ALLAH MENYERTAI MU
Views: 0
Bacaan: 1 Korintus 1:3 (baca: 1 Korintus 1-31)
Dunia berkata bahwa dalam perjalanan hidup ini kita tidak selalu dalam perjalanan yang menyenangkan dan menyusahkan saja. Kita diingatkan bahwa jika perjalanan terasa susah, maka ingatkan, nanti juga akan masuk ke dalam keadaan perjalanan yang menyenangkan. Tetapi ketika perjalanan hidup terasa menyenangkan, maka ingatlah bahwa perjalanan susah bisa datang di depan. Tak ada yang abadi di dunia ini, tak ada yang kekal di dunia ini. Kenyataan ini membuat kita mawas diri.
Dalam kehidupan beriman kita sebagai pengikut Kristus, marilah kita menghayati apa yang Paulus ungkapkan untuk Jemaat di Korintus. Jemaat yang baru tumbuh ini, diperhadapkan pada persoalan yang rumit dan berat; setelah mereka menerima Kristus, ternyata tidak begitu saja perjalanan kehidupan berjalan lancar dan mulus bak jalan tol. Jemaat juga mengahadapi persoalan persoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upacara keagamaan orang-orang yang tak menyembah Allah, juga menghadapi kehidupan pelacuran. Umat menghadapi masalah-masalah etis dan moral. Dalam menghadapi tantangan itu, Paulus menulis surat penggembalaan: menegur dan mengarahkan jemaat. Paulus juga mengetahui bahwa sesungguhnya mereka memiliki suatu yang baik dan berguna, yakni karunia yang berbeda-beda di antara jemaat. Namun apa yang baik ini jika dipergunakan dan disikapi dengan cara yang salah maka akan menimbulkan perpecahan akibat kesombongan. Itulah sebabnya Paulus menasehati agar mereka menjadi umat yang saling menghargai satu dengan yang lain dan menggunakan berbagai karunia itu justru untuk pertumbuhan jemaat dan kemuliaan bagi Tuhan.
Bagaimana umat Tuhan yang menghadapi persoalan kehidupan (bagai berjalan di jalan berbatu) dan sekaligus juga menerima kelebihan diri (bagai berjalan di jalan tol), semuanya dapat tetap berjalan dengan sukacita, kuat, aman dan selamat? Semuanya ini dapat terjadi hanya jika iman bahwa Allah menyertai kita dalam seluruh perjalanan kehidupan kita, baik ketika menghadapi tantangan maupun ketika menerima segala kelebihan. Ia selalu ada bersama dengan kita. Allah lah yang memberikan kepada kita kekuatan, penghiburan dan motivasi serta hikmatNya ketika kita mempercayai diri bahwa Allah bersama kita. Dengan penyertaan dan hikmatNya, kita menjadi umat yang tidak mudah terbawa arus “kebejatan” dunia (pelacuran, korupsi dll). Kita malah diberikan hikmat dan kebaikan untuk tetap dan terus menjadi rekan Allah menyelenggarakan kasih, damai sejahtera, keadilan Nya di tempat Tuhan menempatkan kita.
Secara mendasar, Paulus mengungkapkan dalam ungkapan seluruh dasar iman bahwa Allah menyertai umatNya dalam ungkapan Salam nya kepada jemaat dalam surat ini. Salam bukan sekedar ungkapan kata-kata kosong tanpa makna. Dan bukan untuk mempertajam perbedaan, namun salam berisi pernyataan iman kita bahwa Allah sumber damai sejahtera bersama semua manusia yang diciptakan oleh Allah, kepada siapapun saudara, dengan latar belakang dan bahasa apapun. Jika memberikan salam, kita berharap, siapapun yang mendengarnya bukan malah membenci, atau terkucil lalu membuat “tembok” antara dirinya dan kita. Maka dengan demikian, salam akan digunakan dengan bahasa yang akrab mudah dimengerti oleh siapapun yang mendengarnya; bahwa Allah menyertai kita semua.
Harapannya, dengan mendengar ungkapan salam, seperti yang diungkapkan Paulus kepada jemaatnya di Korintus; kita membawa kekuatan dan motivasi di jalan berbatu yang dihadapi umat, juga membukakan “mata” umat kepada hikmat Allah yang menghendaki persatuan, perdamaian dan hidup dalam kasih, satu kepada yang lain.
Demikianlah kita meyakini bahwa Allah menyertai kita dalam perjalanan berbatu maupun di jalan “tol” kehidupan kita. Dan dalam perjalanan itu kita memberitakan kehadiran Allah, bagi setiap orang yang mendengar dan melihat kehidupan yang kita jalani salam penyertaan Allah juga. Kiranya mereka juga merasakan penyertaan Allah dalam hidupnya. 🙏🙏🙏(LiN04-01-’22)
