URAP
Views: 0
Bacaan: Matius 5:16
”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Urap atau bagi sebagian orang menyebut sebagai urap-urap atau gudangan atau kluban, merupakan makanan khas Jawa yang berisi aneka sayuran yang direbus dan disajikan dengan sambal kelapa muda parut. Menu berbahan dasar sayuran ini begitu lengkap dan memiliki cita rasa Indonesia.
Menurut sejarahnya, urap telah ada sejak abad ke – 10. Hal itu tampak dari prasasti yang menyebut kata wrak-wrak yang diartikan sebagai urap-urap yang merujuk pada sajian khas campuran parutan kelapa. Kata urap berasal dari bahasa Jawa urip yang artinya hidup. Hal itu hendak mengingatkan bahwa manusia hidup bukan hanya mengacu pada raga atau jasmani saja, melainkan juga batin (yaitu: cipta, rasa, dan karsa). Oleh karena itu, jenis sayur mayurnya dipilih yang memiliki makna juga. Sayuran yang biasaya dipilih untuk membuat urap adalah taoge, kangkung, bayam, kacang panjang dan bumbu kelapa parut.
Adapun makna dari setiap jenis sayuran itu adalah:
• Taoge bermakna pertumbuhan dan kreatifitas, taoge yang awalnya terbuat dari kacang hijau ini memiliki makna kesuburan.
• Kangkung yang dalam faktanya bisa hidup di air dan di darat sehingga melambangkan bahwa manusia harus bisa beradaptasi dengan lingkungan.
• Bayam yang memiliki daun sederhana dan juga warna hijau muda yang segar melambangkan kehidupan ini selalu dalam keadaan ayem tentrem dan damai terhindar dari konflik.
• Kacang panjang bermakna bahwa hidup selalu harus berfikir panjang sebelum mengambil keputusan. Selain itu kacang panjang juga melambangkan umur panjang.
• Bumbu urap yang terbuat dari parutan kelapa memiliki makna bahwa selama orang itu hidup maka mesti memberikan rasa.
Urap bukan hanya menjadi sajian sedap yang memanjakan lidah, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa hidup kita mesti menjadi berkat. Ada sebuah pepatah dalam bahasa jawa yang menyebutkan bahwa ‘urip kuwi urup’, yang artinya ‘hidup itu menyala’. Pepatah tadi mengandung makna bahwasannya hidup yang kita jalani ini haruslah membawa manfaat dan berkat bagi orang lain di sekitar kita. Berbicara tentang urup atau menyala berarti bicara juga terang atau cahaya. Dengan kata lain hidup itu mesti selalu memancarkan cahaya kebaikan.
Di dalam salah satu khotbah-Nya, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa setiap pengikut Kristus adalah terang dunia. Terang ini mesti selalu bercahaya di depan banyak orang. Tuhan Yesus bersabda, ”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. Kata yang diterjemahkan dengan ‘perbuatan’ menunjuk tindakan atau pekerjaan manusia yang memperlihatkan karakter dan moral yang dilakukan secara terus-menerus atau konsisten. Dan kata ‘baik’ bermakna kebaikan yang layak dipuji dan berkontribusi terhadap terciptanya damai sejahtera. Tuhan Yesus menghendaki agar di manapun berada, kita melakuan kebaikan secara terus-menerus (konsisten) sehingga orang lain dapat merasakannya.
Seporsi urap atau kluban atau gudhangan hari ini mengingatkan agar dalam situasi dan kondisi apapun, kita tetap dapat menjadi berkat. Selama masih ada kesempatan, teruslah menjadi terang bagi dunia ini. Biarlah kebaikan-kebaikan kita menjadi sebuah kesaksian yang hidup bagi banyak orang dan dapat memuliakan Tuhan. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu agar cahaya-Mu senantiasa menerangi kehidupan supaya kami dapat memancarkan kebaikan di manapun berada. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk mewujudkannya. Terimakasih Tuhan Yesus. Amin.
