PERKATAAN YANG POSITIF
Views: 0
Bacaan: Roma 7:5-6
”Sebab waktu kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut. Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.”
Syalom jemaat yang terkasih didalam Tuhan.. Semoga bapak/ibu/saudara-saudari dalam keadaan baik..
Jemaat yang terkasih.. Dalam dunia pendidikan anak masa kini, gencar dikampanyekan untuk menghindari kata “jangan”, khususnya ketika berhadapan dengan anak-anak di bawah usia 9 tahun. Hal ini dikarenakan anak usia 9 tahun ke bawah berpikir sangat konkret, sehingga kata “jangan” justru akan memicu mereka untuk melakukan hal konkret yang mengikuti kata tersebut. Contohnya ketika ada larangan: “Jangan lompat-lompat di atas kasur!”, maka ada semacam keinginan yang membuat mereka justru akan lompat-lompat di atas kasur. Oleh sebab itu, alih-alih sebuah larangan, orang tua diajak untuk menggunakan kalimat yang positif, misalnya: “Ayo turun, kita bermain di lantai. Di sini lebih menyenangkan.” Kalimat positif inilah yang membuat anak-anak tidak terpicu untuk melakukan hal yang sebaliknya.
Dalam keseharian kita, nyatanya tidak hanya anak-anak yang terpicu untuk melakukan tindakan sebaliknya dari sebuah larangan. Orang dewasa pun seringkali juga terpicu pada sebuah larangan. Oleh sebab itu, dalam perikop hari ini kita ditunjukkan bagaimana Rasul Paulus mengingatkan umat di Roma akan keistimewaan mereka sebagai umat Tuhan. Mereka tidak lagi terikat hukum Taurat, karena mereka sudah menjadi milik Kristus Yesus.
Yang dikehendaki Tuhan adalah melakukan Firman-Nya dengan ketulusan hati tanpa paksaan. Kalau selama ini mereka berusaha menaati larangan-larangan dalam hukum Taurat bahkan ada yang justru terpicu untuk melakukan apa yang dilarang itu, kini melalui berita Injil, mereka menerima perintah langsung dengan lebih positif. Ajakan untuk hidup di dalam Roh serta melakukan kehendak Tuhan seperti: kasihilah, layanilah, tolonglah yang menjadi perintah baru bagi mereka.
Hari Minggu 23 Juli 2023 mendatang adalah hari Anak Nasional, mari kita menggiatkan semangat positif dalam persekutuan kita terkhusus kepada anak-anak. Kita berjuang bersama untuk lebih banyak menggunakan kata-kata yang positif ketika menyampaikan sesuatu, kepada anak-anak kita. Mari kita lakukan atas dasar kesadaran bahwa seperti halnya kasih Tuhan Yesus yang memerdekakan, maka kita pun juga diutus untuk saling memerdekakan dari sikap-sikap yang memaksa. Setiap pribadi berhak berpikir secara mandiri, untuk melakukan sebuah tindakan tertentu, termasuk anak-anak. Selamat berkata positif, Tuhan memberkati kita.
