PONTIBAPAK
Views: 0
Bacaan: Galatia 6: 10 – TB2
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Saya percaya bahwa Anda pasti tahu atau setidaknya pernah mendengar ‘Pontianak’. Ya, itu adalah nama ibu kota Kalimantan Barat. Tetapi pernahkan Anda mendengar ‘Pontibapak’? Ah, sepertinya belum pernah mendengar. Istilah ini saya ciptakan ketika melayani di Kota Pontianak terkait dengan peresmian sebuah Bakal Jemaat, yaitu GKI Beringin Bakal Jemaat Pontianak. Begini kisahnya!
Dalam rangka peresmian Bakal Jemaat tersebut, panitia peresmian sudah membuat itinerary alias jadual kegiatan selama berada di kota Pontianak. Itinerary dibuat dengan maksud agar kami dapat mengisi dan memanfaatkan waktu yang ada itu secara efektif dan efisien selama berada di kota Pontianak. Kurang lebih 4 (empat) hari berada di Pontianak, tentu membuat relasi dan pengenalan saya terhadap teman-teman di Pontianak serta sebaliknya mereka terhadap saya, menjadi lebih baik. Nah, ketika hari terakhir, teman-teman Bakal Jemaat Pontianak berkata kepada saya, “Kalau bisa kepulangan ke Jakarta dimundurkan, pak. Kami masih butuh pendampingan dan bimbingan Bapak”.
Kemudian, secara bergurau saya menjawab, “jangan pak/bu, nanti kalau saya terlalu lama di sini, ibu kota Kalimantan Barat berubah nama jadi Pontibapak bukan lagi Pontianak. Makin lama saya di sini, bisa membuat yang anak bisa jadi bapak”. Kami pun tertawa bersama.
Dialog spontan tentang ‘pontibapak’ ini terngiang sepanjang penerbangan Pontianak – Jakarta. Saya perpikir ‘apa jadinya bila saya berada di Pontianak tanpa itinerary, jangan-jangan waktu justru terbuang percuma’. Menurut saya, hidup ini merupakan sebuah rangkaian waktu yang disipakan Tuhan bagi kita. Dan di dalam rangkaian waktu tersebut, Tuhan juga menyiapkan kesempatan-kesempatan yang unik. Hanya saja, apakah kita dapat mengisi dan memanfaatkan kesempatan itu dengan baik?
Nasihat Paulus kepada Jemaat di Galatia menjadi cukup relevan untuk berbicara tentang waktu dan kesempatan. Paulus menasihati jemaat, sebagai berikut: Pertama, tidak menghakimi saudara yang sedang ‘jatuh’ melainkan membimbingnya kembali (Gal. 6:1). Kedua, dapat menjaga diri agar tidak ‘jatuh’ juga. Dengan kesadaran ‘bisa jatuh juga’ ini akan membangun sikap saling menolong di antara sesama anak Tuhan (Gal. 6:3). Ketiga, menilai diri dengan memakai standar Firman (Gal. 6:4-5). Keempat, bersedia menerima teguran firman dengan rendah hati dan bersikap hormat kepada yang menegur dengan kasih serta mendorong mendorong ‘yang jatuh’ agar segera bertobat dipermainkan (Gal. 6:6-8).
Keempat nasihat diatas menjadi dasar supaya tidak jemu untuk berbuat baik kepada semua orang, terutama saudara-saudara seiman (Gal. 6:9-10). Paulus menyebut, “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada saudara-saudara seiman kita”. Dari rangkaian nasihat ini, dengan jelas Paulus mengajak kita untuk mengisi waktu yang ada sebagai kesempatan untuk berbuat baik kepada semua orang.
Anda dan saya diberikan waktu oleh Tuhan, oleh karena itu mari kita mengisinya sehingga hidup ini dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Jangan sampai kita membuang waktu yang ada dengan tindakan yang tanpa faedah. Jangan sampai Pontianak berubah menjadi Pontibapak. Selamat berjuang, Saudaraku, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami percaya bahwa waktu yang Engkau siapkan bagi kami itu dapat kami isi dengan baik dan menjadi berkat bagi banyak orang. Tuntunlah kami dengan hikmat-Mu agar kami tidak membuang wkatu dengan sia-sia. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.
