MANGGA MONYET
Views: 0
Bacaan: 1 Tes. 5:21 (TB 2)
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan”.
Salam sehat penuh rahmat, Tuhan sertamu!
Mangga monyet? Mungkin pertanyaan itu muncul dalam benak Anda. Atau bisa saja Anda berpikir bahwa saya salah dalam memberikan judul bagi renungan ini. Bukankah tidak ada buah yang bernama ‘mangga monyet’? Yang ada adalah jambu monyet? Betul sekali! Apa yang saya sebut sebagai mangga monyet ini sesungguhnya adalah jambu monyet. Tetapi mengapa saya menyebutnya dengan mangga monyet? Begini ceritanya.
Tentu kita tidak asing dengan buah tersebut. Kita mengenalnya dengan bentuk buahnya yang berdaging lunak, berair, bewarna kuning hingga kemerahan dan di bawahnya terdapat biji keras berbentuk seperti ginjal berwarna coklat kehitaman. Ketika melihat tanaman dengan buahnya yang bergelayutan di pohon tersebut, maka kita akan menyebutnya jambu monyet. Banyak orang mengira bahwa yang berdaging lunak pada jambu monyet adalah buahnya. Padahal sebenarnya yang berdaging lunak itu adalah dasar bunga (receptaculum) yang mengembang setelah terjadinya pembuahan atau bisa disebut dengan buah semu. Sedangkan yang berbiji keras itu adalah buah sejatinya. Biji keras inilah yang setelah diolah kita sebut dengan kacang mete / kacang mede.
Masyarakat memasukkan buah ini ke dalam kerabat jambu-jambuan karena bentuk dan warnanya yang mirip sekali dengan jambu air. Akan tetapi, bila diteliti berdasarkan taksonominya (atau berdasarkan pengaturan jenis tanaman dalam hierarki kelompok), maka sesungguhnya jambu monyet tidak termasuk keluarga jambu-jambuan. Buah jambu merupakan keluarga myrtaceae, sedangkan jambu monyet termasuk dalam keluarga anacardiaceae. Buah yang termasuk dalam keluarga anacardiaceae adalah mangga. Oleh karena itu, jambu monyet sebetulnya merupakan bagian dari keluarga besar mangga-manggaan. Nah, dari latar belakang inilah, saya memberikan judul untuk renungan ini adalah “mangga monyet”.
Saudaraku, dari cerita tentang jambu monyet (atau mangga monyet) ini, kita belajar tentang pentingnya memeriksa ulang dan memempelajari lebih dalam apa yang sebelumnya kita kenal, sehingga kita benar-benar mengenal dan tidak keliru dalam memahami. Dan rasanya ini berlaku pada semua hal, termasuk juga di dalam ajaran iman. Untuk itulah, Rasul Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Tesalonika, demikian: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan”. Nasihat iini merupakan bagian dari kumpulan nasihat Paulus yang tertulis dalam perikop 1 Tesalonika 5. Apa yang disampaikan oleh Paulus itu merupakan nasihat-nasihat bagi jemaat agar damai sejahtera Tuhan terpelihara di antara mereka (5:13). Salah satu nasihat itu mengingatkan jemaat untuk menguji segala sesuatu (5:21). Jemaat perlu peka pada apapun yang tidak berasal dari Tuhan, termasuk nubuatan-nubuatan yang berasal dari kehendak manusia atau bahkan dari si jahat. Jemaat perlu menguji apakah yang mereka dengar atau ucapkan itu merupakan kehendak Tuhan atau bukan?
Menguji segala sesuatu dengan tetap berpegang pada apa yang baik tentu akan dapat menjauhkan kita dari kejahatan. Oleh karena itu sebelum berprasangka, maka kita perlu menguji segala sesuatu dengan tetap berpegang pada hal yang baik dan benar. Seperti halnya jambu monyet tadi. Ternyata ia bukan keluarga jambu-jambuan, melainkan mangga-manggaan. Jadi sepertinya lebih tepat disebut mangga monyet. Ha… ha… ha… Mari kita menguji segala sesuatu dengan berpegang pada hal yang baik dan benar. Selamat berjuang, Tuhan Yesus memberkati.
Salam: Guruh dan keluarga.
Doa:
Ya Tuhan, kami rindu untuk tidak mudah jatuh pada prasangka. Oleh karena itu kami mau belajar menjadi peka, sehingga dapat menguji segala sesuatu serta berpegang pada yang baik dan benar. Kiranya Roh Kudus menolong kami untuk dapat melakukannya. Terimakasih Tuhan Yesus, Amin.
