MENGAYOMI
Views: 0
Bahan: I Samuel 18:1, 4,
Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud, dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri. Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.
Saudara saudari yang dikasihi Kristus; Tema renungan ini patut menjadi perhitungan, berkenaan dengan kematian seorang mahasiswa STIP, kematian yang mengenaskan karena diakibatkan pukulan dari senior atau kakak kelasnya. Panggilan senior, suatu kehormatan, dan menjadi panutan keseniorannya di mana dia menjadi senior. Secara sepintas pengenalan STIP di Marunda Jakarta Utara, adalah sekolah di bawah Departemen Perhubungan, sekolah itu menegakkan disiplin layaknya disiplin militer, yaitu patuh dan taat perintah atasan. Disiplin ini ditegakkan untuk mendidik pelaut yang tangguh, yang saatnya menjadi pelaut atau kapten kapal. Tetapi sekolah ini terguncang di mata masyarakat atas meninggalnya seorang mahasiswa yang taat kepada senior. Orang bertanya apakah sekolah itu tidak menghasilkan “algojo-algojo”?
Alkitab dengan jelas mencatat seorang kakak yang menjadi algojo bagi adiknya, yaitu Kain membunuh adiknya Habel. Kita terpaksa memaklumi pembunuhan yang tidak beralasan, karena mereka anak Adam dan Hawa yang meninggalkan Tuhan, jatuh ke dalam dosa. Rasanya Kain jauh untuk MENGAYOMI adiknya Habel. Kisah Ribka mengajak Yakub anaknya untuk menipu Ishak dan Esau merebut berkat, dan nampaknya tidak ada tenggang rasa bagi mereka. Bahan renungan kita adanya orang yang sangat tenggang rasa dan kasih, yaitu Saul yang telah melihat Daud disertai Tuhan. Pada awalnya dia menerima kehadiran Daud di lingkungan istana sebagai anak yang perlu diayomi. Demikian juga Yonatan sebagai Putra Mahkota, anak raja Saul, dia mengagumi, menerima Daud yang hanya rakyat biasa. Daud bukan anak panglima, bukan juga anak imam, tetapi anak Isai penggembala kambing. Kalau dilihat dari segi umur Daud jauh lebih muda, tetapi dari segi iman dan keberanian Daud telah merobohkan Goliat sampai tewas musuh bangsa Israel. Yonatan sungguh-sungguh mengayomi Daud, dan tiba saatnya dua pemuda ini bersatu hati dan jiwa, melanjutkan perjuangan membela bangsa Israel yang selalu mendapat ancaman dari negeri sekitarnya. Sebagai bukti pengayoman Yonathan terhadap Daud, maka Yohatan memberikan jubahnya kepada Daud, pedang dan ikat pinggang sebagai lambang kebesaran Putra Mahkota, diberikannya kepada Daud sebagai tanda kasihnya dan Daud menerima itu yang harus dia pertanggung jawabkan mengayomi kerajaan dan bangsa Israel. Yonatan merasa sangat pantas, bila Daud menjadi raja Israel menggantikan Saul ayahnya. Sedikit pun tidak ada rasa iri hati atau benci terhadap Daud. Sungguh mereka saling mengayomi, tetapi sayang Yonatan bersama Saul keduanya tewas dalam pertempuran, dan Daud sungguh menangisi dengan kesungguhan hati kematian raja dan Yonatan seniornya.
Kita aplikasihkan renungan ini dengan pokok berikut:
- Di dunia kampus ada senat mahasiswa yang terdiri dari senoir dan junior, apakah Anda merasakan adanya saling mengayomi senior dan junior?
- Adakah pihak lain yang Anda ayomi walau tidak ada hubungan kekeluargaan?
- Di negeri kita ini siapa atau apa yang harus mengayomi rakyat?
Mari berdoa:
Bapa Surgawi kami diciptakan dari bapa dan ibu Adam dan Hawa. Tetapi Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa sehingga melahirkan anak-anak di dalam dosa. Untuk itu Bapa telah mengutus Yesus Kristus Juruselamat dunia. Karuniakan hikmat agar sebagai ciptaan Tuhan kami mampu saling mengayomi, mengasihi. Jauhkan kami dari kebencian dan saling membinasakan. Demikianlah doa kami dalam nama Tuhan Yesus. Amin. [AS270524]
