tuhan
OASE IMAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Keluaran 17:7,
Tempat itu dinamai Masa dan Meriba, karena orang Israel telah berbantah dan mencobai Tuhan dan mengatakan: “Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dehidrasi, secara sederhana kita artikan kondisi tubuh yang kekurangan air, kondisi dehidrasi cukup berbahaya karena membawa orang tidak sadar diri. Kalau keadaan tidak sadar diri tidak mendapat pertolongan bisa berakibat fatal yaitu kematian. Penanggulangannya cukup sederhana, yaitu dengan memberi minum air atau kalau tidak bisa lagi minum bisa diinfus cairan ke tubuh orang yang dehidrasi.
Tiba saatnya perjalanan umat Israel yang dipimpin Musa sampai di daerah gurun Sinai. Di Mesir mereka sudah terbiasa dengan panasnya gurun, walau pun demikian mereka tetap membutuhkan konsumsi air yang cukup. Ternyata bekal air yang mereka bawa telah habis, di gurun itu mereka tidak menemukan sumber air, umat itu kehausan tanda dehidrasi. Karena tidak mungkin ada sungai, maka yang diharapkan ada oase untuk mendapat air minum juga untuk ternak yang mereka bawa. Haus dan dehidrasi mengancam mereka dan tidak terlihat tanda-tanda adanya oase. Situasi ini membawa kemarahan dan kekuatiran, mereka berame-rame mendatangi Musa, mereka melampiaskan kemarahan dan uneg-uneg dengan berkata: “Berikanlah air kepada kami ..,” Dalam kondisi demikian ini mereka mengingat negeri Mesir yang berlimpah air, sehingga mereka berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir?” Ketiadaan air minum berarti kematian bagi mereka dengan anak-anaknya. Tempat mereka mengeluh dan meminta hanya kepada Musa. Dengan situasi itu keluhan mereka yang paling berat bukan saja soal air tetapi bertanya: “Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak?”
Pertanyaan itu tentu tidak akan muncul bagi “orang percaya,” demikian seharusnya bagi umat Israel yang telah keluar dari Mesir. Tetapi melihat beratnya masalah yang menantang berakibat fatal, membuat keraguan dan mempertanyakan: Apakah Tuhan ada di tengah-tengah kita? Rencana Tuhan tidak akan mengakibatkan fatal, tetapi situasi mereka sudah mengarah fatal. Kemarahan umat itu membuat Musa tidak sabar, dan mungkin sedikit takut kalau umat itu mencelakai dia. Dalam keadaan yang tergesa-gesa, kesal dan tak sabar Musa membawa tua-tua Israel sesuai dengan nasihat Tuhan, Musa memukul tebing batu dan memancarlah air bagaikan oase pemuas haus, pendingin hati, mereka boleh minum sepuasnya dan istirahat.
Demikianlah kita membutuhkan oase iman, mendinginkan hati yang kuatir, sudah jenuh menantikan tanda-tanda kasih dan pemeliharaan Tuhan yang tak kunjung datang sesuai pikiran kita. Kita butuh oase iman saat ekonomi keluarga yang tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan keluarga, yaitu doa dan harapan pada Tuhan. Kita butuh oase iman yaitu berserah, berdoa menantikan pertolongan Tuhan setelah lama mencari kerja dan tak kunjung ketemu. Tuhan pasti ada bersama dan mendengar permohonan kita, Dia Oase iman kita.
Aplikasi:
- Adakah sesuatu lain sebagai oase iman Anda, penyejuk dikala banyak kuatir?
- Adakah film untuk ditonton yang menyejukkan hati Anda?
- Pernahkah Anda tawar hati kepada Tuhan karena doa yang tak terjawab?
Mari berdoa:
Bapa surgawi, dengan tangan gembala yang baik menggenggam gada dan tongkat, tetapi itulah yang menghibur kami, Dialah Kristus Juruselamat kami menjadi oase iman kami. Banyak yang menggoda kami, kiranya Roh Kudus menetapkan hati kami, Dia Penghibur dikala kami takut dan hilang harapan. Inilah doa kami, dalam nama Yesus. Amin. [AS220724]
”KUE DONGKAL”
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Mazmur 123:1-2 (TB 2)
“Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang berse-mayam di surga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki tertuju kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan tertuju kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Kue dongkal merupakan salah satu jenis kue tradisional Indonesia yang berasal Betawi. Kue ini memiliki bentuk kerucut menyerupai tumpeng putih serta rasa yang manis dan gurih. Bentuk kerucut kue dongkal ini berasal dari kukusan kerucut yang terbuat dari bambu. Bahan dasar kue dongkal mirip dengan kue putu, yaitu terbuat dari tepung beras dan diisi dengan gula aren lalu dikukus. Lapisan gula aren yang dikukus bersama tepung beras akan mempercantik tampilan kue dongkal dengan warna belang-belang hasil kombinasi warna coklat dan putih. Berbeda dengan kue putu, kue dongkal memiliki tekstur yang lebih kenyal dibandingkan kue putu. Selain itu, kue dongkal berwarna putih (karena tidak ada campuran warna) sedangkan kue putu berwarna hijau dari daun suji. Kue Dongkal biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut sehingga rasanya menjadi lebih gurih. Sedangkan nama dongkal berasal dari cara pengambilan kue ini yaitu dengan cara diiris dan didongkal (dicongkel) dengan centong.
Ada filosofi yang menarik di balik nikmatnya kue dongkal ini. Kue dongkal yang berbentuk kerucut mengingatkan bahwa kehidupan itu mesti memiliki fondasi yang kuat dan senantiasa mengarah kepada Tuhan. Sedangkan manisnya gula aren di antara lapisan tepung beras yang pulen dimaknai sebagai kehidupan yang dijalani tak selamanya pahit. Selain itu, kue dongkal ini juga mengajarkan bahwa persoalan yang menerpa kehidupan justru akan membuat kehidupan manusia semakin matang, menghasilkan rasa manis dan nampak cantik.
Filosofi kue dongkal ini mengingatkan kita pada sikap iman pemazmur ketika sedang menghadapi persoalan hidup. Kala itu Pemazmur sedang mengalami penghinaan dari orang-orang yang secara ekonomi dan sosial sangat mapan dan juga penghinaan dari orang-orang sombong. Di tengah-tengah penderitaannya inilah, ia memohon pertolongan Tuhan. Imannya yang kuat telah mengarahkan hatinya hanya kepada Tuhan. Pemazmur berkata, “Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di surga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki tertuju kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan tertuju kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita”. Pemazmur meletakkan pengharapannya hanya kepada Tuhan. Pemazmur yakin bahwa Tuhan adalah Raja Surga yang tidak ada tandingannya dan Ia mampu menyelamatkannya. Mungkin ia harus menunggu lama dalam menantikan datangnya pertolongan, namun demikianlah pengharapannya diuji. Itu sebabnya sang pemazmur memusatkan diri hanya kepada Allah.
Saudaraku, berbagai macam persoalan atau penderitaan hidup yang berat memang bisa membuat kita bertanya-tanya tentang makna hidup, bahkan juga tentang keberadaan dan pertolongan Tuhan Allah. Namun hari ini, kita diajak untuk meneladani sikap iman Pemazmur yang sungguh berharap hanya kepada Tuhan. Kita sadar bahwa membutuhkan kesabaran dan kepekaan untuk melihat kehendak Tuhan, akan tetapi habis hujan akan tampak pelangi. Kiranya sajian kue dongkal kali ini, mengingatkan kita tentang sikap terarah kepada Tuhan yang akan membuat kita mampu menghayati bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan kebaikan. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga
Doa:
Ya Tuhan, kadangkala kami merasa gentar manakala berhadapan dengan berbagai persoalan kehidupan. Kami rindu untuk terus berpegang pada tangan-Mu yang perkasa namun penuh dengan kelembutan itu, sehingga kami dapat berserah pada kehendak dan rancangan-Mu atas kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk tetap dapat menjaga iman percaya kami kepada-Mu. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
LEPASKAN KEBENCIAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Kisah Para Rasul 23:14 (TB2)
”Mereka pergi kepada imam-imam kepala dan tua-tua dan berkata, ‘Kami telah mengikat diri dengan sumpah bahwa kami tidakakan makan atau minum, sebelum kami membunuh Paulus”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Membenci seseorang dapat memunculkan emosi-emosi negatif pada diri kita, yang dapat mengikis kepribadian diri kita sendiri, seperti marah yang tidak berkesudahan, lelah secara emosi, sensitif, dan tidak tenang. Saat bibit kebencian itu tumbuh pada diri kita, maka kita akan terus berusaha untuk menang melawan orang yang kita benci tersebut. Hal ini akan mempengaruhi emosi dan mood kita dalam melakukan aktivitas kita sehari-hari, seperti halnya kebencian yang ada dalam bacaan kita pada hari ini.
Bacaan Firman Tuhan hari ini berkisah tentang kebencian orang-orang Yahudi terhadap Paulus. Banyak tuduhan palsu yang dilontarkan mereka kepada Paulus, supaya orang-orang yang mendengar menjadi simpati dan mendukung usaha mereka untuk menjatuhkan Paulus. Tidak hanya dengan tuduhan-tuduhan palsu saja, mereka juga melakukan banyak usaha lainnya untuk memenuhi hasrat kebencian mereka, bahkan mereka berniat untuk membunuh Paulus. Namun rencana besar orang-orang Yahudi untuk menjatuhkan Paulus tersebut kalah dengan rencana Tuhan. Dengan dihadirkannya keponakan Paulus yang mendengar rencana jahat mereka dan menyampaikannya kepada Paulus, sehingga itu semua dapat membantu Paulus.
Cerita yang ada dalam Kisah Para Rasul 23 ini menunjukkan bahwa setitik kebencian dapat memunculkan banyak sekali perpecahan. Karena kebencian itu tidak puas jika dirasa sendiri, kebencian itu akan mencari massa untuk membantunya. Namun bagi kita yang saat ini sedang dalam posisi Paulus, tetaplah kuat, sebab Tuhan pasti akan memberikan suara kebenaran melalui perantara yang tepat. Dan bagi kita yang memiliki rasa tidak suka terhadap seseorang, sadarilah bahwa kelelahan yang terjadi pada diri kita saat ini, bisa terjadi karena kita seringkali berprasangka buruk terhadap orang lain. Maka mulailah kita menyikapi pikiran-pikiran yang negatif pada diri kita dengan pikiran-pikiran positif dan baik. Dengan demikian kita bisa mengontrol pikiran kita dan mencegah diri kita supaya tidak terjebak pada pikiran negatif dan kebencian.
Mau hidup nyaman, tentram, dan damai sejahtera? Lepaskanlah kebencian itu, sebab memelihara kebencian sama halnya dengan menggenggam bara api, yang semakin lama akan menghancurkan diri kita sendiri. Mari kita mengalahkan kebencian dengan cinta kasih, sebab Kristus tidak pernah mengajarkan kebencian tetapi hanya Kasih yang Ia teadankan. Mari berproses untuk melepaskan kebencian itu agar tercipta suatu komunitas yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Selamat berproses, Tuhan Yesus memampukan kita.
DIPILIH DAN DITENTUKAN TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Jemaat Tuhan yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Hati kita penuh dengan sukacita dan syukur ketika mengingat peristiwa sakramen baptisan dan sidi yang telah kita terima. Hari ini kita merenungkan Firman Tuhan yang berjudul: “Dipilih dan Ditentukan Tuhan” dengan dasar dari Surat Efesus 1:3-5 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab, di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya .” Demikianlah Firman Tuhan. Yang berbahagia ialah setiap orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melakukannya.
Saudara-saudara, tahukah Saudara ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya kita telah diberkati dengan segala berkat rohani dalam Kristus. Tuhan telah memberi kita anugerah yang luar biasa, yaitu keselamatan dan kehidupan kekal. Sebagai orang yang sudah menerima baptisan dan sidi, kita meyakini, bahwa sejak semula Tuhan telah menetapkan hidup kita dalam tangan-Nya.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Tuhan telah memilih kita sebelum dunia dijadikan. Ini berarti, sebelum kita lahir, Tuhan sudah memiliki rencana yang indah untuk hidup kita. Kita dipilih bukan karena kebaikan kita, tetapi karena kasih karunia-Nya. Tuhan telah menetapkan kita untuk menjadi anak-anak-Nya, supaya hidup kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Ini adalah panggilan yang mulia dan penuh kasih karunia. Puji Tuhan!
Seperti kesaksian pujian yang dinyanyikan oleh para peserta Baptisan dan Sidi tanggal 23 Juni 2024 di GKI Kwitang, sebuah pujian yang berjudul: “Semua Baik” Pujian ini sungguh menginspirasi dan meneguhkan keyakinan kita.
Syair lagu ini menyatakan: “Dari semula t’lah Kau tetapkan, hidupku dalam tangan-Mu, dalam rencana-Mu, Tuhan” Ini merupakan pengakuan kita bahwa Tuhan adalah sumber hidup dan penuntun jalan kita. Hidup kita ada dalam tangan-Nya dan dalam rencana-Nya yang indah.
Tuhan memanggil kita untuk hidup kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Ini bukan berarti kita harus sempurna dalam segala hal, tetapi kita harus terus berusaha hidup sesuai dengan kehendak-Nya, dalam kasih dan ketaatan.
Kita dapat bersaksi: “S’mua baik, s’mua baik, apa yang t’lah Kau perbuat didalam hidupku” Mengapa Saudara? Karena Tuhan yang memimpin kita!
Saudara-saudara yang terkasih, Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan baptisan dan sidi yang telah kita terima adalah tanda bahwa kita telah mulai perjalanan baru dengan Kristus sebagai penuntun dan sahabat kita. Ia mau menjadikan hidup kita berarti.
Oleh sebab itu marilah kita hidup makin mantap dalam rencana-Nya yang indah dan penuh harapan. Mari kita mengandalkan Dia dalam segala hal. Dalam pergumulan hidup kita, kita percaya bahwa segala sesuatu yang kita perbuat ada dalam pimpinan Tuhan. Dan segala sesuatu yang Dia perbuat dalam hidup kita adalah baik!
Bersediakah Saudara terus berjalan dalam iman, pengharapan dan kasih dalam tangan Tuhan? Bagaimana dengan Saudara? Apakah Saudara selama ini sungguh-sungguh melakukan kehidupan sebagai orang yang telah dipilih dan ditentukan Tuhan menjadi anak-anakNya? Bersediakah Saudara melakukannya? Lakukanlah saja. Itu sudah cukup! Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, Bapa yang kami kenal dalam Tuhan Yesus, berkatilah saudara-saudari kami yang telah dibaptis dan sidi supaya hidupnya makin berarti. Kuatkan anak-anakMu dalam iman, pengharapan dan kasih. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(RH AM 180724)
ROH MEMBERI HIDUP
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Yohanes 6: 56-70
Salam sejahtera semoga kita makin yakin bahwa Roh Kudus memberikan kita hidup, sehingga dalam hidup kita melakukan hal-hal yang berguna, dan tidak mengikuti kedagingan yang membuat kita melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti ungkapan dalam Yohanes 6:63 Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.
Menurut Yesus, hidup itu milik Allah, yang datang dari surga. Orang harus menyerahkan hidupnya atau dirinya pada Allah, baru bisa mengalami hidup sebagai milik Allah. Menyerahkan diri pada Allah berarti menyerahkan diri sepenuhnya pada Kristus, mau menerima Kristus sebagai penguasa satu-satunya. Yesus adalah hidup dan pikiran Allah yang turun dari sorga, dan hidup dalam dunia. Namun banyak orang sulit menerima pemahaman seperti ini, bahkan banyak orang menolak Yesus, termasuk menolak Yesus sebagai roti hidup, atau sebagai kebutuhan pokok yang datang dari sorga.
Yesus mengatakan bahwa yang paling berguna ialah kuasa Roh yang memberikan hidup. Roh itu berguna, daging tidak berguna. Roh membimbing semua tindakan manusia, sesuai kehendak Roh, bukan kehendak manusia sendiri. Daging hanya mengikuti nafsu kedagingan, tidak mengarahkan orang melakukan kebenaran atau kehendak Allah. Nafsu kedagingan hanya mengarah pada kepentingan diri sendiri, egois, individualis. Tindakan yang diarahkan oleh nafsu kedagingan tidak mengarah pada tujuan yang baik, benar, adil, kasih. Kisah Herodes yang mengambil Herodias menjadi istrinya karena mengikuti nafsu kedagingan. Herodias sudah punya suami yaitu Filipus adik dari Herodes, dan mempunyai anak perempuan. Herodes sendiri sudah punya istri. Herodes hanya memikirkan diri sendiri, tidak peduli dengan penderitaan adiknya, Filipus, karena harus berpisah dari Herodias dan anak perempuannya. Herodes mengikuti nafsu kedagingan dari Herodias, yang membenci, dan mendendam pada Yohanes karena Yohanes menegur pernikahannya dengan Herodes. Dalam kebencian, dendam itu, Herodias meminta agar kepala Yohanes dipenggal. Daging tidak berguna, karena mengikuti nafsu kedagingan yang membuat orang berzina, membunuh. Pada masa kini banyak orang mengikuti nafsu kedagingan, nafsu dendam, membunuh seperti kisah seorang wartawan yang dibunuh karena memberitakan tentang judi online. Banyak kejahatan, keburukan yang disebabkan oleh nafsu kedagingan. Inilah maksud Yesus dengan kata daging tidak berguna.
Daging tidak berguna artinya hidup yang dikendalikan nafsu kedagingan itu merusak, tidak berguna, seperti nafsu yang membuat orang makan berlebihan, tamak, tidak secukupnya. Sikap makan berlebihan, tidak seimbang, sangat merugikan kesehatan, mencelakakan diri, bukan menguntungkan, tidak berguna.
Makan yang berguna adalah dengan mengikuti bimbingan Roh, sesuai kehendak Tuhan, makan secukupnya. Dengan bimbingan Roh orang akan memelihara, menjaga kesehatan, menjaga hidup menjadi lebih baik, lebih berguna, mempertahankan hidup sehat, bisa bekerja, melayani. Roh membimbing orang untuk berolahraga, mempertahanakan kesehatan, dan hidup sehat dan tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna, tidak sesuai kebenaran Tuhan. Orang yang tidak hidup menurut kedagingan akan terus menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh, agar ia dapat melakukan tugas dengan lebih baik, melayani Tuhan dan melayani sesama. Roh membuat jiwa orang menjadi sehat, bugar, dengan tubuh yang sehat kuat. Perkataan Yesus, adalah roh dan hidup yang menguatkan hidup manusia. Firman dan Roh yang diberi Yesus, masuk dalam hidup kita, menjadi makanan, menjadi roti hidup yang membuat orang bertumbuh iman, jiwa, hati kita. Orang yang sangat kuat mengikuti nafsu kedagingan akan menolak firman dan Roh, menolak Yesus. Hanya Roh yang membuat orang menerima firman dan Roh serta menerima Yesus.
Roh membimbing orang menghargai janji pernikahan, karena itu Yohanes menegur Herodes yang merusak pernikahan adiknya dengan menjadikan Herodias menjadi istrinya. Yohanes menegur bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi untuk kebenaran Allah. Yohanes menyerahkan hidupnya, pikirannya pada kebenaran Allah dan hidup, bertindak, menegur, menasehati sesuai kehendak Allah bukan menurut pendapat, atau kehendak sendiri. Orang yang sangat kuat diikat oleh nafsu kedagingan akan menolak nasehat, teguran, ajaran dari Tuhan Yesus.
Yesus menjelaskan bahwa hanya Roh Kudus, yang dapat memberi orang pengertian tentang perkataan Yesus. Roh Kudus adalah penghibur yang mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan kita pada perkataan Tuhan Yesus, sehingga menjadi sumber hidup bagi manusia. Roh Kudus membuat orang dapat menikmati perkataan-perkataan Tuhan, firman Tuhan menjadi kegirangan, dan menjadi kesukaan hati.
Orang menerima Roh Kudus adalah orang yang sudah menyesali dosanya, ditebus oleh Yesus sebagai anugerah, kasih Yesus, bertobat dan mau dibimbing Roh Kudus melakukan kebenaran, atau kehendak Tuhan. Roh tidak mengutamakan ketaatan lahiriah tapi mengutamakan hidup batiniah yang dihidupkan oleh Roh Kudus.
Roh membuat orang sanggup menjadi pelayan-pelayan Tuhan, kedagingan hanya membuat orang melayani hukum tertulis, hal-hal lahiriah. Roh Allah benar-benar menyertai pelayanan kita. HukumTaurat yang tertulis mematikan, tidak membuat orang melayani Tuhan dan sesama tapi Roh membuat orang melayani Injil, memberikan kehidupan rohani dan kehidupan kekal.
Kedagingan membuat pikiran orang berpusat pada kedagingan, sehinga tidak dapat menangkap maksud Tuhan Yesus bahkan menolak Yesus. Injil Yohanes ditulis untuk meyakinkan orang bahwa Yesus-lah Mesias dan Juru Selamat, supaya orang beroleh hidup yang kekal. Daging sama sekali tidak berguna, tidak mendorong manusia pada hidup kekal tapi kebinasaan. Oleh sebab itu manusia harus bersandar kepada Roh.
Kita bersyukur pada Tuhan karena Roh Kudus sudah memberi bahasa dunia baru yang sempurna dan suci. Roh Kudus menjadikan makin berseri iman pengharapan dan kasih kita seperti ungkapan dalam KJ. 233 ayat 3. Syukur padaMu, Roh Kudus, yang sudah memberi bahasa dunia baru yang sempurna dan suci. Jadikanlah semakin berseri Iman dan pengharapan serta kasih yang bersih. Amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin yakin bahwa Roh Kudus memberikan kami hidup, sehingga dalam hidup, kami melakukan hal-hal yang berguna, dan tidak mengikuti kedagingan yang membuat kami melakukan hal-hal yang tidak berguna, dalam nama Yesus kami berdoa, amin.
LOPIS
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan
Views: 0
Bacaan: Efesus 2:21-22 (TB 2)
“Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Lopis (lupis) dikenal sebagai salah satu jenis jajanan pasar. Ya, lopis merupakan makanan khas Indonesia terutama di daerah Jawa. Kue lopis identik dengan taburan kelapa dan gula jawa cair dengan rasa manis dan legit. Makanan ini terbuat dari beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Karena dibungkus dengan daun pisang, maka pada umumnya lopis berwarna putih kehijauan. Ada dua bentuk lupis yang umum ditemui, yakni berbentuk segitiga atau bulat memanjang seperti lontong. Makanan ini biasanya disantap saat sarapan atau sebagai camilan.
Bagi masyarakat Jawa, kue lopis ini juga memiliki makna filosofis tersendiri, yaitu: pertama, mengajarkan tentang persaudaraan. Ketika masih berbentuk beras ketan, masing-masing butirnya terpisah. Namun ketika dikukus dengan uap air yang panas, maka beras ketan itu lambat laun menjadi lengket satu dengan yang lain. Hal ini mengajarkan bahwa ujian dan tantangan justru semakin mengeratkan persaudaraan. Kedua, menyimbolkan harapan. Untuk membungkus lopis, dipakai daun pisang berwarna hijau. Warna hijau ini menyimbolkan pengharapan tentang proses yang akan semakin mematangkan karakter manusia – baik sebagai pribadi maupun kelompok. Ketiga, menyimbolkan kesediaan untuk menerima dan melengkapi. Lopis akan semakin nikmat bila disantap dengan taburan parutan kelapa dan siraman gula merah cair. Ketiganya akan menyatu menciptakan sensasi rasa yang nikmat di lidah. Tanpa kelapa dan gula merah, lopis hanya akan terasa hambar.
Filosopi lopis ini mengingatkan kita kepada salah satu nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat Efesus. Paulus melihat adanya “tembok pemisah” yang membuat persekutuan di Efesus tidak berjalan dengan baik. Tembok ini adalah “tembok kultural” antara orang orang Yahudi dan bangsa lain. Paulus memulai masihatnya dengan membangun sebuah teologi yang tepat, yaitu: Identitas pribadi di hadapan Tuhan harus mendahului tindakan yang bersangkutan di depan orang lain. Siapa diri kita di hadapaan Tuhan lebih penting daripada apa atau bagaimana kita bertindak. Paulus menyebutkan bahwa melalui karya penebusan Kristus, semua orang percaya – tidak peduli latar belakang etnis mereka – dipersatukan dan memperoleh jalan masuk yang sama kepada Allah yang benar (bdk Ef. 2:11-18). Bahkan setiap pribadi yang percaya kepada Kristus disusun oleh Tuhan menjadi bait Allah di mana Allah berdiam di dalamnya. Paulus menyebutkan, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh”. Paulus menegaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus – siapapun mereka – bukan saja memiliki jalan masuk kepada Bapa, melainkan juga dipakai Tuhan untuk menjadi bait Allah yang kudus – tempat kediaman Allah. Bangunan ini dapat terwujud karena para rasul adalah fondasi bangunannya dan Kristus adalah batu penjurunya (Ef. 2:20), sedangkan semua orang-orang yang percaya kepada Kristus adalah pernak-pernik bagian dari bangunan tersebut (Ef. 2:21-22).
Saudaraku, kiranya sajian lopis hari ini mengingatkan kita tentang pentingnya persekutuan dalam membangun Gereja sebagai tubuh Kristus. Seperti halnya lopis yang lengket, demikian pula seharusnya persekutuan kita tetap dekat satu dengan yang lain. Dan tentunya persekutuan kita tetap memelihara pengharapan tentang Allah sebagai sumber kakuatan dan kehidupan. Persekutuan itu sendiri akan tetap terpeliharan apabila masing-masing bagian bersedia untuk saling menerima dan melengkapi seperti lopis, parutan kelapa dan saos gula jawa. Selamat berjuang, saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk tetap bersekutu dengan erat di dalam Engkau. Oleh karena itu kami terus belajar untuk rendah hati sehingga dapat saling menerima dan memperlengkapi. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
