan dihidupi dalam kehidupan anak-anak kita.
Mari kita perkuat komitmen kita untuk setia dalam pelayanan melalui pendidikan. Ketika Tuhan Yesus berkata bahwa perbuatan wanita itu akan dikenang sepanjang waktu, Ia memberi contoh bahwa setiap tindakan pelayanan, sekecil apapun, sangat berharga di mata Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita semua, baik guru, orang tua, maupun jemaat, tetap setia bekerja bersama-sama mendukung misi pendidikan Kristen yang membawa terang Injil ke dalam kehidupan setiap siswa.
Sebagai bagian dari Pekan Pendidikan Kristen ini, saya mengajak seluruh jemaat dan orang tua murid untuk tetap setia bersama-sama mendukung sekolah Kristen kita. Mari kita berkomitmen untuk berdoa, memberikan waktu, tenaga, dan sumber daya kita, agar sekolah ini dapat terus menjadi sarana yang efektif dalam menyebarkan Injil. Dengan dukungan kita, kita dapat memastikan bahwa anak-anak kita tumbuh dalam pengetahuan yang benar dan dalam kasih kepada Kristus.
Semoga kita semua dikuatkan untuk melayani Tuhan dengan setia melalui pendidikan Kristen, seperti wanita yang memberikan yang terbaik untuk Tuhan Yesus. Marilah kita bersama-sama menjadi saksi Kristus yang hidup melalui peran kita masing-masing di komunitas Sekolah Kristen ini.
Bersediakah Saudara bersama keluarga terus bertekad menjadi pelaku firman Tuhan untuk setia mendukung pelayanan melalui sekolah-sekolah Kristen? Lakukanlah saja, itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Tuhan, Bapa kami yang di surga, kami bersyukur karena Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihi kami. Kami berdoa dan mohon berkat-Mu untuk sekolah-sekolah Kristen seperti PSKD, Sekolah Perkumpulan Mandiri, Sekolah-sekolah Kristen Penabur, sekolah-sekolah di bawah YSKK dan semua lembaga-lembaga pendidikan Kristen agar terus dipakai Tuhan memberitakan Injil. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga!
(AM 5092024).
MENJADI PELAYAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Markus 9:30-37
Salam sejahtera semoga kita menjadi gereja yang melayani Tuhan dengan cara melayani sesama, bukan gereja yang mencari kehormatan atau menjadi yang terbesar, seperti ungkapan dalam Markus 9:35 (TB2) Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.
Di dalam suatu gereja, sering mengalami kesulitan dalam mencari calon penatua yang baru, dan yang muda, mencari guru sekolah minggu, mencari pengurus badan pelayanan, mencari panitia, mencari orang yang mau bersaksi, mau melayani dan mau bersekutu. Regenerasi penatua dan pengurus badan pelayanan juga sulit dilakukan, sehingga yang mau melayani hanya orang tertentu saja.
Mengapa gereja perlu penatua, pendeta, guru sekolah minggu, pengurus badan pelayanan, panitia atau tim ? Penatua dan pendeta diperlukan untuk mengemban fungsi pelayanan kepemimpinan dalam rangka memperlengkapi anggota gereja agar mampu berperan serta ke dalam misi Allah. Guru sekolah minggu juga memperlengkapi anak-anak sekolah minggu. Pengurus badan pelayanan diperlukan dalam pelayanan kepemimpinan dalam bidang tertentu. Fungsi kepemimpinan dilakukan secara kolektif kolegial, bersama-sama tidak sendirian.
Anggota gereja dipanggil Allah untuk berperan serta dalam misi Allah yaitu karya Allah dalam penciptaan, pemeliharaan, penyelamatan, pembaruan di dunia, yang dikerjakan melalui Anak di dalam Roh Kudus. Peran tersebut dilakukan dalam komunitas, persekutuan bukan individualis, egois, dan mau mewujudkan kesaksian dan pelayanan dengan memperjuangkan kesejahteraan, keadilan, perdamaian, keutuhan seluruh ciptaan Allah. Peran serta gereja ke dalam misi Allah itu dilaksanakan oleh setiap dan seluruh orang beriman di dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan dunia.
Gereja sebagai pelayan bagi misi Allah, maka anggota gereja tunduk kepada kehendak dan pikiran Allah, bukan mengikuti kehendak dan pikiran sendiri. Yudas secara fisik mengikut Yesus, tapi hatinya terarah pada kepentingan diri sendiri, rencana sendiri, tidak ikut rencana Tuhan. Yudas merencanakan untuk menyerahkan Yesus, Anak Manusia kepada pemimpin Yahudi. Yesus tahu isi hati dan rencanaYudas, karena itu Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari ia dibunuh, ia akan bangkit (Markus 9:31). Yesus dapat melihat isi hati pikiran Yudas. Ia terkena tipu muslihat iblis, yang menawarkan kekayaan. Pada masa kini, Yesus juga bisa melihat isi hati dan pikiran kita, apakah kita juga sudah terkena tipu muslihat iblis, mengejar kekayaan, kehormatan dunia, bukan mencari harta surgawi, dan mahkota kemuliaan dari Allah, dengan melayani dan bersaksi bagi Tuhan.
Turunnya Roh Kudus ke atas murid-murid Yesus yang membuat orang beriman berkumpul. Roh Kudus menghimpun umatNya dari segala bangsa, suku, kaum bahasa ke dalam persekutuan di mana Kristus adalah Tuhan dan kepala. Roh Kudus memberi kuasa kepada gereja dan mengutus gereja ke dalam dunia untuk menjadi saksi, melayani. Gereja tidak hidup untuk dirinya sendiri. Gereja berusaha untuk senantiasa sehati sejiwa selaku jemaat Allah, Gereja terbuka kepada segala bangsa dan tidak boleh terpecah-belah. Tapi dalam kenyataan di lapangan, anggota gereja sering terpecah-pecah, tidak sehati sejiwa, karena ada anggota yang memikirkan diri sendiri, seperti perpecahan, pertengkaran yang dilakukan murid-murid, karena ada yang mau menjadi yang terbesar, mereka tidak memikirkan apa yang sedang dilakukan Yesus melalui jalan penderitaan di salib.
Murid-murid walau sudah berjalan bersama Yesus, tapi mereka belum terbentuk jiwa melayani, malah dalam pikiran mereka yang ada ambisi untuk mendapatkan kedudukan yang tertinggi, terbesar dalam pemerintah Yesus, jika sudah terbentuk pemerintahan Allah. Mengejar ambisi dan gila hormat, membuat murid-murid berselisih atau bertengkar menentukan siapa yang terbesar. Padahal mereka berjalan bersama-sama Yesus yang akan menghadapi penderitaan jalan salib. Yesus menjelaskan bahwa menjadi pelayan seperti yang Yesus lakukan, siap direndahkan, diejek, dianiaya demi menjalankan tugas dari Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosa, dengan jalan berkorban di salib. Jalan salib bukan jalan mencari kedudukan, tapi siap dihina dan direndahkan, tapi tujuan semua itu agar manusia menyesali dosa dan ditebus, diperbaharui hidupnya sesuai kehendak Tuhan. Apa yang dipikirkan, diinginkan murid-murid harus dinyatakan dihadapan Yesus, sehingga murid-murid tahu apakah pikiran mereka sesuai dengan kehendak Yesus.
Yesus menjelaskan kepada murid-murid dan juga kita masa kini, kalau ingin menjadi terbesar dalam Kerajaan Allah, menjadi terbesar dihadapan Allah maka orang tersebut menjadi yang terakhir, siap menjadi hamba, siap melayani Tuhan. Murid-murid Yesus bukan orang yang berambisi memerintah, menyuruh, tapi sebaliknya berambisi melayani, menjadi hamba dan bukan dilayani, bukan menjadi tuan. Yesus dikenang, dihargai, dihormati karena Yesus melayani manusia yang lemah menderita, berdosa, tersesat untuk diselamatan dari dosa. Yesus dihormati dikenal karena melayani menolong orang sakit lemah miskin menderita. Kita adalah murid Yesus, maka kita diajarkan menggunakan karunia talenta untuk melayani. Orang yang tidak mengejar kedudukan, tapi yang siap melayani dalam bidang apapun juga.
Marilah kita mendengar panggilan Tuhan untuk menjadi hamba Tuhan dan menyerahkan hidup kita pada Tuhan untuk dipakai sebagai hamba Tuhan, untuk diutus menjadi saksi Tuhan. Kita memohon agar diberi hati yang setia melayani, diberi hati yang bersih dalam mengasihi Tuhan dan sesama, diberikan hikmat dan kuasa dalam melayani dan memberitakan Injil seperti ungkapan dalam Kidung Keesaan 651 ayat 1 Aku hambaMu, Tuhan, Dikau memanggilku. Aku berserah, Tuhan, pakailah hambaMu, Ini aku utus aku jadi saksiMu. B’rilah hati yang setia melayani. B’rilah hati yang bersih mengasihi. B’rikanlah kuasaMu dan b’rikan hikmatMu kepadaku, dan mampukan diriku membawa InjilMu ke s’luruh dunia. amin
Berdoa:
Ya Tuhan kami memuliakan nama Tuhan, yang telah memanggil kami untuk menjadi hamba Tuhan, melayani Tuhan dan sesama, bukan mencari kehormatan atau menjadi yang terbesar. Kami menyerahkan hidup kami untuk dipakai sebagai hamba Tuhan. Kami memohon agar diberi hati yang setia melayani, diberi hati yang mengasihi Tuhan dan sesama, diberikan hikmat dan kuasa dalam melayani dan memberitakan Injil. dalam nama Yesus kami berdoa amin.
MAKHPELA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Nas: Kejadian 23:17-18a, 19a,
Demikanlah ladang Efron, yang terletak di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta semua pohon di ladang itu hingga di seluruh batas tanah itu, beralih kepada Abraham menjadi miliknya, di depan mata bani Het .. (19a) Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela …
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dengan memperabukan (kremasi) jenazah berarti tidak butuh tanah makam. Abu jenazah ditaruh dalam wadah yang relatif kecil, bisa disimpan, dan bisa dihamburkan ke sungai atau ke laut. Kuburan khususnya bagi masyarakat Jakarta kadang menjadi pemikiran yang tidak gampang. Kadang TPU bagi jenazah memerlukan biaya, dan pemeliharaan kuburan itu juga memerlukan biaya, akhirnya di TPU mana dan biaya berapa harus diadakan karena jenazah harus dimakamkan.
Demikianlah nas renungan ini membuat Abraham “repot,” karena isterinya Sara telah mati. Dia hidup berpindah-pindah (nomaden), negeri dan tanah tempat tinggalnya milik orang lain, di situlah isterinya mati, mau dikubur di mana? Jalan ke luar yang bisa dilakukannya ialah dengan membeli tanah menjadi miliknya sehingga dia bebas menggunakan tanah itu dan di situ dia bisa menguburkan jenazah isterinya. Awalnya orang negeri itu, yaitu bani Het di negeri Hebron mengijinkan Abraham menguburkan di pekuburan yang ada. Tetapi Abraham tidak nyaman menguburkan isterinya di pekuburan orang lain, maka dia mengusulkan agar dia bisa membeli sebidang tanah milik Efron bani Het, letak tanah itu di Makhpela merupakan ladang yang ada gua di sana. Sesuai dengan kebiasaan perjanjian di gerbang kota berkumpul para saksi, dan Efron menetapkan harga ladang itu empat ratus syikal perak. Dengan membayar harga itu disaksikan orang yang berkumpul, kepemilikan tanah itu beralih kepada Abraham.
Ladang Makhpela ini menjadi catatan penting, sebagai awal Abraham dan keturunannya telah memiliki sebidang tanah di Makhpela. Pembelian tanah Makhpela memiliki makna simbolis untuk tanah perjanjian yaitu Kanaan yang diberikan Allah kepada Abraham dan keturunannya. Dengan dibelinya ladang dan gua di Makhpela ini sebagai simbolis pemilik yang sah atas seluruh tanah Kanaan yang dijanjikan Allah. Yakub, cucu Abraham yang mati di Mesir pada jaman Yusuf berkuasa di Mesir, jenazahnya dibawa oleh Yusuf ke ladang Makhpela, di dekat kuburan Abraham leluhurnya. Semua leluhur Israel mulai dari Abraham, Sara, Ishak, Ribka, Lea dan Yakub dikuburkan di Makhpela. Abraham membeli dari tangan orang Het, sebagai tanda mereka melepas hak atas tanah itu dengan damai. Ratusan tahun kemudian oleh Yosua menaklukkan seluruh tanah Kanaan sebagai penggenapan janji Allah, tidak ada bangsa dan raja-raja yang bertahan di hadapan Yosua karena Allah hendak mengaruniakan tanah itu kepada keturunan Abraham. Demikianlah seluruh tanah Kanaan menjadi milik umat Israel keturunan Abraham.
Aplikasi:
- Kami sarankan untuk Anda mengetahui di mana Makhpela sekarang berada.
- Apakah kuburan leluhur Anda menjadi tanda kepemilikan ladang keluarga?
- Melihat kuburan makin penuh, apakah kremasi bisa menjadi jalan keluar?
Mari berdoa:
Bapa surgawi, pengatur perjalanan zaman, kami sebutkan zaman berubah, tetapi janji dan firman Tuhan tetap tak tergoyahkan. Janji Tuhan sejak Abraham bapa orang beriman, kami memegang dan mengimani akan tiba akhir zaman, saatnya kami menerima penggenapan menjadi anak-anak Kerajaan, datanglah ya Kristus. Kami mohon dalam nama Yesus, Amin. [AS020924]
NASTAR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 1
Bacaan: Galatia 5:22-23 (TB 2)
“Namun, buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saudaraku, kue nastar sepertinya tidak asing lagi di telinga kita. Kue yang terbuat dari terigu, mentega dan olahan selai nanas ini menjadi kudapan yang hampir selalu hadir di saat Natal. Menurut sejarahnya, kue nastar merupakan salah satu resep kue asal Belanda yang diperkenalkan saat jaman penjajahan. Nama nastar sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Belanda yaitu nastaart. Kata ini merupakan gabungan dari kata ananas yang berarti nanas dan taart atau _ taartje _ yang berarti kue / pie. Pada awalnya nastar dibuat dengan isian bluebery atau apel. Akan tetapi pada masa itu sangat sulit ditemukan buah-buahan, sehingga digunakanlah nanas sebagai isiannya. Nah, dibalik kelezatannya, kue nastar mengandung filosofi yang mendalam, yaitu: kemakmuran, kesabaran, kebersamaan, keseimbangan, dan keramahan.
Filosofi nastar ini mengingatkan pada apa yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Sebagai pribadi yang sudah diselamatkan oleh Kristus, kita memiliki kewajiban supaya bertindak hati-hati dan tidak mengikuti hawa nafsu. Kita mesti selalu mengingat bahwa keinginan daging sangat bertentangan dengan keinginan Roh (lih. Gal. 5: 19-21). Agar hidup dan perilaku kita tidak bertentangan dengan keinginan Roh, maka kita mesti selalu melekat dan dituntun oleh Roh Kudus. Ibaratnya kita ini adalah ranting-ranting yang tidak akan dapat hidup dan menghasilkan buah, bila tidak melekat pada pangkal pohon. Oleh karena itu, agar kita juga dapat menghasilkan buah dan menjadi berkat, maka kita harus melekat pada tuntunan Roh Kudus. Bila kita melekat pada Roh Kudus, maka kita pun akan menghasilkan buah Roh. Rasul Paulus menasihatkan kepada jemaat Galatia, demikian: “Namun, buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu”. Kata ‘kasih’ di sini menunjuk pada kehendak hati yang selalu murah hati dan selalu menginginkan kebaikan orang lain, tanpa peduli apa yang dilakukan orang itu. Secara singkat, kasih itu memberi secara cuma-cuma tanpa mengharapkan balasan. Kata ‘sukacita’ menunjuk pada rahmat yang berasal dari Allah, bukan sekadar kebahagiaan manusia yang bersifat sementara. Sukacita sejati merupakan ekspresi dari Roh yang menguasai diri kita meskipun sedang mengalami kesusahan sekalipun. Kata damai sejahtera merupakan hasil dari penyandaran diri pada hubungan yang akrab dengan Allah. Damai digambarkan sebagai keadaan istirahat tenang yang dihasilkan dari mencari Allah, dan jauh dari keadaan “kacau balau”. Kata kesabaran menggambarkan tentang kesediaan untuk selalu tabah dan bertahan di tengah berbagai penderitaan. Meski sebetulnya dapat membalas dendam, tetapi sebaliknya memilih untuk menahan diri. Kata kemurahan menunjuk pada tindakan yang bermanfaat bagi orang lain tanpa peduli tindakan sebelumnya. Kemurahan ini merupakan perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap yang lain, dan bersikap penuh rahmat. Kata kebaikan menunjuk pada perilaku yang menyatakan kebajikan, kemuliaan, dan bukti dari keselarasan dengan kehendak Allah. Kata kesetiaan menunjuk pada kehendak untuk mendedikasikan diri kepada Allah dan tidak berpaling pada yang lain. Meski tidak mudah untuk menjadi setia, namun kita mesti selalu yakin akan campur tangan Tuhan di dalam kehidupan kita. Karena Allah adalah setia, maka sudah seharusnya juga kita berlaku setia. Kata kelemahlembutan menunjuk pada kemampuan dalam menguasai energi dan kekuatan. Kita diharapkan mampu mengampuni kesalahan, memperbaiki kekeliruan, dan menguasai jiwa kita sendiri dengan baik. Kata penguasaan diri merupakan bingkai dari semua buah roh itu. Kita mesti dapat mengendalikan diri agar tetap sesuai dengan kehendak Allah dan menjauhi dosa.
Saudaraku, kiranya sajian kue nastar hari ini selalu mengingatkan kita akan buah Roh yang harus kita nyatakan di dalam kehidupan kita. Hendaknya setiap suap kue nastar yang masuk ke dalam mulut, akan mendorong kita untuk selalu mempraktikkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar dapat menyatakan buah Roh di dalam pikiran, tutur kata dan perilaku kehidupan kami. Dengan demikian Nama-Mu kiranya dimuliakan dan hidup kami dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
KENA MENTAL
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 34:19(TB2)
”TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang remuk hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Kiranya bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Dunia maya melaju begitu cepat, baik itu media sosial maupun berita online. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas internet tersebut selalu muncul istilah-istilah populer baru, salah satunya adalah “kena mental”. Istilah ini merujuk pada keadaan seseorang yang belum siap menghadapi keadaan atau respons dari orang lain tentang kondisi dirinya. Secara umum kondisi kena mental sama artinya dengan tekanan mental yang intens dan terjadi secara tiba-tiba.
Selama periode ini, orang yang mengalaminya tidak dapat menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal. Istilah tersebut juga merujuk pada berbagai kondisi kesehatan mental, hingga depresi. Mungkin jika diucapkan sebatas untuk meramaikan suasana tidak akan menjadi masalah, tetapi jika keadaan kena mental tersebut memang sedang dialami oleh seseorang yang tidak siap hingga dia depresi, ini adalah masalah yang serius, yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Bacaan kita saat ini merupakan seruan Pemazmur Daud yang memohon pertolongan kepada Tuhan. Saat itu, Daud sedang melarikan diri dari dikejaran Saul. Di sisi lain, Daud menghadapi Abimelekh. Dalam keadaan terdesak itulah, dia berpura-pura gila di depan Abimelekh agar selamat (Ay. 1). Di situasi inilah, Daud berseru memohon pertolongan Tuhan. Dia percaya Tuhan mendengar dan melepaskannya dari kesesakan. (Ay. 18). Tuhan akan melindungi dan membebaskannya dari marabahaya (Ay. 21, 23). Nyata dalam hidup Daud, dia pernah merasakan takut dan kena mental, tetapi imannya pada Tuhan mengalahkan rasa takut pada dirinya.
Paparan permasalahan hidup dapat membuat kita kehilangan kedamaian jiwa dan merusak kesehatan. Maka kita belajar dari Pemazmur yang mengingatkan bahwa ada Tuhan yang bisa memberikan damai dalam hidup kita. Karena kedamaian Tuhan tidak bergantung pada keadaan kita atau apa yang terjadi di dunia. Tuhan lebih besar dari rasa kekhawatiran dan ketakutan yang kita alami. Maka saat ini mari kita mengingat sabda Kristus: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh. 14:27).
