tuhan
ENGKAULAH YANG BERKUASA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: 1 Tawarikh 29: 11- 13
Salam sejahtera semoga kita makin mengakui bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala-galanya. Kuasa Tuhan membesarkan dan mengokohkan segala-galanya dalam hidup kita seperti ungkapan dalam 1 Tawarikh 29:12 Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dariMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya. Didalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa untuk membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.
Kekuasaan menjadikan orang kecanduan, memikat manusia dengan janji kekayaan, gengsi, dan perasaan penting. Nafsu berkuasa sudah dimulai pada saat Adam dan Hawa ingin menjadi sama seperti Allah, dan tidak menaati kehendak Tuhan. Para nabi, raja, hakim, dalam Perjanjian Lama dan murid Yesus, Paulus tidak mau mengilahkan kuasa, melainkan menjadi anak-anak Tuhan, yang lebih besar kuasanya dari kekuasaan itu sendiri (Cheryl Forbes dalam Sue Burnham. Emosi dalam kehidupan. BPK Gunung Mulia, 1997).
Dalam pemujaan pada kekuasaan, manusia tergoda untuk bertindak di luar jalur kebenaran, keadilan, kedamaian, menghalalkan segala cara agar berkuasa, dengan lebih mudah, lebih cepat atau instan. Cara-cara orang memperoleh kekuasaan dimulai dari sikap memandang diri sendiri lebih tinggi dari yang lain, lebih baik dari yang lain. Membuat kesan, pencitraan yang baik, munafik, menjilat adalah cara lain untuk berkuasa. Tipu muslihat dan manipulatif juga digunakan sebagai cara untuk berkuasa. Manipulasi kekuasaan seperti iklan yang menipu.
Orang terlihat jujur, lembut, peduli rakyat, baik, penyayang, berlaku adil, hanya terlihat dalam spanduk tapi dalam kenyataan berbeda. Dalam iklan dikatakan tolak korupsi tapi dalam kenyataan banyak terjadi korupsi. Manupulasi, tidak jujur, dalam mencari kekuasaan seperti memberi hadiah uang, atau barang yang memikat agar orang memilih orang yang memberikan barang atau uang tersebut. Janji manis ketika berkampanye tapi dalam kenyataan hanya sebagian kecil dari janji yang dilaksanakan. Mengatakan apa yang ingin didengar orang merupakan salah satu cara untuk memperoleh kekuasaan, seperti kampanye gratis bahan bakar minyak, tapi bagaimana caranya tidak dijelaskan, yang penting menyenangkan orang banyak.
Kekuasaan dalam pemerintah adalah untuk banyak orang, bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok tertentu. Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi tingkah-laku orang atau kelompok lain, sehingga tingkah-laku itu menjadi sesuai dengan keinginan dan tujuan dari yang berkuasa. Kekuasaan politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijaksanaan umum (pemerintah) baik terbentuknya maupun akibat-akibat sesuai dengan tujuan yang berkuasa. Kekuasaan politik adalah kemampuan individu atau kelompok untuk memanfaatkan sumber-sumber kekuatan yang bisa menunjang kekuasaannya untuk mencapai tujuannya. Sumber-sumber tersebut bisa berupa media massa, media umum, mahasiswa, elit politik, tokoh masyarakat ataupun militer.
Di dalam keluarga, ada orangtua yang berkuasa mempengaruhi anggota keluarga. Seseorang bisa menciptakan peraturan atau membiarkan terjadi kekacauan terjadi dalam rumah. Ibu A memiliki kuasa yang mempengaruhi keluarga anak perempuannya B. Ibu A, telah mengeluarkan uang untuk pesta pernikahan B, untuk membeli rumah dan mobil dan lain-lain. Ibu A terlalu mencampuri pernikahan dan pekerjaan B. Suami B menegaskan agar pengaruh ibu A tidak ada lagi dalam pernikahan mereka, karena sudah mengganggu pernikahan mereka. Di tempat kerja, orang juga bisa berkuasa untuk memberi pengaruh dalam melaksana tugas dan kepentingan di kantor. Kekuasaan menuntut kerja keras untuk mencapi tingkat dan kedudukan yang tepat. Namun kekuasaan itu tetap terbatas. Tidak seorangpun memiliki segalanya. Tidak seorangpun kecuali Tuhan, yang memegang kekuasaan akhir. Kesadaran ini dapat membantu orang untuk menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab.
Alexander Solzhenitsyn dalam Sue Burnham, menjelaskan bahwa kekuasaan adalah racun yang sudah dikenal selama beribu-ribu tahun. Bagi orang yang menaruh percaya pada kekuatan-kekuatan yang berkuasa atas kita, dan menyadari keterbatasan dirinya, maka kekuasaan jangan sampai menimbulkan bencana. Bagi orang yang tidak menyadari adanya kekuasaan yang lebih tinggi, maka kekuasaan sama dengan racun yang mematikan. Bagi orang ini tidak ada penangkal racun kekuasaan.
Dalam doa Raja Daud, ia menyadari sumber kekuasaan sejati adalah dari Tuhan (1 Tawarikh 29:11-13). Daud mengakui bahwa Tuhan yang punya kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan yang ada di langit dan di bumi. Tuhan punya kerajaan dan Tuhan yang tertinggi sebagai pemimpin melebihi segala-galanya. Kekayaan dan kemuliaan berasal dari Tuhan, dan Tuhan yang berkuasa atas segala-galanya. Dalam tangan Tuhan ada kekuatan dan kejayaan. Dalam tangan Tuhan ada kuasa yang membesarkan dan mengokohkan segala-galanya. Daud bersyukur kepada Tuhan dan memuji nama Tuhan yang agung itu.
Melalui 1 Tawarikh 29 ini kita diajarkan untuk mengakui kuasa yang paling tinggi adalah kuasa Allah, bukan kuasa diri kita sendiri. Kita juga mengakui iman dengan mengatakan “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang Maha Kuasa, khalik langit dan bumi”. Pengakuan ini mau menyatakan bahwa kuasa Allah sangat tinggi dan besar. Allah menggunakan kuasa yang besar itu dengan cara yang tepat dan benar, tidak ada cacatnya. Manusia bisa menggunakan kuasanya dengan cara salah, cacat, sehingga menimbulkam bencana, kerusakan, ketidakdamaian, seperti kuasa mengubah hukum yang sesuai kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok tertentu.
Allah tidak pernah menggunakan kekuasaanNya untuk menyakiti atau memanfaatkan manusia. Kuasa Allah selalu disalurkan untuk tujuan kebaikan, bukan kejahatan, rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera bukan malapetaka, untuk memberikan masa depan yang penuh harapan ( Yeremia 29:11). Kuasa Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan ( Roma 8:28)
Kita melepaskan ilah kekuasaan, dan hanya Allah yang kita agungkan kekuasaanNya seperti Daud mengagungkan kuasa Allah dan bersyukur kepada Tuhan dan memuji nama Tuhan yang agung itu.
Kuasa dan nama Tuhan kita sebar, karena itu kita tidak gentar, maka kita bertumbuh dan segar, serta berbuah seperti ungkapan dalam KJ. 341 ayat 1 KuasaMu dan namaMulah hendak kami sebar dan kar’na itu, ya Tuhan, kami takkan gentar. Bagaikan padi segenggam mestilah mati dipendam, supaya tumbuh dan segar, di panas surya mekar berbuahlah. Tuaian pun besar.
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami untuk mengakui bahwa Tuhan yang berkuasa atas segala-galanya. Kuasa Tuhan membesarkan dan mengokohkan segala-galanya dalam hidup kami. dalam nama Yesus kami berdoa, amin
NABI PEJUANG IMAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: Nehemia 4:3-4,
Lalu berkatalah Tobia orang Amon itu, yang ada di dekatnya: “Sekalipun mereka membangun kembali, kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka.” Ya, Allah kami, dengarlah bagaimana kami dihina. Balikkanlah cercaan mereka menimpa kepala mereka sendiri dan serahkanlah mereka menjadi jarahan di tanah tempat tawanan.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, kami mengajak kita melihat seorang NABI PEJUANG IMAN yaitu Nehemia. Dengan hukuman yang ditanggung umat Israel karena mereka meninggalkan Tuhan, Allah Israel, Yehuda dan Yerusalem menjadi dihancurkan dan dibuang ke Babel. Sesuai dengan janji Tuhan, hukuman itu ada batasnya yaitu 70 tahun. Tiba saatnya gelombang demi gelombang orang tawanan akan dibawa kembali ke tanah perjanjian, tanah Israel. Salah satu gelombang yang dipimpin oleh Nehemia, setelah Babel jatuh ke tangan bangsa Persia, di bawah pemerintahan Artahsasta, Nehemia diberi ijin dan kemudahan oleh raja, untuk kembali ke Israel dengan semua orang Israel yang ikut itu. Demikianlah Tuhan memulangkan kembali orang tertawan itu ke negeri mereka. Nehemia dengan rakyat yang cukup besar jumlahnya telah tiba di Yerusalem, Nehemia diberi wewenang oleh raja Artahsasta untuk membangun kembali negeri itu. Perhatian utama mereka membangun kota, tembok kota dari puing-puing, sehingga kembali terlihat sebagai kota yang hidup. Selanjutnya ibadah dihidupkan dengan perayaan Paskah dan Pondok Daun dengan meriah, pujian dan penyembahan kepada Tuhan, Allah Israel hidup kembali.
Ayat renungan kita, bagaimana orang yang iri hati dan melecehkan perjuangan Nehemia membangun kembali Yesusalem. Mereka ialah Sanbalat dan Tobia orang Amon yang telah menduduki Samaria, mereka berkata: kalau seekor anjing hutan meloncat dan menyentuhnya, robohlah tembok batu mereka. Bukan hanya ejekan seperti itu, tetapi menghalang-halangi pekerjaan itu sehingga sempat terhenti. Selajutnya, Tobia berikhtiar hendak menjebak dengan kata-kata manis dengan berkata: “mari kita bertemu dan berunding agar kami membantu..” tetapi mereka mau membunuh Nehemia, tetapi Nehemia cerdas, tidak mengindahkan ajakan itu. Ancaman dari Sanbalat dan Tobia, membuat rakyat yang membangun itu sangat waspada, sambil membangun mereka mengikat pedang dipinggang, membawa tombak. Bila ada tanda bahaya dengan bunyi nafiri, maka seluruh rakyat berkumpul menghadapi serangan.
Pekerjaan membangun, walau pun tangan Tuhan menyertai, ternyata tidak terlepas dari niat jahat yang menggagalkan pembangunan itu. Di mana Tuhan menjalankan rencana-Nya, di situ juga kuasa gelap melancarkan penggagalan, hanya penyerahan kepada Tuhan, bekerja dalam dan iman kepada firman Tuhan menjadi kekuatan utama. Perhatikan, pembangunan di negeri kita oleh pemerintah, tidak terlepas dari hambatan yang besar, dibutuhkan tekad yang kokoh. Seperti bila Nehemia ragu akan kuasa Tuhan maka di situ kesempatan baik kuasa gelap berkuasa. Dibutuhkan penyerahan dalam iman yang berkelanjutan, sebaliknya Tuhan tidak akan meninggalkan rencana-Nya di tangan kita, Dia mengawal hingga rencana-Nya selesai tuntas.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Nehemia membangun Yerusalem dengan iman, raja Daud dan Salomo membangun dengan apa?
- Dari jaman ke jaman, pemerintah negeri ini selalu disebut “pembangunan,” bagaimana kita menanggapi pembangun yang dulu dan yang saat ini.
- Apakah Anda punya pengalaman rencana baik yang mendapat tantangan?
Mari berdoa:
Bapa kami yang di sorga, satu keteladanan dari nabi Nehemia agar kami teguh dalam iman, khususnya membangun hidup kami. Sejak kanak-kanak, remaja dan pemuda kiranya kami bertumbuh dalam iman untuk membangun diri hingga usia lanjut. Tantangan iman tetap hadir, Roh Kudus menolong agar kami setia dalam iman kepada Krists. Inilah permohonan kami dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS061123]
KALENG BISKUIT BERISI KERUPUK
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Matius 23:3-4 – TB2
“Sebab itu, lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri sedikitpun tidak mau menyentuhnya”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Ketika saya kecil, biskuit kalengan merupakan salah satu makanan yang mahal. Hanya orang-orang yang punya uanglah yang dapat membeli biskuit kalengan tersebut. Suatu kali, saya diajak oleh mamah berkunjung ke rumah salah seorang temannya. Ketika dipersilahkan masuk, mamah mengajak saya duduk. Begitu duduk, mata saya langsung tertuju ke atas meja karena ada kaleng biskuit berwarna merah bergambar ibu dan dua anak sedang makan biskuit. Kaleng yang masih nampak baru itu membuat saya berpikir bahwa di dalamnya pasti ada biskuit yang lezat. Rupanya, teman mamah mengetahui keinginan saya. Ia segera mengambil kaleng itu dan membukanya, kemudian memberikan keleng itu kepada saya. Dengan antusias saya menyambutnya dan segera mengambil isinya. Namun, te-tot… ternyata isinya bukanlah biskuit melainkan kerupuk. Meski kecewa, terpaksa saya makan juga kerupuk itu. Bila Anda tertawa mendengar kisah ini, saya yakin bahwa Anda juga pernah mengalami pengalaman seperti saya ini.
Bedanya mungkin hanya pada isinya, yaitu rengginang.
Lain kemasan, lain pula isinya. Inilah kesan yang saya dapatkan dari pengalaman kaleng biskuit berisi kerupuk tadi. Kisah tersebut mengingatkan tentang tidak adanya integritas atau tidak adanya konsistensi antara ucapan dan keyakinan yang tercermin dalam perbuatan sehari-hari.
Kisah kaleng biskuit berisi kerupuk ini mengingatkan kita akan nasihat Tuhan Yesus kepada para murid terkait dengan orang-orang Farisi dan Ahli Taurat. Di hadapan para murid, Tuhan Yesus mengkritik sikap dan perilaku mereka. Di mata Tuhan Yesus, orang-orang Farisi dan Ahli Taurat tidak mempunyai integritas sebab perbuatan mereka tidak selaras dengan ajaran yang disampaikan. Mereka mengatakan ajaran kebaikan tetapi mereka melakukan keburukan. Mereka menyalahgunakan wewenang dengan memberikan beban berat kepada umat dengan peraturan-peraturan tambahan mereka, sementara mereka sendiri mencari keringanan beban peraturan. Tuhan Yesus berkata, “Sebab itu, lakukan dan peliharalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi jangan turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri sedikitpun tidak mau menyentuhnya”.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada orang banyak dan murid-muridNya supaya mereka mempunyai integritas, mempunyai hati dan sikap yang murni serta perilaku yang rendah hati. Dia mengingatkan bahwa orang yang sombong akan terhina dan yang rendah hati akan terpuji.
Memang kita mesti menjadi stoples bening yang berlaku jujur karena berani menunjukkan isi yang sebenarnya. Mari kita berjuang untuk memiliki integritas sehingga tidak seperti kaleng biskuit tetapi berisi kerupuk. Mesti dimulai dari diri sendiri dan sekarang ini. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, seringkali kami berlaku seperti kaleng biskuit namun berisi kerupuk. Kami rindu menjadi seperti stoples bening yang berani jujur menunjukkan isi di dalamnya. Mampukan kami untuk memelihara integritas di dalam diri kami. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, amin.
KEKUATAN CINTA
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Kidung Agung 7:12 (TB2)
”Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pokok anggur sudah bersemi, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Disanalah akan kuberikan cintaku kepadamu!”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Dopamin adalah salah satu hormon yang bereaksi ketika seseorang sedang jatuh cinta. Hormon ini merupakan salah satu zat kimiawi yang dihasilkan oleh bagian otak bernama Hipotalamus. Adanya Dopamin yang cukup berkaitan dengan rasa nyaman, rasa puas, meningkatkan motivasi, dan mendukung proses belajar. Pada saat jatuh cinta, kadar Dopamin meningkat. Itu sebabnya, saat jatuh cinta kita akan merasa lebih nyaman dan rileks, serta lebih bersemangat dalam melakukan tugas dan pekerjaan. Sebaliknya, saat Dopamin dalam kadar yang rendah, kita akan menjadi kurang bersemangat serta mudah mengalami adiksi (ketergantungan) terhadap zat tertentu.
Orang yang patah hati cenderung mengalami penurunan Dopamin. Kondisi ini bisa menyebabkan seseorang yang patah hati menjadi malas, lesu.
Demikianlah kekuatan cinta, seperti yang disebutkan dalam 1 Tawarikh 29:3 “… oleh karena cintaku kepada rumah Allahku,” maka raja Daud memberikan benda-benda berharga miliknya untuk mendukung pembangunan Bait Suci. Semangat raja Daud ternyata menular kepada rakyatnya, semua memberikan dukungan dengan menyerahkan bahan-bahan untuk mendirikan Bait Suci. Demikian pula apa yang dirasakan oleh penulis Kidung Agung, yaitu seorang raja yang bijaksana penuh hikmat ketika sedang jatuh cinta.
Ternyata perasaan cinta itu benar-benar memberi semangat baginya untuk berkegiatan, digambarkan pada ayat 12: “Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pokok anggur sudah bersemi, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Disanalah akan kuberikan cintaku kepadamu”
Setiap manusia memiliki cinta, maka jangan biarkan cinta itu merana. Mari kita nyatakan cinta kita kepada sesama dan Tuhan dengan tulus dan sukacita.
Jangan sampai kita berhenti mencintai, meskipun mereka yang kita cintai kadang kala tak mencintai kita. Jika dunia saat ini terlalu miskin akan cinta, maka tugas kita untuk membuat dunia ini kembali kaya akan cinta, sehingga dunia senantiasa dalam damai sejahtera. Karena dalam cinta ada daya yang luar biasa untuk menggerakkan raga seseorang, maka jangan sampai kita kehilangan kekuatan cinta supaya kita tetap berdaya. Selamat merawat cinta Allah, Tuhan memampukkan kita.
HIDUPKU DALAM RENCANAMU
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Saudara-saudara yang dikasihi Kristus, Syalom Alekhem! Pada awal Bulan Nopember ini kita memasuki Bulan Pengajaran GKI Kwitang, hari ini kita merenungkan firman Tuhan yang berjudul: “Hidupku dalam RencanaMu” dengan dasar dari Kitab Ayub 42:2 (TB 2) ” Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal .” Demikianlah Firman Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan dan yang memeliharanya.
Tak seorang pun dari kita ingin menjadi orang yang gagal dan terpuruk, melainkan menjadi orang yang berhasil dan sukses dalam kehidupan kita. Apakah mungkin? Sangat mungkin! Karena hidup yang berhasil dan diberkati adalah rancangan Tuhan bagi anak – anak Nya. Memang untuk berhasil tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terkadang kita harus menghadapi banyak sekali ujian, tantangan dan harga yang harus dibayar.
Banyak contoh tokoh besar Alkitab yang sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan dan diberkati harus mengalami proses demi proses lebih dahulu.
Ayub mengalami keadaan hidup yang silih berganti merasakan suka dan duka. Kehidupan yang manis ketika ia menikmati berkat Tuhan yaitu kelimpahan harta, keluarga yang baik, dan keadaan yang sehat.
Namun, ada saatnya ketika hidup mengalami kehidupan yang pahit dialami oleh Ayub, yaitu ketika kehilangan banyak hartanya, kehilangan ternaknya, kehilangan anak-anaknya, bahkan dirinya menjadi sakit. Akan tetapi, disaat kepahitan itu Ayub tetap percaya kepada Allah dan ia meyakini bahwa tidak ada satu rencana Allah yang gagal.
Ayub pun melewati kepahitan itu bersama dengan Tuhan, meskipun semua orang yang ia kasihi pergi menjauh dari dirinya. Ayub menyadari bahwa Tuhan yang ia percaya itu sanggup melakukan segala sesuatu, dan setiap rencana-Nya adalah yang terbaik. Akhirnya Ayub dapat berkata: ”Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Puji Tuhan!
Seperti pujian yang dinyanyikan dalam Kebaktian Emeritasi tanggal 23 Oktober 2023 yang lalu di GKI Kwitang sebuah lagu yang berjudul: S’mua Baik. Syair dan lagu diciptakan oleh Budi Haryanto dan Tommy Widodo. Lagu tersebut sungguh menguatkan dan menginspirasi banyak orang.
Lagu ini mengatakan: “Dari semula T’lah Kau tetapkan: Hidupku dalam tangan-Mu, dalam rencana-Mu, Tuhan. Rencana indah t’lah Kau siapkan Bagi masa depanku yang penuh harapan. S’mua baik, s’mua baik”
Oleh sebab itu seharusnya kitapun dapat berkata: “Apa yang t’lah Kau perbuat didalam hidupku S’mua baik, sungguh teramat baik. Kau jadikan hidupku berarti.” Puji Tuhan.
Saudara-saudara yang terkasih, hidup yang kita jalani ada dalam rencana Tuhan, baik itu manis maupun pahit. Terkadang kita harus mengalami berbagai persoalan membuat kita tidak selalu bahagia. Tetapi kita percaya: Hidupku dalam tangan-Mu, dalam rencana-Mu, Tuhan. Rencana indah t’lah Kau siapkan bagi masa depanku yang penuh harapan.
Saudara-saudara yakinlah, kegagalan bukan akhir segalanya. Meskipun terkadang Tuhan ijinkan kegagalan itu terjadi, supaya kita 1) introspeksi diri 2) belajar tidak sombong, dan 3) belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Bersediakah Saudara, belajar seperti Ayub tetap bersyukur kepada Tuhan. Tetaplah mengucap syukur seperti Ayub, karena melalui kegagalan tetap ada rencana Tuhan yang baik. Amin, Saudara? Lakukanlah saja! Itu sudah cukup. Amin.
Mari kita berdoa:
Ya Bapa yang di surga, kami bersyukur dan memuji kebesaran NamaMu, karena Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan rencana Mu tidak pernah gagal. Biarlah setiap anak-anakMu dapat berkata: Hidupku dalam rencanaMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. Tuhan Yesus memberkati Saudara dan keluarga!
(AM02112023)
GRATEFUL HOWEVER
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bacaan: Filipi 4:4-9
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.
Salam Damai Sejahtera bagi sahabat semua: bapak-ibu, para muda. Dan para anak
Marilah kita terus melihat kebaikan Tuhan ya
Kita seringkali susah untuk bersyukur. Bagaimana mau/bisa bersykur jika kita sedang menghadapi dan mengalami beban kehidupan. Beban itu bagai bati besar yang menghadang jalan kita. Anehnya batu itu, bukannya setiap hari menjadi aemakin kecil, malahan setiap hari semakin besar saja, batu itu. Hal ini tentu saja membuat kita malahan semakin hari semakin sulit bersyukur.
Lalu kapan kita dapat beryukur? Jika kita menyangka bahwa kita baru ita menyangka bahwa dapat bersykur jika kita bisa melihat dan merasakan kebaikan, maka bukankan ini menjadi suatu hal yang mustahil. Apakah benar, bhawa kita tak akan pernah bisa bersyukur? Betapa menyedihkannya kita ini. Apakah kita mau ada dalam sitiasi ini terus menerus? Dimana kita hanya melihat keburukan, kegagalan, ketidakberdayaan dll yang hanya merantai kita untuk dikuasai kecewa, sedih, kuatir, amarah sepanjang waktu. Benarkah saya dan saudara mau dibelenggu oleh ketidaknyamanan seperti itu?
Bacaan kita tadi, adalah tulisan Paulus kepada Jemaat di Filipi yang mengajak umat untuk bersukacita. Tahukah saudara bahwa Paulus saat itu sedang dalam penjara karena memberitakan Injil Kristus. “Ah Paulus ini, dia itu omong besar atau bersungguh-sungguh?
Jika kita memperhatikan kisah Paulus di penjara pada bagian bacaan yang lain; lalu Paulus di dalam penjara tetap memuji Tuhan, dan terjadilah gempa yang menggetarkan penjara sehingga membuka kunci pintu penjara, sampai sipir bertobat, maka saya harus katakan bahwa: Sukacita yang dimiliki dan diajarkan Paulus adalah sukacita yang sesungguhnya. Bagaimana Paulus dapat bersukacita dalan kondisi yang, semua orang menyebutnya sebagai orang yang sedang memiliki beban besar; dihukum bukan karena kejahatan yang dilakukannya?. Jadi dapat bersukacita ketika ada beban, ternyata bukanlah suatu yang mustahil. Seseorang dapat bersuka-cita walaupun ada beban.
Jika kita meneladani Paulus, maka sumber sukacitanya adalah, ketika yang utama bahwa ia suka membawa segala keinginan hatinya kepada Allah dan Ia suka memilih untuk melihat dan meyakini bahwa segala yang Tuhan Allah telah, sedang dan akan lakukan adalah perkara yang membawanya memiliki Damai Sejahtera; walau semua itu tak dapat kita pahami, karena Damai sejahtera Tuhan Allah melampaui segala akal kita. Maka langkah pertama untuk dapat bersyukur adalah mensyukuri karya Tuhan Allah yang sampai saat ini masih kita terima. Kendalikan pikiran kita untuk memikirkan segala kebaikan Tuhan.
Untuk dapat mengendalikan pikiran kita, mari kita membuat pikiran kita tenang dan adem dengan nafas kita yang melewati otak, tempat kita berpikir. Awalilah dengan mesyukuri nafas kita, sambil kita perhatikan; Tarik nafaslah dengan tenang, sambil bersyukur…lalu buanglah nafas dengan tenang sambil menerima segala yang kita alami, namun percaya Tuhan Allah bersama kita, Ia tak pernah meninggalkan kita. Imani dan kontrol pikiran kita. Jika kita membiasakan diri nafas dan bersyukur, maka kita akan dimampukan melihat bahwa Tuhan Allah telah memberi kita banyak yang terbaik. Lalukanlah sesering mungkin jika kesusahan melandamu, nafas lalu hitung berkat Tuhan…dan lihatlah engkaupun nantinya akan dipenuhi syukur…
Kiranya, dengan dipenuhi syukur, maka kita akan berbuat baik pada semua orang…dan disanalah Tuhan hadir melalui dirimu…
Marilah kita memandang Tuhan Allah kita selalu, karena dengan memandangNya, kita dipenuhi syukur untuk terus dapat berbuat baik bagi sesama kita.
Dalam keadaan apapun kita dapat bersyukur. (LiN-RH 01-11-2023)
ALLAH HADIR
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 1
Bacaan: Imamat 26: 1-13
Salam sejahtera kiranya kita makin menyadari bahwa Allah hadir di tengah-tengah hidup, pekerjaan, dan tugas kita. Hati Allah tidak muak melihat kita umatNya, ketika kita mau mengingat dan melakukan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari kita, seperti ungkapan dalam Imamat 26:11-12 Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu. Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.
Orang yang sibuk dengan berbagai urusan membuat hidup bertambah tidak tenang. Ketika kita terlalu sibuk, kita lupa mana yang paling penting, kita lalai untuk hal yang paling penting, dan ini merusak hati kita. Karena itu Alkitab mengulangi perintah mengasihi Allah berkali-kali karena manusia mudah melupakan, lalai, tidak mengakui Tuhan dalam hidup. Hal yang paling penting bagi hati kita adalah memahami, menghayati tentang Allah yang hadir dalam hidup, dalam hati, jiwa, pikiran kita.
Membangkitkan dalam diri kita rasa penghargaan terhadap kenyataan yang hidup, bahwa Allah hadir. Dalam Alkitab dijelaskan tentang Allah yang bekerja dalam dunia. Kita membangkitkan dalam pikiran bahwa Allah hidup dan berkarya di dunia. (Masao Takenaka, Nasi dan Allah, BPK Gunung Mulia, 1993).
Dalam Imamat 26:1-3, dijelaskan bahwa Allah yang hadir itu kudus, mulia, terhormat, dihargai sebagai yang utama, terpenting bagi hati, jiwa pikiran kita. Ketika kita sedang mencari uang, materi, jabatan, kekuasaan, kebutuhan duniawi, maka Allah yang pertama dan utama, terpenting untuk dihargai, dihormati, disembah, bukan yang lain. Allah juga hadir dalam pergumulan di pesta pernikahan seperti di Kana. Menghargai kehadiran Allah karena kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, pikiran, perbuatan kita. Kita setiap saat memelihara relasi, bersama dengan Tuhan. Kita mengingat Allah dan kekuasaan Allah yang besar ditengah kesibukan kerja kita, setiap saat. Bukan uang, materi, orang penting, pengetahuan, teknologi yang sangat berkuasa dalam hidup kita. Kita membangun relasi dengan Tuhan berarti kita mengingat, merenungkan setiap saat ketetapan, kehendak, perintah, peraturan dan rencana Tuhan. Kita berpegang pada perintah Tuhan dan melakukan, sebagai wujud kita mengasihi dan menghormati, menyembah Tuhan.
Ada orang berusaha menolak kehadiran Allah dengan berpikir dan beragumentasi rasional. Orang sibuk mengejar uang atau materi, jabatan, kedudukan, kehormatan, kepuasan duniawi, sampai-sampai melupakan atau tidak menghargai kehadiran Allah, melupakan perintah, kehendak Tuhan, sehingga lebih mementingkan kehendak sendiri, nafsu kedagingan, kehendak dunia.
Lupa bahwa dirinya sudah dikasihi Tuhan dan lupa pada perintah Tuhan untuk mengasihi Tuhan sebagai yang paling utama sebelum bekerja, melakukan tugas, berjuang menghadapi tantangan hidup.
Orang yang terlalu sibuk, hidup di kota atau di mana saja tempat yang tidak tenang, dengan kebisingan dan polusi, bisa membuat makin hilangnya kemampuan menikmati suasana di sekitar kita, seperti suasana hujan, kabut di lereng gunung, suasana saling kunjungan, masing-masing suasana punya keunikan. Dalam Imamat 26:4-6 dijelaskan bahwa Allah memberikan hujan pada masanya, sehingga tanah memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladang akan memberi buahnya. Tuhan memberikan hasil panen, memetik buah, menabur benih. Tuhan memberi makanan dan membuat hidup menjadi aman tentram, serta memberi damai sejahtera di dalam negeri. Allah ingin kita mengingat Allah yang bekerja dalam alam semesta, memberi suasana. Melalui alam dan manusia saling mempengaruhi membentuk dan mengembangkan suasana yang aman, tentram, damai sejahtera.
Di tengah dunia yang sibuk ini, kita mengembangkan pikiran untuk menghargai suasana di tempat orang berada, seperti menikmati suasana minum teh, menghargai keindahan ketika minum teh, menikmati lukisan, menghirup dan menghargai udara yang segar. Suasana menunjukkan kepada seluruh jiwa dari lingkungan yang mengelilingi kita.
Udara adalah unsur dari suasana yang diberikan Allah dan tidak dibuat manusia. Allah memberi udara melalui alam. Gunung-gunung dan sungai-sungai, matahari dan bulan, pohon-pohon dan bunga-bunga semuanya adalah pemberian Allah. Kita dipanggil untuk hidup berkawan dengan alam. Dari suasana yang diberikan, kita mengingat Allah yang hadir, mengingat kehendak Allah yang harus kita lakukan.
Unsur lain dari suasana adalah orang-orang. Kita dipanggil untuk hidup bersama dengan tetangga-tetangga kita secara bertanggungjawab. Menjadi manusia berarti hidup bersama. Orang saling membagi kegembiraan dan penderitaan. Salib itu bukan lambang perang salib, atau tindakan menaklukan. Salib itu hidup bersama untuk bangkit bukan merusak. Salib itu adalah wujud keteguhan Allah untuk menjadi Immanuel, Allah hadir, Allah beserta kita, menjadi Allah di antara kita, bahkan sampai menderita, kemudian menjanjikan kebahagiaan dan pengharapan abadi bagi semua orang. Salib adalah lambang kebersamaan Allah dengan umat manusia, kehadiran Allah dalam hidup manusia.
Tatanan sosial, di tempat kita hidup, juga merupakan unsur dari suasana. Kita hidup tidak hanya berhubungan dengan alam dan tetangga, tetapi juga bagian dan berhubungan dengan bangsa dan negara lain, dan di tengah masyarakat bangsa. Di mana ada penindasan atas hak-hak kemanusiaan dan penyangkalan atas keadilan ekonomi hal ini membuat suasana rumah dan masyarakat menjadi sangat terganggu. Tanpa keadilan sosial, tidak akan ada perdamaian. Ketika suatu pengadilan, mahkamah, penguasa berlaku tidak adil, tebang pilih, mengutamakan kepentingan sendiri atau keluarga, kelompok tertentu, maka akan merusak kedamaian dalam masyarakat. Kita terpanggil untuk memberi tanggapan yang tepat, berhikmat untuk mengembangkan jiwa keadilan dan bekerja untuk kedamaian. Kita sebagai garam dan terang dunia, tugas kita adalah bekerja demi kedamaian dalam dunia yang terpecah-pecah, memperbaiki tatanan sosial agar menjadi lebih baik, damai, benar dan adil.
Kita mengimani bahwa Allah hadir hendak memberi berkat dengan melimpahkan kuasa RohNya. Berkat dan kuasa Roh jumlah tak terbatas bagai hujan yang lebat. Dengan kuasa Roh Kudus kita mau diubah arah hidup, diperbaharui hati kita, dan Tuhan mencurahkan karuniaNya seperti ungkapan dalam KJ. 18 ayat 1 Allah hadir bagi kita dan hendak memb’ri berkat, melimpahkan kuasa RohNya bagai hujan yang lebat. Reff: Dengan Roh Kudus, ya Tuhan, umatMu berkatilah! Baharui hati kami; o, curahkan kurnia. amin
Berdoa:
Ya Tuhan kiranya kami makin menyadari bahwa Allah hadir di tengah-tengah hidup, pekerjaan, dan tugas kami. Hati Allah tidak muak melihat kami umatMu, ketika kami mau mengingat dan melakukan kehendak Allah dalam hidup sehari-hari kami, kami berdoa,dalam nama Tuhan Yesus. Amin
SIAPAKAH AKU INI TUHAN
admin Renungan Harian firman, harian, renungan, tuhan 0
Views: 0
Bahan: I Tawarikh 29:14-15,
Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan.
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, bahan firman Tuhan renungan ini rasanya tidak asing bagi kita. Ayat ini sering dijadikan sebagai pengantar atau dasar saat kita memberikan persembahan atau kollekte dalam ibadah Minggu. Ayat ini diungkapkan oleh raja Daud, dalam kerinduannya membangun rumah bagi Tuhan. Daud sudah membangun istana kerajaan dalam pemerintahannya, tetapi setelah dia mendiami istana yang besar dan megah itu, rasanya tidak enak diam di istana itu, karena melihat di dekat istananya ada Kemah Suci dan dalam kemah itu ditempatkan peti perjanjian yang berisi dua loh batu yang ditulis oleh tangan Tuhan berisikan Sepuluh Hukum Tuhan. Melihat Kemah Suci dan peti perjanjian itu, membuat perasaannya mubajir, tak berguna dengan istana yang megah itu, sehingga dia menyatakan niatnya membangun rumah untuk nama Tuhan dan nanti di dalamnyalah peti perjanjian itu ditempatkan, dengan mezbah dan semua peralatan yang dibutuhkan untuk ibadah. Niat itu dikemukakannya kepada nabi Natan, seorang nabi, penasihat“rohani” raja Daud. Tetapi firman Tuhan menjawab niat ini; Daud melalui tangannya terlalu banyak mencurahkan darah musuh-musuh Israel, sehingga dia tidak diperkenankan membangun rumah itu. Tetapi Tuhan janjikan niatnya itu akan terlaksana oleh anaknya yang akan menggantikan dia sebagai raja Israel, itulah Salomo anaknya.
Namun raja Daud tidak mau lepas tangan atas pembangunan itu. Pertama-tama Daud memberikan dari kekayaannya, kemudian mengajak semua pembesar, pejabat, dan rakyat Israel memberi persembahan dengan sukarela, dengan ikhlas hati, sehingga terkumpulah bahan-bahan itu yaitu emas, perak, tembaga, besi, kayu, kain, kulit yang sangat banyak. Melihat banyaknya persembahan yang telah terkumpul, dan melihat rencana besarnya rumah itu, sehingga masih kurang, maka Daud berkata, siapakah aku ini Tuhan, siapakah rakyat ini, kami ini pendatang, kami bukan pemilik, kecuali yang dikaruniakan Tuhan; bahkan hidup yang dialami Daud dan rakyatnya bagaikan bayang-bayang yang segera lenyap tak berbekas.
Terbaca dalam sejarah GKI Kwitang, dulu ada tiga nama penyumbang dana untuk membeli sebuah rumah bambu di lokasi yang sekarang, dijadikan sebagai pastori dan tempat ibadah. Dengan ayat renungan kita, tentu saat itu ketiga donatur itu bisa berkata seperti yang dikatakan oleh raja Daud,“siapakah aku ini Tuhan, siapakah bangsaku.”Tetapi apa yang mereka mulai, ternyata berkenan kepada Tuhan dan Roh Kudus bekerja, sehingga saat ini kehadiran GKI Kwitang terus dipakai oleh Tuhan dalam kesaksian dan pelayanannya. Ayat ini terus bersuara kepada kita pada jaman ini, kalau ayat ini dijadikan sebagai pendahuluan menyerahkan persembahan dalam kebaktian kita, apakah kita serahkan dengan sukarela dan dengan ikhlas hati sehingga di dalamnya Roh Kudus bekerja?
Bait Allah yang dibangun oleh Salomo telah tiada, peti perjanjian telah tiada, agar kita tidak menjadikan rumah, batu atau benda itu menjadi “keramat, suci,”tetapi Allah tetap hadir, bagi kita, menerima setiap persembahan kita.
Mari kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Apakah persembahan Anda ke gereja sudah maksimal kerelaan dan ikhlas?
- Persembahan Anda yang rela dan ikhlas hati, haruskah dibalas oleh Allah?
- Bagaimanakah cara Allah memberi segala sesuatu yang ada pada Anda?
Mari berdoa:
Bapa surgawi yang kaya, kami mengerjakan pelayanan dan kesaksian untuk pemberitaan Injil Kristus. Pekerjaan itu membutuhkan dana yang tidak kecil, berilah kesempatan kepada kami yang bertanggung jawab atas pekerjaan ini agar kami rela dengan ikhlas hati memberi baik materi mau pun morel. Banyak gereja Tuhan yang membutuhkan dana untuk kesaksian dan pelayanannya, kiranya kami membuka diri untuk saling membantu terutama dari segi dana. Inilah permohonan kami, dalam nama Yesus Kristus. Amin. [AS301023]
