MENARA, LAMBANG KEKUASAAN
Views: 1
Bahan: Kejadian 11:3-4
Mereka berkata seorang kepada yang lain, “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itu mereka pakai sebagai batu dan ter sebagai bahan perekat. Mereka juga berkata, “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita mencari nama supaya kita tidak terserak ke bumi.”
Saudara-saudari yang dikasihi Kristus, dua bulan lalu saya berkunjung ke negeri Belanda, saya memanfaatkan kunjungan itu. Salah satu yang penting bagi saya ialah bagaimana kehidupan kekristenan di situ. Dengan latar belakang bahwa banyak misionaris yang diutus dari Belanda. GKI Kwitang khususnya diawali oleh pelayanan missionari dari Gereformered Netherland Kerk, untuk itu kita bersyukur, demikianlah Roh Kudus menuntun para missionaris ini membawa Injil ke negeri kita ini. Saya menyaksikan gereja yang sangat-sangat besar di setiap kota dengan menara yang sangat tinggi dan orgel pipa yang masih berfungsi baik sebagai tanda kebesaran gereja itu. Tetapi sangat kontras, pengunjung kebaktian Minggu, di gereja yang besar itu tidak lebih dari 100 orang, itu pun lebih dua pertiga adalah orang lanjut usia. Saya bertanya kepada seorang teman pendeta, yang dulu pernah sebagai dosen di STT Jakarta, “mengapa tidak ada pengunjung kebaktian Minggu di gereja yang begitu besar?” Beliau menjawab, “Itulah, dulu penguasa negeri ini menyatakan kekuasaannya sebagai “wakil” Tuhan, dengan mendirikan gereja besar dan menara yang tinggi.”
Penguasa pusat menyatakan kekuasaannya dengan menara gereja yang tinggi, maka menyusul pemerintah daerah, sampai pemerintah di kota-kota lain mendirikan gereja sebagai lambang kekuasaan mereka. Pejabat-pejabat gereja diberi pakaian yang megah tidak mau kalah dengan pakaian pejabat negara. Sekarang jaman berobah, sistim pemerintahan dan kekuasaan di negeri ini berobah, sehingga gereja-gereja tidak lagi dibutuhkan untuk menyatakan kekuasaan. Dia melanjutkan, di Indonesia, agama juga sebagai kekuatan dan kekuasaan sehingga gereja-gereja turut menguatkan umatnya menghadapi kehidupan berdampingan dengan agama lain, kehadiran gereja sangat utama di Indonesia membangun iman.
Bahan renungan kita, adalah suatu prakarsa orang-orang yang trauma dengan kisah peristiwa air bah pada zaman Nuh. Untuk itu cucu-cicit Nuh, mereka membangun suatu menara yang puncaknya sampai ke langit (dunia ilahi). Kalau dulu Nuh saat keluar dari bahtera, mendirikan mezbah mempersembahkan korban bagi Tuhan, sebagai ucapan syukur dan untuk kemuliaan Tuhan. Atas korban persembahan itu Tuhan berkenan dan Tuhan berjanji tidak lagi mendatangkan air bah seperti jaman Nuh. Bagaimana dengan cucu-cicit Nuh itu? justru mereka mencari nama, untuk memuliakan nama sendiri.
Melihat tindakan orang-orang itu, Tuhan tidak berkenan. Akhirnya Tuhan menggagalkan rencana itu, dengan mengacau bahasa mereka, tidak lagi saling mengerti, mereka berpisah satu dengan yang lain, dengan itu rencana Tuhan akan berjalan, agar manusia memenuhi seluruh bumi. Sampai pada jaman ini agama-agama di segala negeri menyatakan kekuasaan Tuhan yang mereka sembah dengan meninggikan lambang kehadiran Tuhan di menara rumah ibadah mereka.
Kita aplikasikan renungan ini dengan pokok berikut:
- Bagaimana Anda memberi makna “icon/lambang” agama di rumah ibadah Anda, baik di luar mau pun di dalam rumah ibadah itu.
- Jaman “now” dengan apa bangsa-bangsa menyatakan kekuasan mereka.
- Sebagai orang Kristen siapa pengusa tertinggi bagi Anda, apa tandanya?
Mari berdoa:
Allah Bapa yang di Sorga, kami bersyukur Injil keselamatan telah sampai pada kami melalui utusan misionaris. Kami mengimani Allah Bapa adalah penguasa sejati bagi kami seluruh umat manusia, Bapalah yang kami tinggikan dalam hidup kami dengan berserah hati kepada Bapa. Bapa mengasihi manusia berdosa; Bapa yang penuh kuasa dan kasih telah mengutus Yesus Kristus, yang wafat di kayu salib. Karena itu kami mengangkat salib sebagai kesaksian kami. Inilah doa kami dalam nama Yesus Kristus. Amin. [AS 091023]
