BAN SEPEDA KEMPIS
Views: 0
Bacaan: Matius 11:4-6
Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Dahulu ketika sekolah tingkat SLTP, SLTA dan kuliah S1, saya sering mengendarai sepeda untuk menuju sekolah. Pada zaman itu masih banyak orang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Bahkan bisa dikatakan bahwa setiap pagi dan siang, sepeda menjadi alat transportasi yang mendominasi jalanan di masa itu. Sebelum mengendarai sepeda para pengendara sepeda, mesti mencek keadaan ban sepedanya apakah berisi angin atau kempis sebelum mengendarainya dengan cara memencet ban sepeda tersebut. Bila terasa empuk itu berarti bannya kempis dan perlu ditambah angin.
Nah, menurut pengamatan saya, ada satu tindakan yang selalu dilakukan oleh pengendara sepeda yaitu: tetap memencet ban sepeda, meski sudah diberitahu bahwa ban sepedanya kempis. Biasanya sesama pengendara yang ada di belakang akan segera memberi tahu bila ban sepeda yang ada di depannya kelihatan kempis. Ia akan menyejajarkan posisi dan memberitahu, “mbak, mas, pak atau bu, ban depan atau belakang-nya kempis..!” Pengendara yang diberitahu tadi akan segera turun dan memencet ban sepedanya itu, “oooo iya kempis…”. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya, “mengapa masih harus memencet ban sepeda, kan sudah diberitahu bila ban sepedanya kempis?” Saya berpikir positif saja, bahwa itu adalah upaya untuk men-chek kembali bahwa bannya betul-betul kempis atau tidak.
Ya, dalam kehidupan kadang kita juga mengalami keraguan sehingga perlu chek dan rechek sekali lagi. Seperti pernah juga dialami oleh Yohanes Pembaptis. Di dalam penjara Yohanes Pembaptis perlu bertanya kepada Tuhan Yesus melalui muridnya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Mungin kita juga akan seperti Yohanes ketika berada di dalam pergumulan dan persoalan. Ketika problematika tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, bisa jadi iman kepada Kristus mulai goyah. Dalam kegoyahan itu, hati kita mulai bisa saja diliputi rasa bimbang. Tanpa kita disadari, rasa bimbang ini dapat berkembang menjadi sikap putus-asa. Dan sikap putus-asa dapat berkembang menjadi sikap ketidakpercayaan. Sebelum sampai kepada ketidakpercayaan, Yohanes me-rechek atau mengonfirmasi ulang kepada Tuhan Yesus, meski tidak secara langsung. Dan Tuhan Yesus menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku”. Jawaban Tuhan Yesus kepada murid-murid Yohanes Pembaptis pada prinsipnya bertujuan untuk mengingatkan segala karyaNya sebagai Messias. Dan dengan kata lain Tuhan Yesus menegaskan agar Yohenas Pembatis tidak perlu bimbang lagi. Konfirmasi Tuhan Yesus inilah yang membuat Yohanes Pembaptis akhirnya mampu menjadi seorang martir yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Demi ketaatan dan kesetiaannya, Yohanes Pembaptis akhirnya mati dipenggal oleh Herodes.
Di tengah berbagai persoalan yang mendera, mari kita tetap yakin bahwa Tuhan Yesus adalah mesias yang akan menolong kita dengan caranya yang ajaib dan tepat pada waktunya. Bila persoalan membuat iman kita kempis, mari kita isi lagi dengan spiritualitas yang berserah kepada Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Kadangkala kami merasa bahwa iman kami goyah karena berbagai pergumulan hidup. Kami rindu agar tetap bergantung kepada-Mu, ya Tuhan. Kiranya Roh Kudus menolong kami. Terimakasih, Tuhan Yesus. Amin.
