KASIH MESRA
Views: 0
Bacaan: Efesus 4: 17- 32
Salam sejahtera semoga kita makin dimampukan Tuhan untuk melakukan kehendakNya yaitu mengasihi pasangan dan anggota keluarga dengan ramah, penuh kasih mesra, saling mengampuni seperti ungkapan dalam Efesus 4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Keluarga adalah suatu komunitas kasih mesra, hidup dan keselamatan. Keluarga yang bahagia merupakan komunitas yang berlandaskan kasih mesra, seusai kehendak Tuhan mengikuti rancangan dan penebusan Allah. Dosa telah merusak rencana asli dari Allah. Di dalam Yesus, rencana Allah dipulihkan kembali. Manusia yang dipulihkan tidak pernah mencapai kesempurnaan, karena itu sering terjadi masalah dalam keluarga, yang membuat retak atau terpecah.
Keluarga secara universal dianggap sebagai sel utama dan sangat vital bagi masyarakat. Tidak mungkin suatu masyarakat itu sehat tanpa keluarga yang sehat juga (Maurice Eminyan, SJ, Teologi Keluarga, Kanisius, 2001). Keluarga punya pengaruh paling kuat pada tingkah laku dan memberi contoh yang paling baik. Pengalaman persatuan, sharing yang menjadi ciri khas kehidupan keluarga sehari-hari merupakan sumbangan yang mendasar dan utama untuk masyarakat, dalam saling menghormati martabat, penerimaan, pelayanan dan solidaritas.
Bagaimana membangun keluarga yang sesuai kehendak Tuhan dan mampu menghadapi bahaya yang merusak dan mencemarkan keluarga. Kita belajar dari Efesus 4, yang memberi nasehat kepada kita tentang memelihara, kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera, yang dikaitkan dengan karunia yang Yesus anugerahkan, untuk membangun tubuh Kristus. Kesatuan itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Ini berarti kasih mesra terjadi dalam keluarga yang bersatu karena menerima Roh Kudus, menuntun pikiran, hati, jiwa setiap anggota keluarga, sehingga mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus, Anak Allah.
Kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus terjadi karena ada persekutuan suami istri, persekutuan orangtua dan anak, yang merenungkan bersama-sama tentang Yesus dan kehendakNya. Kalau sendiri-sendiri, tidak akan tercapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus. Ketika dalam kebersamaan tercapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Yesus, maka keluarga bersama-sama mencapai kedewasaan iman yang makin disempurnakan, dan berdampak pada kedewasaan berpikir dan bertindak.
Orang yang bertumbuh dewasa iman, dewasa dalam karakter dan perilaku, maka tidak mudah dipengaruhi oleh berita palsu, pengetahuan palsu atau ajaran sesat, pola hidup yang buruk atau merusak, yang membuat rusak relasi suami istri, orangtua anak, yang membuat orang meninggalkan iman kepada Tuhan Yesus. Orang yang dewasa iman akan meninggalkan cara hidup yang lama, pikiran lama yang sia-sia, yang merusak relasi suami istri, relasi orangtua anak. Meninggalkan cara hidup lama berarti menyesali dan mengakui dosa, menerima penebusan dan pengampunan dari Tuhan Yesus, dan hidup sesuai kehendak dan rancangan Yesus.
Orang yang dewasa iman, yang bertumbuh adalah orang yang tidak menjadikan kehendak dan pikiran sendiri, sebagai yang utama, tapi kehendak dan rancangan Yesus menjadi yang utama untuk dilakukan bersama dalam relasi suami istri, orangtua anak. Orang yang belum dewasa iman adalah orang yang keras hati, degil, mengikuti kehendak dan pikiran sendiri, menggunakan pikiran yang menyeleweng, tidak benar, jahat, buruk, merusak, hidup sia-sia, menikah dengan cara yang sia-sia, berkeluarga dengan cara hidup yang sia-sia, tidak ada damai, bahagia, kebenaran, keadilan dan kasih. Orang yang belum dewasa iman adalah orang yang mengisi hidup, pikiran, jiwa mereka dengan hal-hal yang bukan dari Allah, tapi diciptakan sendiri
Orang yang dewasa iman dan bertumbuh adalah orang berlaku ramah terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan mengampuni, karena Allah telah mengampuni kita di dalam kristus. Kasih mesra menurut dunia seringkali hanya dimaknai sebagai sebuah romantisme. Artinya cinta yang hanya berdasarkan pada perasaan semata. Padahal perasaan itu suatu hal yang sangat mudah berubah. Banyak pasangan suami-istri menjadi kecewa satu dengan yang lain karena merasa pasangannya sudah jauh berubah dibandingkan saat masih berpacaran. Hal ini karena cinta romantisme seseorang cenderung berubah bahkan mungkin berkurang. Itulah pentingnya bagi kita untuk melandaskan kasih mesra dalam keluarga berdasarkan kasih Kristus agar kita dimampu Tuhan untuk melakukan kasih mesra, ramah dan mengampuni.
Jika seseorang melandaskan hubungannya dalam keluarga dengan kasih Kristus, maka ketika ada pertengkaran, namun tidak akan sampai menghancurkan. Sebab mereka tahu dan mau belajar tentang kasih mesra di dalam Kristus. Kemesraan akan tercipta bila satu dengan yang lain dapat menerima perbedaan. Ada banyak perbedaan yang bisa kita lihat dalam kehidupan keluarga, seperti perbedaan bahasa kasih. Ada bahasa kasih mesra dengan sentuhan fisik seperti membelai, memeluk. Ada bahasa kasih waktu bersama dengan pasangan, ada bahasa kasih dengan melayani, dengan kata-kata, dengan pemberian. Ada juga perbedaan lain yaitu perbedaan tempramen, seperti suami pendiam susah bersosialisasi, istri ramah dan mudah bergaul. Memahami tempramen pasangan, atau anak akan membantu kita bersikap dan berespon yang benar terhadap kebiasaan mereka, berlaku ramah dan mengampuni jika adalah kesalahan atau kekurangan.
Keluarga bukan menjadi suatu yang menegangkan namun suatu yang menyenangkan. Rumah menjadi tempat yang selalu kita rindukan untuk kembali, karena disana penuh dengan damai dalam kebersamaan orang-orang yang ada didalamnya.
Kasih mesra bisa kita lakukan jika kita mengalami kasih Tuhan, yang memampukan kita mengasihi anggota keluarga dan teman. Kita bersyukur atas firman Tuhan yang membuat kita tidak sesat, dan teguh berpegang pada kehendak Tuhan bukan kehendak sendiri. Kita bersyukur atas keluarga yang penuh kasih mesra; kita bersyukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera. Kita bersyukur atas kekuatan kala duka dan kesah; dan atas pengharapan kini dan selamaNya seperti ungkapan dalam NKB. 133 ayat 3 Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra; Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera. Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah; Syukur atas pengharapan kini dan selamaNya! amin
Berdoa:
Ya Tuhan mampukan kami untuk melakukan kehendak Tuhan dengan mengasihi pasangan, dan anggota keluarga dengan ramah, penuh kasih mesra, saling mengampuni. Dalam nama Yesus kami berdoa.amin
