NALURI “KASIH IBU”
Views: 0
Bahan: Keluaran 2:6-8,
Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani.” Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada putri Firaun: “Akan kupanggilkah bagi tuan putri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu tuan putri?” Sahut putri Firaun kepadanya: “Baiklah.” Lalu gadis itu memanggil ibu bayi itu.
Pengertian sederhana tindakan secara, naluri dilakukan tanpa banyak pertimbangan, seolah-olah gerakkan refleks. Tindakan atau ucapan secara naluri lebih besar didasari oleh sifat atau karakter seseorang. Bahan renungan ini cuplikan situasi masyarakat; yang merundung malang orang Israel di Mesir, yaitu pembunuhan anak laki-laki orang Ibrani, pada saat itulah Musa lahir. Tetapi orang tua Musa menutup-nutupi kelahiran anak mereka sampai tiga bulan, tetapi dengan pikiran yang cerdas beresiko tinggi, orang tua bayi itu justru meletakkan di tempat yang gampang terlihat oleh keluarga istana Firaun, yaitu ditepi sungai tempat putri Firaun mandi.
Putri Firaun menemukan bayi itu, putri itu melihat wajah bayi yang “imut-imut,” wajah yang polos, tidak ternoda oleh kejahatan, tidak bertampang sangar, wajah yang penuh ceria. Terlihat pula NALURI “KASIH IBU” dari hati putri Firaun. Dengan Naluri Kasih Ibu, putri Firaun tidak memikirkan lagi perintah agar semua anak laki-laki dari keluarga Ibrani harus dibunuh, namun Naluri Kasih Ibu berbicara dari hatinuraninya, maka dia menyelamatkan dan merawat bayi itu dan diberinya nama Musa. Wajah bayi imut-imut akan dibentuknya menjadi wajah apa nanti.
Murid-murid S.D bahkan SMP masih terlihat polos yang sedang dalam proses pembentukan karakter mereka. Sangat disayangkan kalau mereka sudah dibentuk untuk tidak bersahabat dengan teman sekolah yang bukan seagama oleh guru yang sangat mereka percayai, apalagi guru yang membawa nama Tuhan, murid-murid seperti ini telah diajarkan untuk membenci dan intoleran terhadap murid yang tidak seagama dengan mereka. Terdengar berita adanya guru di beberapa sekolah di Jakarta ini yang “melukis” wajah murid menjadi wajah intoleransi terhadap sesama yang bukan seagama, guru mereka telah kehilangan hatinurani sebagai anak bangsa. Beranjaknya usia, tingkat Pendidikan, murid akan menemukan diri, biarlah mereka menentukan pilihan yang bertanggung jawab dengan bimbingan yang benar penuh kasih bagi sesame dan peran agama sangat besar sebagai dasar pilihan mereka.
Wajah Musa dan Naluri Kasih Ibu, dijadikan oleh Tuhan untuk rencana agung, yaitu keselamatan umat manusia. Wajah bayi Musa sama dengan wajah bayi sepanjang jaman, sama imut-imut dengan wajah murid S.D, SMP pada jaman ini. Dengan hatinurari yang tulus hendaknya orang tua, orang dewasa bapak dan ibu guru semua kita berperan membangun karakter anak-anak kita. Dengarlah hatinurani kita yang murni dalam kasih membangun karakter anak yang polos dan lugu, penuh ceria.
Mari kita aplikasihan renungan ini dengan pokok berikut:
- Mengapa Musa memiliki karakter toleransi terhadap bangsanya Ibrani padahal dia dididik dalam lingkungan istana Firaun.
- Apa yang bisa kita lakukan untuk menekan sikap intoleransi di masyarakat kita.
- Anda punya tanggung jawab untuk pembentukan karakter anak di lingkungan Anda. Setujukah Anda?
Mari berdoa,
Bapa sorgawi, kami memiliki hatinurani yang murni dalam kasih dan kebenaran, tambahkan hikmat dan kemampuan memelihara hatinurani yang murni ini. Kami mohon mereka yang kehilangan nurani yang murni, yang dikuasai oleh nafsu keangkuhan, kemudian menebar kebancian dan intoleransi, agar mereka sadar dan kembali mendengar bisikan hatinurani yang murni dalam kasih dan kebenaran. Kami merindukan masyarakat negeri ini dalam persaudaraan yang damai, semoga Tuhan menolong negeri kami membuang kebencian dan intoleransi. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin. [AS101022]
